Materi Khutbah Jum’at Terbaru Shalat Membentuk Kepribadian Muslim [Edisi 2018]

Materi Khutbah Jum'at Terbaru Shalat Membentuk Kepribadian Muslim

Materi Khutbah Jum’at Terbaru Shalat Membentuk Kepribadian Muslim Oleh : KH. Husen Kambayang

Maha Besar Allah dan Maha Agung, Maha ahli dan Berkuasa.  Dialah yang mengatur peredaran matahari, bumi, bulan dan bintang dalam peredaran yang tetap dan tepat.  Dialah yang memutar bumi sehingga terjadi siang dan malam. Dialah yang Maha Bijaksana dari segala yang bijak, Dialah yang menentukan aturan agar kehidupan dunia teratur.  Dia pulalah yang memerintahkan shalat, agar manusia hanya mengabdi kepadaNya dan tidak mengabdi kepada yang lainnya.

Dengan shalat manusia akan terus mengejar redha Allah, dengan shalat manusia akan terus membesarkan Allah. Dengan shalat manusia tidak akan tertipu dengan kehidupan yang fana. Dengan shalat, manusia akan terus merasa hina.

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang Dirahmati oleh Allah SWT!

Kini banyak manusia yang telah terbawa kepada kebanggaan ilmu pengetahuan, telah hanyut kepada kesombongan kedudukan dan kekuasaan, sehingga mereka tidak lagi perduli dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang terjadi dialam ini.

Mereka tidak menyadari bahwa bumi yang mereka pijak ini, dikendalikan oleh Penguasa alam  semesta. Dalam Surat Al-Furqaan 47 Allah Berfirman :

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا

“Dialah yang menjadikan untukmu malam sebagai pakaian, dan tidur untuk istrahat, dan Dia jadikan siang untuk berusaha”.

Siapakah yang mengantarkan siang, kalau bukan Allah..? Siapakah yang mengatur jarak antar planet, kalau bukan Allah…?

Adakah manusia yang ahli mengatur peredaran. Adakah manusia yang mampu menghentingkan gunung meletus, mencegah hujan turun, dan menghentikan badai.? Adakah orang yang mampu menangguhkan ajal walaupun sesaat..?

Berjuta pertanyaan, yang tidak bisa dijawab oleh manusia dan pasti kembalinya hanya kepada Allah SWT. Semua ini adalah isyarat bahwa manusia tidak patut berbangga dengan kehebatannya.

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang Dirahmati oleh Allah SWT!

Untuk  mengikis segala sifat yang tercela pada manusia, terutama sifat sombong dan bangga diri, maka Allah memberi kita tugas rutin shalat lima waktu, yang berarti paling sedikit “85” kali kita mengucapkan “Takbir” sehari semalam.

“Allah Maha Besar” itulah kata Agung berulang-ulang, kita ucapkan dari hari kehari, bulan ketahun, tentunya makin lama makin terkesan kedalam jiwa bahwa, Yang Agung, Yang Mulia, Yang Besar KekuasaanNya hanyalah Allah semata.

Adapun kekuasaan yang lain, kehebatan dan kekayaan, hanyalah pinjaman sementara dari Allah SWT. Dan karena itu manusia tidak boleh merasa hebat sendiri.

Ucapan “Takbiir” ini dilengkapi dengan ucapan “Tasbiih” dikala ruku’ dan sujud sebanyak “135 kali”  sehari semalam.

“Maha Besar Allah” dilengkapi dengan “Maha Suci”,  “Maha Agung” dan “Maha Tinggi”, adalah kalimat yang berulang dan terus berulang selama hayat dikandung badan, member isyarat kepada kita bahwa manusia benar-benar tidak memiliki kemuliaan, tidak memiliki kebesaran dan kehebatan.

Manusia tidak memiliki apa-apa, tidak berdaya kecuali dikehendaki oleh Allah SWT. Kalau kalimat-kalimat yang Agung itu terus kita ulang-ulangi, sekaligus kita hayati ma’na yang terkandung didalamnya, sudah barang tentu akan membekas kedalam jiwa dan berpengaruh bagi upaya mengikis sifat-sifat tercela didalam diri, terutama sifat sombong dan bangga atas keberhasilan yang dicapai.

Kini jelaslah bagi kita bahwa kewajiban shalat, sangat erat kaitannya dalam membentuk kepribadian Muslim, sekaligus dapat meningkatkan keyakinan seorang hamba.  Orang yang melaksanakan shalat, harus yakin benar akan Kekuasaan Allah, harus dia sadari bahwa alam dan seluruh isinya dikendalikan Allah.

Harus dia akui bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali jika dikehendaki oleh Allah. Kalau ada keraguan, kalau ada yang mengganggu keyakinan, harus diluruskan kembali. Karena itu kita “Wajib” membaca Surat Alfatihah paling sedikit 17 kali sehari samalam.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah yang memelihara alam semesta”, berulang-ulang kita baca.

Tujuannya agar kita bertambah yakin bahwa yang memelihara, yang memberi ni’mat, yang memberi rezeki, memberi kekuatan, kesehatan dan yang memberi segalanya ialah Allah SWT.

Kalau dalam setahun kita terus melaksanakan shalat yang paling sedikit 17 kali sehari semalam itu, berarti dalam setahun kita meluruskan keyakinan sebanyak “6205 kali”.

Tiada yang memelihara, tiada yang memberi, tiada yang menjaga, kecuali hanya Allah semata, sebanyak yang disebutkan itu,  sudah barang tentu akan membekas kedalam jiwa. Inilah tujuan “Fatehah” yang wajib dibaca, wajib meluruskan keyakinan.

Bukan hanya asal baca, asal mengucapkan dan tidak memberi pengaruh dan perobahan sikap. Kita juga dianjurkan untuk meluruskan diri dalam segala hal.  Kita harus meminta nasehat dari orang-orang yang berilmu, kita harus minta petunjuk Allah.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”, harus juga diulang-ulangi, paling sedikit 17 kali sehari semalam.

Ma’nanya, manusia tidak boleh merasa diri sempurna, lebih baik dari yang lain, lebih terhormat, lebih pandai dan sebagainya. Sungguh, perintah melaksanakan shalat itu, adalah perintah yang agung dari Yang Maha Agung, perintah yang mendidik manusia dari bermacam-macam masalah.

Perintah yang membimbing manusia kesatu arah menuju kepada kehidupan yang lebih utama, ya’ni kehidupan sesudah mati, kehidupan yang tidak seorangpun yang tidak menjumpainya.  Juga perintah yang memberi efek sampingan yang tidak sedikit bagi pembinaan moral manusia.

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang Dirahmati oleh Allah SWT!

Dilain sisi kita juga dianjurkan untuk membiasakan anak melaksanakan shalat dari sejak umur tujuh tahun. Sudah barang tentu  perintah ini bertujuan untuk mendidik agar anak menjadi orang yang berguna bagi  agama dan orang tua, yang dikenal dengan sebutan anak shaleh.

Tidak ada orang yang tidak ingin anaknya menjadi anak yang shaleh. Namun, menghendaki anak yang baik, tidaklah semuda membalik telapak tangan. Harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, harus dididik dari sejak lahir,  harus diajarkan dasar-dasar agama, harus tau membaca al-qur’an agar bisa melaksanakan ibadah, juga agar bisa mendoakan orang tuanya.

Bagaimana mungkin anak bisa berdoa tanpa mengetahui al- qur’an, bagaimana pula anak bisa shalat tanpa diajarkan aturan sembahyang dan begitu seterusnya. Karena itu, orang tua yang ingin dido’akan oleh anaknya, dia harus melaksanakan metode yang diajarkan ahlinya, yaitu junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw.

مُرُوا أَوْلادكُمْ بِالصَّلاةِ وهُمْ أَبْنَاءُ سبع سِنِينَ ، واضْرِبُوهمْ علَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ ، وفرَّقُوا بيْنَهُمْ في المضَاجعِ

“Perintalah anak-anakmu melaksanakan sembah yang dikala umur tujuh tahun dan pukullah ia saat sepuluh tahun, bila melalaikan shalat”. (HR. Abu Dawud)

Bahkan dalam al-Qur’an kita diperintahkan untuk bersabar dalam menasehati anak untuk menjalankan sholat setiap saat. Allah Ta’ala berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya” (QS: Thaha: 132)

Inilah umur yang paling tepat dalam memulai tugas penting, memulai menguasai jiwa anak, memulai membiasakan shalat. Dalam sehari semalam kita dianjurkan, paling sedikit lima kali mengadakan kontrol.

Mari kita perhatikan beberapa hal yang bertalian dengan perintah shalat ini bagi anak. Sebelum memulai tugas penting ini, tentu kita akan mendahuluinya dengan pertanyaan :

“Sudahkah kau shalat Nak..?”

Inilah pertanyaan awal, yang dapat kita katakan sebagai pertanyaan yang amat penting bagi pembentukan moral anak. Bagi anak yang masih berusia tujuh tahun, tentu akan memberi jawaban yang pas.

Artinya jika dia belum shalat, pasti akan menjawab belum, karena dia masih polos, masih takut berbohong pada orang tuanya.  Kecuali jika ayah ibunya telah “keracunan” bohong dalam rumah tangganya. Mungkin anaknya yang masih ingusan itupun sudah ketularan penyakit bohong.

Pertanyaan ini akan terus berulang “5” kali sehari semalam, atau “150” kali dalam sebulan dan “1825” kali dalam setahun. Yang berarti tiga tahun sesuai yang dianjurkan Nabi itu, akan menimbulkan pertanyaan sebanyak “5475” kali, dan jawaban sebanyak itu pula.

Dari pertanyaan orang tua dan jawaban yang benar dari anak, akan menghasilkan “kejujuran”. Selama tiga tahun berturut-turut, orang tua terus menanamkan kejujuran lewat pertanyaan tentang shalat, sudah pasti akan menghasilkan anak yang terbiasa jujur.

Sehari semalam 5 kali jujur, sebulan sama dengan 150 kali jujur, setahun sama dengan 1825 kali jujur dan tiga tahun sama dengan 5475 kali jujur bukanlah sesuatu yang kecil.

Sudah barang tentu akan membekas kedalam jiwa anak dan akan tertanam kejujuran dari sejak kanak-kanan, sikap yang menjadi pondasi dasar bagi setiap Muslim.

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang Dirahmati oleh Allah SWT!

Sesudah pertanyaan diatas, maka kalimat berikut yang akan muncul tidak lain adalah kalimat perintah.

“Ayo laksanakan shalat Nak…!

Bagi orang tua yang sungguh-sungguh hendak mendidik anaknya, sudah barang tentu akan berusaha agar perintah ini segera dilaksanakan oleh anaknya.

Kalau perintah ini sudah diusahakan untuk dilaksanakan, pasti akan menghasilkan “Ketha’atan”. Suatu sikap yang amat penting dibina dari sejak kecil, sikap yang akan menentukan nilai seorang Muslim.

Perintah ini berulang terus menerus secara rutin. Sehari semalam lima kali perintah, sebulan sama dengan “150” kali perintah dan tiga tahun sama dengan “5475” kali perintah, yang berarti sebanyak itu pula “ketha’atan” yang kita bina dari sejak kecil.

“Kalimat tanya” dan “kalimat perintah” yang mengandung pendidikan, bahwa anak harus menjawab dengan jujur, dan anak juga harus mematuhi orang tua, adalah dua hal yang amat penting bagi pembentukan kepribadian Muslim.

Kejujuran dan ketha’atan yang menjadi pondasi dasar bagi sumber daya manusia.

Kalau seorang Muslim tidak lagi jujur, kalau seorang Mu’min tidak lagi tha’at, maka keislaman dan keimanan mereka masih perlu dipertanyakan, sebab Islam sama dengan selamat dari sifat tercela dan Mu’min sama dengan tha’at kepada aturan.

Anjuran ini juga mempunyai efek samping yang amat besar nilainya. Setiap hari orang tua selalu mengadakan komunikasi yang pada dasarnya menanyakan tentang shalat, namun dibalik dari itu ada perintah dan pengawasan tersirat.

Hargailah waktu “nak, jangan sembarang keluar rumah tanpa arah, dan sebagainya. Lima kali sehari semalam kita mengadakan komunikasi dengan anak, menanyakan shalat dan yang bertalian dengan larangan shalat itu sendiri, tentu akan memberi hasil yang tidak siasia.

Lima kali sehari semalam, selama tiga tahun bertanya, jumlahnya sama dengan “5475” waktu shalat adalah jumlah yang tidak sedikit. Lima kali sehari semalam, juga kita mengadakan komunikasi dengan Allah, meminta segala yang perlu, meluruskan segala yang bengkok, mengharap segala kebutuhan, sudah barang tentu akan membentuk kepribadian Muslim yang hakiki.

Pribadi yang tangguh dalam menghadapi tugas, pribadi yang tegar dalam menghadapi tantangan, pribadi yang ulet dalam menghadapi rintangan, pribadi yang segar dalam menghadapi kesulitan hidup, pribadi yang penuh harap hanya kepada Allah SWT.

Oleh sebab itu, mari kita berusaha selama hayat masih dikandung badan, untuk tidak mengabaikan shalat, sekaligus berusaha dengan sepenuh hati untuk membina anak dan keluarga dalam menunaikan shalat lima waktu. Semoga perjuangan dan usaha kita akan mendapat redha dan pertolongan Allah SWT, serta balasan pahala yang berlipat ganda.  Amin Yaa Rabbal ‘Alamin……!

Baca Khutbah Terbaru Lainnya:

  1. Khutbah Jumat Kehidupan Dunia Hanyalah Permainan dan Sandiwara
  2. Khutbah Jumat Umur Dunia Semakin Dekat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here