Integrasi Ilmu, Islam dan Sains

Integrasi Ilmu Islam dan Sains

Integrasi Ilmu, Islam dan Sains (Oleh: Hasruddin Dute)

Tongkrongan Islami – Landasan ilmu ada tiga yaitu secara ontologis ilmu dibangun berdasarkan konstruksi ilmu pengetahuan keyakinan filosofis tentang (hakikat ) realitas. Secara epistemologis ilmu dibangun atas dasar metodologi yang diturunkan dari hakikat realitas yang diyakini kebenarannya, sedangkan secara aksiologis ilmu dikembangkan untuk memenuhi tujuan etis sesuai dengan hakikat kebenarannya yang diyakininya.[1]

Berbicara tentang kehidupan kehidupan masa lalu dan masa sekarang tidak lepas dari perkembangan ilmu pengetahuan yang selalu di kaji untuk kemaslahatan manusia itu sendiri baik di dunia ini maupun nanti setelah kembali kepada sang Pencipta. Tentunya setelah melewati rintangan dan cobaan serta pengembaraan mencari jati diri sehingga mendapat keinginannya yang mendasar.

Peranan manusia sangat penting dalam membentuk peradabannya, para ahli sejarah memberikan tolak ukur perkembangan ummat manusia dari segi berkembangan peradaban yang dimilikinya, pada abad mutakhir, hal yang paling membuktikan berkembangnya peradaban manusia dapat dinilai dari laju perkembangan SAINS, peranan sains inilah yang berperan penting dalam membentuk peradabangan perkembangan ummat manusia. Oleh karena para filosof membagi dua masa initi dalam meniai perkembangan manusia, yaitu, masa ke-emasan(kemajuan sains dan agama) dan masa kemunduran.

Seiring lajunya waktu, sains terus berkembang dan berperan penting bagi manusia sebagai alat yang di pergunakan manusia dalam mengarungi kehidupan mereka. Dalam artian, sains adalah alat yang menumbuh kembangkan kehidupan manusia.

Peranan agama tak kalah pentingnya dengan peranan sains, jika sains berperan dalam bentuk jasmani, maka agama berperan dalam membentuk rohaniah manusia, sebab kehidupan manusia dengan agama, tidak bisa terlepas pula dalam pembentukan peradaban yang baik, bagi ummat manusia, sejarah telah membuktikan hal itu, laju perkembangan peradaban manusia tidak terlepas dari peranan agama, bukti akan hal ini adanya peradaban mesir kuno, yunani kuno, dan sebagainya, membuktikan bahwa peranan agama berperan penting dalam pembentukan perkembangan kehidupan manusia.[2]

Namun yang menjadi polemik adalah apakah sains mampu menjawab seluruh tantangan kehidupan manusia tanpa peranan agama? ataukah sebaliknya?

Pengertian ilmu, Islam & Sains

Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.[3] Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.[4]

Ilmu bukan sekedar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.

Contoh: Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (materiil saja) atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika membatasi lingkup pandangannya ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang kongkrit. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jauhnya matahari dari bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi sesuai untuk menjadi perawat.

Islam (Arab: al-islām, الإسلام): “berserah diri kepada Tuhan”) adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat milyar orang pengikut di seluruh dunia,[5] menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen.

Islam memiliki arti “penyerahan”, atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh). Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti “seorang yang tunduk kepada Tuhan, atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan.

Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.[6]

Sains (Ilmu Pengetahuan) dalam bahasa inggris dan prancis di sebut “Science”, sedangkan dalam bahasa jerman disebut “Wissenschaft”, dan dalam bahasa belanda di sebut “Wetenschap”.[7] Science berasal dari kata “scio”, “Scire” (bahasa latin) yang berarti tahu, begitupun ilmu berasal dari kata ‘alima” (bahasa arab) yang juga berarti tahu.

Jadi baik ilmu atau Science secara etimologis berarti pengetahuan. Namun secara terminologis, ilmu dan science itu semacam pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri, tanda-tanda dan syarat-syarat yang khas.[8] Adapun menurut pandangan para ilmuan terkemuka tentang pengertian sains ini, dapat kami paparkan sebagai berikut :

Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag: “Science is empirical, rational, general, general ang cumulative; and it is  all four of onece”[9] (Ilmu ialah yang empiris, yang rasional, yang umum dan bertimbun bersusun; dan keempat-empatnya serentak)

Karl Pearson (1857-1936), pengarang karya terkenal Grammar of Science: “Science is the complete and consistent description of the fact of experience in the simplest possible terms”[10] (Ilmu pengetahuan ialah lukisan atauketerangan yang lengkap dan konsistententang fakta pengalaman dengan istilah yang sesederhana/ sesedikit mungkin)

Dr. A. Baiquni (guru besar pada Universitas Gajah Mada): “Science merupakan generasi consensus dari masyarakat yang terdiri dari para scientist”[11]

Dari penjelasan diatas kita dapat merumuskan bahwa ilmu pengetahuan (science) adalah semacam pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda dan syarat tertentu, yaitu: sistematik, rasional, empiris, umum dan kumulatif (bersusun timbun). jadi ilmu pengetahuan itu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsistent mengenai hal-hal yang di studinya dalam ruang dan waktus sejauh jangkauan pemikiran dan penginderaan manusia.

Atau bisa pula dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah usaha pemahaman manusia yang di susun dalam satu sistema mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal ihwal yang di selidiki (alam, manusia dan agama) sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran yang dibantu oleh penginderaan manusia, yang kebenarannya di uji secara empiris, riset dan eksperimental.

Bagaimana Integrasi Ilmu, Islam dan Sains.

Awal munculnya ide tentang integrasi keilmuan dilatarbelakangi oleh adanya dualisme atau dikhotomi keilmuan antara ilmu-ilmu umum di satu sisi dengan ilmu ilmu agama di sisi lain. Dikhotomi ilmu yang salah satunya terlihat dalam dikhotomi institusi pendidikan antara pendidikan umum dan pendidikan agama telah berlangsung semenjak bangsa ini mengenal sistem pendidikan modern[12].

Dikhotomi keilmuan Islam tersebut berimplikasi luas terhadap aspek-aspek kependidikan di lingkungan umat Islam, baik yang menyangkut cara pandang umat terhadap ilmu dan pendidikan, kelembagaan pendidikan, kurikulum pendidikan, maupun psikologi umat pada umumnya.

Berkenaan dengan cara pandang umat Islam terhadap ilmu dan pendidikan, dikalangan masyarakat Islam berkembang suatu kepercayaan bahwa hanya ilmu-ilmu agama Islam-lah yang pantas dan layak dikaji atau dipelajari oleh umat Islam, terutama anak-anak dan generasi mudanya. Sementara ilmu-ilmu sekuler dipandang sebagai sesuatu yang bukan bagian dari ilmu-ilmu yang layak dan patut dipelajari.

Cara pandang dengan menggunakan perspektif oposisi biner terhadap ilmu secara ontologis ini, kemudian berimplikasi juga terhadap cara pandang sebagian umat Islam terhadap pendidikan. Sebagian umat Islam hanya memandang lembaga-lembaga pendidikan yang berlabel Islam yang akan mampu mengantarkan anak-anak dan generasi mudanya mencapai cita menjadi Muslim yang sejati demi mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Sementara itu, lembaga-lembaga pendidikan “umum” dipandang sebagai lembaga pendidikan sekuler yang tidak kondusif mengantarkan anak-anak dan generasi muda Islam menjadi Muslim sejati yang diidolakan orang tua. Kontras dengan cara pandang di atas adalah pandangan yang juga dimiliki oleh sebagian umat Islam.

Mereka lebih cenderung memilih lembaga-lembaga pendidikan umum dengan pertimbangan jaminan mutu serta jaminan pekerjaan yang bakal dipoeroleh setelah lulus. Bagi mereka ini, lembaga pendidikan yang berlabel Islam cenderung dipandang sebagai tradisional, ketinggalan zaman, dan oleh karena itu mutu dan kesempatan kerja setelah lulus tidak terjamin.

Realitas cara pandang umat Islam terhadap ilmu dan pendidikan itu, kemudian berimplikasi kepada respon para pengambil kebijakan pendidikan (baca: Pemerintah) yang menetapkan adanya dua versi lembaga pendidikan, yakni pendidikan umum dan pendidikan agama, yang dalam implementasinya seringkali menimbulkan perlakukan diskriminatif.

Bukti dari perlakuan diskriminatif pemerintah terhadap lembaga-lembaga pendidikan umum di satu sisi dengan pendidikan keagamaan di sisi lain, adalah pada kebijakan dua kementrian/departeman, di mana Departemen Pendidikan Nasional mengurusi lembaga-lembaga pendidikan umum dengan berbagai fasilitas dan dana yang relatif “melimpah”, sementara Departemen Agama mengelola lembaga-lembaga pendidikan keagamaan dengan fasilitas dan pendanaan yang “amat terbatas”.[13]

Keterbatasan dana, fasilitas, sarana dan prasarana yang dimiliki oleh kebanyakan lembaga pendidikan di bawah Departemen Agama tersebut tentu berpengaruh terhadap kinerja dan kualitas pendidikan di banyak Madrasah dan lembaga pendidikan sejenisnya. Akibatnya, pengelolaan Madrasah tidak dapat optimal dan seringkali menyebabkan mutu lulusan Madrasah kurang mampu bersaing dengan lembaga-lembaga setingkat yang berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional.

Dampak lain yang tidak kalah seriusnya dari dikhotomi keilmuan antara ilmu-ilmu agama Islam di satu sisi dengan ilmu-ilmu di sisi lain adalah terhadap kerangka filsafat keilmuan Islam. Kendati dikhotomi keilmuan Islam telah terjadi semenjak beberapa abad yang lampau[14], namun dampaknya terhadap kerangka filsafat keilmuan Islam dirasakan semakin serius pada masa-masa kemudian.

Salah satu kerangka keilmuan Islam yang kurang “lazim” bila dibandingkan dengan kerangka filsafat keilmuan “sekuler” adalah kurang dikenalnya konsep paradigma, normal science, anomali, dan revolusi sains1, yang selama ini “mengatur” perkmebangan dan pertumbuhan sains modern. Kerangka keilmuan Islam justru dihinggapi romantisime yang menjadikan masa lalu justru sebagai kerangka utama—kalau bukan satu- satunya, pola berpikir umat Islam.

Romantisisme dalam arti yang sederhana memang diperlukan, terutama untuk menghindari terjadinya proses pencabutan pemikiran kontemporer dengan sejarah keilmuan masa lampau. Tetapi apabila romantisisme mendominasi kerangka berpikir keilmuan umat Islam, maka dinamika dan revolusi keilmuan Islam tidak akan pernah terwujud. Implikasi lain dari dikhotomi keilmuan terhadap kerangka filsafat keilmuan Islam adalah berkembangnya pemikiran yang mempertentangkan secara diametral antara rasio dan wahyu serta antara ayat-ayat qauliyah dengan ayat-ayat kauniyah.

Di kalangan umat Islam berkembang pemikiran bahwa wahyu adalah sumber utama ilmu sembari mendiskriminasikan fungsi dan peran rasio sebagai sumber ilmu. Di kalangan umat Islam juga berkembang suatu kesadaran untuk menjadikan ayat-ayat qauliyah sebagai objek kajian pokok, tetapi mengabaikan ayat-ayat kauniyah yang justru menyimpan begitu banyak misteri dan mengandung khazanah keilmuan yang kaya.[15]

Menyadari bahwa dampak dualisme atau dikhotomi keilmuan Islam telah begitu besar, para pemikir Muslim mulai menggagas konsep integrasi keilmuan Islam, yang mencoba membangun suatu keterpaduan kerangka keilmuan Islam, dan berusaha menghilangkan dikhotomi ilmu-ilmu agama di satu pihak dengan ilmu-ilmu umum di pihak lain.

Lalu, apa yang menjadi karakteristik dasar sains Islam (Islamic sciences) atau ilmu-ilmu ke-Islam-an, yang membedakannya dengan sains yang berkembang pada masyarakat modern? Terhadap pertanyaan ini, Nasim Butt, yang mengutip pandangan Ziauddin Sardar memberikan karakteristik-karekteristik dan ukuran-ukuran sains Islam yang berbeda dengan sains Barat, sebagai berikut:

Ukuran Sains Barat:

  1. Percaya pada rasionalitas.
  2. Sains untuk sains.
  3. Satu-satunya metode, cara untuk mengetahui realitas.
  4. Netralitas emosional sebagai pr-asyarat kunci menggapai rasionalitas.
  5. Tidak memihak, seorang ilmuwan harus peduli hanya pada produk pengetahuan baru dan akibat-akibat penggunaannya.
  6. Tidak adanya bias, validitas pernyataan-pernyataan sains hanya tergantung pada bukti penerapannya, dan bukan pada ilmuwan yang menjalankannya.
  7. Penggantungan pendabat, pernyataan-pernyataan sains hanya dibuat atas dasar bukti yang meyakinkan.
  8. Reduksionisme, cara yang dominan untuk mencapai kemajuan sains
  9. Fragmentasi, sains adalah sebuah aktivitas yang terlalu rumit, karenanya harus dibagi ke dalam disiplin-disiplin dan subdisiplin-subdisiplin.
  10. Universalisme, meskipun sains itu universal, namun buahnya hanya bagi mereka yang mampu membelinya, dengan demikian bersifat memihak.
  11. Individualisme, yang meyakini bahwa ilmuwan harus menjaga jarak dengan permasalahan sosial, politik, dan ideologis.
  12. Netralitas, sains adalah netral, apakah ia baik ataukah buruk.
  13. Loyalitas kelampok, hasil pengetahuan baru melalui penelitian merupakan aktivitas terpenting dan perlu dijunjung tinggi.
  14. Kebebasan ahsolut, setiap pengekangan atau penguasaan penelitian sains harus dilawan.[16]
  15. Tujuan membenarkan sarana, karena penelitian ilmiah adalah mulia dan penting bagi kesejahteraan umat manusia, setiap sarana, termasuk pemanfaatan hewan hidup, kehidupan manusia, dan janin, dibenarkan demi penelitian sains.

Ukuran Sains Islam:

  1. Percaya Pada wahyu.
  2. Sains adalah sarana untuk mencapai ridla Allah: ia merupakan bentuk ibadah yang memiliki fungsi spiritual dan sosial.
  3. Banyak metode berlandaskan akal dan wahyu, objektif dan subjektif, semuanya sama-sama valid.
  4. Komitmen emosional sangat penting untuk mengangkat usaha-usaha sains spiritual maupun sosial.
  5. Pemihakan pada kebenaran, yakni, apabila sains merupakan salah satu bentuk ibadah, maka seorang ilmuwan harus peduli pada akibat-akibat penemuannya sebagaimana juga terhadap hasil-hasilnya; ibadah adalah satu tindakan moral dan konsekuensinya harus baik secara moral; mencegah ilmuwan agar jangan menjadi agen tak bermoral.
  6. Adanya subjektivitas, arah sains dibentuk oleh kriteria subjektif validitas sebuah pernyataan sains bergantung baik pada bukti-bukti pelaksanaannya maupun pada tujuan dan pandangan orang yang menjalankannya; pengakuan pilihan-pilihan subjektif pada penekanan dan arah sains mengharuskan ilmuwan menghargai batas-batasnya.
  7. Menguji pendapat, pernyataan-pernyataan sains selalu dibuat atas dasar bukti yang tidak meyakinkan; menjadi seorang ilmuwan adalah menjadi seorang pakar, juga pengambil keputusan moral, atas dasar bukti yang tidak meyakinkan sehingga ketika bukti yang meyakinkan dikumpulkan barangkali terlambat untuk rnengantisipasi akibat-akibat destruktif dari aktivitas seseorang.
  8. Sintesa, cara yang dominan meningkatkan kemajuan sains; termasuk sintesis sains dan nilainilai.
  9. Holistik, sains adalah sebuah aktivitas yang terlalu rumit yang dibagi ke dalarn lapisan yang lebih kecil; la adalah pemahaman interdisipliner dan holistik.
  10. Universalisme, buah sains adalah bagi seluruh umat manusia dan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan tidak bisa ditukar atau dijual; sesuatu yang tidak bermoral.
  11. Orientasi masyarakat, penggalian sains adalah kewajiban masyarakat (fard kifayah), baik ilmuwan maupun masyarakat memiliki hak dan kewajiban yang meyakini adanya interdependensi antara keduanya.
  12. Orientasi nilai, sains, seperti halnya semua aktivitas manusia adalah sarat nilai; ia bisa baik atau buruk, halal atau haram; sains yang menjadi benih perang adalah jahat.
  13. Loyalitas pada Tuhan dan makhluk-Nya, hasil pengetahuan baru merupakan cara memahami ayat-ayat Tuhan dan harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas ciptaanNya: manusia, hutan dan lingkungan. Tuhanlah yang menyediakan legitimasi bagi usaha ini dan, karenanya, harus didukung sebagai tindakan umum dan bukanlah usaha golongan tertentu.
  14. Manajemen sains merupakan sumber yang tak terhingga nilainya, tidak boleh dibuangbuang dan digunakan untuk kejahatan; ia harus dikelola dan direncanakan dengan baik dan harus dipaksa oleh nilai etika dan moral.
  15. Tujuan tidak membenarkan sarana, tidak ada perbedaan antara tujuan dan sarana sains. Keduanya semestinya diperbolehkan (halal), yakni, dalam batas-batas etika dan moralitas.

Hakikat Integrasi Keilmuan & KeIslaman

Menyusun dan merumuskan konsep integrasi keilmuan tentulah tidak mudah. Apalagi berbagai upaya yang selama ini dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi Islam,  terutama di Indonesia, dengan cara memasukkan beberapa program studi ke-Islam-an diklaim sebagai bagian dari proses integrasi keilmuan.

Dalam praktek kependidikan di beberapa negara, termasuk di Indonesia, integrasi keilmuan juga memiliki corak dan jenis yang beragam. Lagi pula merumuskan integrasi keilmuan secara konsepsional dan filosofis, perlu melakukan kajian filsafat dan sejarah perkembangan ilmu, khususnya di kalangan pemikir dan tradisi keilmuan Islam.

Untuk memberikan pemahaman yang memadai tentang konsep integrasi keilmuan, yang pertama-tama perlu dilakukan adalah memahami konteks munculnya ide integrasi keilmuan tersebut. Bahwa selama ini di kalangan umat Islam terjadi suatu pandangan dan sikap yang membedakan antara ilmu-ilmu ke-Islam-an di satu sisi, dengan ilmu-ilmu umum di sisi lain.

Ada perlakukan diskriminatif terhadap dua jenis ilmu tersebut. Umat Islam seolah terbelah antara mereka yang berpandangan positif terhadap ilmu-ilmu ke-Islam-an sambil memandang negatif yang lainnya, dan mereka yang berpandangan positif terhadap disiplin ilmu-ilmu umum sembari memandang negatif terhadap ilmu-ilmu ke-Islam-an. Kenyataan itu telah melahirkan pandangan dan perlakuan yang berbeda terhadap ilmuwan.

Dari konteks yang melatari munculnya ide integrasi keilmuan tersebut, maka integrasi keilmuan pertama-tama dapat dipahami sebagai upaya membangun suatu pandangan dan sikap yang positif terhadap kedua jenis ilmu yang sekarang berkembang di dunia Islam.

Ami Ali memberikan pengertian integrasi keilmuan: Integration of sciences means the recognition that all true knowledge is from Allah and all sciences should be treated with equal respect whether it is scientific or revealed. Kata kunci konsepsi integrasi keilmuan berangkat dari premis bahwa semua pengetahuan yang benar berasal dari Allah (all true knowledge is from Allah). Dalam pengertian yang lain, M. Amir Ali juga menggunakan istilah all correct theories are from Allah and false theories are from men themselves or inspired by Satan. Dengan pengertian yang hampir sama Usman Hassan menggunakan istilah “knowledge is the light that comes from Allah “.[17]

Beberapa ayat Alquran yang digunakan oleh para pemikir Muslim untuk mendukung konsep integrasi keilmuan ini (all true knowledge is from Allah) di antaranya adalah Q.S. al-Alaq/96: 5. yaitu: Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Dalam memahami ayat tersebut di atas, M. Amir Ali mengatakan: This short verse conveys the message that all true knowledge was revealed (taught) to humankind by Allah. It is, therefore, reasonable to conclude that whatever was revealed by Allah to humankind is just as sacred as Qur’an and Sunnah. Especially when we find that Allah Himself commands mankind to reflect about His creation.[18]

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan Mudah-mudahan kamu bersyukur. 13. dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.

Konsep integrasi keilmuan juga berangkat dari doktrin keesaan Allah (tauhîd), sebagaimana dikemukakan oleh Seyyed Hossein Nasr, the arts and sciences in Islam are based on the idea of unity, whichh is the heart of the Muslim revelation.[19] Doktrin keesaan Tuhan, atau iman dalam pandangan Isma’il Razi al Faruqi, bukanlah  sematamata suatu kategori etika. Ia adalah suatu kategori kognitif yang berhubungan dengan pengetahuan, dengan kebenaran proposisi-proposisinya.[20] Dan karena sifat dari kandungan proposisinya sama dengan sifat dari prinsip pertama logika dan pengetahuan, metafisika, etika, dan estetika, maka dengan sendirinya dalam diri subjek ia bertindak sebagai cahaya yang menyinari segala sesuatu.

Bagi al-Faruqi, mengakui Ketuhanan Tuhan dan keesaan berati mengakui kebenaran dan kesatupaduan.3 Pandangan al-Faruqi ini memperkuat asumsi bahwa sumber kebenaran yang satu berarti tidak mungkin terjadi adanya dua atau lebih sumber kebanaran. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa integrasi keilmuan memiliki kesesuaian dengan prinsip al tawhîd. Mengatakan bahwa kebenaran itu satu, karenanya tidak hanya sama dengan menegaskan bahwa Tuhan itu satu, melainkan juga sama dengan menegaskan bahwa tidak ada Tuhan lain kecuali Tuhan, yang merupakan gabungan dari penafian dan penegasan yang dinyatakan oleh syahadah.

Tawhîd sebagai prinsip metodologis, menurut al Faruqi, memuat tiga prinsip utama, yaitu: Pertama, penolakan terhadap segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan realitas (rejection of all that does not correspond with reality); kedua, penolakan kontradiksi-kontradiksi hakiki (deniel of ultimate contradictions); dan ketiga, keterbukaan bagi bukti yang baru dan/atau yang bertentangan (opennes to new and/or contrary evidence).

Model-model Integrasi Keilmuan.

Merumuskan model-model integrasi keilmuan secara konsepsional memang tidak mudah. Hal ini terjadi karena berbagai ide dan gagasan integrasi keilmuan muncul secara sporadis baik konteks tempatnya, waktunya, maupun argumen yang melatarbelakanginya. faktor yang terkait dengan gagasan ini juga tidak tunggal.

Ada beberapa faktor yang terkait dengannya, yakni (1) sejarah tentang hubungan sains dengan agama; (2) kuatnya tekanan dari kelompok ilmuwan yang menolak doktrin “bebas nilai”-nya sains; (3) krisis yang diakibatkan oleh sains dan teknologi; dan (4) ketertinggalan umat Islam dalam bidang ilmu dan teknoilogi.

Model Akademi Sains Islam Malaysia (ASASI)

Model yang dikembangkan oleh Akademi Sains Islam Malaysia (ASASI) muncul pertama kali pada Mei 1977 dan merupakan satu usaha yang penting dalam kegiatan integrasi keilmuan Islam di Malaysia karena untuk pertamanya, para ilmuwan Muslim di Malaysia bergabung untuk, antara lain, menghidupkan tradisi keilmuan yang berdasarkan pada ajaran Kitab suci al-Qur’an.

Tradisi keilmuan yang dikembangkan melalui model ASAI ini pandangan bahwa ilmu tidak terpisah dari prinsip-prinsip Islam. Model ASASI ingin mendukung dan mendorong pelibatan  nilainilai dan ajaran Islam dalam kegiatan penelitian ilmiah; menggalakkan kajian keilmuan di kalangan masyarakat; dan menjadikan Alquran sebagai sumber inspirasi dan petunjuk serta rujukan dalam kegiatan-kegiatan keilmuan.

ASASI mendukung cita-cita untuk mengembalikan bahasa Arab, selaku bahasa Alquran, kepada kedudukannya yang hak dan asli sebagai bahasa ilmu bagi seluruh Dunia Islam, dan berusaha menyatukan ilmuwan-ilmuwan Muslim ke arah memajukan masyarakat Islam dalam bidang sains dan teknologi.2 Pendekatan ASASI berangkat dari menguraikan epistemologi Islam dengan menggunakan pemikiran keilmuan para ulama klasik semacam al-Ghazali yang pada umumnya menggunakan pendekatan fiqh di satu sisi dan pendekatan para filosof seperti al-Farabi di sisi lain.

Model integrasi keilmuan ASASI berangkat pada pandangan klasik bahwa ilmu diklasifikasikan ke dalam empat kategori, yaitu ilmu fard ‘ain yang wajib bagi setiap manusia Islam, ilmu fard kifayah yang wajib oleh masyarakat Islam yang perlu dikuasai oleh beberapa orang individu, ilmu mubah yang melebihi keperluan, dan ilmu sia-sia yang haram. Model ASASI menggagas kesatuan dan integrasi keilmuan sebagai satu ciri sains Islam yang berdasarkan Keesaan Allah.

ASASI mengembangkan model keilmuan Islam yang memiliki karakteristik menyeluruh, integral, kesatuan, keharmonisan dan keseimbangan. ASASI berpendapat bahwa ilmu tidak hanya diperoleh melalui indra persepsi (data empirik) dan induksi, dan deduksi, akan tetapi juga melalui intuisi, heuristik, mimpi dan ilham dari Allah.

Model Struktur Pengetahuan Islam

Model Struktur Pengetahuan Islam (SPI) banyak dibahas dalam berbagai tulisan Osman Bakar, Professor of Philosophy of Science pada University of Malaya. Dalam mengembangkan model ini, Osman Bakar berangkat dari kenyataan bahwa ilmu secara sistematik telah diorganisasikan dalam berbagai disiplin akademik.

Bagi Osman Bakar, membangun SPI sebagai bagian dari upaya mengembangkan hubungan yang komprehensif antara ilmu dan agama, hanya mungkin dilakukan jika umat Islam mengakui kenyataan bahwa pengetahuan (knowledge) secara sistematik telah diorganisasikan dan dibagi ke dalam sejumlah disiplin akademik.

Osman Bakar mengembangkan empat komponen yang ia sebut sebagai struktur pengetahuan teoretis (the theoretical structure of science). Keempat struktur pengetahuan itu adalah: (1) komponen pertama berkenaan dengan apa yang disebut dengan subjek dan objek matter ilmu yang membangun tubuh pengetahuan dalam bentuk konsep (concepts), fakta (facts, data), teori (theories), dan hukum atau kaidah ilmu (laws), serta hubungan logis yang ada padanya; (2) komponen kedua terdiri dari premis-premis dan asumsi-asumsi dasar yang menjadi dasar epistemologi keilmuan; (3) komponen ketiga berkenaan dengan metode-metode pengembangan ilmu; dan (4) komponen terakhir berkenaan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh ilmu.[21]

Menurutnya untuk membangun kerangka pengetahuan ke-Islam-an, keempat struktur pengetahuan itu, perlu diformulasikan dengan menghubungkannya dengan tradisi keilmuan Islam (Islamic sciences) seperti teologi (theology), metafisika (metaphysics), kosmologi (cosmology), dan psikologi (psychology).

Model Integrasi Keilmuan Berbasis Filsafat Klasik.

Model Integrasi Keilmuan Berbasis Filsafat Klasik berusaha menggali warisan filsafat Islam klasik. Salah seorang sarjana yang berpengaruh dalam gagasan model ini adalah Seyyed Hossein Nasr. Menurut Seyyed Hossein Nasr pemikir Muslim klasik berusaha memasukkan Tawhîd ke dalam skema teori mereka.5 Prinsip Tawhîd, yaitu Kesatuan Tuhan dijadikan sebagai prinsip kesatuan alam tabi’i (thabî’ah)1. Para pendukung model ini juga yakin bahwa alam tabi’i hanyalah merupakan tanda atau ayat bagi adanya wujud dan kebenaran yang mutlak. Hanya Allah-lah Kebenaran sebenarbenarnya, dan alam tabi’i ini hanyalah merupakan wilayah kebenaran terbawah. Bagi Seyyed Hossein Nasr, ilmuwan Islam moden hendaklah mengimbangi dua pandangan tanzîh dan tasybîh untuk mencapai tujuan integrasi keilmuan ke-Islaman.

Baca:

  1. Isra` Mi`raj Menurut Tinjauan Sains dan Teknologi
  2. Sejarah Perkembangan Islam di Spanyol

 

Catatan Kaki

[1] Sarjuni, Rekonstruksi Ilmu Pengetahuan Kontemporer, Dikutip dari Internet dalam bentuk power point.

[2]Murtadha. Muthahhari, Perspektif Al-Qur’an Tentang Manusia dan Agama, Terj. Anggota IKAPI, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 1992) h.71-76.

[3]Van Peursen, Filsafat Sebagai Seni Untuk Bertanya. Dikutip dari buku B. Arief Sidharta. Apakah Filsafat dan Filsafat Ilmu Itu? (Bandung: Pustaka Sutra, 2008). Hal 7-11.

[4]Ibid.

[5]Islam Basics: About Islam and American Muslim, Council on American-Islamic Relations (CAIR), Copyright © 2007.

[6]L. Gardet; J. Jomier “Islam”. Encyclopaedia of Islam Online. Diakses pada 2011-1-31.

[7]Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, Cet.VII, (Surabaya: PT Bina Ilmu,1987), h.47.

[8]Ibid.

[9]Ralp Ross and Ernest Van Den Haag, The fabric of society, (New York: 1957), h.195.

[10]George Thomas White Patrick, Introduction to Philosophy, (London: 1958), h.20.

[11]Djuma’in Basalim, Orientalis Terhadap Sciene, (Harian Abadi, 17 maret 1969, 20 Maret 1969.

[12]Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Muhammadiyah, 1960), hal. 237.

[13]Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2004, Belanja Pemerintah Pusat untuk Departemen Pendidikan Nasional RI sebesar Rp. 21.585,1 milyar, sedangkan Departemen Agama RI hanya sebesar Rp. 6.690,5 milyar; berbanding 76,3% : 23,7%. Untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2005, Belanja Pemerintah Pusat untuk Departemen Pendidikan Nasional RI sebesar Rp. 26.991,8 milyar, sedangkan Departemen Agama RI hanya sebesar Rp. 7.017,0 milyar; berbanding 79,4% : 20,6%. Dan untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2006,  Belanja Pemerintah Pusat untuk Departemen Pendidikan Nasional RI sebesar Rp. 36.755,9 milyar, sedangkan Departemen Agama RI hanya sebesar Rp. 9.720,9 milyar; berbanding 79,1% : 21,9%. Lihat, Departemen Keuangan Republik Indonesia, Data Pokok APBN Tahun Anggaran 2006, Depkeu RI, Jakarta, 2006, hal. 8. Bila besaran anggaran dan prosentase tersebut dihubungkan dengan cakupan kerja kedua departemen tersebut, maka cakupan kerja Departemen Agama jauh lebih luas, dan tidak hanya mencakup bidang pendidikan, melainkan juga bidang-bidang agama yang lebih luas.

[14]Imam Al-Ghazali, misalnya membagi ilmu menjadi dua, yaitu: Pertama, ilmu pengetahuan yang berhubungan fardhu ‘ain. Menurut Imam Al-Ghazali: “Ilmu tentang cara awal perbuatan yang wajib. Jika orang yang telah mengetahui ilmu yang wajib dan waktu yang wajibnya, maka sesungguhnya ia telah mengetahui ilmu fardhu ‘ain. Yang dimaksud: “Al-Amal” di sini meliputi tiga amal perbuatan yaitu: I’tiqad, Al-Fi’li dan Al-Tark. Jadi ilmu pengetahuan baik yang berupa i’tiqad, Al-Fi’li maupun Al-Tark yang diwajibkan menurut syari’at bagi setiap individu muslim dan sesuai pula waktu diwajibkannya.Yang termasuk ilmu yang di hukum fardhu ‘ain dalam mencarinya itu ialah segala macam ilmu pengetahuan yang dengannya dapat digunakan untuk bertauhid (pengabdian, peribadatan) kepada Allah secara benar, untuk mengetahui eksistensi Allah, status-Nya, serta sifat-sifat-Nya, juga ilmu pengetahuan yang dengannya bagaimana mengetahui cara beribadah sebenar-benarnya lagi pula apa-apa yang diharapkan bermuamalah (bermasyarakat) lagi pula apa-apa yang dihalalkan.

Kedua, ilmu pengetahuan fardhu kifâyah. Adapun ilmu pengetahuan yang termasuk fardhu kifayah ialah setiap ilmu pengetahuan manakala suatu masyarakat tidak ada orang lain yang mengembangkan ilmu-ilmu itu, sehingga menimbulkan kesulitan-kesulitan dan kekacauan-kekacauan dalam kehidupan Al-Ghazali menyebutkan: “….bidang-bidang ilmu pengetahuan yang termasuk fardhu kifayah ialah, ilmu kedokteran, berhitung, pertanian, pertenunan, perindustrian, keterampilan menjahit, politik dsb. Imam Al-Ghazali, Ihya’u Ulum al-Dien, (Dar al-Fikr, Beirut-Libnan) t.t., hal. 19.

[15]Mahdi Ghulsyani, Filsafat Sains menurut Al-Qur’an, Mizan, Bandung, Cetakan Kedua-1989, hal. 78-82.

[16]Nasim Butt, op-cit, 73-74

[17]Usman Hassan, The Concept of Ilm and Knowledge in Islam, The Association of Muslim Scientists and Engineers, 2003, hal. 3.

[18]M. Amir Ali, op-cit, hal. 2.

[19]Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam, New American Library, New York, 1970, hal. 21-22.

[20]Isma’il Razi al-Faruqi, Al-Tauhid: Its Implications for Thought and Life, The International Institute of Islamic Thought, Virginia-USA, 1992, hal. 42.

[21]Osman Bakar, Reformulating a Comprehensive Relationship Between Religion and Science: An Islamic Perspective, Islam & Science: Journal of Islamic Perspective on Science, Volume 1, Juni 2003,Number 1, hal. 33-34.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.