Ceramah Agama Memahami Makna Spiritualitas dalam Al-Qur’an

Ceramah Agama Memahami Makna Spiritualitas dalam Al-Qur'an

Tongkrongan Islami – Spiritualitas berasal dari kata spirit (ruh). Dalam al-Qur’an, term yang merujuk kata spirit antara lain adalah ruh. Kata ruh dengan berbagai ragam artinya terulang sebanyak dua puluh satu kali.

Itulah sebabnya, dalam bahasa Arab, kata ruhaniyyah bisa diartikan dengan spiritualitas, dan memang  persoalan spiritualitas memang ada hubungannya dengan potensi ruhani manusia untuk beriman dan komunikasi dengan Tuhan. Maka sebenarnya substansi spiritualitas adalah keimanan kepada Tuhan itu sendiri, sebagai ruh (spirit) dalam kehidupan ini dan  Dialah  sumber  energi spiritualitas.

Dalam kajian filsafat, spiritualisme merupakan istilah yang bisa dimaknai dua perspektif, filosofis dan agamis (religius). Secara filosofis, istilah spiritulisme sering diidentikan dengan idealisme. Sedangkan dalam kaitan religius, istilah spiritualisme dihubungkan dengan paham tentang penjelmaan roh.

Dalam Al-Qur’an, dijelaskan bahwa ruh ditiupkan langsung oleh Allah sewaktu menciptakan manusia: ‘Maka apabila Aku Telah menyempurnakan penciptaannya  (kejadiannya), dan Telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (Q.S. al-Hijr [15]: 29).

Itulah mengapa manusia, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kecenderungan untuk berkomnikasi dan ‘berhubungan intim’ dengan Tuhan sebagai ekspresi spiritualitasnya.

Hal itu dilakukan dengan misalnya melalui ritual-ritual tertentu. Dalam dunia sufi, diyakini bahwa manusia memiliki unsur lahut (bersifat ilahiyah) dan nasut (unsur insaniyah). Unsur lahut itulah yang menyebabkan dirinya merasa perlu dekat dengan Tuhan. Terlebih di saat manusia dalam kondisi takut dan gelisah.

Naluri fitrahnya akan memanggil-manggil untuk menghampiri Dzat yang membawa kedamaian (al-Salam). Al-Qur’an pun menegaskan bahwa Tuhan  memang dekat dengan hamba-Nya, bahkan lebih dekat dari urat nadi. (Q.S. Qâf [50]: 16).

Dalam menghampiri spiritualitas, apa yang disyaratkan oleh al-Qur’an mengenai spiritualitas sesungguhnya punya banyak arti. Terlebih ketika istilah tersebut diletakkan dalam konteks yang berbeda-beda.

Siapa saja yang memandang Tuhan sebagai norma yang penting dan menentukan atau prinsip hidupnya, maka dapat disebut sebagai spiritualis, sedangkan aktifitasnya disebut dengan spiritualitas.

Tuhan dalam konteks spiritualitas harus dipandang sebagai sumber nilai kebaikan dan keindahan. Ini diisyaratkan dalam nama-nama-Nya yang baik al-asma’ al-husna yang bisa dijadikan sarana berdoa [Q.S. al-A`râf [7]: 179).

Lebih dari itu,  Tuhan mesti diletakkan sebagai spirit (jiwa, nafs) dalam setiap  perilaku dan tindakan kita dalam menjalani  kehidupan. Oleh sebab itu, seorang spiritualis sejati adalah seorang mengabdikan diri untuk menyemai nilai-nilai kebaikan, keindahan, keadilan, kejujuran, kesetiaan,  ketulusan, sebagai  bukti bahwa dirinya ingin membumikan nilai-nilai ketuhanan  dalam hidupnya. Jika demikian, maka bisa dikatakan bahwa keseluruhan al-Qur’an menyoroti pentingnya cara kerja dan prinsip orang beriman.

Dalam al-Qur’an, ada sekian banyak ayat yang bisa di kemukakan berkaitan spiritualitas tersebut, antara lain:

Pertama, Prinsip beriman kepada Allah Swt. Ada  lima belas ayat yang terbentang dalam al-Qur’an berkaitan dengan perintah  beriman Allah Swt.

Antara lain (Q.S. Ali Imrân [3]: 72,279, 193,  al-Nisâ’ [4]: 47, 136, 170, 171, al-Mâidah [5]: 111, al-A`râf [7]: 157,  al-Taubah [9]: 86, al-Isrâ’ [17]: 107,  al-Ahqâf [46] :31, al-Hadîd [57]: 7, 28,  dan al-Taghâbun [64]: 8.

Kedua, Prinsip tauhid dan tidak menyekutukan-Nya. Prinsip ini merupakan elemen ini dari spiritualitas. Ada sekian banyak ayat yang melarang menyekutukan Tuhan., antara lain  (Q.S Ali  Imrân [3]:  64, al-Hajj [22]: 26), dan al-Nisâ’ [4]: 48).

Ketiga, Membenarkan nilai-nilai  kebaikan dan beramal shaleh, antara lain  (Q.S. al-Kahfi 18]: 88, al-Najm [53]: 31,  al-Taubah  [9]: 121, al-Nahl [16] :96).

Keempat, Menjaga nilai-nilai humanisme, antara lain (Q.S. al-Anbiyâ’:[21]: 107).

Kelima, Menjaga alam sekitar dan tidak membuat kerusakan di muka bumi  antara lain ( Q.S. al-Maidah [5]: 32, al-A’râf [7]: 56, 85, al-Syu’arâ’ [26]: 152)

keenam Mempercayai adanya kehidupan akhirat, antara lain  (Q.S. al-Baqarah [2]: 62,  al-Mâ’ida [5]: 69,  al-Taubah [18]: 9).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here