Syariat Umat Terdahulu Sebagai Dalil Syara

Syariat Umat Terdahulu

Tongkrongan Islami – Secara etimologis, syarî’ah adalah jalan yang dilalui oleh manusia, sedangkan secara terminologis adalah kumpulan hukum yang dinyatakan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, baik yang berkaitan dengan akidah atau perbuatan manusia, seperti mu’amalah, ibadah, sanksi hukum dan sebagainya.

Maka, yang dimaksud dengan syariat ummat sebelum kita (syar'[u] man qablanâ) adalah hukum yang disyariatkan oleh Allah kepada ummat sebelum kita, dan diturunkan kepada para nabi dan rasul-Nya untuk disampaikan kepada mereka, seperti syariat Ibrâhîm, Mûsâ dan Isâ.

Ragam Syariat Ummat Sebelum Kita

Hukum-hukum yang dinyatakan dalam syariat terdahulu dalam kaitannya dengan syariat kita, bisa diklasifikasikan menjadi empat macam:

1) Dinyatakan dalam Syariat Kita, Difardhukan atau Disunahkan pada Kita

Dalam hal ini, kita diperintahkan untuk mengambil hukum tersebut karena ia dinyatakan dalam syariat kita, bukan sebagai syariat ummat sebelum kita. Contoh kewajiban puasa. Puasa diwajibkan kepada kita, sebagaimana diwajibkan kepada ummat terdahulu. Firman Allah SWT.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصّـِيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. al-Baqarah: 183)

Berkorban juga disunahkan kepada kita, sebagaimana disunahkan kepada Nabi Ibrahim as. seperti yang dinyatakan oleh Rasul saw.:

قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ r يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الأَضَاحِيُّ قَالَ سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ

Para sahabat Rasulullah saw. bertanya: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana dengan korban ini? Beliau menjawab: ‘Ini adalah sunah bapak kalian, Ibrahim. (HR. Ahmad).

2) Dinyatakan dalam Syariat Kita, Dimubahkan pada Kita, namun Diharamkan untuk Ummat Terdahulu

Dalam hal ini, para ulama’ sepakat bahwa kita diperintahkan untuk melihat kepada apa yang ditunjukkan oleh syariat kita; kita menghalalkan apa yang dihalalkan untuk kita, dan mengharamkan apa yang diharamkan kepada kita. Contoh keharaman hewan yang berkuku dan lemak sapi dan kambing kepada orang Yahudi. Firman Allah SWT.

قُلْ لاَ أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إلاَّ أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ~ وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا كُلَّ ذِي ظُفُرٍ وَمِنَ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ شُحُومَهُمَا إِلاَّ مَا حَمَلَتْ ظُهُورُهُمَا أَوِ الْحَوَايَا أَوْ مَا اخْتَلَطَ بِعَظْمٍ ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِبَغْيِهِمْ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi –karena sesungguhnya semua itu kotor– atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku; dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar. (QS. al-An’âm: 145-146)

3) Dinyatakan dalam Kitab mereka, Didiamkan oleh Syariat Kita

Dalam hal ini, al-Qur’an dan as-Sunnah tidak menyebut sedikitpun. Ulama’ sepakat bahwa dalam hal seperti ini kita tidak mungkin mengambilnya atau menjadikannya sebagai hukum. Sebab, kasus tersebut telah diabaikan oleh syariat kita, dan kita diperintahkan untuk mengikuti apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Firman Allah SWT.

وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. al-Hasyr: 7)

Ayat ini bisa diambil mafhûm mukhâlafah-nya, bahwa apa saja yang tidak dibawa oleh Rasulullah saw. tidak boleh kita ambil.

4) Dinyatakan dalam Syariat Kita, Tidak Dinafikan atau Dikukuhkan

Dalam hal ini, ulama’ berbeda pendapat. Ada yang mengatakan boleh mengambilnya, dan ada yang mengatakan tidak boleh. Hanya saja, hukum-hukum seperti ini jumlahnya sangat sedikit, dibanding hitungan jari. Ini misalnya firman Allah SWT.

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالأَنْفَ بِالأَنْفِ وَالأُذُنَ بِالأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ

Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. (QS. al-Mâidah: 45)

Sanggahan terhadap Syariat Terdahulu sebagai Dalil Syara’

Mayoritas mazhab Hanafi, Mâliki sebagian Syâfi’i berpendapat, bahwa syariat terdahulu merupakan syariat bagi kita –jika dinyatakan dalam syariat kita tanpa penafian ataupun pengukuhan– dan kita juga wajib terikat dengannya. Sementara Mu’tazilah, Syî’ah, Dhâhiri, Hanbali dan mayoritas Syâfi’i –seperti al-Ghazâli, al-Amidi dan ar-Râzi– berpendapat, bahwa syariat terdahulu bukan merupakan syariat kita.[Abdullâh, al-Wâdhih: 208-209]

Sanggahan terhadap pandangan yang menyatakan bahwa syariat terdahulu adalah syariat kita, sekaligus dalil syara’ bisa dikembalikan pada al-Qur’an, as-Sunnah maupun Ijma’ Sahabat. Allah SWT. berfirman:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (QS. al-Mâidah: 48)

Frasa: Muhaymin[an] alayhi mempunyai konotasi musaythir[an] alayh (menindihnya). Ayat ini juga melarang Nabi saw. dan ummatnya untuk mengikuti hawa nafsu Ahli Kitab, sehingga memalingkan mereka dari al-Haqq (Islam). Sebab, masing-masing telah diberi syariat sendiri-sendiri. Syariat Islam berbeda dengan syariat Yahudi dan Nashrani.

Sedangkan hadits Nabi saw. menyatakan:

أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِيَ الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِيَ الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Saya diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang Nabi pun: (1) saya diberi kemenangan dengan rasa gentar sepanjang jauh perjalanan sebulan; (2) bumi telah dijadikan masjid dan suci untukku, sehingga di manapun di antara ummatku menemui waktu shalat, hendaknya dia shalat; (3) ghanimah telah dihalalkan kepadaku, tetapi tidak dihalalkan kepada siapapun sebelumku; (4) saya diberi hak memberi syafaat; (5) nabi telah diutus untuk kaumnya secara khusus, sementara saya diutus kepada seluruh ummat manusia. (HR. Bukhâri dari Jâbir bin Abdillâh)

Hadits ini menjelaskan, bahwa setiap Nabi sebelum Nabi Muhammad saw. hanya diutus kepada kaumnya, sehingga ummat yang lain tidak terikat dengan syariatnya. Mereka juga tidak diutus kepada kita, sehingga syariat mereka juga bukan merupakan syariat kita.

Adapun Ijma’ Sahabat telah menyepakati, bahwa syariat Nabi Muhammad saw. telah menghapus syariat Nabi dan Rasul sebelumnya. Jika seandainya diperintahkan untuk beribadah berdasarkan syariat terdahulu, berarti ia juga diakui keabsahannya, bukan dihapus.

Baca Juga:

  1. Ilmu Qashash Al-Qur’an: Memahami Kisah-Kisah Al-Qur’an
  2. Asbabun Nuzul: Memahami Sebab-Sebab Turunya Ayat Al-Qur’an
  3. Mazhab Sahabat Sebagai Dalil Syara

Dengan demikian, syariat Nabi dan ummat terdahulu, bukan merupakan syariat kita. Dan karena itu, syariat tersebut tidak bisa dijadikan sebagai dalil syara’ untuk membangun hukum syara’ yang berkaitan dengan perbuatan manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.