6 Kutipan Hadis tentang Taubat beserta Terjemahannya

Hadis tentang Taubat

Siapapun di dunia ini tidak akan terlepas dari kesalahan, bahkan nabi Muhammad pun sebagai manusia agung senantiasa beristigfar, memohon ampuanan dari Allah Swt. sebagaimana sabdanya:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ فَإِنِّيْ أَتُوْبُ فِيْ اليَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya aku beutaubat dalam sehari sebanyak 100 kali ” (HR. Muslim).

Begitulah hari-hari yang telah dilalui Rasulullah SAW, padahal jika kita cermati Allah SWT memberikan jaminan kepada nabi dengan mengampuninya dari dosa-dosa yang telah dikerjakan maupun yang akan nabi kerjakan. Namun karena nabi merupakan manusia agung, pengasih, penyang dan bijaksana belia selalu meminta ampunan kepada tuhan dengan segala perbuatannya.

Hadis tentang Taubat beserta Terjemahannya

إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ فِيْ النَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

Abu Musa ra meriwayatkan dari Nabi saw: “Sesungguhnya Allah membentangkan Tangan-Nya pada malam hari agar beutaubat orang yang berbuat jahat di siang hari dan Dia membentangkan Tangan-Nya pada siang hari agar bertaubat orang yang berbuat jahat di malam hari, sehingga matahari terbit dari Barat (Kiamat). “(HR. Muslim)

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ

“Barangssapa bertaubat sebelum matahari terbit dari Barat, niscaya Allah menerima taubatnya. “ (HR.Muslim)

Dari hadis diatas dapat dipahami bahwa orang-orang yang bertaubat sebelum datangnya hari kiamat akan diterima taubatnya, sebaliknya orang yang ebratubat setekahnya tidak akan diterima taubatanya.

Demikian halnya dengan permohonan ampun seorang yang hendak meninggal dunia, taubatnya tidak berguna baginya. Sebagaimana firman Allah SWT:

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengeriakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajar kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: ‘Sesungguhnya aku bertaubat sekarang .’ (An- Nisaa’: 18)

 إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ العَبْدِ مَالَمْ يُغَرْغِرْ

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama (nyawanya) belum sampai di kerongkongan. “ (HR· At-Tirmidzi, dan ia menghasan-kannya).

Oleh karena itu itu setiap muslim diwajibkan bertaubat dari segala kesalahannya, sepanjang ajal belum menjemput baik itu dilakukan di pagi hari, siang hari, sore hari mapun malam hari.

Orang-orang inilah yang pada akhirnya tidak akan menyesal dengan ajal yang menjemput. Jika ajal datang, justru ia akan merasa bahagia karena ia dosa-dosa yang ia miliki akan diampuni oleh Allah SWT.

مَنْ لَزِمَ الاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضَيْقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa senantiasa beristighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya kelapangan dan untuk setiap kesempitannya jalan keluar, dan akan diberi-Nya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka. ”  (HR. Abu Daud)

Imam Al-Auza’i pernah ditanya oleh seseorang: “Bagaimanakah tata cara beristighfar? lalu Beliau  menjawab: “Hendaknya engkau mengatakan: “Astaghfirullah, astaghfirullah. ” Artinya, aku memohon ampunan kepada Allah.

Anas ra meriwayatkan, aku mendengar saw bersabda, Allah berfirman. “Allah Ta’ala berfirman:

 قَالَ الله تَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِيْ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِيْ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لاَ تُشْرِكْ بِيْ شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau memohon dan mengharap kepadaku, niscaya Aku ampuni dosa-dosamu yang lalu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu sampai ke awan langit, kemudian engkau memohon ampun kepadaku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepadaku dengan dosa-dosa sepenuh bumi dan kamu menemuiKu dalam keadaan tidak menyekutukanku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datangkan untukmu ampunan sepenuh bumi (pula). ” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan),

Dalam hadits di atas disebutkan tiga sebab mendapatkan ampunan:

  1. Berdo’a dengan penuh harap.
  2. Beristighfar, yaitu memohon ampunan kepada Allah.
  3. Merealisasikan tauhid, dan memurnikannya dari berbagai bentuk syirik, bid’ah dan kemaksiatan.

Selengkapnya: Syarat-syarat terkabulnya taubat nasuha

Hadits di atas juga menunjukkan luasnya rahmat Allah, ampunan, kebaikan dan  anugerah-Nya yang banyak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.