Doa Malaikat Jibril Menjelang Ramadhan yang Diamini Rasulullah SAW

Doa Malaikat Jibril Menjelang Ramadhan

Doa Malaikat Jibril Menjelang Ramadhan – Sebagian kita terkadang menerima pesan SMS, WA, BBM, dan sebagainya terkait banyak hal. Pesan bisa disampaikan oleh orang yang kita kenal atau oleh anggota grup secara random tanpa memandang siapa yang menerima.

Isinya pun beragam, mulai dari meperkenalkan produk/perniagaan, nasehat agama dan kebaikan, atau hanya sekedar keisengan belaka. Terkait dengan nasehat agama, biasanya pesan didapat sesuai dengan keadaan ketika itu atau ketika hendak memasuki suatu momen tertentu, seperti bulan Ramadhan.

Terkait dengan Ramadhan, ada pesan berantai yang -barangkali- pernah kita dapati. Salah satunya adalah pesan yang berisi tentang permohonan maaf yang terlebih dahulu mengutip “terjemah” dari sebuah riwayat hadits. Pesan tersebut akan kami jelaskan di bawah ini:

Doa Malaikat Jibril Menjelang Nisfu Sya’ban

“Ya Allah, abaikan puasa umat nabi Muhammad SAW, apabila sebelum ramadhan dia belum: Memohon maaf kepada kedua orang tua jika keduanya masih hidup. Bermaafan antara suami istri, Bermaafan dengan keluarga kerabat serta orang sekitar.”

Lantas bagaimana sikap kita dalam menanggapi hal ini? Benarkah ini merupakan doa malaikat Jibril menjelang Ramadhan; agar umat Islam saling memaafkan terlebih dahulu sebelum memasuki bulan mulia atau puasa mereka akan terabaikan? Berikut ulasan singkatnya:

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, terdapat hal penting yang perlu menjadi perhatian kita bersama, yaitu kewajiban untuk mengecek kebenaran informasi yang kita dapatkan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang fasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian [Q.S. al-Hujurât (49) :6]”.

Meskipun secara konteks ayat ini berkaitan dengan peristiwa tertentu, namun semangat dan ajarannya wajib kita terapkan setiap kali kita menerima informasi; tabayun. Sebab tanpa itu, sangat mungkin kita akan melakukan suatu fitnah kepada seseorang atau pihak tertentu karena ketidak cocokan antara apa yang kita dengar dengan realita yang sesungguhnya. Terlebih jika berita itu berkaitan dengan peristiwa atau orang penting.

Terkait dengan malaikat Jibril a.s. dan Rasulallah saw, kita tidak diperkenankan berbicara atas nama mereka berdua kecuali ada dalil valid yang melatarinya. Sebab keduanya berbicara berdasarkan wahyu dan bukan hanya akal semata. Berkaitan dengan Jibril, Allah swt berfirman:

وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

“Tidaklah Kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Rabbmu. kepunyaan-Nya lah segala yang ada di hadapan kita, apa yang ada di belakang kita dan yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa [QS. Maryam (19): 64]”.

Ayat ini secara tegas menerangkan bahwa malaikat Jibril a.s. bertutur dan berkata atas dasar wahyu. Sehingga tidak boleh bagi kita mengatakan hal yang tidak sesuai dengan kondisi malaikat Jibril jika tidak sesuai dengan keterangan yang terdapat di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Dengan kata lain, apapun yang dilakukan oleh Jibril adalah atas perintah Allah dan bukan inisiatif pribadi. Termasuk doa yang diucapkan.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan jangan engkau mengikuti apa yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggung jawaban [Q.S. al-Isra’ (17): 36].”

Tentang Rasulallah, Allah swt berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى ( ) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

Tidaklah dia berbicara karena hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An-Najm (53): 3-4).

Terkait dengan syari’at, semua yang diucapkan oleh Rasulallah saw merupakan wahyu dari Allah swt. Oleh karenanya, kita tidak diperkenankan untuk menyandarkan hal yang tidak ada dasarnya kepada Nabi Muhammad saw.

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ حَدَّثَ بِحَدِيثٍ وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

“Dari al-Mughirah bin Syu’bah, dari Nabi saw beliau bersabda: Siapa saja yang menyampaikan suatu berita dan ia memandang bahwa berita tersebut adalah dusta, maka ia termasuk salah seorang pendusta (H.R. Ahmad no. 2067).”

Adapun perkataan/doa malaikat Jibril yang diaminkan oleh Rasulalah saw adalah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَقِيَ الْمِنْبَرَ فَقَالَ آمِينَ آمِينَ آمِينَ فَقِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كُنْتَ تَصْنَعُ هَذَا فَقَالَ قَالَ لِي جِبْرِيلُ أَرْغَمَ اللَّهُ أَنْفَ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ دَخَلَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَقُلْتُ آمِينَ ثُمَّ قَالَ رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا لَمْ يُدْخِلْهُ الْجَنَّةَ فَقُلْتُ آمِينَ ثُمَّ قَالَ رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ، فَقُلْتُ آمِينَ

“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam naik mimbar lalu beliau mengucapkan, ‘Amin … amin … amin.’ Para sahabat bertanya, ‘Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?’ Kemudian, beliau bersabda, ‘Baru saja Jibril berkata kepadaku, ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadan tanpa mendapatkan ampunan,’ maka kukatakan, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun itu tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua),’ maka aku berkata, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang tidak bersalawat ketika disebut namamu,’ maka kukatakan, ‘Amin (H.R. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 646 dan Ibnu Khuzaimah no. 1888. Dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 1679).”

Meliat redaksi hadits diatas, tidak terdapat waktu khusus kapan Jibril a.s. mengucapkan doa tersebut sehingga tidak dapat dimaknai secara khusus; untuk tempat dan waktu tertentu seperti halnya anjuran membaca surat al-Kahfi di hari Jum’at.

Jika ada pihak yang menyatakan bahwa Jibril a.s. mengucapkan doa ini pada bulan tetentu (baca: Sya’ban), maka ia wajib mendatangkan dalil. Sebab sependek yang kami tahu tidak ada riwayat khusus tentang wajibnya setiap muslim untuk saling memaafkan antara satu dengan yang lain sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Meminta maaf merupakan kewajiban bagi orang yang bersalah dan juga ssalah satu akhlak mulia. Namun mengkhususkan waktu dan atau tempat untuk suatu amalan adalah perkara yang lain lagi.

Oleh karenanya, kita wajib berhati-hari dalam menerima informasi, utamanya terkait dengan syari’at. Dan jika anda menerima pesan sejenis ini, silahkan untuk dihapus dan tidak disebarkan. Apa yang datang dari Rasulallah saw, mari kita ikuti. Dan apa yang beliau larang mari kita jauhi.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.