Kultum Singkat tentang Amal Sholeh Sebagai Rukun Islam

Kultum Singkat tentang Amal Sholeh Sebagai Rukun Islam

Tongkrongan Islami – Ada berapa rukun Islam? Tentu dengan cekatan kita akan menjawab ada lima. Lengkap dengan narasi yang –saya yakin- kita tidak akan keliru melafalkannya, juga tidak akan keliru menyebut urutannya secara sistematis satu persatu.

Rukun islam adalah pegangan utama dan menjadi bagian dari pembentuk pola fikir keberagamaan. Semakin berkembang menjadi manusia yang berfikir, tentu baik juga jika dibarengi dengan pengembangan pola fikir terhadap agama, dan penghayatan kita terhadapnya.

Ada catatan sejarah yang menguatkan peran pertama baginda Rasulullah saw dalam mengemban wahyu, yakni terlebih dahulu merupah pola fikir masyarakat Makkah terhadap agama, baru kemudian sedikit menggeser –itupun tidak semua- tampilan keberagamaan meraka.

Semua beliau lakukan dengan sabar, sitiqomah sembari selalu meminta bimbingan kepadaNya jika menghadapi halangan. Semua langkah dilakukan hingga menempatkan Muhammad saw sebagai manusia yang paling bertaqwa, Shalih dan Mushlih.

Predikat ini diberikan, kerana banyaknya perubahan yang Muhammad saw lakukan selama menyampaikan wahyu, tidak hanya agama (tauhid), namun juga perubahan sosial, psiko sosial, mental, peradaban, dsb. Catatan ini juga mengukuhkan beliau tidak hanya sebagai Rasul namun juga sebagai penggerak dan aktivis agama –dalam makna yang positif-.

Setalah beliau wafat, teladan ini tertular kepada para sahabat, untuk menanamkan jiwa muslim yang berislam, berfikir dan berprilaku islami dalam melakukan segala aktifitas, termasuk meneruskan dakwah Nabi.

Hasilnya, al-Qur’an mengabadikan nama mereka selain disebut sebagai muslim, banyak juga juga diantara mereka yang disebut Muttaqin, hingga mereka disebut sebagai orang muslim yang bertaqwa (Muslim yang Muttaqin). Golongan orang-orang yang beragama dalam beribadah, beragama dalam berfikir dan beragama dalam berprilaku. Mereka tidak hanya shalih ibadahnya, namun cara berfikir dan prilaku sosialnya juga shalih.

Catatan sejarah Islam terus berlanjut hingga sekarang. Masa sekarang, lima rukun islam tercatat sebagai persyaratan mendapatkan predikat sebagai seorang muslim –dari kata arkaanul islam-.

Namun ada pertanyaan yang menarik, apakah kelima rukun itu juga sebagai persyaratan untuk menuju predikat muttaqin?

Jawabannya tentu bisa didiskusikan lebih panjang lagi. Saya teringat ungkapan pengandain dari pak Quraish Syihab; “andaisaja beramal saleh masuk dalam salah satu rukun islam, hingga jumlah rukun islam menjadi enam”.

Saya memahami ungkapan pengandaian ini bukan tanpa kegelisahan. Salah satu kegelisahan beliau, banyak muslim yang shalih tapi tidak mushlih untuk dirinya, apalagi orang lain. Dalam Q.S at-Tinn ayat 4-8, Allah berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (6) فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (7) أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (8)

Ayat diatas menyinggung mengenai amal sholeh  sebagai suatu yang terkait dengan keimanan, dan bahkan bersanding kuat. Sejatinya, shalih hanya diukur dengan melaksanakn kelima rukun islam itu secara sempurna (kaffah).

Jika melihat urutannya, kelima rukun diatas memang terlihat diproyeksikan untuk membentuk kesalehan individual, dan kurang –untuk tidak mengatakan “tidak membentuk”- terarah untuk membentuk kesalehan sosial.

Indikasi yang paling dekat menyentuh sosial mungkin zakat, itupun yang banyak terjadi pola fikir agamanya dilaksanakan karena mampu dan menjalankan tuntutan.

Taqwa –untuk selanjutnya menjadi Muttaqin- sesungguhnya berperan disana. Orang yang Muttaqin tidak hanya memiliki pola berfikir agama hanya untuk ketaannya kepada Allah sebagai pahala untuk dirinya semata, namun juga ketaatan kepada Allah yang bisa memperbaiki prilaku diri, dan dirinya baik bagi orang lain.

Paling tidak, amal yang dilakukan tidak terlalu “ego” terorientasi pada pahala. Muslim-Muttaqin adalah mereka yang shalih dan mushlih, yang beragama dengan melaksanakan ibadah kepada Allah, ditransformasikan penghayatannya pada diri sendiri dan diorientasikan pengamalannya pada orang lain. Mengesampingkan salah satu dari tiga sisi ini tidaklah akan sampai sempurna pada derajat tersebut.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.