Inilah Sebabnya Mengapa Dosa Selalu Menggelisahkan Hati

Dosa Selalu Menggelisahkan Hati
Photo by Meimiaw.blogspot.com

Tongkrongan Islami – Alangkah indahnya jika kita mempunyai hati yang bersih, pikiran yang positif, serta tindakan yang lurus. Kita bisa selalu memandang diri kita penuh dengan rasa syukur.

Apapun yang kita punya dan terima, semua pasti akan dikembalikan lagi pada Allah. Karena Allah akan memberi nikmat yang lebih banyak lagi jika hamba-Nya selalu bersyukur pada-Nya.

Kebaikan akan selalu menentramkan jiwa sebaliknya kejelekan atau dosa pasti akan selalu menggelisahkan jiwa. Itulah realita yang ada pada manusia.

Hadits Yang Berkaitan Dengan Dosa Selalu Menggelisahkan Hati

Dari cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al Hasan bin ‘Ali, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tinggalkanlah yang meragukanmu dan beralihlah pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.” (HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1/200, shahih)

Dalam lafazh lain disebutkan, “Kebaikan selalu mendatangkan ketenangan, sedangkan kejelekan selalu mendatangkan kegelisahan.” (HR. Al Hakim 2/51, shahih).

Disebutkan dalam hadits lain, dari Nawas bin Sam’an, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kebaikan adalah dengan berakhlak yang mulia. Sedangkan kejelekan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa. Ketika kejelekan tersebut dilakukan, tentu engkau tidak suka hal itu nampak di tengah-tengah manusia.” (HR. Muslim no. 2553).

An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Dosa selalu menggelisahkan dan tidak menenangkan bagi jiwa. Di hati pun akan tampak tidak tenang dan selalu khawatir akan dosa.” (Syarh Muslim, 16/111)

Sampai-sampai bila ada seseorang yang dalam keadaan bingung, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menanyakan pada hatinya, apakah perbuatan itu termasuk dosa ataukah tidak. Ini terjadi ketika hati dalam keadaan gundah gulana serta belum menemukan bagaimana hukum dari suatu masalah.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehatkan kepada Wabishoh, “Mintalah fatwa pada jiwamu. Mintalah fatwa pada hatimu (beliau mengatakannya sampai tiga kali). Kebaikan adalah sesuatu yang menenangkan jiwa dan menentramkan hati. Sedangkan kejelekan (dosa) selalu menggelisahkan jiwa dan menggoncangkan hati.” (HR. Ad Darimi 2/320 dan Ahmad 4/228, hasan lighoirihi)

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah menjelaskan, “Hadits Wabishoh dan yang semakna dengannya menunjukkan agar kita selalu merujuk pada hati ketika ada sesuatu yang merasa ragu. Jika jiwa dan hati begitu tenang, itu adalah suatu kebaikan dan halal. Namun jika hati dalam keadaan gelisah, maka itu berarti termasuk suatu dosa atau keharaman” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 304). Ingatlah bahwasanya hadits Wabishoh dimaksudkan untuk perbuatan yang belum jelas halal atau haram, termasuk dosa ataukah bukan. Sedangkan jika sesuatu sudah jelas halal dan haramnya, maka tidak perlu lagi merujuk pada hati.

Kegelisahan Hati Manusia Yang Berbuat Dosa

Begitulah yang namanya dosa, akan selalu senantiasa menggelisahkan jiwa. Selain itu juga membuat hidup tidak tenang. Bila seseorang mencuri, berbuat kecurangan, korupsi, menipu, melakukan dosa besar atau bahkan melakukan sebuah kesyirikan, jiwanya akan sangat sulit untuk tenang.

Lalu bagaimana bila ada yang melakukan dosa tapi hatinya tenang- tenang saja?

Jawabannya, bukan perbuatan dosa ataupun maksiat yang dibenarkan. Yang benar itulah keadaan hati yang penuh dengan kekotoran. Hati yang telah tertutupi noda hitam karena tak kunjung berhenti dari berbuat maksiat.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al Muthoffifin: 14).

Bila hati terus menerus tertutupi karena maksiat, maka sesungguhnya akan sulit mendapatkan petunjuk dan melakukan kebaikan.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jika hati sudah semakin gelap, maka amat sulit untuk mengenal petunjuk kebenaran” (Ad Daa’ wad Dawaa’, hal. 107).

Baca Juga: Bila Allah Sudah Berjanji, itu Berarti Pasti. Mengapa Mesti Ragu Menikah?

Marilah kita senantiasa berdo’a agar kita terhindar dari perbutan buruk atau berbuat dosa dan selalu dimudahkan untuk berbuat kebaikan.

Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot, wa tarkal munkaroot. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan berbagai kemungkaran (HR. Tirmidzi no. 3233, shahih).

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here