Ru’yatunnabi: Berjumpa dengan Nabi SAW

Ru’yatunnabi Berjumpa dengan Nabi SAW

Tongkrongan Islami – Nabi atau Rasul merupakan utusan Allah untuk meuunjukkan jalan yang benar, agar umat manusia terhindar dari larangan dan siksaan-Nya. Sebagai utusan, ia juga merupakan hamba ciptaan-Nya yang taat dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Ini tidak lain karena adanya suatu pengakuan terhadap Allah sebagai Tuhan pencipta alam semsesta.

Dalam silsilah kenabian, Nabi yang merupakan penutup para Nabi dan juga sebagai penyempurna risalah agama Allah (Islam) adalah Nabi Muhammad SAW (wafat . Sesudahnya tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang bertugas menyampaikan wahyu kepada umat  manusia.

Sebagaimana yang kita keatahui, bahwasannya Rasulullah telah lama meninggalkan kita sebagai umatnya. Perasaan rindu akan keteladanan beliaupun seiring bergulirnya waktu pun akan timbul. Imajinasi untuk berjumpa dengan beliau pun akan mengiringi rasa rindu yang dalam terhadapnya.

Secara kasat mata, Rasul juga dapat kita lihat melalui indera mata yang normal (sehat). Karena memang beliau juga merupakan ciptaan yang Maha Sempurna. Tetapi karena adanya suatu alasan yang logis menyebabkan kita terhalang untuk melihatnya. Yaitu rentan waktu yang sangat jauh berbeda.

Bertemu dengan Rasulullah pada saat ini merupakan hal yang amat mustahil. Tetapi alam bawah sadar kita, yaitu mimpi, dapat membantahnya. Sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadisnya:

حدثنا علي بن محمد. حدثنا وكيع عن سفيان، عن أبي إسحاق، عن أبي الأحوص، عن عبد الله عن النبي صلى الله عليه وسلم؛قال  من رآني في المنام، فقد رآني في اليقظة، فإن الشيطان لا يتمثل على صورتي

Artinya: Dari Abi Ishaq, dari Abi Al-Akhwash, dari Abdillah, dari Nabi SAW, berkata: “Barang siapa yang melihatku didalam mimpi, sesungguhnya ia telah melihatku dalam keadaan terjaga, karena Syaitan tidak dapat menyerupai diriku.”

حدثنا محمد بن يحيى. حدثنا سليمان بن عبد الرحمن الدمشقي. حدثنا سعدان بن يحيى بن صالح اللخمي. حدثنا صدقة بن أبي عمران، عن عون بن أبي جحيفة، عن أبيه، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم؛ قال من رآني في المنام، فكأنما رآني في اليقظة. إن الشيطان لا بستطيع أن يتمثل

Artinya: Dari “Aun ibn Abi Juhaifah, dari ayahnya Abi Juhaifah, dari Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang melihatku dalam mimpi , maka seakan-akan ia telah melihatku dalam keadaan sadar. Sesungguhnya Syaitan tidak mampu unntuk menyerupaiku”

Dari beberapa hadis tersebut telah menunjukkan bahwasanya di dalam mimpi Rasulullah dapat di jumpai. Jika seseorang dalam mimpinya bertemu Rasulullah, maka sesungguhnya yang dia temui adalah benar-benar Rasulullah. Sebagaimana hadis tersebut menjelaskan bahwa syaitan tidak bisa menyerupai Rasul.

Kiranya inilah salah satu dari berbagai keistimewaan yang dimiliki beliau dari para Nabi dan Rasul lainnya. Selain itu hal ini juga menunjukan betapa sayang dan perhatiannya Rasulullah pada umatnya. Beliau tidak menginginkan umatnya celaka oleh tipu daya Syaitan.

Baca Juga: Ru’yatullah, Berjumpa dengan Allah SWT

Merupakan kebahagiaan bagi kita, apabila di dalam mimpi kita pernah berjumpa dengan Rasul. Itulah pertemuan yang sebenarnya dengan Rasulullah. Tidak mungkin bagi Syaitan atau sejenisnya yang mampu menyamarkan pertemuan itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.