Kultum Singkat tentang Islam adalah Agama Rahmah

Kultum Singkat tentang Islam adalah Agama Rahmah

Tongkrongan Islami – Islam merupakan risalah rahmat telah menjadi  pengetahuan yang populer di kalangan umat.  Namun pengetahuan tersebut tidak berkembang menjadi wacana yang harus dikembangkan sehingga setiap waktu, atau dalam lintas masa, generasi islam yang rahmah selalu datang silih berganti.

Malah sebaliknya, gerakan umat yang memiliki orientasi yang saling bertentangan sama-sama mengklaim menjadi gerakan untuk mewujudkan Islam sebagai agama rahmat. Padahal selama pertengkaran itu ada, apa mungkin kerahmatan ada disana?

Dalam Q.S. al-Anbiya’, ayat 07 Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

Ayat itu menegaskan idealitas risalah atau agama Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam dengan menggunakan pola kalimat nafy-istitsna’ (menafikan-mengecualikan): Kami tidak mengutusmu (nafy), kecuali untuk menjadi rahmat (istitsna’).

Pola itu digunakan untuk membatasi (al-qashr) dan menurut teori dalam bahasa Arab kekuatannya dalam memberi pembatasan masih kalah dibandingkan pola ’athaf (dengan menggunakan kata sambung la, berarti ”bukan”).

Penegasan risalah Islam sebagai rahmat dengan pernyataan wa ma arsalnaka illa rahmatan masih kalah kuat dibandingkan  dengan inna arsalnaka rahmatan la la’natan (Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi rahmat, bukan untuk menjadi laknat).

Namun pola nafy-istitsna’ itu dalam penggunaannya dimaksudkan untuk menetapkan satu kualitas bagi sesuatu dengan menafikan darinya segala kualitas selainnya secara total, sehingga pengertian pernyataan tersebut adalah ”Islam itu adalah rahmat dan agama yang tidak menjadi rahmat itu bukan Islam”.

Karena pengertiannya  demikian maka pernyataan untuk mengesakan Allah dalam tahlil (la ilaha illa Allah) dan syahadat pun  menggunakan pola itu, bukan pola lain yang dikatakan lebih kuat dalam memberi pembatasan. Penggunaan pola tersebut sudah barang tentu untuk menafikan  kualitas ketuhanan dari selain Allah yang dipercaya sebagai tuhan dalam agama-agama politheis.

Pengertian pernyataan tentang risalah Nabi seperti itu berarti bahwa pandangan fundamental atau paradigma (miqyas) Islam menurut al-Qur’an itu adalah agama rahmat. Islam itu adalah agama rahmat,  tidak ada Islam yang tidak menjadi rahmat.

Karena itu Islam yang Qur’ani adalah Islam yang menjadi rahmat dan ”Islam” yang tidak menjadi rahmat bukanlah Islam yang sesuai dengan ideal kitab suci itu, sehingga berarti  al-Qur’an (juga hadis) yang menjadi dasarnya itu adalah bangunan rahmat, bukan sekedar bangunan kalimat, kata dan huruf-huruf.

Dengan demikian,  paradigma Islam yang Qur’ani itu bukan Islam sebagai agama asing (gharib) yang sama sekali berbeda dari  agama dan budaya lain, sehingga umat Islam harus berbeda dari umat-umat yang lain dalam segala hal.

Rahmat (bahasa Arab: rahmah) adalah riqqah taqtadli al-ihsan ila al-marhum, perasaan halus (kasih) yang mendorong memberikan kebaikan kepada yang dikasihi. Dalam penggunaannya, kata itu bisa mencakup kedua batasan itu dan bisa juga hanya mencakup salah satunya,  rasa kasih  atau memberikan kebaikan saja.

Islam itu adalah satu organisme yang hidup, sehingga ketika dinyatakan sebagai rahmat bagi seluruh alam, maka berarti agama itu mengasihi dan memberikan kebaikan secara aktual kepada seluruh alam.

”Islam” yang tidak memberikan kebaikan aktual berarti menjadi agama laknat. Hal ini karena  kebalikan dari rahmat adalah laknat (la’n) yang berarti hukuman, tidak memberi atau tidak ada kebaikan dan doa supaya dijauhkan dari kebaikan Tuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here