I’jaz Al-Qur’an: Memahami Kemukzjizatan Al-Qur’an dari Berbagai Segi

Memahami Kemukzjizatan Al-Qur'an dari Berbagai Segi
Sumber foto: Ibnuabbaskendari.wordpress.com

I’jaz Al-Qur’an: Memahami Kemukzjizatan Al-Qur’an dari Berbagai Segi

Oleh: Hasnidar

Tongkrongan Islami – Makhluk lemah yaitu manusia, maka dari itu Allah telah meanugrahkan kepada manusia berbagai keistimewaan dan kelebihan serta memberi kekuatan berfikir cemerlang yang dapat menembus dan menundukkan unsur-unsur kekuatan alam tersebut. Namun watak manusia yang sombong dan angkuh terkadang menolak untuk tunduk kepada manusia lain.

Oleh karena itu, Allah memilih rasul-rasulnya untuk menyampaikan ajaran ajaran-Nya. Muhammad saw. Dipilih sebagai rasul terakhir dan semua ajaran yang di terima dituangkan Allah dalam kitab suci al-Qur’an sebagai bukti kebenaran kerasulan Muhammad saw yang disebut dengan mukjizat, terutama bagi mereka yang menentang dakwah-dakwahnya.[1] Walaupun pada masanya bahasa dan sastra telah mengalami kemajuan, para penentang itu tidak berdaya untuk menandingi mukjizat tersebut.

Para Nabi yang terdahulu mengembangkan misinya hanya kepada kaumnya yang terbatas dan berkesudahan dengan datangnya kerasulan berikutnya.[2] Oleh karena itu mukjizat yang dimiliki tiap rasul berbeda, tantangan yang diberikan sesuai dengan kemampuan masyarakat yang diakui pada masanya. Pada Nabi Isa menyembuhkan orang buta dan menghidupkan orang mati. Bagi Nabi Musa tangan dan tongkatnya menjadi mukjizatnya, sedangkan Nabi Muhammad. Sendiri diberikan mukjizat berupa al-Qur’an.[3]

Al-Qur’an datang keatas dunia, setelah kemampuan umat manusia yang telah berada pada tingkatan kematangan, sehingga mukjizat yang diberikan berbentuk Aqliyah.[4]

Pengertian Mukjizat Al-Qur’an

Kata mukjizat berasal dari bahasa arab (a’jaza) yang berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Pelakunya (yang melemahkan) dinamakan mu’jiz dan bilah kemapuannya melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkam lawan dinamakan mukjizat. Tambahan ta’ marbutha pada akhhir kata, mengandung kata mubalagha (superlatif).[5]

Dilihat dari sudut kebahasaan menurut al-azarqani kata mukjizat merupakan salah satu bentuk perubahan dari lafal i’jaz yang bermakna melemahkan. Dan i’jaz al-Qur’an yang bermakna pengokohan al-Qur’an sebagai sesuatu yang mampu melemahkan berbagai tantangan untuk menciptakan karya sejenisnya.[6]

Dalam kaitannya dengan fungsi dan kerasulan serta kenabian Muhammadterhadap umatnya, kemukjizatan al-Qur’an tersebut berarti memperlihatkan kebenaran kerasulan dan fungsi kenabiannya serta kitab suci yang dibawanya.

Muhammad saw. Melalui al-Qur’an menantang orang-orang Arab membuat hal yang sama, tetapi mereka tidak sanggup melakukannya. Hal tersebut membuktikan kebenaran al-qur’an sekaligus meyakinkan mereka dan pengikut Nabi sendiri terhadap kebenaran yang dibawah olehRasulullah Muhammad saw. Tantangan tersebut menunjukkan pula al-Qur’an sebagai mukjizat, karena mukjizat sendiri adalah sesuatu yang luar biasa disertai tantangan dan selamat dari perlawanan.[7]

Berdasarkan pada kisah-kisah yang diangkat al-Qur’an, al-Suyuthi membagi mukjizat para Nabi pada dua kelompok besar, yaitu mukjizat hisiyah (sesuatu yang dapat ditangkap panca indra), dan mukjizat aqliyah (sesuatu yang hanya dapat ditangkap nalar manusia).[8] Mukjizat hisiyah diperkenalkan oleh Nabi yang berhadapan  umat terdahulu, seperti Nabi Musa dan Nabi Isa. Sedangkan mukjizat aqliyah diperkenalkan Nabi Muhammad.

Al-Qur’an, karena sifatnya adalah tantangan daya nalar, maka kemukjizatan tidak berakhir dengan wafatnya Nabi Muhammad. Al-Qur’an tetap menantang siapa saja yang ingin mencoba menyainginya, termasuk generassi manusia setelah Rasul, dan bahkan manusia hari ini, hari esok dan seterusnya sampai hari akhir.[9]

Kemukjizatan al-Qur’an akan memberikan interpretasi yang berbeda bagi setiap generasi. Ia juga akan memberikan interpretasi pada setiap pemikiran kehendaknya tanpa bertentangan dengan hakekat ilmu pengetahuan, ataupun berlainan dengan berbagai hakikat alam. Ia selalu memberi interpretasi yang baru pada setiap waktu. Hakikat-hakikat alam juga tidak akan menyalahi apa yang disebut didalam al-qur’an sedikitpun. Sebab Allah yang menentukan segala sesuatu di alam ini. Dialah yang menciptakan, Dia pula yang menurunkan firman di dalam al-Qur’an.

Faktor Penting dalam Memahami I’jaz Al-Qur’an

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan guna mempermuda pemahaman akan bukti-bukti kemukjizatan al-Qur’an.

Kepribadian Nabi Muhammad saw.

Keyakinan terhadap kemukjizatan al-Qur’an dapat diperoleh melalui penelusuran riwayat hidup Nabi Muhammad saw. Menurut Quraish Shihab pembuktian kebenaran seorang Nabi tidak harus melalui mukjizat yang dipaparkan akan tetapijuga dapat dibuktikan dengan mengenal kepribadian, kehidupan keseharian, akhlak, dan budi pekertinya bahkan juga air mukanya.[10]

Siapapun yang mempelajari sejarah hidup Nabi Muhammad saw. Dan mengetahui kesederhanaannya, pastilah akan menafikan akan segala macam tuduhan negatif yang ditujukan kepadanya. Keadaan beliau yang ummi tidak pandai menulis membaca,[11] namun mampu menyampaikan aneka informasi sejarah dan hal-hal ilmiah yang tidak diketahui oleh masyarakat ilmiah kecuali berabad-abad sesudahnya.

Kondisi Masyarakat Saat Turunnya Al-Qur’an

Al-Qur’an yang menamai masyarakat Arab sebagai masyarakat ummiyyin, yang berarti masyarakat Arab hanya mampu menggunakan bahasa ibu, kemampuan mereka baca tulis sangat minim. Kelangkaan alat tulis menulis dan ketidak mampuan menulis mengantarkan mereka untuk mengandalkan hafalan, pada gilirannya tingkat kecerdasan dan ilmiah seseorang diukur dari kemampuan menghafal.

Memahami kondisi masyarakat dan perkembangan pengetahuan pada masa turunya al-Qur’an akan menunjang bukti kebenaran al-Qur’an. Disadari betapa kitab suci al-Qur’an memaparkan hakikat-hakikat ilmiahyang tidak dikenal pada masa-masa terakhir ini.

Cara Kehadiran Al-Qur’an

Terkadang Nabi Muhammad saw. Membutuhkan penjelasan atas sesuatu yang dihadapi tapi penjelasan itu tak kunjung datang. Seperti kegelisahan yang melanda Nabi ketika telah menerima 10 kali wahyu dan terhenti untuk waktu yang sekian lama dinantikannya. Musyirikin mekah mengejek beliau dengan mengatakan bahwa ‘Tuhan telah meninggalkan muhammad saw. Dan membencinya.” Baru kemudian turun surah Adh-Dhuha (1-3):

وَالضُّحَىٰ – وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ – مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap). Tuhanmu tiada meninggalkan kamudan tiada (pula) benci kepadamu.

وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِنْ بَعْدِ نُوحٍ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

 

Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha mengetahui dosa hamba-hambanya (Q.S Al-Isra’: 17)

إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan mengerjakan amal- amal saleh; mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar. (Q.S. Hud: 11)

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

Dan bila dikatakan mereka:”Jangan kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab:”Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (Q.S. Al-Baqarah: 11)

Demikian itu menunjukkan bahwa wahyu adalah wewenang Allah SWT. Walaupun Nabi menghendaki turunnya wahyu, namun jika Allah belum menghendaki wahyu tidak akan datang. Ini menandakan bahwa wahyu bukan merupakan hasil perenungan atau bisikan jiwanya.

Kehadiran wahyu juga tidak jarang datang secara tiba-tiba, bahkan boleh jadi tidak terlintas dalam benak beliau. Ketika ditanya oleh orang Arab Quraisy tentang ruh, menurut Ibn Mas’udra. Sejenak beliau berhenti dan mengangkat kepalanya.

Ketika itu aku tersadar beliau sedang menerima wahyu,demikian sampai selesainya lalu beliau membaca” qulirruhu min amri rabby wama utitum minal ilmi illa qalila”.[12]

Redaksi spontan tersebut menurut kritikus bahasa yang notabene masih dalam penguasaannya untuk menyusun kata atau kaliamat sendiri. Kesemuanya tetap dipertimbangkan dalam uapaya memahami kemukjizatan al-Qur’an.

Memahami Kemukzjizatan Al-Qur’an dari Berbagai Segi

Al-Qur’an mempunyai daya i’jaz yang luar biasa dari segala segi. Mulai dari sistematika susunannya dalam mushaf, sampai pemilihan dan penempatan suatu kata dalam kaliamat, redaksi makna yang terkandungnya. Semua itu merupakan sesuatu yang luar biasa, di atas kesanggupan dan nalar manusia.

Kondisi ini yang membuat para tokoh sastrawan Arab membisu karena tak mampu menantangnya, padahal mereka sudah sampai kepada puncak kesastraan bahasa Arab seperti yang tergambar dalam kisah al-Wali bin Mughirah, Utbah bin abi Rabi’ah dan lain-lain.[13] Kenyataan ini pula yang mendorong para ulama mengungkapkan.

Kemukjizatan al-Qur’an dapat dikaji dan diteliti dari berbagai aspek, baik segi ushlub, ilmu pengetahuan, pengaruhnya terhadap peradaban dunia atau segi lainnya yang menunjukkan kehebatannya.

Ulama berbeda pendapat mengenai segi kemukjizatan al-Qur’an. Menurut al-Qattan i’jaz al-Qur’an terdapat tiga aspek yaitu kemukjizatan bahasa, ilmiah, dan tasyri (perundang-undangan).[14]

Abu Hasan al-Nadawi melihat, kemukjizatan al-Qur’an tidak hanya terletak pada segi kebahasaan saja, tetapi juga pada aspek cakupan-cakupan informasi keagamaan yang menyeluruh, dan mengungkapkan kisah-kisah lama yang tidak hidup dalam cerita-cerita rakyat, dan bahkan tidak semuanya dapat terungkap dalam penelitian sejarah.[15] Sementara itu, Mustafa Mahmud melihat bahwa kemukjizatan terletak pada pengaruh bacaannya dalam lubuk hati para pendengarnya.[16]

Al-Qurtubi sendiri mengemukakan sepuluh aspek i’jaz al-Qur’an yaitu:[17]

  1. Aspek bahasanya yang mengguli seluruh cabang bahasa Arab.
  2. Aspek eksistensinya yang tidak tertandingi.
  3. Aspek gaya bahasanya yang menggungguli keindahan basa Arab.
  4. Aspek informasinya yang menembus persoalan-persoalan ghaib.
  5. Aspek hukumnya yang universal dan manusiawi.
  6. Aspek keteraturan dan sejalan dengan sains.
  7. Aspek pengetahuan yang dikandungnya.
  8. Aspek pengaruhnya terhadap kalbu.
  9. Aspek pengaruhnya dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia.
  10. Aspek kebenaran atas janji-janjinya, baik berupa rahmat maupun ancaman

Pandangan ulama yang mempunyai pengamatan dan apresiasi yang berbeda satu sama lain, dapat disimpulkan bahwa kemukjizatan al-Qur’an terletak pada tiga hal, yaitu keindahan dan ketelitian bahasanya sehingga mempengaruhi mereka yang membaca dan yang menyimaknya, berita-berita ghaibnya, dan ilustrasi ajaran-ajarannya yang memberi isyarat keilmuan.

Ketiga aspek inilah yang dimiliki al-Qur’an dan dapat melemahkan para penantangnya, yang sekaligus merupakan bukti-bukti kebenaran, serta kebenaran rasul pembawa ajarannya.

Kemukjizatan Al-Qur’an dari Segi Bahasa

Menghayati keindahan, ketelitian serta kecermatan pembahasan al-Qur’an tidak mudah, terutama bangsa kita yang pada umumnya kurang mempunyai apresiasi terhadap sastra Arab.[18] Tetapi kemukjizatan al-Qur’an justru dari segi kebahasaan, selain isi dan ilustrasi-ilustrasinya.

Sejarah memperlihatkan bahwa al-Qur’an diturunkan berdasarkan urutan kejadian dan tidak berdasarkan urutan ayat atau surah yang terlihat dalam mushaf baku.[19] Bahkan ayat-ayat al-Qur’an terkadang secara spontanitas menjawab persoalan sulit yang dihadapi oleh Nabi Muhammad saw.

Namun demikian para ahli bahasa tetap menilai al-Qur’an memiliki keindahan gaya bahasa yang tidak tertandingi. Menurut para pakar bahasa bahwa seseorang dinilai berbahasa dengan baik apabila pesan yang hendak disampaikan tertampung oleh kata atau kalimat yang ingin dirangkai ﺨﻴﺮﺍﻠﮏﻼﻢ ﻤﺎﻗﻞ ﻭﺪﻞ. Kata yang dipakai tidak asing bagi pendengaran atau pengetahuan lawan bicara, mudah diucapkan serta kalimat yang dipakai tidak bertele-tele.

Keseimbangan Redaksi al-Qur’an

Keseimbangan dalam jumlah pemakaian kata antonim; seperti kata al-ayah (kehidupan) dan al-maut (kematian)masing-masing sebanyak 145 kali. Kata al-harr dan al-bard masing-masing 4 kali.

Keseimbangan dalam jumlah pemakaian kata sinonim; kata al-jahr (nyata) dan al-a’laniyah (nyata), masing-masing sebanyak 16 kali. Kata al-ujub (membanggakan diri) dengan kata al-gurur (angkuh) masing-masing 17kali. Kata al-harts (membajak) dan as-Zira’ah (bertani) masing-masing 14 kali.

Keseimbangan dalam jumlah bilangan kata yang menunjuka pada akibatnya: al-kafirun (orang-orang kafir) dan an-nar (neraka/pembakaran) masing-masing sebanyak 154 kali. Kata as-Zakah (penyucian) dan al-Barakat (kebajikan yang banyak) masing-masing 32 kali. Kata al-fahisyah (kekejian) dan al-ghadab (murkah) masing-masing 26 kali.

Keseimbangan dalam jumlah pemakaian kata dengan penyebabnya; Kata as-salam (kedamaian) dan ath-thayyibat (kebajikan) masing-masing sebanyak 60 kali. Kata al-asra (tawanan) dan al-harb (perang) masing-masing 6 kali. Kata al-mau’izhah (nasihat) dan al-lisan (lidah) masing-masing 25 kali

Keseimbangan lainnya yaitu; kata yaum (dalam bentuk tunggal) sebanyak 365 kali. Sesuai jumlah hari dalam setahun. Sedangkan kata ayyam (dalam bentuk jamak), yaumin (dalam bentuk mutsanna) jumlah pemakaian dalam keseluruhan sebanyak 30 kali sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Disisi lain, kata syahr (bulan) hanya terdapat 12 kali, sejumlah bulan dalam setahun.[20]

Kemukjizatan Dari Segi Isyarat Ilmiah

Lahirnya teori baru membuat sebagian orang terjebak di dalam mencari kemungkinan kecocokannya dalam ayat, lalu ditakwilkan sesuai dengan teori ilmiah tersebut. Mereka menginginkan al-Qur’an mengandung segalah teori ilmiah, sehingga mengaitkannya dengan semua ilmu pengetahuan.[21] Mukjizat ilmiah al-Qur’an bukanlah terletak pada pencakupan teori-teori ilmiah yang selalu baru dan berubah, tetapi terletak pada dorongannya untuk berfikir dan menggunakan akal.

Semua persoalan atau kaidahilmu pengetahuan yang telah mantap dan meyakinkan itu merupakan manifestasi dari pemikiran valid yang dianjurkan al-Qur’an, tidak ada pertentangan sedikitpun dengannya. Ilmu pengetahuan telah maju dan tidak sedikit masalah yang muncul, namun apa yang telah dianggap  paten dan mantap tidak bertentangan sedikitpun dengan salah satu ayat al-Qur’an.[22]

Kemukjizatan Al-Qur’an segi Pemberitaan

Al-Qur’an telah memberikan informasi tentang kejadian-kejadian masa lalu yang tidak mungkin didapatkan dengan jelas tanpa pemberitaan al-Qur’an. Pemberitaan al-qur’an bertujuan kebenaran dan keagamaan sehingga dapat meneguhkan keimanan terhadapdan kerasulan.[23]

Penelitian antropologi misalnya sangat terbantu oleh kisah Nabi Nuh yang menyelamatkan diridari banjir besar.[24] Nabi Nuh memiliki 4 orang anak yaitu sam (melahirkan keturunan bangsa Arab dan persia), Ham (nenek moyang orang Afrika), Yafat (asal bangsa Arya yang kemudian melahirkan bangsa Eropa dan Asia tengah), Kan’an (melahirkan bangsa Pinisia yang dibasmi oleh Israel). Sebab itu Timur Tengah sering disebut bangsa Smit atau Semit, afrika disebut Hamit, sedang eropa membangsakan diri sebagai bangsa Arya.

Demikian juga al-Qur’an menyajikan pemberitaan tentang masa depan yang telah terbukti kemudian dalam perjalanan waktu. Seperti firman Allah dalam:

سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ

Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka pasti akan mundur ke belakang. (Q.S. al-Qamar: 45)

Umar bin Khattab r.a bertanya-tanya tentang pasukan yang di maksud oleh Allah swt. Akan dikalahkan oleh kaum muslimin, padahal mereka belum memiliki kekuatan karena jumlah mereka masih sangat sedikit di Makkah waktu itu. Ternyata betul terbukti ketika terjadinya peristiwa pathu makkah pada tahun 8 H.[25]

سَنَسِمُهُ عَلَى الْخُرْطُومِ

Kelak  akan kami memberi tanda (luka) Dia dibelalai (nya) (hidungnya). (Q.S. al-Qalam: 16)

Al-Walid bin mughirah salah satu musuh Islam yang sangat terkenal dengan keangkuhan dan keberaniannya. Al-Qur’an bahwa dia akan mendapat luka di hidungnya, ternyata pada perang badar dia mengalami luka di hidung dan berbekas sampai akhir hayatnya.[26]

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya Dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak Dia akan masuk kedalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. (Q.S. Al-Lahab: 1-5)

Abu Lahab disebutkan akan mati dalam keadaan kafir. Padahal diantara rekannya seperti khalid bin Walid, Amru bin As, Umar bin Khattab mempunyai pendirian yang sama sebelumnya dengan Abu Lahab, tetapi kemudian memeluk islam. Ternyata Abu Lahab sampai akhir hayatnya tetap dalam kekafirannya.

Kalau saja dia menggunakan ayat itu untuk menanamkan keraguan terhadap al-Qur’an dengan menyatakan syahadat, maka al-Qur’an menyatakan pemberitaan bohong, namun itu tidak terjadi. Namun pemberitaan-pemberitaan yang disampaikan al-Qur’an itu menujukkan kemukjizatan al-Qur’an yang berasal dari maha kuasa dan maha mengetahui segalanya.

Kesimpulan

I’jaz menampakan kebenaran Nabi dalam pengakuannya sebagai Rasul sekaligus menampakkan kelemahan para penantangnya. I’jaz al-Qur’an membuktikan kebenaran al-Qur’an sekaligus menguatkan keyakinan terhadap kerasulan Muhammad saw.

Memahami kemukjizatan al-Qur’an dapat ditelusuri dari kepribadian Nabi Muhammad, kondisi saat turunnya al-Qur’an, dan cara kehadiranya al-Qur’an, dan kemukjizatan al-Qur’an diantaranya dari segi bahasa, isyarat ilmiah, dan pemberitaan.

Meskipun mukjizat berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Dari segi agama, sama sekali tidak dimaksudkan melemahkan atau membuktikan ketidakmampuan yang ditantang. Mukjizat ditampilkan oleh Allah melalui hamba-hamba pilihan-Nya untuk membuktikan kebenaran ajaran Ilahi yang dibawa oleh masing-masing Nabi. Bagi yang percaya kepada Nabi, maka ia tidak akan lagi membutuhkan mukjizat.

Baca Juga:

  1. Keutamaan Surah al-Kafirun yang Sebaiknya Kita Pahami
  2. Metode Tafsir Bil Ma’tsur: Penafsiran Al-Qur’an Menggunakan Ayat Al-Qur’an, Hadis, Perkataan Sahabat & Tabi’in
  3. Bentuk Mutlak dan Muqayyad dalam al-Qur’an dan Hadis

 

Catatan Kaki

[1] Quraish Shihab dkk. Sejarah dan Ulumul Qur’an (Cet. III; Jakarta: Pustaka Pirdaus, 2001), h. 105.

[2] Mohammad Ali Ash shabuniy. At-Tibiyan fi Ulumil al-Qur’an (Beirut; Dar al-Irsyad), h. 102.

[3] Said Agil Husin Al-Munawar. Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki (Cet. III; Jakarta: Ciputat Press, 2003), h. 30-31.

[4] Manna Khalil AL-Qattan. Mabahis fi Ulumil Qur’an (Cet. III; Riyad: Maktabah AL-Ma’arif, 2000), h. 259.

[5] M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an ditinjau dari Aspek Kebahasaan Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib (Cet. XIV; Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2004), h. 23.

[6] Muhammad Abd al-‘Azim al-Azarqani, Manahil al-Irfan fi Ulum Al-Qur’an (Jilid II; Kairo: Isa al-Bab al-Halaby, t. Th), h. 331.

[7] M. Quraish Shihab, op. cit., h. 23.

[8] Jalaluddin al-Suyuthi, al-Itqan fi’Ulum al-Qur’an (Jilid II; Beirut: Dar al-Fikr, 1979), h. 116.

[9] Ibid., h. 117.

[10] M. Quraish Shihab, op. cit., h. 64.

[11] Allah menjelaskan bahwa  Muhammad saw. tidak pernah membaca dan menulis sebelumnya sehingga menghilangkan kecurigaan mereka yang meragukan bahwa al-Qur’an adalah karangan/buatan Muhammad bukan wahyu., lihat., Q.S. al-Ankabut (48).

[12] M. Quraish Shihab, op. cit., h. 82.

[13] Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h. 120.

[14] Manna Khalil al-Qattan, Mabahis fi Ulumil Qur’an, diterjemahkan Mudzakir AS, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an (Cet. X; Bogor; PT. Pustaka Litera Antar Nusa, 2007), h. 272-289.

[15] Abu Hasan al-Nadawi, al-Madkhal ila al-Dirasah al-Qur’aniyyah (Kairo: Dar al-Shalah, 1986), h. 94.

[16] Musthafa Mahmud, al-Qur’an (Kairo: Dar al-Ma’arif, t. Th), h. 245.

[17] Dikutip Ahmad Van Daffer, Ulum al- Qur’an: An Introduction to the Science of the Quran, diterjemahkan oleh Ahmad Nasir Budiman dengan judul Ilmu al-Qur’an; Pengantar Dasar (Jakarta: Rajawali, 1998), h. 178.

[18] M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1992), h. 29.

[19] M. Quraish Shihab dkk, op. cit., h. 114.

[20] M. Quraish Shihab dkk, op. cit., h. 140-143.

[21] M. Husein al-Zahabi, al-Tijahat al-Muharifat Tafsir al-Qur’an al-Karim Dawafiu Wadafuhu, diterjemahkan oleh Machnum husein dengan judul, Penyimpangan dalam Penafsiran al-Qur’an (Cet. IV; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), h. 112.

[22] Manna Khalil al-Qattan, op. Cit., h. 278-279.

[23] Sayyid Qutb, Seni Penggambaraan dalam Al-Qur’an, diterjemahkan Chadijah Nasution (Yogyakarta: Nur Cahaya, 1981), h. 138-139.

[24] M. Quraish Shihab dkk, op. cit., h. 125.

[25I] bid., h. 127.

[26] Ibid., h. 216.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.