Melepaskan Sanggulan Rambut saat Mandi Wajib

Melepaskan Sanggulan Rambut saat Mandi Wajib

Tongkrongan Islami – Seperti halnya berwudhu kembali setelah mandi wajib, beberapa orang juga mempertanyakan, Apakah wajib melepaskan sanggulan rambut saat mandi wajib atau apakah boleh tidak membasahi keseluruhan rambut?

Dalam hal ini, ada beberapa kelompok yang memiliki pandangan berbeda:

Kelompok pertama

mengatakan bahwa wajib membasahi semua rambut, dan tiada boleh ketinggalan satupun rambut, kemudian wanita yang hendak mandi diwajibkan membuka sanggulnya agar keseluruhan rambut terairi air (basah).

Adapun alasan mereka adalah;

قال علي بن ابي طالب: سمعت رسول الله .ص. يقول :من ترك موضع شعرة من جنابة لم يصبه الماء فعل الله به كذا وكذا من النار. قال علي فمن ثمّ عاديت شعري. رواه أحمد وابو داود و إبن ماجه

”Telah berkata Ali bin Abi Thalib; Saya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda; ”Barang siapa membiarkan satu tempat rambut yang berjanabah dengan tiada kena air, maka Allah akan berbuat padanya begini dan begini dari neraka (yakni disiksa), berkata Ali; maka lantaran itu, saya memotong rambut saya”. (HR.Ahmad, Abu Daud dari Ibnu Majah)

Hadis di atas menunjukkan diperintahkanya menyelah-nyelahi rambut dengan air ketika sedang mandi wajib (junub). (Baca: Nailul Autor I:311)

Kemudian dalam hadis lain disebutkan;

قال ابو هريرة : قال رسول الله .ص. تحت كل شعرة جنابة فبلّو الشعر وأنقو البشرة.  رواه ابو والبيهقي  داود والترمذي

”Abu Huairah berkata; Rasulullah saw. Bersabda: ”Tiap-tiap rambut ada berjanabah, lantaran itu basahilah rambutmu dan bersihilah kulitmu”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Baihaqi).

Berbeda dengan hadis pertama yang khusus memerintahkan untukmenyelah-nyelahi rambut saat sedang mandi. Pada hadis kedua ini menjelaskan secara umum diperintahkannya mencuci seluruh badan. Termasuk rambut di dalammnya. (Subulus Salam I: 95).

Lalu berkaitan dengan membuka sanggul, ada satu hadis yang membahas secara khusus sebagaimana yang tertera di bawah ini:

قال أنس: قال رسول الله.ص. إذا اغتسل المرأة من حيضتها نقضت شعرها نقضا وغسلتها بخطميّ وأشنان. رواه الدا قطني والبيهقي

Anas berkata; bahwa Rasulullah saw. bersabda; “Apabila perempuan mandi dari hainya, supaya ia membuka rambutnya sama sekali dan mencucinya dengan kitmi dan usynan”. (HR. Daaruqutni dan Baihaqi).

Kelompok Kedua

Kelompok kedua menyatakan bahwa; Tidak wajib bagi perempuan membasahi semua rambutnya tetapi cukup menuangkan tiga kali di atas kepalanya dan tidak ada kewajipan pula baginya untuk membuka sanggul kepala tatkala hendak mandi. Alasan mereka adalah:

1. Mereka mengomentari hadis pertama yang dijadikan dalil bagi firqah pertama, meskipun Ibnu Hajar telah mensahihkanya shahih, akan tetapi menurut mereka hadis tersebut sanadnya tidak shahih, lantara sudah menjadi perbincangan yang menjatuhkanya, dan karena di dalam isnadnya ada tiga orang yag tidak dapat dipercaya, yaitu: ‘Atha’, Hammad dan Zadzan. Ini adalah komentar imam Nawawi, oleh karena itu hadis tersebut tidak bisa menjadi dalil.

2. Begitu juga hadis ke-2, di dalamnya terdapat Hars bin Wajih yang mana ia dilemahkan oleh sekalian Ulama Ahlul hadis, lebih-lebih oleh ketiga ulama yang meriwayatka hadis tersebut, sehingga hadis ini pun tidak bisa dijadikan hujjah.

3. Adapun hadis ke-3, yakni hadis tentang membuka sanggul, ternyata hadis tersebut tidak diterima ulama Ahlul hadis, dan lebih-lebih hadis itu diriwayatkan dari Hammad, padahal ia sudah dikenal kelemahanya.

Adapun hadis lain mengenai membuka sanggul ketika mandi wajib ialah;

قالت عائشة :أنّالنبي ص. قا ل لها وكانت حائضا: أنقضي شعرك واغتسلي رواه ابو داود وإبن حبّان والّسائ وأحمد

‘Aisah berkata; bahwa Rasulullah saw bersabda padanya; sedangkan “Aisyah sedang haid; “Lepaskanlah rambutmu dan mandilah engkau”.

Hadis di atas tidak dengan terang menunjukkan bahwa membuka rambut (sanggul) itu wajib, akan tetapi lebih menunjukkan kepada mustahab (utama) saja.

Ada beberapa hadis lagi yang memperkuat pendapat firqah ke-2, diantaranya:

قالت أمّ سلمة للنبي ص. إنّي إمرأة أشدّ ضفر رأسي أفأنقضه للحيضة وللجنابة؟ فقال :لا إنّما يكفيك أن تحثي علي رأسك ثلاث حشيا تثمّ تفيضبن الماء فتطهرين  رواه مسلم

“Telah berkata Ummu Salamah kepada Nabi saw: Saya ini seorang wanita yang menyanggul rambutku, lantaran itu apakah semestinya saya membuka sanggul itu bagi (mandi) haid dan janabat? Sabda Rasul: “Tidak usah, melainkan cukuplah engkau menyiram kepalamu tiga kali, maka engkau bisa jadi bersih”. (H.R. Muslim).

Al-Qadhi Abu Bakar Ibnu al-Arabi berkata: Melepaskan sanggulan itu tidak wajib, melainkan apabila sanggulan itu kempal, yang menyebabkan air tidak bisa sampai ke pangkal rambut, kecuali apabila sanggul itu dilepas, dan apabila demikian, maka wajib baginya melepaskan sanggul itu.

Selain riwayat tersebut terdapat juga hadis dari al-Hasan al-Basri, Towwus dan juga riwayat dari Malik: “Sesungguhnya tidak wajib bagi laki-laki dan perempuan untuk melepaskan sanggulnya.

Terdapat juga hadis yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Muslim yang berbunyi, “Telah berkata Ubaid bin Umair; telah sampai (khabar) kepada Aisyah, bahwa Abdullah bin Amr memberi perintah pada perempuan-perempuan, apabila mereka mandi supaya membuka sanggul-sanggul mereka, kemudian beliau berkata: Heran sekali Ibnu Umar! Ia perintah perempuan-perempuan apabila mandi supaya membuka sanggul-sanggul mereka? Apakah ia tiada menyuruh mereka supaya mencukur kepala mereka? Sungguh saya pernah mandi bersama Rasulullah saw dari satu bejana dan saya tiada menuang (air) atas kepala saya lebih dari tiga tuangan”.

Hadis-hadis di atas menerangkan dengan tegas, bahwa mandinya perempuan dari haid, nifas dll, tidak usah dengan membuka sanggulnya, akan tetapi cukup dengan menuangkan air kekepala tiga kali.

Pendapat 4 Imam Mazhab Melepaskan Sanggulan Rambut saat Mandi Wajib

a. Hanafiyah

Cukup dengan membasahi pangkal sanggulnya, demi untuk memudahkan bagi orang yang bersanggul. Adapun bagi rambut yang terurai maka wajib mencuci semuanya. Akan tetapi jika sanggulanya kuat, sehingga tidang memungkinkan air untuk masuk, maka wajib melepas sanggulanya secara mutlak. (Fiqh Islami Wa Adillatuh I:523).

b. Malikiyah

Tidak wajib bagi orang yang mandi untuk melepas sanggulnya, selagi sanggulnya itu tidak kuat (kempal), sehingga menghalangi sampainya air. (Nailul Autor I: 524). Adapun yang menjadi alasan mereka (Hanifiah dan Malikiyah) adalah hadis Ummu Salamah dibawah ini:

قالت أمّ سلمة للنبي ص. إنّي إمرأة أشدّ ضفر رأسي أفأنقضه للحيضة وللجنابة؟ فقال :لا إنّما يكفيك أن تحثي علي رأسك ثلاث حشيا تثمّ تفيضبن الماء فتطهرين(رواه مسلم

Artinya: “Telah berkata Ummu Salamah kepada Nabi saw: Saya ini seorang wanita yang menyanggul rambutku, lantaran itu apakah mesti saya membuka sanggul itu bagi (mandi) haid dan janabat? Sabda Rasul: “Tidak usah, melainkan cukuplah engkau menyiram kepalamu tiga kali, maka engkau bisa jadi bersih”. (H.R. Muslim).

c. Syafi’iyah

Wajib melepas sanggulan, jika air tidak bisa sampai pangkal rambut kecuali dengan cara melepasnya. (Nailul Autor I: 524).

d. Imam Ahmad

Beliau membedakan antara mandi karena haid dan janabah, beliau berkata; Bagi perempuan yang haid dan nifas itu dengan cara melepas sanggul, dan yang demikian itu tidak bagi mandi janabah. Beliau beralasan hadis yang diriwayatkan dari Aisyah berikut ini:

اانّ النبي صلعم قال لها إذ كانت حائضا:خذي ما ئك و سدرتك وامتشطي. رواه البخاري

Akan tetapi Ibnu Qudamah mengatakan melepas sanggul waktu haid itu sunah. Kesimpulan empat Mazhab di atas adalah Bahwa mereka bersepakat bahwa melepas sanggul bagi perempuan itu tidak wajib, hal itu apabila air bisa sampai kepangkal rambut. (Fiqh Islam Wa Adillatuh I:525).

Kesimpulan

Pada dasarnya mandi wajib dengan menggunakan sanggul tidak dilarang dalam islam (bersifat sunnah). Namun harus diyakini bilamana sanggul tidak terlepas, air yang dituangkan di atas kepala harus menyentuh hingga keseluruhannya. Sebaliknya jika dirasa rambut yang kita miliki dapat menghambat air hingga ke panggkalnya, maka wajib untuk melepasnnya. Wallohu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.