Hadis Shahih: Pengertian, Klasifikasi & Macamnya, Beserta Contohnya

Hadis Shahih
Sumber Gambar: Pustakaalfatih1453.blogspot.co.id

 

Hadis Shahih: Pengertian, Klasifikasi & Macamnya, Beserta Contohnya

Tongkrongan Islami – Kata sahih berasal dari kata  sahhun yasihhun adalah merupakan bentuk izim fa’il yang berarti yang benar, yang tepat. Sedangkan menurut istilah, para ulama hadis memberikan pengertian yang tersandar dan tersepakati secara umum, meskipun masih ada kritikan dalam beberapa sisi, antara lain:

Menurut ibn salah dalam Muqadimmaeh menyebutkan: “hadis sahih adalah hadis yang bersambung sanadnya, yang di riwayatkan oleh rawi yang adil dan dhabit dari rawi lain yang (juga) adil dan dabit sampai akhir sanad, dan hadis itu tidak janggal serta tidak mengandung cacat (illat)”

Menurut Imam Nawawi dalam Takriib Ar-Raawii Fii Syarh Ta-Qriib-Nawawi menyatakan: Hadis sahih adalah hadis yang bersambung sanadnya muttasil (bersambung) melalui  (periwayatan) orang-orang yang adil lagi dhabit tanpa syadz dan illataa”

Menurut taahir Al-Jazaa’ iri ad-Dimansyqii, dalam kitab Taujiih An-Ranadza Ilaa Usuul Al-Atsar, menyatakan: “Hadis sahih adalah hadis yang sanadnya barsambung dari awal sanad sampai akhir sanad, yang di riwayatkan orang adil dan dabit dari perawi semisalnya, tanpa syaz dan illat”

Syarat-syarat Hadis Dikatakan Shahih

Ada beberapa syarat yang mendakan sebuah hadi dikatakan shahih. Menurut muhaditsin, suatu hadis dapat dinilai sahih, apabila memenuhi syarat berikut;

a. Rawinya bersifat adil

Menurut Ar-Rasi, keadilan adalah tenaga jiwa yang mendorong untuk salalu bertindak takwa, menjauhi dosa-dosa besar, menjauhi kebiasaan melakukan dosa-dosa kecil, dan meninggalkan perbuatan-perbuatan mubah yang menodai muru’ah, seperti makan sambil berdiri di jalanan, buang air (kencing) di tempat yang bukan disediakan untuknya, dan bergurau yangberlebihan.

Menurut Syuhudi Ismail, kriteria-kriteria periwayat yang bersifat adil, adalah: Beragama Islam, Berstatus mukalaf (Al-Mukallaf), Melaksanakan ketentuan agama, Memelihara muru’ah.

b. Rawinya bersifat dhabit

Dhabit adalah bahwa rawi yang bersangkutan dapat menguasai hadisnya dengan baik, baik dengan hapalan yang kuat atau dengan kitabnya, lalu ia mampu mengungkapkannya kembali ketika meriwayatkannya.

Kalau seseorang mempunyai ingatan yang kuat, sejak menerima hingga menyampaikan kepada orang lain dan ingatannya itu sanggup dikeluarkan kapan dan dimana saja dikehendaki, orang itu dinamakan dhabtu shadri. Kemudian, kalau apa yang disampaikan itu berdasar pada buku catatannya (teks book) ia disebut dhabtu kitab. Rawi yang adil dan sekaligus dhabith disebut tsiqat.

c. Sanadnya bersambung

Yang dimaksud dengan ketersambungan sanad adalah bahwa setiap rawi hadis yang bersangkutan benar-benar menerimahnya dari rawi yang berada di atasnya dan begitu selanjutnya sampai kepada pembicara yang pertama.

Untuk mengetahui bersambung atau tidaknya suatu sanad, biasanya ulama hadis menempuh tata kerja yang penelitian berikut:

  1. Mencatat semua nama rawi dalam sanad yang diteliti.
  2. Mempelajari sejarah hidup masing-masing rawi.
  3. Meneliti kata-kaa yang menghubungkan antara para rawi dan rawi yang terdekat dengan sanad.

Jadi, suatu sanad hadis dapat dinyatakan bersambung apabila:

  1. Seluruh rawi dalam sanad itu benar-benar thiqat (adil dan dhatbit).
  2. Antara masing-masing rawi den gan rawi terdekat sebelumnya dalam sanad itu benar-benar telah terjadi hubungan periwayatan hadis secara sah menurut ketentuan tahamul wa ada al-hadis.

d. Tidak ber-illat

membuat cacat, meskipun tampak bahwa hadis itu tidak menunjukkan  adanya cacat tersebut

f. Tidak syadz (janggal)

Jadi, hadis sahih adalah hadis yang rawinya adil dan sempurna ke-dhabit-annya, sanad muttashil, dan tidak cacat matannya marfu’, tidak cacat dan tidak janggal.

Klasifikasi dan Macam-Macam hadis shahih

Hadis sahih terbagi menjadi dua, yaitu sahih li dzatih dan sahih li ghairih. Sahih li dzatihi adalah hadis sahih yang memenuhi syarat-syaratnya secara maksimal, seperti yang telah disebukan diatas.

Adapun hadis sahih li ghairih adalah hadis sahih yang tidak memenuhi syarat-syarat secara maksimal. Misalnya, rawinya yang adil tidak sempurnake-dhabit-annya (kapasitas intelektualnya rendah).

Bila jenis ini dikukuhkan oleh jalur lain semisal, ia menjadi sahih li ghairih. Dengan demikian, sahih li ghairih adalah hadis yang kesahihannya disebabkan oleh faktor lain karena idak memenuhi syarat-syarat secara maksimal. Misalnya, hadis hasan yang diriwayatkan melalui beberapa jalur, bisa naik derajat dari hasan ke derajat sahih.

Martabat & Kedudukan Hadis Shahih

Hadis sahih yang paling tinggi derajatnya adalah hadis yang bersanad ashahul asanid, kemudian berturut-turut sebagai berikut:

  1. Hadis yang disepakati oleh Bukhari Muslim.
  2. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari sendiri.
  3. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sendiri.
  4. Hadis sahih diriwayatkan menurut syarat-syarat bukhari dan muslim, sedangkan kedua imam itu tidak men-takhrij-nya.
  5. Hadis sahih menurut syarat bukhari, sedangkan Imam Bukhari sendiri tidak men-takhrij-
  6. Hadis sahih menurut syarat muslim, sedangkan Imam Muslim sendiri tidak men-takhrij-nya.
  7. Hadis sahih yang idak menurut salah satu syarat dari kedua Imam Bukhari dan M
  8. Ini berarti si pen-Takhrij tidak mengambil hadis dari rawi-rawi atau guru-guru Bukhari dan Muslim, yang telah beliau sepakati bersama atau yang masih diperselisihkan. Akan tetapi, hadis yang di-takhrij-kan tersebut, disahihkan oleh Imam-imam hadis yang ternama. Misalnya hadis-hadis sahih yang terdapat pada Sahih Ibnu Huzaimah, Shahih Ibni Hibban, Dan Shahih Al-Hakim.

Karya-karya yang hanya memuat hadis shahih

Ada banyak kitab hadis yang kita temukan telah diterbitkan namun kitab-kitab tersebut sebagian ada yang mencapurkan hadis sahih, hasan, dan daif. Agar tidak keliru diantara karya-karya yang hanya memuat hadis sahih adalah:

  1. Shahih Bukhari
  2. Shahih Muslim
  3. Mustadrak Al-Hakim
  4. Shahih Ibnu Hibban
  5. Shahih Ibnu Khuzaimah

 

Sumber Tulisan

Akib Muslim, Ilmu Mustalahul Hadis. Kajian Historis Metodologis (Cet. 1; Yogyakarta: STAIN Kediri Press 2010), h. 130.

Agus Salahuddin,  Agus Suyadi. Ulumul Hadis (Cet.1 : Bandung: Pustaka Setia, 2009), h. 142-144.

 

Syuhudi Ismail.  Kaedah Kesahihan Sanad Hadis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.