Kehujjahan Al-Qur’an Sebagai Dalil Syara

Kehujjahan Al-Qur'an Sebagai Dalil Syara

Kehujjahan Al-Qur’an Sebagai Dalil Syara – Mengenai bukti bahwa al-Kitab, yaitu al-Qur’an adalah dalil syara’ kembali kepada substansi al-Qur’an sebagai firman Allah SWT. yang menjadi pensyariat hukum. Dalam hal ini, dalil ‘aqlî telah membuktikan, bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah, karena al-Qur’an merupakan susunan ungkapan dalam bahasa Arab, sehingga hanya ada tiga kemungkinan; buatan orang Arab, Nabi Muhammad, dan Allah. Selain dari ketiganya jelas tidak mungkin.

Pendapat yang menyatakan, bahwa al-Qur’an buatan orang Arab, jelas tidak benar. Karena mereka tidak mampu membuat yang setanding dengan al-Qur’an. Ini telah ditetapkan secara mutawâtir –yang memberikan kepastian dan keyakinan– dimana al-Qur’an telah menantang kaum pemilik bahasa, yang sangat fashîh dan jelas.

Dengan demikian, maka bisa dipastikan bahwa al-Qur’an bukan buatan orang Arab. Sebab, terbukti mereka tidak mampu membuat yang setanding dengannya. Mereka sendiri juga mengakui ketidakmampuannya. Sampai saat ini, mereka senantiasa tidak memiliki kemampuan untuk membuat yang setanding dengannya, bahkan sampai Hari Kiamat sekalipun.

Pendapat yang mengatakan, bahwa al-Qur’an buatan Nabi Muhammad juga tidak mungkin. Sebab, Nabi Muhammad juga merupakan bagian dari orang Arab. Bagaimanapun tingginya tingkat balâghah seeorang, dia tetap saja tidak akan terlepas dari zamannya.

Jika bangsa Arab tidak mampu membuat yang setanding dengan al-Qur’an, Nabi Muhammad juga pasti tidak mampu. Sebab, beliau termasuk bagian dari mereka. Karena itu, yang pasti bahwa al-Qur’an adalah firman Allah SWT. Dengan demikian, kehujjahan al-Kitâb, yaitu al-Qur’an sebagai dalil syara’ yang benar-benar merupakan wahyu Allah SWT. telah terbukti kepastiannya, dengan merujuk kepada substansinya sebagai wahyu atau firman Allah.

Masalahnya adalah apakah Mushaf yang disampaikan kepada kita –baik mutawâtir maupun âhâd– semuanya bisa dianggap sebagai al-Qur’an? As-Syâfi’i dalam hal ini telah menolak Mushaf âhâd –seperti Mushaf Ibn Mas’ûd– sebagai al-Qur’an.

Alasannya, karena Nabi saw. telah diberi tugas (mukallaf) untuk menyampaikan al-Qur’an yang diturunkan kepadanya kepada sejumlah orang yang kata-kata mereka akan menjadi hujah yang qath’î. Bagi orang yang kata-katanya akan menjadi hujah yang qath’î, tidak akan terlintas untuk sepakat tidak menyampaikan apa yang telah mereka dengar dari Nabi.

Seorang perawi, jika hanya seorang, ketika dia mengingatnya bahwa yang diingatnya adalah al-Qur’an, mungkin bisa salah. Dan ketika tidak mengingatnya, bahwa itu al-Qur’an, maka bisa jadi ada keraguan antara perkara yang dianggap sebagai informasi dari Nabi atau pandangannya, sehingga tidak layak dijadikan hujah.[al-Amidi, al-Ihkam, juz I: 160] Dengan demikian, yang layak dijadikan hujah adalah Mushaf yang mutawâtir.

Kandungan al-Qur’an Sebagai Dalil Syara

Allah SWT. berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ

Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)-nya ada ayat-ayat yang muhkamât itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyâbihât (QS. Ali ‘Imrân: 7)

Dari sini, jelas menunjukkan bahwa ayat-ayat al-Qur’an itu bisa diklasifikasikan menjadi dua, ada yang Muhkam dan Mutasyâbih. Muhkam adalah ayat yang maknanya jelas, dan nyata sehingga menghilangkan spekulasi dan kemungkinan. Contohnya seperti firman Allah:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Dan Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba (QS. al-Baqarah: 275).

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا

Dan pencuri laki-laki dan pencuri wanita, maka potonglah tangan keduanya (QS. al-Mâidah: 38).

Sedangkan ayat-ayat Mutasyâbih merupakan kebalikan dari Muhkamât, yaitu ayat yang mempunyai lebih dari satu makna; kadang dengan konotasi yang setara (jihhat at-tasâwi), dan kadang tidak (ghayr jihhat at-tasâwi). Yang mempunyai konotasi setara (jihhat at-tasâwi), yaitu konotasi satu dengan yang lain masih saling terkait, misalnya:

أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ

Atau dima`afkan oleh orang yang memegang ikatan nikah (QS. al-Baqarah: 237).

Frasa: al-ladzî biyadihi ‘uqdat an-nikâh (orang yang memegang ikatan nikah) bisa mempunyai konotasi: wâlî al-mar’ah (wali pihak perempuan-isteri) atau zawj (suami). Contoh lain adalah firman Allah:

أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاءَ

Atau kamu telah menyentuh perempuan (QS. al-Baqarah: 43).

Frasa: Lâ mastum an-nisâ’ (menyentuh perempuan) bisa mempunyai konotasi: al-lams bi al-yadd (menyentuh dengan tangan), atau al-wath’i (bersenggama). Masing-masing konotasi tersebut, sekalipun berbeda, bisa dikatakan setara atau saling terkait.

Berbeda dengan konotasi yang tidak setara (ghayr jihhat at-tasâwi), seperti firman Allah SWT.:

وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي

Dan Aku tiupkan kepadanya dari ruh-Ku (QS. al-Hijr: 29).

مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا

Merupakan sesuatu yang telah dikerjakan oleh tangan-tangan Kami (QS. Yasin: 71).

Semuanya ini merupakan ayat Mutasyâbihât yang tidak mempunyai konotasi yang setara. Artinya, antara satu konotasi dengan konotasi lain, bisa sangat jauh dan bahkan bertolak belakang, sesuai dengan pemahaman yang ditangkap oleh orang yang mendengarnya.

Namun demikian, ayat-ayat Mutasyâbihât tidak berarti tidak bisa difahami. Sebab, di dalam al-Qur’an tidak ada satu ayat pun yang tidak bisa difahami. Sebab jika tidak, berarti akan bertentangan dengan substansi al-Qur’an sebagai penjelasan untuk ummat manusia, sebagaimana firman Allah:

هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ

Ini merupakan penjelasan untuk ummat manusia (QS. Ali ‘Imrân: 138).

Baca Juga:

  1. Kehujjahan Sunnah Sebagai Dalil Syara
  2. Kehujjahan Ijma Sebagai Dalil Syara
  3. Kehujjahan Qiyas Sebagai Dalil Syara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.