Hukum Undian Berhadiah Jalan Sehat, Apakah Dikategorikan Judi?

Undian Berhadiah Jalan Sehat
Photo by mubaonline.com

Undian Berhadiah Jalan Sehat, Apakah Judi?

Oleh: Kumairoh PAI-A, FITK
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Peringatan hari kemerdekaan Indonesia, digelar dengan berbagai macam kegiatan perlombaan salah satunya adalah jalan sehat. Hal tersebut telah menjadi kebiasaan bagi masyarakat. Dikemas dengan hanya membayar iuran sebanyak sepuluh ribu rupiah akan diberikan sebuah kupon. Masyarakat diiming-iming dengan hadiah yang menarik seperti kipas angin, setrika, televisi, bahan sembako dll. Diakhir acara akan diadakan undian, barangsiapa yang nomor kuponnya sesuai, maka akan mendapatkan hadiah. Sedangkan bagi yang tidak muncul nomor kuponnya diundian, maka tidak akan mendapatkan hadiah.

Dalam permasalahan tersebut, bagaimana kacamata hukum islam mengenai undian berhadiah ini? Samakah dengan berjudi? menilik pengertian dari undian itu sendiri adalah membuang atau main, sederhananya menarik sebuah lot. Memiliki nama lain lotre atau lottery (dalam kamus Inggris).

Awalnya undian telah ada sebelum islam datang. Dahulu undian ini digunakan oleh orang Jahiliyah untuk mengundi nasib mereka didepan berhala, mengetahui suatu nasib apakah baik atau bahkan buruk. Selain itu, mereka juga berkumpul sepuluh orang kemudian membuat suatu lot sejumlah orang yang mengikuti undian tersebut dengan rincian tujuh yang mendapatkan undian dan yang tiga kosong artinya mereka harus membayar harga unta sebagai gantinya.

Kemudian lot tersebut diserahkan kepada orang yang dianggap adil oleh mereka setelah itu diundi satu per satu jika nama mereka keluar maka akan mendapatkan daging unta sebanyak urutan undian, misalnya urutan pertama al Fadz maka mendapat satu bagian daging unta, urutan undian keluar kedua, oleh at Tan’am maka mendapatkan dua bagian daging unta begitu seterusnya hingga urutan ketujuh. Namun tidak sekedar hanya demikian, mereka yang telah mendapatkan undian tidak diperbolehkan untuk memakan daging unta tersebut melainkan harus dibagikan kepada orang-orang miskin, hal ini menurut kebiasaan yang ada.

Mengenai undian berhadiah ini, berbagai pendapat dikemukakan:

Menurut Ibrahim Hosen bahwa undian harapan, sumbangan sosial berhadiah, dll bukan termasuk judi. Alasannya, judi dilakukan dengan adanya dua pihak atau lebih yang saling bertatap muka dengan disertai adanya taruhan. Sehingga dalam undian berhadiah tidak ada unsur bertatap muka dan taruhan sehingga bukan termasuk judi.

Menurut H.S Muchlis bahwa undian berhadiah tidak bisa dikatakan sebagai judi. Alasannya, sama seperti pendapat Ibrahim Hosen namun dengan syarat tambahan jika hadiah yang diberikan itu bukan dari seseorang yang mengikuti undian namun dari pihak sponsor hal ini diperbolehkan dan undian berhadiah ini disalurkan untuk kepentingan sosial dan agama, misalnya membangun sekolah, rumah sakit, dll agar masyarakat termotivasi untuk memberikan bantuannya.

Menurut Rasyid Ridho mengenai undian berhadiah ini memiliki dua pandangan yaitu pertama, undian tidak menjadi haram jika dialokasikan pada kepentingan umum dan negara dengan alasan manfaatnya lebih besar daripada mudharatnya kemudian diasumsikan tidak menimbulkan permusuhan diantaranya dan tidak ada unsur mengambilnya (harta) yang sama dengan memakan kekayaan pihak lain dengan cara baik (bathil) serta tanpa adanya lupa akan Allah SWT. Kedua, undian berhadiah adalah judi dengan alasan bahwa telah jelas keharamannya secara qath’i dilalah yang tidak bisa dipertanyakan. Sebagaimana dalam QS. al Maidah: 90:

يآيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْآ اِنَّمَاالْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصاَبُ وَالْازْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطاَنِ فاَجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamer, (berjudi untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Dalam ayat diatas, bahwa sudah jelas suatu perbuatan berjudi, minum khamer serta mengundi nasib dengan panah telah dilarang oleh Allah SWT. Baik itu menggunakan dadu atau tidak tetapi ketika mengandung unsur untung maupun rugi itu dinamakan judi, dan judi adalah suatu perbuatan syaithan yang manusia diperintah untuk menjauhinya.
Menurut Syekh Abu Sujak, dijelaskan sebagai berikut:

(وَاِنْ اَخْرَجَاهُ) أَيِ الْعِوِضَ اَلْمُتَسَابِقَانِ (مَعًا لَمْ يَجُزْ) أَيْ لَمْ يَصِحَّ اِخْرَاجُهُمَا لِلْعِوَاضِ (اِلاَّ أَنْ يُدْخِلَ بَيْنَهُمَا مُحَلَّلاً) بِكَسْرٍ اَللَّامِ الْأُوْلىَ

“Jika Iwadl (hadiah) dikeluarkan oleh keduanya bersama-sama, maksudnya dua orang yang berlomba, maka tidak diperbolehkan, maksudnya tidak sah jika keduanya mengeluarkan hadiah kecuali keduanya memasukkan Muhallil (orang ketiga) diantara keduanya. Lafad Muhallil dengan membaca kasrah huruf lamnya yang pertama.”

Dari penjelasan diatas bahwa bukan dikatakan judi dengan syarat, memasukkan seseorang (Mahalli) didalam kedua pihak yang bertaruh. Dan pihak tersebut tidak mengeluarkan uang sehingga apabila menang maka boleh untuk mengambil uang taruhan mereka. Dapat diilustrasikan sebagaimana contoh berikut:

A adalah peserta pertama ngeluarin uang, B adalah peserta kedua ngeluarin uang, dan C adalah peserta ketiga tidak mengeluarkan uang. Jika A atau B yang menang maka keduanya mengambil masing-masing uang yang dikeluarkan, jika C menang maka berhak mendapatkan uang dari A dan B.

Menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia oleh Ma’ruf Amin, dkk, (2011:385) mengemukakan bahwa untuk terhindar dari perilaku judi, maka dalam menentukan sebuah hadiah bagi pemenang dengan menghindari segala sesuatu yang menghasilkan untung maupun rugi, seperti menarik sebuah undian, memutar angka maupun nomor dan mengumumkan seorang yang menang. Kemudian syarat hadiah tersebut tidak boleh menggiurkan sehingga seseorang tertarik untuk membeli kupon.

Jadi dapat ditarik sebuah benang merah mengenai undian berhadiah pada kegiatan jalan sehat bahwa ketika sistem undian disertai pemerolehan hadiah tersebut diambil dari uang pembelian kupon maka sama dengan perilaku judi. Alasannya, karena bagi pemenang (nomor undiannya keluar) maka dia akan mendapatkan hadiah, sebaliknya yang nomor undiannya tidak keluar (kalah) maka dia tidak bisa mendapatkan hadiah. Disana tentunya terdapat pihak yang merasa untung dan rugi sebagaimana sesuai konsep dalam berjudi.

Pihak yang menang akan merasa senang (perkara halal) dan pihak yang kalah akan merasa tidak senang atau kecewa (perkara haram) maka sesuai dengan kaidah fiqhnya adalah sebagai berikut:

اِذَا اجْتِمَعَ الْحَلاَلُ وَالْحَرَامُ غُلِبَ الْحَرَامُ

“Apabila berkumpul antara perkara yang halal dan haram, maka yang dimenangkan adalah perkara yang haram.”

Dari kaidah tersebut bahwa apabila suatu perkara menimbulkan kehalalan dan keharaman maka yang dimenangkan adalah hukum yang menjelaskan bahwa perkara itu haram. Artinya dari undian berhadiah jalan sehat tersebut diharamkan karena menimbulkan unsur untung maupun rugi serta hasil akhirnya juga akan adanya pihak yang merasa senang dan kecewa sehingga hal tersebut diharamkan dan diasumsikan sama dengan judi.

Begitu pula dalam konsep judi yang memiliki banyak kemafsadatannya dibandingkan dengan kemaslahatanya sehingga judi menjadi diharamkan. Hal ini berdasarkan konsep Sadd Adzariah bahwa menghindari sebuah kemafsadatan (undian akan menimbulkan seseorang merasa dirugikan dan kecewa tidak mendapatkan hadiah padahal sama-sama membayar kupon) lebih didahulukan dari pada kemaslahatannya (seorang pemenang yang mendapatkan hadiah dari undian). Berdasarkan kaidah hukum islam sebagai berikut:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلىَ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menghindari kerusakan itu harus didahulukan, dari pada menarik kebaikan.”

Dari kaidah hukum islam tersebut menjelaskan bahwa undian berhadiah jalan sehat dengan sistem membayar kupon harus dihindari karena akan menimbulkan seseorang merasa rugi dan kecewa begitupula mendahulukan hal yang menimbulkan kemafsadatan (kerusakan) ini diutamakan daripada menimbulkan kemaslahatannya (kebaikan). Karena islam diturunkan membawa sebuah kemaslahatan yang sangat mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan baik jiwa dan agama serta kemudahan tanpa adanya suatu kesukaran bagi umat.

Disamping undian berhadiah tersebut disamakan dengan judi, dapat dikatakan bukan judi (Sayid Sabiq:372) apabila seseorang yang mengikuti undian berhadiah jalan sehat itu tanpa membayar iuran untuk membeli kupon. Sehingga hadiah yang diperoleh dari undian berasal dari uang sponsor atau donator oleh seorang dermawan untuk memberikan sumbangan dalam acara jalan sehat tersebut.

Tidak banyak diketahui bahwa acara jalan sehat untuk memperingati HUT RI ini telah menjadi suatu kebiasaan di masyarakat. Oleh karena itu, bagi pihak penyelenggara harus benar-benar memahami sistem yang dipergunakan dalam jalan sehat tersebut. dipandang dari hukum islam bahwa jalan sehat ini merupakan sebuah ‘urf fashid jika sistem penggalangan dana untuk hadiah diperoleh dari penjualan kupon dan bertentangan dengan syariat agama (sama dengan judi). Dan dapat dikatakan ‘urf shahih apabila dana untuk hadiah diambil dari seorang donatur, sponsor dll dan menilik dari segi agama bahwa jalan sehat tidak membahayakan jiwa dan keselamatan justru malah menjadi sehat karena olahraga.

Daftar Pustaka

Amin Ma’ruf, dkk. 2011. Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sejak 1973. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Bakry Nazar. 1994. Problematika Pelaksanaan Fiqh Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Rokamah Ridho. 2007. Al-Qawa’id Al-Fiqhiyah: Kaidah-Kaidah Mengembangkan Hukum Islam. Ponorogo: STAIN Press.

Syekh Abu Sujak. Kitab Fathul Qarib.
Terjemah Alquran al Karim.

Zuhdi Majfuk. 1987. Masail Fiqhiyah. Jakarta: Haji Masagung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here