Hadis Dhaif: Pengertian, Kriteria & Macamnya, Beserta Contohnya…

Hadis Dhaif
Sumber: Sigabah.com

Hadis Dhaif: Pengertian, Kriteria & Macamnya, Beserta Contohnya…

Tongkrongan Islami – Kata dha’if  menurut bahasa, berarti lemah, sebagai lawan dari qawi (yang kuat)[14]. Sebagai lawan kata dari shahih,kata dha’if juga berarti saqim (yang sakit). Maka sebutan hadis dha’if secara bahasa berarti hadis yang lemah, yang sakit, dan yang tidak kuat.

Secara terminologis, para ulama mendefinisikannya dengan redaksi yang beragam,meskipun maksud dan kandungannya sama. Al-Nawawi dan Al-Qasimi mendefinisikan hadis Dha’if dengan:“Hadis yang didalamnya tidak terdapat syarat-syarat hadis shahih dan syarat- syarat hadis hasan.

Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib menyatakan bahwa definisi hadis Dha’if adalah: “segala hadis yang di dalamnya tidak terkumpul sifat-sifat maqbul”. Sifat-sifat  maqbul dalam definisi di atas maksudnya adalah sifat-sifat yang terdapat dalam hadis shahih dan hadis hasan, karena keduanya memenuhi sifat- sifat maqbul. Dengan demikian, definisi kedua tersebut sama dengan definisi berikut: “Hadis yang di dalamnya tidak berkumpul sifat-sifat hadis shahih dan hadis hasan “.

Menurut Nur Al- Din ‘Itr, definisi yang paling baik tentang hadis dha’if adalah: “Hadis yang hialang salah satu syaratnya dari syarat-syarat hadis maqbul”. Maksudnya, suatu hadis yang tidak memenuhi salah satu syarat(kriteria) hadis shahih atau hasan dinyatakan sebagai hadis dha’if yang berarti hadis itu bertolak untuk di jadikan hujjah.

Kriteria & Macam-Macam Hadis dha’if

Pada definisi diatas terdapat bahwa hadis dha’if tidak tidak memenuhi salah satu dari kriteria hadis shahih atau hadis hasan. Sebagaimana telah di jelaskan di atas, kriteria-kriteria hadis shahih adalah 1. Sanadnya bersambung 2. Periwayat adil 3. Periwayat dhabit 4. Terlepas dari syadz 5. Terhindar dari illat. Adapun kritria-kriteria hadis hasan adalah 1 sanadnya bersambung Terhindar dari illat.

Berhubung hadis dha’if tidak memenuhi salah satu dari beberapa kriteria diatas, maka kriteria hadis dhi’if adalah : 1 sanadnya terputus  2. Periwayat tidak adil 3. Periwayat tidak dhabit 4. Mengandung syadz  5. Mengandung illat. Penjelasan tentang kriteria-kriteria ini selanjutnya dapat dilihat pada penjelasan tentang macam-macam  hadis dha’if berikut:[15]

Adapun macam-macam hadis dhaif akan kami jelaskan secara rinci di bawah ini, disusun berdasarkan dengan penyebab hadis tersebut dikatakan daif.

Hadis Daif Karena Sanad Terputus

Dalam kaitannya dengan keterputusan  sanad, Ibnu Hajar Al- asqalani membagi hadis dha’if kapada lima macam. Yaitu hadis mu’allaq, hadis mursal, hadis mungqathi’, hadis mu’dhal, dan hadis mudallas.

1) Hadis mu’allaq

Hadis mu’allaq adalah hadis yang terputus di awal sanad. Kata mu’allaq se cara bahasa berarti tergantung.

Secara terminologis, hadis mu’allaq adalah hadis yang meriwayatkan di awal sanad (periwayatan disandari oleh penghimpun hadis) gugur atau terputus seorang atau lebih secara berurut. Patokan tentang keterputusannya terletak pada awal sanad baik secara periwayat atau lebih.

Contoh hadis mu’allaq adalah riwayat Al-Bukhari dengan perbandingan sanad dari Abu Dawud, al- Nasa’i dan Ibn Majah:“Bab tentang orang yang mandi telanjang sendirian ditempat yang sepi dan menutupi lebih baik. Bahz mengatakan dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi Saw.Sabdanya,’Allah lebih berhak untuk disikapi malu dari pada manusia.

Pada sanad di atas ada beberapa periwayat yang digugurkan sebelum Al-Bukhari setelah bahz dan untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan membandingkan dengan sanad-sanad pada hadis-hadis berikut:

  • Dalam sunan Abi Dawud
  • Dalam sunan al-nasa’i.
  • Dalam sunan Ibnu Majah.

2) Hadis Munqathi

Tentang definisi hadis munqathi’, para ulama berbeda pendapat. Berikut dikemukakan beberapa definisi hadis munqathi itu:

Hadis munqathi adalah hadis yang sanadnya terputus di bagian mana saja, baik pada sanad terakhir atau periwayat pertama (sahabat) maupun bukan sahabat (selain periwayat pertama)

  • Hadis munqathi’ adalah hadis yang sanadnya terputus, karena periwayat yang tidak berstatus sebagai sahabat Nabi atau tabi’in menyatakan menerima hadis dari Nabi. Sanad hadis terputus pada peringkat sahabat dan tabi’in.
  • Hadis munqathi’ adalah hadis yang bagian sanadnya sebelum sahabat (periwayat sesudahnya) hilang atau tidak jelas orangnya.
  • Hadis munqathi’ adalah hadis yang dalam sanadnya ada periwayat yang gugur seorang atau dua orang tidak secara berurutan.
  • Hadis munqathi’ adalah hadis yang dalam sanadnya ada seorang priwayat yang terputus atau tidak jelas.
  • Hadis munqathi’ adalah hadis yang saanadnya dibagian sebelum sahabat (periwayat sesudahnya) terputus seorang atau lebih tidak secara berturut dan tidak terjadidi awal sanad.
  • Hadis munqathi’ adalah pernyataan atau perbuatan tabi’in.

Untuk menghidari ketidakjelasan, maka dipilih definisi berikut:

Hadis munqathi adalah hadis yang ditengah sanadnya ada periwayat yang gugur seorang atau dua orang tidak secara berurutan. Definisi ini dimaksudkan untuk menghidari bias dengan beberapa kategori hadis Dha’if  lain diatas.

Contoh hadis munqathi adalah riwayat Ibn Majah.[16]: “keluar juga membaca shalawat untuk muhammad dan berdoa,’ Ya tuhanku’ Ali ibn Hajar bercerita kepada kami, katanya Ismai Ibn Ibrahim bercerita kepada kami dari layts ‘Abd Allah ibn Al-Hasan dari ibunya fatimah binti Al-Husain dari neneknya fatimah Al-kubrah katanya,’ apabila Rasulullah memasuki masjid, ia membaca shalawat bagi Nabi Muhammad dan berdoa, Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan bukalah pintu rahmatmu.’ Dan jika ia ampunilah dosaku dan bukalah pintu keutamaan-mu.

Untuk mengetahui keterputusan sanad (Al-inqitha) pada hadis munqathi’dapat diktahui dengan tiga cara:

  • Dengan jelas, yaitu periwayatan yang meriwayatkan hadis dapat diketahui dengan pasti tidak sezaman dengan guru yang memberikan hadis kepadanya atau ia hidup sezaman dengan gurunya, tetapi tidak mendapat izin (ijzah) untuk meriwayatkan hadisnya. Hal ini dapat dilihat dari tahun lahir dan/atau wafat mereka.
  • Dengan samar-samar, yaitu karena tidak ada tahun lahir dan/ atau wafat periwayat , maka keterputusan hadis munqathi’ hanya diketahui oleh orang ahli saja.
  • Dengan komparasi, yaitu dengan memperbandingkan hadis-hadis dengan hadis lain yang senada sehingga diketahui apakah hadis tertentu munqathi’ atau bukan.

3) Hadis Mu’an’an dan muannan

Di samping itu, hadis yang termasuk kategori hadis dha’if  karena sanadnya diduga mengalami keterputusan (Al-inqitha) adalah hadis al-mu’an’an dan almuannam. Kata Al-Muannan berasal dari kata annana yang berarti periwayat berkata : anna (bahwa) anna (bahwa) yang menunjukkan bahwa periwayat meriwayatkan hadis dari periwayat lain dengan menggunakan metode anna.

4) Hadis Mu’dhal

Kriteria hadis mu’dhal adalah: a. yang gugur atau terputus lebih dari satu orang ;b. Keterputusan secara berturut-turut; c. Tempat keterputusan di tengah sanad, bukan di awal atau akhir.

Jadi, hadis mu’dhal adalah hadis yang gugur dua orang periwayatnya atau lebih secara berturut-turut baik gugurnya itu antara sahabat denngan tabi’in, antara tabi’in dengan tabi’al-tabi’inatau dua orang sesudah mereka.

Contoh hadis mu’dhal dapat dilihat dalam kita Al-muwathth’ karya Imam Malik sebagai berikut: “Malik bercerita kepadaku bahwa sebuah berita sampai kepadanya, Abu Hurayah berkata, Rasulullah Saw. Bersabda, Seorang budak berhak mendapatkan makanan dan pakaian seta ia tidak dibebani pekerjaan kecuali ia mampu”.

5) Hadis Mursal

Sebagaimana terlihat pada penjelasan sebelumnya, sebuah hadis disebt mursal apabila di riwayatkan oleh tabi’i langsung dari Nabi tanpa menyebut sahabat. Kata mursal secara bahasa berarti lepas atau terceraikan dengan cepat atau tanpa halangan.

Contoh hadis mursal shahabi dalam shahih Ibnu Hibban: ”Al-Husayn bin Idris Al-Anshar bercerita pada kami, katanyaAhmad bin Abi Bakr bercerita pada kami dari Malik dari Ibn Syihab Al-Zuhri dari ‘Ubayad Allah bin ‘Abd Allah dari Ibn ‘Abbas bahwa Rasulullah Saw. Keluar ke Mekkah pada tahun pembukaan kota itu bulan Ramadhan, ia berpuasa hingga sampai ke kadid. Kemudian ia berbuka dan umat muslimjuga berbuka

6) Hadis Mawquf dan Hadis Maqthu’

Hadis mawquf adalah hadis yang di sandarkan kepada sahabat Nabi, atau hadis yang diriwayatkan dari para sahabat berupa berkataan , perbuatan, atau persetujuannya.

Contoh hadis mawquf adalah perkataan ‘Ali dalam riwayat Al-Bukhari: ’Dan ‘Ali berkata,’Berbicaralah dengan  manusia tentang sesuatu yang mereka ketahui. Apakah kalian ingin agar Allah dan Rasul –Nya didustakan?. Hadis ini diceritakan kepada kami oleh ‘Ubayd Allah bin Musa dari ma’ruf bin Kharbudz dari Abu All-Tufayl dari ‘Ali.

Hadis Dha’if Karena periwayatnya Tidak ‘Adil

1) Hadis mawdhu’.

Hadis maudhu’adalah  hadis yang dusta yang dibuat-buat dan dinisbahkan kepada Rasulullah .

2) Hadis Matruk.

Hadis Matruk adalah hadis yang diriwayatkan oleh periwayat yang tertuduh sebagai pendusta. Contoh hadis matruk berkualitas dha’if: ”Barang siapa yang mempunyai kegelapan akal dan keyakinan yang menipu, hal itu tidak akan membahayakan dosanya sedikitpun.

3) Hadis Munkar.

Hadis munkar berasal dari kata Al-Inkar (mengingkari) lawan dari kata Al-Iqrar (menetapkan). Dikalangan ulama hadis, hadis munkar didefinisikan dengan :1. Hadis yang dalam sanadnya terdapat periwayatan yang mengalami kekeliruan yang parah, banyak mengalami kesalahan, dan pernah berbuat fasik;2. Hadis yang diriwayatka oleh periwayat yang Dha’if yang bertentangan dengan riwayat yang siqaht.

Contoh hadis munkar adalah hadis yang diriwayatkan oleh An-nasa’i dan Ibn Majah dan Aisyah secara marfu’: “Muhammad bin umar bin Ali bin Atha’ bin miqdam bercerita kepada kami katanya, Yahya bin Muhammad bin Qays bercerita kepada kami katanya, aku mendengar Hisyam bin Urwah menyebutkan hadis dari ayahnya dari Asyah katanya,Rasulullah Saw. Bersabda,’Makanlah kurma  atau yang masih mudah. Karena jika seseorang memakannya, maka setan akan marah dan berkata,’seseorang telah hidup sampai makan ciptaan yang baru.

Hadis Dha’if karena Periwayatnya Tidak Dhabit

1) Hadis Mudallas

Berasal dari kata dallasa yang secara bahasa berarti menipu atau menyembunyikan cacat. Menurut istilah, hadis mudallas adalah hadis yang diriwayatkan dengan cara yang diperkirakan bahwa hadis itu tidak cacat. Periwayat yang menyembunyikan cacat disebut Al-Mudallis, hadis yang disebut Al-Mudallas, dan perbuatan menyembunyikan disebut Al-Tadlis.

Contoh hadis mudallas kategori tadlis Al-Isnad riwayat Ibn ‘Umar berikut:”Hannad bin Al-Sara bercerita kepada kami dari ‘Ubbadah dari Ibn Ishaq dari Nafi’ dari Ibn ‘Umar, katanya aku mendengar Rasulullah Saw. Bersabda’ bila salah seorang diantara kalian mengantuk dimasjid, hendaklah ia bergerak di tempat lain.

2)  Hadis  Mudraj

Kata mudraj berasal dari kata adraja(menyisipkan) seperti kata;(Aku menyisipkan sesuatu pada sesuatu. Menurut istilah ilmu hadis, mudraj adalah hadis yang bentuk sanadnya diubah kedalam matannya dimasukkan sesuatu kata atau kalimat yang sebetulnya bukan bagian dari hadis tersebut tanpa ada ikatan pemisah.

Baca Juga:

  1. Hadis Lemah (Dhaif) Seputar Bulan Muharram
  2. Hadits Lemah & Palsu Seputar Bulan Ramadhan

Disadur dari buku Studi hadis karangan Dr. Idri, Cet. 1; Jakarta: Kencana, 2010, h. 177-202.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.