Perkembangan Islam pada Masa Dinasti Bani Buwaihi

Perkembangan Islam pada Masa Dinasti Bani Buwaihi

Tongkrongan Islami – Dinasti Buwaihi muncul dalam panggung kekuasaan Islam pada permulaan abad ke-10 M, atau tepatnya pada tahun 945-1055 M, di bagian Barat Laut Iran. Dinasti ini dibangun melalui usaha-usaha bersama tiga bersaudara yaitu, Ali bin Buwaihi (yang tertua), Hasan bin Buwaihi, dan Ahmad bin Buwaihi (yang termuda).

Putra seorang pencari ikan (nelayan) miskin yang bernama Abu Syuja’ Buwaih. Mereka berasal dari negeri Dailam, wilayah yang terletak di barat daya laut Kaspia. Negeri ini telah tunduk pada kekuasaan Islam sejak masa khalifah Umar bin Khattab.[1]

Agar dapat keluar dari tekanan kemiskinan, ketiga bersaudara itu memasuki dinas militer yang dipandang banyak mendatangkan rezki pada masa itu. Awalnya mereka bergabung dengan pasukan Makan ibn Kali, salah seorang panglima perang Dailam.

Setelah mereka mengalami kekalahan, mereka bergabung dengan panglima Mardawij ibn Zayyar al-Dailamy. Akan tetapi sebelum mengambil tindakan tersebut mereka terlebih dahulu meminta izan kepada Makan ibn Kali dengan alasan untuk meringankan beban Makan dan berjanji akan menyokongnya kembali apabila kelak kekuatannya telah pulih.[2]

Mengawali kariernya di wilayah Iran, mereka giat menyebarkan Syi’ah di kalangan penduduk setempat dan mendapat dukungan dari Iran.[3] Atas prestasi mereka, Mardawij mengangkat Ali sebagai gubernur di Karaj, sedangkan Ahmad dan Hasan diberi kedudukan penting pula, semenjak itulah kekuatan Buwaihi tampak.[4]

Ketika kekuatan mereka bertambah besar, Ali berhasil menaklukkan daerah-daerah di Persia dan menjadikan Syiraz sebagai pusat pemerintahan. Selanjutnya ketika Mardawij meninggal, mereka berhasil pula menaklukkan beberapa daerah di Persia seperti Raj, Isfahan, dan daerah-daerah Jabal. Ali berusaha mendapatkan legalisasi dari khalifah Abbasiyah al-Radi Billah dan mengirimkan sejumlah uang untuk perbendaharaan negara. Setelah berhasil mendapatkannya, ia melanjutkan ekspansi ke Irak, Ahwaz, dan Wasith.[5]

Saat itu Baghdad tengah dilanda kekisruhan politik akibat perebutan jabatan Amir al-Umara antara Wazir dan pemimpin militer. Para pemimpin militer meminta bantuan Ahmad yang berkedudukan di Ahwaz, [6] maka pada tanggal 11 Jumadil Awal tahun 334 H Bani Buwaihi tiba di Baghdad dan disambut oleh penduduk dengan gembira yang berharap segera akan dilepaskan dari tekanan-tekan Turki dan budak-budak yang menguasai istana. Bahkan tak ketinggalan khalifah ikut pula menyambut secara kehormatan.

Diadakanlah perjanjian untuk mengakui keturunan Buwaihi sebagai Sultan dan sebaliknya Bani Buwaihi mengakui pula kedudukan khalfah.[7]segera memindahkan pusat kekuasaannya dari Syiraz ke Baghdad.

Sejak saat itu, para  khalifah Abbasiyah tunduk kepada Bani Buwaihiyyah, seperti ketundukan mereka kepada militer Turki. Mu’izz al-Daulah (Ahmad) semakin besar pengaruhnya dan dengan jabatan Sultan di Baghdad. Nama mereka disebutkan bersama-sama dengan nama khalifah dalam khutbah jum’at, dan tertulis dalam mata uang Baghdad.

Secara de facto, Bani Buwaihi memang telah membangun kekuasaan di luar Baghdad sejak 320 H (932 M). Namun secara formal baru dapat mengendalikan kekuasaan politik, ekonomi, dan militer dinasti Abbasiyah pada tahun 334 H (945 M). Pada tahun inilah boleh dikatakan sebagai awal berkuasanya dinasti Buwaihi. Adapun para penguasanya secara berurutan dapat dilihat sebagai berikut:

  1. Mu’izzu al-Daulah (334-356 H)
  2. Izzu al-Daulah (356-367 H)
  3. Idhadu al-Daulah(367-372 H)
  4. Shamsan al-Daulah (372-375 H)
  5. Syaraf al-Daulah (375-379 H)
  6. Baha’u al-Daulah (379-403 H)
  7. Sulthan al-Daulah (403-411 H)
  8. Musrif al-Daulah (411-416 H)
  9. Jalal al-Daulah (416-435 H)
  10. Imadu al-Daulah (435-440 H)
  11. Abu Nasirah Malik al-Rahim (440-447 H)[8]

Kemajuan Islam Pada Masa Pemerintahan Bani Buwaihi

Dinasti Buwaihi berkuasa selama 110 tahun yaitu dari tahun 945-1055 M. Selama periode ini, dinasti tersebut telah melahirkan sebelas penguasa. Penguasa pertama adalah Mu’izzu al-Daulah yang memerintah selama 22 tahun, dari 945 hingga 967 M (334-356 H).[9]

Selama kurun waktu tersebut suasana ke dalam yang lebih tenang memberi kesempatan kepadanya untuk membangun kembali segala kehancuran dan kerusakan yang disebabkan kemelut dan kerusuhan selama belasan tahun terakhir. Rakyat pun bisa menikmati keamanan dan ketertiban yang telah berhasil dipulihkan kembali.[10]

Kedua saudaranya yakni hasan dan Ahmad memperluas daerah kekuasaan di Timur. Pada masa itu peperangan melawan golongan Hamdani dari Mosul terus berlanjut. Tahun 952 M harus berhadapan dengan kaum Qaramitah dan Omani yang berusaha merebut Basrah dan berhasil dipukul mundur.[11]

Dengan kekuatan militer yang tangguh, dinasti Buwaihi akhirnya mampu mengendalikan beberapa dinasti kecil yang telah memerdekakan diri untuk kembali tunduk pada kekuasaan sentral di Baghdad. Di antaranya adalah Bani Hamdan di wilayah Syiria dan Irak, dinasti Samaniah yang menguasai Asia Tengah, Daulat Zayariyah yang menguasai Khurasan serta Daulat Ikhsyidiyah.

Mereka pun kembali memenuhi kewajibannya terhadap perbendaharaan khalifah. Beberapa wilayah lain yang telah melepaskan diri dari pusat seperti Basrah, Irak Utara (al-Jazirah), Syam (Syiria/Palestina) dapat pula dikembalikan dalam kekuasaan Baghdad.[12]

Selain perluasan wilayah kekuasaan, penguasa dinasti Buwaihi juga mencurahkan perhatian terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Pada masa ini bermunculan ilmuwan besar, di antaranya Ibnu Sina, al-Farabi, Ibnu Miskawaih, Istakhri, Nasawi al-Farghani, Abd al-Rahman al-Shufi, Abu al-‘Ala al-Ma’atari serta kelompok ahli pikir Ikhwan al-Shafa’.[13]

Tokoh lain yang lahir pada masa kekuasaan Buwaihi adalah al-Kohi dan Abd al-Wafa, mereka adalah dua pakar yang paling tersohor dalam bidang astronomi, fisika, dan matematika.

Al-Kohi menulis sebuah karya mengenai gerak tata surya. Penemuannya mengenai pergantian musim panas dan musim gugur telah menambah khazanah pengetahuan manusia.

Abd al-Wafa menemukan sistem perhitungan trigonometri dan memperkenalkan hasil observasi astronomi. Karyanya yang terkenal adalah Ziyusi Syamil merupakan peninggaln karya tentang industri dan sistem observasi secara cermat.[14]

Menurut Philip K. Hitti, Azad Daulat merupakanpenguasa terbesar Buwaihiyyah yang berhasil menyatukan dinasti-dinasti kecil di bawah komando penguasa Buwaihiyyah.  Kekuasaan Buwaihiyyah membentang dari laut Kaspia sampai lembah Gulf, dan membentang dari Isfahan hingga mencapai wilayah perbatasan Persia. Ia adalah penguasa yang sangat terkenal kedermawanannya.

Ia menggaji para pujangga dan pustakawan dengan harta pribadinya dan mendatangkan para ilmuwan dari berbagai penjuru untuk berkumpul di istananya, ia sendiri seorang ilmuwan dan mahir dalam matematika serta membangun kota Baghdad hingga menjadi lebih megah. Mendirikan berbagai masjid, rumah sakit dan sejumlah bangunan umum lainnya.

Baca Juga: Sejarah Perkembangan dan Proses Masuknya Islam di Spanyol

Kemajuan-kemajuan ini didukung oleh kemajuan di bidang ekonomi, yakni pada sektor pertanian, perdagangan dan industri khususnya industri permadani.[15] Meski masa kekuasaannya begitu singkat, yakni sekitar empat tahun (978-982 M), namun beliau dapat mengeluarkan Baghdad dari kekacauan.[16]

Faktor-faktor kemunduran Dinasti Buwaihi

Sepanjang sejarah, setiap kebangkitan dan kemajuan suatu kaum beserta peradabannya cepat atau lambat akan diakhiri kemunduran, bahkan kehancuran.  Inilah warna dalam gerak langkah kehidupan manusia yang telah mengisi lembaran sejarah dari waktu-ke waktu, dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Bisa jadi disebabkan oleh keterlibatan manusia sebagai pelaku sejarah disertai pertarungan kepentingan, ambisi dan keserakahan untuk menduduki peran utama dalam permainan kekuasaan.

Kondisi seperti inilah yang menimpa Bani Buwaihi, dinasti yang telah dirintis dari bawah oleh pendahulu-pendahulunya tak mampu dipertahankan eksistensinya oleh generasi-generasi berikutnya.

Setelah seabad lamanya memegang kendali pemerintahan Abbasiyah, pada akhirnya sejarah harus memuat kisah berakhirnya sepak terjang mereka dari panggung kekuasaan. Faktor-faktor penyebab kemunduran dinasti Buwaihi adalah:

Perebutan kekuasaan internal Bani Buwaihi

Setelah berlalunya generasi pertama (tiga bersaudara), kekuasaan menjadi ajang pertikaian antara anak-anak mereka. Masing-masing merasa paling berhak atas kekuasaan pusat. Misalnya perebutan jabatan Amir al-Umara antara Izzu al-Daulah, putra Mu’izz al-Daulah  dengan Addad al-Daulah, putra Imad al-Daulah.[17] Hal ini merupakan sebuah indikasi bahwa terjadi persaingan tidak sehat di kalangan istana.

Setiap pihak yang kalah dalam perebutan jabatan biasanya keluar mencari bantuan, itulah kelak yang menjadi bumerang kehancurannya. Terbukti pada tahun 1055 M, penguasa terakhir Buwaihi al-Malik al-Rahim) oleh komandannya sendiri yang bernama Arselan al-Basasiri.

Al-Basasiri kemudian melakukan tekanan terhadap Malik al-Rahim dan khalifah al-Qa’im. Atas tekanan  dari al-Basasiri ini, khalifah al-Qa’im meminta bantuan Tughril Bek dari dinasti Saljuk dari negeri Jabal.

Tughril Bek segera menuju ke Baghdad pada tahun 447 H / 1055 M. Malik al-Rahim yang menjabat Amir al-Umara dikalahkan dan dipenjarakan. Dengan kemenangan Tughril Bek di Baghdad ini berakhirlah kekuasaan Bani Buwaihiyyah dan sekaligus menjadi awal kekuasaan dinasti Saljuk di Baghdad.[18]

Paham Syi’ah yang dianut oleh pemerintahan Buwaihi bertentangan dengan paham Sunni yang dianut mayoritas penduduk.

Meski pemerintah Buwaihi tidak memaksakan penduduk untuk menganut paham tersebut, namun jalannya pemerintahan diwarnai oleh dominasi Syi’ah sebagai lambang kekuasaan. Perayaan-perayaan Syi’ah dijadikan perayaan resmi, seperti 10 Muharram untuk memperingati peristiwa Karbala, perayaan 1 Zulhijjah sebagai Yaum al-Gadhir (hari pemberian wasiat nabi kepada Ali). Bahkan dinasti ini banyak mendirikan bangunan-bangunan megah dan bersejarah sekte Syi’ah.[19]

Kesewenangan militer Turki dan Daylama

Perselisihan internal antara penguasa Buwaihi telah mengurangi kekuatan pemerintah pusat lantaran dinasti ini memberikan hak kepada pasukan militer untuk memungut pajak dari sejumlah wilayah tertentu sebagai ganti gaji mereka.

Baca Juga: Sejarah Perkembangan dan Proses Masuknya Islam di Prancis

Di Kirman, Faz, dan Khuzistan, prajurit Turki dan Daylama merampas kuasa pemilikan tanah, mengabaikan investasi pertanian dan mengeksploitasi kaum petani demi keuntungan tujuan jangka pendek. Kondisi ini semakin memperparah kemerosotan ekonomi pertanian di Irak dan Iran barat.[20]

Catatan Kaki

[1] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Cet. I; Jakarta: Logos, 1997), h. 123.

[2] A. Sya’labi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, diterjemahkan oleh Muhammad Labib Ahmad, Jilid III (Cet. IX; Jakarta: al-Husna Zikra, 1997), h. 325.

[3] Dewan Redaksi Tim Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jilid I (Cet. III; Jakarta: Ikhtiar baru Van Houve, 1994), h. 267.

[4] Badri Yatim, Sejarah Pradaban Islam. Cet. XII; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001. h. 61.

[5] Ibid.34

[6] Ibid.55

[7] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklipedi Islam. Cet. III; Jakarta: Ichtiar Baru Van Houve, 1994. h. 267.

[8] Hasan Ibrahim Hasan, Islamic History and Culture, from 632-1968 M, diterjemahkan oleh Djahdan Human dalam judul Sejarah Kebudayaan Islam (Cet. V; Yogyakarta: Kota Kembang, 1989), h, 206.

[9] Joesof  Sou’yb, Sejarah Daulah Abbasiyah II (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1977), h. 172.

[10] Masudul Hasan, History of Islam; Classical Period 571-1258 CE, Vol. 1 (t.c.; India: Adam Publishers and Distributers, t. th.), h. 315.

[11] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklipedi Islam. Cet. III; Jakarta: Ichtiar Baru Van Houve, 1994. h. 268.

[12] Joesoef  Sou’yb, Sejarah Daulah Abbasiyah II (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1977),  h. 174.

[13] Tim Penyusun Textbook Sejarah dan Kebudayaan Islam Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, Sejarah Kebudayaan Islam, Jilid I (Ujung Pandang: IAIN Alauddin, 1982), h. 162.

[14] K. Ali, Sejarah Islam; Tarikh Pramodern (Cet. III; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), h. 269.

[15] Ibid., h. 268-269.

[16] Mausudul Hasan, History of Islam; Classical Period 571-1258 CE, Vol. 1 (t.c.; India: Adam Publishers and Distributers, t. th.), h. 322.

[17] Badri Yatim, Sejarah Pradaban Islam. Cet. XII; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001.., 71.

[18] K. Ali, Sejarah Islam; Tarikh Pramodern (Cet. III; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), h. 259.

[19] Joesoef  Sou’yb, , Sejarah Daulah Abbasiyah II (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1977), h. 204.

[20] Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies, diterjemahkan oleh Gufron A. Mas’adi dalam judul Sejarah Sosial Umat Islam, Ed. I (Cet. I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1992), h. 213.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here