Ilmu Qashash Al-Qur’an: Memahami Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an

Kisah-Kisah dalam Al-Qur'an
Sumber gambar: Hidayatpanuntun.staff.ugm.ac.id

Ilmu Qashash Al-Qur’an: Memahami Kisah-Kisah dalam AL-Qur’an

Oleh: Muh Rusli

 

Manusia dalam hidupnya membutuhkan berbagai macam pengetahuan. Sumber dari pengetahuan tersebut ada dua macam yaitu naqli dan aqli. Sumber yang bersifat naqli ini merupakan pilar dari sebagian besar ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia baik dalam agamanya secara khusus, maupun masalah dunia pada umumnya. Sumber yang sangat otentik bagi umat Islam dalam hal ini adalah Alqur’an dan Hadis Rasulullah saw.[1] Alqur’an mau pun hadis memiliki pengaruh kuat terhadap ummat Islam, bahkan secara khusus, Alqur’an sejak awal abad III H. atau IX M.,fenomena ketidakmampuan manusia menandingi Alqur’an baik dari segi makna maupun struktur ini muncul dalam literatur Islam dengan istilah i’jaz.[2]

Allah telah menganugerahkan kepada umat Islam para pendahulu yang selalu menjaga Alqur’an dan hadis Nabi saw. Mereka adalah orang-orang jujur, amanah, dan memegang janji. Sebagian di antara mereka mencurahkan perhatiannya terhadap Alqur’an dan ilmunya yaitu para mufassir, sebagian lagi memprioritaskan perhatiannya untuk menjaga hadis Nabi dan ilmunya, mereka adalah para ahli hadis.

Secara khusus, Alqur’an bagi umat Islam bukan hanya kitab suci biasa yang ketika dibaca menyuguhkan informasi-informasi aktual, baik mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu atau pun petunjuk tentang masa-masa yang akan datang, namun lebih dari itu bahwa umat islam meyakini jika setiap huruf Alqur’an yang terucap dari bibir orang-orang muslim yang membacanya akan bernilai pahala.

Tentunya ini bukanlah suatu konsekuensi logis karena hal ini tidak masuk dalam kajian nalar, bahkan menurut hemat penulis pun melebihi pembicaraan ontologis. Sebab hal-hal seperti ini hanya dapat dijangkau oleh hati melalui keyakinan atau iman, bahkan ini menjadi salah satu mukjizat Alqur’an (di luar teks) khususnya bagi umat Islam sendiri.

Kandungan atau isi Alqur’an demikian kaya, seperti hukum, teologi, pernikahan, hubungan sosial, manajemen (waktu) dan bahkan sejarah atau kisah-kisah, bahkan untuk yang terakhir disebutkan terdapat dalam Alqur’an surat secara khusus yang disebut surat al Qashas (28) yang berisi 88 ayat dan termasuk dalam golongan surat-surat makkiyah. Namun menurut Syihabuddin Qalyubi bahwa khusus mengenai kisah-kisah dalam Alqur’an kurang mendapat perhatian dari para peneliti Alqur’an dibandingkan perhatian mereka terhadap ayat-ayat hukum, teologi dan lain-lainnya.[3]

Biasanya suatu peristiwa yang dikaitkan dengan hukum kausalitas akan dapat menarik perhatian para pendengar. Apalagi dalam peristiwa itu mengandung pesan-pesan dan pelajaran mengenai berita-berita bangsa terdahulu yang telah musnah, maka rasa ingin tahu untuk menyikap pesan-pesan dan peristiwanya merupakan faktor yang paling kuat yang tertanam dalam hati.

Namun  suatu nasihat dengan tutur kata yang disampaikan secara monoton, tidak variatif tidak akan mampu menarik perhatian, bahkan semua isinya pun tidak akan mampu dipahami.[4] Akan tetapi bila nasihat itu dituangkan dalam bentuk kisah yang menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan, maka akan dapat meraih apa yang dituju.

Orang pun tidak akan bosan mendengarkan dan memperhatikannya, dia akan merasa rindu dan ingin tahu apa yang dikandungnya. Akhirnya kisah itu akan menjelma menjadi suatu nasihat yang mampu mempengaruhinya.

Allah SWT menurunkan Alqur’an kepada Nabi Muhammad saw. yang mengandung tuntunan-tuntunan bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, serta kebahagian lahir dan batin. Selain menggunakan cara yang langsung, yaitu berbentuk perintah dan larangan, adakalanya tuntunan tersebut disampaikan melalui kisah-kisah (Qashash), dengan tujuan untuk menjelaskan bantahan terhadap kepercayaan-kepercayaan yang salah dan bantahan terhadap setiap bujukan untuk berbuat ingkar.

Oleh karena itu di dalam Alqur’an kita mendapatkan banyak kisah Nabi-nabi, Rasul-rasul dan umat-umat yang terdahulu, maka yang dimaksudkan dengan kisah-kisah itu adalah pengajaran-pengajaran dan petunjuk-petunjuk yang berguna bagi para penyeru kebenaran dan bagi orang-orang yang diseru pada kebenaran.[5]

Untuk lebih jelasnya kami akan membahasnya di dalam tulisan ini yaitu tentang qashash Al-Qur’an yang meliputi pengertian qashash Alqur’an, karasteristik pengungkapan kisah dalam Alqur’an, manfaat kisah-kisah dalam Alqur’an dan rahasia pengulangan kisah dalam Alqur’an

 

Pengertian Qashash Al-Qur’an

Makna sentral wahyu adalah pemberian informasi secara rahasia. Dengan kata lain wahyu merupakan sebuah relasi atau hubungan komunikasi antara dua pihak yang berisi pemberian informasi, message atau pesan secara samar dan rahasia. Dalam proses komunikasi tersebut “pemberian informasi” dapat berlangsung apabila melalui cara atau kode tertentu,[6] yang mana dapat dipastikan bila konsep kode melekat (inherent) dan kode yang digunakan dalam proses komunikasi tersebut tentulah kode bersama antara pengirim dan penerima sebagai dua pihak yang terlibat dalam proses komunikasi itu.[7]

Yang menjadi persoalan adalah bahwa Alqur’an sebagai rangkaian wahyu, dalam konteks dan kondisi kekinian ia bukan lagi sebagai suatu hubungan antara pengirim (Allah) dengan penerima (Muhammad saw.), melainkan telah beralih menjadi hubungan antara pengirim dengan umat sebagai generasi penerima kedua.

Terlepas dari hal-hal di atas dan untuk menghindari pembicaraan yang lebih luas maka akan arif manakala kita kembali keinti pembahasan makalah ini yakni pengertian qashash. Kata qashash berasal dari kata al-qashshu yang berarti cerita. Searti dengan tatabbau’ al-atsar pengulangan kembali masa lalu.[8] Qashash juga dapat berarti urutan, berita atau mencari bekasan atau jejak. Dikatakan, “qashashtu atsarahu “ artinya, “saya mengikuti atau  mencari jejaknya.” Kata al-qashash adalah bentuk masdar.[9] Seperti firman Allah:

قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۚ فَارْتَدَّا عَلَىٰ آثَارِهِمَا قَصَصًا

“Dia (Musa) berkata, “itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak semula”. (QS. al-Kahfi: 64).

Qashash juga berarti berita yang berurutan. Ini dapat ditemukan Seperti firman Allah:

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ ۚ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

 “Sesungguhnya ini adalah berita yang benar…” (QS. Al-Imran: 62).

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Alquran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (QS. Yusuf: 111)

Sedangkan yang menjadi dasar jika kisah dalam Alqur’an adalah kisah yang memang belum diketahui oleh Rasulullah saw. sebelum Alqur’an sendiri menngisahkannya adalah terdapat dalam ayat berikut:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran Ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum Mengetahui”. (QS. Yusuf: 3)

Sementara yang dijadikan dasar atau sebagai perintah Allah kepada nabi Muhammad saw. agar menceriterakn kisah-kisah umat atau nabi-nabi terdahulu terdapat beberapa ayat dalam Alqur’an, bahkan disurat Maryam sendiri diulang sebanyak tiga kali, yakni pada ayat 16, 41 dan 51 sebagai berikut:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا

“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur”. (QS. Maryam: 16)

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا

“Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi”. (QS. Maryam: 41)

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مُوسَىٰ ۚ إِنَّهُ كَانَ مُخْلَصًا وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang Rasul dan nabi”. (QS. Maryam: 51)

Adapun dalam  pengertian  terminologi (istilah) Qashash  alquran adalah kisah-kisah atau berita-berita yang pernah terjadi pada masa masa secara berturut-turut atau pemberitaan Alqur’an tentang para Nabi dan Rasul mereka serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang.[10]

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapatlah kita katakan bahwa kisah-kisah yang dimuat dalam Alqur’an semuanya cerita yang benar-benar terjadi, tidak ada cerita fiksi, khayal, apalagi dongeng.

Alqur’an telah bertutur sekian banyak peristiwa masa lampau. Diakui memang bahwa sebagian dari kisah-kisahnya belum dapat dibuktikan kebenarannya hinga saat ini. Kendati demikian tidak wajar menolak kisah-kisah tersebut hanya dengan alasan bahwa kisah itu belum terbukti.

Cukup mengherankan memang bila ada orang yang sulit menerima suatu kisah hanya karena mendengar atau membaca rincian kisah tersebut sulit diterima oleh rasio. Karena menurut M. Quraish Shihab apa yang belum terbukti kebenarannya juga belum tentu terbukti kekeliruannya. Oleh karena itu bagi orang-orang yang keberatan terhadap informasi Alqur’an, beliau mengajukan tantangan bahwa silahkan ajukan bukti mengenai kekeliruan informasi Alqur’an tersebut, tentunya dengan sikap dan bukti-bukti yang objektif.[11]

Karesteristik Pengungkapan Kisah-Kisah dalam Al-qur’an

Sastra merupakan karya yang menggunakan bahasa sebagai medianya, dimana hasil kemasannya akan tergantung pada bagaimana cara mengemasnya. Terdapat pengemasan bahasa dengan penekanan pada aspek bunyi dan hasilnya adalah puisi, ada pula pada dialog dan hasilnya adalah teater, selain itu terdapat pengemasan bahasa pada aspek uraian atau deskripsi dan hasilnya adalah kisah, hikayat dan novel.[12]

Al-qur’an, dalam hemat penulis justru melampaui semua bentuk pengemasan karya sastra tersebut di atas. Namun tidaklah harus dikatakan bahwa Alqur’an adalah sebuah karya sastra, karena betapapun tingginya nilai bahasa atau stilistika yang dikandung oleh Alqur’an ia harus dipandang sebagai kitab suci  yang memuat petunjuk-petunjuk (hudan) keselamatan di dunia dan akhirat.

Sehubungan dengan itu, Alqur’an begitu banyak memuat kisah-kisah masa lalu, yakni termuat dalam 35 surat dan 1.600 ayat.[13] Ini berarti jika kita persentasekan dengan jumlah surat dari Alqur’an maka akan ditemukan kurang lebih 31 persen mendominasi surat-surat yang ada (114 surat) dan menempati kurang lebih 24 % dari surat yang ada.

Dalam mengemukakan kisah, Alqur’an tidak segan untuk menceritakan kelemahan manusia. Namun, hal tersebut digambarkan sebagaimana adanya, tanpa menonjolkan segi-segi yang dapat mengundang rangsangan. Kisah tersebut biasanya diakhiri dengan menekankan akibat dari kelemahan diri seseorang yang digambarkannya, pada saat kesadaran manusia dan kemenangannya mengatasi kelemahan itu.[14]

Sebagai contoh, kisah Qarun yang diungkapkan dalam Surat Al-Qashash/28: 78-81)

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ

“ Dia (Qarun) berkata, “Sesungguhnya aku beri (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, “Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Tetapi orang-orang yang dianugrahi ilmu berkata,: Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar.” (QS Al-Qashash: 78-81)

Pada dasarnya karasteristik pengungkapan kisah dalam Alqur’an dapat dibagi atas 4 kelompok,[15] yakni:

  1. Kisah diawali dengan kesimpulan lalu diikuti dengan uraian kisah yang disajikan secara rinci. Seperti pada kisah Ashab al-Kahfi (pada Q.S. al Kahfi/18: 9-22), dimana kisah ini diawali dengan menunjukkan kesimpulan tentang keajaiban ayat-ayat Allah.
  2. Kisah diawali dengan adegan klimaks lalu dikisahkan rinciannya dari awal hingga akhir. Seperti pada kisah nabi Musa dan Fir’aun dalam Q.S. al Qashash/28: 3-42, yang klimaksnya diawali dengan keganasan Fir’aun.
  3. Kisah tidak diawali dengan pendahuluan namun langsung pada rincian kisah. Pada gaya penuturan seperti ini akan banyak dijumpai kejutan-kejutan. Seperti pada kisah nabi Musa dan Khaidir. Kisah ini termuat dalam Q.S. al Kahfi / 18: 60-82. Atau kisah tentara bergaja pada Q.S. al fîl/105: 1-5, yang mana didahului dengan pertanyaan: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?”
  4. Adegan Kisah disusun seperti adegan-adegan dalam drama seperti kisah nabi Nuh dalam Q.S. Hud/11; 25-49, yang dimulai dengan berita pengutusan Nuh terhadap kaumnya, lalu kemudian terjadi dialog tokoh.

Pada hakikatnya masih banyak kisah-kisah yang termaktub didalam Alqur’an namun ungkapan kisah yang banyak terdapat dalam Alqur’an adalah surat al-Qashash, al-Anbiya, Yusuf.[16]

Pada dasarnya tema sentral ayat-ayat yang memuat kisah dalam Alqur’an adalah kisah para nabi dan umat terdahulu. Namun sebenarnya secara perlahan pembaca ataupun pendengar digiring pada ajaran-ajaran agama yang universal.[17] Bagian ini berisikan ajakan para nabi kepada kaumnya; mukjizat-mukjizat dari Allah yang memperkuat dakwah  mereka, sikap orang-orang yang memusuhinya, serta tahapan-tahapan dakwah, dan akibat yang menimpa orang beriman dan orang yang mendustakan para nabi. Contohnya:[18]

Kisah Para Nabi Dalam Al-Qur’an

  1. Kisah Nabi Adam (QS.Al-Baqarah : 30-39. Al-Araf : 11 dan lainnya);
  2. Kisah Nabi Nuh (QS.Hud : 25-49);
  3. Kisah Nabi Hud (QS. Al-A’Raf: 65, 72, 50, 58);
  4. Kisah Nabi Idris (QS.Maryam: 56-57, Al-Anbiya: 85-86);
  5. Kisah Nabi Yunus (QS.Yunus: 98, Al-An’am: 86-87);
  6. Kisah Nabi Luth (QS.Hud: 69-83);
  7. Kisah Nabi Salih (QS.Al-A’Raf: 85-93);
  8. Kisah Nabi Musa (QS.Al-Baqarah: 49, 61, Al-A’raf: 103-157) dan lainnya;
  9. Kisah Nabi Harun (QS.An-Nisa: 163);
  10. Kisah Nabi Daud (QS.Saba: 10, Al-Anbiya: 78);
  11. Kisah Nabi Sulaiman (QS.An-Naml : 15, 44, Saba: 12-14);
  12. Kisah Nabi Ayub (QS. Al-An ‘am: 34, Al-Anbiya: 83-84);
  13. Kisah Nabi Ilyas (QS.Al-An’am: 85);
  14. Kisah Nabi Ilyasa (QS.Shad: 48);
  15. Kisah Nabi Ibrahim (QS.Al-Baqarah: 124, 132, Al-An’am: 74-83);
  16. Kisah Nabi Ismail (QS.Al-An’am: 86-87);
  17. Kisah Nabi Ishaq (QS.Al-Baqarah: 133-136);
  18. Kisah Nabi Ya’qub (QS.Al-Baqarah: 132-140);
  19. Kisah Nabi Yusuf (QS.Yusuf: 3-102);
  20. Kisah Nabi Yahya (QS.Al-An’am: 85);
  21. Kisah Nabi Zakaria (QS.Maryam: 2-15);
  22. Kisah Nabi Isa (QS.Al-Maidah: 110-120);
  23. Kisah Nabi Muhammad (QS.At-Takwir: 22-24, Al-Furqan: 4, Abasa: 1-10, At-Taubah: 43 -57 dan lainnya.

Kisah yang berhubungan dengan kejadian pada masa lalu dan  orang-orang yang tidak disebutkan kenabiannya

  1. Kisah tentang Luqman (QS.Luqman: 12-13);
  2. Kisah tantang Dzul Qarnain (QS. Al-Kahfi: 83-98);
  3. Kisah tentang Ashabul Kahfi (QS.Al-Kahfi: 9-26);
  4. Kisah tentang thalut dan jalut (QS.Al-Baqarah: 246-251);
  5. Kisah tentang Yajuj Ma’juj (QS.Al-Anbiya: 95-97);
  6. Kisah tentang bangsa Romawi (QS.Ar-Rum: 2-4).
  7. Kisah-kisah yang terjadi pada masa Rasulullah
  8. Kisah tentang Ababil (QS.Al-Fil: 1-5);
  9. Kisah tentang hijrahnya Nabi SAW (QS.Muhammad: 13);
  10. Kisah tentang perang Badar dan Uhud (QS. Ali Imran);
  11. Kisah tentang perang hunain dan At-Tabuk (QS. Taubah).

Ketika Ahli Kitab masuk Islam, mereka masih membawa pengetahuan keagamaan mereka berupa cerita dan kisah keagamaan.

Di saat membaca kisah-kisah dalam Alqur’an, terkadang mereka memaparkan kisah itu seperti yang terdapat dalam kitab-kitab mereka. Oleh karena itu para sahabat cukup berhati-hati terhadap kisah-kisah yang mereka bawakan itu. Berita-berita yang diceritakan Ahli Kitab yang masuk Islam itulah yang dinamakan isra’iliyyat.[19]

Manfaat Mempelajari Kisah-Kisah dalam Alqur’an

Kisah-kisah dalam  Alqur’an secara umum bertujuan kebenaran, seperti ungkapan kisah di atas. Jika di lihat dari keseluruhan  kisah yang ada maka banyak faedah yang terdapat dalam qashash Alqur’an sebagaimana yang diutarakan Ahmad Izzan:[20]

  1. Menetapkan keberadaan wahyu dan kerasulan
  2. Menerangkan bahwa semua agama yang dibawa para nabi berasal dari Allah dan Allah yang Maha Esa merupakan Tuhan bagi semuanya.
  3. Menerangkan bahwa semua agama (samawi) dasarnya hanya satu, itu semua beasal dari Tuhan Yang maha Esa
  4. Menerangkan bahwa cara yang ditempuh oleh para nabi-nabi dalam menjalankan dakwahnya hanya satu jalan dan sambutan mereka terhadap dakwah itu serupa
    Menerangkan dasar yang sama antara agama nabi Muhammad saw. dan agama yang digagas nabi Ibrahim serta menjelaskan hubungan yang erat  antara semua agama samawi itu.

Sedangkan manfaat qashash yang lain adalah untuk menanamkan fitrah manusia yang cendrung menyenangi kisah atau cerita dan cara untuk mengusir kebosanan sehingga inti dari kisah yang diceritakan tersampaikan.

Rahasia Pengulangan Kisah dalam Al-qur’an

Al-Qur’an banyak mengandung kisah-kisah yang diungkapkan secara berulang kali di beberapa tempat. Sebuah kisah terkadang berulang kali disebutkan dalam Al-Qur’an dan dikemukakan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Demikian pula terkadang dikemukakan secara ringkas dan kadang-kadang secara panjang lebar, dan sebagainya.

Menurut Muhammad Sa’id Ramadhan al Bût~î dalam Syihabuddin Qalyubi bahwa pengulangan kisah dalam Alqur’an bukanlah pengulangan yang meliputi seluruh bagian kisah, namun hanya bagian-bagian tertentu saja. Bila di kaji lebih mendalam pengulanga tersebut terjadi dalam tiga macam yaitu pengulangan alur kisah dengan tokoh yang berbeda, pengulangan kisah dengan kronologi yang berbeda, serta pengulangan kisah dengan gaya yang berbeda.[21]

Minimal terdapat dua aspek yang terangkum dalam repetisi kisah dalam Alqur’an yaitu aspek gaya dan aspek kejiwaan, dimana pengulangan kisah pengulangan kisah akan berdampak pada seni penggambaran dan seni pemilihan lafal yang berbeda. Lafal yang berbeda akan berdampak pada penghindaran dari kejenuhan dan ini tentu berdampak pula pada kejiwaan seseorang.[22]

Namun penulis lebih jauh lagi melihat bahwa pengulangan/repetisi kisah dalam Alqur’an justeru menjadi i’jaz tersendiri bagi Alqur’an karena hingga saat ini tak satupun penulis sastra dunia yang mampu menandingi gaya yang ditampilkan Alqur’an yang sekalipun kerap mengulang kisah namun tetap memberikan nuansa tersendiri bagi pembacanya.

Catatan Kaki

[1] Keotentikan Alqur’an adalah salah satu yang sangat dibanggakan umat Islam dari dahulu hingga saat ini dan merupakan warisan paling terpenting dan paling berharga. Sekalipun Alqur’an yang dikenal saat ini rasm Utsman bin Affan, akan tetapi, meskipun demikian Alqur’an yang kita kenal saat ini tidak begitu saja muncul sebagai sebuah karya besar yang hampa melainkan lahir dari sebuah proses panjang yang telah dilaluinya. Lihat Said Agil Husain al Munawar, Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, (cet. III; Jakarta: Ciputat Press, 2004), h. 14

[2] Issa J. Boullata, I’jaz al-Qur’an al-Karim Abra at-T~arikh, edisi Indonesia oleh Bachrum B., dkk. Al-Qur’an Yang Menakjubkan, (cet. I. Tangerang: Lentera hati, 2008), h. 5

[3] Lihat Syihabuddin Qalyubi, Stilistika Al-Qur’an, Makna Di Balik KisahIbrahim, (Cet. I; Yogyakarta; LkiS, 2009), h. 2

[4] Ibid., h. 1

[5] Baca John Renard, Seven Doors to Islam. Diterjemahkan oleh M Khoirul Anam, Dimensi-Dinensi Islam, (Cet. I; Jakarta: Inisiasi Press, 2004) h. 96-99

[6] Kode yang penulis maksudkan adalah kode yang bermakna ganda yang merupakan isi dari suatu pesan-wahyu dan dapat ditangkap atau dipahami lewat pemaknaan teks. Hal ini dapat ditemukan dalam puisi sebagaimana pula dapat ditemukan dalam Alqur’an, karena Alqur’an sendiri (meskipun ditolak oleh sebagian pengkaji seperti al Baqillani) merupakan kitab suci yang mengandung nilai sastra dengan stilistika bahasa yang demikian tinggi sehingga membutuhkan keahlian khusus untuk memahami makna-makna yang terkandung dalam teks-teks atau ayat-ayat Alqur’an. Lihat Nasr Hamid Abu Zaid, Mafhum an-Nash Dirasah fi Ulum Al-qur’an, diterjemahkan oleh Team LKiS, Tekstualitas Al-Qur’an Kritik terhadap Ulumul Qur’an, (Cet. IV; edisis revisi, Yogyakarta: LkiS, 2005), h. 30. Bandingkan dengan  Syihabuddin Qalyubi, op.cit., h. 1

[7] Ibid.

[8] Ahmad Izzan, Ulumul Quran, Telaah Tekstualitas dan Kontekstualitas Alquran, (cet. III, Bandung: Tafaqur, 2009), H. 212

[9] M. Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-Ilmu Al Qur-an, (Cet. III; Jakarta: Bulan Bintang, 1993) h. 187

[10] Ahmad Izzan, loc.cit.

[11] M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Quran: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaan Gaib, (Cet. IV; Bandung: Mizan, 1998), h. 195-196

[12] Syihabuddin Qalyubi, op.cit., h. 9

[13] A. Hanafi dalam Syihabuddin Qalyubi, ibid.

[14]http://istanailmu.com/2011/04/12/qashash-kisah-kisah-dalam-alquran/html, download hari rabu, 05/10/2011.

[15]Lihat Syihabuddin Qalyubi, op.cit., h. 25-28. Lihat pula Ahmad Izzan, op. Cit., h. 213-218.

[16] Untuk kelengkapan surat-surat yang memuat kisah dalam Alqur’an lihat pada lampiran

[17] Syihabuddin Qalyubi, ibid.

[18] http://istanailmu.com/2011/04/12/qashash-kisah-kisah-dalam-alquran/html

[19] Ahmad Izzan, op.cit., h. 232

[20] Ibid., h. 219-220

[21] Ibid., h. 29

[22] Ibid.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.