Kultum Peran Penting Manusia dalam Membentuk Kehidupan di Dunia

Kultum Peran Penting Manusia dalam Membentuk Kehidupan di Dunia

Tongkrongan Islami – Disetiap pelosok penjuru bumi, kita masih menyaksikan banjir darah yang tak pernah reda sehingga bumi layak kita sebut dengan bola darah bukan lagi bola dunia.

Itu semua merupakan akibat alami dari hilangnya peranan agama di tengah masyarakat, tentu agama dalam maksud yang se esensial mungkin. Maka disaat agama hilang, setan pun datang, disaat agama lenyap malapetaka pasti akan melanda.

Setan tentu tidak mesti kita bayangkan sebagai makhluk halus yang akan menggoda kita untuk menemaninya di neraka kelak. Bisa saja ia terwujud dalam nafsu dunia yang berlebihan, politik busuk, keserakahan dan semacamnya.

Tidak bisa dibayangkan bukan, darah di timur tengah sana mengalir bak air yang mengalir kesawah nya para petani di indonesia. Bahkan media seakan menarasikannya dengan wajah yang senyum wajar.

Hakikat pergolakan ini telah dipahami oleh para pemikir yang berusaha melepaskan diri dari kondisi tragis ini.

Di zaman jahiliyyah tentunya masih terlintas jelas di benak kita walaupun kita belum pernah merasakannya. Tergambar jelas dalam rekaman sejarah dimana ketenangan yang menjadi idaman setiap insan tidak pernah bisa terwujud, kedamaian hanya janji murahan yang diobral kesana-kemari tanpa ada bukti.

Harkat dan martabat manusia tidak pernah mendapatkan posisi yang pantas dan layak, begitu pula nilai-nilai kemanusiaan yang luhur tidak bisa diterapkan di tengah masyarakat yang mengakibatkan kerusakan moral.

Pertumpahan darah hanya karena permasalahan dunia, perampasan hak milik, pemerkosaan dan ketimpangan-ketimpangan yang lain. Hal tersebut timbul karena hilangnya peran esensial agama yang seharusnya menjadi landasan hidup setiap insan, banyak mereka yang berjalan tanpa ada pedoman yang pasti sehingga dengan mudah dipengaruhi dan dikendalikan oleh hawa nafsu binatang yang mengajak meraka kepada kehancuran.

Hal demikian sangat dirasakan pula dimas Nabi. Beliau menghadapi kaum yang jahiliyah, keras secara watak, susah meneriman kebenaran, melawan setiap persaingan, dan banyak menyelesaikan masalah dengan emosi dan pedang.

Selain pula dihadapi dengan konteks keragamaan keyakinan, penyembahan berhala, dan alin sebagainya. Namun dalam posisi demikian, justeru Nabi hadir dengan tujuan mengayomi semua masayarakat, tingkat lapisan, tingkat keyakina, dan melampau semua sekat.

Kegelisahan yang dihadapi dalm kurun 40 tahun lebih, akhirnya terbayar ketika beliau mendapatkan wayu pertama di gua Hira’.

Banyak nya misi yang diemban oleh Nabi, seperti: etika sosial, akhlak, kerusakan moral, kezaliman, dll membuat Nabi tidak sedikitpun gentar. Beliau debagaimana disinggung dalam hadits, menjelkan menjadi lautan pengasih bagi semua kalangan.

 إني لم أبعث لعاناً.وإنما بعثت رحمة

“tidaklah aku diutus untuk melaknat, melainkan aku diutus untuk memberikan rahmat”

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa kehadiran baginda Rasulullah saw dalam agama yang diembannya merupakah respon baik Allah melihat kegundahan dan kesedihan hati beliau melihat realitas yang terjadi.

Dan dari sini kita juga bisa menyimpulkan bahwa agama dalam makna yang esensial adalah sebuah pegangan dan pedoman hidup. Ketika seseorang tidak mempunyai agama, maka dia  layaknya seorang buta yang berjalan tanpa tongkat, dia bisa berjalan namun akan berkali-kali jatuh dan tersungkur.

Disisi lain, ketika orang yang beragama tapi tidak bertaqwa -beragama secara esensial-, maka ia ibarat orang yang terus berjalan diatas jalan yang licin, tergelincir jatuh dan bangkit lagi, jatuh lagi dan bangkit kembali, begitu seterusnya. Sedikit memang hambanNya yang berjalan mulus diatas dataran, penuh penghayatan menikmati jalan meunju padaNya.

Pada akhirnya, jika seseorang telah mengabaikan Tuhan (agama) dalam segala perhitungan dan segi kehidupan  diwaktu yang cukup lama, akan selalu  merasakan tersesat di persimpang jalan yang membingungkan.

Dari urain singkat di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kita sebagai seorang muslim yang telah diwariskan agama yang benar dituntut untuk memelihara nilai-nilai luhur yang telah diembankan ke kita.

Baca Juga:

  1. Ceramah Agama: Ajaran Dasar Agama Cinta
  2. Perilaku Islami yang Seharusnya Dimiliki Seorang Muslim
  3. Materi Kultum Terbaru Muslim Rahiim

Bisa saja segala kekacauan yang ada disebabkan oleh kelalaian kita dalam menjalankan perintah agama. Di sini kita dituntut untuk mengembangkan ajaran Islam seluas-luasnya. Kita awali dengan diri pribadi, lalu mengajak keluarga hingga tataran lebih luas, yaotu tetangga maupun seluruh manusia di dunia.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here