Meninggalkan Jejak Bulan Ramadhan, Begini Tuntunannya!

Meninggalkan Jejak Bulan Ramadhan

Meninggalkan Jejak Bulan Ramadhan – Tidak terasa bulan ramadhan telah berlalu, kita dihadapakan dengan perjuangan panjang untuk tetap istiqomah di Jalan-Nya. Meninggalkan jejak di Bulan Ramadhan tentu menimbulkan tanda tanya seperti:

Bagaimana gerangan amaliyah ramadhan yang telah kita kerjakan? Apa yang seharusnya kita lakukan setelah menghadapi perjuangan panjang tersebut?

Ulasan di bawah ini setidaknya memberikan gambaran umum dengan apa yang telah kita kerjakan dan anjuran menghadapi bulan-bulan selanjutnya sebagaimana yang telah disyariatkan dalam agama Islam.

Tanda-Tanda Mendapatkan Ampunan Setelah Ramadhan

Saudaraku, jika kita merenungkan kembali apa terjadi di bulan Ramadhan, Allah begitu sayang dengan hambanya yang giat mengerjakan amaliyah ramadhan. Cobalah renungkan, begitu banyak amaliyah ramadhan yang mendatangkan pengampunan dosa.

Sungguh amatlah merugi, jika kita melalaikan ibadah ramadhan yang telah berlalu. Beberapa amaliyah yang mendatangkan pengampunan tersebut, seperti beberapa hadis berikut ini:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.” [HR. Bukhari & Muslim]

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [HR. Bukhari & Muslim]

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [HR. Bukhari]

Mayoritas ulama berpendapat bahwa ampunan dosa tersebut hanya berlaku pada dosa-dosa kecil. Ampunan dosa tergantung pada terjaganya sesuatu yang harus dijaga seperti melaksanakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan segala yang dilarang. Hal itu berdasarkan hadits riwayat Muslim, bahwasanya Nabi SAW bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

 “Shalat lima waktu, Jum’at sampai dengan Jum’at berikutnya dan Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya adalah penghapus dosa yang terjadi di antara waktu-waktu tersebut, selama dosa-dosa besar ditinggalkan” [HR. Muslim]

Hadits ini memiliki dua konotasi :

Pertama: Penghapusan dosa akan didapatkan dengan sayarat kita meninggalkan dosa-dosa besar.

Kedua: Kewajiban-kewajiban di bulan Ramadhan hanya dapat menghapus dosa-dosa kecil (tidak menghapus dosa besar).

Beberapa hadis di atas menunjukkan bahwa tiga faktor ini yakni puasa, shalat malam 30 hari bulan ramadhan, dan sholat di malam Lailatul Qadar, masing-masing dapat menghapus dosa yang telah lampau, dengan syarat meninggalkan segala bentuk dosa besar.

 

Allah Ta ‘ala menjamin orang-orang yang menjauhi dosa besar akan diampuni semua dosa kecil mereka:

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang  mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosa kecilmu) dan Kami memasukkanmu ke tempat yang mulia (Surga)” [QS. An-Nisaa’: 31]

Dosa besar adalah sesuatu yang mengandung hukuman tertentu di dunia atau ancaman keras di akhirat; seperti zina, mencuri, minum arak, melakukan praktek riba, durhaka terhadap orang tua, memutuskan tali keluarga dan memakan harta anak yatim secara zhalim dan semena-mena.

Untuk menghapus dosa besar, menurut jumhur ulama harus disertai dengan taubat nashuha yaitu taubat yang semurni-murninya dengan catatan tidak akan mengulangi dosa tersebut.

 

Ketahuilah saudaraku, bahwasanya puasa di bulan Ramadhan, melaksanakan shalat di malam harinya dan pada malam Lailatul Qadar, bersedekah, membaca Al-Qur’an, banyak berdzikir dan berdo’a serta mohon ampunan dalam bulan mulia ini merupakan sebab diberikannya ampunan, jika tidak ada sesuatu yang menjadi penghalang, seperti meninggalkan kewajiban ataupun melanggar sesuatu yang diharamkan.

Apabila seorang muslim melakukan berbagai faktor yang membuatnya mendapat ampunan dan tiada sesuatu pun yang menjadi penghalang baginya, maka optimislah untuk mendapatkan ampunan. Allah Ta ‘ala berfirman:

وَإِنِّيْ لَغَفَّارٌ لِّمَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدٰى

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, kemudian tetap dijalan yang benar” [QS. Thaha: 82].

Rasa optimis ini harus dibarengi dengan melakukan segala hal yang menjadi sebab mendapatkan ampunan hingga kita mati. Yaitu dengan cara mengimani yang benar, mengerjakan amal shalih semata-mata karena Allah SWT, berdsarkan yang telah dituntunkan oleh Nabi SAW. Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu apa yang diyakini (ajal)” [QS Al-Hijr: 99].

Di sini, Allah SWT tidak memberikan batasan seorang muslim dalam mengerjakan amalan shaleh selain kematian yang menjemput. Jika ampunan dan pembebasan dari api neraka itu tergantung kepada puasa Ramadhan dan shalat malam, maka saat hari raya kita tidak diperintahkan untuk bertakbir dan bersyukur kepadanya.

Namun, perintah bertakbir dan bersyukur pada saat hari raya menandakan kita dianjurkan melanjutkan segala aktivitas ibadah yang telah kita kerjakan di bulan ramadhan. Selain itu, takbir dan bersyukur juga menandakan ucapan terima kasih kita kepada Allah SWT atas kemudahan dalam rangkaian amaliyah ramadhan.

Maka sudah selayaknya bagi kita untuk memperbanyak dzikir, takbir dan bersyukur untuk mendapatkan derajat takwa, dengan sebenar-bernarnya taqwa. Allah Ta’ala berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur” [QS. Al-Baqarah: 185].

Wahai saudaraku, janganlah kita berputus asa karena perbuatan-perbuatan buruk di msa lampau. Alangkah banyak orang yang dibebaskan dari api Neraka di bulan ini, berprasangka baiklah terhadap Allah SWT dan mulailah bertaubat atas segala dosa yang telah dilakukan karena sesungguhnya Allah SWT tidak akan membinasakan seseorang pun melainkan karena ia membinasakan dirinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagri Maha Penyayang. [QS. Az-Zumar: 53].

Sebaiknya puasa Ramadhan diakhiri dengan istighfar (permohonan ampun), karena istighfar merupakan penutup segala amal kebajikan; seperti shalat, haji dan shalat malam. Demikian pula dengan majlis-majlis, sebaiknya ditutup dengannya.

Jika majlis tersebut merupakan tempat berdzikir maka istighfar adalah pengukuh baginya, namun jika majlis tersebut tempat permainan maka istighfar berfungsi sebagai pelebur dan penghapus dosa. (Lihat kitab Lathaaiful-Ma’aarif; oleh Ibnu Rajab, hlm. 220-228)

Peringatan Setalah Meninggalkan Bulan Ramadhan

Sebagian orang apabila datang bulan Ramadhan, mereka bertaubat, mendirikan shalat dan melaksanakan ibadah puasa dengan sesungguhnya. Namun  setalah ramadhan berlalu, mereka kembali melalaikan shalat hingga berbuat maksiat. Mereka inilah golongan manusia paling buruk, karena mengenal Allah hanya di bulan Ramadhan saja.

Tidakkah mereka tahu bahwa pemilik 12 bulan dalam setahun adalah Allah SWT, berbagai perlilaku yang kita kerjakan sepanjang waktu akan diawasi oleh Allah SWT, tidak terbatas hanya di bulan Ramadhan saja.

Jika hal itu terjadi pada dari kita, maka segralah taubat nasuha dengan cara meninggalkan segala kemaksiatan di masa lalu, lalu menyesali apa yang telah kita kerjakan, dan bertekad untuk tidak mengulanginya.

Rasa penyesalan ini dibuktikan dengan membuka lembaran baru dengan cara memperbanyak amalan sholeh dan menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Insyallah segala taubat akan diampuni oleh Allah SWT. Allah Ta’ala berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” [QS. An-Nuur: 31].

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai” [QS. At-Tahrim: 8].

Aku mohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, Dzat yang tiada Tuhan yang haq kecuali Dia, Yang Maha hidup dan Berdiri Sendiri.

Tuhanku, ampunilah dosaku dan terimalah taubatku karena sesungguhnya hanya Engkaulah Yang Maha Menerima taubat dan Maha Penyayang.

Ya Allah aku telah berbuat banyak kezhaliman terhadap diriku sendiri dan tiada yang dapat mengampuni dosa melainkan Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, segenap keluarga dan para sahabat beliau.

Baca Juga:

  1. Kata Ucapan Selamat Hari Raya Berdasarkan Tuntunan Nabi SAW
  2. Tips Menggapai Ampunan di Bulan Ramadhan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.