Kehujjahan Qiyas Sebagai Dalil Syara

Kehujjahan Qiyas Sebagai Dalil Syara

Kehujjahan Qiyâs sebagai Dalil Syara – Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya (baca: Qiyas dalam Islam), dijelaskan bahwa Qiyas yang bisa diterima adalah Qiyas yang ‘illat-nya dinyatakan dalam dalil.

Dengan demikian, fakta Qiyas ini sama dengan dalil yang menyatakan ‘illat. Jadi, dasar hukumnya kembali kepada dalil yang mengemukakan ‘illat-nya, sehingga bisa berbentuk al-Qur’an, as-Sunnah maupun Ijma’ Sahabat.

Rukun Qiyas

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa qiyâs adalah dalil syara’ yang terdiri dari empat pilar utama:

1. al-Ashl: Kasus yang menjadi sumber, sandaran atau pijakan qiyâs (al-muqayyas ‘alayh). Dalam hal ini, hukum asal –yang menjadi pijakan Qiyas– haruslah hukum syara’ dengan dalil dari al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma’ Sahabat. Dalil yang menyatakan hukum asal tersebut bukan dalil yang juga menjelaskan derivatnya.

Hukum asal juga harus menjelaskan ‘illat secara sepesifik, tidak kabur. Hukum asal juga tidak boleh muncul kemudian dibanding hukum derivatnya. Hukum asal juga tidak dimodifikasi dari ketentuan Qiyas.

2. al-Far’u: Kasus yang akan dianalogikan atau disandarkan kepada ashl (al-muqayyas). Dalam hal ini, hukum furû’ (derivat) tidak dinyatakan dengan jelas (mu’âradh râjih), yang menuntut ditolaknya sesuatu yang ditetapkan oleh ‘illat.

Dengan kata lain, ia tidak dinyatakan dalam kasus asal. ‘Illat yang ada di dalamnya sama-sama dimiliki ‘illat al-Ashl. Hukum derivat juga tidak dinyatakan secara eksplisit (manshûsh ‘alayh) dalam kasus asal. Hukum derivat tidak mendahului hukum asal.

3. Hukm syara’ pada al-ashl: Hukum syara’ yang secara spesifik melekat pada kasus asal (al-muqayyas alayh);

4. ‘Illat: Sifat yang mengikat (sifât mundhabithah), yang menyatukan antara kasus asal –yang dijadikan pijakan analogi (al-muqayyas ‘alayh)– dengan derivat (al-muqayyas). Jenis ‘illat tersebut harus syar’i, atau dinyatakan dalam nash dengan sharâhah (jelas), dalâlah (indikasi), istinbât (hasil penggalian dari nash) atau qiyâs (analogi), bukan ‘illat rasional atau tidak bersandar pada nash.

‘Illat juga bukan hukum syara’ itu sendiri, karena jika demikian tidak akan mempunyai konotasi sebagai penyebab disyariatkannya hukum. Juga harus bersifat muta’add[in] (mencakup banyak aspek), tidak qâshir (terbatas).[1] Tidak lahir kemudian setelah hukum asal. Harus menjadi sifat yang berpengaruh dan relevan dengan ‘illat.[2]

Sebagai contoh dalam hal ini bisa diajukan kasus hukum wajibnya Khilafah Islam menyiapkan persenjataan mutakhir, seperti nuklir dan senjata berat lainnya untuk menggentarkan musuh diambil dari firman Allah SWT:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. (QS. al-Anfâl: 60)

Dalam hal ini, menyiapkan kekuatan apa saja yang mampu dipersiapkan, seperti menambatkan kuda merupakan kasus al-ashl, sementara hukm al-ashl (hukum yang terdapat dalam kasus asal), yaitu menyiapkan kekuatan apa saja yang mampu dipersiapkan untuk menggentarkan musuh adalah wajib.

Menggentarkan musuh adalah ‘illat-nya, sementara kasus derivat (al-far’) seperti menyiapkan industri berat, senjata biologis, nuklir dan sebagainya adalah kasus yang sama-sama bisa menggentarkan musuh, maka hukum yang berlaku pada kasus asal, juga berlaku dalam kasus derivat tersebut.

Ragam ‘Illat dan Cara Menetapkannya

Karena kehujjahan Qiyas di atas kembali kepada substansi ‘illat-nya, baik dari sumber al-Qur’an, as-Sunnah maupun Ijma’ Sahabat, maka dalil ‘illat-lah yang sesungguhnya menentukan apakah Qiyas tersebut syar’i atau tidak. Dengan demikian, pembahasan mengenai dalil ‘illat, atau bagaimana ‘illat tersebut diambil dari dalil, yang sekaligus menunjukkan ragamnya, merupakan pembahasan yang sangat penting dalam pembahasan Qiyas. Dalam hal ini, hanya ada empat model dan cara menetapkannya:

1) ‘Illat Sharâhah

‘Illat Sharâhah adalah ‘illat yang dinyatakan dalam nash yang bisa difahami melalui lafadz: Min ajli atau Li ajli dan sejenisnya. Contoh sabda Nabi saw. yang menyatakan:

إِنَّمَا جُعِلَ الاِسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ

Ditetapkannya meminta izin (sebelum masuk rumah orang lain) semata-mata untuk menjaga pandangan mata (HR. Bukhâri dari Sahal bin Sa’ad)

Ada juga yang menggunakan huruf-huruf ‘illat, seperti: Kay, Li, Dzâlika bianna dan sebagainya. Contoh firman Allah SWT:

مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لاَ يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. (QS. al-Hasyr: 7)

Juga firman Allah:

لِكَيْ لاَ تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلاَ تَفْرَحُوا بِمَا أتاَكُمْ

Supaya kalian tidak berduka terhadap apa yang hilang darimu, dan tidak bangga dengan apa diberikan kepadamu. (QS. al-Hadîd: 23)

Atau firman Allah:

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَمَنْ يُشَاقِقِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Itu karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya. (QS. al-Anfâl: 13)

Semuanya ini merupakan contoh bentuk ‘illat Sharâhah yang bisa difahami dari beberapa lafadz dan huruf ‘illat.

2) ‘Illat Dalâlah

‘Illat Dalâlah adalah ‘illat yang dinyatakan dalam nash yang bisa difahami melalui beberapa indikasi, antara lain: îmâ’ wa at-tanbîh (sinyal dan peringatan), yang diambil dari implikasi lafadz (lâzim al-lafdh), atau Dalâlah al-Iltizâm. Dengan kata lain, ‘illat tersebut diambil dari mafhûm (konotasi kontekstual) bukan manthûq (konotasi tekstual).

Karena itu, ada perbedaan antara ‘illat Sharâhah dan Dalâlah. ‘Illat Sharâhah bisa diambil dari lafadz, sementara ‘illat Dalâlah tidak, tetapi diambil berdasarkan sinyal atau konteks dan indikasi yang ada.[3] Dalam hal ini, setidak-tidaknya ada empat model:

1. Menggunakan perangkat yang asalnya tidak mempunyai konotasi ‘illat, namun kemudian mempunyai konotasi demikian setelah difahami melalui implikasi lafadz (lâzim al-lafdh), atau mafhûm. Antara lain, bisa difahami melalui huruf Fâ’ at-Ta’qîb (berkonotasi akibat). Misalnya:

مَنْ أَحْيَا أَرْضًا مَيْتَةً فَهِيَ لَهُ

Siapa saja yang menghidupkan tanah mati, maka tanah itu adalah miliknya (HR. at-Tirmîdzi)

Atau firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. al-Hujurâ: 6)

Dalam kasus hukum tanah di atas, dijelaskan oleh nash sebagai implikasi dari lafadz sebelumnya, yaitu: Man ahyâ ardh[an] maytat[an] (Siapa saja yang menghidupkan tanah mati). Artinya, frasa ini merupakan sinyal (îmâ’) bagi hukum kepemilikan tanah, dimana hukum tersebut merupakan akibat dari usaha seseorang yang menghidupkan tanah mati tadi. Sama dengan kasus pengecekan informasi (tabayyun), yang dijelaskan oleh nash sebagai implikasi dari lafadz: In jâ’akum fâsiq[un] bi naba'[in] (Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita).

2. Jika hukum syara’ dinyatakan oleh pembuat syariat bersamaan dengan sifat yang relevan (washfun munâsib) dengan hukum tersebut. Contoh hukum melakukan pengecekan informasi, dinyatakan bersamaan dengan sifat pembawa beritanya: Fâsiq. Antara pengecekan informasi dengan karakter pembawa berita yang fasik tersebut jelas relevan. Karena itu, bisa dikatakan bahwa disyariatkannya hukum pengecekan berita tadi merupakan implikasi dari karakter pembawa beritanya yang fasik.

3. Jika hukum syara’ dinyatakan sebagai jawaban atas pertanyaan tertentu. Jika pertanyaan tersebut bukan merupakan ‘illat-nya, tentu baik secara syar’i maupun bahasa, sangat jauh.

Contoh: Saya mendengar Rasulullah saw. ditanya mengenai pembelian kurma kering dengan korma basah, maka beliau bertanya kepada orang di sekitarnya: ‘Apakah korma basah itu akan berkurang (beratnya) jika ia kering?’ Mereka menjawab: ‘Benar.’ Maka, beliau melarang hal itu. (HR. at-Tirmîdzi dari Sa’ad)

Pertanyaan Rasul: Ayanqush[u] ar-ruthab[u] idzâ yabis[a] yang dijawab para sahabat dengan: na’am itu membawa implikasi hukum larangan Beliau saw. terhadap transaksi jual-beli kurma kering dengan kurma basah. Maka, bisa disimpulkan, bahwa larangan tersebut muncul karena terjadinya penyusutan pada kurma basah, dimana terjadinya penyusutan tersebut menjadi ‘illat larangan hukum jual-beli seperti ini.

4. Jika pembuat syariat membedakan dua hal yang dinyatakan sebagai hukum dengan sifat tertentu. Misalnya: Rasulullah saw. membagi (harta rampasan) pada saat Perang Khaibar; untuk pasukan penunggang kuda 2 bagian, sedangkan untuk yang jalan kaki 1 bagian. (HR. Bukhâri dari Ibn ‘Umar)

Rasulullah membedakan bagian masing-masing karena perbedaan sifat: Fâris (pasukan penunggang kuda) dan Râjil (pasukan yang jalan kaki), maka sifat tersebut menjadi ‘illat hukum dalam kasus pembagian harta rampasan tersebut.

3) ‘Illat Istinbât

‘Illat Istinbât adalah ‘illat yang dinyatakan dalam nash yang tidak bisa difahami melalui lafadz maupun indikasi, melainkan dengan istinbât setelah melalui komparasi. Misalnya firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاَةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ~ فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum`at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. al-Jumu’ah: 9-10).

Dari perintah meninggalkan jual-beli (wadzarû al-bay’) ketika diseru untuk menunaikan shalat Jum’at (idzâ nûdiya li as-shalât min yawm al-Jumu’ah), diikuti dengan perintah bertebaran di muka bumi dan menjacari rizki Allah (fantasyirû fi al-ardh wabtaghû min fadhli-Llâh), termasuk jual beli, setelah shalat Jum’at selesai (faidzâ qudhiyat as-shalât) bisa ditarik kesimpulan, bahwa ‘illat larangan tersebut karena menganggu shalat Jum’at (ilhâ’ as-shalât).

4) ‘Illat Qiyâs

‘Illat Qiyâs adalah ‘illat yang dinyatakan dalam nash dalam bentuk sifat yang mufhim, yang mempunyai implikasi makna (‘illat) lain, sehingga bisa dianalogikan untuk ‘illat lain. ‘Illat lain inilah yang disebut ‘Illai Qiyâs. Misalnya sabda Nabi:

لاَ يَقْضِيَنَّ حَكَمٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ

Seorang hakim tidak boleh menghakimi perkara di antara dua orang sementara dia dalam keadaan marah. (HR. Bukhâri dari Abû Bakrah)

Larangan Rasul kepada hakim untuk memutuskan perkara di antara dua orang bisa dimengerti dari karakter hakim tersebut, ghadhbân (marah). Karena lafadz: ghadhbân (marah) ini merupakan sifat, yang darinya bisa diambil makna lain, seperti pusing, kondisi tertekan dan sebagainya, dimana: pusing, kondisi tertekan dan sebagainya tadi merupakan ‘illat hasil analogi dari lafadz: ghadhbân (marah), maka pusing, kondisi tertekan dan sebagainya tadi bisa disimpulkan sebagai ‘illat Qiyâs. Hanya saja, ‘illat seperti ini harus memenuhi beberapa syarat:

1. Sifat yang dijadikan sebagai Muqayyas (sandaran Qiyâs) harus berbentuk isim Musytâqq (derivatif), yaitu kata yang bisa dibentuk dari kata dasarnya mengikuti wazn (paradigma) tertentu. Misalnya, lafadz: ghadhbân adalah isim Musytâqq yang dibentuk mengikuti paradigma: fa’lân, dan diambil dari lafadz: ghadhib[a]-yaghdhab[u]-ghadhb[an] yang berarti marah. Bandingkan dengan lafadz: ad-dzahab (emas) dan al-burr (gandum).

Kedua lafadz yang terakhir ini merupakan bentuk isim Jâmid (non-derivatif), yang bukan bentukan dari lafadz lain. Misalnya, Dzahab[a]-yadhhab[u]-dzahb[an] yang berarti pergi, sekalipun huruf pembentuknya sama, dz-h-b tetapi maknanya berbeda. Karena itu, lafadz dzahab (emas) bukan bentukan dari lafadz dzahab[a] (pergi).

2. Sifat tersebut juga harus sifat Mufhim, yang mengindikasikan makna tertentu, dan menjelaskan alasan (ta’lîl).

3. Sifat Mufhim tersebut juga mengindikasikan bentuk ‘illiyyah (sebab-akibat), seperti lapar, kondisi tertekan dan pusing, misalnya, mengakibatkan pikiran kacau, sama seperti marah dan sakit.

Maka, pendapat yang menyatakan bahwa lafadz: adz-dzahab (emas), al-burr (gandum), al-milh (garam) dan lain-lain dalam hadits berikut ini bisa diambil ‘illat Qiyâs­-nya jelas tidak bisa diterima:

الذَّهَبِ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرِّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرِ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرِ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحِ بِالْمِلْحِ إِلاَّ سَوَاءً بِسَوَاءٍ عَيْنًا بِعَيْنٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ ازْدَادَ فَقَدْ أَرْبَى

Jual-beli emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam hanya boleh jika sama, dan barang dengan barang. Maka, siapa saja yang melebihkan atau mendapatkan kelebihan, sesungguhnya telah melakukan riba. (HR. Muslim dari ‘Ubâdah bin Shâmit)

Sebab, lafadz-lafadz di atas adalah isim Jâmid, sehingga tidak bisa menjadi sifat Mufhim yang mengindikasikan ‘illat tertentu, sehingga ribâ al-Fadhl dalam kasus ini hanya berlaku untuk enam kasus di atas.

Baca Juga:

  1. Mashalih Mursalah Sebagai dalil Syara
  2. Istihsan Sebagai Dalil Syara
  3. Syariat Umat Terdahulu Sebagai Dalil Syara

 

Catatan Kaki

[1] Bepergian dan sakit adalah sifat orang yang diberi dispensasi untuk tidak berpuasa, tetapi bukan dispensasi untuk tidak shalat. Ini berarti, bahwa sifat tersebut Qâshir. Berbeda dengan sifat fasik, yang semua informasinya harus dicek, tidak terbatas pada informasi tertentu. Maka, sifat ini bisa dikatakan Muta’add[in]. Lihat, Abû Zahrah, Ushûl al-Fiqh, Dâr al-Fikr al-‘Arabi, t.t., hal. 240.

[2] ‘Atha’ bin Khalîl, Taysîr, hal. 88-93. Lihat juga, Ibn Qudamah al-Maqdisi, Rawdhah an-Nâdhir wa Junnah al-Manâdhir, Dâr al-Kitâb al-‘Arabi, Beirut, cet. I, 1981, hal. 283-291.

[3] Hâfidh, Taysîr, hal. 259. Lihat juga, al-Ghazâli, Syifâ’ al-Ghalîl fi Bayân as-Syubah wa al-Muhîl wa Masâlîk at-Ta’lîl, ed. Hamad al-Kubaysi, Wuzarâ’ al-Awqâf al-‘Iraqiyyah, Baghdad, hal. 106 dan seterusnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.