Kehujjahan Sunnah Sebagai Dalil Syara

Kehujjahan Sunnah Sebagai Dalil Syara

Kehujjahan Sunnah Sebagai Dalil Syara – As-Sunnah merupakan dalil syara’ yang kedua setelah al-Qur’an. Mengenai bukti kehujahannya sebagai dalil syara’ adalah firman Allah:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى

Dan sekali-kali dia tidak mengucapkan dari hawa nafsunya, selain wahyu yang diwahyukan kepadanya. (QS. an-Najm: 3).

Dari sini, Sunnah yang disampaikan oleh Rasul jelas merupakan wahyu dari Allah SWT. Hanya saja, wahyunya terletak pada aspek kandungan dan maknanya, bukan pada lafadznya.

Dalam hal ini, Allah mewahyukannya kepada Nabi, kemudian beliau menyusun sendiri redaksionalnya, baik dalam bentuk lafadz, perbuatan maupun diam beliau. Maka, dengan melihat substansi Sunnah sebagai wahyu, sekalipun tidak dibacakan, karena redaksionalnya disusun sendiri oleh Nabi, membuktikan bahwa Sunnah adalah dalil qath’î, yang membuktikan bahwa ia benar-benar bersumber dari Allah.

Disamping itu, Allah juga berfirman:

وَمَا أتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا

Dan apa yang disampaikan oleh Rasul kepada kalian, maka ambillah; sementara apa yang dicegahnya terhadap kalian, maka tinggalkanlah. (QS. al-Hasyr: 50).

yang berarti apa saja yang disampaikan oleh Rasul harus diambil. Sedangkan yang disampaikan Rasul itu ada dua, al-Qur’an dan as-Sunnah. Karena itu, as-Sunnah wajib diambil dan diterima, sebagaimana menerima al-Qur’an. Ini juga membuktikan, bahwa kedudukan al-Qur’an dan as-Sunnah, sebagai sama-sama dalil syara’ yang bersumber dari wahyu Allah adalah sama.

Posisi Sunnah Rasulullah SAW terhadap al-Qur’an

Rasulullah saw. sebagai Rasul yang diutus oleh Allah tidak hanya berperan sebagai penyampai apa yang dibacakan kepadanya, tetapi juga berperan untuk menjelaskan apa yang dibacakan kepadanya kepada ummatnya. Sebab, jika tidak manusia bisa mempunyai berbagai penafsiran terhadap apa –yang dibacakan kepada Nabi– yang disampaikan kepada mereka. Dalam konteks inilah, Allah SWT. berfirman:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (QS. an-Nahl: 44).

Karena itu, as-Sunnah mempunyai posisi strategis terhadap al-Qur’an, yaitu sebagai penjelasan. Fungsi penjelasan tersebut bisa dideskripsikan sebagai berikut:

1. Tafshîl al-Mujmal, yaitu mendeskripsikan keglobalan al-Qur’an. Dalam hal ini, bisa dicontohkan, ketika Allah SWT. memerintahkan shalat dalam al-Kitab, Allah menyatakannya tidak secara deskriptif (ghayr mufashshal).

Misalnya, kapan waktunya, apa syarat dan rukunnya, berapa jumlah rakaatnya? Semuanya inilah yang kemudian dideskripsikan oleh as-Sunnah. Dalam konteks ini, Rasulullah saw. bersabda:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمْوْنِي أُصَلِّي

Shalatlah kamu seperti melihat aku shalat. (HR. Bukhâri dari Mâlik).

2. Takhshîsh al-‘Am, yaitu menspesifikasikan keumuman al-Qur’an. Dalam hal ini, al-Qur’an telah menyatakan seruan hukum secara umum, seperti ‘iddah (masa tangguh) seorang istri yang ditinggal mati suaminya adalah 4 bulan 10 hari, sebagaimana firman Allah:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber`iddah) empat bulan sepuluh hari. (QS. al-Baqarah: 234).

Lafadz: Azwâj (isteri-isteri) adalah bentuk jamak Taktsîr dan nakirah (indefinitif), sehingga bisa berarti umum, meliputi hamil dan tidak. Namun, keumumannya kemudian dispesifikkan untuk kasus wanita yang tidak hamil, sementara bagi wanita hamil tidak berlaku 4 bulan 10 hari.

Ini berdasarkan hadits Subay’ah al-Aslamiyyah ketika melahirkan setengah bulan setelah ditinggal wafat suaminya, kemudian dia hendak dipinang oleh dua orang, kemudian Rasulullah saw. menyatakan bahwa Subay’ah telah terbebas dari ‘iddah.[1]

3. Taqyid al-Muthlaq, yaitu mengikat kemutlakan al-Qur’an. Dalam hal ini, al-Qur’an telah menyatakan seruan hukum secara mutlak, sebagaimana firman Allah:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا

Pencuri laki-laki dan pencuri wanita, maka potonglah tangan keduanya (QS. an-Mâidah: 38).

Lafadz: as-Sâriq wa as-sâriqah (pencuri laki-laki dan wanita) adalah lafadz mutlak, sehingga semua kasus pencurian masuk dalam konteks ini, sehingga semuanya wajib dipotong. Namun, Nabi bersabda:

الْقَطْعَ فِي رُبُعِ دِينَارٍ فَصَاعِدًا

Potong tangan itu berlaku untuk (kasus pencurian) seperempat dinar lebih (HR. at-Tirmîdzi).

telah mengikat kemutlakannya, dari tanpa batas, menjadi terbatas dalam kasus pencurian seperempat dinar atau lebih.

4. Ilhâq Far'[in] min Furû’ al-Ahkâm bi ashlih, yaitu mengikutkan salah satu derivat hukum dengan pokoknya yang terdapat dalam al-Qur’an. Dalam hal ini, al-Qur’an telah menyatakan seruan hukum asal, seperti firman Allah:

وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الأُخْتَيْنِ

Dan (diharamkan bagi kamu) menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara. (QS. an-Nisâ’: 23).

Ayat tersebut tidak merinci derivat “dua perempuan yang bersaudara”, namun hadits kemudian merinci derivat hukum asal “dua perempuan yang bersaudara” tersebut dengan: perempuan dengan bibi (dari bapak)-nya, dengan bibi (dari ibu)-nya, dengan keponakan (dari saudara laki-laki)-nya dan dengan keponakan (dari saudara perempuan)-nya. Sabda Nabi:

لاَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ عَلَى عَمَّتِهَا وَلاَ الْعَمَّةُ عَلَى بِنْتِ أَخِيهَا وَلاَ الْمَرْأَةُ عَلَى خَالَتِهَا وَلاَ الْخَالَةُ عَلَى بِنْتِ أُخْتِهَا

Wanita tidak boleh dinikahi bersama-sama dengan bibi (dari bapak)-nya, bibi dengan keponakan (dari saudara laki-laki)-nya, wanita dengan bibi (dari ibu)-nya, juga bibi dengan keponakan (dari saudara perempuan)-nya. (HR. Abû Dâwûd dari Abû Hurayrah).

Macam-macam Sunnah dalam Islam

Secara umum ragam as-Sunnah, bisa diklasifikasikan berdasarkan dua aspek: Pertama, aspek kuantitas pembawa (adad naqlah)-nya, dan kedua, aspek kualitas (kayfiyyah naqlah)-nya.

1) Dari Aspek Kuantitas Pembawanya

Dari aspek kuantitas pembawanya, as-Sunnah, Hadits atau al-Khabar bisa diklasifikasikan menjadi:

1. Hadits Mutawâtir: Hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah orang, yang biasanya mustahil sepakat berdusta, dari sejumlah orang yang sama mulai dari sanad pertama hingga terakhir. Hadits tersebut, untuk bisa disebut Mutawâtir, harus memenuhi empat syarat:

(1) Jumlahnya harus banyak, sehingga bisa disebut sejumlah orang (al-jam’). Mengenai jumlahnya, minimal lima orang. Sebab, jika kurang dari lima, sebut saja empat orang, maka mereka bisa ditolak oleh hakim ketika keadaan mereka tidak diketahui. Ini sebagaimana yang terjadi dalam kesaksian zina.

(2) Biasanya mustahil berdusta. Kebanyakan tergantung pada orang dan tempat. Lima orang seperti ‘Alî bin Abî Thâlib, misalnya, pasti sudah cukup agar riwayatnya disebut Mutawâtir. Padahal, bisa jadi bagi yang lain tidak cukup. Lima orang dari wilayah yang berbeda yang belum pernah ketemu, bisa jadi cukup untuk menjadi Mutawâtir, sementara jumlah yang sama dalam wilayah yang sama belum tentu cukup untuk disebut Mutawâtir.

(3) Diriwayatkan dari orang sejenis dengan mereka mulai awal hingga akhir, yang biasanya mustahil mereka berdusta. Ini berlangsung pada tiga level; generasi sahabat, tabiin dan murid-murid tabiin. Sebab, selain dari zaman ketiganya tidak dijadikan pertimbangan dalam periwayatan hadits.

(4) Sandaran terakhir sanad paling akhir adalah penginderaan, bukan dengan akal, seperti sami’tu (saya mendengar).[2]

Sebagai contoh adalah sabda Nabi saw. yang menyatakan: Saya mendengar Nabi saw. bersabda, bahwa dusta terhadapku tidak sama dengan dusta terhadap seseorang. Siapa saja yang berdusta terhadapku dengan sengaja, maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya dari api neraka. (HR. Bukhâri dan Muslim).

Menurut al-Irâqi, sebagaimana yang diceritakan oleh an-Nawawi, hadits ini diriwayatkan oleh 200 sahabat.[3] Dalam hal ini, dari aspek sumber (tsubût)-nya, hadits Mutawâtir statusnya adalah qath’i, dan wajib dipergunakan.

2. Hadits Ahâd: Hadits yang diriwayatkan oleh satu, dua orang atau lebih yang tidak memenuhi syarat Mutawâtir. Jika hadits tersebut memenuhi syarat untuk diterima sebagai hadits sahih, maka wajib dipergunakan.[4]

(1) Hadits Gharib: Hadits yang hanya diriwayatkan oleh satu orang pada level manapun terjadinya periwayatan tersebut. Contoh:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niatnya. (HR. Bukhâri dan Muslim).

Hadits ini hanya diriwayatkan oleh ‘Umar bin al-Khaththâb, dan tidak diriwayatkan oleh sahabat yang lain.[5]

(2) Hadits ‘Aziz: Hadits yang hanya diriwayatkan oleh dua orang, sehingga tidak diriwayatkan kurang dari dua orang dari dua orang. Contoh sabda Nabi saw. yang menyatakan:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu, hingga aku lebih dicintainya ketimbang orang tua dan anaknya. (HR. Bukhâri dan Muslim).

Hadits ini diriwayatkan Syu’bah dan Sa’îd dari Qatâdah dari Anash dari Nabi saw. [6]

(3) Hadits Masyhur: Hadits yang diriwayatkan secara bersama-sama oleh tiga orang atau lebih dari seorang syaykh. Contoh sabda Nabi:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang Muslim adalah kaum Muslim yang selamat dari lisan dan tangannya (HR. Bukhâri).

Hadits ini Masyhûr di kalangan ahli hadits, fiqih, ushul dan lain-lain.[7]

2) Dari Aspek Kualitas Pembawanya

Dari aspek kualitas pembawanya, as-Sunnah, Hadits atau al-Khabar tersebut bisa diklasifikasikan menjadi:

1. Hadîts Shahîh: Hadits yang matarantai (isnâd)-nya bersambung melalui penukilan orang adil yang kuat hafalan (dhâbith) dari orang adil yang kuat hafalan (dhâbith) hingga terakhir, serta tidak Syâdzdz (terdapat perbedaan riwayat antara orang yang terpercaya [tsiqqah] dengan yang lebih terpercaya [awtsaq]) dan Mu’allal (yang terdapat cacat di dalamnya). Hadits sahih wajib dipergunakan, dan siapa saja yang menolaknya dihukumi Fâsik.

2. Hadîts Hasan: Hadits yang dikelurkan oleh orang yang dikenal luas, dengan tokoh-tokoh (rijâl) periwayatan yang populer. Artinya, di dalam matarantai (isnâd)-nya tidak ada orang yang dituduh berdusta, serta tidak Syâdzdz (terdapat perbedaan riwayat antara orang yang terpercaya [tsiqqah] dengan yang lebih terpercaya [awtsaq]). Dalam hal ini ada dua macam:

(1) Hadits yang tokoh isnâd-nya tidak terlepas dari orang yang tidak diketahui kelayakannya, namun dia tidak pelupa, banyak salah dan tidak dituduh berdusta. Di sisi lain, redaksi haditsnya juga diriwayatkan oleh yang lain, sehingga ia terhindar dari Syâdzdz.

(2) Hadits yang diriwayatkan oleh para perawi yang terkenal dengan kejujuran dan amanahnya, namun belum mencapai level tokoh periwayatan hadits sahih, baik dari aspek hafalan dan atau keterpercayaan.

Hadits hasan juga bisa dipergunakan sebagai hujah, seperti halnya hadits sahih.

3. Hadîts Dha’îf: Hadits yang di dalamnya tidak terkumpul sifat-sifat hadits sahih dan juga hasan. Hadits seperti ini, secara mutlak tidak bisa digunakan sebagai hujah.

(1) Hadîts Mu’allaq: Hadits yang salah seorang perawinya atau lebih gugur secara berurutan dimulai dari sanad pertama. Dalam hal ini, termasuk hadits yang seluruh sanad-nya dibuang oleh ahli hadits atau pengarang kitab. Contoh, ketika pengarang kitab mengatakan:  “Rasulullah saw. bersabda begini.”

Contoh lain, seperti yang keluarkan oleh Bukhâri dalam mukaddimah bab yang menyatakan tentang paha:  Abû Mûsa berkata: ‘Nabi saw. telah menutup lututnya ketika Utsmân masuk (HR. Bukhâri).

Hadits ini merupakan hadits Mu’allaq, karena Bukhâri telah membuang semua sanad-nya kecuali sahabat, Abû Mûsa. Hadits seperti ini merupakan salah satu bentuk hadits dha’îf, karena kondisi perawinya tidak diketahui. Hanya saja, kasus ini dikecualikan dari kitab Shahîhayn (Bukhâri-Muslim). Alasannya, karena baik Bukhâri maupun Muslim tidak menyebutkan sanad-nya hanya untuk meringkas, supaya tidak terjadi pengulangan.[8]

(2) Hadîts Mu’dhall: Hadits yang dua perawinya atau lebih gugur dari matarantai periwayatan (isnâd) secara berurutan, dimulai dari pertengahan sanad, bukan yang pertama. Contoh, hadits yang diriwayatkan oleh al-Hâkim dengan sanad dari al-Qan’abi dari Mâlik, bahwa beliau telah menyampaikan kepadanya, bahwa Abû Hurayrah berkata:

لِلْمَمْلُوْكِ طَعَامُهُ وَكُسْوَتُهُ بِالْمَعْرُوْفِ، وَلاَ يُكَلَّفُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا يُطِيْقُ

Budak sahaya yang dimiliki berhak mendapatkan makanan dan pakaiannya dengan baik, dan tidak boleh dibebani pekerjaan kecuali apa yang mampu. (HR. Hâkim).

Hadits ini merupakan hadits Mu’dhall karena dua perawinya secara berurutan telah gugur, yaitu antara perawi Mâlik dan Abû Hurayrah.[9]

(3) Hadîts Munqathi’: Hadits yang satu perawinya atau lebih gugur dari isnâd secara tidak berurutan, di satu tempat atau lebih. Hadits ini berbeda dengan Mu’dhall, karena perawi yang hilang dari matarantai tersebut tidak berurutan. Contoh hadits yang diriwayatkan oleh Abd ar-Razzâq dari ats-Tsawri dari Abî Ishâq, dari Zayd bin Yutsay’ dari Hudazyfah:

إنْ وَلَّيْتُمُوْهَا أبَا بَكْرٍفَقَوِيٌّ أَمِيْنٌ

Jika kamu menyerahkan urusan itu kepada Abû Bakar, maka dia adalah orang yang kuat dan terpercaya.

Dari matarantai hadits tersebut telah gugur di tengah-tengahnya seorang perawi, Syuraik, antara ats-Tsawri dengan Abî Ishâq.[10]

(4) Hadîts Syâdzdz: Hadits yang diriwayatkan oleh orang tsiqqah yang bertentangan dengan apa yang diriwayatkan oleh kebanyakan orang. Contoh hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmîdzi, an-Nashâ’i dan Ibn Mâjjah dari Ibn ‘Uyaynah dari ‘Amr bin Dînâr, dari ‘Awsajah dari Ibn ‘Abbâs: Bahwa seorang laki-laki telah meninggal dunia pada zaman Rasulullah saw. sementara dia tidak meninggalkan seorang ahli waris, kecuali budak yang telah dia merdekakan.

Hammâd bin Zayd telah meriwayatkan melalui jalur yang berbeda. Dia meriwayatkan dari ‘Amr bin Dînâr dari Awsajah, tanpa menyebut Ibn ‘Abbâs. Menurut Abû Hâtim, Hammâd adalah orang yang adil dan kuat hafalan, namun Abû Hâtim lebih menguatkan riwayat orang yang jumlahnya lebih banyak daripada Hammâd.[11] Namun, bukan merupakan hadits Syâdzdz jika hadits tersebut diriwayatkan oleh orang tsiqqah tetapi tidak diriwayatkan yang lain. Karena yang terakhir ini tetap diterima, sekalipun tidak diriwayatkan oleh orang lain.

(5) Hadîts Mu’allal: Hadits yang di dalamnya terdapat cacat, yang bisa menyebabkan kesahihannya ternodai, padahal secara eksplisit hadits tersebut selamat dari cacat tadi. Contoh hadits:

اَلْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ

Pembeli dan penjual berhak melakukan pilihan (antara meneruskan dan meninggalkan jual-beli).

Secara eksplisit hadits ini sahih. Hanya saja, Abû Ya’lâ telah melakukan kesalahan, ketika menyangka Abdullâh bin Dînâr dengan menyebut ‘Amr bin Dînâr. Kesalahan ini merupakan ‘illat (cacat), meskipun masing-masing orang tersebut sama-sama tsiqqah. Jadi ‘illat-nya terletak pada kesalahan “ucap” atau “tulis” sanad. Mestinya Abdullah dinyatakan ‘Amr.[12]

(6) Hadîts Munkar: Hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi yang tidak tsiqqah. Contoh hadits yang dikeluarkan oleh an-Nashâ’i dan Ibn Mâjjah, dari Abû Zukayr Yahyâ bin Muhammad bin Qays dari Hisyâm bin ‘Urwah dari bapaknya dari A’isyah:

كُلُوْا البَلْحَ بِالتَّمْرِ فَإِنَّ ابْنَ آدَمَ أَكْلَهُ غَضِبَ الشَّيْطَانُ

Makanlah kamu sekali kurma muda, karena ketika anak Adam (manusia) memakannya, syetan pasti marah.

Menurut an-Nashâ’i, hadits ini Munkar dan hanya diriwayatkan oleh Abû Zukayr. Beliau sebenarnya guru yang saleh, dimana Muslim telah mengeluarkan haditsnya dalam kitab Mutâbi’ât, namun beliau belum sampai pada tingkat orang dimana kesendiriannya bisa mempunyai kemungkinan (diterima).

(7) Hadîts Mursal: Hadits yang diriwayatkan dengan melompati salah satu perawi atau lebih dari matarantai periwayatan yang terakhir. Kadangkala yang dilompati adalah sahabat, sehingga disebut Mursal Shahabî, dan kadangkala yang dilompasti adalah tabiin dan sahabat sekaligus, sehingga disebut Mursal Tâbiîn.

Masing-masing hadits Mursal tersebut mempunyai hukum yang berbeda, sebab ada perbedaan antara kualitas sahabat dan non-sahabat. Dengan prinsip: Kullu as-shahâbah ‘udûl (semua sahabat adalah adil), maka ketika sahabat tidak dinyatakan dalam matarantai periwayatan tersebut, tetap status hadits tersebut adalah hadits yang disampaikan oleh orang yang adil.

Ini sesuai dengan prinsip periwayatan: al-‘ibrah fi ar-riwâyat bi ats-tsiqqah wa al-yaqîn, wa lâ hujjat[an] bi al-majhûl (yang dinilai dalam periwayatanan adalah aspek keterpercayaan dan keyakinan, bukan berhujah dengan orang yang tidak jelas). Karena itu, Mursal Shahâbî tetap merupakan hadits sahih, dan bisa dipergunakan.

Berbeda dengan Mursal Tâbi’în, yang jika tidak disebutkan siapa orangnya, maka jaminan keadilannya tidak bisa diberikan. Karena itu, Mursal Tâbi’în merupakan hadits dha’îf, dan tidak bisa digukanan untuk menjadi hujah.[13]

(8) Hadîts Mawdhu’: Hadits palsu dan buatan.

3) Dari Aspek Sanad Paling Akhir

Dari aspek rangkaian sanad paling akhir, as-Sunnah, Hadits atau al-Khabar tersebut bisa diklasifikasikan menjadi:

1. Hadits Marfû’: Hadits yang secara spesifik telah disandarkan kepada Nabi saw. baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, pengakuan (legalitas) atau sifat. Misalnya, pernyataan sahabat yang mengatakan: Kunnâ naf’al[u] kadzâ fî hayât Rasulillâh (Kami pernah melakukan begini ketika Rasul masih hidup), atau seperti pernyataan Jâbir ra.:

كُنَّا نَعْزِلُ وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ

Kami pernah melakukan ‘azl ketika al-Qur’an masih turun (Rasulullah masih hidup) (HR. Bukhâri).

Juga merupakan hadits Marfû’ adalah penafsiran sahabat mengenai sebab turunnya al-Qur’an, meskipun selain itu, seperti tafsir ayatnya sendiri, adalah bukan hadits Marfû’.

2. Hadits Mawqûf: Hadits yang diriwayatkan dari sahabat, baik berupa kata-kata maupun perbuatan. Inilah yang disebut oleh kebanyakan ahli fiqih dan hadits dengan sebutan Atsâr as-shahâbah. Contoh pernyataan perawi hadits yang mengatakan, bahwa ‘Alî bin Abî Thâlib ra. berkata:

حَدِثُوْا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُوْنَ أَتُرِيْدُوْنَ أنْ يُكَذَّبُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ

Sampaikanlah kepada orang apa yang bisa mereka fahami. Apakah kamu ingin jika Allah dan Rasul-Nya didustakan? (HR. Bukhâri)

3. Hadits Maqthû’: Hadits yang terhenti sampai tabiin, baik dalam bentuk kata-kata maupun perbuatan. Ini tidak bisa dijadikan sebagai hujah, dan merupakan hadits Mawqûf yang paling lemah. Contoh pernyataan al-Hasan al-Bashri mengenai shalat di belakang ahli bid’ah:

صَلِّ وَعَلَيْهِ بِدْعَتُهُ

Shalatlah, (mengenai dia) kepadanya (akan ditimpakan balasan) bid’ahnya.

Status Hadits yang Diriwayatkan Secara Kontekstual

Hadits yang diriwayatkan secara kontekstual (bi al-ma’nâ), bukan tekstual (bi al-lafdzî) statusnya tetap sah. Alasannya, karena status lafadz hadits berbeda dengan al-Qur’an, yang bernilai ibadah ketika dibaca. Juga karena yang merupakan wahyu adalah maknanya, bukan teksnya.

Hanya saja, perawi hadits tersebut disyaratkan harus mengusai apa yang dikandung oleh maknanya. Jika tidak, maka dia tidak boleh meriwayatkannya secara kontekstual. Ini berdasarkan hadits Nabi dari Sulayman bin Aktimah al-Laytsi, yang menyatakan:

ياَ رَسُوْلَ اللهِ إِنيِّ لاَ أَسْمَعُ ِمنْكَ الْحَدِيْثَ لاَ أَسْتَطِيْعُ أنْ أًؤَدِّيْهِ كَمَا أَسْمَعَ مِنْكَ يَزِيْدُ حَرْفًا أًوْ يَنْقُصُ حَرْفًا؟ فَقَالَ: إِذَا لَوْ تُحِلُّوْا حَرَامًا وَلاَ تُحَرِّمُوْا حَلاَلاً وَأَصَبْتُمُ الْمَعْنَى فَلاَ بَأْسَ

Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya tidak mendengar langsung hadits darimu, sehingga saya tidak bisa menyampaikannya seperti yang saya dengarkan langsung darimu, bisa jadi bertambah satu huruf atau berkurang satu huruf. Beliau bersabda: Jika kamu tidak sampai menghalalkan yang haram, dan mengharamkan yang halal, dan kamu menguasai maknanya dengan benar, maka tidak ada masalah. (HR. at-Thabrâni)

Status Hadits yang Diriwayatkan Firqah Islam

Para sahabat telah mendorong agar bersikap hati-hati terhadap orang yang menjadi sumber hadits. Abî Sakînah Mujâsyi’ bin Fathînah berkata: Saya mendengar ‘Alî bin Abî Thâlib berkata:

انْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ هَذَا الْعِلْمَ فَإِنَّمَا هُوَ الدِّيْنُ

Perhatikanlah dari siapa kamu mengambil ilmu ini, karena ia tidak lain adalah agama itu sendiri.[14]

Pada zaman sahabat, orang belum bertanya mengenai isnâd, namun setelah terjadi fitnah Kubra, yang melibatkan pembunuhan ‘Utsmân bin ‘Affân, hingga terjadi Perang Shiffîn, dan lahirnya firqah Syî’ah, Khawârij dan Murji’ah, maka upaya tersebut mulai dilakukan. Karena, setelah insiden tersebut firqah- firqah tadi telah memeluk pandangan baru.

Para pengikut firqah-firqah ini kemudian mengklaim, bahwa pandangan mereka diambil dari nash-nash syara’ sehingga menjadi pandangan Islam. Ketika tidak ada dalam nash, maka mereka juga tidak segan-segan melakukan pemalsuan hadits dan menyandarkannya kepada Rasul saw. Pandangan-pandangan ini kemudian disebut Bid’ah, sementara yang membawa disebut Mubtadi’ah.

Akibatnya, pandangan dan hadits dari mereka menjadi obyek penelitian dan pembahasan. Dalam hal ini harus ada klasifikasi: Pertama, ahli bid’ah yang –karena bid’ahnya– dikafirkan, maka riwayatnya harus ditolak. Kedua, jika tidak sampai dikafirkan, namun menghalalkan berbohong, maka harus ditolak juga.

Jika tidak menghalalkan berbohong, harus diperhatikan: Jika dia mengajak pada firqah atau mazhabnya, maka harus ditolak, dan informasinya tidak boleh digunakan sebagai hujah. Namun, jika tidak mengajak kepada mazhabnya boleh.

Jadi, setiap orang Islam yang memenuhi kualifikasi riwayatnya diterima, misalnya adil dan kuat hafalan­, maka riwayatnya bisa diterima, tanpa melihat mazhab dan firqah-nya, kecuali jika dia mengajak kepada kelompok atau firqah-nya, maka pada saat itu tidak boleh diterima.

Namun, ketika dia menyeru kepada Islam, menjelaskan pemikiran Islam yang diadopsinya dengan dalil, maka riwayatnya bisa diterima. Sebab, ketika itu dia menyeru kepada Islam, dan karena itu riwayatnya tidak boleh dicacatkan.

Mengikuti Rasul dalam Urusan yang Berasal darinya

As-Sunnah merupakan argumentasi (hujjah) yang harus diikuti. Demikian juga, as-Sunnah harus diikuti sesuai dengan ketentuan yang dikemukakannya, baik yang menuntut dilaksanakan secara pasti atau tidak, ataupun yang memberikan pilihan, termasuk yang menuntut agar sesuatu ditinggalkan secara pasti atau tidak.

Ittibâ’ Rasûl (mengikuti Rasul) artinya melaksanakan aktivitas persis seperti aktivitas Rasul saw. (mumâtsalah) dan dilaksanakan karena Rasul (min ajlih). Dengan kata lain, mengikuti Beliau saw. sesuai dengan ketentuan aktivitasnya, apakah pasti atau tidak. Mengikuti Rasul dalam konteks seperti ini hukumnya adalah wajib.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah, jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, pasti Allah akan mencintai kalian serta mengampuni dosa-dosa kalian. (QS. Ali Imrân: 31).

Ittibâ’ tersebut wajib mengikuti ketentuannya; jika Rasul memerintahkan perkara fardhu, maka perintah tersebut wajib dilaksanakan, dan jika yang diperintahkan Rasul hukumnya sunnah, maka hukum melaksanakannya juga tidak wajib. Demikian juga hukum syara’ yang lain. Ini berkaitan dengan seruan Rasul kepada kita.

Namun, dalam konteks melakukan apa yang dilakukan oleh Rasulullah (al-qiyâm bi al-fi’l), bisa diuraikan sebagai berikut:

1. Perbuatan Jibiliyyah: perbuatan Rasul yang dilakukan dalam kapasitasnya sebagai manusia biasa, seperti berdiri, duduk, makan, minum dan sebagainya. Perbuatan seperti ini hukumnya mubah, baik bagi Rasul maupun umatnya.

2. Perbuatan Khawwâsh ar-Rasûl: perbuatan yang dilakukan Rasul sebagai kekhususan bagi beliau, yang tidak boleh dilakukan oleh yang lain, seperti kebolehan berpuasa Wishâl (puasa terus-menerus) bagi Rasul, kebolehan menikahi lebih dari empat wanita dan sebagainya, maka perbuatan seperti itu hanya khusus bagi Rasulullah saja, sedangkan umatnya tidak diseru untuk melakukannya.

3. Perbuatan Rasul yang merupakan penjelasan (bayân): Status perbuatan ini –tanpa diperselisihkan– menjadi dalil. Penjelasan tersebut bisa dengan pernyataan yang jelas (sharîh al-maqâlah) seperti sabda Rasul:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّى

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. (HR. al-Bukhâri, Muslim, Ahmad)

Juga sabda Rasul:

خُذُوْا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

Ambilah dariku tata cara haji kalian. (HR. Muslim, an-Nashâ’i).

atau dengan indikasi dalam bentuk prilaku tertentu (qarâ’in al-ahwâl), seperti ketika ada lafadz mujmal atau lafadz umum yang hendak di-takhshîsh dan lafadz muthlaq yang hendak dibatasi (taqyîd), dimana sebelum diperlukan tidak pernah dijelaskan oleh Rasul, kemudian ketika diperlukan Rasul melakukan suatu aktivitas yang layak dijadikan penjelasan. Contohnya seperti memotong tangan kanan pencuri sebagai penjelasan firman Allah:

فَاقْطَعُوْا أَيْدِيَهُمَا

Potonglah kedua tangannya. (QS. al-Mâ’idah: 38).

Demikian juga tayammum Rasul dengan mengusap muka dan kedua pergelangan tangan sebagai penjelasan firman Allah:

فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ

Usaplah wajah kalian dan kedua tangan kalian. (QS. an-Nisâ: 43).

Hukum yang berlaku untuk penjelasan (al-bayân) harus mengikuti hukum yang dijelaskan (al-mubayyan), baik wajib, sunnah atau mubah.

4. Perbuatan Rasulullah selain ketiga bentuk perbuatan di atas. Misalnya seperti dinyatakannya nash yang menuntut dilakukannya aktivitas tertentu, sehingga bisa diartikan semata-mata sebagai tuntutan (thalab), dan membutuhkan qarînah (indikator) yang akan menentukan jenis tuntutan tersebut, apakah pasti (jazm) atau tidak (ghayr jazm), ataukah berupa pilihan (takhyîr).

Dalam hal ini bisa dicontohkan tindakan Rasul melakukan pembinaan (tatsqîf) kepada para sahabat dalam kaitannya dengan pembinaan yang dilakukan oleh sebuah jamaah dakwah. Rasulullah saw. telah melakukan aktivitas tersebut secara terus-menerus, sepanjang hayatnya, dan tidak pernah meninggalkannya.

Tindakan ini merupakan qarînah mudâwamah (indikator kontinuitas), yang menunjukkan bahwa, aktivitas tersebut dituntut untuk dikerjakan dengan tuntutan yang tegas (jâzm), atau wajib. Berbeda ketika beliau melakukan aktivitas, kemudian setelah itu beliau meninggalkannya, maka ini mengindikasikan bahwa aktivitas tersebut tidak wajib, namun sunnah. Seperti kasus qunût shalat Subuh.[15]

Baca Juga:

  1. Kehujjahan Ijma Sebagai Dalil Syara
  2. Kehujjahan Qiyas Sebagai Dalil Syara
  3. Mashalih Mursalah Sebagai dalil Syara

Catatan Kaki

[1] HR. An-Nashâ’i, Kitâb at-Thalâq, hadits no. 3451.

[2] Al-Amidi, al-Ihkâm, juz II, hal. 25; an-Nabhâni, as-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, juz I, hal. 336-337.

[3] Az-Zubaydi, Luqath al-La’âlî al-Mutanâtsirah fi al-Ahâdîts al-Mutawâtirah, Dâr al-Bâz, Makkah, cet. I, 1985, hal. 262.

[4] Al-Khathîb, Ushûl al-Hadîts, Dâr al-Fikr, Beirut, 1989, hal. 302-303.

[5] Al-Khathîb, Ushûl al-Hadîts, Dâr al-Fikr, Beirut, 1989, hal. 362.

[6] Ibid, hal. 362.

[7] Ibid, hal. 362.

[8] Al-Khathîb, hal. 357.

[9] At-Thahhân, Taysîr Musthalah al-Hadîts, Dâr al-Fikr, Beirut, t.t., hal. 62.

[10] Ibid, hal. 64-65.

[11] Ibid, hal. 97.

[12] Ibid, hal. 85.

[13] Ibn Qudâmah, Rawdhat an-Nâdhirîn wa Junnah al-Manâdhir, Dâr al-Kitâb al-‘Arabi, Beirut, cet. I, 1981, hal. 112-113.

[14] Lihat, An-Nabhani, as-Syakhshiyyah, juz I, hal. 333.

[15] HR. Abû Dâwûd, Sunan Abî Dâwûd, hadits no. 1233; ‘Alî Râghib, Ahkâm as-Shalâh, Dâr an-Nahdhah al-Islâmiyyah, Beirut, hal. 59.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.