Gambaran Keadaan Manusia di Padang Mahsyar dalam Al-Qur’an dan Hadis

Keadaan Manusia di Padang Mahsyar

Tongkrongan Islami – Sebagaimana yang kita ketahui, Hari qiamat adalah hari dimana seluruh isi alam semesta ini dihancur leburkan tanpa terkecuali. Adapun tanda-tanda akan terjadinya  qiamat telah banyak dijelaskan dalam Al Qur’an dan Hadis, kejadian-kejadian yang  diterangkan di dalamnya sudah dekat bahkan sebagian diantaranya telah menjadi kenyataan, dan dunia kini sedang mengharunginya.

Beberapa tanda lain yang belum tampak seperti munculnya Dajjal, Dabbatu Ard, terbitnya matahari dari Barat, turunnya Isa al Masih dan Iman Mahdi,  dan lain-sebagainya. Tanda-tanda itu menunjukkan bahwa tidak lama lagi qiamat akan terjadi dan kita tidak mampu memperkirakan secara pasti kapan terjadinya.

Kejadian ini (qiamat) secara logika bukanlah suatu peristiwa yang mustahil, Para pakar ilmu alam telah sepakat bahwa segala yang maujud pasti memiliki batas akhir keberadaannya pada saat tertentu.

Setelah dihancur leburkannya alam semesta ini, seluruh makhluk akan di bangkitkan, setiap ruh akan dikembalikan pada jasad masing-masing, sehingga mereka mengalami kehidupan untuk yang kedua kalinya, setelah sebelumnya mereka mati.

Dan Setelah mereka dibangkitkan pada yaumul ba’ts, lalu setiap jiwa akan dikumpulkan di padang mahsyar untuk dihisab (yakni dihitungkan seluruh amalnya di dunia, yang baik maupun yang buruk). Maka, barangsiapa yang amal baiknya melebihi amal keburukan, tentu Allah memasukkannya ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan. Namun jika yang terjadi adalah sebaliknya, baginya adalah api neraka yang penuh dengan siksa pedih yang memilukan.

Hadis tentang Mahsyar

764حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَعَطَاءُ بْنُ يَزِيدَ اللَّيْثِيُّ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ أَخْبَرَهُمَا أَنَّ النَّاسَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ هَلْ تُمَارُونَ فِي الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَيْسَ دُونَهُ سَحَابٌ قَالُوا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَهَلْ تُمَارُونَ فِي الشَّمْسِ لَيْسَ دُونَهَا سَحَابٌ قَالُوا لَا قَالَ فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ كَذَلِكَ يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ شَيْئًا فَلْيَتَّبِعْ فَمِنْهُمْ مَنْ يَتَّبِعُ الشَّمْسَ وَمِنْهُمْ مَنْ يَتَّبِعُ الْقَمَرَ وَمِنْهُمْ مَنْ يَتَّبِعُ الطَّوَاغِيتَ وَتَبْقَى هَذِهِ الْأُمَّةُ فِيهَا مُنَافِقُوهَا فَيَأْتِيهِمْ اللَّهُ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ هَذَا مَكَانُنَا حَتَّى يَأْتِيَنَا رَبُّنَا فَإِذَا جَاءَ رَبُّنَا عَرَفْنَاهُ فَيَأْتِيهِمْ اللَّهُ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ أَنْتَ رَبُّنَا فَيَدْعُوهُمْ فَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ جَهَنَّمَ فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يَجُوزُ مِنْ الرُّسُلِ بِأُمَّتِهِ وَلَا يَتَكَلَّمُ يَوْمَئِذٍ أَحَدٌ إِلَّا الرُّسُلُ [1

“Sesungguhnya manusia berkata: ” Wahai Rasulullah apakah kita bisa melihat Tuhan di hari kiamat?? Rasul menjawab: “apakah kalian berjalan di bulan pada malam lailatul qadar yang dibawahnya tidak ada awan?? Mereka menjawab: tidak ya Rasulullah, Nabi berkata:”dan apakah kalian berjalan di atas matahari yang dibawahnya tidak ada awan?? Mereka menjawab: tidak Rasul. Rasul berkata: “begitulah manusia digiring di hari kiamat, kemudian Rasul berkata: “barang siapa menyembah sesuatu, maka ikutilah sesuatu itu, dan diantara mereka ada yang menyembah matahari, ada yang menyembah bulan, dan ada pula yang menyenbah Taghut, dan umat ini akan tetap mengikuti apa yang ia sembah,  dan diantara umat tersebut terdapat segolongan manusia yang mengingkari akan semua itu (menganggap bulan, matahari, dan taghut sebgai tuhan ). Kemudian Allah mendatangi umat tersebut seraya berkata:”Aku Tuhanmu, kemudian mereka menjawab:”ini adalah tempat kami sampai Tuhan kami datang menjemput, dan ketika tuhan kami menjemput pastilah kami mengenalinya. Kemudian Allah mendatangi golongan terakhir seraya berkata:”Aku Tuhanmu”, Mereka menjawab:” Engkau adalah Tuhan kami, kemudian Allah mengajak mereka dan menjadikan bagi mereka jalan diantara  dua ujung Jahannam. Dan akulah  (Nabi Muhammad) rasul pertama yang menjadi penolong bagi seluruh umat (HR.  Bukhari)

Penjelasan Hadis

Advertisement
Loading...

Hadis di atas menjelaskan bahwa ketika Qiamat tiba, maka manusia akan dihimpun di padang mahsyar dan mengelompok sesuai dengan apa yang mereka sembah. Adapun orang-orang yang sewaktu hidupnya menyembah matahari, maka di hari itu ia akan berkumpul dengan orang-orang yang menyembah matahari, dan barang siapa yang menyembah bulan maka ia akan  berkumpul dengan orang-orang yang menyembah bulan, dan barang siapa menyembah taghut, maka ia akan berkumpul dengan orang-orang yang menyembah taghut.

Semua umat itu akan tetap berada dalam kelompok mereka masing-masing sampai tuhan mereka menjemputnya. Dan diantara mereka semua yang akan selamat dari api jahannam hanyalah orang-orang yang semasa hidupnya menyembaha Allah SWT.

Ini menandakan bahwa perbuatan mereka sewaktu hidup berdampak besar bagi kehidupan mereka di akhirat, dan orang-orang yang senantiasa bertaqwa kepada Allah niscaya Allah akan menyelamatkannya dari api jahannam dengan menjadikan bagi mereka jembatan untuk melintasi jahannam, dan dalam melewati jembatan itu Allah memberikan kemudahan.

Berbeda dengan orang-orang yang semasa hidupnya menyembah selain Allah, sesuatu yang mereka anggap Tuhan tidak akan bisa menyelamatkan mereka, karena sebenarnya Tuhan semesta alam ini hanyalah Allah SWT, celakalah mereka dan sebuah penyesalan di waktu itu tidaklah akan ada gunanya. Dan satu-satunya Rasul yang bisa memintakan syafa’at kepada Allah untuk manusia di waktu itu hanyalah Muhammad SAW.

Hari Kebangkitan

Firman Allah yang Artinya:”  Dan ditiuplah sangkakala, Maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi Maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az Zumr: 68)

Sebagaimana yang tertera pada ayat di atas, sesudah terompet pertama dibunyikan, maka terjadilah qiamat besar, di mana pada saat itu bumi, semua manusia, jin, malaikat binasa serentak (kecuali Allah Malaikat Israfil). Bumi, matahari, bulan, dan bintang-bintang pun hancur, lalu diganti dengan bumi, matahari, dan bintang-bintang baru.

Kemudian dibunyikan terompet untuk yang kedua kalinya. Di saat itu dihidupkanlah kembali semua manusia yang pernah hidup di permukaan bumi ini, dihidupkan pula jin, iblis, dan malaikat.

Menurut sebagian ulama’ juga dihidupkan kembali beberapa macam binatang dan timbuh-tumbuhan. kehidupan yang kedua inilah yang dinamkan dengan kehidupan akhirat, yakni kehidupan yang benar-benar hidup, kehidupan yang lebih baik dan kehidupan yang lebih kekal, kehidupan yang tidak akan mati-mati lagi buat selama-lamanya.[2]

Setelah itu Allah mengumpulkan manusia pada salah satu area tanah lapang yang dinamakan padang mahsyar, matahari di padang mahsyar sangatlah dekat dengan kepala mereka. Bukan main takut dan sengsaranya serta berat karena panasnnya. Kemudian menyerulah sang Dzat penyeru :” Wahai sekalian makhluk, pergilah ke naungan”. Maka mereka semua pergi dan mereka menjadi semua tiga kelompok:

  1. Kelompok orang-orang mukmin.
  2. Kelompok orang-orang munafik.
  3. Kelompok orang-orang kafir.[3]

Dan jika para makhluk itu berlindung kepada naungan, maka naungan itu menjadi tiga bagian pula:

  1. Bagian untuk cahaya.
  2. Bagian untuk panas terik.
  3. Bagian untuk asap.

Ini dijelaskan oleh firman Allah yang Artinya:”  Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang”.[4]

Makhluk dikumpulkan di padang makhsyar, yakni: bumi yang sifatnya diterangkan oleh Rasulullah dalam hadis berikut:

Daripada Sahl bin Sa`id As-Sa`idiy, Rasulullah bersabda bermaksud: “Tuhan akan himpunkan semua manusia pada hari kiamat di atas satu bumi yang putih kemerah-merahan seperti sebiji roti gandum putih yang baru dibakar, bumi yang suci bersih, tidak ada padanya gunung-ganang atau bukit-bukau dan tidak pula ada padanya sebarang tanda atau kesan yang menunjukkan bahawa bumi itu pernah diduduki atau dimiliki orang.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Bagaimana Keadaan Manusia di padang Mahsyar??

Segenap manusia berkumpul di padang mahsyar, diliputi oleh kemurkaan Allah SWT, yang belum pernah Allah SWT murka seperti pada ketika itu, sehingga segenap makhluk ketakutan, kelihatannya mereka suram dan muram, lebih-lebih lagi keadaan orang kafir, orang-orang musyrik, orang-orang munafik, orang-orang fasiq, dan para pendurhaka yang banyak dosa.

Semua pada ketakutan menyesali perbuatan – perbuatan mereka yang lalu, mata mereka memandang dengan hati yang hancur, mereka tiada berbicara, tiada makan dan minum bahkan angin hawa sejuk pun tiada mereka dapat, dan mereka berdiri selama tiga ratus tahun,  dalam keadaan bingung, tiada menghiraukan ahli famili, ibu, bapak, dan saudara sekandung, berpikir sendiri-sendiri tidak ada yang bisa menolong.

Selain itu mereka sebatang kara, telanjang, tidak beralas kaki,  dan tidak berkhitan  ini seperti keadaan  mereka ketika mereka keluar dari perut ibu.[5] Meskipun mereka semua telanjang bercampur antara kaum adam dan hawa, akan tetapi tidak seorangpun menyibukkan diri untuk melihata atau melirik oranglain, mereka semua sibuk menyelamatkan diri masing-masing. Ini sebagaimana firman Allah (QS. AL Anbiya’: 104) dan Sabda Nabi:

5104 حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ ح و حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي كِلَاهُمَا عَنْ شُعْبَةَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَاللَّفْظُ لِابْنِ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ النُّعْمَانِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطِيبًا بِمَوْعِظَةٍ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ تُحْشَرُونَ إِلَى اللَّهِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

5102و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ حَاتِمِ بْنِ أَبِي صَغِيرَةَ حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ النِّسَاءُ وَالرِّجَالُ جَمِيعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَائِشَةُ الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنْظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ حَاتِمِ بْنِ أَبِي صَغِيرَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَلَمْ يَذْكُرْ فِي حَدِيثِهِ غُرْلًا

Karena dahsyatnya keadaan pada waktu itu, manusia berbondong-bondong pergi menghadap Nabi Adam as Untuk mendapatkan syafa’at. Seraya memohon dan merengek meminta pertolongan, akan tetapai Nabi Adam berkata: “Nafsi-Nafsi, hai anak cucuku, ketahuilah kini aku memikirkan diriku sendiri, nasibku dan aku tidak dapat memikirkan dirimu, apalagi aku ini sudah pernah mendurhakai Allah. Sungguh aku tidak dapat menolonhmu carilah syafaat dari nabi-nabi lain.

Kemudian mereka mendatangi Nabi Idris, akan tetapi Nabi Idris pun berkata sebagaimana yang dikatakan oleh Adam as. Kemudian mereka datang pada Nabi Nuh, tidak berbeda dengn Nabi Adam dan Idris, Nabi Nuh pun berkata seperti apa yang dikatakan Nabi Adam dan Idris, begitu seterusnya sampai akhirnya harapan mereka tinggal satu, yakni Nabi Muhammad SAW, dengan harapan karena nafas sudah kembang kempis dan hati yang berdebar-debar,ketika itu Nabi Muhammad SAW sedang duduk di panggung yang tinggi dengan wajah yang berseri-seri bersinar memancarkan cahaya yang menyinari segenap manusia yang ada di padang mahsyar, lalu rombongan manusia itu menyampaikan maksudnya kepada Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW kemudian berseru mengelu-elukan rombonngan manusia itu:”Hai Umatku-Hai umatku, lalu Nabi Muhammad menuju ke depan Ars dan bersujud kepada Allah hingga kepala beliau mencecah ke tanah.

Kemudian dari itu Allah berfirman Hai Muhammad kini bukan lagi waktunya untuk bersujud, angkat kepalamu, bangkitlah, katakanlah apa yang kau kehendaki pasti akan kuberi.

Wahai Tuhan Rabbil ‘Alamin, limpahkanlah syafa’at, agar hilang semua malapetaka, supaya tersingkir banna hari qiamat ini dan perintahkanlah agar agar manusia segera dihadapkan kepada sidang pengadilanmu Ya Allah untuk hisab, karena penderitaan manusia telah sampai pada puncaknya dan tiada tertahan lagi oleh mereka.

Seketika itu pula syafa’at yang dimonkan Nabi Muhammad SAW dikabulkan. Maka semua bencana dan malapetaka yang menimpa di Padang Mahsyar menghilanglah lenyap sama sekali, di sini manusia kembali merasa aman mengenyam kenyamanan dan ketentraman.

Pengayoman di Padang Mahsyar

Adapun mereka yan mendapatkan pengyoman di Padang Mahsyar dari pada terik matahari yang terpancang rendah tepat di atas kepala ketika di padang mahsyar, adalah sembilan orang yangmendapat pengyoman[6]:

  1. Mereka yang berlaku adil, kepada negara yang adil, hakim yang adil.
  2. Mereka yang beribadah kepada Allah.
  3. Mereka yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid, yaitu selalau mendatangi masjid
  4. untuk berjama’ah.
  5. Dua orang yang saling mengasihi dan rukun, rajin menjalankan ibadah dan perintahperintah Allah dan menjauhi semua larangannya.
  6. Orang yang dicumbu rayu wanita cantik jelita diajak berbuat zina, walau wanita itubermartabat tinggi, tetapi orang itu tetap menolak, tidak mau berbuat maksiat, semata-mata karena takut kepada Allah.
  7. Mereka yang gemar melakukan shadaqah sirrih.
  8. Mereka yang selalu berdzikir memuji asama Allah takut dan taqwa kepada Allah, ma’rifat kepadanya hingga memcucurkan air mata .

620حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ بُنْدَارٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاه

Hisab dan Kehidupan yang Serba Baru

Setelah Allah menghidupkan seluruh makhluk dengan warna kehidupan yang serba baru, lalu mereka dikumpulkan disisinya, yakni digiring untuk berkumpul di padang mahsyar. Tujuannya adalah bahwa semua orang hendak di hisab, yakni dihitung atau ditimbang seluruh amal perbuatannya semasa hidup di dunia.[7]

Saat itu, bumi menjadi saksi atas segala peristiwa yang pernah terjadi di atasnya, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Allah SWT: Artinya:”  Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat).  Dan bumi Telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.  Dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini).  Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.  Karena Sesungguhnya Tuhanmu Telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.

Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. [8]Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.  Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Sebagaimana Bumi menceritakan setiap ikhwal manusia, begitu pula lidah, tangan, kaki, dan kulitnya sendiri pun menjadi saksi pula atas perbuatan dirinya, ini seperti yang tertera dalam Al Qur’an(QS. An Nur: 24-25). Sedang pencatatan amal perbuatan melalui perantara malaikat yang memang diberi tugas demikian.

Jadi, bila hari qiamat tiba, dan peristiwa hisab telah dimulai, maka catatan-catatan yang telah disusun oleh malaikat yang di dalamnya berisi semua amal perbuatan itulah yang nantinya ditunjukan kepada pemilik masing-masing. Amal mereka menentukan tempat dan derajat mereka di akhirat.

Bagi jiwa yang selalu menyatu dengan tuhannya, akan dimasukkan ke dalam surga. Berlawanan dengan kehidupan di surga, adalah neraka, yaitu tempat siksaan dan pensucian jiwa. Dengan proses penyiksaan, lambat laun disucikan dari perbuatan jahat untuk digugurkan dari mereka sebagai keringanan dari Tuhan. Mereka akan berada dalam neraka sesuai dengan janji Tuhan, dan akhirnya mereka akan pindah ke dalam surga.

Puncak dari hari qiamat adalah hari kebangkitan, hari hisab ( perhitungan) yang akan dimulai dengan dibunyikan nya terompet kedua, sebagai tanda di bangkitkannya orang-orang mati dari kuburan masing-masing yang dinamakan alam barzah. Ketika kematian menjemput manusia, mereka memasuki fase ini.

Di alam barzah tidak ada ganjaran maupun siksaan yang sebenarnya, tetapi merupakan refleksi dari perbuatan mereka di masa lampau dan menanti nasib mereka di masa datang, merasa gembira atau sedih sesuai dengan amal perbuatannya. Keadaan ini berakhir dengan tiba-tiba ketika datangnya tiupan terompet kedua.

 

Gambaran Perjalana Manusia dalam menembus waktu[9]

Gambar Perjalanan Manusia saat Menembus Waktu

 

 

Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan dan beberapa ayat Al Qur’an serta Hadis di atas, dapat disimpulkan bahwa: ketika terompet pertama ditiupkan bumi dan seluruh yang ada di dalamnya hancur secara bersamaan, dan pada tiupan yang kedua seluruh makhluk dibangkitkan kemudian digiring ke padang mahsyar, yakni: suatu bumi yang putih kemerah-merahan seperti sebiji roti gandum putih yang baru dibakar, bumi yang suci bersih, tidak ada padanya gunung-ganang atau bukit-bukit dan tidak pula ada padanya sebarang tanda atau kesan yang menunjukkan bahawa bumi itu pernah diduduki atau dimiliki orang.

Di sini keadaan manusia sangatlah menyedihkan, bingung, sengsara, sebatang kara, telanjang, tidak beralas kaki,  dan tidak berkhitan  ini seperti keadaan  mereka ketika mereka keluar dari perut ibu.

Adapun yang menjadi patokan di waktu itu hanyalah amal semasa hidup, orang-orang yang senantiasa taat kepada Allah pastilah mereka selamat, akan tetapi orang yang mendurhakai-Nya pastilah ia sengsara.

Di waktu itu tidak seorangpun bisa menolong mereka, jangankan manusia biasa, para Nabi saja tidak sanggup. Dan satu-satunya yang bisa dimintai pertolongan agar memintakan syafa’at kepada Allah hanyalah Nabi Muhammad SAW.

Adapun tujuan dikumpulkannya manusia di padang mahsyar adalah agar semua orang di hisab, yakni dihitung atau ditimbang seluruh amal perbuatannya semasa hidup di dunia. Saat itu, bumi menjadi saksi atas segala peristiwa yang pernah terjadi di atasnya, begitu pula lidah, tangan, kaki, dan kulitnya sendiri pun menjadi saksi pula. Apabila hasil hisab menunjukkan bahwa amal perbuatan baiknya lebih banyak, maka orang itu disiksa hanya sebentar kemudian dimasukkan ke dalam surga, namun jika amal perbuatan jeleknya yang lebih banyak, maka ia akan tinggal lama di neraka, dan setelah lama baru ia bisa masuk surga.

Akhirnya sampailah makalah ini di penghujung. Pemakalah sadar bahwa makalah ini sangat jauh untuk dikatakan sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharap kritik dan saran yang membangun, sebagai evaluasi makalah yang akan datang.

Daftar Pustaka

Al Qur’an dan Terjemahnya.

Arifin, Bey . Hidup Sesudah Mati. Jakarta: CV. Kinta. 1987.

Bashiruddin, Mahmud. Mekanika Hari Kiamat dan Hidup Sesudah Mati. Bandung: Pustaka. 1992.

Bukhari, Shahih Bukhari dalam CD ROM  Mausu’ah al Hadis as Syarif.

Majdi Muhammad al Syahwi dan Abdul Husain. Kemana Kita Melangkah. Bandung: Pustaka Madani. 1998.

Marzuki, Choiran. Qiamat Surga dan Neraka. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1999.

Muslim,  Shahih Muslim dalam CD ROM Mausu’ah al Hadis as Syarif.

Qayyim, Muhammad Djohan.  Berita tentng Kehidupan Akhirat. Jakarta: Srigunting. 1995.

[1] HR Bukhari, Shahih Bukhari  no. 764, CD ROM Mausu’ah al Hadis as Syarif. Lihat juga di CD ROM al Maktabah as Syamilah.

[2] Bey Arifin, Hidup Sesudah Mati,(Jakarta: CV. Kinta, 1987), hlm. 203.

[3] Muhammad Djohan Qayyim, Berita tentng Kehidupan Akhirat,(Jakarta: Srigunting, 1995), hlm. 67.

[4] yang dimaksud dengan naungan di sini bukanlah naungan untuk berteduh akan tetapi asap api neraka yang mempunyai tiga gejolak, yaitu di kanan, di kiri dan di atas. Ini berarti bahwa azab itu mengepung orang-orang kafir dari segala penjuru

[5] Majdi Muhammad al Syahwi dan Abdul Husain, Kemana Kita Melangkah,(Bandung: Pustaka Madani, 1998), hlm. 33.

[6] Muhammad Djohan Qayyim, Berita tentang Kehidupan Akhirat,(Jakarta: Srigunting, 1995), hlm. 80.

[7] Choiran Marzuki, Qiamat Surga dan Neraka,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999),hlm. 123.

[8] maksudnya ada di antara mereka yang putih mukanya dan ada pula yang hitam dan sebagainya.

[9] Bashiruddin Mahmud, Mekanika Hari Kiamat dan Hidup Sesudah Mati,(Bandung: Pustaka, 1992,), hlm. 114.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here