Kultum Islam Ajaran Dasar Agama Cinta

Kultum Islam Ajaran Dasar Agama Cinta

Tongkrongan Islami – Kasih sayang merupakan anugerah dari Allah bagi setiap manusia, termasuk diantaranya adalah kaum Muslim sebagai hambanya. Kasih sayang seseungguhnya melampaui pemikiran, karena itu hewan sebagai ciptaan Allah juga memiliki kasih sayang, walaupun ia tidak dianugerahiNya sebuah pemikiran.

Dalam Islam, hal demikian menjadi ajaran fundamental agama, sebagaimana yang sering kita dengan Agama Islam sebagai agama kasih, dan Nabi Muhammad adalah hamba yang selalu mengasihi, juga sebagai Rasul yang mengajarkan cinta kasih.

Paradigma Islam agama rahmat ini sejalan dengan paradigma ketuhanan dalam Islam. Allah  dalam al-Qur’an menyatakan bahwa Dia mewajibkan diri-Nya untuk memiliki sifat kasih (Q.S. al-An’am, 6: 12):

قُلْ لِمَنْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلْ لِلَّهِ كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Katakanlah, ”Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?” Katakanlah, ”Kepunyaan Allah.” Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh-sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman.

Ayat di atas menjelaskan bahwa sifat dasar-Nya adalah cinta-kasih. Sifat-sifat yang lain dan perbuatan-perbuatan-Nya didasarkan pada sifat dasar itu, sehingga ketika memperkenalkan diri-Nya dalam al-Fatihah, surat pertama dan bagian dari al-Qur’an yang paling banyak dibaca umat Islam, Dia sampai dua kali menyebut diri-Nya sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang (rahman-rahim).

Pertama dalam ayat pertama sebagai perkenalan pertama dan kedua dalam ayat ketiga  sebagai penegasan cinta-kasih-Nya dalam menciptakan dan memelihara alam semesta. Karena itu wajar jika risalah Islam yang diwahyukan sebagai bagian dari perbuatan-Nya memelihara alam semesta pun merupakan agama rahmat, agama cinta kasih. Dalam Q.S al-Anbiya’ ayat 107, Allah juga menegaskan:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“dan tiadalah kami mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk memberi rahmat kepada seluruh alam”

Dalam ayat 107 S. Al-Anbiya itu ditegaskan bahwa Islam  menjadi rahmat bagi seluruh alam (al-’alamin). Al-’Alamin adalah jamak dari ’alam (alam). Alam adalah semua wujud selain  Tuhan.

Semua wujud itu disebut alam (dalam bahasa Arab ’alam juga berarti tanda), karena mereka menjadi media untuk mengenal Allah, penciptanya. Namun jika dihubungkan dengan istilah lain yang akar katanya sama (’-l-m), ’ilm, (ilmu), maka bisa dipahami bahwa alam itu diciptakan dengan ilmu.  Alam yang sedemikian kompleks tidak mungkin diciptakan tanpa berdasar ilmu.

Penyataan bahwa risalah Nabi itu  menjadi rahmat bagi seluruh alam, apapun pengertian  alam yang dirujuk, menegaskan  Islam sebagai agama universal yang diperuntukkan bagi umat manusia di seluruh dunia di sepanjang   zaman.

Nabi memang orang Arab dan bahasa al-Qur’an pun bahasa Arab, namun risalahnya melampaui ruang dan budayanya sehingga menjangkau bangsa-bangsa di kawasan lain. Secara teologis merupakan hak dan rahasia Allah untuk memilih aktor dan latar belakang Arab sebagai media pewahyuan agama universal yang  diturunkan-Nya, namun secara sejarah hal itu merupakan sesuatu yang rasional.

Bahasa Arab ketika itu merupakan bahasa yang sangat indah dan kaya sehingga sangat sesuai untuk mengekspresikan pesan-pesan yang universal dan abadi dalam ungkapan-ungkapan penuh makna.

Karena universalitas merupakan karakteristik Islam, maka sejak awal para pemeluknya tidak hanya berasal dari bangsa Arab, tetapi juga dari bangsa-bangsa di luar yang sudah mendengar dakwahnya.

Karena itu pula setelah dakwah di kalangan bangsanya sendiri berkembang, Nabi berdakwah kepada raja-raja di sekitar Arabia (Romawi Timur, Persia dan Ethiopia) dengan mengirimkan surat berisi seruan kepada Islam yang dibawa langsung oleh utusan-utusannya. Islam yang hadir dalam sejarah dengan latar belakang budaya Arab pada awal abd ke-7 M, karena universalitasnya, harus berjumpa dengan budaya-budaya lain.

Dalam perjumpaan antarbudaya pasti terjadi akulturasi. Akulturasi adalah  perubahan besar dalam kebudayaan yang terjadi sebagai akibat dari kontak antarkebudayaan yang berlangsung lama. Dengan demikian, dasarnya sebagai agama cinta adalah perekat yang akan menyatukan Islam sebagai ajaran dan nilai dengan segala ragam kehidupan manusia, hingga Islam akan hadir dan berjalan lintas etnis, budaya dan generasi.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here