Pengertian Haid dalam Islam

Pengertian Haid dalam Islam

Tongkrongan Islami – Haid secara bahasa adalah mengalirnya sesuatu. Dalam munjid fi al lugah kata haid -tanpa menjelaskan asal usul dan padanannya- berasal dari kata ḥaḍa-ḥaiḍan yang diartikan dengan keluarnya darah dalam waktu dan jenis tertentu[1].

Berbeda dengan pernyataan di atas, menurut al Lihyani dan Ibnu Sukait dalam Lisan al-Arab kata ḥaḍa dan ḥasya mempunyai arti yang sama yaitu mengalir dan menempel. Sedangkan menurut Abū Sa’id kata ḥaḍa mempunyai arti yang sama dengan jaḍa.[2]

Secara syara, haid adalah darah yang keluar dari rahim perempuan dalam keadaan sehat dan tidak karena melahirkan atau sakit pada waktu tertentu.[3]  Dalam al-Qur’an lafadz haid disebutkan empat kali dalam dua ayat; sekali dalam bentuk fi’il muḍāri present and future (yaḥīḍ) dan tiga kali dalam bentuk ism maṣdar (al-maḥīḍ).

Masalah haid dijelaskan dalam firman Allah surat Al Baqarah ayat 222: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ”Haid itu adalah kotoran” oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita diwaktu haid dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang telah ditentukan oleh Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.”

Sebab turunnya ayat ini dijelaskan dalam hadits riwayat Ahmad bin Hanbal dari Anas. Dalam hadits tersebut diceritakan bahwa jika perempuan yahudi haid masakannya tidak dimakan dan tidak boleh berkumpul bersama keluarga di rumahnya (Yahudi: wanita haid adalah najis). Salah seorang sahabat menanyakan hal itu kepada Nabi, kemudian Nabi berdiam sementara maka turunlah ayat tersebut di atas.

Setelah ayat itu turun, Rasulullah bersabda “lakukanlah segala sesuatu (kepada isteri yang sedang haid) kecuali bersetubuh”. Pernyataan Rasulullah ini sampai kepada orang-orang Yahudi, lalu orang-orang Yahudi dan mantan penganut Yahudi seperti shock mendengarkan pernyataan tersebut. Apa yang selama ini dianggap tabu tiba-tiba dianggap sebagai “hal yang alami” (adzan).

Kalangan mereka bereaksi dengan mengatakan apa yang disampaikan oleh laki-laki itu (Rasulullah) adalah suatu penyimpangan dari tradisi besar kita. Usayd bin Hudayr dan Ubbad bin Basyr melaporkan reaksi tersebut kepada Rasulullah; lalu wajah Rasulullah berubah karena merasa kurang enak terhadap reaksi tersebut dan kami (Usayd  ibn Hudayr dan Ubbad bin Basyr) mengira beliau marah kepada mereka berdua.

Mereka berdua langsung keluar (sebelumnya) beliau menerima air susu hadiah dari mereka berdua. Lalu Rasulullah mengutus orang untuk mengejar mereka dan memberi mereka minum susu, sehingga mereka berdua tahu bahwa rasulullah tidak marah kepada mereka.[4]

Masalah haid juga diceritakan dalam hadits Nabi yang diriwayatkan olah Bukhāri, Aisyah berkata, “kami keluar bersama Nabi untuk melaksanakan haji. Ketika kami sampai di Sarif, aku mengalami haid. Lalu Nabi menghampiriku, dan saat itu aku hanya menangis. Nabi kemudian bertanya, “apa yang membuatmu menangis?” aku menjawab: “sepertinya aku tidak bisa berhaji tahun ini,‟ rasulullah bersabda, “apakah engkau sedang haid?” aku menjawab, ”ya” rasulullah bersabda: itu adalah sesuatu yang telah allah tetapkan untuk  anak- anak perempuan adam‟.[5]

Biasanya perempuan pertama kali haid ketika berumur duabelas sampai lima belas tahun. Terkadang ada juga perempuan yang sudah mengalami haid sebelum atau setelah umur tersebut. Keadaan ini tergantung kondisi fisik dan psikisnya.

Para ulama islam berbeda pendapat mengenai batasan umur untuk perempuan haid, sehingga ketika ada perempuan yang mengalami haid sebelum atau sesudah batasan usia tersebut bisa dipastikan darah yang keluar dari rahim perempuan adalah darah penyakit dan bukan darah haid. Perbedaan itu disebabkan tidak adanya penjelasan dari nash mengenai hal itu. Para ulama menetapkan batasan itu dengan melihat kebiasaan dan keadaan perempuan.

Menurut Hanafi usia perempuan ketika pertama kali haid adalah sembilan tahun qamariah atau tiga ratus lima puluh empat hari dan umur berhentinya haid adalah limapuluh lima tahun. Sedangkan menurut maliki, perempuan itu mengalami haid dari umur sembilan tahun sampai tujuhpuluh tahun.

Menurut Syafii tidak ada batasan umur bagi terhentinya masa haid, selama perempuan itu hidup haid masih mungkin terjadi padanya. Tetapi biasanya sampai umur enampuluh dua. Hambali berpendapat batas akhir umur perempuan haid adalah limapuluh tahun, hal ini berdasarkan qaul “aisyah” ketika perempuan sampai umur limapuluh tahun, dia sudah keluar dari batasan haid dan ia juga  menambahkan: “perempuan tidak hamil setelah ia berumur limapuluh tahun”[6]

Ad-Darimi berkata, “setelah melihat pendapat yang berbeda tentang hal tersebut, ia berkata, “semua pendapat itu menurutku salah. Karena semua pendapat itu didasarkan pada keluarnya darah haid. Maka, jika sudah keluar darah dari rahim perempuan pada keadaan bagaimanapun atau usia berapapun pastilah ia haid.”

Pendapat itu juga yang dipakai ibnu taimiyah, kapan saja perempuan haid, walaupun usianya kurang dari sembilan tahun atau lebih dari limapuluh tahun ia tetap dihukumi haid. Karena hukum haid itu dikaitkan dengan keluarnya darah tersebut dan bukan pada usia tertentu.[7]

Sesungguhnya haid disifati dengan sifat yang asli, salah satunya haid adalah darah yang keluar dari rahim. Seperti firman allah dalam surat Al Baqarah: 228

”…..tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada allah dan hari akhirat….

Menurut para mufassir, makna arhamihinna dalam ayat ini adalah haid atau hamil, sehingga sifat asli haid adalah darah yang keluar dari rahim sedangkan istihaḍah adalah darah yang keluar karena adanya pembuluh darah yang terputus.[8]

Ciri- ciri darah haid menurut Nabi adalah sebagai berikut:

  1. Warnanya hitam
  2. Pekat
  3. Mencolok dikarenakan sangat panas
  4. Keluarnya darah tersebut untuk memberikan manfaat
  5. Baunya berbeda dengan darah- darah yang lain
  6. Warnanya sangat merah[9]

Baca Juga: Larangan-larangan bagi Wanita yang sedang Haid, Nifas dan Istihadhoh

Catatan Kaki

[1] Louis Ma’luf, Al Munjid Fi Al Lughah, (Beirut: Dar al Masyriq, 1987), hlm. 164

[2] Abu al Fadl Jamaluddin Muhammad bin Makram, Lisan al-Arab, (Beirut: Dar Shard, t.th), hlm.142

[3] Wahbah al Zuhaili,  Al Fiqh al Islami wa Adillatuhu, (Beirut: Dar al Fikr, 2008), Hlm.524

[4] Abū Al Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Tafsir al Quran al Adzim,(Beirut: dar al fikr, 1986) hlm.259, lihat juga Abu Hasan „Ali bin Hamid al Wahdi al Naisaburi, Asbabun Nuzul, (Beirut: Dar al Fikr, 1986) hlm.46

[5] Abu Abdullah Mehammad Bin Isma’il al Bukhari, Matan al Bukhari, ( Singapura: Matba‟ah „Usman Mar‟i, t.th), juz.1, hlm.  490

[6] Wahbah al Zuhaili, Al Fiqh al Islami wa Adillatuhu, (Beirut: Dar al Fikr, 2008), hlm.524

[7] Abu Ubaidah Usamah bin Muhammad al Jamal, Shahih Fiqih Wanita, (Surakarta: Insan Kamil, 2010), hlm. 33-34

[8] Fakhrur Razi, Tafsir al Kabir, (Beirut: Dar al Kutub al Alamiah, t.th) hlm. 62, menurut mufasir lain seeperti Thabari dan Ibnu Katsir maknanya juga haid dan hamil.

[9] Ibid, hlm 63

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here