Perjalanan Ruh Orang Beriman dan Kafir Setelah Meninggal, Berbedakah?

Perjalanan Ruh Orang Beriman dan Kafir Setelah Meninggal
Photo by Aswajamuda.com

Tongkrongan Islami – Kematian menjadi awal bagi manusia menuju kehidupan barunya di akhirat nanti. Banyak muncul pertanyaan terkait bagaimana perjalanan ruh setelah kematian tersebut. Apakah perjalanan ruh orang yang beriman sama dengan perjalanan ruh orang kafir? Insyaa Allah, ulasan berikut ini akan memberikan jawabannya.

Dalam Hadist Riwayat Al Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan lainnya telah meriwayatkan Al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan ketika Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat berada di pekuburan Baqi’ul gharqad untuk mengiringi jenazah orang Anshar.

Sembari menunggu liang lahatnya dibenahi, Rasulullah SAW duduk menghadap kiblat dan para sahabat pun duduk di sekitarnya dengan tenang dan khusyu’ tanpa mengeluarkan suara, seolah-olah di atas mereka ada burung.

Di tangan Rasulullah SAW terdapat ranting dan beliau menancapkannya ke tanah kemudian mengengadah ke langit lalu menunduk, beliau mengulangi sebanyak tiga kali kemudian bersabda:

“Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur”  Rasulullah mengulanginya dua atau tiga kali.  Kemudian beliau berdo’a:  “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur.”  (Beliau mengucapkannya tiga kali).

Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan bagaimana proses perjalanan ruh setelah kematian pada orang yang beriman dan orang kafir. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya hamba yang beriman ketika hendak meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turunlah malaikat dari langit, wajahnya putih seakan-akan seperti matahari. Mereka membawa kafan dari surga dan juga hanuth (minyak wangi) dari surga.  Kemudian mereka duduk di sekitar hamba tersebut sejauh mata memandang. Lalu datanglah malaikat maut ‘alaihis salam yang duduk di samping kepalanya, seraya berkata: ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan ridha-Nya.’ Kemudian keluarlah ruh itu dari jasad sebagaimana tetesan air yang keluar dari mulut teko, lalu malaikat maut mengambilnya.  Para malaikat dalam sekejap langsung mengambil ruh tersebut dari malaikat maut dan memberikan kafan serta hanuth yang wangi.

Hingga ruh pun menebarkan aroma wangi yang terbaik di bumi dan para malaikat membawanya naik menuju ke langit. Tidaklah para malaikat melewati sekumpulan malaikat lainnya melainkan mereka akan bertanya: ‘Siapakah ruh yang baik ini?’ Mereka pun menjawab, ‘Ini adalah Fulan bin Fulan,’ dan disebutkalah namanya yang paling terbaik ketika mereka memanggilnya di dunia.

Hingga sampai pada langit dunia, dan mereka meminta pintu dibukakan lalu pintu langit pun dibukakan. Mereka naik menuju langit berikutnya dan diikuti para malaikat langit dunia, hingga sampai pada langit ke tujuh. Kemudian Allah berfirman: “Tulis catatan amal hamba-Ku di Illiyin. Dan (sekarang) kembalikanlah dia ke muka bumi. Sungguh darinya Aku telah menciptakan mereka dan padanya Aku akan mengembalikan mereka, serta darinya pula Aku akan mengeluarkan mereka sekali lagi”

“Tahukah kamu apakah Illiyin itu? (yaitu) kitab yang bertulis. Disaksikan oleh para malaikat.”

Kemudian dikembalikalah ruh ke dalam jasadnya, hingga mayit mendengar suara sandal mereka yang telah mengantarkan jenazahnya ketika pulang dari pemakaman.

Lalu datanglah dua malaikat yang keras gertakannya, (sementara dalam riwayat lain disebutkan warnanya hitam biru). Mereka menggertaknya dan mendudukkan si mayit.

Mereka bertanya,‘Siapa Rabbmu?’ Maka dia menjawab, Rabbku adalah Allah. Lalu keduanya kembali bertanya, ‘Apa agamamu?’ Maka dia menjawab, agamaku adalah Islam.  Keduanya kembali bertanya, ‘Siapa orang yang telah diutus di tengah kalian?’ Dia menjawab, Dia Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam. Malaikat bertanya lagi, ‘Bagaimana amalmu?’ Dia menjawab, Saya membaca kitab Allah, saya mengimaninya dan membenarkannya.

Lalu terdengarlah suara yang menyeru dari atas, “Hambaku benar, bentangkan untuknya permadani dari surga dan bukakanlah sebuah pintu ke surga.” Maka keharuman surga pun menerpanya dan kuburnya diperluas sejauh mata memandang. Lalu datanglah seorang yang bagus wajahnya lagi harum. Orang itu berkata, ‘Bergembiralah dengan segala yang akan menyenangkanmu.  Ini adalah hari yang dahulu engkau telah dijanjikan.

Maka si mayit bertanya, ‘Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kabaikan.’ Dia menjawab, ‘Aku adalah amalmu yang shalih.’ Lalu mayit orang beriman pun berkata, ‘Wahai Rabbku, segerakanlah hari kiamat agar aku bisa berkumpul kembali dengan keluarga dan hartaku.’ Lalu disampaikan kepadanya, ‘Tenanglah.’

Sebaliknya, ruh orang kafir dicabut dengan sangat keras oleh malaikat maut dan dibawa dengan kain kafan yang buruk dan kasar oleh para malaikat yang berwajah hitam legam.  Aroma ruh orang kafir sangat busuk dan tidak akan dibukakan pintu langit melainkan dilemparkan kembali kepada jasadnya dengan sangat keras, catatan amalnya ditulis di Sijjiin, yaitu di bumi yang paling bawah.

Baca Juga:

  1. Tanda-tanda Kematian Menurut Imam Ghozali
  2. Mengenal Nama-nama Neraka dan Kriteria Penghuninya, Na’udzubillah!
  3. Dahsyatnya Sakaratul Maut, Seperti Apa Persiapan Kita?

Mayit orang kafir tidak mampu menjawab pertanyaan dari malaikat sehingga dibentangkan baginya alas dari neraka dan dibukakan pintu neraka baginya. Kuburnya pun disempitkan hingga meremukkan tulang belulangnya, dia ditemani orang yang bewajah buruk dan berbau busuk yang merupakan amal buruknya. Dia pun mendapatkan siksa kubur yang sangat dahsyat sehingga berteriak sangat keras. Disiapkan baginya tempat di neraka, sehingga diapun memohon, “Ya Rabb, jangan Engkau tegakkan kiamat.” Karena dia mengetahui tempat akhirnya nanti adalah neraka. Naudzubillahi min Dzalik. Wallahu a’lam bish-shawab.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here