Apa Sajakah Perkara-Perkara yang Membatalkan Wudhu?

Perkara-Perkara yang Membatalkan Wudhu

Tongkrongan Islami – Sebagai salah satu rangkaian yang wajib dilaksanakan saat akan mengerjakan sholat, wudhu akan batal dengan perkara-perkara tertentu. Pembatal-pembatal ini disebut dalam istilah fiqih Nawaqiduhl wudhu (hal-hal yang membatalkan wudhu).

Hal ini dapat diartikan, bilamana seorang hamba mengerjakan sholat lalu tidak berwudhu (sholat namun wudhu yang telah dilakukan batal) maka sholatnya pun ikut batal, tidak sah.

Ada beragam pendapat yang menyebutkan apa saja yang dapat membatalkan wudhu. Pendapat-pendapat ini terbagi ke dalam beberapa golongan, namun kami di sini akan meringkas menjadi dua bagian, yaitu pembatal-pembatal wudhu yang sudah disepakati ulama, dan perkara-perkara yang masih dipersilisihkan ulama.

Pembatal-Pembatal Wudhu yang telah Disepakati Ulama

a. Keluarnya sesuatu dari Dua Jalan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ
بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ وَإِن كُنتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُواْ وَإِن كُنتُم مَّرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاء أَحَدٌ مَّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاء فَلَمْ تَجِدُواْ مَاء فَتَيَمَّمُواْ صَعِيداً طَيِّباً فَامْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ مَا يُرِيدُ اللّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَـكِن يُرِيدُ لِيُطَهَّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit403 atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh404 perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS Al-Maidah [5]: 6)

لِحَدِيْثِ صَفْوَانَ بْنِ عَسَّالٍ قَالَ : فَأَمَرَنَا أَنْ نَمْسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ إِذَا نَحْنُ أَدْخَلْنَاهُمَا عَلَى طُهْرٍ ثَلَاثًا إِذَا سَافَرْنَا وَيَوْمًا وَلَيْلَةً إِذَا أَقَمْنَا وَلَا نَخْلَعَهُمَا إِلَّا مِنْ جَنَابَة

Advertisement
Loading...

Menurut hadis Shafwan bin Assal berkata : ”Rasulullah SAW memerintahkan kami supaya mengusap bagian atas kedua khuf kalau kami memakainya di waktu suci, tiga hari jika kami bepergian dan satu hari satu malam jika tidak bepergian. Dan kami tidak perlu membuka keduanya karena buang air besar atau kecil dan karena tidur. Dan supaya kami tidak membukanya kecuali karena janabah”. ( HR. Ahmad )

عن َأَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأ

Dari Abu Hurairah ra berkata : ”Rasulullah SAW bersabda : tidak diterima shalat salah seorang diantara kalian apabila berhadats sehingga ia berwudhu”. ( HR. Muslim )

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ وَقَدْ فَسَّرَهُ أَبُوْهُرَيْرَة لَمّا قَال لهُ رَجُلٌ مَالحَدَث ؟ قَالَ فُسَاءٌ وَضُرَاطٌ

Dari Abu Huraiah ra. Nabi Saw bersabda, Allah swt tidak menerima shalat kalian apabila berhadats sehingga ia berwudhu. Abu Hurairah ra. menafsirkan ketika ada seseorang yang bertanya, Apakah hadats itu ? ia menjawab : kentut yang berbunyi dan yang tak berbunyi”. ( HR. Bukhari )

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً وَكُنْتُ أَسْتَحْيِي أَنْ أَسْأَلَ النَّبِيَّ ركعتينلِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأ

Dari Ali ra. berkata : adalah aku itu seorang lelaki yang sering keluar madzi dan aku malu bertanya pada rasulullah saw karen kedudukan anak perempuanya disisiku lalu aku memerintahkan Miqdad ibn al-Aswad untuk bertanya padanya, maka berkatalah Nabi SAW hendaklah ia membasuh kemaluanya dan berwudhu”. ( HR. Muslim)

b. Menyentuh Wanita (Jima’)

Berdasarkan pemahaman terhadap lafadz au-lamastumun- nisa’َ dengan makna Jima’ / bersetubuh. Perbedaan dalam memahami ayat (au-laa mastumunnisa’) melahirkan dua madzhab yang populer dikalangan ulama :

Golongan yang berpendapat bahwa menyentuh wanita termasuk membatalkan wudhu. Pendapat ini dipegangi oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, az-Zuhri, as-Syafi’i dan para sahabatnya.

Golongan yang berpendapat bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu. Pendapat ini dipegangi oleh Ibnu Abbas, Ath’a, Thaus, al-Utrah, Abu Hanifah dan Abu Yusuf.

Kelompok pertama memahami ayat au-laa mastumunnisa’ dengan makna dzahir, sedang kelompok yang kedua memahaminya dengan makna majazi, berdasarkan hadis Aisyah :

عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُقَبِّلُ بَعْضَ أَزْوَاجِهِ ثُمَّ يُصَلِّي وَلَا يَتَوَضَّأُ

Dari Ibrahim at-Taimi dari Aisyah ”bahwa Nabi Saw. mencium sebagian istri-istrinya kemudian beliau shalat dan tidak berwudhu”. (HR. Abu Daud dan Nasai)

Meskipun hadis ini mursal bahkan ada yang mendhaifkannya, sehingga kehujjahanya masih dipertentangkan dikalangan ’ulama. Namun demikian banyaknya orang yang meriwayatkanya menjadikan hadis ini satu dengan yang lain saling menguatkan. Pendapat kedua inilah yang dirajihkan oleh Muhammadiyah. [Nailul Author bab pembatal-pembatal wudhu]

c. Menyentuh kemaluan

لِحَدِيْثِ بُشْرَةَ بِنْتِ صَفْوَانَ رَضِيَ اللّه عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَ صلعم قَالَ مَنْ مَسَّ ذَكّرّهُ فَلاَ يُصَلِّيْ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

Dari Busyrah binti Shofwan ra. Berkata bahwa Nabi Saw. Bersabda, ”Barang siapa yang menyentuh dzakarnya maka janganlah ia shalat sebelum berwudhu”. (HR. Imam Empat)

عَنْ طَلَق بْنِ عَلِيِّ أَنَّ رَسُوْلَ اللّهِ صلعم قَالَ مَنْ مَسَّ فَرْجَهُ فَلْيَتَوَضَّأ أَخْرَجَهُ الطبرنيّ

Dari Tholaq bin Ali berkata bahwa Nabi Saw. Bersabda, ”Barang siapa yang menyentuh kemaluanya maka hendaklah ia berwudhu”. ( HR. imam at-Thabrani )

عَنْ عَمْرو بن شُعَسْبٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ عَنِ النَّبِيِ صلعم قَالَ أَيُّمَا رَجُلٍ مَسَّ جَرْجَهُ فَليَتَوَضَّأْ وَأَيُّمَا امْرَأَةٍ مَسَّتْ فَرْجَهَا فَلْيَتَوَضَّأْ

Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya Nabi Saw. Bersabda, ”Setiap laki-laki yang menyentuh kemaluanya hendaklah ia berwudhu dan juga setiap perempuan yang menyentuh kemaluanya hendaklah ia berwudhu”. ( HR. Ahmad )

عَنْ أَبُوْ هُرَيْرَةَ : إِذَا أَفْضَى أَحَدُكُمْ بِيَدِهِ إِلَىَ فَرْجِهِ لَيْسَ دُوْنَهَا حِجَابٌ وَلَا سَتْرٌ فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الوُضُوْء

Dari Abu Hurairah : ”Apabila salah seorang diantara kalian menyentuh kemaluanya dengan tanganya tanpa ada hijab dan penutup maka ia wajib berwudhu”. ( HR. Ibnu Hibban )

d. Tidur Nyenyak dalam keadaan Miring

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وِكَاءُ السَّهِ الْعَيْنَانِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ

Dari Ali ra. bahwa Rasullah Saw. Bersabda, ” kedua mata itu bagaikan tali dubur, barangsiapa tertidur maka berwudhulah”. (HR. Abu Dawud)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَسْجُدُ وَيَنَامُ وَيَنْفُخُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي وَلَا يَتَوَضَّأُ قَالَ فَقُلْتُ لَهُ صَلَّيْتَ وَلَمْ تَتَوَضَّأْ وَقَدْ نِمْتَ فَقَالَ إِنَّمَا الْوُضُوءُ عَلَى مَنْ نَامَ مُضْطَجِعًا زَادَ عُثْمَانُ وَهَنَّادٌ فَإِنَّهُ إِذَا اضْطَجَعَ اسْتَرْخَتْ مَفَاصِلُهُ

Dari Ibnu Abbas ra., “bahwa ia melihat Rasullah Saw. tidur sedang beliau bersujud sehingga ia mendengkur, kemudian ia berdiri untuk shalat, kemudian aku berkata : wahai Rasullah sesungguhnya Engkau telah tertidur. Beliau bersabda : sesungguhnya wudhu itu tidak wajib melainkan bagi orang yang tidur berbaring, karena jika berbaring lemasalah sendi-sendinya”. ( HR. Ashabus Sunan ).

e. Memakan Daging Unta

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَأَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ قَالَ إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ فَلَا تَوَضَّأْ قَالَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ قَالَ نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ قَالَ أُصَلِّي فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ قَالَ نَعَمْ قَالَ أُصَلِّي فِي مَبَارِكِ الْإِبِلِ قَالَ لَا

Dari Jabir Bin Samurah Bahwa seorang laki-laki bertanya pada Rasullah Saw. : Apakah kami harus berwudhu dari daging kambing ? Rasullah menjawab ” jika kamu mau maka berwudhulah dan jika tidak maka tidak usah berwudhu. Kemudian laki-laki tersebut berkata : apakah kami harus berwudhu dari daging unta? Nabi menjawab : ya. Apakah aku boleh shalat di kandang kambing ? jawab Nabi ya. Apakah aku boleh shalat di kandang unta ? Nabi menjawab tidak. ( HR. Muslim dan Ahmad )

Hadis serupa juga diriwayatkan Ibnu Majjah melalui jalur Muharrib bin Dutsar dan Ibnu Umar. Hadis ini menjadi landasan bahwa memakan daging unta termasuk membatalkan wudhu.

Mengenai hal ini imam Nawawi berkata : Orang yang berpendapat bahwa memakan daging unta tidak termasuk pembatal wudhu adalah khalifah yang empat : Ibnu Mas’ud, Ubai bin Ka’ab, Ibnu Abbas, Abu Darda, Abu Tolhah, Amar bin Rabia’ah, Abu Umamah, sekelompok Tabi’in, imam Malik, Abu Hanifah, dan imam Syafi’i. Sedangkan kelompok yang menganggap batal adalah Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, Yahya bin Yahya Ibnu Huzaimah, Abu Bakar bin Mundzir dan al-Baihaqi.

Kelompok kedua menjadikan hadis Jabir ini sebagai dalil bahwa memakan daging unta termasuk pembatal wudhu. Sedangkan kelompok pertama menyandarkan pendapatnya pada khalifah yang empat dan sebagian besar yang masyhur serta perkataan Ibnu Hibban :

أَنَّهُ كَانَ أخِرُالأَمْرَيْنِ مِنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَدَمُ الوُضُوْءِ مِمَّا مَسَّتْ النَّارُ

“Bahwasanya akhir dari dua urusan Nabi SAW adalah tidak berwudhu dari memakan makanan yang disentuh ( dimasak ) dengan api”. ( HR. Ibnu Hibban )

Meskipun demikian Imam Nawawi membantah metode yang digunakan Ibnu Hibban dalam mengkompromikan dua hadis tersebut di atas ( Nailul Authar H.256 Bab : wudhu dari daging unta ).

f. Pingsan

Jumhur ’ulama sepakat bahwa hilangnya akal disebabkan karena pingsan, gila, dan mabuk menjadi salah satu penyebab batalnya wudhu. Mereka berpendapat bahwa kalau tidur saja (kecuali posisi tidur tertentu) membatalkan wudhu, sudah tentu pingsan, gila dan mabuk termasuk pembatal wudhu sebab keadaannya lebih berat dibanding tidur. [Bidayatul Mujtahid Bab Pembatal-Pembatal Wudhu]

Pembatal-Pembatal Wudhu yang Masih Diperselisihkan Ulama

a. Muntah

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصَابَهُ قَيْءٌ أَوْ رُعَافٌ أَوْ قَلَسٌ أَوْ مَذْيٌ فَلْيَنْصَرِفْ فَلْيَتَوَضَّأْ ثُمَّ لِيَبْنِ عَلَى صَلَاتِهِ وَهُوَ فِي ذَلِكَ لَا يَتَكَلَّمُ

Dari Aisyah ra berkata : Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang mendapati dirinya muntah, mimisan atau madzi maka hendaklah ia meninggalkan shalatnya lalu berwudhu kemudian melanjutnya shalatnya selama dia tidak berbicara di dalamnya”. ( HR. Ibnu Majah sedangkan imam Ahmad dan selainya mendhaifkanya )

Termasuk kelompok yang menganggap muntah membatalkan wudhu adalah mazhab Hanafiyah, Hambaliyah, sementara Hadawiyah mensyaratkan muntahnya berasal dari perut besar dan memenuhi mulut. Sedangkan kelompok dari kalangan Ahlul Bait; Syafi’i dan Malik beranggapan bahwa muntah tidak termasuk pembatal wudhu dengan alasan hadis Aisyah r.a tidak kuat karena hanya sampai pada derajat mursal disamping itu juga dha’if sehingga tidak layak untuk dijadikan hujjah.

b. Mimisan

Mengenai mimisan apakah termasuk membatalkan wudhu atau tidak juga diperselisihkan. Bagi yang menganggap termasuk pembatal wudhu berdalil pada hadis Aisyah r.a diatas, sementara kita tahu derajat hadis tersebut lemah. Sementara yang tidak menganggapnya sebagai pembatal wudhu karena mengamalkan hukum asal yaitu asalnya tidak membatalkan sampai ada dalil kuat yang menerangkannya.

Sedang mengenai darah yang keluar selain dari dua jalan diterangkan oleh hadis Anas bahwa Nabi saw berbekam lalu beliau bangkit untuk shalat tanpa berwudhu.

c. Membawa mayit

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأ [ أخرجه أحمد والنّسائى والتّرمذيّ وحسّنه وقال أحمد لايصحّ في هذا الباب شيئ

Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: Barang siapa yang memandikan mayit maka hendaklah ia mandi besar. Dan barang siapa yang membawanya maka hendaklah ia berwudhu. ( HR. Ahmad, an-Nasai, at-Tirmidzi, dan ia menghasankan hadis tersebut).

Hadis ini ditakhrij oleh Imam Ahmad dari jalur yang lemah. Sekalipun demikian imam Tirmidzi menghasankanya dan Ibnu Hibban menshahihkanya karena ada hadis lain yang semakna dengan hadis ini dan tidak terdapat sanad yang dianggap lemah. Imam Ahmad berkata hadis ini dimansuhkan oleh hadis Ibnu Abbas riwayat al-Baihaqi.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَيْسَ عَلَيْكُمْ فِى غُسْلِ مَيِّتِكُمْ غُسْلٌ إِذَا غَسَلْتُمُوْهُ إِنَّ مَيِّتَكُمْ يَمُوْتُ طَاهِرًا وَلَيْسَ بِنَجَسٍ فَحَسْبُكُم أَنْ تَغْسِلُوْا أَيْدِيَكُمْ

Dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi SAW bersabda : “Tidak wajib bagi kalian mandi apabila kalian memandikan mayat, sesungguhnya mayat di antara kalian itu suci dan bukan najis maka cukuplah kalian membasuh kedua tangan kalian”. (HR. al-Baihaqi akan tetapi ia sendiri mendhaifkanya)

Imam Bukhari mengkompromikan antara hadis Abu Hurairah dan Ibnu Abbas ini bahwa : ” mandi setelah membawa mayat hanyalah sunah. ash-Shan’ani pensyarah kitab Bulughul Maram menunjukkan hadis Ibnu Umar yang ditakhrij oleh imam Ahmad sebagai qorinah untuk menengahi dua hadis di atas.

كُنَّا نَغْسِلُ المَيِّتَ فَمِنَّا مَنْ بَغْتَسِلُ وَمِنَّا مَنْ لَا يَغْتَسِلُ أخرجه أحمد

“Kami memandikan mayit maka diantara kami ada yang mandi dan ada yang tidak ”. ( HR. Ahmad )

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here