Perilaku Islami yang Seharusnya Dimiliki Seorang Muslim

Perilaku Islami yang Seharusnya Dimiliki Seorang Muslim
Photo by Wikihow.com

Tongkrongan Islami – Muslim sebagai komunitas agama memiliki pengalaman keagamaan yang berbeda dengan pemeluk agama lainnya. Pengalaman keagamaan atau “spiritualitas” yang kada tidak selalu dapat dibuktikan secara nyata, karean memiliki sifat ke-ilahi-an.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, dalam pola keberagaamaan meyakini ada keterlibatan penguasa semesta, yaitu Allah SWT. Pengelaman ini tentu membekan pada psikologi mereka, menyentuh jiwa dirasakan secara pribadi, kemudian beralih kepada tingkah laku mereka sebagai manusia/makhluk sosial.

Prilaku islami lahir dari banyak pergumulan keagamaan yang dialami selaku Muslim, bisa jadi dari pengalaman intelektual (intelectual exescise) yang mereka dapatkan dari mempelajari agama, atau bisa jadi dari pergumulan lain seperti: kesadaran, mental, pikiran, muatan, imajinasi dan sebagainya.

Hal ini merangsang pembentukan kebiasaan, mengalir hingga akhirnya menjadi karakter pribadi –dalam lingkup kecil-, dan menjadi karakter sosial masyarakat Muslim dalam sekala besar.

Dengan demikian, maka prilaku Muslim akan berhadapan dengan keadaan sosial, realitas kehidupan, dimana agama Islam diuji keberadaannya melalui tingkah laku penganut mereka.

Prilaku “islami” yang diperankan menjadi suatu umpan balik, berbagai respon mengenainya akan menghasilkan dan menjadi ransangan baru.  Agama disini menjadi anugerah yang diterima manusia, yang pada dataran sosialnya melalui proses rasionalitas, moralitas, nilai, hingga bermuara pada kemampuan untuk mencintai.

Kebajikan/kebaikan ini seringkali diidentikkan sebagai tanda suci hadirnya Tuhan dalam diri manusia. Namun jika cinta yang kita miliki satu sama lain direduksi menjadi output yang merespon stimulus kausalitas prilaku, maka Muslim nyaris sulit disebut sebagai manusia yang islami, bahkan pada titik tertentu komunitas lain akan mempertanyakan kesucian dalam dirinya.

Islam sejatinya memuat kode-kode moral tertentu yang mempertahankan nilai-nilai kelompok, dan dalam beberapa hal, kode-kode moral tersebut dipelihara keberadaannya. Respon positif sosial sangat tersambung dengan dukungan keagamaan dan dapat dicapai oleh perbuatan kaum Muslim itu sendiri.

Kehidupan yang lebih baik diupayakan dengan prilaku yang lebih baik melalui ilmu ilmu agama sebagai nilai dan etika sosial. Hal yang sangat nampak dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW pada masa sebelum mendapat risalah.

Berprilaku sangat agamis, bahkan sebelum beliau menganut agama resmi. Dalam bahasa lain, beliau sudah islami bahkan sebelum agama Islam lahir.  Hal demikian tentu karena beliau menyadari bahwa dengan prilaku agama yang baik, kita dapat lebih cepat lagi mewujudkan masyarakat yang lebih humanis.

Ajaran fitrah agama adalah mengedepankan karakter kemanusiaan. Ajaran Alī-Imran [3]: 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُون

Ayat ini menekankan pada hubungan penting antara bertuhan dan berbuat melakukan humanisasi ditanah Arab. Berpegang pada prinsip dasar al-Qur’an, seperti, keadilan, kejujuran, solidaritas kemanusiaan dan persamaan,. Semangat yang dibawa dalam humanisasi ini adalah membawa manusia kepada tempat selayaknya yang ditempati oleh manusia dan membawanya kembali kepada fitrah, yaitu kesadaran terhadap ketuhanan, dan manusia sebagai makhluk individu dan sosial.

Disinilah nilai persamaan yang dibawa al-Qur’an dalam proses perubahan paradigma realitas Arab pra-Islam. Bahkan jika melihat narasi al-Qur’an, bukan hanya penyadaran yang diberikan adalah pentingnya beramal sholih atau berbuat baik.

Konsep Taqwa –untuk selanjutnya menjadi Muttaqin- dalam Islam sesungguhnya berperan disana. Orang yang Muttaqin tidak hanya memiliki pola berfikir agama hanya untuk ketaannya kepada Allah sebagai pahala untuk dirinya semata, namun juga ketaatan kepada Allah yang bisa memperbaiki prilaku diri, dan dirinya baik bagi orang lain.

Baca Juga:

  1. Ceramah Agama: Ajaran Dasar Agama Cinta
  2. Takwa Sebagai Semangat Kehidupan Sosial
  3. Materi Kultum Terbaru Muslim Rahiim

Muslim-Muttaqin adalah mereka yang shalih dan mushlih, yang beragama dengan melaksanakan ibadah kepada Allah, ditransformasikan penghayatannya pada diri sendiri dan diorientasikan pengamalannya pada orang lain. Mengesampingkan salah satu dari tiga sisi ini tidaklah akan sampai sempurna pada derajat tersebut.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here