Syarat-syarat Terkabulnya Taubat, Langkah Agar Dosa Kita Diampuni Allah SWT

Syarat Syarat Terkabulnya Taubat

Tongkrongan Islami – Dalam kehidupan di dunia ini, kita sebagai manusia pasti tidak lepas dari kesalahan, baik itu besar maupun kecil, disadari ataupun tanpa disengaja. Apalagi bila hawa nafsu telah mendominasi jiwa. Seringkali menjadi bulan-bulanan berbuat kemaksiatan. Ketaatan, itu seolah sudah tidak memiliki nilai yang berarti.

Walaupun manusia sering dirundung oleh kemaksiatan dan dosa yang menumpuk, bukan berarti tak ada lagi pintu yang terbuka untuk memperbaiki diri. Karena, betapapun besar dan menggunung perbuatan maksiat dari seorang hamba, namun pintu rahmat akan selalu terbuka. Karena Allah Maha Pengampun.

Manusia masih diberi kesempatan untuk dapat memperbaiki diri. Yakni dengan bertaubat dari perbuatan-perbuatan yang dapat mengantarkannya ke jurang neraka. Taubat yang dilakukan harus total, yang dikenal dengan taubat nashuha.

Hal-Hal yang Menghalangi Taubat Nasuha

1. Bid’ah dalam agama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللهَ حَجَبَ اَلتَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ

Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua ahli bid’ah. [Ash-Shahihah No. 1620]

2. Kecanduan minuman keras. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً فَإِنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ فَإِنْ عَادَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْ يَسْقِيَهُ مِنْ نَهَرِ الْخَبَالِ قِيلَ وَمَا نَهَرُ الْخَبَالِ قَالَ صَدِيدُ أَهْلِ النَّارِ رَوَاهُ أَحْمَد

Barangsiapa yang minum khamr (minuman keras), maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam. Jika ia bertaubat, maka Allah akan menerimanya. Namun, bila mengulangi lagi, maka pantaslah bila Allah memberinya minuman dari sungai Khibaal. Ada yang bertanya: “Apa itu sungai Khibaal?” Beliau menjawab,”Nanah penduduk neraka.

Syarat-Syarat Terkabulntya Taubat Nasuha

Setiap kita pasti pernah terjerumus dalam dosa, termasuk juga melakukan dosa besar. Akan tetapi sebaik-baik hamba Allah adalah yang terus menerus menyesali dosa yang sudah dilakukannya. Penjelasan singkat di bawah ini akan menerangkan sedikit mengenai syarat-syarat taubat.

Taubat dari segala dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat itu terjadi antara hamba dengan Allah, tidak berkaitan dengan hak manusia maka ada tiga syarat taubat :

  1. Hendaknya ia meninggalkan maksiat tersebut.
  2. Menyesali perbuatannya.
  3. Bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut selama-lamanya.

Apabila salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka taubatnya tidak sah. Adapun jika maksiat itu berkaitan dengan hak manusia maka taubat itu diterima dengan empat syarat. Yakni ketiga syarat di muka, dan yang keempat hendaknya ia menyelesaikan hak yang bersangkutan.

Jika berupa harta atau sejenisnya maka ia harus mengembalikannya. Jika berupa had (hukuman) atas tuduhan atau sejenisnya maka hendaknya had itu ditunaikan atau ia meminta maaf darinya. Jika berupa ghibah (menggunjing) maka ia harus memohon maaf.

Ia wajib meminta ampun kepada Allah dari segala dosa. Jika ia bertaubat dari sebagian dosa, maka taubat itu diterima di sisi Allah, dan dosa-dosanya yang lain masih tetap ada. Banyak sekali dalil-dalil dari Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’ yang menunjukkan wajibnya melakukan taubat.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)

Dijelaskan pula oleh Ibnu Katsir rahimahullah bahwa makna dari taubat yang tulus atau taubatan nashuhah sebagaimana kata para ulama yaitu:

“Menghindari dosa untuk saat ini. Menyesali dosa yang telah lalu. Bertekad tidak melakukannya lagi di masa akan datang. Lalu jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ia harus menyelesaikannya/ mengembalikannya.”

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka syarat taubat yang mesti dipenuhi seseorang yang ingin bertaubat adalah sebagai berikut.

Taubat haruslah dilakukan dengan ikhlas, bukan karena makhluk ataupun tujuan duniawi.
Haruslah menyesali dosa yang sudah dilakukan dahulu sehingga ia tidak ingin mengulang kembali. Sebagaimana dikatakan Malik bin Dinar, “Menangisi dosa-dosa itu akan menghapuskan dosa-dosa sebagaimana angin mengeringkan daun yang basah.” ‘Umar, ‘Ali dan Ibnu Mas’ud berkata bahwa taubat adalah dengan menyesal.

Tidak terus berbuat dosa saat ini. Maksudnya, jika ia melakukan keharaman, maka ia harus segera meninggalkan dan jika ia meninggalkan suatu yang wajib, maka ia harus kembali menunaikannya. Dan bila itu berkaitan dengan hak manusia, maka ia harus segera menunaikannya ataupun meminta maaf.

Bertekad tidak mengulangi dosa tersebut pada masa yang akan datang karena bila seseorang masih punya niatan untuk mengulanginya maka itu tanda dirinya tidak benci pada maksiat. Hal ini sesuai dengan tafsiran sebagian ulama yang menafsirkan bahwa taubat adalah bertekad tidak mengulanginya lagi.

Taubat dilakukan ketika masih dalam waktu diterimanya taubat. Waktu tersebut yaitu sebelum datang ajal ataupun sebelum matahari terbit dari barat. Bila taubat dilakukan setelah itu, maka taubat itu tidak lagi diterima.

Semoga kita bisa memenuhi syarat-syarat tersebut sehingga Allah pun dapat menerima setiap taubat kita. Wallahu waliyyut taufiq.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.