Ru’yatullah: Berjumpa Dengan Allah SWT

Ru'yatullah Berjumpa dengan Allah SWT

Tongkrongan Islami – Allah adalah Zat yang menciptakan alam semesta ini beserta isinya. Jadi alam semesta ini ada karena diciptakan Allah. Karena menciptakan, maka Allah dikatakan bersifat sempurna. Sedangkan alam ini, karena merupakan ciptaan Allah, maka alam ini dikatakan bersifat tidak sempurna.

Kata sempurna mengandung arti tidak terbatas dengan batasan apa saja. Allah sempurna, berarti bahwa Allah itu tidak terbatas besarnya, tidak terbatas tingginya, tidak terbatas kekuasaannya, tidak terbatas dengan titik seperti garis, tidak terbatas dengan garis seperti dataran, tidak terbatas dengan ruang seperti garis.

Manusia dapat melihat sesuatu dengan nyata (secara kasat mata), bila suatu benda yang dilihat manusia itu mempunyai batas tertentu. Kita dapat melihat sebuah kursi dengan gamblang, karena kursi itu ada batas panjangnya, ada batas lebarnya, ada batas tingginya, ada batas pinggirnya, ada batas beratnya. Dengan batasan-batasan itu, kita dapat melihat kursi itu dengan kasat mata. Jadi kursi merupakan benda yang tidak ghaib pada kita. Begitu juga dengan benda-benda lain yang dapat dilihat melalui salah satu panca indra, yaitu mata.

Sedangkan Allah tidak mempunyai batas, karena Dia bersifat sempurna. Oleh sebab itu Allah (Tuhan) merupakan hal yang Ghaib buat kita. Kita tidak dapat melihat Allah. Sesuatu yang tidak sempurna yaitu mahluk, tidak dapat melihat sesuatu yang sempurana, yaitu Allah.

Hal ini sepadan dengan kisah Nabi Musa as. yang di abadikan dalam Al-Qur’an, yaitu surah Al-A’raf ayat 143 sbb: Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. tatkala Tuhannya Menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, Dia berkata: “Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. Al-A’raf: 143

Para mufassirin ada yang mengartikan yang nampak oleh gunung itu ialah kebesaran dan kekuasaan Allah, dan ada pula yang menafsirkan bahwa yang nampak itu hanyalah cahaya Allah. Bagaimanapun juga nampaknya Tuhan itu bukanlah nampak makhluk, hanyalah nampak yang sesuai sifat-sifat Tuhan yang tidak dapat diukur dengan ukuran manusia.

Dalam sebuah hadis dhoif yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Anas, Rosulullhah SAW pernah berkata:

سألت جبريل هل تري ربك قال انّ بيني و بينه سبعين حجابا من نور لو رأيت ادناها لاحترقت

Aku pernah menanyakan kepada Malaikat Jibril : “Pernahkah engkau melihat Tuhanmu ya Jibril?” Jibril menjawab “Bahwa diantara saya dan Tuhan ada 70 lapis dinding (tutup) yang terdiri dari nur (cahaya). Bila aku melihat kepada lapisan nur yang paling luar saja, aku pasti terbakar habis”.

Meskipun hadis ini dhoif, setidakya hadis ini telah memberikan gambaran bahwa kita sebagai manusia selamanya tidak akan melihat Allah di dunia ini. Adapun kelak di akhirat, manusia akan diberi kesempatan melihat Dzat Allah. Yaitu hanya orang-orang yang beriman (Mu’minim) yang mendapat kesempatan tersebut, sedangkan bagi orang kafir, mereka tetap akan terhalang melihat-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Qiamah ayat 22 dan 24:

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri (22). Kepada Tuhannyalah mereka melihat (23). Dan wajah-wajah (orang kafair) pada hari itu muram(24)

Berkaitan dengan ayat tentang melihat Allah, Rasulullah SAW juga pernah menyinggungnya dalam beberapa hadis. Diantaranya hadis shahih dari Abu Hurairah dan Abu Said : bahwa orang banyak bertanya kepada Rasulullah SAW:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ طَرِيفٍ الْكُوفِىُّ حَدَّثَنَا جَابِرُ بْنُ نُوحٍ الْحِمَّانِىُّ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تُضَامُّونَ فِى رُؤْيَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ وَتُضَامُّونَ فِى رُؤْيَةِ الشَّمْسِ ». قَالُوا لاَ. قَالَ « فَإِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لاَ تُضَامُّونَ فِى رُؤْيَتِهِ »

Dari Abu Hurairah ra. Berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Rusakkah mata kalian saat melihat Bulan pada saat malam purnama?” Sahabat menjawab : Tidak. “Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sama seperti kalian melihat bulan purnama, memandangnya tidak merusakkan mata kalian”.

Perselisihan Ulama’ Dalam Ru’yatullah

Pertanyaan yang sering timbul di kalangan Teolog Islam, ahli Mutakalimin, adalah mungkinkah kita dapat melihat Allah di dunia dan di akhirat? Perbincangan mengenai Ru’yatullah termasuk persoalan yang ghaiby dan tauqify. Oleh karena itu akal tidak dapat mencapai ranah ini untuk menjelaskan lebih jauh dari apa yang terdapat dalam nash (Al-Qur’an dan Hadis Rasul).

Sebagai persoalan yang tauqify dan ghaiby, maka perbincangan mengenai Ru’yatullah hanyalah bersifat informatif murni (khabar). Sedangkan informasi itu ketika di sampaikan pada sebagian pihak ada yang menerima atau membenarkan, bahkan dipihak lain ada pula yang menolak (mengingkari). Berawal dari sinilah Ulama’ berbeda pendapat mengenai Ru’yatullah, sebagian mereka menerima dan sebagian dari mereka menolak.

Permasalahan yang utama timbul dari surat Al Qiyamah ayat 22-23, yang tak lain adalah Ru’yatullah bermakna hakikat, melihat secara kasat mata atau bermakna majaz, melihat tidak secara kasat mata,

Arti secara redaksi dalam AlQur’an terjemah adalah nadzara dengan makna melihat Allah dengan kasat mata. Penafsiran ini di dukung pula oleh sudut pandang kaidah bahasa Arab, antara lain sebagai berikut:

  • Kata nadzirah (melihat) pada ayat itu di idhofahkan kepada wujuh (wajah-wajah)
  • Lafadz nadzirah merupakan isim fa’il dari kata kerja nadzara yang pada konteks ayat ini berfungssi sebagai kata kerja transitif dengan imbuhan lafadz ilaa, yang mengindikasikan penglihatan mata.
  • Tidak adanya faktor sebagai alasan untuk menunjukan makna penglihatan tanpa mata, atau alasan yang menunjukkan makna majazi.

Jadi kata ru’yah dalam ayat ini bermakna melihat secara kasat mata. Demikian juga dengan Ibnu Katsir dalam tafsirnya, menafsirkan melihat dengan pandangan mata. Sebagaimana di jelaskan dalam kitabnya, Rasulullah SAW beersabda:

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا

Dari Jarir Ibn Abdullah berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan kasat mata.”

Sebelumnya telah di sebutkan bahwa sebagian Ulama’ ada yang menerima dan menolak. Pemaparan yang pertama adalah pendapat para Ulama’ yang menerima dengan berbagai argumennya. Sedangkan Ulama’ yang menolak informasi tersebut berasal dari golongan Mu’tazilah, yang mana telah diketahui bersama bahwa golongan ini golongan rasionalitas yang lebih mementingkan akal pemikiran dari pada keterangan di dalam nash.

Golongan Mu’tazilah menolak pemahaman Ru’yatullah dengan pandangan mata berawal dari surat Al A’raf ayat 143:

Artinya : Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. tatkala Tuhannya Menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, Dia berkata: “Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. Al-A’raf: 143.

Pada ayat tersebut Allah tidak menggunakan redaksi إني لا اري   yang artinya sesungguhnya Aku tidak terlihat, tetapi redaksi ayat tersebut adalah لن تراني , yang artinya kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku.  Jelas kedua makna ini sangat beerbeda. Dan argument inilah yang mereka pegang dalam menolak Ru’yatullah dengan pandangan mata.

Meereka juga menambahkan dengan argument lain, bahwa kata لن dalam ayat itu menunjukan fungsi makna penafsiran yang bersifat abadi. Abadi disini di artikan selamanya, bahkan sampai di akhirat. Menurut mereka Ru’yatullah tidak akan terjadi.

Pendapat-pendapat mengenai Ru’yatullah ini sampai sekarang belum selesai, para Teolog Islam masih memperdebatkannya apakah informasi ini harus diterima atau ditinggalkan. Disinalah letak ni’mat ilmu yang diberikan Allah, yang mana semua ini adalah rahmat dari Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.