Tata Cara Sholat Idul Fitri dan Idul Adha Sesuai Tuntunan Nabi SAW

Tata Cara Sholat Idul Fitri dan Idul Adha

Tata Cara Sholat Idul Fitri dan Idul Adha – Pada saat hari raya idul fitri dan idul adha kaum muslimin dianjurkan untuk melakukan shalat ied. Jumhur ulama bersepakat bahwa hukum mengerjakan shalat idain adalah sunah muakkad.

Dalam rangka syiar agama Islam di hari raya rasulullah menganjurkan kepada semua kaum muslimin keluar mendatangi tempat shalat. Bahkan para wanita yang meskipun dalam kondisi haid juga diperintahkan oleh Rasululah untuk keluar menuju lapangan.

أمرنا أن نحرج العواتق والحيّض في العيد ين يشهد الخيرودعوةالمسلمين ويعتزل الحيّض المصلّى

”Kami diperintahkan untuk mengeluarkan para budak yang telah bebas dan para wanita yang sedang haid pada shalat id, agar bersaksi pada kebenaran dan seruan ummat islam. Dan hendaklah orang yang sedang dalam kondisi haid agar menyingkir dari tempat shalat ( tidak ikut shalat)”. (Muttafaq Alaih)

Waktu Utama Pelaksanaan Shalat Idul Fitri dan Idul Adha

Waktu pelaksanaan shalat Idul Fitri dan Idul Adha adalah semenjak matahari naik setinggi tombak sampai tergelincir ke arah barat. Berdasar hadits,

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ خُمَيْرٍ الرَّحَبِيُّ ، قَالَ: خَرَجَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُسْرٍ، صَاحِبُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ النَّاسِ فِي يَوْمِ عِيدِ فِطْرٍ، أَوْ أَضْحَى، فَأَنْكَرَ إِبْطَاءَ الْإِمَامِ، فَقَالَ : إِنَّا كُنَّا قَدْ فَرَغْنَا سَاعَتَنَا هَذِهِ، وَذَلِكَ حِينَ التَّسْبِيحِ

Dari Yazid bin Khumair Ar-Rahabi berkata: Abdullah bin Busr RA keluar bersama kaum muslimin pada hari idul fithri atau idul adha, maka ia mengingkari keterlambatan imam. Ia berkata, “Dahulu (pada zaman Nabi SAW-edt) kami pada saat begini sudah selesai shalat.” Saat itu telah tiba waktu shalat. (HR. Abu Daud no. 1135, Ibnu Majah no. 1317, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi. Hadits shahih)

Shalat idul fitri sebaiknya diundurkan waktunya sebentar untuk memberi kesempatan bagi kaum muslimin yang baru sempat mengeluarkan zakat fitrah pada saat tersebut. Sedangkan untuk shalat idul Adha disunahkan dikerjakan di awal waktu agar kaum Musliamin dapat menyembelih hewan qurban dengan segera.

Tempat Pelaksanaan Sholat Idul Fitri dan Idul Adha

Shalat idul fitri dan idul adha diutamakan dikerjakan di tanah lapang yang luas agar mampu menampung sebanyak mungkin kaum muslimin. Meski shalat di masjid Nabawi sama nilainya dengan seribu kali shalat di masjid yang lain, namun Rasulullah SAW tidak melakukan shalat idul fithri dan idul adha di masjid Nabawi. Beliau selalu mengerjakan shalat iid di al-mushalla, yaitu tanah lapang.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى المُصَلَّى، فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ، فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ، وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ، وَيُوصِيهِمْ، وَيَأْمُرُهُمْ

Dari Abu Said Al-Khudri RA berkata, “Rasulullah SAW keluar pada hari idul fithri dan idul adha menuju al-mushalla (tanah lapang), dan hal yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat iid…” (HR. Bukhari no. 956 dan Muslim no. 889)

Adapun jika ada udzur seperti turun hujan lebat atau jarak tanah lapang jauh dari pemukiman kaum muslimin, maka tidak mengapa melaksanakan shalat iid di masjid.

Berhubung shalat iid adalah syi’ar persatuan kaum muslimin, maka tidak selayaknya mengadakan shalat iid di banyak tempat (masjid atau tanah lapang) pada waktu yang bersamaan jika jaraknya berdekatan dan satu tanah lapang cukup menampung mereka.

Adab-adab Utama dalam shalat idul fitri dan idul adha

a. Anjuran Makan

Makan terlebih dahulu sebelum keluar untuk Idul Fitri dan untuk Idul Adha makannya setelah pulang dari mengerjakan shalat.

Rasulullah saw. bersabda:

عن أبي بريدة عن أبيه قال:كان النبيّ ص م لا يخرج يوم الفطر حتى يطعم ولا يطعم يوم الأضحى حتّى يصلّى

Artinya:”Dari Abu Hurairah dari bapaknya ia berkata: Rasulullah tidak keluar (berangkat) pada hari Idul Fitri hingga makan da tidak makan pada hari Idul Adha (HR. Ahmad)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَات

Dari Anas, “Rasulullah SAW tidak berangkat menuju shalat idul fitri sebelum beliau makan beberapa biji kurma.” (HR. Bukhari no. 953)

b. Mandi, menggunakan parfum dan mengenakan pakain yang terbagus.

Dari Anas Ibnu Malik berkata: Rasulullah saw. Memerintahkan kita di dua hari raya mengenakan pakaian terbagus yang kita miliki menggunakan parfum terbagus yang kita miliki dan berkurban dengan apa saja yang paling bernilai yang kita miliki. (HR. Hakim)

Untuk pakain yang terbagus yang dimaksud dari hadis di atas bukan berarti yang baru dan yang mahal harganya, tapi pakain yang menurutnya indah dan rapi.

c. Memeperbanyak Takbir, Tahmid, dan Tahlil pada malam hari raya.

عَنِ الزُّهْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ، فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى، وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلَاةَ، فَإِذَا قَضَى الصَّلَاةَ، قَطَعَ التَّكْبِيرَ

Dari Az-Zuhri bahwasanya Rasulullah SAW keluar pada hari idul fithri, maka beliau bertakbir sampai tiba di mushalla, dan sampai melaksanakan shalat. Jika telah selesai melaksanakan shalat, beliau menghentikan takbir.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 5539, sanadnya terputus, namun memiliki banyak hadits penguat).

Dari Ibnu Umar RA bahwasanya Rasulullah SAW keluar pada dua hari raya bersama Fadhl bin Abbas, Abdullah bin Abbas, Abbas bin Abdul Muthalib, Ali, Ja’far, Hasan, Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Ummu Aiman. Beliau SAW meninggikan suaranya dalam melantunkan tahlil dan takbir. (HR. Al-Baihaqi, 3/279. Dinyatakan hasan oleh Al-Albani)

Batas waktu takbir pada hari raya Idul Adha dimulai pada malam hari raya sampai dengan akhir hari tasyrik (13 Dzulhijjah), sedang pada hari raya Idul Fitri dimulai malam hari raya sampai dengan imam keluar untuk melaksanakan shalat bersama mereka.

Lafadz takbir yang diajarkan oleh Rasulullah adalah:

ألله أكبر ألله أكبر
لا إله إلاّالله الله أكبر ألله أكبر والله الحمد

Atau dengan lafadz:

ألله أكبر ألله أكبر ألله اكبر كبيرا

d. Shalat Idul Fitri dan Idul Adha dikerjakan di tanah lapang. Kecuali karena adanya hal yang menghalanginya, seperti hujan lebat atau yang lainnya

عن أبى هريرة قال: أنّهم أصابهم مطر في يوم عيد فصلى بهم النبى صلاة العيد في المسجد

“Dari Abu Hurairah ia berkata: sesungguhnya kami ketika di hari raya sedang hujan, nabi mengerjakan shalat di Masjid bersama mereka. (HR. muslim).

e. Menuju tempat shalat dengan berjalan kaki.

عن علي رضي الله عنه قال قال رسول الله صم : من السنة أن يخرج إلى العيد ماشيا

”Dari Ali ra. Ia berkata. Nabi bersabda: Termasuk bagian dari sunahku adalah keluar pada shalat ied dengan berjalan kaki. (HR. Bukhari).

f. Memilih jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang shalat Ied.

كان رسول الله صم إذا كان يوم العيد خالف الطريق

”Adalah Rasulullah ketika pada hari raya ia (ketika berangkat dan pulang shalat Ied ) menyelisihi jalan. (HR. Bukhari).

g. Dianjurkan untuk hadir di tempat sholat Idain meskipun sedang haid.

Kaum wanita, baik yang suci maupun yang haid, dianjurkan juga berangkat ke tempat shalat idul fitri. Kaum wanita yang suci ikut menunaikan shalat, sedang wanita yang haid ikut menyaksikan shalat, mendengarkan takbir, dan khutbah ied

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ، قَالَتْ: أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى، الْعَوَاتِقَ، وَالْحُيَّضَ، وَذَوَاتِ الْخُدُورِ، فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ  وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ، وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ، قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

Dari Ummu Athiyah RA berkata: “Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami pada hari idul fithri dan idul adha untuk membawa keluar gadis-gadis remaja, wanita-wanita yang haidh, dan perawan-perawan yang dipingit. Para wanita yang haidh tidak melaksanakan shalat iid, namun mereka menghadiri kebaikan dan doa kaum muslimin.” Ummu Athiyah bertanya, “Wahai Rasulullah, ada di antara kami yang tidak memiliki jilbab?” Beliau menjawab, “Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya.” (HR. Bukhari no. 971 dan Muslim no. 890)

h. Tidak melakukan sholat sunah sebelum maupun sesudah sholat iid

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا، ثُمَّ أَتَى النِّسَاءَ وَمَعَهُ بِلاَلٌ، فَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ، فَجَعَلْنَ يُلْقِينَ تُلْقِي المَرْأَةُ خُرْصَهَا وَسِخَابَهَا

Dari Ibnu Abbas berkata, “Nabi SAW melaksanakan shalat idul fithri sebanyak dua raka’at. Beliau tidak melakukan shalat sunah lainnya baik sebelumnya maupun sesudahnya. Beliau lalu mendatangi kaum wanita disertai Bilal. Beliau memerintahkan mereka untuk bersedekah…”(HR. Bukhari no. 964 dan Muslim no. 884)

Sifat dan Karakteristik shalat idain

a. Ketika matahari telah naik beberapa meter shalat dimulai dengan tanpa adzan dan iqomah.

عن ابن عبّاس رض قال: أن النبى صم صلى العيد بلا أذان ولا إقامة

”Dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata: sesungguhnya nabi saw shalat id dengan tanpa adzan dan iqomah.” (HR. Buhkari)

b. Shalat Idain dikerjakan sebelum khotbah Ied dimulai .

كان رسول الله صم وأبو بكر وعمر يصلّون ن العيدين قبل الخطبة

“Adalah Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar shalat ied sebelum khotbah.” ( HR. Bukhari dan Muslim)

c. Shalat Ied dilakukan sebanyak dua rekaat.

عن إبن عبّاس أن النبى صم صلّى يوم العيد ركعتين لم يصلّى قبلها ولا يعدها (أخرجه السبعه

Artinya: ”Dari Ibnu Abbas ra. Sesungguhnya Nabi saw. shalat pada hari raya dua rakaat dengan tidak ada shalat sebelumnya dan sesudahnya.”

d. Tidak ada adzan dan iqamah untuk sholat iid.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَجَابِرٍ قَالاَ: لَمْ يَكُنْ يُؤَذَّنُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَلاَ يَوْمَ اْلأَضْحَى

Dari Ibnu Abbas dan Jabir RA berkata: “Tidak dikumandangkan adzan baik pada shalat iid fithri maupun shalat iid adha.” (HR. Bukhari no. 960 dan Muslim no. 886)

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قاَلَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِِِ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ

Dari Jabir bin Samurah RA berkata: “Aku telah melakukan shalat idul fithri dan idul adha bersama Rasulullah SAW, bukan hanya sekali dua kali. Shalat tersebut tanpa adzan dan tanpa iqamat.” (HR. Muslim no. 887)

Tata Cara mengerjakan shalat Idul Fitri dan Idul Adha Berdasarkan tuntunan Nabi SAW

Shalat idul fitri dan idul adha terdiri dari dua raka’at dan tata caranya serupa dengan shalat sunah dua raka’at pada umumnya (baca: panduan sholat lengkap). Perbedaannya hanya terletak pada jumlah takbir sebelum membaca Al-Fatihah dalam setiap raka’at.

a. Pada rakaat pertama takbir sebanyak tujuh kali termasuk takbiratul ihram. Dan diantara sela-sela takbir tidak terdapat bacaan tertentu.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى ، فِي الْأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ ، وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَتَيِ الرُّكُوعِ

Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah SAW bertakbir dalam shalat idul fithri dan idul adha sebanyak tujuh kali pada raka’at pertama dan lima kali pada raka’at kedua, selain dua kali takbir saat hendak ruku’. (HR. Abu Daud no. 1152, Ibnu Majah no. 1280, dan Ahmad, 6/70)

عَنْ عَمْرِوِ بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اَللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلتَّكْبِيرُ فِي اَلْفِطْرِ سَبْعٌ فِي اَلْأُولَى وَخَمْسٌ فِي اَلْآخِرَةِ, وَالْقِرَاءَةُ بَعْدَهُمَا كِلْتَيْهِمَا

Dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya RA berkata: Nabi Allah SAW bersabda, “Takbir dalam shalat idul fithri adalah tujuh kali pada raka’at pertama dan lima kali pada raka’at kedua. Sedangkan bacaan Al-fatihah (dan surat) adalah setelah takbir dalam kedua raka’at tersebut.” (HR. Abu Daud no. 1151. At-Tirmidzi dalam Al-‘Ilal Al-Kabir, 1/288, menyatakan bahwa imam Bukhari menshahihkannya)

b. Seusai takbir imam membaca Al-Fatihah kemudian membaca surat dari Al-Qur’an.

(وَعَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ: كَانَ اَلنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي اَلْأَضْحَى وَالْفِطْرِ بِـ (ق) وَ (اقْتَرَبَتْ

Abu Waqid Al-Laitsi RA berkata: “Nabi SAW membaca dalam shalat idul adha dan idul fithri surat Qaf (pada raka’at pertama) dan surat Iqtarabat (Al-Qamar pada raka’at kedua).” (HR. Muslim no. 891, Tirmidzi no. 534, dan Ibnu Majah no. 1282)

Dari Nu’man bin Basyir RA berkata: “Nabi SAW membaca dalam shalat dua hari raya dan shalat Jum’at surat sabbihisma rabbikal a’la (al-A’la) dan hal ataka haditsul ghasyiyah (al-ghasyiyah).” (HR. Muslim no. 878)

Setelah itu, semua gerakan shalat serupa dengan tata cara shalat lainnya: ruku’, I’tidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua, lalu bertakbir dan berdiri untuk raka’at kedua.

c. Pada rakaat kedua imam takbir sebanyak enam kali dengan takbir qiyam (berdiri dari sujud).

d. Kemudian membaca surat Al-Fatihah dan Suarat Al-Qur’an lainya.

قال رسول الله صم التكبير في الفطر سبع في الألى وخمس في أخره

”Rasulullah saw bersabda: Takbir pada hari raya sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama dan sebanyak lima kali pada rakaat akhir.”(HR. Bukhari).

Tata Cara Pelaksanaan Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha

Setelah selesai sholat idul fitri, imam disunahkan menyampaikan khutbah.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ: كَانَ اَلنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ, وَعُمَرُ: يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ اَلْخُطْبَةِ

Dari Ibnu Umar RA berkata: “Nabi SAW, Abu Bakar, dan Umar melakukan shalat dua hari raya sebelum khutbah.” (HR. Bukhari no. 963 dan Muslim no. 888)

Berikut ini tata cara khutbah idul fithri:

Nabi SAW dan khulafaur rasyidun menyampaikan khutbah idul fithri dengan berdiri tanpa menggunakan mimbar. Mimbar khutbah idul fithri baru pertama kali diadakan pada zaman gubernur Madinah, Marwan bin Hakam, pada zaman daulah Umawiyah.

Sebagaimana khutbah lainnya, khutbah idul fitri diawali dengan tahmid dan syahadatain, bukan dengan takbir

Pendapat yang lebih kuat, khutbah hanya sekali, bukan dua kali sehingga tidak perlu ada duduk di antara dua khutbah

Mendengarkan khutbah iid hukumnya sunah. Jama’ah shalat iid boleh langsung pulang seletah shalat iid tanpa mendengarkan khutbah. Namun lebih utama ikut mendengarkan khutbah sampai selesai.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى المُصَلَّى ، فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ ، فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ ، وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ ، وَيُوصِيهِمْ ، وَيَأْمُرُهُمْ ، فَإِنْ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ ، أَوْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِهِ ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ ” قَالَ أَبُو سَعِيدٍ : فَلَمْ يَزَلِ النَّاسُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى خَرَجْتُ مَعَ مَرْوَانَ – وَهُوَ أَمِيرُ المَدِينَةِ – فِي أَضْحًى أَوْ فِطْرٍ ، فَلَمَّا أَتَيْنَا المُصَلَّى إِذَا مِنْبَرٌ بَنَاهُ كَثِيرُ بْنُ الصَّلْتِ ، فَإِذَا مَرْوَانُ يُرِيدُ أَنْ يَرْتَقِيَهُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ ، فَجَبَذْتُ بِثَوْبِهِ ، فَجَبَذَنِي ، فَارْتَفَعَ ، فَخَطَبَ قَبْلَ الصَّلاَةِ ” ، فَقُلْتُ لَهُ : غَيَّرْتُمْ وَاللَّهِ ، فَقَالَ: أَبَا سَعِيدٍ قَدْ ذَهَبَ مَا تَعْلَمُ ” ، فَقُلْتُ : مَا أَعْلَمُ وَاللَّهِ خَيْرٌ مِمَّا لاَ أَعْلَمُ ، فَقَالَ : إِنَّ النَّاسَ لَمْ يَكُونُوا يَجْلِسُونَ لَنَا بَعْدَ الصَّلاَةِ ، فَجَعَلْتُهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ “

Dari Abu Said Al-Khudri RA berkata, “Rasulullah SAW keluar pada hari idul fithri dan idul adha menuju al-mushalla (tanah lapang), dan hal yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat iid. Setelah selesai, beliau menghadapkan wajahnya ke arah masyarakat. Masyarakat duduk dalam shaf mereka, maka beliau memberi ceramah, memberi wasiat dan memerintahkan kebajikan kepada mereka.

Jika beliau hendak mengirim pasukan, beliau memotong sebentar khutbahnya. Jika hendak memerintahkan sesuatu, maka beliau perintahkan dahulu baru kemudian melanjutkan khutbahnya. Demikianlah keadaan yang berjalan, sampai datang masa aku keluar untuk shalat idul fitri atau idul adha bersama gubernur Madinah, Marwan bin Hakam. Ketika kami tiba di tempat shalat, ternyata sudah tersedia mimbar yang dibangun oleh Katsir bin Shalth. Marwan hendak naik ke mimbar berkhutbah sebelum shalat, maka aku menarik bajunya. Namun ia menghentakkan diriku, lalu naik ke mimbar dan berkhutbah.

Aku berkata: “Engkau telah merubah-rubah, demi Allah.” Ia menjawab, “Wahai Abu Sa’id, tata cara yang engkau kenal sudah berlalu.” Aku menjawab, “Tata cara yang aku kenal, demi Allah, lebih baik dari tata cara yang tidak aku kenal.” Ia berkata: “Masyarakat tidak mau duduk mendengarkan khutbah kami (bani Umayyah-edt) setelah shalat iid, maka kami merubah khutbah menjadi sebelum shalat (agar masyarakat terpaksa mendengar khutbah kami—edt).” (HR. Bukhari no. 956 dan Muslim no. 889)

Baca Juga:

  1. Tata Cara Sholat Witir Sesuai Tuntunan Nabi SAW
  2. Tata Cara Sholat Jamak dan Qhasar (Taqdim & Takhir Sesuai Sunnah)

Adakah Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri dan idul Adha? Bagaimana Ucapan yang Seharusnya?

Dari Jubair bin Nufair berkata, “Kebiasaan para shahabat Rasulullah SAW jika mereka bertemu pada hari iid adalah sebagian mereka mengucapkan selamat kepada sebagian lainnya dengan ucapan: Taqabballahu minnaa wa minkum (semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian).” (HR. Al-Muhamili. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: Sanadnya hasan)

6 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.