Dik, Maukah Kau Ku Pinang dengan Surah ar Rahman, agar Cinta kita Diridhai oleh Sang Maha Penyayang?

558
Surah Ar Rahman

Dik, maukah kau ku pinang dengan surah ar-Rahman, agar cinta kita diridhai oleh Sang Maha Penyayang?

Tongkrongan Islami – Ungkapan merayu yang sempat terkenal belakangan ini menandai populernya surat ar-Rahman di kalangan masyarakat kita. Siapa sangka meningkatnya pemakaian teknologi yang semakin canggih, ternyata ayat-ayat ar-rahman juga semakin banyak didengar.

Tidak hanya di kalangan para penghafal atau santri, tetapi juga umat Islam pada umumnya. Apalagi, semenjak para imam kelas internasional seperti Muhammad Saud, Misyary al-Fasy, Maupun lokal seperti Muzammil, merekam suara indahnya dengan lantunan ar-Rahman di berbagai media, baik itu berbentuk Mp3, maupun video yang dapat diakses di Youtube, menjadikan surat ini sebagai surat nomor satu terfavorit yang didengarkan oleh kalangan banyak.

Maka bukan hal yang asing lagi, jika masyarakat kita sangat lekat dengan surat ar-Rahman. Selain tersedianya bacaan surat ar-Rahman dengan berbagai macam variasi lantunan, ayat-ayat ar-Rahman memang relatif gampang diingat karena disusun dengan ayat-ayat yang singkat dan akhiran yang selalu sama. Terdapat juga satu ayat diulang beberapa kali, yang menambah daya tarik surat yang dikenal sebagai surat cinta.

Namun, siapa sangka di tengah kepopuleran surat ar-Rahman ini, banyak di antara penyukanya yang tidak sadar bahwa surat ar-Rahman tidak hanya nikmat didengarkan, tetapi juga mengandung makna-makna yang bagus dan memiliki beberapa keistimewaan.

Gambaran Umum surah ar-Rahman

Surat ar-Rahman terdiri dari 78 ayat dan berada di urutan 55 dari surat-surat yang terdapat dalam al-Qur’an. Para ulama berbeda pendapat, apakah ar-Rahman bagian dari makkiyah atau madaniyah. Ibnu Jauzy, dalam kitabnya Zad al-Masir menerangkan, setidaknya ada dua pendapat mengenai hal ini.

Pertama, ar-Rahman termasuk dari surat makkiyah. Pendapat ini dipegang oleh Ibnu Abi Thalhah dan Ibnu Mas’ud. Ibnu Asyur di dalam tafsirnya juga menambahkan bahwa para Jumhur Sahabat dan Tabi’in sesuai dengan pendapat pertama ini.

Kedua, pendapat yang berasal dari Ibnu Abbas, bahwa ar-Rahman adalah surat makkiyah kecuali ayat 29: “yas’luhu man fi as-samawaat wa al-ardh…,. Dari kedua pendapat tersebut, al-Qurthuby menguatkan pendapat pertama berdasarkan riwayat yang menyatakan bahwa surat pertama yang dibaca keras oleh Ibnu Mas’ud kepada kaum musyrikin sebelum hijrah adalah surat ar-Rahman.

Perbedaan pendapat mengenai surat ar-rahman juga terjadi pada asbab nuzul-nya. Jika kita telusuri pada tulisan ulama, setidaknya ada dua versi yang menerangkan sebab turunnya surat ini. Pertama, Di dalam tafsir at-Tahrir wa at-tanwir, Thahir bin Asyur menyebutkan bahwa asbabun-nuzul surat ar-Rahman, digambarkan dalam surat al-Furqon ayat 60, di mana ketika itu para kaum musyrikin berkata kepada Rasulullah:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَٰنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang”, mereka menjawab: “Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?”, dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).

Dikarenakan perkataan ini, maka turunlah surat dengan awal ayat “ar-rahman” sebagai bentuk jawaban dan penolakan atas sikap kaum musyrikin kepada nabi Muhammad.

Kedua, Terdapat pula keterangan yang menyebutkan bahwa diturunkannya ar-Rahman, berdasarkan pernyatan orang kafir yang direkam dalam surat an-Nahl ayat 103:

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ

Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”.

Sebab ucapan tersebut, Allah menurunkan surat ar-Rahman yang sedari awal menyatakan bahwa yang mengajari Muhammad al-Qur’an bukanlah manusia, tapi Ia Zat yang maha penyayang (ar-Rahman: 1-2)

Jika kita mencermati kandungan ayat-perayatnya, surat ar-rahman memang sarat dengan kandungan makna, terlebih makna-makna tersebut tersusun rapi dengan gaya bahasa yang indah.

Kandungan Surah Ar-Rahman

  1. Berbicara tentang nikmat-nikmat Allah, dan pernyataan yang tersirat oleh Allah bahwa di antara banyaknya nikmat Allah baik yang berkaitan dengan penciptaan manusia, langit bumi dan berbagai macam benda lain, nikmat al-Qur’an dan mempelajarinya adalah nikmat yang terbesar. Hal itu ditunjukkan dari penyebutan nikmat “ta’lim al-Qur’an” di awal sebelum nikmat-nikmat lainnya.
  2. Setelah Allah memaparkan berbagai macam kenikmatan tersebut, Allah kemudian menjelaskan bahwa itu semua sebagai bukti nyata kekuasaan dan kemampuan (qudrah) Allah swt atas hambanya. Hal ini diperjelas lagi dengan satu ayat yang diulang sebanyak 31 kali “fabiayyi ala’i robbik maa tukaddziban” (dan nikmat tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan.
  3. Kandungan ar-Rahman juga disusun dengan logika reward and punishment. Di mana Allah menggambarkan keadaan orang-orang berdosa dan apa yang akan mereka dapatkan, lalu gambaran orang-orang bertakwa dan nikmat luar biasa apa saja yang akan mereka rasakan.

Keistimewaan surah ar-Rahman

Dilihat dari nama surat saja, ar-rahman telah memiliki keistimewaan dibanding surat-surat yang lain, sebab kata ar-rahman yang ditetapkan sebagai nama surat inimenjadikannya sebagai satu-satunya surat yang dinamakan dengan salah satu nama Allah swt.Adapun keistimewaan lainnya, dapat kita paparkan sebagai berikut:

  1. Ar-Rahman memiliki doa khusus bagi para pendengarnya, ketika sampai pada ayat fabi ayyi ‘ala’I robbikuma tukaddziban.

Di dalam kitab mausu’ah fadha’il suar wa ayatil qur’an, diterangkan bahwa suatu ketika Rasulullah pergi bertemu sahabat-sahabatnya. Beliau lalu membacakan kepada mereka surat ar-Rahman, dari awal hingga akhir surat, dan ketika itu para sahabat hanya diam. Bersabda Rasulullah: “sungguh suatu malam saya pernah membacakan surat ar-Rahman kepada sekumpulan jin, dan mereka merespon/membalas bacaan tersebut, lebih baik dari kalian saat ini. setiap saya sampai pada bacaan ayat, fabiayyi ala irobbiku ma tukaddziban, mereka menimpali”:

لا بشيءٍ من نعمِك ربَّنا نُكذِّب، فلك الحمد

 “laa bisya’in min ni’amika rabbana nukaddzibu, falaka al-Hamd” (tidak ada yang kami dustakan dari nikmat-nikmat Engkau apapun itu Wahai Tuhan Kami, dan segala pujian hanyalah layak untuk Engkau)(H.R. at-Tirmidzy)

Riwayat ini menyadarkan kita akan informasi yang jarang kita ketahui, bahwa ternyata Rasulullah mengajarkan kita satu doa khusus –sebagaimana yang tertera di atas- ketika mendengarkan ayat ar-Rahman tersebut.

  1. Surat ar-Rahman mempunyai gelar sebagai “kekasih al-Qur’an” (عروس القران)

Dalam Kitab al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, al-Qurthuby mengutip satu hadis:

عن علي رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:  لكل شيء عروس، وعروس القرآن سورة الرحمن

Dari ‘Ali R.A bahwa Rasulullah bersabda: “Segala sesuatu pasti memiliki pasangan/kekasih, dan adapun kekasih/pasangan al-Qur’an adalah surat ar-Rahman.

Secara tidak langsung, keterangan ini menjadi alasan kenapa banyak dari para pelamar yang memilih surat ar-Rahman sebagai bagian dari Mahar mereka. Dengan ar-Rahman, tentu memiliki harapan agar kiranya cinta keduanya dirahmati dan didekatkan dengan al-Qur’an.

  1. Surat ar-Rahman adalah pintu Hidayah

Susunan gaya bahasa yang indah dan kandungan ar-Rahman yang mencakup berbagai macam aspek ternyata menjadikan ar-Rahman sebagai perantara Hidayah Allah untuk orang-orang yang mendengarkan dan mengkajinya.

Kita tentu pernah mendengar, seorang professor yang masuk Islam karena terkejut mendengarkan keterangan dua ayat dari surat ar-Rahman, مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ (Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu), بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيَانِ (antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing), memang terbukti di dunia. Tepatnya di Selat Giblatar, terdapat dua laut yang berbeda warna dan rasanya bertemu namun tak bercampur, seakan terdapat garis pemisah di antara keduanya.

Peristiwa masuk islamnya seseorang dengan perantara ar-Rahman, jika dilacak, juga terjadi bahkan semenjak zaman Rasulullah saw. al-Qurthuby memaparkan, bahwa suatu ketika Qais bin ‘Ashim meminta kepada Rasulullah “bacakan kepadaku apa yang telah diturunkan Rabbmu”, lalu Rasulullah memilih surat ar-Rahman untuk dibaca. Qais memintanya untuk mengulangi, hingga Ia, Rasulullah mengulanginya sampai tiga kali.

BacaJuga: 3 Keistimewaan Surah Al Waqiah yang Sebaiknya Kita Pahami!

Setelah itu Qais berkata “Sungguh pada surat ar-Rahman terdapat tilawah yang indah, atasnya ada sebuah kenikmatan yang manis, bahkan keraknya memiliki karun yang berlimpah dan puncaknya terdapat buah-buah yang banyak. Dan tentu tidaklah susunan kalimat indah ini keluar dari lisan manusia, maka Aku bersaksi Bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Engkau Wahai Muhammad adalah utusan Allah.”

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here