Ngaji Keutamaan Surah Al-Fatihah dan Artinya

Keutamaan Surah Al-Fatihah

Tongkrongan islami – Jika kita menanyakan, surat apa yang paling diketahui oleh hampir seluruh muslim di dunia, maka tentu saja jawabannya adalah al-Fatihah.

Tidak hanya karena ditempatkan pada urutan pertama dari susunan surat-surat dalam mushaf ustmani, al-fatihah lekat di tengah masyarakat, utamanya untuk muslim Indonesia, karena ia telah mendarah daging dalam tradisi masyarakat pada umumnya.

Bagi kalangan madzhab syafi’I, al-fatihah termasuk surat yang sering dibacakan ketika hendak mengirim do’a kepada orang yang telah meninggal. Jika membuka majelis agama, surat al-Fatihah pun selalu dibaca.

Tapi tahu kah kita, selain dari hal-hal tersebut kenapa surat al-fatihah bisa sangat lekat dengan masyarakat muslim? Di antaranya adalah, karena surat al-Fatihah memiliki banyak keutamaan. Di bawah ini adalah beberpa hal pokok terkait surah al-fatihah.

Surah Al-Fatihah dan Terjemahannya

  1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (1)
  2. Segala puji (2) bagi Allah, Tuhan semesta alam (3)
  3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,
  4. Yang menguasai (4) hari pembalasan (5)
  5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah (6) dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan (7)
  6. Tunjukilah kami (8) jalan yang lurus,
  7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni‘mat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai (Yahudi) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nasrani). (9)

Surat “Al Faatihah” ini melengkapi unsur-unsur pokok syari’at Islam, kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat Al Qur’an yang 113 surat berikutnya. Persesuaian surat ini dengan surat “Al Baqarah” dan surat-surat sesudahnya ialah surat Al Faatihah merupakan titik-titik pembahasan yang akan diperinci dalam surat Al Baqarah dan surat-surat yang sesudahnya.

Di bahagian akhir surat “Al Faatihah” disebutkan permohonan hamba supaya diberi petunjuk oleh Tuhan ke jalan yang lurus, sedang Surat “Al Baqarah” dimulai dengan penunjukan “Al Kitab” (Al Qur’an) yang sempurna sebagai pedoman menuju jalan yang dimaksudkan itu.

(1) Berarti: saya memulai membaca Al Faatihah ini dengan menyebut nama Allah. Tiap-tiap pekerjaan yang baik itu hendaknya dimulai dengan menyebut nama Allah, seperti: makan, minum, menyembelih binatang untuk dimakan dan sebagainya. Allah ialah nama Zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya; yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tetapi makhluk membutuhkan-Nya.

Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu dari nama Allah, yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian, bahwa Allah senantiasa bersifat rahmat yang menyebabkan Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.

(2) Alhamdu (segala puji). Memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakan dengan kemauannya sendiri. Maka memuji Allah berarti: menyanjung-Nya karena perbuatan-Nya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap ni’mat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji kepada Allah ialah karena Allah adalah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.

(3) Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang dita’ati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafazh “rabb” tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan kecuali kalau ada sambungannya, seperti: rabbul-bait (tuan rumah). `Alamin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai-bagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah Pencipta semua alam-alam itu.

(4) Maalik (Yang menguasai), dengan memanjangkan “mim” ia berarti: pemilik (yang empunya). Dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan “mim”) berarti raja.

(5) Yaumiddin (hari pembalasan): hari yang di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa’ dan sebagainya.

(6) Na’budu diambil dari kata ’ibaadat: kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan tentang kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena keyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

(7) Nasta‘iin (minta pertolongan), diambil dari kata isti‘aanah: mengharap bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup diselesaikan dengan tenaga sendiri.

(8) Ihdina (tunjukilah kami), diambil dari kata hidaayat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufiq.

(9) Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

Gambaran Surah al-Fatihah secara Umum

Surat “Al Faatihah” (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat adalah surat yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap di antara surat-surat yang ada dalam Al Qur’an dan termasuk golongan Surat Makkiyyah.

Surat ini disebut “Al Faatihah” (Pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka dan dimulainya Al Qur’an. Dinamakan “Ummul Qur’an” (induk Al Qur’an) atau “Ummul Kitaab” (induk Al Kitaab) karena dia merupakan induk bagi semua isi Al Qur’an, serta menjadi inti sari dari kandungan Al Qur’an dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap shalat. Dinamakan pula “As Sab’ul matsaany” (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam shalat.

Siapa sangka ternyata surat al-Fatihah yang berarti pembuka bukanlah surat yang pertama kali diturunkan Allah swt kepada Nabi Muhammaad saw. Ya…, surat ini dinamakan al-Fatiha karena ia diletakkan di awal mushaf ustmani. Selain dari al-Fatihah sendiri, surat ini memiliki banyak nama, di antaranya ummul kitab, Sab’ al-Matsani, as-Syifa, ummul Qura’an dan al-Hamdu.

Para ulama berbeda pendapat, apakah surat al-fatihah ini bagian dari golongan makkiyah atau kah madaniyyah. Bagi ulama yang berpendapat bahwa ia adalah makkiyah, mereka berdalil  dengan sebuah hadis yang menerangkan bahwa tatkala Rasulullah saw melapor kepada Khadijah tentang apa yang terjadi padanya, Khadijah membawanya kepada Waraqah, ahli kitab yang juga kerabat Khadijah. Nabi saw pun mengatakan padanya

“ketika aku menyendiri, tiba-tiba ada suara yang memanggilku dari belakang “wahai Muhammad, wahai Muhammad, karena itu aku berlali. Namun suara itu menahanku dan menyuruhku mendengar apa yang ia katakan. Ia lalu mendatangiku dan mengatakan, ‘wahai Muhammad, katakanlah “bismillahirrohmanirrohim hingg sampai pada wa laa ad-dhallin.”

Sedangkan para ulama yang berpendapat bahwa al-Fatihah bagian dari surat madaniyyah, mereka berdalil dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:“ Iblis menangis menjerit tatkala diurunkan surat al-Fatihah, dan diturunkan di Madinah”.Hadis ini jelas menyebutkan bahwa surat al-Fatihah tersebut diturunkan di madinah.

Unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi Al Qur’an

1. Keimanan: Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, di mana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas sesuatu ni’mat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala ni’mat yang terdapat dalam alam ini.

Di antara ni’mat itu ialah: ni’mat menciptakan, ni’mat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata “Rabb” dalam kalimat “Rabbul-’aalamiin tidak hanya berarti “Tuhan” dan “Penguasa”, tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan.

Hal ini menunjukkan bahwa segala ni’mat yang dilihat oleh seorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhanlah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan penumbuhan oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat.

Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka di dalam surat Al Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu: Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan).

Yang dimaksud dengan “Yang menguasai hari pembalasan” ialah pada hari itu Allahlah Yang berkuasa, segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap ni’mat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. “Ibadat” yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah, selanjutnya lihat catatan ayat 5 surat Al Faatihah.

2. Hukum-hukum: Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud “hidayah” di sini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai keyakinan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran.

3. Kisah-kisah: Kisah para nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Sebahagian besar dari ayat-ayat Al Qur’an memuat kisah-kisah para nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Yang dimaksud dengan orang yang diberi ni’mat dalam ayat ini, ialah para nabi, para shiddieqiin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa (orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang saleh).

Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat, ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam. Perincian dari yang telah disebutkan di atas terdapat dalam ayat-ayat Al Qur’an pada surat-surat yang lain.

Keutamaan Surat al-Fatihah

  1. Surat al-Fatihah termasuk surat yang paling agung.

Hal ini berdasarkan riwayat  dari Abi Said bin al-Mu’alla R.A. ia menceritakan: “aku pernah shalat, tiba-tiba Rasulullah memanggilku. Panggilan itu tidak aku jawab. Setelah shalat, lalu aku mendatangi beliau. Melihatku, Rasulullah bertanya “apa yang menghalangimu wahai Sai’d untuk menjawab panggilanku?”, “aku sedang shalat ya Rasulullah”. Mendengar jawaban itu, Rasulullah bersabda “belum sampaikah padamu firman Allah swt: :wahai orang-orang yang beriman hendaklah kalian menjawab panggilan Allah dan Rasul-Nya ketika (keduanya) memanggilmu…?

Kemudian Rasulullah saw melanjutkan: “sungguh akan ku beritahukan pada mu se-agung-agungnya surat di dalam al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid. Mengetahui itu, kau lalu memegang tangan Rasulullah ketika beliau hendak keluar dan berkata “wahai Rasulullah sesungguhnya engkau tadi berkata akan memberitahukan kepada ku surat yang paling agung di dalam al-Qur’an. Rasulullah menjawab: iya, dan itu adalah surat al-hamdulillah rabb al-‘Alamin (surat al-Fatihah). Di namakan sab’ul masani dan juga al-Qur’an al-Azhim.

Hadis ini menunjukkan keagungan surat al-Fatihah tersebut. Juga penamaan dari surat al-Fatiha dengan sebutan sab’ al-matsani (tujuh yang diulang-ulang). Disebutkan pula bahwa surat al-Fatihah adalah al-Qur’an al-Azhim karena surat al-Fatihah merupakan ringkasan dari segala makna di dalam al-Qur’an dan juga penjelasan tentang Tauhid Allah.

  1. Al-fatihah adalah Surat yang membawa pembacanya berkomunikasi langsung dengan Allah.

Tentu bagi semua muslim, bertemu dengan Allah swt adalah puncak tertinggi kenikmatan yang hendak kita raih di hari kiamat nanti. Namun demikian, dengan membaca surat al-Fatihah, seorang muslim dengan sendirinya telah berdialog langsung bersama Allah swt. Hal itu berdasarkan hadis Qudsi, di mana Allah berfirman.

“Aku membagi shalat menjadi dua; bagianku dan bagian hambaku. Ketika hambaku membaca al-hamdu lillah rabb al-‘Alamin (segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam), Aku menjawab: Hamadani ‘Abdi (Hambaku telah memuji Ku) ketika hambaku berkata ar-Rahman ar-Rahim (Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), Aku menjawab (Hambaku menyanjung Aku). Ketika Hambaku berkata maaliki yaum ad-din (Allah, penguasa hari pembalasan), Aku berkata majadani ‘abdy (Hambaku memuliakan dan meninggikan Aku)…, ketika hamba ku berkata ihdina as-shirath al-mustaqim, shirath al-lladzina an-‘amta ‘alaihim ghair al-maghdhub ‘alaihim wa laa ad-dhallin), Aku menjawab fa ha’ulaa’ li ‘Abdi wa li ‘abdi ma sa’ala (dan kesemua itu hak hambaKu, dan Aku berikan apa yang diminta oleh mereka).

Hadis ini dengan jelas memberitahukan kita, bagaimana terjadinya percakan secara langsung antara hamba dengan Allah ketika membaca surat al-fatihah.

  1. Sebagai obat dan juga bacaan ruqyah serta untuk memenuhi hajat

Di antara keutamaan surat al-fatihah juga adalah membacanya bisa menjadi obat dan juga sebagai bacaan ruqyah. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudry : “sesungguhnya (al-Fatihah) adalah obat dari seluruh penyakit” dan juga dalam sebuah riwayat dinyatakan “sesungguhnya salah satu bacaan ruqyah dan pengobatan di antaranya  lafal iyyaka nasta’in. dalam sebuah hadis juga dinyatakan bahwa membaca surat al-Fatihah akan membantu seseorang agar dikabulkan permohonannya. Berdasarkan riwayat dari ‘Atha’:

“jika kalian mau dipenuhi hajatnya, maka bacalah fatihah al-kitab sampai selesai. Maka jika Allah berkendak, akan dikabulkan permintaan tersebut.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here