Ilmu Asbabun Nuzul: Memahami Sebab-Sebab Turunya Ayat Al-Qur’an

Ilmu Asbabun Nuzul

Ilmu Asbabun Nuzul: Memahami Sebab-Sebab Turunya Ayat Al-Qur’an

Oleh: Sirajuddin

Al-Quran yang terdiri dari 114 surah dan susunanya ditentukan oleh Allah swt. dengan cara tauqifi, tidak menggunakkan metode sebagaimana metode-metode penyusunan buku-buku ilmiah. Metode ini tidak terdapat dalam al-Quran al-karim yang di dalamnya banyak persoalan yang silih- berganti ditengakkan.

Turunya ayat-ayat al-Quran bukan berarti tanpa latar belakang historis meskipun tidak semua ayat, akan tetapi sebagian ayat turun karena latar belakang tertentu[1]. Seperti yang telah kita pahami merupakan suatu keniscayaan sesuatu yang terjadi atau tercipta mesti ada penyebabnya. Itu merupakan sunatullah di alam ini[2]

Begitu pula ayat-ayat al-Quran yang Allah turunkan juga ada sebab-sebab turunya, dapat kita banyangkan betapa sulitnya para ulama dalam memahami dan menafsirkan ayat-ayat al-Quran tanpa mengetahui Asbabun Nuzulnya. Asbab al-nuzul merupakan pembantu ilmu tafsir dalam menetapkan ta’wil yang lebih tepat dan tafsir yang lebih benar bagi ayat-ayat al-Quran .

Oleh karena itu mempelajari, memahami, dan mengkaji asbabun nuzul menjadi penting. Pendapat ahli tafsir tidaklah dapat menguraikan segala kesimpulan dan tidaklah pula dapat menerangkan muthasyabihat sebagai mana tidak dapat menjelaskan yang mujmal

Juga sangatlah relevan apa yang dikatakan oleh al-wahidy yang dikutip al-Shuyutiy.

لا يمكن معرفة تفسير الاية دون الوقوف على قصتها وبيان نزولها

Tidak mungkin menafsirkan ayat (Al-Quran) tanpa mengetahui kisah dan penjelasan sebab turunnya

Epistimologi tersebut melatarbelakangi ulama klasik  (terutama mufasir bil ma’tsur ) meletakan ilmu asbabun nuzul sebagai ilmu penting diantara ilmu-ilmu al-Quran. Dalam perkembangan tafsir, perhatian terahadap ilmu asbab al-nuzul mengalami dinamisasi. Meskipun dikalangan umat Islam banyak yang masih mempertahankan epitimologi klasik, tetapi ada yang mencoba merekontruksi bahkan mengkritisi ilmu asbab al-nuzul tersebut terutama dari pemikir kontemporer.

Persoalan  akidah kadang bergandengan dengan persoalan hukum dan kritik, sejarah umat-umat yang lalu disatukan dengan nasehat, ultimatum, dorongan atau tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam. Terkadang pula ada suatu persoalan atau hukum yang diterangkan tiba-tiba timbul persoalan lain yang pada pandangan pertama tidak ada hubungnannya antara satu dengan yang lain.

Misalnya apa yang terdapat dalam Q.S. al-Baqarah ayat: 216-221,  yang mengatur hukum perang berurutan dengan hukum minuman keras, perjudian, persoalan anak yatim dan perkawinan dengan orang-orang musyrik.

Hal demikian itu dimaksudkan agar memberikan  kesan bahwa ajaran-ajaran al-Quran dan hukum-hukum yang tercakup di dalamnya merupakan satu  kesatuan  yang harus ditaati oleh penganutnya secara  keseluruhan tanpa ada pemisahan antara satu dengan yang lainnya.

 

Periode Pertama Turunya Al-Qur’an

Diketahui bahwa Muhammad saw, pada awal turunnya wahyu pertama (iqra’), belum dilantik menjadi Rasul. Dengan wahyu pertama itu, beliau baru merupakan seorang nabi yang tidak ditugaskan menyampaikan apa yang sudah diterima. Baru setelah turun wahyu yang kedualah baru beliau ditugaskan menyampaikan wahyu-wahyu yang diterimanya, dengan adanya firman Allah: “ Wahai yang berselimut, bangkit dan berilah peringatan.” (QS Al- Mudatsir : 1-2).

Kemudian setelah itu kandungan wahyu ilahi berkisar dalam tiga hal:

  1. Pendidikan bagi rasulullah saw,dalam membentuk kepribadiannya. Perhatikan firmannya: Wahai orang yang berselimut, bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkanlah kotoran(syirik). Janganlah memberikan sesuatu dengan mengharap menerima lebih banyak darinya, dan sabarlah engkau melaksanakan perintah-perintah Tuhanmu” (QS 74: 1-7). Perintah ini disebabkan karena Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu wahyu yang sangat berat (QS 73: 5). Demikian ayat-ayat yang merupakan bimbingan beliau demi suksesnya dakwah.
  2. Pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai sifat dan af’al Allah, karena yang mengetahuinya dengan sebenarnya akan mengetahui pula persoalan-pesoalan tauhid dan tanzih (penyucian) Allah swt.
  3. Keterangan mengenai dasar-dasar Islamiah, serta bantahan-bantahhan secara umum mengenai pandangan hidup masyarakat jahiliyyah ketika itu. Periode ini berlangsung sekitar 4-5 tahun dan telah menimbulkan bermacam-macam reaksi di kalangan masyarakat Arab ketika itu. Reaksi-reaksi tersebut nyata dalam tiga hal pokok:
  • Segolongan kecil dari mereka menerima dengan baik ajaran al-Quran.
  • Sebagian besar dari masyarakat tersebut menolak ajaran al-Quran, karena kebodohan mereka (QS 21 : 24 ), keteguhan mereka mempertahankan adat dan tradisi nenek moyang mereka (QS 43 : 22) atau karena adanya maksud-maksud tertentu dari satu golongan.
  • Dakwah al-Quran mulai melebar melampaui perbatasan Makkah menuju daerah-daerah sekitarnya.

Periode Kedua Turunya Al-Qura’n

Peride kedua dari sejarah turunnya al-Quran berlangsung selama 8-9 tahun, dimana terjadi pertarungan hebat antara gerakan Islam dan Jahiliyah. Gerakan oposisi terhadap Islam menggunakan segala cara dan sistem untuk mengahalangi kemajuan dakwah Islamiah. Dimulai dari fitnah, intimidasi dan penganiayaan, yang mengakibatkan para penganut ajaran al-Quran  pada waktu itu hijrah ke Habsyah dan para akhirnya mereka semua termasuk Rasulullah saw. berhijrah ke Madinah.

Pada saat tersebut ayat al-Quran, di satu pihak silih berganti turun menerangkan kewajiban-kewajiban prinspil  penganutnya sesui dengan kondisi dakwah ketika itu, sepeti :  Ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu (agama) dengan hikmah dan tuntunan yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang sebaik-baiknya (QS 16 : 125)

Periode Ketiga Turunnya Al-Qura’an

Selama masa periode ini dakwah al-Quran telah dapat mewujudkan suatu prestasi besar kerena penganut-penganutnya telah dapat hidup bebas melaksanakan ajaran-ajaran agama Yatsrib  (yang kemudian diberi nama dengan  al-madinah al-munawwarah).periode ini berlangsung selama 10 tahun, di mana timbul bermcam-macam peristiwa, problem dan persoalan,seperti: , Prinsip-prinsip apakah yang harus diterapkan dalam masyarakat demi mencapai kebahagiaan, bagaimana menhadapi sikap-sikap orang-orang munafik, sehingga hal ini diterangkan dalam al-Quran sebagai berikut:

“tidakkah sepatunya kamu sekalian memerangi golongan yang mengingkari janjinya dan hendak mengusit Rasul, sedangkan merekalah yang memerangi peperangan. Apakah kamu takut kepada mereka?. Sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditakuti jika kamu sekalian benar-benar  orang yang beriman. Perangilah! Allh akan menyiksa mereka dengan perantaraan kamu sekalian serata menghina-rendahkanmereka; dan Allah akan menerangkan kamu semua serta memuaskan hati segolongan orang-orang beriman “.(Q.S. 9: 13-14).

Uraian di atas menunjukkan bahwa ayat-ayat al-Quran di sesuaikan dengan keadaan masyarakat saat itu.

Pengertian Asbabun Nuzul

Menurut bahasa (etimologi), asbabun nuzul berarti turunnya ayat-ayat al-Quran[3] dari kata “asbab” jamak dari “sababa” yang artinya sebab-sebab, nuzul yang artinya turun. Yang dimaksud disini adalah ayat al-Quran. Asbab al-nuzul adalah suatu peristiwa atau saja yang menyebabkan turunnya ayat-ayat al-Quran baik secara langsung atau tidak langsung.

Menurut istilah atau secara terminologi asbabun nuzul terdapat banyak pengertian, diantaranya :

Menurut Az-Zarqani“Asbabun nuzul adalah hal khusus atau sesuatu yang terjadi serta hubungan dengan turunnya ayat al-Quran yang berfungsi sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi”.

Menurut Ash-Shabuni, “asbabun nuzul adalah peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan peristiwa dan kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama”.

Subhi Shalih

ما نزلت الآية اواآيات بسببه متضمنة له او مجيبة عنه او مبينة لحكمه زمن وقوعه

“Asbabun Nuzul adalah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat Al-Quran yang terkadang menyiratkan suatu peristiwa sebagai respon atasnya atau sebagai penjelas terhadap hukum-hukum ketika peristiwa itu terjadi”.[4]

Mana’ al-Qathan

مانزل قرآن بشأنه وقت وقوعه كحادثة او سؤال

“Asbabun nuzul adalah peristiwa yang menyebabkan turunnya Al-Quran berkenaan dengannya waktu peristiwa itu terjadi, baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi”[5].

Nurcholis Madjid

Menyatakan bahwa asbab al-nuzul adalah konsep, teori atau berita tentang adanya sebab-sebab turunnya wahyu tertentu dari Al-Quran kepada Nabi saw baik berupa satu ayat, satu rangkaian ayat maupun satu surat [6].

Macam-macam Bentuk Asbabun Nuzul

Dipandang dari segi peristiwa nuzul-nya, ayat Al-Quran ada dua macam:  pertama, ayat yang diturunkan tanpa ada keterkaitannya denagan sebab tertentu, tetapi semata-mata sebagai hidayah bagi manusi. Kedua, ayat Al-Quran yang diturunkan lantaran ada sebab atau kasus tertentu.

Para pakar ilmu-ilmu Al-Quran, misalnya Syekh Abdul al-‘Azhim al-Zarqaniy dalam manahil al-Irfannya mendefinisikan Asbab al-Nuzul sebagai berikut: Kasus atau Sesutu yang terjadi yang ada hubungannya dengan turunnya ayat, atau ayat-ayat Al-Quran sebagai penjelasan hukum pada saat terjadinya kasus. Karena pada hakikatnya Rasulullah s.a.w hanyalah sebagai pembawa risalah. Beliau tidak memegang otoritas untuk menetapkan suatu hukum syari’at. Hukum itu sendiri datang dari Allah swt.melalui wahyu yang dibawa oleh malaikat jibril.[7]

Menurut Imam al-Ja’bari mengatakan bahwa nuzul al-Quran (turunnya al-Quran) itu terbagi menjadi dua bagian : satu turun sejak awal (tidak ada sebab musababnya), sedangkan bagian yang lainnya itu turun disertai dengan adanya peristiwa atau adanya pertanyaan. Dalam bagian yang kedua inilah terdapat beberapa masalah.[8] Ada pula yang mengatakan bahwa asbabun nuzul itu dibagi dalam dua bentuk, yaitu :

Terjadinya suatu peristiwa, lalu turun ayat untuk menjelaskannya. Contohnya, adalah peristiwa yang dilaporkan oleh Ibn Abbas bahwa pada suatu hari Nabi Muhaammad s.a.w. naik ke atas bukit Safa lalu menyeru manusia, “Wahai manusia di pagi ini berkumpullah.” Setelah mereka berkumpul, Nabi s.a.w. berkata, “bagaimana pendapat kalian bila saya beritahukan bahwa ada musuh yang datang dari balik buki itu, kalian percayakah kepada saya ?” Mereka memjawab, Kami tidak pernah mengetahui engkau berdusta.

Adanya pertanyaan yang diajukan kepada Nabi s.a.w. lalu turun ayat untuk menjawabnya. Misalnya, pertanyaan seorang perempuan bernama Khaulah binti Sa’labah kepada Nabi s.a.w. bahwa suaminya, Aus bin as-Samit telah men-zihar-nya, yang berarti mereka harus cerai.[9]

Jadi dari beberapa paendapat para ulama di atas, jelaslah bahwa turunnya ayat al-Quran dilatarbelakangi oleh beberapa peritiwa atau sebab sehingga turunlah ayat atau wahyu dari Alla s.w.t. untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi oleh nabi Muhammad s.a.w. dalam mwnjalankan risalahnya atau perintah Allah s.w.t.

Manfaat Memahami Ilmu Asbabun Nuzul dalam Proses Penetapan Hukum

Beberapa urgensi abbab al-nuzul dalam memahami al-Quran dan kaitannya dalam menetapkan hukum, dapat dilihat sebagai berikut :

  1. Penegasan bahwa Al-Quran benar-benar dari Allah SWT
  2. Penegasan bahwa Allah benar-benar memberikan perhatian penuh pada rasulullah saw dalam menjalankan misi risalahnya.
  3. Penegasan bahwa Allah selalu bersama para hambanya dengan menghilangkan duka cita mereka
  4. Sarana memahami ayat secara tepat.[10]
  5. Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum
  6. Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam al-Quran
  7. Mengidentifikasikan pelaku yang menyebabkan turunnya ayat al-Quran
  8. Memudahkan untuk menghafal dan memahami ayat serta untuk memantapkan wahyu di hati orang yang mendengarnya.[11]
  9. Mengetahui makna serta rahasia-rahasia yang terkandung dalam al-Quran.[12]
  10. Seorang dapat menentukan apakah ayat mengandung pesan khusus atau umum dan dalam keadaan bagaimana ayat itu mesti diterapkan.

Penerapan asbabun nuzul  dalam penafsiran al-Quran adalah untuk lebih memahami ayat dan menghilangkan keraguan, disamping itu untuk menghindari kesan adanya pembatasan secara mutlak terhadap suatu ayat.

Penerapan asbabun nuzul sifatnya sangat kasusistik dan tidak bisa diterapkan untuk semua ayat al-Quran. Penerapan asbab al-nuzul  yang sangat terbatas dikalangan ulama menimbulkan kesan ambigu. Di satu sisi kegunaan asbab al-nuzul diakui oleh mayoritas ulama, namun di sisi lain penerapannya sangat kasusistik. Minimnya peran asbab al-nuzul  dalam penafsiran. al- Qur’an disebabkan asbabun nuzul lebih dipahami dalam konteks mikro, sehingga ruang lingkup pembahasannya Penerapan asbab al-nuzul  dalam penafsiran al-Quran adalah untuk lebih memahami ayat dan menjadi sangat terbatas. Selain itu juga disebabkan oleh kebiasaan ulama berpegang pada kata-kata yang umum dan bukan sebab yang khusus (al-ibrah bi ‘umum al-lafd laa bi khusus as sabab).

Memegangi keumuman kata dan mengabaikan kekhususan sebab pada semua teks al-Quran menghasilkan pemikiran yang sulit diterima. Akibat yang serius adalah munculnya penghancuran terhadap hikmah pentasyrián secara bertahap dalam masalah halal-haram, terutama berkaitan makanan dan minuman, selain itu juga mengancam hukum itu sendiri.

Kajian asbabun nuzul di samping meneliti fakta sejarah dibalik suatu ayat, juga mengetahui hikmah pentasyrián ayat-ayat hukum. Hikmah pentasyrián tidak akan nampak jika keumuman kata tetap dijadikan pegangan. Ayat-ayat mengenai pelarangan khamr yang diturunkan secara bertahap merupakan ilustrasi betapa pentingnya kekhususan sebab. Ayat-ayat tersebut adalah :

  1. Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah keduanya mengandung dosa besar dan manfaat bagi orang banyak, namun dosanya lebih besar dari pada manfaatnya (QS. al-Baqarah (2): 219).
  2. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendekati shalat sementara kalian dalam keadaan mabuk, hingga kalian mengetahui apa yang kalian katakan (QS. an-Nisa’ (4): 43).
  3. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berkurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Oleh karena itu jauhilah, semoga beruntung. Setan hanyalah ingin menimbulkan permusuhan dan saling membenci diantara kamu melalui khamr dan judi, dan setan ingin menghalangi kalian dari ingat kepada Allah dan shalat. Oleh karena itu, apakah kalian bersedia menghentikannya? (QS. al-Maidah (5): 90-91).

Ayat pertama tentang khamr (QS. al-Baqarah (2): 219) turun dalam kondisi masyarakat yang begitu keras memegangi manfaat khamr, kemudian ditanamkan pemahaman dalam benak mereka tentang manfaat dan dosanya dengan penegasan bahwa dosanya lebih besar.

Ayat kedua (QS. an-Nisa’ (4): 43) mencoba mengurangi intensitas minum khamr dengan larangan meminum khamr sebelum masuk waktu shalat. Kondisi masyarakat saat itu adalah minum khamr hampir sepanjang hari. Pengharaman khamr baru dilakukan dengan turunnya QS. al-Maidah (5): 90-91.

Apabila keumuman kata dijadikan pegangan, boleh jadi orang akan mengambil ayat yang pertama atau yang kedua. Akibatnya sangat membahayakan. Dari uraian tersebut juga menunjukan fungsi asbab al-nuzul  sebagai penjelas hikmah pentasyrián hukum.

Faedah Mengetahui Ilmu Asbab Al-Nuzul

Beberapa pakar ‘Ulum Al-Quran,misalnya al-Zarqaniy dan al-Suyuthiy, mensinyalir adanya sementara kalangan yang beranggapan bahwa mengetahui Asbab al-Nuzul tidak ada gunanya. Hal itu dianggapnya tidak lebih daripada sejarah turnnya ayat yang tidak ada kaitannya dengan pemahaman al-Quran.

Anggapan semacam ini, oleh kebanyakan ulama termasuk diantaranya Ibnu Taimiyah yang mendalami ilmu-ilmu al-Quran, dinilai sebagai pandangan yang keliru. Karena bayak sekali yang dibantu oleh pemahaman Asbab al-Nuzul itu di di dalam upaya memahami al-Quran.  Faedah-faedah itu diantaranya:

  1. Membantu di dalam memahani, sekaligus mengatasi ketidakpastian di dalam menangkap ayat-ayat Al-Quran.
  2. Mengatasi kerguan terhadap ayat yang diduga mengandung pengertian umum.
  3. Untuk menjernihkan dan meluruskan persoalan di dalam memahami ayat Al-Quran.

Di satu sisi mengetehui sebab memiliki beberapa feadah antara lain :

  1. Mengetahui hikmah di balik pensyariatan hukum.
  2. Menghususkan hukum dengan sababun al-nuzul. Ini berlaku bagi orang yang berpendapat bahwa “Al-‘ibrah bi khususis sabab”.
  3. Sesungguhnya lafadz itu biasa jadi bersifat umum, dan ada dalil yang berfungsi untuk men-takhshis (menghususkannya). Apabila sebab itu diketahui maka takhshis (penghususan) itu hanya terbatas pada sesautu yang digambarkan.
  4. Mendapatkan makna yang dimaksud dan menghilangkan isykal (sesuatu yang sulit).
  5. Menghindarkan kesalahpahaman terhadap adanya pembatasan dalam ayat.
  6. Mengenal nama kepada siapakah ayat itu diturunkan dan menentukan yang mubham atau yang belum jelas pada ayat itu.[13]

Dalam pandangan lain asbab al-nuzul mempunyai arti penting dalam memahami al-Quran. Seseorang tidak akan mencapai pengertian yang baik jika tidak memahami riwayat asbab al-nuzul suatu ayat. Al-Wahidi (w. 468/1075), seorang ulama klasik dalam bidang ini mengemukakan : “Pengetahuan tentang tafsir dan ayat-ayat tidak mungkin, jika tidak dilengkapi dengan pengetahuan tentang pristiwa dan penjelasan yang berkaitan dengan diturunkan suatu ayat.”[14]

Al-Wahidi (w. 468/1075) mengatakan ; fungsi mengetahui asbab al-nuzul antara lain sebagai berikut : Mengetahui hikmah dan rahasia diundangkannya suatu hukum dan perhatian syara’ terhadap kepentingan umum, tanpa membedakan etnik, jenis kelamin, dan agama.

Megetahui asbab al-nuzul membantu memberikan kejelasan terhadap beberapa ayat.
Pengetahuan asbab al-nuzul dapat menghususkan (takhshish) hukum terbatas pada sebab, terutama ulama yang menganut kaidah “sabab khusus” (khusushis al-sabab).

Yang paling penting ialah asbabun nuzul dapat membantu memahami apakah suatu atyat ayat berlaku umum atau berlaku khusus, selanjutnya dalam hal apa ayat diturunkan. Maksud yang sesungguhnya suatu ayat dapat dipahami melalui pengenalan asbab al-nuzul.[15]18

Dalam hal ini para ulama ushul berbeda pendapat tentang: “Hal al-‘brah bi ‘umumil lafdzi au bikhushusis sabab” ?. Artinya: apakah yang diambil sebagai pedoman suatu hukum itu berdasarkan ‘umumil lafdzi (lafadznya secara umum), atau kerena sebab tertentu ?.

Yang lebih tepat menurut ulama ushul adalah yang pertama. Telah turun beberapa ayat dengan sebab turunnya, tetapi para ulama telah sepakat secara penerapan ayat-ayat itu tidak hanya tebatas pada sebab-sebab turunya saja tetapi juga pada yang lainnya.

Misalnya, Imam Zamakhsyari mengatakan tentang surah al-humazah, “boleh saja sebab turunnya surat ini bersifat khusus, tetapi ancaman yang ada pada surat ini bersifat umum, agar setiap orang yang melakukan perbuatan yang buruk seperti itu juga akan mengalami nasib yang sama, dan agar hal tersebut juga berlaku atau berfungsi sebagai sindiran”.

Imam Suyuthi berpendapat bahwa di antara dalil yang menunjukan bahwa konteks secara umum itu dijadikan sebagai standar hukum adalah berbdalilnya sahabat Nabi dan selain mereka dalam bebagai peristiwa yang ada dengan konteks umum dari ayat-ayat yang turun bedsarkan sebab-sebab tertentu. Hal itu telah menjadi kebiasaan yang beredar secara umum di antara mereka.

Terdapat riwayat dari Ibn Abbas yang menunjuk tentang “I’tibar al-Umum”: sesungguhnys Ibnu abbas mengatakan tentang ayat as-saryqah, bahwa ayat itu turun berkenaan dengan seorang wanita yang mencuri. Ibnu Taimiyah berkata, “berkenaan dengan hal ini banyak kita dapatkan mereka(para ulama (Al-Quran) sebagai berikut: ayat ini turun pada persoalan begini, terutama hal yang disebutkan itu adalah orangnya, seperti perkataan mereka: ‘sesungguhnya ayat zihar itu turun berkenaan dengan istri tsabit bin Qais, dan sesungguhnya firman Allah: ‘wa anihkum bimaa anzalallah…’(Q.s. al-Maidah: 49) turun berkenaan dengan bani Quraidhah dan bani an-Nadhir’, serta hal-hal yang serupa dengan itu dari berbagai riwayat yang disebutkan bahwa itu diturunkan berkenaan dengan suatu kaum dari orang-orang musyrik di Makkah atau kaum Yahudi dan Nasrani atau  pada kaum yang beriman.

Telah disebutkan di atas bahwa bentuk dari sababun nuzul itu bersifat qath’iyyatud dukhul fi al-‘am (sesuatu yang harus masuk atau termasuk di dalam konteks umum). Jadi kadang-kadang ayat itu diturunkan berdasarkan sebab-sebab yang khusus sementara ia diletakkan bersamaan dengan ayat-ayat yang umum dalamrangka memerhatikan sususnan Al-Quran dan keindahan untaian kalimat-kalimatnya,sehingga yang khusus itu lebih dekat dari bentuk sebab dalam kaitannya bahwa ia masuk di dalam yang unmum secara pasti.

Dengan demikian kita akan lebih teliti dan jauh dari kekeliruan ketika memahami persoalan atau makna yang terkandung di dalam  ayat Al-Quran.

 

 

Catatan Kaki

[1]Quraisy Shihab, Membumikan al-Quran  Cet; xxxi, Bandung: Mizan, 2007, h.88.

[2]Tengku Muhammad hasbi al-shidiqi, Ilmu Al-Quran ; Ilmu-Ilmu Pokok Dalam Penafsiran Al-Quran, Semarang: Pustaka Rizki, 2002, h.13.

[3] Rosihan Anwar, Ulum al-Quran, Bandung: Pustaka Setia, 2008, h. 60.

[4]Subhi al-shalih, Mabahits fi’ulum al-Quran, Dar al-Qalam li al-Malayyin, Beirut, 1988, h. 132.

[5]Mana’ al-Qathan, Mabahits fi Ulumul Qur’an, Mansyurat al-Ahsan al-Hadits, t.tp., 1973, h. 78.

[6]Moh. Ahmadehirjin, al-Quran dan Ulumul Qur’an, Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Primayasa, 1998, h. 30.

[7]Jalaluddin as-suyuthi,al-itqon fi ‘Ulum al-Quran, Dar al-Fikr, Beirut.

[8]Imam Suyuthi, Studi Al-Quran Komprehensif (Al-Itqan fi Ulumil Qur’an), Solo: Indiva Pustaka, 2008, h. 123.

[9]Departemen Agama Islam RI, Mukadimah al-Quran dan tafsirnya (Edisi yang disempurnakan),Jakarta: Departemen Agama Islam RI. 2009, h. 229.

[10]Muhammad ibn Shaleh al-Utsaimin, Dasar-dasar Penafsiran al-Quran, Semarang: Dina Utama, 1989, h. 14-16.

[11]Dr. Rosihon Anwar, op.cit., h. 64-66.

[12]Allamah M.H. Thaba’thaba’i, Mengungkap Rahasia Al-Quran, (Bandung: Mizan, 1987), h. 121.

[13]Imam Suyuthi, Studi Al-Quran Komprehensif (Al-Itqan fi Ulumil Qur’an). Op.cit, 2008, h. 126.

[14]Tim Penulis, Sejarah dan Ulum al-Quran ,Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008, h. 79.

[15]Ibid. h. 81.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here