Mazhab Sahabat Sebagai Dalil Syara’

Mazhab Sahabat Sebagai Dalil Syara

Tongkrongan Islami – Mazhab secara etimologis adalah jalan, sedangkan secara terminologis adalah jalan yang ditempuh oleh mujtahid dalam menggali hukum syara’ dari dalil-dalil kasuistik (adillah tafshîliyyah).

Sementara sahabat adalah orang yang secara konvensional layak disebut sebagai teman (shâhib) Nabi, atau orang yang menyertai beliau dalam rentang waktu tertentu, misalnya setahun, dua tahun atau ikut berperang bersama beliau dalam sekali atau dua kali peperangan.[1] Karena itu, yang dimaksud dengan Mazhab Sahabat adalah kumpulan hukum yang digali oleh sahabat, difatwakan dan digunakan untuk memutuskan perkara.

Kehujjahan Mazhab Sahabat bagi Penggagasnya

Semua ulama’ ushul sepakat, bahwa mazhab sahabat dalam masalah ijtihad bukanlah dalil bagi sahabat mujtahid yang lain, baik khalifah, hakim atau mufti. Hanya saja, mereka berselisih mengenai status mazhab sahabat sebagai hujah bagi para tabiin dan mujtahid setelah mereka.

Mazhab Asy’ariyah, Mu’tazilah, Syâfi’i –dalam salah satu qawl-nya– Ahmad –dalam salah satu riwayat yang diyatakan darinya– dan al-Karkhi, pengikut Hanafi, menyatakan bahwa mazhab sahabat bukanlah dalil. Sementara, Mâlik bin Anash, ar-Râzi, al-Bazdawi, as-Syâfi’i –dalam salah satu qawl-nya– dan Ahmad –dalam salah satu riwayat yang dinyatakan darinya– menyatakan bahwa mazhab sahabat adalah dalil yang harus dikedepankan ketimbang Qiyas.[2]

Bagi mereka yang menganggapnya sebagai dalil, dasarnya adalah al-Kitâb, as-Sunnah dan Ijmâ’. Dalam al-Qur’an, Allah SWT. berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali ‘Imrân: 110)

Ini merupakan seruan kepada sahabat agar mereka memerintahkan kemakrufan, sementara seruan pada kemakrufan tersebut hukumnya wajib diterima. Dalam as-Sunnah, Nabi saw. bersabda:

أَصْحَابِيْ كَالنُّجُوْمِ فَبِأَيِّهِمْ اِقْتَدَيْتُمْ اِهْتَدَيْتُمْ

Sahabatku adalah bagaikan bintang, maka siapapun di antara mereka yang kalian jadikan panutan, maka kalian akan mendapatkan petunjuk.[3]

Sedangkan Ijma’, ‘Abdurrahmân bin ‘Awf pernah akan mengangkat ‘Alî bin Abî Thâlib sebagai khalifah, dengan syarat mengikuti Abû Bakar dan ‘Umar, tetapi beliau menolaknya, karena itu ‘Abdurrahmân bin ‘Awf mengangkat ‘Utsmân, dan tindakan itu tidak diingkari oleh seorang sahabatpun.

Sanggahan terhadap Mazhab Sahabat sebagai Dalil

Dalil-dalil yang digunakan sebagai pijakan untuk membuktikan bahwa mazhab sahabat adalah dalil syara’ sejatinya tidak layak digunakan untuk membuktikan kehujahannya. Mengenai surat Ali ‘Imrân: 110 di atas, sebenarnya ditujukan kepada seluruh ummat Muhammad, bukan hanya khusus untuk para sahabat.

Makna: ta’murûna bi al-ma’rûf (kalian memerintahkan pada kemakrufan) tidak berarti, bahwa apa yang mereka perintahkan juga pasti makruf. Sementara hadits di atas, menurut al-Muzni, maksudnya adalah apa yang mereka riwayatkan dari Nabi,[4] dan bukan menteladani apa saja darinya, dan juga tidak berarti bahwa pandangan mereka merupakan dalil syara’. Sebab, sahabat tidak maksum.

Disamping itu, firman Allah dengan tegas menyatakan:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. (QS. an-Nisâ’: 59).

Artinya, jika terjadi perselisihan harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul, atau al-Qur’an dan as-Sunnah. Sedangkan yang lain, tidak termasuk dalam kategori sesuatu yang menjadi rujukan ketika terjadi perselisihan. Mazhab sahabat jelas bukan al-Qur’an dan as-Sunnah, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai hujah.

Disamping itu, mazhab sahabat juga merupakan hasil ijtihad para sahabat, yang memungkinkan benar dan salah. Padahal, sesuatu yang memungkinkan benar dan salah, tidak mungkin dijadikan hujah. Dengan demikian, mazhab sahabat tidak layak dijadikan sebagai dalil syara’.

Baca Juga:

  1. Ilmu Qashash Al-Qur’an: Memahami Kisah-Kisah Al-Qur’an
  2. Asbabun Nuzul: Memahami Sebab-Sebab Turunya Ayat Al-Qur’an
  3. I’jaz Al-Qur’an: Memahami Kemukzjizatan Al-Qur’an

 

Catatan Kaki

[1] Lihat, Ibn Hajar, al-Ishâbah fî Tamyîz as-Shahâbah, ed. ‘Adil Ahmad Mawjûd, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, juz I, hal. 8.

[2] Al-Amidi, al-Ihkâm, juz IV, hal. 149.

[3] Lihat, Ibn Hajar, Fath al-Bâri, ed. Muhammad ‘Abd al-Bâqi, Dâr al-Ma’rifah, Beirut, 1389, juz IV, hal. 57; Ibn ‘Abd al-Barr, at-Tamhîd, ed. Musthafâ al-‘Alawi, Wuzarât ‘Umûm al-Awqâf, Maroko, 1387, juz IV, 263.

[4] Lihat, Ibn ‘Abd al-Barr, at-Tamhîd, juz IV, 263.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.