Metode Tafsir Bil Ma’tsur: Penafsiran Al-Qur’an Menggunakan Ayat Al-Qur’an, Hadis, Perkataan Sahabat & Tabi’in

Metode Tafsir Bil Ma'tsur
Sumber Foto: Depositphotos.com

Belajar Memahami Metode Tafsir Bil Ma’tsur

(Oleh: Muh Ilham)

Tongkrongan Islami – Nabi Muhammad saw bukan hanya bertugas menyampaikan al-Qur’an, melainkan sekaligus menjelaskannya kepada ummatnya. Sebagaimana ditegaskan  oleh Allah Swt di dalam surat al-Nahl ayat 44 ; وأنزلنا إليك الذكرى لتبين للناس ما نزل إليهم… (Dan kami telah menurunkan al-Qur’an kepadamu supaya kamu menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan untuk mereka).

Namun, karena  pewahyuan sudah berakhir dengan berakhirnya masa kenabian Muhammad Saw, sementara disisi lain masalah-masalah yang timbul dalam lingkungan umat Islam senantiasa berkembang seiring dinamika zaman.

Maka untuk mempertemukan al-Qur’an dan perkembangan zaman, muncullah disiplin ilmu yang disebut dengan tafsir. Para ulama lalu melakukan upaya-upaya untuk menjadikan al-Qur’an mampu berbicara pada setiap zaman yang berbeda, melalui aktivitas penjelasan makna-makna al-Qur’an, dan usaha-usaha itu kemudian dikenal secara luas dengan istilah tafsir.

Dalam peta keilmuan Islam, Ilmu tafsir merupakan ilmu yang tergolong belum matang, sehingga selalu terbuka untuk dikembangkan. Setiap periode memiliki perkembangan sampai saat ini. Meskipun sama-sama berusaha mengungkapkan makna al-Qur’an, masing-masing menggunakan cara dan pendekatan yang berbeda. Sehingga tidaklah mengherankan, ketika metode yang digunakan oleh para ulama dalam penafsiran al-Qur’anjuga mengalami perkembangan yang dinamis dari zaman ke zaman.

Metode-metode itu berkembang sejalan dengan perkembangan pemikiran, peradaban manusia dan juga masalah-masalah yang berkembang dalam masyarakat. Di samping itu, perkembangan itu juga terjadi karena kebutuhan manusia akan metode baru.

Melihat sejarah awal perkembangan tafsir, muncullah dua jenis penafsiran al-Qur’an secara estafet, yaitu tafsir bi al-Ma’sur atau disebut juga dengan tafsir bi al-riwayah dan tafsir bi al-ra’yi atau tafsir dengan akal. Untuk meminimalisir perdebatan tentang bentuk kedua jenis tafsir ini, penulis lebih memahami keduanya  tidak sebagai sebagai sebuah metode ataupun corak tafsir melainkan jenis-jenis penafsiran yang muncul dalam sejarah awal usaha pemahaman terhadap al-Qur’an.

Tema sentral dalam tulisan ini adalah tentang tafsir bi al-Ma’sur. Mudah-mudahan tulisan ini dapat memeberikan kita pegetahuan tambahan mengenai tafsir bi al-Ma’sur, oleh karena itu kritik dan masukan sangat penulis harapkan.

Pengertian Tafsir bi al-Ma’sur

Al-Ma’sur  menurut bahasa adalah  isim maf‘ul dari kata أثرت الحديث أثراً من باب نقل نقلته ، , yang bermakna sisa/bekas dari sesuatu, sebagaimana dalam firman Allah Swt dalam surah yasin ayat 12 :  (ونكتب ما قدموا وآثارهم[1]) kata al-Ma’sur  juga berarti al-Manqul [2]. Oleh karena itu maka tafsir bi al-Ma’sur  adalah tafsir yang bersumber dari allah Swt yang terdapat di dalam al-Qur’an, Nabi Muhammad Saw, sahabat dan tabi’in. al-Ma’sur  dalam makna lugah juga dipakai atas perkataan yang diberitakan dari orang lain[3].

Adapun defenisi tafsir bi al-Ma’sur  menurut istilah adalah ibarat menafsirkan suatu ayat dari ayat-ayat al-Qur’an dengan al-Qur’an itu sendiri atau dengan hadis Nabi atau nukilan dari para sahabat dan tabi’in.[4] karena tafsir bi al-Ma’sur  merupakan penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an dan hanya Allah yang mengetahui maksudnya, atau penafsiran al-Qur’an dengan hadis Nabi Saw sebagai penjelasan terhadap Kalam Allah, atau penafsiran al-Qur’an dengan perkataan sahabat, dimana mereka adalah orang-orang yang menyaksikan al-Qur’an ketika diturunkan dengan syarat sanadnya sahih dari rasulullah Saw atau dari sahabat.

Namun terdapat perbedaan dalam pengkategorian pendapat tabi’in sebagai tafsir bi al-Ma’sur, karena adanya indikasi bahwa pendapat tabi’in banyak telah terkooptasi oleh akal[5], berbeda dengan pendapat shahabat yang dimungkinkan untuk mengetahui penafsiran suatu ayat berdasarkan petunjuk Nabi. Selain itu shahabat juga menyertai Nabi pada saat turunnya sebagian ayat sehingga mereka lebih mengetahui asbab al-Nuzul sebuah ayat.

Perkembangan tafsir bi al-Ma’sur

Penafsiran yang berbentuk riwayat atau yang disebut dengan tafsir bi al-Ma’sur  adalah bentuk penafsiran yang paling tua dalam khazanah intelektual Islam. Tafsir ini sampai sekarang masih terpakai dan dapat dijumpai dalam kitab-kitab tafsir seperti Tafsir al-Tabari, Ibnu Kasir, al-Durr al-Mansur fi al-Tafsir bi al-Ma’sur  karya imam al-Suyuti, dan lain-lain.[6]

Nabi Muhammad Saw bukan hanya bertugas menyampaikan al-Qur’an, melainkan sekaligus menjelaskan kepada ummatnya. Menjelaskan makna yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an itulah yang disebut dengan tafsir. Penafsiran pertama dan utama yang menjelaskan makna al-Qur’an itu kepada umat, ialah Allah sendiri.

Kemudian jika masih belum jelas, maka barulah Nabi Muhammad yang menjelaskannya. Dengan demikian tafsir telah dimulai sejak turunnya ayat pertama dari al-Qur’an itu, sehingga dapat dikatakan sama usianya dengan al-Qur’an itu sendiri. Kecuali penafsiran dari Nabi Muhammad saw, ayat-ayat tertentu juga berfungsi menafsirkan ayat-ayat yang lain.

Ada yang langsung ditunjukkan oleh Nabi bahwa ayat tersebut ditafsirkan oleh ayat yang lain, ini termasuk kelompok tafsir bi al-Ma’sur, seperti kata zulm (aniaya) pada ayat:  ( الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ditafsirkan oleh rasulullah dengan syirk (menyekutukan Allah) yang terdapat dalam ayat 13 surah Luqman :  “لاَ تُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ” dan ada pula yang ditunjukkan oleh ulama berdasarkan ijtihad, ini termasuk kategori tafsir bi al-Ra’yi seperti ayat ke 7 dalam surah al-Fatihah :   ” أنعمت عليهم “ditafsirkan dengan ayat ke 69 dari surah al-Nisa : ” مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء  وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً ”  . Meskipun ini penafsiran ayat dengan ayat, tapi ia tetap masuk kategori tafsir bi al-Ra’yi karena tafsiran tersebut tidak diwarisi dari Nabi atau sahabat beliau, melainkan berasal dari ijtihad ulama tafsir.

Para sahabat menerima dan meriwayatkan tafsir dari Nabi Saw secara Musyafahat (dari mulut kemulut), demikian pula generasi berikutnya  sampai datang masa pembukuan ilmu-ilmu Islam, termasuk tafsir sekitar abad ke-3 H. Cara penafsiran seperti itulah  yang merupakan cikal-bakal apa yang disebut dengan Tafsir bi al-Ma’sur. Dengan demikian, para sahabat umumnya dapat menafsirkan al-Qur’an. Namun yang paling menonjol diantara mereka ada sepuluh orang yaitu ”Khalifah yang empat, Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Ubay bin Ka‘b, Zayd bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, dan ‘Abdullah bin Zubair”.[7]

Para ulama tidak sepakat mengenai batasan tafsir bi al-Ma’sur  seperti Al-Zarqani yang membatasi pada “tafsir yang diberikan oleh ayat al-Qur’an, sunnah Nabi, dan para sahabat”.[8]  Dalam batasan itu jelas terlihat, tafsir yang diberikan oleh tabi’in tidak masuk kelompok  al-Ma’sur . Karena menurutnya , meskipun tabi’in tidak menerima tafsir langsung dari Nabi saw, namun al-Dzahabi memuat tafsir mereka, seperti Tafsir al-Tabari, tidak hanya berisi tafsiran dari Nabi dan sahabat, melainkan juga memuat tafsiran dari tabi’in.[9]

Keenggangan al-Zarqani memasukkan penafsiran tabi’in kedalam al-Ma’sur  dilatarbelakangi oleh kenyataan: banyak diantara tabi’in yang terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran isra’iliyyat[10] yang berasal dari kaum Yahudi dan ahli kitab lainnya, seperti terlihat dalam kisah para Nabi, penciptaan alam, Ashab al-Kahfi, dan sebagainya. Kisah-kisah semacam ini lebih banyak mengandung kebohongan dari pada kebenaran.

Dari sini dapat dipahami bahwa penolakan al-Zarqani untuk memasukkan penafsiran tabi’in kedalam al-Ma’sur  adalah didorong oleh keinginannya untuk menyelamatkan tafsir al-Ma’sur  dari pemikiran-pemikiran isra’iliyyat  yang dapat menyesatkan umat.

Terlepas dari setuju atau tidak setuju terhadap kedua pendapat tersebut, yang menjadi persoalan dalam kajian al-Ma’sur , ialah 1) apakah yang dimaksud dengan al-Ma’sur  tersebut adalah penafsiran yang telah diberikan Nabi dan para sahabat; atau 2) penafsiran al-Qur’an berdasarkan bahan-bahan yang diwarisi dari Nabi berupa al-Qur’an dan sunnah, serta pendapat sahabat yang menurut al-Hakim sama nilainya dengan hadis marfu‘.[11]

Dalam hal yang pertama, al-Ma’sur  menjadi sifat bagi tafsir, dan dalam hal yang kedua ia menjadi sifat dari sumber-sumber yang digunakan di dalam penafsiran. Kedua permasalahan ini mempunyai implikasi yang besar dalam penafsiran. Jika yang pertama diterima, maka tafsir bi al-Ma’sur  ialah sesuatu yang telah baku dan tidak dapat dikembangkan lagi. Dalam hal ini, tugas seorang mufassir hanya meneliti sanadnya, apakah sahih atau tidak? Jika ternyata sahih, maka penafsiran tersebut diterima, sebaliknya apabila tidak sahih, maka penafsiran itu ditolak.

Apabila pengertian yang kedua diterima, maka tafsir bi al-Ma’sur  dapat dikembangkan sesuai dengan tuntunan zaman karena dalam pengertian yang kedua itu masih terbuka bagi mufassir  untuk mengembangkan pemikiran dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an.

Kedua pemahaman diatas tidaklah bertentangan karena yang pertama, merupakan pengertian sempit bagi al-Ma’sur , sementara yang kedua adalah pengertian yang lebih luas. Walaupun pengertian yang kedua memberikan peluang bagi ulama untuk berijtihad dalam penafsiran, namun tidak sampai kepada wilayah tafsir bi al-ra’yi.

Dengan kata lain, tafsir bi al-Ma’sur  tetap menjadikan riwayat sebagai dasar; sedangkan tafsir bi al-ra’yi berangkat dari pemikiran (ijtihad), kemudian dicari argument berupa ayat-ayat al-Qur’an, sunnah Nabi, dan sebagainya untuk mendukung penafsiran tersebut. Dengan demikian tafsir bi al-Ma’sur  lebih banyak memakai riwayat ketimbang tafsir bi al-ra’yi sebagaimana yang banyak dijumpai dalam kitab-kitab tafsir bi al-Ma’sur.

Kegiatan pengumpulan tafsir pada mulanya sejalan dengan pengumpulan hadis[12], sehingga tafsir pada masa itu merupakan bagian integral dari hadis. Itulah sebabnya di dalam kitab hadis seperti Shahih al-Bukhari, terdapat dua bab mengenai tafsir yaitu Kitab Tafsir alQur’an dan Kitab Fada’il al-Qur’an yang menurut al-Fandi meliputi seperdelapan bagian dari isi kitab hadis tersebut.[13]

Namun perlu diingat bahwa penafsiran Nabi itu terdiri atas dua kategori : 1) sudah terinci. Ini biasanya menyangkut masalah ibadah seperti kewajiban shalat, zakat, puasa, haji, dan sebagainya. Semua ini sudah terinci dan tidak dapat dikembangkan lagi.

Artinya apa yang telah digariskan oleh nabi Saw berkenaan dengan masalah-masalah ibadah tidak perlu ditafsirklan lagi, tapi cukup kita laksanakan sesuai dengan ketentuan tersebut dan tak boleh diubah sedikit pun; dan 2) dalam garis besarnya, atau boleh disebut pedoman dasar yang dapat dikembangkan oleh generasi selanjutnya. Ini biasanya berhubungan dengan masalah-masalah muamalat seperti hukum, urusan kenegaraan, kekekluargaan, dan sebagainya.

Dalam lapangan inilah diperlukan ijtihad supaya pedoman-pedoman yang telah digariskan oleh Nabi saw dapat diaktualisasikan dan diterapkan di tengah masyarakat sesuai dengan tuntunan zaman. Dengan demikian, al-Qur’an akan selalu terasa modern serta mampu membimbing umat kejalan yang benar. Disinilah diperlukan tafsir bi al_ra’yi yang berdasarkan al-Qur’an dan Hadis dan bukan hanya berdasarkan hasil pemikiran semata.[14]

Sumber-sumber Tafsir bi al-Ma’sur

Al-Qur’anal-Karim

Penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an merupakan bentuk penafsiran yang paling tinggi, karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kandungan makna al-Qur’an tersebut kecuali Allah swt sendiri. Ibnu taymiah mengatakan: “sesungguhnya cara yang terbaik untuk menafsirkan al-Qur’an adalah dengan al-Qur’an itu sendiri, karena apa-apa yang mujmal (universal) pada suatu ayat dirincinkan pada ayat yang lain, dan apa-apa yang belum lengkap pada suatu ayat kemudian di jelaskan pada ayat yang lainnya”. [15]

Contoh-contoh penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an sangat banyak kita temukan, diantaranya:

  1. Firman Allah swt: [16] (مالك يوم الدين) “yang menguasai hari pembalasan” ditafsirkan pada ayat yang lain (وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ. ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ. يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ[17]) Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” 
  1. Firman Allah : ([18]فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ) Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. Lalu kemudian ayat ini ditafsirkan pada ayat yang lainnya : قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ (الْخَاسِرِينَ[19] Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.. 
  1. Kemudian firman Allah swt tentang kelebihan kaum lelaki dari kaum perempuan : (وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ[20] ) , Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan dari pada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. kemudian ayat ini ditafsirkan pada ayat yang lainnya:

( الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا)[21]

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya , maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya . Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dan masih banyak lagi contoh yang lain.

Hadis/Sunnah

Apabila kita tidak menemukan penafsiran suatu ayat di dalam al-Qur’an, maka kita mencari di dalam hadis Nabi saw berdasarkan riwayat yang sahih, karena hadis berfungsi sebagai penjelas dan tafsir terhadap al-Qur’an. Allah berfirman : (وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ[22]) , “. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,”

Di dalam hadis juga di ceritakan ketika Muadz bin Jabal di utus oleh rasulullah Saw ke Yaman, kemudian Nabi bertanya: “Bagaimana kamu jika dihadapkan permasalahan hukum? Ia berkata: “Saya berhukum dengan kitab Allah”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam kitab Allah” ?, ia berkata: “Saya berhukum dengan sunnah Rasulullah Saw”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam sunnah Rasul Saw” ? ia berkata: “Saya akan berijtihad dan tidak berlebih (dalam ijtihad)”. Maka Rasul Saw memukul ke dada Muadz dan berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah sepakat dengan utusannya (Muadz) dengan apa yang diridhai Rasulullah Saw.[23]

Riwayat diatas menunjukkan bahwa hadis merupakan sumber kedua di dalam menafsirkan al-Qur’an, dengan syarat menjauhi hadis-hadis da‘if dan maudu‘. Disamping itu, hadis tidak hanya sebatas penjelas terhadap al-Qur’an, namun juga mengandung hukum tambahan terhadap apa yang terdapat di dalam al-Qur’an.[24] Seperti wanita-wanita yang diharamkan untuk dinikahi di dalam al-Qur’an: (حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاتُكُمْ وَبَنَاتُ الأخِ وَبَنَاتُ الأخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الأخْتَيْنِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا)

Lalu kemudian hadis memberikan hukum tambahan, yaitu haramnya menggabungkan/menikahi wanita dengan tantenya atau bibiknya, dan masih banyak lagi contoh yang lain.

Contoh-contoh penafsiran al-Qur’andengan sunnah ;

  1. أخرج البخاري – بسنده – عن عبد الله بن مسعود قال: لما نزلت ( الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم )[25] ، شق ذلك على أصحاب رسول الله ص .م وقالوا: أيّنا لا يظلم نفسه ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ليس هو كما تظنّون. إنما هو كما قال لقمان لإبنه ( يا بني لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم)[26]

“ Diriwayatkan oleh imam Bukhari dengan sanadnya sendiri, dari Abdullah bin Mas’ud berkata: “ketika turunnya ayat (orang-orang yang beriman lalu mereka tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kezhaliman). Lalu kemudian para sahabat mengadu kepada rasulullah saw, mereka berkata : “yang mana diantara kami yang tidak menzhalimi dirinya?” lalu rasulululah kemudian berkata: “tidaklah seperti yang kalian kira, akan tetapi seperti yang dikatakan Luqman kepada anaknya: ( wahai anakku janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah kedzhaliman yang besar). 

  1. أخرج مسلم – بسنده – عن صحيب أن النبى صلى الله عليه وسلم قال في قوله تعالى : (لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ) ، الحسنى : الجنة، الزيادة : النظر إلى ربهم.[27]

“Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Suhaib bahwasanya Nabi Saw bersabda pada firman Allah Swt:” (Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan tambahannya), al-Husna yaitu : “surga” dan al-Ziyadah yaitu : “ melihat Allah Swt ”.

Perkataan Sahabat

Penafsiran al-Qur’an dengan perkataan sahabat berada pada urutan ketiga setelah penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an dan al-Qur’an dengan sunnah. Hal ini karena sahabat mendengar dan mengetahui tafsir dari Nabi Muhammad Saw, mereka adalah saksi sejarah ketika al-Qur’an di turunkan dan mengetahui sebab turunnya, sehingga ulama tafsir menjadikan penafsiran sahabat setara dengan hukum marfu‘ [28] .

Perlu kita ketahui bahwa pemahaman para sahabat terhadap al-Qur’an tidaklah sama, sebagaimana yang ada pada kebanyakan orang. Mereka memahami al-Qur’an secara mendalam sebagaimana yang banyak kita jumpai pada kitab-kitab tafsir, itu karena mereka adalah golongan arab murni yang mengetahui bahasa arab secara fasih, asbab al-Nuzul,’ ulum al-Qur’an  serta pengetahuan mereka terhadap sunnah.

Akan tetapi ulama berbeda pendapat dalam mengkategorikan penafsiran sahabat sebagai al-Ma’sur  atau bukan?, sebagian mereka ada yang memasukkannya kedalam al-Ma’sur   dan sebagian lainnya tidak memasukkannya. Pendapat yang sahih dalam masalah ini adalah; apa yang dibawa oleh sahabat dan bukan berupa ijtihadnya atau istinbat dan hanya mengambil terhadap apa yang mereka dengar dari rasulullah saw, maka itu dikategorikan sebagai al-Ma’sur .

Oleh karena itu, penafsiran sahabat tidak dikatakan al-Ma’sur  kecuali yang mereka dengar dari rasulullah saw, seperti berita-berita tentang alam ghaib. Dalam hal ini tidak ada ruang untuk berijtihad atau ber istinbat juga tidak memungkinkan bagi mereka untuk menggunkan akal.

Ciri khas tafsir pada masa sahabat:

  1. Tidak menafsirkan al-Qur’an secara keseluruhan, karena apa-apa yang tidak diketahui oleh sahabat langsung ditanyakan kepada rasulullah saw.
  2. Perbedaan dalam penafsiran sangat sedikit.
  3. Cukup mengetahui makna mujmal terhadap suatu ayat.
  4. Terbatas pada penjelasan arti bahasa yang mereka pahami, seperti pada firman Allah swt (غير متجانف لإثم[29]) أي غير متعرض لمعصية  .
  5. Sahabat tidak membukukan tafsir sebagai bentuk ilmu pada saat itu, karena pembukuan ilmu-ilmu dimulai pada abad kedua hijriyah.
  6. Tafsir pada fase ini serupa dengan hadis yang berupa riwayat dari rasulullah saw.

Contoh tafsir al-Qur’an dengan perkataan sahabat:

Diriwayatkan dari Abdullah bin Dinar dari ibnu Umar, bahwasanya seseorang telah datang kepada beliau dan menanyakan tentang ayat (أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا)[30], lalu ibnu Umar berkata:”pergilah kepada ibnu Abbas lalu tanyakan ayat ini, kemudian kembali kesini untuk mengabariku. Lalu dia pergi kepada ibnu Abbas dan menanyakannya. Ibnu Abbas berkata:”bahwa langit itu adalah kesatuan yang mengandung hujan, sedangkan bumi adalah kesatuan yang tidak tumbuh, lalu kemudian keduanya terpisah disebabkan oleh hujan dan tumbuh-tumbuhan. Lalu kemudian orang tersebut kembali kepada Abdullah bin Umar dan memberitahukanya.

Perkataan Tabi’in

Apabila kita tidak menemukan penafsiran di dalam al-Qur’an dan sunnah juga pada perkataan sahabat, maka kita merujuk kepada perkataan tabi’in. Para tabi’in dalam penafsiran mereka berpegang kepada al-Qur’an, sunnah, sahabat dan ijtihad mereka. Hal ini serupa dengan apa yang dikatakan oleh Muhammad Husain al-Zahabiy dalam tafsir wal mufassirun, bahwa para tabi’in di dalam memahami al-Qur’an mereka berpegang terhadap apa yang terdapat dalam al-Qur’an itu sendiri, dan apa yang diriwayatkan sahabat dari rasulullah saw , juga apa yang tabi’in riwayatkan dari penafsiran para sahabat, dan apa yang mereka ambil dari ahli kitab dan ijtihad mereka.

Ahli tafsir pada masa tabi’in dapat kita kategorikan menjadi tiga kelompok, pertama; ahli tafsir yang berada di Mekah seperti para murid ibnu Abbas; Mujahid, Atha bin Abi Rabah, Ikrimah maula Ibn Abbas, Thawus, Ubay al-Sya’tsa dan Said bin Jubair. Kedua; di Madinah, yaitu murid Ubay bin Ka’ab seperti; Zaid bin Aslam, Abu al-Aliyah dan Muhammad bin Ka’ab al-Qarzhi, ketiga; di Iraq, yaitu murid Abdullah bin Mas’ud, seperti; al-Qamah bin Qays, Masruq bin Ajda’, Hasan al-Bashri, Azwad bin Yazid, dan lain sebagainya.

Ciri khas tafsir pada masa tabi’in:

  1. Pada masa ini tafsir sudah dimasuki oleh Israiliyyat, hal ini karena banyaknya golongan ahli kitab yang masuk kedalam Islam.
  2. Pada masa ini tafsir sudah di bukukan, akan tetapi belum disusun kedalam bab-bab dan hadis-hadis di dalamnya juga tidak tersusun.
  3. Munculnya perbedaan mazhab dikalangan tabi’in.
  4. Tafsir pada masa ini lebih banyak berpegang kepada riwayat dibandingkan akal.
  5. Al-Qur’an belum ditafsirkan secara keseluruhan, dan hanya terbatas kepada penjelasan terhadap ayat-ayat secara mujmal atau mengungkap makna bahasanya.

Kelemahan tafsir bi al-Ma’sur

Tidak bisa dipungkiri bahwa tafsir bi al-Ma’sur   memiliki kelemahan-kelemahan yang dapat menghilangkan kualitasnya. Lemahnya riwayat tafsir bi al-Ma’sur  dimulai pada awal masa tabi’in tahun 41 H, yaitu ketika terpecahnya ummat Islam kedalam kelompok syi’ah, khawarij dan jumhur . Demikian juga ketika masa penaklukan Islam.[31]

Dalam hal ini, sebab-sebab kelemahan tafsir bi al-Ma’sur  dapat kita bagi menjadi tiga, yaitu :[32]

  1. Banyaknya pemalsuan di dalam tafsir bi al-Ma’sur

Hal ini disebabkan karena bercampurnya riwayat yang sahih dan da‘if, sehingga bagi orang yang tidak punya kemampuan dalam bidang ini akan sulit membedakannya, bahkan hanya melihatnya dengan satu sudut pandang. Sehinga seseorang dapat menghukumi semua riwayat adalah sahih tanpa mengetahui jika di- dalamnya juga terdapat riwayat yang da‘if.

  1. Masuknya Israiliyat kedalam tafsir bi al-Ma’sur

Israiliyat dimulai pada masa sbahabat. Akan tetapi ini bukan berarti pada waktu itu rasulullah membolehkan untuk mengambil riwayat dari Israiliyat. Sebagaimana sabda beliau : (لا تصدقوا أهل الكتاب ولا تكذبوهم).

Pada masa tabi’in periwayatan terhadap Israiliyat semakin meluas, hal ini karena banyaknya  golongan ahli kitab yang masuk kedalam Islam. Demikian pula didukung oleh kecendrungan Umat Islam untuk mendengarkan kisah-kisah orang yahudi dan Nasrani. Hal ini kemudian berlanjut sampai pada masa pembukuan.

  1. Adanya penghapusan pada sanad

Hal ini terjadi pada masa setelah tabi’in, dimana umat Islam pada saat itu mengabaikan sanad di dalam periwayatan. Pada saat ini juga al-dakhil telah masuk kedalam tafsir.

Kitab-kitab tafsir bi al-Ma’sur:

  1. Jami‘ al-Bayan fi tafsir al-Qur’an (Ibnu Jurair al-Tabari, wafat tahun 310 H.)
  2. Ma‘alim al-Tanzil (Abu Muhammad al-Husain al-Baghwity,wafat tahun 510 H.)
  3. Tafsir al-Qur’an al-Azim (al-Hafiz ibnu Katsir al-Dimasyqi, wafat tahun 774 H.)
  4. Al-Durr al-Mansur (Jalaluddin al-Suyuthi, wafat tahun 911 H.)

Baca Juga:

  1. Metode Tafsir bil Ra’yi, Penafsiran Al-Qur’an Menggunakan Rasio (Akal)
  2. Tafsir Tematik, Metode dan Keistimewaanya
  3. Tafsir Corak Al-Adabi Al-Ijtima’i

 

Catatan Kaki

[1] Departemen agama, Al-Qur’an dan terjemahannya.

[2] Lisan al-‘Arab, jilid 1 hal : 26.

[3]Muhammad Muhammad Muhammad Qasim, Dirasat fi al-Manahij al-Mufassirin ; (Fakultas Ushuluddin Unv. Al-Azhar kairo), hal. 45

[4] Lihat , Ibid., (Muhammad Muhammad Muhammad Qasim), h. 46

[5] Supiana dkk, Ulumul Qur’an dan pengenalan metodologi Tafsir  (Bandung: Pustaka Islamika), hlm. 304.

[6] Nasharuddin Baidan, Wawasan baru Ilmu Tafsir, (Cet.II; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), h. 370.

[7] Subhi al-shalih, Mabahisfi ‘Ulum al-Qur’an, (Cet. IX; Bairut :Dar al-Ilm li al-Malayin, 1997) h. 336

[8] Muhammad Abd ‘Azhim al-Zarqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Mesir, Isa al-Bab al-Halabi, II, t.th.) h. 12.

[9]   Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun, (Cet. I; Kairo; Dar al-Kutub al-Haditsa, 1961) h. 152.

[10] Israiliyyat : ”segala sesuatu yang bersumber dari kebudayaan yahudi atau Nasrani, baik yang termaktub dalam Taurat, Injil dan penafsiran-penafsirannya, maupun pendapat-pendapat orang Yahudi atau Nasrani mengenai ajaran agama mereka.

[11] Marfu‘ : ”adalah hadis yang disandarkan kepada Nabi Saw.

[12] Nashrudiin Baidan, Metode Penafsiran al-Qur’an, (Cet. I ; Yogyakarta : Pustaka pelajar, 2002) h. 44.

[13] Muhammad s|abit al-Fandi, “Tafsir”, (Cet V ; Kairo : Dairat al-Ma’arif al-Islamiyyat), h. 249.

[14] Nashruddin baidan., Op. cit., h. 45.

[15] Ibnu Taymiah,  Muqaddimah fi ushul al-Tafsir, (Cet II ; Kuwait: Dar al-Qur’an al-Karim, 1972)., h. 84.

[16] Q. S, al-fatihah; 4.

[17] Q.S, al-Infithar; 17-19.

[18] Q.S. al-Baqarah: 37.

[19] Q.S. al-A’raf : 37.

[20] Q.S. al-baqarah : 228.

[21] Q.S. al-Nisa : 34.

[22] Q.S. al-Nahl : 44.

[23] Hadits diriwayatkan al-Thabrani (lihat: al-Mu‘jam al-Kabir, Juz 15), hal 96.

[24] Muhammad Muhammad Muhammad Qasim, op.cit., h. 55.

[25] Q.S. al-an’am: 82.

[26] Lihat Sahih al-Bukhari, kitab al-Iman- bab zulm duna zulm: jilid 1. H. 35,. Hadis nomor 32.

[27] Lihat Sahih Muslim, Kitab al-Iman, Bab: isbat al-ru’ya al-Mu’minina fi al-Akhirah Rabbahum Swt, Jilid pertama,. Hadist No. 142-143.

[28] Muhammad Muhammad Muhammad Qasim, op.cit,. h. 75.

[29] Q. S. al-Maidah; 3.

[30] Q. S. al-Anbiya’: 30.

[31] Muhammad Husain al-Zahabiy, ‘Ilmu Tafsir, (Cet; IV: Kairo, Dar al-Ma’arif, 1119 H), h. 43.

[32] Ibid., h. 43.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.