Kehujjahan Ijma Sebagai Dalil Syara

Kehujjahan Ijma Sebagai Dalil Syara

Kehujjahan Ijma sebagai Dalil Syara – Dalil-dalil syara’ adalah apa yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, yaitu dalil-dalil yang bersumber dari wahyu, bukan yang lain.

Ini berarti, bahwa ijmâ’ yang dipandang sebagai dalil adalah ijmâ’ yang dijelaskan dengan dalil yang tidak teriwayatkan, karena mereka yang telah melakukan kesepakatan tersebut telah mengetahui dalil tadi, namun mereka tidak mengucapkannya.[1] Itu artinya, bahwa dalil yang mereka ketahui tetapi tidak teriwayatkan itu merupakan sunnah Rasul, karena al-Qur’an seluruhnya bisa dibaca dan dihafal.

Maka berdasarkan pandangan as-Syâfi’i mengenai substansi Ijma’, sebagai riwayat yang tidak teriwayatkan, maka masalahnya adalah siapa yang kesepakatanya mencerminkan hal itu? Kelompok orang yang kesepakatannya bisa dinyatakan sebagai dalil, karena merupakan artikulasi dalil yang tidak teriwayatkan itu adalah orang-orang yang senantiasa menyertai dan melihat Rasul. Dan, itu hanya para sahabat.

Selain para sahabat tidak mungkin ijmâ’ mereka bisa menyatakan keberadaan sebuah dalil ––yang tidak teriwayatkan–– tadi. Karena itu, ijmâ’ sahabatlah satu-satunya yang bisa menyatakan adanya dalil tertentu.

Ini dari satu aspek. Adapun aspek lain yang telah terbukti adalah, bahwa ijmâ’ yang jelas benar dan tidak mungkin salah adalah ijmâ’ sahabat. Karena Allah ––tanpa kecuali–– telah memuji mereka. Allah berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang pertama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, Allah telah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah telah menyiapkan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang sangat besar. (QS. at-Taubah: 100).

Berdasarkan penjelasan di atas, jelas ijmâ’ sahabat merupakan dalil yang menyatakan dalil tertentu yang tidak teriwayatkan. Disamping, Allah juga telah memuji kesepakatan mereka dengan nash al-Qur’an tanpa syarat. Namun, jika pujian tersebut dikaitkan dengan tâbi’în, sesungguhnya Allah telah membatasi pujian tersebut untuk sahabat, sebagaimana firman-Nya:

وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْه

Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, Allah telah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. (QS. at-Taubah: 100).

Ini berarti ijmâ’ sahabatlah yang benar dan tidak mungkin salah. Dengan kata lain, konsensus sahabat telah menyatakan adanya dalil tertentu yang mereka dengar atau lihat dari Rasulullah, namun tidak mereka kemukakan, karena secara keseluruhan mereka semua mengetahuinya.

Dengan demikian, jika disodorkan suatu permasalahan kepada para sahabat ketika mereka tidak meriwayatkan nash al-Qur’an atau hadits mengenai kasus tersebut, kemudian mereka berkata: “Hukum syara’ mengenai kasus ini adalah begini.” sementara hukum yang mereka katakan adalah sama, maka hukum tersebut merupakan ijmâ’.

Maksudnya hukum tersebut merupakan hukum syara’ yang mereka nyatakan dengan bersandar kepada hadits Rasulullah saw. yang tidak mereka riwayatkan, tetapi mereka semua ketahui.

Contoh-contoh ijmâ’ sahabat

1. Hak waris kakek bersamaan dengan adanya anak laki-laki, jika seseorang meninggal dunia sementara dia meninggalkan anak laki-laki dan kakek sebagai ahli warisnya. Sebab, kakek ––dalam kondisi ketika bapak tidak ada–– bisa menggantikan kedudukan bapak dalam hak waris. Maka, dia berhak menerima warisan 1/6 dari harta yang ditinggalkan (tirkah) sebagaimana bapak, sekalipun anak orang yang meninggal tadi ada. Ini ditetapkan berdasarkan ijmâ’ sahabat.

2. Saudara seibu-sebapak, serta saudara sebapak, baik laki-laki ataupun perempuan (banû al-a’yân wa al-a’lât) tidak bisa menerima warisan karena terhalang dengan bapak. Ini juga ditetapkan berdasarkan ijmâ’ sahabat.

3. Wajib memilih khalifah selama tiga hari dari masa berakhirnya kekhilafahan sebelumnya. Para sahabat senior tidak menyibukkan diri untuk mengubur jenazah Rasul, sebaliknya mereka pergi menuju tsaqîfah Bani Sa’îdah sehingga pemilihan Abû Bakar sebagai khalifah berhasil dilakukan selama tiga hari.

Kemudian ketika ‘Umar mencalonkan enam orang sahabat yang mendapatkan kabar gembira surga untuk menjadi khalifah, beliau menunjuk orang yang akan membunuh mereka jika berselisih terhadap pembaiatan salah seorang khalifah dalam waktu tiga hari. Ini semua tidak ditentang oleh seorang sahabatpun. Padahal ini termasuk perkara yang seharusnya diingkari jika bertentangan dengan Islam, ternyata tidak. Maka, ini juga merupakan ijmâ’.

Macam-Macam Ijmâ’ Sahabat

Ijma’ Sahabat bisa diklasifikan menjadi dua, yaitu: Ijmâ’ Sukûti dan Ijmâ’ Qawlî. Masing-masing merupakan dalil syara’, dan bersifat qath’î bahwa ia bersumber dari wahyu.

1) Ijmâ’ Qawlî

Ijma’ Qawlî adalah bentuk kesepakatan para sahabat, ketika mereka sepakat terhadap satu pandangan dalam satu kasus secara lisan, bahwa hukum syara’ kasus tersebut adalah begini. Ijma’ Qawlî adalah dalil syara’. Contohnya, seperti kesepakatan para sahabat terhadap kewajiban mengangkat khalifah untuk menggantikan Rasulullah saw.

2) Ijmâ’ Sukûti

Ijma’ Sukûti adalah diamnya para sahabat, ketika salah seorang di antara mereka mengambil hukum syara’ tertentu; hal itu diketahui oleh para sahabat yang lain, namun tidak seorang pun yang mengingkarinya. Ijma’ Sukûti adalah dalil syara’, sama dengan Ijma’ Qawli, jika memenuhi kualifikasi:

1. Hukum syara’ (yang disepakati) tersebut biasanya dinafikan, dan tidak akan didiamkan oleh para sahabat. Karena para sahabat mustahil sepakat untuk berdiam diri terhadap kemunkaran. Jika hukum tersebut umumnya tidak dinafikan, maka diamnya para sahabat terhadap hukum tersebut tidak disebut Ijma’.

Contohnya Ijma’ Sukûti adalah kasus penarikan ‘Umar bin al-Khattâb terhadap tanah yang diberikan oleh Rasul kepada Bilal. Tindakan ini dilihat dan didengarkan para sahabat, namun tidak seorang pun menafikannya.

2. Aktivitas tersebut populer, dan diketahui oleh para sahabat. Jika tidak tersebar dan dikenal oleh para sahabat, maka kesepakatan mereka tidak bisa disebut Ijma’. Contoh, surat ‘Umar bin al-Khattâb kepada Abû Mûsâ al-Asy’ari:

وَلاَ يَمْنَعَنَّكَ قَضَاءٌ قَضَيْتَهُ بِالأَمْسِ فَرَاجَعْتَ الْيَوْمَ فِيْهِ نَفْسُكَ وَهُدُيْتَ فِيْهِ لِرُشْدِكَ أَنْ تَرْجِعَ إِلَى الْحَقِّ فَإِنَّ الْحَقَّ قَدِيْمٌ وَمُرَاجَعَةُ الْحَقِّ خَيْرٌ مِنَ التَّمَادِي فِي الْبَاطِلِ

Keputusan yang kamu putuskan kemarin jangan sekali-kali menghalangimu –dimana setelah kamu sendiri hari ini mengevaluasi kembali, dan dengan petunjukmu kamu diberi hidayah– untuk kembali kepada kebenaran. Sebab, kebenaran itu dahulu, dan kembali kepada kebenaran lebih baik daripada bertahan dalam kebatilan.[25]

Tidak bisa disebut Ijma’ Sahabat. Karena surat ini –sekalipun sahih dari aspek periwayatannya– namun ia spesifik untuk Abû Mûsâ, dan tidak populer di kalangan sahabat.

3. Hukum tersebut tidak termasuk dalam kategori hukum yang menjadi otoritas khalifah untuk dijalan dengan pandangannya, seperti urusan kekayaan dalam Bayt al-Mâl, seperti keputusan Abû Bakar untuk menyamaratakan pembagian ghanîmah kepada kaum Muslim, atau ‘Umar yang membaginya berdasarkan kualifikasi senioritas, maka diamnya para sahabat terhadap keputusan tersebut bukan merupapkan Ijma’ Sahabat.

Baca Juga:

  1. Kehujjahan Qiyas Sebagai Dalil Syara
  2. Mashalih Mursalah Sebagai dalil Syara
  3. Istihsan Sebagai Dalil Syara

Catatan Kaki:

[1] As-Syâfi’i, ar-Risalah, Pustaka Firdaus, Jakarta, cet. VI, 1996, hal. 223-225.

[2] Muhammad Hamidullâh, al-Watsâ’iq as-Siyâsiyyah, Dâr an-Nafâ’is, Beirut, cet. VI, 1987, hal. 428-429; an-Nabhâni, Nidhâm al-Hukm, Dâr al-Ummah, Beirut, cet. VI, 2002, hal. 192.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.