Materi Kultum Terbaru Takwa Sebagai Semangat Kehidupan Sosial

Materi Kultum Terbaru Takwa Sebagai Semangat Kehidupan Sosial
Photo by Palupiutami.wordpress.com

Tongkrongan Islami – Taqwa mengandung makna yang bervariasi di kalangan ulama. Namun, secara umum taqwa bisa difahami sebagai bentuk penghambaan dan penghayatan seorang Hamba kepada sang pencipta, Allah swt.  Karena itu, taqwa dapat dikatakan pula sebagai agama itu sendiri.

Takwa dan agama taubahnya dua sisi mata uang yang saling terkait. Bertaqwa berarti menyadari bahwa Allah men-syari’atkan agamaNya tidak hanya sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam perkara-perkara kebahagiaan di akhirat saja, namun juga mensyari’atkan agama ini untuk menunjuki manusia dalam urusan kehidupan dan kebahagiaan mereka di dunia ini.

Agama Islam telah menyentuh segala segi kehidupan manusia, mulai dari segi aqidah, aspek politik, bidang ekonomi hingga lapangan sosial kebudayaan. Namun, lapangan realitas keagamaan ini di dunia yang modern, secara lebih spesifik realitas di Negara Kita, nampaknya semakin memprihatinkan.

Dalam segi aqidah banyak sekali umat Islam yang hingga kini masih sibuk menyalahkan orang lain, bahkan mengkafirkan orang lain. Kemudian dalam aspek politik, kita dipertontonkan pada permainan yang keruh penuh rekayasa, retorika semu dan praktik korupsi yang banyak dilakukan oleh mereka yang mengaku Muslim.

Begitu pula dalam bidang ekonomi, sistem keuangan yang menjerit rakyat jelata masih mendominasi kehidupan kita. Akibatnya, makin lebarnya jurang antara si kaya dan si miskin. Sementara itu, dalam lapangan sosial budaya, hampir setiap hari kita disuguhi kebobrokan moral. Setiap hari kita menyaksikan pemberitaan mengenai: perzinaan, pemerkosaan, pembunuhan, kasus narkoba dan sebagainya.

Realitas ini membuat kita bertanya, dimana wajah agama kita?  Pertanyaan ini meransang pemikiran kita untuk mehidupkan kembali konsep takwa, serta menjadikannya sebagai semangat dalam menjalani kehidupan didunia ini.

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang berisi aturan-aturan yang mengatur segala aspak kehidupan manusia, baik itu hubungan kepada Sang Khaliq (hamlum minallah), maupun hubungan kepada sesama mahluk (hablum minan nas).

Adapun sikap taqwa lahir dari adanya kesadaran moral dan kepekaan nurani seorang Hamba. Manusia yang bertaqwa adalah manusia yang memiliki kepekaan moral yang teramat tajam untuk menngerjakan atau tidak mengerjakan  sesuatu perbuatan. Orang yang bertaqwa memiliki mata batin menembus jauh untuk melihat yang baik itu baik dan yangn buruk itu buruk.

Dalam al-Qur’an dinnyatakan, bahwa Kitab Suci Al – Qur’an menjadi pedoman dan penunjuk bagi orang – orang yang bertaqwa (atau هدا للمتقين). Betapa pentingnya nilai taqwa, hingga ia merupakan bekal yang terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia. Dan betapa tinggi derajat taqwa, hingga manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa. Sebagaimana hadits rasulullah, إن أكرمكم عند الله أتقاكم .

Berbicara masalah taqwa, maka contoh atau uswah yang paling nyata adalah baginda Rasulullah saw. Beliaulah seorang Nabi yang salih secara individual maupun sosial. Sikap ketaqwaannya telah membawa beliau menjadi seorang yang menanamkan nilai agama dalam segala segi kehidupan, mulai dari politik, ekonomi hingga sosial.

Dengan pondasi ketaqwaan, beliau mengubah roda ekonomi kapital menjadi ekonomi islami, dengan menghilangkan prinsip gulul (tipu daya) dan diganti dengan prinsip ­antaradin (negosiasi). Hal yang sama beliau lakukan dalam merubah pola fikir masyarakatnya, dari nafsu al-lawwamah jiwa yang keras dan suka memberonta menjadi nafsu al-muth’mainnah jiwa yang tenah, teduh dalam kehidupan. Sehingga, sebagai Muslim yang bertaqwa, Nabi bukan hanya seorang hamba yang ta’at beribadah (‘Abid), namun juga sebagai penggerak dalam semua lini kehidupan.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here