Kontroversi Penciptaan Isa, Anak Allah atau Hanya Manusia Biasa?

Kontroversi Penciptaan Isa
Photo by Digaleri.com

Kontroversi Penciptaan Isa, Anak Allah atau Hanya Manusia Biasa?

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

“Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah”, maka jadilah ia.” (QS. Ali Imron: 59)

Ayat ini sudah jelas dan sebagai bukti, bahwa Isa adalah makhluk yang diciptakan, dan Allah swt. Yang Maha Esa yang telah menciptakannya. Sebagaimana Allah menciptakan Adam as. dari tanah, tanpa ada ayah dan ibu, tetapi hanya dari tanah yang basah, kemudian Allah memerintahkan tanah tersebut dengan menfirmankan “kun” maka terciptalah Adam seperti yang dikehendaki Allah swt.

Nah, demikian jugalah penciptaan Isa as, sama-sama diciptakan dari tanah, hanya bedanya ada ibu, tapi tidak punya ayah. Allah berfirman “kun”, maka jadilah nabi Isa berada di rahim ibunya, setelah itu Isa kecil lahir menjadi manusia yang sempurna.

Allah menyertai nabi Isa dengan bukti-bukti yang membedakannya dari sekalian manusia, yaitu bisa bicara ketika masih bayi. Di antara ucapan nabi Isa waktu bayi itu sebagaimana Allah jelaskan dalam ayat al-Quran: “Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” (QS. Maryam 19 : 30).

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan sebagai berikut: “Sesungguhnya misal (perumpamaan) Isa di sisi Allah“, maksudnya, dalam hal kekuasaan Allah menciptakan Isa tanpa ayah, “adalah seperti (penciptaan) Adam” yang diciptakan tanpa ayah dan ibu. Bahkan, Adam “Allah ciptakan dari tanah, kemudian Ia firmankan kepada tanah, “KUN” (tanah, jadilah engkau Adam), “FA YAKUN” (maka terciptalah Adam). Maka, Yang menciptakan Adam tanpa ayah dan ibu pasti lebih masuk akal kuasa juga menciptakan Isa tanpa ayah tapi punya ibu.

Sekiranya -ini sebatas asumsi- disahkan mengangkat Isa menjadi Tuhan karena ia tercipta tanpa ayah, berarti lebih layak lagi jika Adam yang dianggap Tuhan. Jelas diketahui, mengangkat Adam sebagai TUhan pun tidak dibenarkan atau BATIL. Hal itulah mengapa jika kita mengangkat Isa (atau yang lainnya) menjadi Tuhan adalah jauh lebih BATIL dan jelas-jelas merupakan paham yang keliru.

Maksud dari proses penciptaan yang beragam ini -wallahu’alam- Allah ingin menunjukkan kepada sekalian makhluknya; bahwa ketika Allah menciptakan Adam tanpa melalui proses pertemuan jenis jantan dan betina (ini merupakan sebuah hikmah), berikutnya Allah menciptakan Isa dengan adanya jenis betina saja tanpa ada jenis jantan, membuat keduanya berbeda dengan proses penciptaan makhluk lain secara normal, karena umumnya terdiri dari pasangan jantan dan betina.

Dalam buku al-Jawab al-Ka/i Ji man Boddala Din al-Masih jilid 4 halaman 54, tahqiq Dr. Ali bin Hasan, Dr. Abdul Aziz Al Askar dan Dr. Hamdan Alhamdani, Syaikh Ibnu Taimiyah menulis sebagai berikut: Firman Allah “Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudianAllah berfirman kepadanya: “Jadilah”(seorang manusia), maka jadilah dia” adalah kalam haq (Kalamullah yang Mahabenar).

Allah menciptakan jenis manusia dengan berbagai cara yang mungkin untuk menjelaskan keuniversalan kekuasan­Nya. Mulanya Allah menciptakan Adam tanpa jenis jantan dan betina, kemudian menciptakan pasangan Adam dari satu jenis yaitu jenis jantan (Adam) tanpa keberadaan jenis betina, sebagaimana termaktub dalam ayat: “dan Ia (Allah) menciptakan darinya (jenis Adam) seorang pasangan (yaitu Hawa)”. Dan Allah menciptakan al-Masih dari jenis betina (ibu) tanpa pasangan jenis jantan (bapak), dan Alfah menciptakan sekalian makhluk dari dua jenis, jantan dan betina.

Kita dapat mengetahui bahwa proses penciptaan Adam jauh lebih menakjubkan daripada proses penciptaan Isa as. yang melalui rahim Maryam. Penciptaan Adam lebih hebat dari penciptaan Isa dan Hawa. Adam yang dijadikan asal penciptaan Hawa.

Berdasarkan fakta ini, Allah mengumpamakan penciptaan Isa den gan penciptaan Adam yang pada hakikatnya lebih menakjubkan daripada penciptaan Isa al-Masih. Jika Allah swt. kuasa menciptakan Adam dari tanah, sedangkan tanah bukan berasal dari jenis fisik manusia, apakah tidak mungkin Allah kuasa menciptakan Isa dari wanita yang dia itu berasal dari jenis fisik manusia?

Di samping itu Allah menciptakan Adam dari tanah. Kemudian Allah berfirman “KUN FA YAKUN” (kata perintah, artinya jadilah engkau (wahai tanah, segala yang dikehendaki Allah) maka terjadilah yang Allah inginkan), yaitu dengan meniupkan nyawa (ruh), begitu juga dengan penciptaan Isa, sama-sama ditiupkan ruh dan Allah berfirman “KUN FA YAKUN”. Adam, dengan sebab ditiupkan kepadanya ruh dari Allah, tidak mempunyai status ganda; sebagai tuhan dan sebagai manusia, tetapi hanya dengan status tunggal yaitu `manusia’. Demikian juga dengan al-Masih, semua yang ada padanya adalah sifat `manusia’.

Makna “Kalimat daripada-Nya, terkemuka dan didekatkan” dalam Surah Ali Imran ayat 45.

إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ

(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).

Kata kalimah (kalimat) adalah bentuk tunggal, dan bentuk jamaknya adalah kalimat. Maksudnya adalah bahwa nabi Isa diciptakan dengan kalimat, maka dijulukilah nabi Isa dengan Kalimatullah (kalimat Allah), sebab nabi Isa diciptakan dan diadakan dengan kalimat kun (dalam bahasa arab merupaan kata perintah artinya: Jadilah!).

Allah juga berfirman tentang Yahya: “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah” (QS. Ali Imran: 39)

Maksudnya, membenarkan Isa yang diciptakan dengan kalimat Allah. Oleh karena itulah ayat tersebut secara lengkap mengatakan demikian: Allah menggembirakanmu dengan kelahiran anak laki-laki yang kehadirannya melalui kalimat Allah, yaitu kalimat kun fayakun.

Begitu juga dengan dengan firman Allah dalam surah an-Nisa ayat 171: Sesungguhnya al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan­Nya kepada Maryam.. .

Maksudnya, diciptakan dengan kalimat yang dibawa Jibril as kepada Maryam. Kalimat itu turun hingga menyentuh faraj Maryam, seperti layaknya pertemuan antara ayah dan ibu. Dengan sebab itu dinamailah Isa dengan Kalimatullah, karena wujudnya ada dari kalimat kun, seperti disebutkan dalam ayat yang artinya: “Sesungguhnya penciptaan Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” (QS. Ali Imron: 59)

Nabi Isa bukan kalimat itu sendiri, tapi diciptakan dengan sebab kalimat. Kalimat bukan makhluk, tetapi Isa diciptakan dengan Kalimat. Kalimat berasal dari Allah untuk menciptakan sekalian makhluk, sebagaimana dijelaskan dalam ayat yang artinya: “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia”. (QS. Yaasin: 82)

Menurut kolompok yang menamakan dirinya al-Jahmiyah, Kalimat adalah makhluk. Sementara itu menurut umat Nasrani, Kalimat Allah berasal dari Dzat Allah. Yang benar adalah paham Ahlussunah: Kalamullah termasuk sifat (kebesaran) Allah, bukan makhluk. Isa diciptakan dengan Kalimat, dan Isa bukanlah kalimat itu sendiri, berbeda jauh dengan yang dipahami umat Nasrani.

Berikutnya, pengertian “seorang terkemuka di dunia dan diakhirat“, maksudnya adalah nabi Isa mempunyai martabat, kedudukan dan kemuliaan di sisi Allah, seperti halnya nabi Musa dalam ayat yang artinya: “…Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat disisi Allah”.

Di antara bukti kedudukan terhormat ini ialah dukungan yang diberikan kepada Musa berupa mukjizat-mukjizat, keteguhannya dalam berdebat melawan kaumnya. Begitu juga dengan kemutajaban doa Musa, pertolongan, pemeliharaan dan penjaagaan dari musuh-musuh Allah yang berupaya mengalahkannya.

Dengan alasan yang hampir serupa dengan diterima nabi Musa, maka nabi Isa pun mendapat penjagaan dan pengawasan Allah dari tipuan dan kebencian or­ang Yahudi, tetapi bentuk kedudukan yang tinggi ini tidak mesti ditujukan doa kepada nabi Isa dan ia tidak mesti diserahi hak yang pada dasarnya hak kebesaran Allah.

Kedudukan yang tinggi tidak mesti diserahi hak yang pada dasarnya hak kebesaran Allah

Kita juga tidak perlu meragukan, bahwa nabi Muhammad saw. memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah seperti halnya nabi­nabi yang lain. Meskipun nabi Muhammad memiliki kedudukan mulia, kita dilaranag bertawassul dengan kedudukan itu.

Untuk itulah, kita dilarang berdoa dengan redaksi: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu berkat kemuliaan si Fulan, atau berkat martabatnya di sisi-Mu.” Pasalnya, kalimat doa seperti ini berarti mengagungkan `fulan’ tersebut. Sedangkan yang berhak diagungkan seratus persen adalah Allah.

Adapun hadits Rasulullah yang mengatakan “Apabila kamu berdoa kepada Allah, mintalah dengan menyebut kedudukanku, sesungguhnya kedudukanku mulia di sisi Allah”, merupakan hadits yang maudhu’ (hadits palsu, hasil karangan manusia, atau ucapan seseorang yang disandarkan kepada nabi Muhammad). Hukum hadits maudhu’ dilarang diriwayatkan kecuali disertai keterangan status hadits tersebut sebagai hadits maudhu’.

Syaikhul lslam Ibnu Taimiyah dalam risalah Qa’idah Jalilah fi at-Tawassul wa al­Wasilah menulis tanggapan terhadap hadits tersebut dengan ucapan: …ini bukan hadits, tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadits kaum muslimin yang mendapat keabsahan dari ulama hadits.

Perkataan ini juga tidak pernah ditulis ahlul ilm dan ahli hadits. begitu juga dengan Syaikh al-Bani dalam buku Silsilah al-Ahadits Ad-Dha’ifah wa al-Mauduah (seri hadits-hadits lemah dan hadits palsu) menyebutkan hadits ini tidak mempunyai dasar akurat.

Adapun maksud kalimat “termasuk orang-orang yang didekatkan” dalam ayat yang sedang dibicarakan, bahwa nabi Isa adalah orang yang mendapat kebahagiaan, mendapat keistimewaan kedekataan, martabat yang tinggi di surga yang diterangkan sebagai balasan amal kebaikan dalam ayat: “Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh rezki serta surga kenikmatan.” (QS. al-Waqi’ah: 89).

Baca Juga: Pengertian Wafat Isa Almasih dalam Al-Qur’an dan Hadis

Kedekatan di sisi Allah adalah martabat tertinggi, yaitu martabat para nabi, para shiddiq, para syahid, orang-orang shalih yang dinyatakan mendapat pahala dalam firman Allah: “(yaitu) mata air yang minum dari padanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah.” (QS. al-Muthaffifin: 28).

Waspada Terhadap Kesalahan Makna Ayat Tentang Ruh (Ciptaan)

Tongkronganislami – Bagaimana pendapat anda tentang orang yang memakai ayat: “maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami”. Menurut mereka Ayat ini sebagai bukti, bahwa nabi Isa adalah anak Allah. Mahasuci Allah setinggi-tingginya dari tuduhan orang-orang zalim seperti itu.
Jawab:

Ayat tersebut terdapat dalam surat at-Tahrim. Allah swt. berfirman: “Dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.”(QS. at Tahrim 66 : 12)

Dan selain itu ada di surat al-Anbiya’ yang artinya: “Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami”(QS. at-Anbiya’ 21 : 91)

Ayat menyatakan, bahwa peniupan ruh kepada Maryam dan ruh itu masuk melalui kemaluannya, lalu setelah itu Maryam mengandung nabi Isa. Kemudian Allah berfirman yang artinya: “lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna”. (QS. Maryam 19 : 17)

Ruh yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah malaikat yang bicara kepada nabi Isa, “Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.”(QS.Maryam19:19)

Dalam tafsir disebutkan, bahwa mafaikat meniupkan ke kantung baju Maryam, lalu ruh itu masuk ke dalam rahim dan jadilah nabi Isa.

Yang dimaksud dengan Ruh adalah sesuatu (makhluk) yang diciptakan Allah dari ruh, yang dengan adanya ruh tersebut makhluk menjadi hidup. Sama seperti yang terjadi pada penciptaan nabi Adam, dijelaskan dalam al-Quran yang artinya:

“Maka apabilaAku telah menyempumakan kejadianya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduk karnu kepadanya dengan bersujud. ” (QS. al-Hijr 15 : 29)

Allah telah meniupkan ruh kepada Adam, demikian juga dengan nabi Isa yang juga termasuk makhluk ciptaan Allah. Jelas disebutkan dalam ayat berikut yang artinya: “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhann ya untuk mengatur segala urusan. ” (QS. al-Qadr 97 : 4)

Dan Allah berfirman yang artinya: “Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf”. (QS. an-Naba’ 78 : 38.)

Kesimpulannya, nabi Isa adalah tercipta dari ruh yang berasal dari Allah, yakni ruh ciptaan Allah, dan der.gan ruh itu pula Allah menciptakan sekalian manusia, dan manusia yang pertama ialah nabi Adam.

Allah berfirman yang artinya:”Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”. (QS as-Sajadah 32 : 9)

Dengan demikian, nabi Isa tidak memiliki keistimewaan dengan keberadaan ruh yang ditiupkan kepadanya. Ruh yang ditiupkan kepadanya sama dengan ruh yang ditiupkan kepada sekalian makhluk ciptaan Allah yang bernyawa dan berjasad yang bergerak dan berkeliaran di atas kulit bumi ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menulis dalam bukunya al-Jawab Ash-Shahih li mon Boddalo bi Din al-Mosih, ditahqiq dan dikomentari oleh Dr. Ali bin Hasan, Dr. Abdul Aziz Askar dan Dr. Hamdan al-Hamdani (3/248), tentang penjelasan makna yang tepat kata ruhullah:

Ruh Allah maksudnya adalah mafaikat yang dianya adalah ruh pilihan Allah, dan Allah mencintainya, seperti yang termaktub dalam al-Quran: lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertaqwa”. la (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci” (QS. Maryam 19:17-19).

Allah memberitakan, bahwa Dialah yang mengirim ruh-Nya kepada nabi Isa, lalu nabi Isa menjadi manusia yang sempurna. Jelas, bahwa nabi Isa adalah rasul utusan Allah. Maka dapat diketahui, ruh yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah malaikat, yaitu ruh pilihan Allah, kemudian Allah menyandingkan kata ruh itu kepada Dzatnya, sama halnya dengan penyandingan kata benda yang lain dengan lafzul jalalah, seperti dalam ayat: “(Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya” (QS. asy-Syams 91:13) dan ayat: “dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf dan orang-orang yang beribadat dan orang­orang yang ruku’ dan sujud” (QS. AI-Hajj 22 : 26) dan firman Allah: “(yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum… ” (QS. al-Insan 76 : 6)

Kata yang disandingkan kepada Allah, jika itu adalah kata keterangan (sifat), tidak bermakna makhluk, seperti kata `llm, Qudrah, Kalam, dan Hayat (hidup), menjadi sifat kesucian Allah. Dan jika kata itu adalah kata benda, ia berdiri sendiri atau menjadi kata keterangan dari yang lain, contohnya: kata bait (rumah), naqah (unta), `abd (hamba) dan ruh (nyawa) menjadi milik, ciptaan yang disandarkan kepada pencipta dan pemiliknya.

Hanya saja, dalam kaidah idhafat, mudhaf ilaih tidak terlepas dari pengkhususan kata mudhaf dengan sifat yang membuat mudhaf ilaih berbeda dari yang lain sebagai syarat sahnya idhafat. Misalnya, khusus Ka’bah, Naqah (unta tertentu) dan Ibadussholihin (hamba-hamba shalih)-lah yang dimaksudkan dalam idhafat `baitullah’, ‘naqatullah dan `ibadullah’.

Demikianlah ruh khusus pilihan Allah yang disebut dalam idhafat `ruhullah’, tidak digeneralisir sehingga masuk ruh-ruh yang buruk, seperti syeitan, orang-orang kafir. Ruh syeitan dan orang-orang kafir itu memang makhluk ciptaan Allah, namun tidak sah diidhofatkan kepada Allah seperti mengidhofatkan ruh-ruh yang suci dan bersih.

Begitu juga tidak sah mengidhofatkan segala benda mati kepada Allah kecuali Ka’bah, dan tidak sah mengidhofatkan unta­unta lain kecuali naqatullah (unta Allah) yang diterangkan di surat asy-Syams, yaitu unta nabi Shalih.

Menurut pendapat saya: makna yang tepat dari idhafat ruhullah itu adalah `malaikat utusan dari sisi Allah seperti yang termaktub dalam al-Qur’an: la (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yangsuci” (QS. Maryam 19 : 19), dan bukan seperti yang didakwakan umat Nasrani: `Ruh Allah menyatu dengan jasad Isa’ atau `Ruh Allah pindah dari ke jasad fsa’. Mahasuci Allah setinggi-tingginya dari tuduhan kotor mereka.

Sekiranya ucapan umat Nasrani itu benar, pasti mereka diwajibkan menyembah Adam as., sebab Arlam tidak mempunyai ayah, dan sebab ruh Adam juga ditiupkan oleh Allah, sebagaimana termaktub dalam al-Quran “Maka opabila Aku telah menyempurnakan kejadianya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduk kamu kepadanya dengan bersujud” (QS. al-Hijr 15:29). Dengan demikian, di sana tiada perbedaan antara peciptaan Adam as. dan Isa as.

Al-Quran menegaskan hal itu dalam ayat: “Sesungguhnya penciptaan ‘Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia” (QS. Ali `Imran 3:59).

Baca Juga: Pengertian Wafat Isa Al Masih dalam Surah Ali Imran ayat 55

Kesimpulannya, sudah seharusnya bagi orang yang berkeyakinan kontroversial untuk kembali ke jalan yang benar. Berpaling untuk menyembah Allah yang Esa, yang tiada satu pun sekutu dengannya, baik itu dari jenis malaikat ataupun nabi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.