Bentuk Mutlak dan Muqayyad dalam al-Qur’an dan Hadis

Mutlak dan Muqayyad dalam al-Qur'an dan Hadis

Tongkrongan Islami – Muthlaq adalah setiap lafazh yang menunjukkan madlûl (maksud) yang meliputi  semua jenisnya. Dikatakan “yang meliputi semua jenisnya” supaya nama, ism al-Ma’rifat yang di-ma’rifat-kan dengan partikel “al” al-Ahdiyyah, atau al-stighrâqiyyah, serta bentuk plural yang di-ma’rifat-kan. Sebab, “yang meliputi semua jenisnya” mempunyai konotasi digunakannya lafazh tersebut untuk semua derivat jenis, tanpa adanya penentuan yang mana.

Misalnya, lafazh: Muslim bisa digunakan untuk menyebut semua individu Muslim; Ini muslim, dan itu juga muslim. Namun, ini tidak mungkin ketika kita menggunakan nama, seperti: Muhammad atau ‘Alî untuk menyebut semua jenis Muhammad atau ‘Ali.

Ia digunakan hanya untuk menyebut individu tertentu, dan tidak yang lain. Demikian juga
ketika kita menyatakan: al-Muslim –dengan partikel “al” al-Istighrâqiyyah– maka, yang dimaksud adalah semua individu yang masuk dalam jenisnya, Muslim.

Berbeda dengan: Muslim –tanpa partikel “al”– adalah lafazh mutlak, yang mempunyai konotasi seorang Muslim, yang tidak dibatasi jenisnya. Sementara muqayyad adalah lafazh yang telah dihilangkan cakupan jenisnya, baik secara kullî maupun juz’î.

Lafazh Mutlak dan Muqayyad

Maka, bisa disimpulkan, bahwa lafazh mutlak dengan konotasi yang telah dijelaskan, adalah ism an-Nakirah hakiki dalam konteks kalimat positif (itsbât), bukan negatif (nafy). Dikatakan “ism an-Nakirah” karena ia merupakan lafazh yang tidak ditentukan jenisnya. Dikatakan “dalam konteks kalimat positif (itsbât)” karena jika ism al-Nakirah tersebut dalam konteks kalimat negatif, ia tidak akan menjadi lafazh mutlak, tetapi lafazh umum.

a. Shîghat Mutlak

Dengan demikian, shîghat Mutlak adalah ism an-Nakirah yang hakiki dalam konteks kalimat positif (itsbât), bukan negatif (nafy). Sementara ism an-Nakirah yang hakiki tersebut bisa berada dalam struktur kalimat:

1) Perintah yang Menggunakan Mashdar (Kata Jadian)

Kalimat perintah mempunyai banyak uslûb (gaya bahasa), di antaranya menggunakan Mashdar kata kerja transitif. Jika ism an-Nakirah berada dalam struktur kalimat seperti ini, maka statusnya adalah mutlak. Misalnya, firman Allah:

  فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ

Maka, hendaknya memerdekakan budak (QS. an-Nisâ’ [4]: 92).

Lafazh: tahrîr (hendaknya memerdekakan) adalah bentuk Mashdar dari: Harrar[a]-yuharrir[u]-tahrir[an]. Sedangkan: raqabah (budak perempuan) adalah ism an-Nakirah yang berada dalam struktur kalimat perintah dengan menggunakan Mashdar.

2) Perintah yang Menggunakan Kata Kerja

Jika ism an-Nakirah berada dalam struktur kalimat perintah yang menggunakan kata
kerja transitif, maka statusnya adalah mutlak. Misalnya:

  حَرِّر رَقَبَةً

Memerdekakanlah budak perempuan.

Lafazh: harrir (memerdekakanlah) adalah bentuk kata kerja perintah (fi’l al-amr). Sedangkan: raqabah (budak perempuan) adalah ism an-Nakirah yang berada dalam struktur kalimat perintah dengan menggunakan kata kerja perintah. Maka, lafazh tersebut juga merupakan bentuk lafazh mutlak.

3) Berita dalam Konteks Kekinian dan Futuristik (al-Mudhâri’)

Jika ism an-Nakirah berada dalam struktur kalimat berita yang menggunakan kata kerja
transitif berbentuk Mudhâri’, maka statusnya adalah mutlak. Misalnya:

 أُحَرِّرُ رَقَبَةً

Saya akan memerdekakan budak perempuan.

Lafazh: uharrir[u] (saya akan memerdekakan) adalah bentuk kata kerja kekinian dan futuristik (fi’l al-Mudhâri’). Sedangkan: raqabah (budak perempuan) adalah ism an-Nakirah yang berada dalam struktur kalimat berita dengan menggunakan kata kerja al-Mudhâri’. Maka, lafazh raqabah (budak perempuan) tersebut bisa disebut lafazh mutlak. Mengapa bukan fi’l al-Mâdhi? Sebab, kata kerja tersebut mempunyai konotasi masa lalu, atau aktivitas yang sudah lewat. Konsekuensinya, beritanya atau raqabah (budak perempuan) yang dibebaskan pasti tertentu untuk budak yang sudah dibebaskan, bukan yang lain.

b. Shîghat Muqayyad

Sementara muqayyad –lafazh yang telah dihilangkan cakupan jenisnya, baik secara kullî maupun juz’î– bentuknya sebagai berikut:

1) Ism al-‘Alam

Nama (ism al-‘alam) bisa menjadi taqyîd -yang menghilangkan cakupan jenis- kemutlakan lafazh mutlak, secara kullî (menyeluruh). Misalnya:

 سَأَزُوْرُ رَجُلاً اِسْمُهُ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ

Saya akan mengunjungi seorang laki-laki, namanya Muhammad bin ‘Abdullah. Cakupan jenis “orang laki-laki” telah hilang dan telah ditentukan hanya Muhammad bin Abdullah, bukan Muhammad bin ‘Ali atau yang lain.

2) Isyârah

Isyarat (al-isyârah) bisa menjadi taqyîd –yang menghilangkan cakupan jenis– kemutlakan lafazh mutlak, secara kullî (menyeluruh). Misalnya:

 أكْرِمُ مُسْلِمًا هُوَ هَذَا

Saya akan memuliakan seorang Muslim; inilah dia (orangnya).

Cakupan jenis “orang Muslim” telah hilang dan telah ditentukan hanya orang ini,
bukan itu, atau yang lain.

3) Sifat

Sifat (al-washf), atau lain-lain yang sejenis –seperti syarat dan ghâyah– bisa menjadi taqyîd –yang menghilangkan cakupan jenis– kemutlakan lafazh mutlak, secara juz’î (parsial). Misalnya:

 أكْرِمُ مُسْلِمًا عِرَاقِيًّا

Saya menghormati Muslim Irak.

Cakupan jenis “orang Muslim” telah hilang dan telah ditentukan hanya Muslim Irak,
bukan yang lain, sementara jenis Muslim yang lain tetap mutlak. Mutlak seperti ini disebut Mutlak Dua Arah; di satu sisi mutlak, di sisi lain muqayyad.

Taqyîd Mutlak

Apapun bentuk taqyîd, baik menyeluruh maupun parsial, sejatinya tidak akan terlepas dari dua bentuk: Muttashil (tidak terpisah) dan Munfashil (terpisah).

a. Taqyîd Tidak Terpisah

Taqyîd Muttashil (tidak terpisah) itu terjadi ketika lafazh mutlak dan muqayyad berada dalam satu struktur kalimat, atau nash yang sama. Ini bisa terjadi, sebagaimana yang telah dibahas dalam pembahasan takhshîsh.

1) Sifat

Sifat yang dimaksud di sini bukan an-na’t wa al-man’ût dalam konteks ilmu Nahwu, melainkan semua sifat yang bisa menghilangkan bagian dari cakupan jenis lafazh mutlak. Sebab, sifat kadangkala berbentuk an-na’t dalam konteks ilmu Nahwu, seperti: Raqabah Mu’minah (budak Mukmin).

Lafazh: Mu’minah adalah sifat yang berbentuk an-na’t dalam konteks ilmu Nahwu. Berbeda dengan: Qiyam rak’at[an] layl[an] (shalat satu rakaat di malam hari). Lafazh: Layl[an] pada dasarnya bukan sifat, tetapi statusnya menjadi sifat, yang bisa membatasi kemutlakan “shalat satu rakaat” yang hanya dilakukan malam hari.

Sifat yang kedua ini bukanlah sifat yang berbentuk an-na’t dalam konteks ilmu Nahwu. Sekalipun demikian, masing-masing bisa berfungsi sebagai taqyîd. Dalam hal ini, bisa dicontohkan firman Allah:

    فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ

Maka, hendaknya memerdekakan budak yang mukmin (QS. an-Nisâ’ [4]: 92).

Lafazh: Mu’minah adalah sifat yang mengikat konotasi “budak perempuan” secara mutlak, sehingga dengan adanya sifat tersebut, kemutlakannya hilang.

2) Syarat

Dalam konteks syarat, bisa dicontohkan firman Allah:

  يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللاَّتِي  ءَاتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالاَتِكَ اللاَّتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu
berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mu’min, jika mereka menyerahkan dirinya kepada Nabi, kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu’min. (QS. al-Ahzâb [33]: 50).

Lafazh: In wahabat nafsahâ li an-nabiyy[i] (jika mereka menyerahkan dirinya kepada Nabi) adalah syarat yang mengikat konotasi lafazh: imra’at[an] (wanita) secara mutlak, sehingga dengan adanya sifat tersebut, kemutlakannya hilang.

3) Ghâyah

Dalam konteks ghâyah, bisa dicontohkan firman Allah:

  سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. al-Qadar [97]:5).

Lafazh: Hatta mathla’ al-fajr[i] (sampai terbit fajar) adalah ghâyah (batas waktu) yang mengikat konotasi lafazh: salâm[un] (kesejahteraan) secara mutlak, sehingga dengan ghâyah (batas waktu) tersebut, kemutlakan salâm[un] (kesejahteraan) tersebut hilang, selain hanya sampai terbitnya fajar.

4) ‘Alam (Nama)

Dalam konteks ‘alam (nama), bisa dicontohkan firman Allah:

   وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ

Dan member kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). (QS. as-Shaf [61]: 6).

Lafazh: Ahmad (Ahmad) adalah nama, yang mengikat konotasi lafazh: Rasûl[in] (Rasul) secara mutlak, sehingga dengan nama tersebut, kemutlakan Rasûl[in] (Rasul) tersebut hilang.

5) Isyârah

Dalam konteks isyârah (kata penunjuk), bisa dicontohkan firman Allah:

  هَذَا فَوْجٌ مُقْتَحِمٌ مَعَكُمْ لاَ مَرْحَبًا بِهِمْ إِنَّهُمْ صَالُوا النَّارِ

(Dikatakan kepada mereka): “Ini adalah suatu rombongan (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka)”. (Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka): “Tiadalah ucapan selamat datang kepada mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka”. (QS. Shad [38]: 59).

Lafazh: Fawj (suatu rombongan) adalah lafazh mutlak, yang kemudian konotasi kemutlakannya diikat dengan: Hâdzâ (ini), sehingga dengan kata penunjuk tersebut, kemutlakan Fawj (suatu rombongan) tersebut hilang.

b. Taqyîd Terpisah

Taqyîd Munfashil (terpisah) itu terjadi ketika lafazh mutlak dan muqayyad itu merupakan dua dalil atau nash yang berbeda. Ini bisa terjadi, antara lain, sebagai berikut:

1) Taqyîd al-Qur’an dengan al-Qur’an

Taqyîd al-Qur’an dengan al-Qur’an, antara lain, bisa dicontohkan sebagaimana
firman Allah:

 وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina”. (QS. al-Baqarah [2]: 67).

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada Bani Israel untuk menyembelih lembu betina secara mutlak, dengan menggunakan lafazh: Baqarah. Namun, kemutlakannya kemudian di-taqyîd dengan ayat-ayat lain. Allah SWT. befirman:

 إِنَّهَا بَقَرَةٌ لاَ فَارِضٌ وَلاَ بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ

Bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu. (QS. al-Baqarah [2]: 68).

 إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ

Bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya. (QS. al-Baqarah
[2]: 69).

 إِنَّهَا بَقَرَةٌ لاَ ذَلُولٌ تُثِيرُ الأَرْضَ وَلاَ تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لاَ شِيَةَ فِيهَا

Bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya. (QS. al-Baqarah [2]: 71).

2) Taqyîd al-Qur’an dengan as-Sunnah

Taqyîd al-Qur’an dengan as-Sunnah, antara lain, bisa dicontohkan sebagai berikut. Allah berfirman:

  فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ

Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka
wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. (QS. al-Baqarah [2]: 196).

Lafazh: Shiyâm, Shadaqah atau Nusuk dalam ayat ini adalah lafazh mutlak, yang kemudian kemutlakannya di-taqyîd dengan as-Sunnah yang menyatakan:

 فَاحْلِقْ رَأْسَكَ وَأَطْعِمْ فَرَقًا بَيْنَ سِتَّةِ مَسَاكِينَ وَالْفَرَقُ ثَلاَثَةُ آصُعٍ أَوْ صُمْ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ أَوِ انْسُكْ نَسِيكَةً

Cukurlah rambut kepalamu, berilah makan (shadaqah) sebanyak 6 orang miskin; 3 sha’ untuk mereka, atau berpuasalah 3 hari, atau sembelihlah seekor hewan sembelihan. (HR. Muslim dari Ka’ab bin ‘Ujrah).

Hadits tersebut men-taqyîd kemutlakan puasa, sedekah dan korban, dengan ketentuan
masing-masing puasa 3 hari, sedekah kepada 6 orang miskin sebanyak 3 sha’, dan
menyembelih seekor kambing.

3) Taqyîd as-Sunnah dengan as-Sunnah

Taqyîd as-Sunnah dengan as-Sunnah, antara lain, bisa dicontohkan sebagai berikut. As-Sunnah, sebagaimana dituturkan oleh Ibn ‘Umar telah menyatakan:

  أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ  فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Sesungguhnya Rasulullah saw. telah memfardhukan zakat fitrah 1 sha’ kurma, atau 1 sha’
gandum kepada setiap orang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan yang Muslim. (HR. Bukhâri dari Ibn ‘Umar).

Lafazh: Sha’ dalam hadits ini adalah lafazh mutlak, yang kemudian kemutlakannya di-taqyîd dengan as-Sunnah yang lain:

 الْمِكْيَالُ مِكْيَالُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ وَالْوَزْنُ وَزْنُ أَهْلِ مَكَّةَ

Takaran (yang digunakan) itu adalah takaran penduduk Madinah, sementara timbangan itu adalah timbangan penduduk Makkah. (HR. an-Nashâ’i dari Ibn ‘Umar).

Hadits tersebut men-taqyîd kemutlakan Sha’ –yang meliputi takaran penduduk Irak, Madinah dan lain-lain– dengan ketentuan: Mikyâl Ahl al-Madînah. Sebab, Sha’ adalah jenis takaran, maka hadits tersebut merupakan muqayyad yang berfungsi men-taqyîd kemutlakan Sha’.

Cara Menggunakan Mutlak dan Muqayyad

Dalil mutlak dan muqayyad tersebut bisa digunakan untuk menarik hukum dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Jika Lafazh Mutlak tanpa Taqyîd

Jika ada dalil mutlak tanpa disertai taqyîd –baik Muttashil atau Munfashil– maka, dalil mutlak tersebut tetap bisa digunakan untuk menarik hokum berdasarkan kemutlakannya. Contohnya firman Allah SWT:

 وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا

Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. (QS. al-Mujâdalah [58]: 3).

Lafazh: Raqabah dalam konteks kafarat Dhihâr (menyamakan isteri dengan ibu) adalah lafazh mutlak, yang meliputi budak kafir atau muslim. Karena tidak ada dalil yang men-taqyîd kemutlakannya, maka kemutlakannya berlaku seperti apa adanya.

b. Jika Lafazh Mutlak Disetai Taqyîd Muttashil

Jika ada dalil mutlak disertai taqyîd Muttashil, maka dalil mutlak tersebut telah hilang kemutlakannya, sedangkan yang berlaku adalah taqyîd-nya. Contohnya firman Allah SWT:

 فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ

Maka, hendaknya memerdekakan budak yang mukmin (QS. an-Nisâ’ [4]: 92).

Lafazh: Raqabah dalam konteks kafarat pembunuhan yang salah (khatha’) adalah lafazh mutlak, yang meliputi budak kafir atau muslim, namun kemutlakannya di-taqyîd dengan lafazh: Mu’minah, sehingga yang berlaku adalah pembebasan budak mukmin. Jika yang dibebaskan, misalnya budak  perempuan kafir, maka belum cukup.

Baca Juga: Bentuk Perintah dan Larangan dalam Al-Qur’an dan Hadis

c. Jika Lafazh Mutlak Disertai Taqyîd Munfashil

Jika ada dalil mutlak disertai taqyîd Munfashil, maka harus dianalisis dahulu:

  1. Jika konteks pembahasannya sama, misalnya ayat Baqarah yang mutlak dengan ayat Baqarah yang muqayyad, maka yang muqayyad harus digunakan, sedangkan yang mutlak harus ditinggalkan. Ini sebagaimana dicontohkan di atas.
  2. Jika konteks pembahasannya berbeda, misalnya ayat Dhihâr yang menyatakan pembebasan budak secara mutlak, dengan pembebasan budak mukmin yang muqayyad dalam kasus pembunuhan yang salah, maka dalil muqayyad dalam kasus pembunuhan yang salah tersebut tidak bisa digunakan untuk men-taqyîd kemutlakan pembebasan budak dalam kasus Dhihâr. Sebaliknya, karena masing-masing merupakan dua konteks yang berbeda, maka masing-masing berlaku sesuai dengan konteksnya, dan bukan untuk konteks yang lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.