Review Buku Menguji Kembali Keakuratan; METODE KRITIK HADIS

Review Buku Menguji Kembali Keakuratan; METODE KRITIK HADIS

Tongkrongan Islami – Problem akademis yang diangkat oleh Kamaruddin Amin -yang selanjutnya ditulis Amin- dalam buah karyanya yang berjudul Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis adalah meninjau kembali persoalan tentang keterpercayaan periwayatan hadis Nabi saw., dari aspek nilai historisitas dan metode yang digunakan untuk menentukan nilai tersebut.

Berbeda dengan mayoritas sarjana Muslim, di dalam pembahasannya tentang masalah yang sangat kontroversial di kalangan mereka tersebut, Amin  tidaklah bertujuan menjustifikasi metode-metode yang digunakan oleh para sarjana muslim terdahulu, mempertahankannya dari kritik para sarjana barat lalu kemudian menolak metode-metode dan kesimpulan mereka, akan tetapi, ia mendekati isu tersebut dengan penuh skeptis bukan hanya kepada para orientalis, namun hal itu,  juga ia lakukan secara seksama terhadap para sarjana muslim.

Lain pula dengan para sarjana barat -orientalis-, yang menolak mentah-mentah metode kritik hadis para sarjana muslim dengan sikap tidak memepercayainya tanpa penelaahan dan pengujian secara komprehensif dan mendalam.

Dalam bukunya tersebut, Amin mengakaji metode dan konsep yang diaplikasikan oleh para sarjana baik muslim maupun barat -isu-isu kontroversial- yang kemudian ia analisis dan  evaluasi sedemikian rupa untuk menggambarkan bahwa kajian dan penelaahan ulang tentang persoalaan ini memang merupkan sebuah keniscayaan.

Pada bab pertama dari buku ini, Amin mengetengahkan berbagai argumen akan pentingnya pengkajian yang terdapat di dalam bukunya tersebut yakni  persoalan tentang keterpercayaan dan historisitas hadis Nabi saw., yang meski telah diperdebatkan oleh para sarjana baik dari kalangan antar sarjana muslim maupun sarjana muslim dengan sarjana barat, namun masih menyisakan bermacam pertanyaan-pertanyaan yang menuntut jawaban, sehingga ia berkesimpulan bahwa isu tentang persoalan ini masih jauh dari titik akhir penelitian.

Amin mengungkap sejarah pergolakan pemikiran dari sarjana barat dan muslim yang telah muncul sejak abad ke-19 yaitu pertanyaan tentang autentisitas, orginalitas, authorship, asal-muasal, kekuatan serta kebenaran hadis yang menjadi isu pokok dalam studi keislaman, khususnya yang menyangkut hukum Islam.

Dari kalangan sarjana muslim,  Ia menceritakan tentang bagaimana Abu Rayyah yang berpendapat bahwa hadis Nabi saw., telah rusak dan kata-kata persisnya telah hilang disebabkan riwayah bil makna. Lebih jauh, iamengatakan bahwa para muahadis hanya memperhatikan aspek kesinambungan jalur periwayatan dan karakter para perawi dan sepenuhnya mengabaikan esensi kandungan hadis dan bahkan mereka gagal menangkap bukti-bukti sejarah.

Begitupula Ibnu Khaldun, menurutnya ketika para Ahli Hadis meneliti berita atau riwayat-riwayat mereka menadasarkan penilaiannya hanya pada pemabawa berita, dan ketika ia dapat dipercaya maka secara otomatis informasi yang disampaikan pun dianggap autentik dan diterima. Sehingga menurutnya, peneilitian hadis yang dilakuakan pleh para ahli hadis, baru terbatas pada penelitian sanad.

Hal serupa juga dinyatakan oleh Ahmad Amin. Namun demikian, pendapat mereka kemudian dibantah oleh Musthafa A-Siba’I, M. Abu Syu’bah dan Nuruddin Itr. Menurut mereka, para ulama hadis sama sekali tidak mengabaikan matan, hal ini dapat dibuktikan dengan kriteria dan persyaratan yang mereka buat untuk menyatakan keshahihan sebuah hadis yang salah satu kriterianya adalah bahwa sebuah hadis dinyatakan shahih ketika sanad dan matanya tidak syad dan bebas dari cacat atau illah.

Menurut Amin, kontroversi ini juga muncul dikalangan kesarjanaan barat. Gustav Weil menyarankan kepada para sarjana barat untuk menolak paling tidak separuh hadis dari kitab shahih al-Bukhari. Begitu pula Alois Sprenger yang menyatakan keragu-raguannya akan ketsiqahan hadis sebagai sumber sejarah.

Hal serupa dinyatakan oleh Ignaz Goldziher bahwa hadis bukanlah sumber terpercaya pada masa awal Islam, melainkan hanya sumber yang sangat berniali dogma, konflik dan perhatian muslim belakangan yang mengedarkan hadis tersebut. lalu skeptisisme Goldziher ini, diadopsi oleh Leone Caetani dan Henri Lammens yang berpendapat bahwa hamper semua riwayat tentag kehidupan Nabi saw., adalah meragukan.

Bab kedua dari buku Amin ini, mengakaji metodologi klasik para muhaddis. Amin mengkaji secar kritis criteria hadis shahih menurut kesarjanaan muslim diikuti diskusi tentang hadis ahad, mutawatir, serta keadilan (dalalah) para sahabat dan kritik matan.

Pada bab ketiga, ia mengelaborasi metode yang digunakan sarjana muslim modern dalam menentukan autentisitas hadis, yang yang diaplikasikan oleh Nashiruddin al-Bani dan Hasan bin Ali al-Saqqaf.

Amin mengkaji sejauh mana metode sarjana tersebut telah melenceng dari metode yang diterapkan oleh kesarjanaan muslim klasik. Ia pun membahas secara kritis konsistensi baik dalam metodologi maupun hala yang akan muncul sebagai implikasi dari penerapannya dalam literatur hadis.

Pada bab empat, penulis mendiskusikan tentang persoalan historisitas penyandaran hadis kepada Nabi saw., dan sejauh mana penyndaran isanad kepada beliau saw,. Amin mengetengahkan Fuat Sezgin dan M.M Azami sebagai sarjana muslim yang akrab “berinteraksi” dengan sarjan barat. Disertakan pula para sarjana barat yang mendukung pendapat mereka berdua.

Bab kelima, Kamaruddin Amin mengkaji pendekatan para sarjana barat non-muslim terhadap literature hadis. Di dalamnya, ia mendiskusikan penerapan argumentum e silentio oleh sarjan barat,termasuk common link dan single strand.

Pada bab keenam, penulis melakukan studi kasus dengan meneliti historisitas hadis “ shaum” (amal ibn adam kulluhu lahu) menurut metode ulama klasik. Di sini dibahsa empat jalur periwyatan yang terdapat dalam shahih al-Bukhari untuk meliht sejauh mana kitab tersebut meiliki tingkat akurasi yang tinggi dibanding kitab-kitab hadi lainnya.

Bab ketujuh, Amin meneliti hadis shaum dari sudut pandang metodologi sarjaa barat nono muslim. Bahasan tersebut, secara spesifik membahas metode analisis sanad modern yang dikembangkan oleh G.H.A. Juynboll. Kajian ini, menurutnya, merupakan upaya untuk menidentifikasi siapa yang patut dianggap sebagi the real common link menurut metodologiterbaru Juynboll.

Adapun bagian terakhir dari buku ini, menurut Kamarddin Amin, merupakan inti dari peneilian yang ia lakukan. Ia mengkaji tentang penerapan metode isnad cum  matan pada hadis “shaum”.

Dalam hal ini, ia mrekontsruksi sejarah periwayatan hadis dengan metodologi isnad cum matn. Sejauh mana metode ini dapat membawa para pembacanya dalam pemberia penanggalan terhadap keragaman versi hadis tertentu adalah pertanyaan pokok yang dibahas dalam bagian ini.

Baca Juga: Review Singkat Kitab Tarjuman al-Mustafid, Tafsir Pertama di Indonesia

Judul Buku        : Menguji Kembali Keakuratan; METODE KRITIK HADIS

Penulis              : Kamaruddin Amin

Penyunting        : Sunarwoto, Dema dan Dede Iswadi

Volume             : 513 hlm.

Penerbit            : Hikmah, Jakarta

Cetakan            : Cetakan I, April 2009

ISBN                 : 978-979-114-263-2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.