Sholat Tahiyatul Masjid saat Khotib Menyampaikan Khutbah

Sholat Tahiyatul Masjid saat Khotib Menyampaikan Khutbah

Apakah diperbolehkan sholat tahiyatul masjid saat khotib menyampaikan khutbah?

Para Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. al-Qadhi ‘iyadh mengatakan: Imam Malik, Abu Hanifah, Sufyan As-Tsauri, Al-Laits dan jumhur Salaf dari golongan sahabat dan tabi’in mengatakan bahwa orang yang masuk masjid itu tidak boleh shalat tahiyatul masjid.

Ketidakbolehan sholat tersebut didasarkan pada hadis yang diriwayatkan Umar, Utsman dan Ali radhiallahu-‘anhum. Dasar argumen mereka adalah karena terdapat perintah untuk inshaat memperhatikan atau mendengarkan khutbah dengan tenang). Mereka menta’wili hadis-hadis yang berhubungan dengan Sulaik. Nabi memerintahkan supaya berdiri agar para muslimin melihatnya dan bersedekah kepada Sulaik.

Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Ishaq dan para fuqaha dari ulama hadits mengatakan bahwasanya sholat sunnah tahiyatul masjid dua rakaat secara ringan itu disunnatkan, dan makruh duduk sebelum sholat dua rakaat. Pendapat ini bersumber dari mazhab Hasan Bishri dan ulama mutaqaddimin.

Sayyid Sabiq dalam kitabnya, Fiqh Sunnah memaparkan bahwa sebelum Jum’at disunatkan sholat sunnah selama imam belum memulai khutbah. Jika khatib telah memulai khutbahnya, maka sholat sunnah tersebut harus diurungkan kecuali shalat tahiyatul masjid.

Sholat ini boleh dilangsungkan di tengah-tengah imam memberikan khutbah, hanya harus diringkas. Kecuali saat seseorang masuk dan khutbah hampir selesai, maka tahiyatul mesjid tidak perlu dilakukan.

Syekh Muhammad ibn Qasyim al-Ghazzi menjelaskan, “barang siapa masuk masjid dan imam sedang berkhuthbah, maka hendaknya ia mengerjakan salat sunnah dua rakaat kemudian duduk secar cepat”.

Ia membuat ibarat dengan kata “masuk” yang memberikan pemahaman bahwa orang yang baru datang (saat khathib sedang berkhuthbah) tidak boleh mengerjakan sholat dua rakaat baik itu salat sunnah jum’at atau tidak.

Dan dari pemahaman ini tidak jelas adanya hukum, bahwa mengerjakan sholat tahiyatul mesjid adalah haram atau makruh untuk dikerjakan. Berbeda dengan Imam Nawawi yang menerangkan di dalam syarah Muhadzdzab dengan menetapkan hukum sholat tahiytul masjid saat khatib berkhutbah adalah haram. Kesepekatan keharaman ini dinukil jiuga oleh Imam Mawardi.

Ibnu Rusyd dalam Bidayah al-Mujtahid memaparkan secara panjang lebar bahwa mengenai seseorang yang hadir di mesjid pada hari Jumat sedang imam tengah berada di atas mimbar, kalangan fuqaha berbeda pendapat, apakah ia boleh mendirikan sholat sunnah atau tidak?

Malik berpendapat bahwa tidak perlu mendirikan sholat sunnah. Sedangkan pendapat lain mengharuskan sholat sunnah tahiyatul masjid. Sebab timbulnya perbedaan pendapat ini bersumber dari qiyas hadis am (umum) berikut ini:

Dari Abu Sa’id, sesungguhnya ada seorang laki-laki masuk masjid pada hari jum’at,
padahal Rasulullah saw sedang berkhutbah diatas mimbar, lalu beliau menyuruhnya untuk shalat dua rakaat. (HR. Al-Khamsah kecuali Abu Daud).

Meski khatib tengah berdiri di atas mimbar, berdasarkan hadis ini maka seseorang diharuskan sholat dua rakaat saat memasuki masjid. Namun, di balik itu juga ada perintah diam yang menunjukkan keharusan tidak melakukan sesuatu pekerjaan yang bisa mengganggu ketenangan, sekalipun perbuatan itu adalah ibadah. Keumuman hadis di atas juga dikuatkan oleh pernyataan Nabi SAW:

Dari Jabir, dia berkata, “Ada seseorang laki-laki masuk (masjid) pada hari jum’at padahal Rasulullah saw sedang berkhutbah. Lalu beliau bertanya, ‘Sudah shalatkah engkau? Orang itu menjawab, belum. Lalu beliau berkata, shalatlah dua rakaat. “(HR. Al-Jama’ah)

Al-Jaziri dalam al-Fiqh ala madzahib al-Arba’ah menyebutkan bahwa ketentuan ini pada dasarnya berisi pendapat empat madzhab, misalnya madzhab Hanafi berpendapat bahwa berpendapat ketika khutbah disampaikan maka sholat bersifat makruh tahrim. Sementara madzhab Maliki berpendapat diharamkan berbicara ketika khutbah disampaikan dan ketika imam duduk di atas mimbar antara dua khutbah.

Sedangkan madzhab Syafi’i mengemukakan dimakruhkan dengan makruh tanzih berbicara di tengah-tengah khotib menunaikan khutbahnya, terutama rukun-rukunnya, meskipun ia tidak mendengar secara nyata.

 

Daftar Maraji’

Imam Taqi al-Din Abubakar ibn Muhammad Al-Hussaini,  Kifayat Al Akhyar Fii Halli Ghayat al-Ikhtishar,  Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, juz 1, tth.

Sayid Sabiq, Fiqh al-Sunnah,  Kairo: Maktabah Dar al-Turas, juz 1, tth.

Muhammad ibn Qasyim al-Ghazzi, Fath al-Qarib al-Mujib, Indonesia: Dar al- Ihya al-Kitab, al-Arabiah, tth.

Al-Faqih Abul Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad Ibnu Rusyd, Bidayat al Mujtahid Wa Nihayat al Muqtasid,  Beirut: Dar Al-Jiil, 1409 H/1989.

Al-Allamah Ibn Ali Ibn Muhammad Asy Syaukani, Nail al–Autar Min Asyrari Muntaqa al-Akhbar, Beirut: Daar al-Qutub al-Arabia, juz 3, 1973.

Abd al-Rahman al-Jaziri,, Kitab al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, Beirut: Dar al- Kutub al-Ilmiah, tth.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.