Su’ul Khotimah, Apa saja Penyebabnya dan Bagaimana Tanda-tandanya?

Su'ul Khotimah

Tongkronganislami – Berbeda dengan Khusnul khotimah yang memiliki arti akhir yang baik, maka kebalikannya Su’ul khotimah merupakan penutup atau akhir kehidupan yang buruk.  Dengan kata lain, seseorang meninggal dalam keadaan yang buruk.

Yaitu ketika ia durhaka kepada Allah dan berada dalam kemurkaan-Nya. Naudzubillahi min dzalik.

Lalu apa saja penyebab su’ul khotimah dan bagaimana tanda-tandanya? Berikut ini ulasan lengkapnya, semoga bisa menjadi bahan perenungan dan introspeksi diri bagi kita.

Penyebab Su’ul Khotimah

Agar terhindar dari Su’ul khotimah, sebaiknya kita patut mewaspadai beberapa penyebabnya seperti berikut:

Kerusakan dalam Aqidah

Pemahaman tentang aqidah yang keliru akan sangat membahayakan di kemudian hari, dimana zuhud dan keshalihan yang melekat dalam dirinya bisa menjadi sesuatu hal yang sia-sia.

Karena pada dasarnya aqidah yang benar senantiasa bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam. Sehingga ketika seseorang bertahan dengan kekeliruan dalam aqidahnya hingga ajal menjemput maka dikhawtirkan akan meninggal dalam keadaan yang buruk atau su’ul khotimah.

Advertisement
Loading...

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Katakanlah:  ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi:  103-104).

Banyak melakukan maksiat

Sesorang yang terlalu banyak melakukan maksiat selama hidupnya, maka hal itu akan sangat membahayakan karena ingatan itulah yang akan mendominasi ketika sakaratul maut menghampiri.

Banyaknya perbuatan dosa hingga menutup ketaatannya akan membuat seseorang terikat dengan kemaksiatan sehingga kemungkinan besar mengalami su’ul khotimah.

Dalam hal ini seseorang yang banyak berbuat maksiat akan merasa kesulitan mengucapkan kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah” saat sakaratul maut, karena lidahnya memang tidak terbiasa melafalkan dizkir kepada Allah.

Tidak istiqomah

Seseorang yang pada awalnya istiqomah namun kemudian berubah dan menyimpang bisa menjadi penyebab mengalami su’ul khotimah. Kita bisa mengambil contoh bagaimana dahulu iblis begitu patuh dan taat kepada Allah namun berpaling dan durhaka ketika diperintahkan untuk bersujud kepada Adam karena kesombongannya. Hingga akhirnya iblis masuk dalam golongan kafir yang durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Iman yang lemah

Lemahnya iman bisa ditandai dengan lunturnya cinta kepada Allah dan cinta kepada dunia yang mendominasi. Lemahnya iman bisa membuat seseorang hanya memiliki sedikit kecintaan kepada Allah sehingga membuatnya tidak mampu melawan perbuatan maksiat dan menjerumuskannya dalam kemaksiatan.

Bertumpuknya dosa bisa menjadikan iman semakin melemah sehingga ketika kematian mulai mendekati ia akan merasa sangat takut untuk berpisah dengan dunia yang selama ini memberikan kesenangan kepadanya.

Akibatnya ia justru berburuk sangka kepada Allah dan jika ia mati dalam keadaan iman yang demikian lemah, maka kemungkinan ia akan mengalami su’ul khotimah.

Tanda-tanda kematian Su’ul Khotimah        

Setelah mengetahui apa saja penyebab kematian Su’ul Khotimah, ada baiknya kita juga mengetahui bagimana tanda-tanda kematian su’ul khotimah sehingga kita bisa menghindarinya dengan iman dan ketakwaan kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat yang Dia kehendaki.” (QS.  Ibrahim: 27).

Salah satu tanda seseorang mengalami akhir kehidupan yang buruk atau Su’ul Khotimah adalah ketidakmampuan lisannya mengucapkan kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah” sebagai persaksian bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah ketika sakaratul maut menghampiri.

Ketidakmampuan untuk mengucapkan kalimat tauhid tidak lain disebabkan oleh banyaknya perbuatan dosa yang telah dilakukannya semasa hidup. Dimana pada saat seseorang sedang berada di ujung maut, maka saat itulah keadaan syaithan sangat kuat dan manusia dalam keadaan yang selemah-lemahnya.

Jika sudah begitu, bagaimana mungkin seseorang akan mendapatkan akhir kehidupan yang baik, sementara semasa hidupnya ia telah lalai dan durhaka kepada Allah. Oleh karena itu sudah sepatutnya kita untuk mulai menata diri, memperbaiki keimanan dan ketakwaan kita dengan aqidah yang benar sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadist.

Baca Juga: Meninggal di Bulan Ramadhan, Apakah pasti Khusnul Khotimah?

Semoga kita menjadi manusia yang lebih baik amal ibadah dan akhlaknya hingga akhir hayat untuk mencapai akhir kehidupan yang baik, Khusnul Khotimah.  Allahumma Aamin.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here