Doa Malaikat Jibril Menjelang Ramadhan yang Diamini Rasulullah SAW

Doa Malaikat Jibril Menjelang Ramadhan – Sebagian kita terkadang menerima pesan SMS, WA, BBM, dan sebagainya terkait banyak hal. Pesan bisa disampaikan oleh orang yang kita kenal atau oleh anggota grup secara random tanpa memandang siapa yang menerima. Isinya pun beragam, mulai dari meperkenalkan produk/perniagaan, nasehat agama dan kebaikan, atau hanya sekedar keisengan belaka. Terkait dengan nasehat agama, biasanya pesan didapat sesuai dengan keadaan ketika itu atau ketika hendak memasuki suatu momen tertentu, seperti bulan Ramadhan. Terkait dengan Ramadhan, ada pesan berantai yang -barangkali- pernah kita dapati. Salah satunya adalah pesan yang berisi tentang permohonan maaf yang terlebih dahulu mengutip “terjemah” dari sebuah riwayat hadits. Pesan tersebut akan kami jelaskan di bawah ini:

Doa Malaikat Jibril Menjelang Nisfu Sya’ban

“Ya Allah, abaikan puasa umat nabi Muhammad SAW, apabila sebelum ramadhan dia belum: Memohon maaf kepada kedua orang tua jika keduanya masih hidup. Bermaafan antara suami istri, Bermaafan dengan keluarga kerabat serta orang sekitar.”

Lantas bagaimana sikap kita dalam menanggapi hal ini? Benarkah ini merupakan doa malaikat Jibril menjelang Ramadhan; agar umat Islam saling memaafkan terlebih dahulu sebelum memasuki bulan mulia atau puasa mereka akan terabaikan? Berikut ulasan singkatnya: Sebelum menjawab pertanyaan diatas, terdapat hal penting yang perlu menjadi perhatian kita bersama, yaitu kewajiban untuk mengecek kebenaran informasi yang kita dapatkan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang fasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian [Q.S. al-Hujurât (49) :6]”. Meskipun secara konteks ayat ini berkaitan dengan peristiwa tertentu, namun semangat dan ajarannya wajib kita terapkan setiap kali kita menerima informasi; tabayun. Sebab tanpa itu, sangat mungkin kita akan melakukan suatu fitnah kepada seseorang atau pihak tertentu karena ketidak cocokan antara apa yang kita dengar dengan realita yang sesungguhnya. Terlebih jika berita itu berkaitan dengan peristiwa atau orang penting. Terkait dengan malaikat Jibril a.s. dan Rasulallah saw, kita tidak diperkenankan berbicara atas nama mereka berdua kecuali ada dalil valid yang melatarinya. Sebab keduanya berbicara berdasarkan wahyu dan bukan hanya akal semata. Berkaitan dengan Jibril, Allah swt berfirman:

وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

“Tidaklah Kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Rabbmu. kepunyaan-Nya lah segala yang ada di hadapan kita, apa yang ada di belakang kita dan yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa [QS. Maryam (19): 64]”. Ayat ini secara tegas menerangkan bahwa malaikat Jibril a.s. bertutur dan berkata atas dasar wahyu. Sehingga tidak boleh bagi kita mengatakan hal yang tidak sesuai dengan kondisi malaikat Jibril jika tidak sesuai dengan keterangan yang terdapat di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Dengan kata lain, apapun yang dilakukan oleh Jibril adalah atas perintah Allah dan bukan inisiatif pribadi. Termasuk doa yang diucapkan.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan jangan engkau mengikuti apa yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggung jawaban [Q.S. al-Isra’ (17): 36].” Tentang Rasulallah, Allah swt berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى ( ) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

Tidaklah dia berbicara karena hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An-Najm (53): 3-4). Terkait dengan syari’at, semua yang diucapkan oleh Rasulallah saw merupakan wahyu dari Allah swt. Oleh karenanya, kita tidak diperkenankan untuk menyandarkan hal yang tidak ada dasarnya kepada Nabi Muhammad saw.

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ حَدَّثَ بِحَدِيثٍ وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

“Dari al-Mughirah bin Syu’bah, dari Nabi saw beliau bersabda: Siapa saja yang menyampaikan suatu berita dan ia memandang bahwa berita tersebut adalah dusta, maka ia termasuk salah seorang pendusta (H.R. Ahmad no. 2067).” Adapun perkataan/doa malaikat Jibril yang diaminkan oleh Rasulalah saw adalah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَقِيَ الْمِنْبَرَ فَقَالَ آمِينَ آمِينَ آمِينَ فَقِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كُنْتَ تَصْنَعُ هَذَا فَقَالَ قَالَ لِي جِبْرِيلُ أَرْغَمَ اللَّهُ أَنْفَ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ دَخَلَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَقُلْتُ آمِينَ ثُمَّ قَالَ رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا لَمْ يُدْخِلْهُ الْجَنَّةَ فَقُلْتُ آمِينَ ثُمَّ قَالَ رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ، فَقُلْتُ آمِينَ

“Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam naik mimbar lalu beliau mengucapkan, ‘Amin … amin … amin.’ Para sahabat bertanya, ‘Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?’ Kemudian, beliau bersabda, ‘Baru saja Jibril berkata kepadaku, ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadan tanpa mendapatkan ampunan,’ maka kukatakan, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun itu tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua),’ maka aku berkata, ‘Amin.’ Kemudian, Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang tidak bersalawat ketika disebut namamu,’ maka kukatakan, ‘Amin (H.R. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 646 dan Ibnu Khuzaimah no. 1888. Dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 1679).” Meliat redaksi hadits diatas, tidak terdapat waktu khusus kapan Jibril a.s. mengucapkan doa tersebut sehingga tidak dapat dimaknai secara khusus; untuk tempat dan waktu tertentu seperti halnya anjuran membaca surat al-Kahfi di hari Jum’at. Jika ada pihak yang menyatakan bahwa Jibril a.s. mengucapkan doa ini pada bulan tetentu (baca: Sya’ban), maka ia wajib mendatangkan dalil. Sebab sependek yang kami tahu tidak ada riwayat khusus tentang wajibnya setiap muslim untuk saling memaafkan antara satu dengan yang lain sebelum memasuki bulan Ramadhan. Meminta maaf merupakan kewajiban bagi orang yang bersalah dan juga ssalah satu akhlak mulia. Namun mengkhususkan waktu dan atau tempat untuk suatu amalan adalah perkara yang lain lagi. Oleh karenanya, kita wajib berhati-hari dalam menerima informasi, utamanya terkait dengan syari’at. Dan jika anda menerima pesan sejenis ini, silahkan untuk dihapus dan tidak disebarkan. Apa yang datang dari Rasulallah saw, mari kita ikuti. Dan apa yang beliau larang mari kita jauhi. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Syarat-Syarat Terkabulnya Doa Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah

Syarat-Syarat Terkabulnya Doa – Do’a dan ta’awudz (mohon perlindungan) ibarat senjata. Kehebatan senjata bergantung kepada pemakainya, bukan hanya dari ketajamannya saja, apabila senjata telah sempurna tidak ada cacatnya, lengan yang menggunakannya kuat, dan penghalang tidak ada, niscaya dapat membinasakan musuh. Apabila kurang salah satu dari tiga perkara ini, maka pengaruhnya tidak akan ada. Demikian pula dengan do’a, apabila isi do’a tidak baik, atau orang yang berdo’a tidak menggabungkan antara hati dan lisannya, atau adanya penghalang bagi terkabulnya do’a, maka do’a tidak akan berhasil. [ Al-Jawabul Kafi, Ibnul Qoyyim: 36] Syarat menurut istilah bahasa adalah tanda atau alamat. Menurut istilah hukum ialah sesuatu yang apabila tidak ada, hukum itu tidak ada, akan tetapi belum tentu adanya sesuatu itu menyebabkan adanya hukum atau tidak berdasarkan dzatnya. Berikut Syarat-syarat terpenting bagi terkabulnya do’a dan beberapa penghalang doa tidak dikabulkan:

Syarat Pertama: Menghadirkan Keikhlasan

Ikhlas yaitu membersihkan do’a dan amal dari segala yang mencampurinya dan menjadikannya hanya untuk Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, tidak ada riya’, tidak pula berbangga diri, bukan mengharap materi yang bakal sirna dan bukan pula karena berpura-pura melainkan mengharap pahala dari Allah, dan takut kepada adzab-Nya serta mengharap keridhaan-Nya. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan ikhlas dalam al-Qur’an yaitu firman-Nya,

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُواْ وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

Katakanlah, “Rabbku menyuruh menjalankan keadilan.” Dan (Katakanlah), “Luruskan muka (diri)mu di setiap sholat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan keta’atanmu kepadaNya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya.” (QS. al-A’raf/: 29).

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (QS. Ghafir/40: 14).

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. az-Zumar/39: 3).

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah/98: 5). Dari Abdullah Ibnu Abbas ra ia berkata, bahwa suatu hari saya duduk di belakang Rasulullah SAW, Rasulullah bersabda kepada saya,

يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ

Wahai pemuda, saya akan mengajari kamu beberapa kalimat; peliharalah Allah (suruhan dan larangan-Nya) niscaya Allah memeliharamu, peliharalah Allah tentulah engkau mendapati-Nya di hadapanmu. Apabila engkau memohon sesuatu, mohonlah kepada Allah, dan apabila engkau meminta sesuatu pertolongan mintalah kepada Allah, ketahuilah walaupun berkumpul seluruh umat untuk mendatangkan suatu kemanfaatan untukmu, tidaklah mereka itu dapat berbuat apa-apa kecuali sekedar yang Allah tetapkan untukmu. Dan jika berkumpul pula seluruh manusia untuk mendatangkan suatu kemelaratan (kesusahan) kepada engkau, tidak juga mereka itu sanggup berbuat apa-apa, melainkan hanya sekedar yang Allah telah tetapkan terhadapmu. Telah diangkat kalam (mata pena) dan telah kering segala lembaran tulisan. ” (HR. at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani). Memohon kepada Allah berarti berdo’a kepada-Nya dan mengharapkan-Nya, sebagaimana firman Allah SWT,

وَاسْأَلُواْ اللّهَ مِن فَضْلِهِ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً

Dan  mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala tesuatu.” (QS. An-Nisa’/4: 32).

Syarat Kedua: Menghadirkan Perilaku Ittiba

Syarat yang kedua: Mengikuti Rasulullah SAW (di dalam tata cara berdo’a) dan ini adalah syarat diterimanya seluruh ibadah, sebagaimana firman Allah SWT,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

“Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. al-Kahfi/18:110). Yang dimaksud dengan amal shalih adalah segala amal perbuatan yang sesuai dengan syari’at Allah SWT dengan maksud dan niat karena Allah semata-mata, maka oleh sebab itu do’a dan amal shalih harus ikhlas karena Allah, dan harus sesuai pula dengan syariat yang diajarkan Rasulullah SAW. Atas dasar ini Imam al-Fudhail bin iyadh rahimahullah dalam menafsirkan firman Allah SWT,

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. al-Mulk/67: 1-2) Beliau berkata, maksudnya (yang lebih baik amalnya) adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar. Beberapa sahabatnya bertanya, “Apa yang dimaksud dengan amal yang paling ikhlas dan paling benar?” Jawabannya, “Sesungguhnya suatu amal perbuatan apabila dikerjakan dengan ikhlas tapi tidak dilakukan dengan cara yang benar, maka tidak akan diterima Allah SWT, sebaliknya apabila dikerjakan dengan benar tapi tidak dilakukan dengan ikhlas, maka tidak akan diterima pula oleh Allah SWT sampai amal ibadah itu dikerjakan dengan ikhlas dan benar. Yang dimaksud dengan ikhlas, amal yang mutlak karena Allah, yang dimaksud dengan benar ialah sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW; Kemudian al-Fudhail bin Iyad membaca: “Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya” (QS. al-Kahfi/18:110),

وَمَنْ أَحْسَنُ دِيناً مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ واتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَاتَّخَذَ اللّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menye-rahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus. Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. an-Nisa’/4: 125),

وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (QS. Luqman/31: 22) yang dimaksud islamul wajhi (menyerahkan diri ke hadirat Allah) ialah memurnikan niat, do’a dan perbuatan semata-mata untuk Allah. Ihsan dalam beribadah berarti mengikuti Rasulullah SAW dan sunnahnya. Maka wajib atas setiap Muslim mengikuti Rasulullah SAW dalam segala perbuatannya, sebagaimana firman Allah SWT,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab/33: 21) dan firman Allah SWT,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni  dosa-dosamu.”  Allah  Maha Pengampun lagi MahaPenyayang. ” (QS. Ali Imran/3: 31), dan firman Allah SWT,

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِـي وَيُمِيتُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Katakanlah, “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk. ” (QS. al-A’raf/7: 158), dan firman Allah SWT,

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُم مَّا حُمِّلْتُمْ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Katakanlah, “Ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, kewajiban kamu adalah apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tiada lain kewajiban rasul hanya menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. an-Nur: 54) Maka tidak diragukan lagi bahwa amal yang tidak sesuai dengan syariat Nabi Muhammad SAW, adalah amalan yang tidak sah (batal). Sesuai dengan hadits yang diriwayatkan dari Aisyah ra dari Nabi SAW beliau bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat perkara yang baru dalam agama kami ini yang tidak bersumber darinya, maka perkara itu ditolak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat Imam Muslim yang berbunyi:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa melakukan amalan yang bukan dari perintah kami, maka amalnya ditolak. ” (HR. Muslim).

Syarat ketiga: Percaya dan yakin diterima Allah.

Di   antara   syarat  yang   terpenting agar do’a diterima adalah percaya dengan Allah. Dan bahwa Allah Maha Kuasa, karena apabila Allah berkehendak, Allah berkata, “Jadi,” maka jadilah ia. Firman Allah SWT,

إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَن نَّقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Kun (jadilah), maka jadilah ia.” (QS. an-Nahl/16: 40). Dan firman-Nya,

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئاً أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!”maka terjadilah ia” (QS. Yasin/36: 82). Untuk menambah rasa percaya tersebut bagi seorang Muslim, maka ia mesti mengetahui bahwa seluruh pintu kebaikan dan keberkatan ada di sisi-Nya. Firman Allah SWT,

وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ عِندَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلاَّ بِقَدَرٍ مَّعْلُومٍ

Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu. “(QS. al-Hijr/15: 21). Dan firman Allah SWT dalam hadits qudsi:

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَأَخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلُّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْـمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ

Wahai hambaku, seandainya semua makhluk mulai dari yang pertama sampai yang terakhir dari jenis manusia dan jin, semuanya berdiri di satu tempat yang tinggi lantas memohon kepada-Ku, lalu Aku berikan setiap orang akan perbuatannya maka tidaklah berkurang kekayaan-Ku karena memenuhi permintaan mereka itu melainkan ibarat air laut dimasukkan jarum ke dalamnya.” (HR. Muslim). Dan ini menunjukkan sempurnanya kekayaan dan kekuasaan-Nya, yang tidak akan habis, dan tidak pula berkurang karena diberikan. Walaupun Allah memberikan kepada makhluk generasi pertama dulu dan yang kemudian bahkan sampai akhir zaman, baik dari golongan jin dan manusia dari tempat yang sama tidaklah berkurang sedikit pun. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW bersabda,

يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لَا يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَإِنَّهُ لَـمْ يَنْقُصْ مَا فِي يَمِينِهِ وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَبِيَدِهِ الْـمِيْزَانُ يَخْفِضُ وَيَرْفَعُ

Tangan Allah melimpah, tidak berkurang oleh pemberian-Nya yang terus mengalir siang dan malam. Apakah tidak kamu perhatikan pemberian-Nya semenjak diciptakan-Nya langit dan bumi? Sesungguhnya tidak berkurang sedikit pun segala yang ada dalam genggamannya, arsy-Nya (singgasana-Nya) di atas air, dan di tangannya neraca, Dia merendahkan dan meninggikan (derajat makhluknya).” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan at-Tirmidzi). Seorang Muslim apabila mengetahui perkara yang disebutkan di atas, maka mestilah ia berdo’a kepada Allah dengan keyakinan yang tinggi akan terkabul permohonannya. Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda,

ادْعُوْا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِيْنُونَ بِالإِجَابَةِ..

Berdo’alah kepada Allah, dan kamu yakin akan terkabul do’amu tersebut .. ” (HR. at-Tirmidzi). Oleh sebab itu, Rasulullah SAW menjelaskan, bahwa Allah mengabulkan do’a seorang Muslim yang cukup syarat, tata cara, dan menghindari segala yang menghalangi terkabulnya do’a. Beliau bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدُعَاءٍ لَيْسَ فِيْهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا آعْطَاهُ اللَّهُ بِـهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ

Tidak ada seorang Muslim yang berdo’a memohon sesuatu kepada Allah, sedang dalam do’anya itu tidak memohon sesuatu yang mengandung dosa, atau memutuskan tali silaturrahim, melainkan Allah memberikanya salah satu dari tiga perkara..” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).

Keempat: Menghadirkan Kekhusyu’an

Syarat yang keempat: Menghadirkan hati sewaktu berdo’a dan khusyu’, mengharapkan ganjaran pahala dari Allah dan takut kepada adzab-Nya. Allah SWT memuji Nabi Zakaria as dan keluarganya. Firman Allah SWT,

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْداً وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ. فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Dan (ingatlah kisah) Zakariya, tatkala ia menyeru Rabb-nya, “Ya Rabbku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. al-Anbiyaa’/21: 89-90) Merupakan keharusan bagi seorang Muslim di dalam berdo’a untuk menghadirkan hatinya, dan ini merupakan syarat terpenting terkabulnya do’a sebagaimana pendapat Imam Ibnu Rajab rahimhullah. Dalam Musnad Imam at-Tirmidzi, Abu Hurairah ra meriwayatkan Rasulullah bersabda:

اُدْعُوا اللهَ تَعَالَى وَاَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالاِجَابَةِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لَا يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِّنْ قَلْبِ غَافِلٍ لاَهٍ

Berdo’alah kamu kepada Allah sedang kamu yakin akan terkabul do’amu tersebut, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan do ‘a orang yang hatinya lalai dan tidak serius.” (HR. at-Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani). Sungguh Allah telah memerintahkan kepada orang yang berdo’a untuk menghadirkan hati dan merendahkan diri se-waktu berzikir dan berdo’a. Firman Allah SWT,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. ” (QS. al-A’raf/7: 205).

Syarat Kelima: Kesungguhan dalam Berdoa

Seorang Muslim apabila memohon kepada Allah SWT hendaklah ia pastikan permohonan tersebut diiringi dengan keinginan yang kuat. Oleh karena itu, Rasulullah melarang istitsna’ (mengecualikan dengan mengatakan jika Engkau menghendaki) dalam berdo’a. Dari Anas ra, Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمْ فِي الْدُّعَاءِ وَلاَ يَقُلْ: اللهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِي فَإِنَّ اللهَ لاَ مَسْتَكْرِهَ لَهُ. وفي رواية: فَإِنَّ اللهَ لاَ مُكْرِهَ لَهُ

Apabila berdo’a salah seorang dari kamu maka hendaklah ia memiliki keinginan yang kuat dalam berdo’a, janganlah ia berdo’a, ‘Ya Allah, jika Engkau kehendaki berikanlah kepadaku, sesungguhnya Allah tidak ada yang dapat memaksanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لَا يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ: اللَّهُمَّ اعْفِرْلِي إِنْ شِئْتَ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ، وَلَكِنْ لِيَعْزِمْ الْـمَسْأَلَةَ وَاليُعَظمْ الرَّغْبَةَ فَإِنَّ اللهَ لاَ يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ

Hendaklah jangan ada di antara kamu yang berkata, “Ya Allah, ampunilah saya, bila Engkau kehendaki, Ya Allah, kasihi saya jika Engkau kehendaki, melainkan hendaklah ia pastikan permohonannya, dan menguatkan keinginan, sesungguhnya tidak ada suatu pemberian apapun (yang Allah berikan) memberatkan Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Syarat Keenam: Mengindari makanan & Minuman haram.

Rasulullah SAW bersabda :

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لا يُقبَلَ إِلا طَيِّباً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ اْلمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ اْلمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحاً إِنِّي بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاء يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِاْلحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ؟

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman, “Hai Rasul-Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih.” (QS. Al-Mu’minuun : 51). Dan Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu” (QS. Al-Baqarah : 172). Lalu Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu lalu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata, ”Ya Rabb..ya Rabb…”, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya dari yang haram, dicukupi dari yang haram, maka bagaimana mungkin dikabulkan doanya?” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1015].

Syarat Ketujuh: Menghindari Sifat tergesa-gesa dalam berdoa.

Ada orang yang minta segera doa-doanya segera dikabulkan, tapi pada akhirnya dia meninggalkan doa. Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُوْلُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِيْ

“Dikabulkan doa seseorang dari kalian selama ia tidak buru-buru, (dimana) ia berkata : ”Aku sudah berdoa namun belum dikabulkan doaku” [HR. Al-Bukhari & Muslim].

لا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيْلَ يَا رَسوْلَ اللهِ مَا اْلاِسْتِعْجَالُ قَالَ يَقُوْلُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَم أَرَ يَسْتَجِيْبُ لِيْ فَيَسْتحْسِرَ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

“Senantiasa doa seorang hamba akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk berbuat dosa atau memutuskan silaturahim, dan selama ia tidak meminta dengan tergesa-gesa (isti’jal).” Ada yang bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu isti’jal?” Jawab beliau, “Jika seseorang berkata, ‘Aku sudah berdoa, memohon kepada Allah, tetapi Dia belum mengabulkan doaku’. Lalu ia merasa putus asa dan akhirnya meninggalkan doanya tersebut.” [HR. Muslim]. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: Yang dimaksud dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Saya berdoa tetapi tidak dikabulkan”, Ibnu Baththaal berkata bahwa seseorang bosan berdoa lalu meninggalkannya, seakan-akan mengungkit-ungkit dalam doanya atau mungkin dia berdoa dengan baik sesuai dengan syaratnya, tetapi bersikap bakhil dalam doanya dan menyangka Alllah tidak mampu mengabulkan doanya, padahal Dia dzat Yang Maha Mengabulkan doa dan tidak pernah habis pemberian-Nya. [Fathul Bari 11/145].

Syarat Kedelapan: Menghindari Maksiat kepada Allah.

Inilah penghalang doa selanjutnya; maksiat kepada Allah sangat banyak contohnya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, yang artinya, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidaklah seorang pezina itu berzina sedang ia dalam keadaan Mukmin. Tidaklah seorang peminum khamr itu meminum khamr sedang ia dalam keadaan Mukmin. Tidaklah seorang pencuri itu mencuri sedang ia dalam keadaan Mukmin. Dan tidaklah seorang perampok itu merampok dengan disaksikan oleh manusia sedang ia dalam keadaan Mukmin’.” (HR Bukhari [2475] dan Muslim [57]). Dalam riwayat lain ditambahkan, “Tinggalkanlah perbuatan itu, tinggalkanlah perbuatan itu!” (HR Muslim [57] dan [103]). Dalam riwayat lain disebutkan, “Pintu taubat masih terbuka untuknya setelah itu!” (HR Muslim [57] dan [104]) Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Memaki orang Muslim adalah perbuatan fasik dan memeranginya adalah kekufuran.” (HR Bukhari [48] dan Muslim [64]). Disadur dari buku “Agar Doa Dikabulkan Berdasarkan al-Qur’an dan As-Sunnah, hal 19-29, Darul Haq-Jakarta & website Mirajnews.com “sebab Terhalangnya Doa”. E-Book dapat di didownload dari Ibnumajjah.com.

Bacaan Doa Keluar Rumah [Dilengkapi Tulisan Arab, Latin & Artinya]

Doa Keluar Rumah – Memohon kepada Allah SWT merupakan inti ibadah. Tidak pandang kedudukan, pangkat dan derajat, seluruh umat islam dianjukan untuk memperbanyak berdoa baik di waktu siang maupun malam hari. Posisi doa sangat tinggi dalam Ibadah seorang Muslim. Orang yang tidak berdoa, sekan terlihat lebih pandai, lebih kaya bahkan lebih tinggi dari Tuhan, karena doa merupakan perwujudan tawadhu’ (rendah hati). Saat berdoa, kita seakan bermunajat dengan Allah SWT, seakan berbisik dengan-Nya dengan menggunakan kata-kata sopan, sebagai wujud kerendahan diri dihadapan Allah SWT yang Maha Segalanya.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [QS. Al Baqarah: 186]

Bacaan Doa Keluar Rumah Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin dan Terjemahannya

Sebagai pemeluk agama islam, kita harus berbangga karena telah diajarkan beragam doa dalam beraktivitas sehari-hari seperti halnya lafal Doa Keluar Rumah yang tertera di bawah ini:

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

BISMILLAHI, TAWAKKALTU ’ALA ALLAH, LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH

Artinya: Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah. Agar Doa Keluar Rumah yang telah kita panjatkan diterima di sisi-Nya dengan harapan segera terwujud, selebihnya kita serahkan kepada Allah SWT sebagai wujud tawakkal kita.

Bacaan Doa Bangun Tidur [Dilengkapi Tulisan Arab, Latin & Artinya]

Doa Bangun Tidur – Memohon kepada Allah SWT merupakan inti ibadah. Tidak pandang kedudukan, pangkat dan derajat, seluruh umat islam dianjukan untuk memperbanyak berdoa baik di waktu siang maupun malam hari. Posisi doa sangat tinggi dalam Ibadah seorang Muslim. Orang yang tidak berdoa, sekan terlihat lebih pandai, lebih kaya bahkan lebih tinggi dari Tuhan, karena doa merupakan perwujudan tawadhu’ (rendah hati). Saat berdoa, kita seakan bermunajat dengan Allah SWT, seakan berbisik dengan-Nya dengan menggunakan kata-kata sopan, sebagai wujud kerendahan diri dihadapan Allah SWT yang Maha Segalanya.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [QS. Al Baqarah: 186]

Bacaan Doa Bangun Tidur Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin dan Terjemahannya

Sebagai pemeluk agama islam, kita harus berbangga karena telah diajarkan beragam doa dalam beraktivitas sehari-hari seperti halnya lafal Doa Bangun Tidur yang tertera di bawah ini:

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ اَحْيَانَا بَعْدَمَآ اَمَاتَنَا وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ

Al Hamdu Lillahil Ladzii Ahyaana Ba’da Maa Amaa Tanaa Wa Ilaihin Nusyuur
Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami sesudah kami mati (membangunkan dari tidur) dan hanya kepada-Nya kami dikembalikan.” Agar Doa Bangun Tidur yang telah kita panjatkan diterima di sisi-Nya dengan harapan segera terwujud, selebihnya kita serahkan kepada Allah SWT sebagai wujud tawakkal kita.

Bacaan Doa Sore Hari [Dilengkapi Tulisan Arab, Latin & Artinya]

Doa Sore Hari – Memohon kepada Allah SWT merupakan inti ibadah. Tidak pandang kedudukan, pangkat dan derajat, seluruh umat islam dianjukan untuk memperbanyak berdoa baik di waktu siang maupun malam hari. Posisi doa sangat tinggi dalam Ibadah seorang Muslim. Orang yang tidak berdoa, sekan terlihat lebih pandai, lebih kaya bahkan lebih tinggi dari Tuhan, karena doa merupakan perwujudan tawadhu’ (rendah hati). Saat berdoa, kita seakan bermunajat dengan Allah SWT, seakan berbisik dengan-Nya dengan menggunakan kata-kata sopan, sebagai wujud kerendahan diri dihadapan Allah SWT yang Maha Segalanya.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [QS. Al Baqarah: 186]

Bacaan Doa Sore Hari Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin dan Terjemahannya

Sebagai pemeluk agama islam, kita harus berbangga karena telah diajarkan beragam doa dalam beraktivitas sehari-hari seperti halnya lafal Doa Sore Hari yang tertera di bawah ini:

اَللهُمَّ بِكَ اَمْسَيْنَا وَبِكَ اَصْبَحْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوْتُ وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

ALLOOHUMMA BIKA AMSAINAA WA BIKA ASHBAHNAA WA BIKA NAHYAA WA BIKA NAMUUTU WA ILAIKAL MASHIIR
Artinya: Ya Allah, karena Engkau kami mengalami akan waktu petang dan pagi, karena Engkau kami hidup dan mati dan kepada-Mu juga kami akan kembali. Agar Doa Sore Hari yang telah kita panjatkan diterima di sisi-Nya dengan harapan segera terwujud, selebihnya kita serahkan kepada Allah SWT sebagai wujud tawakkal kita.

Bacaan Doa Sebelum Tidur [Dilengkapi Tulisan Arab, Latin & Artinya]

Doa Sebelum Tidur – Memohon kepada Allah SWT merupakan inti ibadah. Tidak pandang kedudukan, pangkat dan derajat, seluruh umat islam dianjukan untuk memperbanyak berdoa baik di waktu siang maupun malam hari. Posisi doa sangat tinggi dalam Ibadah seorang Muslim. Orang yang tidak berdoa, sekan terlihat lebih pandai, lebih kaya bahkan lebih tinggi dari Tuhan, karena doa merupakan perwujudan tawadhu’ (rendah hati). Saat berdoa, kita seakan bermunajat dengan Allah SWT, seakan berbisik dengan-Nya dengan menggunakan kata-kata sopan, sebagai wujud kerendahan diri dihadapan Allah SWT yang Maha Segalanya.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [QS. Al Baqarah: 186]

Bacaan Doa Sebelum Tidur Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin dan Terjemahannya

Sebagai pemeluk agama islam, kita harus berbangga karena telah diajarkan beragam doa dalam beraktivitas sehari-hari seperti halnya lafal Doa Sebelum Tidur yang tertera di bawah ini:

بِسْمِكَ اللّهُمَّ اَحْيَا وَ بِسْمِكَ اَمُوْتُ

Bismika Allahumma Ahyaa Wa Bismika Amuut 

Artinya: “Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati.” Agar Doa Sebelum Tidur yang telah kita panjatkan diterima di sisi-Nya dengan harapan segera terwujud, selebihnya kita serahkan kepada Allah SWT sebagai wujud tawakkal kita.

Bacaan Doa Masuk Rumah [Dilengkapi Tulisan Arab, Latin & Artinya]

Doa Masuk Rumah – Memohon kepada Allah SWT merupakan inti ibadah. Tidak pandang kedudukan, pangkat dan derajat, seluruh umat islam dianjukan untuk memperbanyak berdoa baik di waktu siang maupun malam hari. Posisi doa sangat tinggi dalam Ibadah seorang Muslim. Orang yang tidak berdoa, sekan terlihat lebih pandai, lebih kaya bahkan lebih tinggi dari Tuhan, karena doa merupakan perwujudan tawadhu’ (rendah hati). Saat berdoa, kita seakan bermunajat dengan Allah SWT, seakan berbisik dengan-Nya dengan menggunakan kata-kata sopan, sebagai wujud kerendahan diri dihadapan Allah SWT yang Maha Segalanya.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [QS. Al Baqarah: 186]

Bacaan Doa Masuk Rumah Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin dan Terjemahannya

Sebagai pemeluk agama islam, kita harus berbangga karena telah diajarkan beragam doa dalam beraktivitas sehari-hari seperti halnya lafal Doa Masuk Rumah yang tertera di bawah ini:

بِسْمِ اللهِ وَلَجْنَا وَبِسْمِ اللهِ خَرَجْنَا ، وَعَلَى اللهِ رَبَّنَا تَوَكَّلْنَا

Bismillahi walajnaa wa bismillahi kharajnaa wa-alallaahi rabbina tawakkalnaa

Artinya: Dengan nama Allah kami masuk rumah, dengan nama Allah aku keluar rumah, serta kepada-Nya aku berserah diri. Agar Doa Masuk Rumah yang telah kita panjatkan diterima di sisi-Nya dengan harapan segera terwujud, selebihnya kita serahkan kepada Allah SWT sebagai wujud tawakkal kita.

Bacaan Doa Pagi Hari [Dilengkapi Tulisan Arab, Latin & Artinya]

Doa Pagi Hari – Memohon kepada Allah SWT merupakan inti ibadah. Tidak pandang kedudukan, pangkat dan derajat, seluruh umat islam dianjukan untuk memperbanyak berdoa baik di waktu siang maupun malam hari. Posisi doa sangat tinggi dalam Ibadah seorang Muslim. Orang yang tidak berdoa, sekan terlihat lebih pandai, lebih kaya bahkan lebih tinggi dari Tuhan, karena doa merupakan perwujudan tawadhu’ (rendah hati). Saat berdoa, kita seakan bermunajat dengan Allah SWT, seakan berbisik dengan-Nya dengan menggunakan kata-kata sopan, sebagai wujud kerendahan diri dihadapan Allah SWT yang Maha Segalanya.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [QS. Al Baqarah: 186]

Bacaan Doa Pagi Hari Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin dan Terjemahannya

Sebagai pemeluk agama islam, kita harus berbangga karena telah diajarkan beragam doa dalam beraktivitas sehari-hari seperti halnya lafal Doa Pagi Hari yang tertera di bawah ini:

اَللهُمَّ بِكَ اَصْبَحْنَا وَبِكَ اَمْسَيْنَا وَبِكَ نَحْيَا وَبِكَ نَمُوْتُ وَاِلَيْكَ النُّشُوْر

“ALLOOHUMMA BIKA ASHBAHNAA WA BIKA AMSAINAA WA BIKA NAHYAA WA BIKA NAMUUTU WA ILAIKAN NUSYUURU”
Artinya: Ya Allah, karena Engkau kami mengalami waktu pagi dan waktu petang dan karena Engkau kami hidup dan mati dan kepada-Mu juga kami akan kembali. Agar Doa Pagi Hari yang telah kita panjatkan diterima di sisi-Nya dengan harapan segera terwujud, selebihnya kita serahkan kepada Allah SWT sebagai wujud tawakkal kita.

Macam-Macam Puasa Wajib dan Sunnah Berdasarkan Tuntunan Nabi

0

Macam-Macam Puasa Wajib, Sunnah, & Puasa Terlarang yang Pernah Diberitakan Nabi Muhammad SAW

Tongkrongan islami – Shiyam atau puasa secara bahasa bermakna: “menahan diri dari sesuatu dan meninggalkan sesuatu”. Sedangkan menurut syara’ adalah “ menahan diri dari makan, minum, dan bersenang-senang dengan istri, dari fajar sampai maghrib karena mengharap dan menyiapkan diri untuk bertaqwa kepadaNya dengan jalan memperhatikan Allah dan dengan mendidik bermacam kehendak”.[1] Sedangkan menurut imam Nawawi dalam syarah Muslim dan al-hafidz dalam Fathul Baari bahwa puasa secara bahasa adalah: “menahan”. Menurut istilah, puasa adalah: “ menahan sesuatu yang telah dikhususkan pada waktu yang telah dikhususkan dan dengan syarat yang ditentukan “.[2] Ibadah puasa terbagi menjadi 3 bagian: yaitu Puasa wajib, Puasa sunah, dan Puasa yang terlarang.

Pertama: Puasa Wajib yang Diharuskan untuk Dikerjakan

Puasa Ramadhan Ibadah puasa di bulan Ramadhan merupakan bagian dari lima rukun Islam yang diwajibkan Allah swt pada tahun kedua Hijriyah. Dalam sejarahnya, ibadah puasa ini bukan sesuatu ketentuan yang ditemukan dalam ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw tetapi ibadah ini diwajibkan pula pada zaman nabi-nabi Allah sebelum Nabi Muhammad saw. sebagaimana yang ada dalam al-Qur’an al-Baqarah: 183

ياايها الذين امنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. [QS. Al-Baqarah: 183] Puasa Qodho Puasa Qodho’ yaitu puasa yang wajib dikerjakan untuk mengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkannya karena udzur, sakit, atau berpergian sebanyak hari yang ditinggalkannya.

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS. Al-Baqoroh: 184] Puasa kafarot Puasa Kafarot yaitu puasa yang wajib dilakukan untuk menebus dosa akibat melakukan  perbuatan tertentu seperti contoh di bawah ini:
  • Melanggar Sumpah

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” [QS. Al-Maidah: 89]
  • Pembunuhan

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً ۚ وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا ۚ فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ ۖ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ ۖ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [QS. An-Nisa’: 92] Puasa Nadzar Puasa Nadzar yaitu puasa wajib yang dilakukan oleh orang yang bernadzar puasa sebanyak hari yang dinadzarkan. Rusulullah saw bersabda: “Apabila seseorang bernadzar menjalankan puasa, maka nadzar itu harus dipenuhinya” [HR Bukhori]

Kedua: Puasa Sunnah yang Dianjurkan untuk Dikerjakan

Rasulullah saw telah mengajarkan berbagai macam puasa sunah yang sifatnya bukan ketentuan pokok yang tidak boleh tidak harus dikerjakan, melainkan bersifat anjuran bagi siapapun dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Diantara puasa sunah tersebut antara lain:[12] Puasa Syawal Puasa Syawal ialah puasa yang dilaksanakan setelah tanggal 1 Syawal sebanyak 6 hari. Puasa ini dapat dilaksanakan secara berturut-turut ataupun tidak.

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ ِ

“Dari Abi Ayyub ra ia telah berkata, telah bersabda Rasulullah saw: ”barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian diikutinya dengan 6 hari syawal, ia bagikan orang yang berpuasa sepanjang masa”. [HR. Muslim]. Selengkapnya: Keutamaan Puasa 6 Hari di Bulan Syawal Puasa Senin & Kamis

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَكْثَرَ مَا يَصُومُ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسَ قَالَ فَقِيلَ لَهُ قَالَ فَقَالَ إِنَّ الْأَعْمَالَ تُعْرَضُ كُلَّ اثْنَيْنِ وَخَمِيسٍ أَوْ كُلَّ يَوْمِ اثْنَيْنِ وَخَمِيسٍ فَيَغْفِرُ اللَّهُ لِكُلِّ مُسْلِمٍ أَوْ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ إِلَّا الْمُتَهَاجِرَيْنِ فَيَقُولُ أَخِّرْهُمَا

Dari Abu Hurairah, adalah Nabi saw lebih sering berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Kemudian orang bertanya tentang alasannya. Maka jawab beliau: “Sesungguhnya semua amal akan dipersembahkan pada setiap hari Senin dan Kamis, maka Allah pun berkenan mengampuni terhadap dosa setiap muslim, atau dosa setiap mukmin, kecuali terhadap dua orang yang bermusuhan. maka Allah swt berfirman: ”tangguhkanlah terhadap keduanya”. [HR. Ahmad]. Puasa ‘Arafah Puasa ‘Arafah adalah puasa sunah yang dituntunkan oleh Rasul pada setiap muslim yang sedang tidak melakukan ibadah haji. Sedangkan bagi orang yang menunaikan ibadah haji, tidak dituntunkan, bahkan Rasulullah saw melarang orang yang sedang wukuf di ‘Arafah melakukan puasa ini.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً وَصَوْمُ عَاشُورَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً

“Dari Abu Qatadah telah bersabda Rasulullah saw: ”Puasa pada hari ‘Arafah dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, yaitu satu tahun yang telah lewat dan satu tahun yang akan datang”. [HR. Jama’ah kecuali Bukhari dan Turmudzi] Selengkapnya: Keutamaan Puasa Arofah dan Tata Cara Melaksanakanya Puasa ‘Asyuro Puasa ‘asyuro adalah puasa sunah yang dilakukan pada tanggal 10 pada bulan Muharram.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَرْفَعُهُ قَالَ سُئِلَ أَيُّ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ وَأَيُّ الصِّيَامِ أَفْضَلُ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ فَقَالَ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ

“Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw ditanyalah: “Shalat manakah yang lebih utama setelah shalat fardhu?”, beliau menjawab: “Yaitu shalat di tengah malam.” Ia menanyakan lagi: “Puasa manakah yang lebih afdhal?”, beliau menjawab : ” Puasa pada bulan Allah yang kamu namakan bulan Muharram”. [HR Bukhari & Muslim] Puasa ‘asyuro ini memang dijadikan amalan oleh ummat sebelum Nabi saw. Dalam hadis-hadis lain diterangkan bahwa puasa ‘asyuro adalah puasa yang biasa dilakukan oleh Bani Israil sebagai rasa syukur kepada Allah atas pertolonganNya, Nabi Musa dan kaumnya selamat dari ancaman Fir’aun. Ketika hal itu disampaikan kepada Rasulullah beliau mengatakan:

سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُا حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata: ketika Rasulullah saw berpuasa pada bulan ‘asyuro, para sahabat bertanya “Ya Rasulullah sesungguhnya hari ini adalah hari dimuliakannya orang-orang Yahudi dan Nashrani? Lalu beliau bersabda: ”Apabila tahun mendatang tiba, Insya Allah kita berpuasa pada hari yang kesembilan”. Namun sebelum sampai tahun yang ditunggu, Rasulullah telah wafat.  Oleh karena itu para ulama bersepakat bahwa puasa ‘asyuro dibagi menjdi tiga tingkatan:
  1. Puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9,10 dan 11 bulan Muharram.
  2. Puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 dan 10 bulan Muharram.
  3. Puasa pada tanggal 10 Muharram seperti termaktub dalam hadis Abu Hurairah maupun Mu’awiyah.
Selengkapnya: Keutamaan Puasa Asyuro dan Tata Cara Melaksanakannya Puasa Sya’ban Puasa Sya’ban termasuk puasa yang disunahkan oleh Rasulullah saw, namun mengenai harinya tidak ditentukan secara pasti.

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ

“Aku tiada pernah melihat Rasulullah saw melakukan puasa dalam sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan, dan tidak pula aku melihat satu bulan pun yang hari-harinya dipergunakan Nabi saw untuk berpuasa kecuali pada bulan Sya’ban”. [HR. Bukhari & Muslim] Puasa Putih Puasa putih atau shiyamul-bid adalah puasa sunah yang dilakukan pada tanggal 13,14 dan 15 bulan Qamariyah.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَصُومَ مِنْ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ الْبِيضَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Kami diperintahkan oleh Rasulullah saw agar berpuasa sebanyak tiga hari setiap bulannya, yakni pada hari-hari cemerlang, tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas. [HR. Nasa’i] Puasa Daud Puasa daud adalah puasa yang dulu pernah dilakukan oleh Nabi Daud as, yang dilaksanakan sehari puasa dan sehari berbuka.

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ أَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Sesungguhnya Abdullah bin Amr bin Ash ra mengabarkan bahwa Rasulullah saw berkata kepadanya: Puasa yang lebih disukai oleh Allah ialah puasa Daud, dan shalat yang lebih disukai Allah adalah shalatnya Nabi Daud. Ia tidur seperdua malam, bangun sepertiganya lalu tidur seperempatnya. Dan adalah ia berpuasa sehari dan berbuka sehari”. [HR. Bukhari]

Ketiga: Puasa Terlarang Yang tidak Boleh dikerjakan

Dalam ajaran Islam ada beberapa hari yang diharamkan untuk berpuasa, disamping juga karena kondisi tertentu yang menyebabkan puasa sunahnya menjadi haram. Beberapa puasa yang diharamkan itu antara lain: Puasa Pada hari raya

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنِ الزُّهْرِيِّ سَمِعَ أَبَا عُبَيْدٍ قَالَ شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ عُمَرَ فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ وَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صِيَامِ هَذَيْنِ الْيَوْمَيْنِ أَمَّا يَوْمُ الْفِطْرِ فَفِطْرُكُمْ مِنْ صَوْمِكُمْ وَأَمَّا يَوْمُ الْأَضْحَى فَكُلُوا مِنْ لَحْمِ نُسُكِكُمْ

“Sesungguhnya Rasulullah saw melarang berpuasa pada kedua hari ini (‘Idain). Adapun pada hari raya Fithri, karena ia merupakan saat hari berbuka dari puasamu (Ramadhan), sedang hari raya Adha, agar kalian dapat menyantap hasil kurbanmu”. [HR. Ahmad] Puasa pada hari Tasyri’ Puasa sunah yang dilakukan pada tanggal 11,12 dan 13 Dzulhijjah adalah tidak sah dan haram hukumnya.

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا أَبِي عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ مَسْعُودِ بْنِ الْحَكَمِ الْأَنْصَارِيِّ ثُمَّ الزُّرَقِيِّ عَنْ أُمِّهِ أَنَّهَا حَدَّثَتْهُ قَالَتْ لَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَهُوَ عَلَى بَغْلَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَيْضَاءِ حِينَ وَقَفَ عَلَى شِعْبِ الْأَنْصَارِ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَهُوَ يَقُولُ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّهَا لَيْسَتْ بِأَيَّامِ صِيَامٍ إِنَّمَا هِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ

“Bahwasanya Rasulullah saw mengutus Abdullah bin Khudzafah berkililing kota Mina untuk menyampaikan: “Janganlah kalian berpuasa pada hari ini, karena ia merupakan hari makan-minum dan mengingat Allah Azza wa Jalla”. [HR. Ahmad] Puasa Abad Ajaran Islam melarang seseorang berpuasa sepanjang tahun tanpa pernah berhenti barang sehari penuh.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا صَامَ مَنْ صَامَ الْأَبَدَ

”Dari Abdullah bin Amr, ia berkata: “Tidaklah berarti puasa orang berpuasa sepanjang masa”. [HR. Bukhari, Muslim & Ahmad] Puasa istri Tidak Seizin Suami

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ يَوْمًا مِنْ غَيْرِ شَهْرِ رَمَضَانَ إِلَّا بِإِذْنِهِ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيدٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

”Dari Abu Hurairah ia berkata, Nabi saw bersabda: ”Janganlah seorang wanita itu berpuasa sekalipun hanya satu hari apabila suaminya berada di rumah, kecuali dengan izinnya- selain puasa Ramadhan”. [HR. Bukhari & Muslim] Selengkapnya: Penjelasan Hadis Puasa Istri Perlu Izin Suami Puasa khusus hari Jumat Hari Jum’at adalah hari raya bagi kaum muslimin, dan oleh karena itu Rasulullah saw melarang seseorang yang melakukan puasa khusus hari Jum’at saja.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَّا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ

“Dari Abu Hurairah ra, ia mendengar Rasulullah saw bersabda: ”Janganlah kalian berpuasa pada hari jum’at, kecuali jika disertai oleh satu hari sebelumnya atau satu hari sesudahnya”. [HR. Bukhari & Muslim]

Manfaat dan Hikmah Menjalankan Ibadah Puasa

Bagi seseorang yang benar-benar menjalankan tata aturan ibadah puasa dengan tertib sebagaiman yang telah dituntunkan, disamping akan menemukan maksud tujuan utama dari ibadah tersebut, ia pun akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang banyak. Diantara fadhilah-fadhilah tersebut adalah: Dengan berpuasa jasmani akan menjadi sehat Sebagaimana telah dimaklumi bahwa sesungguhnya perut itu merupakan sarang dari sekian penyakit. Itulah sebabnya dalam dunia kedokteran puasa atau diet merupakan salah satu terapi unggulan untuk mengatasi berbagai macam penyakit yang diderita menusia. Dalam suatu penelitian di dunia kesehatan ditemukan fakta bahwa orang yang berpuasa selama 14 jam sama sekali tidak akan mengalami perubahan apapun dalam tubuhnya. Perubahan baru terjadi setelah berpuasa selama 18 jam, dan akan mengalami kematian kalau sampai berpuasa selama 56 hari. Adapun yang menyebabkan seseorang merasa lapar ketika brpuasa ialah karena adanya kekurangan jumlah zat gula (glukosa) yang ada dalam darah, yaitu manakala sampai berkurang sampai 15 mg/100cc. Padahal rata-rata jumlah darah pada setiap orang sebanyak 5000cc. Sehingga dapat disimpulkan bahwa seseorang baru akan merasa lapar kalau glukosa berkurang sampai 750 mg. Dengan ibadah puasa seseorang akan memiliki sifat perwira (iffah) Hikmah yang didapatkan oleh seseorang yang melaksanakan ibadah puasa adalah dimilikinya sifat perwira atau iffah. Sifat perwira ditunjukkan dengan kemampuannya mengendalikan dan mengarahkan berbagai nefsu terutama nafsu makan dan minum, nafsu syahwat dan hargadiri. Dalam dunia psikologi tokoh Sighmund Freud – pendiri aliran psikoanalisa menyatakan bahwa pada diri manusia terdapat dua dorongan nafsu yang sangat dominan, yaitu dorongan utuk mengembangkan hidup/nafsu kelamin dan dorongan untuk memperthankan hidup/nafsu makan dan minum. Sementara yang lain, yaitu Alfred Adler menyatakan bahwa pada diri manusia hanya ada satu dorongan utama, yaitu dorongan untuk memegahkan diri atau harga diri. Dengan ibadah puasa menambah kepekaan bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah swt (muraqabah) Pada intinya puasa dalam syari’at Islam merupakan tempat berlatih meningkatkan kesadaran dan menghayati bahwa setiap perbuatan, betapapun kecil dan remahnya nilai yang ada padanya pasti diketahui oleh Allah. Penghayatan ini diwujudkan antara lain selama seharian penuh ia pantang memakan makanan yang ada dihadapannya sekalipun makanan itu adalah halal dan merupakan miliknya sendiri. Baca Juga Artikel Lainnya: Catatan Kaki [1] Fiqih Islam bab puasa hal 133 [2] Nailul author bab puasa jilid 2 hal.551 [3] HPT bab cara berpuasa hal 170 [4] Fiqih Islam wa adillatuhu bab niat hal 774-777 [5] Fiqih Islam bab puasa hal.149 [6] Fiqih Islam bab puasa hal.151 [7] Bid’ah-bid’ah yang dianggap sunah hal.160-161 [8] HPT Kitab Puasa’ hal.177 [9] Fiqih Islam (H.Sulaiman Rasyid) hal.230-233 [10] Fiqih Islam (H.Sulaiman Rasyid) hal.233 [11] Majmu’ Az-Zawaid 3/179 [12] Nailul Author bab puasa tathowwu’ hal.602-613

Ilmu Qashash Al-Qur’an: Memahami Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an

0

Ilmu Qashash Al-Qur’an: Memahami Kisah-Kisah dalam AL-Qur’an

Oleh: Muh Rusli

  Manusia dalam hidupnya membutuhkan berbagai macam pengetahuan. Sumber dari pengetahuan tersebut ada dua macam yaitu naqli dan aqli. Sumber yang bersifat naqli ini merupakan pilar dari sebagian besar ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia baik dalam agamanya secara khusus, maupun masalah dunia pada umumnya. Sumber yang sangat otentik bagi umat Islam dalam hal ini adalah Alqur’an dan Hadis Rasulullah saw.[1] Alqur’an mau pun hadis memiliki pengaruh kuat terhadap ummat Islam, bahkan secara khusus, Alqur’an sejak awal abad III H. atau IX M.,fenomena ketidakmampuan manusia menandingi Alqur’an baik dari segi makna maupun struktur ini muncul dalam literatur Islam dengan istilah i’jaz.[2] Allah telah menganugerahkan kepada umat Islam para pendahulu yang selalu menjaga Alqur’an dan hadis Nabi saw. Mereka adalah orang-orang jujur, amanah, dan memegang janji. Sebagian di antara mereka mencurahkan perhatiannya terhadap Alqur’an dan ilmunya yaitu para mufassir, sebagian lagi memprioritaskan perhatiannya untuk menjaga hadis Nabi dan ilmunya, mereka adalah para ahli hadis. Secara khusus, Alqur’an bagi umat Islam bukan hanya kitab suci biasa yang ketika dibaca menyuguhkan informasi-informasi aktual, baik mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu atau pun petunjuk tentang masa-masa yang akan datang, namun lebih dari itu bahwa umat islam meyakini jika setiap huruf Alqur’an yang terucap dari bibir orang-orang muslim yang membacanya akan bernilai pahala. Tentunya ini bukanlah suatu konsekuensi logis karena hal ini tidak masuk dalam kajian nalar, bahkan menurut hemat penulis pun melebihi pembicaraan ontologis. Sebab hal-hal seperti ini hanya dapat dijangkau oleh hati melalui keyakinan atau iman, bahkan ini menjadi salah satu mukjizat Alqur’an (di luar teks) khususnya bagi umat Islam sendiri. Kandungan atau isi Alqur’an demikian kaya, seperti hukum, teologi, pernikahan, hubungan sosial, manajemen (waktu) dan bahkan sejarah atau kisah-kisah, bahkan untuk yang terakhir disebutkan terdapat dalam Alqur’an surat secara khusus yang disebut surat al Qashas (28) yang berisi 88 ayat dan termasuk dalam golongan surat-surat makkiyah. Namun menurut Syihabuddin Qalyubi bahwa khusus mengenai kisah-kisah dalam Alqur’an kurang mendapat perhatian dari para peneliti Alqur’an dibandingkan perhatian mereka terhadap ayat-ayat hukum, teologi dan lain-lainnya.[3] Biasanya suatu peristiwa yang dikaitkan dengan hukum kausalitas akan dapat menarik perhatian para pendengar. Apalagi dalam peristiwa itu mengandung pesan-pesan dan pelajaran mengenai berita-berita bangsa terdahulu yang telah musnah, maka rasa ingin tahu untuk menyikap pesan-pesan dan peristiwanya merupakan faktor yang paling kuat yang tertanam dalam hati. Namun  suatu nasihat dengan tutur kata yang disampaikan secara monoton, tidak variatif tidak akan mampu menarik perhatian, bahkan semua isinya pun tidak akan mampu dipahami.[4] Akan tetapi bila nasihat itu dituangkan dalam bentuk kisah yang menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan, maka akan dapat meraih apa yang dituju. Orang pun tidak akan bosan mendengarkan dan memperhatikannya, dia akan merasa rindu dan ingin tahu apa yang dikandungnya. Akhirnya kisah itu akan menjelma menjadi suatu nasihat yang mampu mempengaruhinya. Allah SWT menurunkan Alqur’an kepada Nabi Muhammad saw. yang mengandung tuntunan-tuntunan bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, serta kebahagian lahir dan batin. Selain menggunakan cara yang langsung, yaitu berbentuk perintah dan larangan, adakalanya tuntunan tersebut disampaikan melalui kisah-kisah (Qashash), dengan tujuan untuk menjelaskan bantahan terhadap kepercayaan-kepercayaan yang salah dan bantahan terhadap setiap bujukan untuk berbuat ingkar. Oleh karena itu di dalam Alqur’an kita mendapatkan banyak kisah Nabi-nabi, Rasul-rasul dan umat-umat yang terdahulu, maka yang dimaksudkan dengan kisah-kisah itu adalah pengajaran-pengajaran dan petunjuk-petunjuk yang berguna bagi para penyeru kebenaran dan bagi orang-orang yang diseru pada kebenaran.[5] Untuk lebih jelasnya kami akan membahasnya di dalam tulisan ini yaitu tentang qashash Al-Qur’an yang meliputi pengertian qashash Alqur’an, karasteristik pengungkapan kisah dalam Alqur’an, manfaat kisah-kisah dalam Alqur’an dan rahasia pengulangan kisah dalam Alqur’an  

Pengertian Qashash Al-Qur’an

Makna sentral wahyu adalah pemberian informasi secara rahasia. Dengan kata lain wahyu merupakan sebuah relasi atau hubungan komunikasi antara dua pihak yang berisi pemberian informasi, message atau pesan secara samar dan rahasia. Dalam proses komunikasi tersebut “pemberian informasi” dapat berlangsung apabila melalui cara atau kode tertentu,[6] yang mana dapat dipastikan bila konsep kode melekat (inherent) dan kode yang digunakan dalam proses komunikasi tersebut tentulah kode bersama antara pengirim dan penerima sebagai dua pihak yang terlibat dalam proses komunikasi itu.[7] Yang menjadi persoalan adalah bahwa Alqur’an sebagai rangkaian wahyu, dalam konteks dan kondisi kekinian ia bukan lagi sebagai suatu hubungan antara pengirim (Allah) dengan penerima (Muhammad saw.), melainkan telah beralih menjadi hubungan antara pengirim dengan umat sebagai generasi penerima kedua. Terlepas dari hal-hal di atas dan untuk menghindari pembicaraan yang lebih luas maka akan arif manakala kita kembali keinti pembahasan makalah ini yakni pengertian qashash. Kata qashash berasal dari kata al-qashshu yang berarti cerita. Searti dengan tatabbau’ al-atsar pengulangan kembali masa lalu.[8] Qashash juga dapat berarti urutan, berita atau mencari bekasan atau jejak. Dikatakan, “qashashtu atsarahu “ artinya, “saya mengikuti atau  mencari jejaknya.” Kata al-qashash adalah bentuk masdar.[9] Seperti firman Allah:

قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۚ فَارْتَدَّا عَلَىٰ آثَارِهِمَا قَصَصًا

“Dia (Musa) berkata, “itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak semula”. (QS. al-Kahfi: 64). Qashash juga berarti berita yang berurutan. Ini dapat ditemukan Seperti firman Allah:

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ ۚ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

 “Sesungguhnya ini adalah berita yang benar…” (QS. Al-Imran: 62).

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Alquran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (QS. Yusuf: 111) Sedangkan yang menjadi dasar jika kisah dalam Alqur’an adalah kisah yang memang belum diketahui oleh Rasulullah saw. sebelum Alqur’an sendiri menngisahkannya adalah terdapat dalam ayat berikut:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran Ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum Mengetahui”. (QS. Yusuf: 3) Sementara yang dijadikan dasar atau sebagai perintah Allah kepada nabi Muhammad saw. agar menceriterakn kisah-kisah umat atau nabi-nabi terdahulu terdapat beberapa ayat dalam Alqur’an, bahkan disurat Maryam sendiri diulang sebanyak tiga kali, yakni pada ayat 16, 41 dan 51 sebagai berikut:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انْتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا

“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur”. (QS. Maryam: 16)

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا

“Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi”. (QS. Maryam: 41)

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مُوسَىٰ ۚ إِنَّهُ كَانَ مُخْلَصًا وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang Rasul dan nabi”. (QS. Maryam: 51) Adapun dalam  pengertian  terminologi (istilah) Qashash  alquran adalah kisah-kisah atau berita-berita yang pernah terjadi pada masa masa secara berturut-turut atau pemberitaan Alqur’an tentang para Nabi dan Rasul mereka serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang.[10] Berdasarkan pengertian di atas, maka dapatlah kita katakan bahwa kisah-kisah yang dimuat dalam Alqur’an semuanya cerita yang benar-benar terjadi, tidak ada cerita fiksi, khayal, apalagi dongeng. Alqur’an telah bertutur sekian banyak peristiwa masa lampau. Diakui memang bahwa sebagian dari kisah-kisahnya belum dapat dibuktikan kebenarannya hinga saat ini. Kendati demikian tidak wajar menolak kisah-kisah tersebut hanya dengan alasan bahwa kisah itu belum terbukti. Cukup mengherankan memang bila ada orang yang sulit menerima suatu kisah hanya karena mendengar atau membaca rincian kisah tersebut sulit diterima oleh rasio. Karena menurut M. Quraish Shihab apa yang belum terbukti kebenarannya juga belum tentu terbukti kekeliruannya. Oleh karena itu bagi orang-orang yang keberatan terhadap informasi Alqur’an, beliau mengajukan tantangan bahwa silahkan ajukan bukti mengenai kekeliruan informasi Alqur’an tersebut, tentunya dengan sikap dan bukti-bukti yang objektif.[11]

Karesteristik Pengungkapan Kisah-Kisah dalam Al-qur’an

Sastra merupakan karya yang menggunakan bahasa sebagai medianya, dimana hasil kemasannya akan tergantung pada bagaimana cara mengemasnya. Terdapat pengemasan bahasa dengan penekanan pada aspek bunyi dan hasilnya adalah puisi, ada pula pada dialog dan hasilnya adalah teater, selain itu terdapat pengemasan bahasa pada aspek uraian atau deskripsi dan hasilnya adalah kisah, hikayat dan novel.[12] Al-qur’an, dalam hemat penulis justru melampaui semua bentuk pengemasan karya sastra tersebut di atas. Namun tidaklah harus dikatakan bahwa Alqur’an adalah sebuah karya sastra, karena betapapun tingginya nilai bahasa atau stilistika yang dikandung oleh Alqur’an ia harus dipandang sebagai kitab suci  yang memuat petunjuk-petunjuk (hudan) keselamatan di dunia dan akhirat. Sehubungan dengan itu, Alqur’an begitu banyak memuat kisah-kisah masa lalu, yakni termuat dalam 35 surat dan 1.600 ayat.[13] Ini berarti jika kita persentasekan dengan jumlah surat dari Alqur’an maka akan ditemukan kurang lebih 31 persen mendominasi surat-surat yang ada (114 surat) dan menempati kurang lebih 24 % dari surat yang ada. Dalam mengemukakan kisah, Alqur’an tidak segan untuk menceritakan kelemahan manusia. Namun, hal tersebut digambarkan sebagaimana adanya, tanpa menonjolkan segi-segi yang dapat mengundang rangsangan. Kisah tersebut biasanya diakhiri dengan menekankan akibat dari kelemahan diri seseorang yang digambarkannya, pada saat kesadaran manusia dan kemenangannya mengatasi kelemahan itu.[14] Sebagai contoh, kisah Qarun yang diungkapkan dalam Surat Al-Qashash/28: 78-81)

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ

“ Dia (Qarun) berkata, “Sesungguhnya aku beri (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, “Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Tetapi orang-orang yang dianugrahi ilmu berkata,: Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar.” (QS Al-Qashash: 78-81) Pada dasarnya karasteristik pengungkapan kisah dalam Alqur’an dapat dibagi atas 4 kelompok,[15] yakni:
  1. Kisah diawali dengan kesimpulan lalu diikuti dengan uraian kisah yang disajikan secara rinci. Seperti pada kisah Ashab al-Kahfi (pada Q.S. al Kahfi/18: 9-22), dimana kisah ini diawali dengan menunjukkan kesimpulan tentang keajaiban ayat-ayat Allah.
  2. Kisah diawali dengan adegan klimaks lalu dikisahkan rinciannya dari awal hingga akhir. Seperti pada kisah nabi Musa dan Fir’aun dalam Q.S. al Qashash/28: 3-42, yang klimaksnya diawali dengan keganasan Fir’aun.
  3. Kisah tidak diawali dengan pendahuluan namun langsung pada rincian kisah. Pada gaya penuturan seperti ini akan banyak dijumpai kejutan-kejutan. Seperti pada kisah nabi Musa dan Khaidir. Kisah ini termuat dalam Q.S. al Kahfi / 18: 60-82. Atau kisah tentara bergaja pada Q.S. al fîl/105: 1-5, yang mana didahului dengan pertanyaan: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?”
  4. Adegan Kisah disusun seperti adegan-adegan dalam drama seperti kisah nabi Nuh dalam Q.S. Hud/11; 25-49, yang dimulai dengan berita pengutusan Nuh terhadap kaumnya, lalu kemudian terjadi dialog tokoh.
Pada hakikatnya masih banyak kisah-kisah yang termaktub didalam Alqur’an namun ungkapan kisah yang banyak terdapat dalam Alqur’an adalah surat al-Qashash, al-Anbiya, Yusuf.[16] Pada dasarnya tema sentral ayat-ayat yang memuat kisah dalam Alqur’an adalah kisah para nabi dan umat terdahulu. Namun sebenarnya secara perlahan pembaca ataupun pendengar digiring pada ajaran-ajaran agama yang universal.[17] Bagian ini berisikan ajakan para nabi kepada kaumnya; mukjizat-mukjizat dari Allah yang memperkuat dakwah  mereka, sikap orang-orang yang memusuhinya, serta tahapan-tahapan dakwah, dan akibat yang menimpa orang beriman dan orang yang mendustakan para nabi. Contohnya:[18] Kisah Para Nabi Dalam Al-Qur’an
  1. Kisah Nabi Adam (QS.Al-Baqarah : 30-39. Al-Araf : 11 dan lainnya);
  2. Kisah Nabi Nuh (QS.Hud : 25-49);
  3. Kisah Nabi Hud (QS. Al-A’Raf: 65, 72, 50, 58);
  4. Kisah Nabi Idris (QS.Maryam: 56-57, Al-Anbiya: 85-86);
  5. Kisah Nabi Yunus (QS.Yunus: 98, Al-An’am: 86-87);
  6. Kisah Nabi Luth (QS.Hud: 69-83);
  7. Kisah Nabi Salih (QS.Al-A’Raf: 85-93);
  8. Kisah Nabi Musa (QS.Al-Baqarah: 49, 61, Al-A’raf: 103-157) dan lainnya;
  9. Kisah Nabi Harun (QS.An-Nisa: 163);
  10. Kisah Nabi Daud (QS.Saba: 10, Al-Anbiya: 78);
  11. Kisah Nabi Sulaiman (QS.An-Naml : 15, 44, Saba: 12-14);
  12. Kisah Nabi Ayub (QS. Al-An ‘am: 34, Al-Anbiya: 83-84);
  13. Kisah Nabi Ilyas (QS.Al-An’am: 85);
  14. Kisah Nabi Ilyasa (QS.Shad: 48);
  15. Kisah Nabi Ibrahim (QS.Al-Baqarah: 124, 132, Al-An’am: 74-83);
  16. Kisah Nabi Ismail (QS.Al-An’am: 86-87);
  17. Kisah Nabi Ishaq (QS.Al-Baqarah: 133-136);
  18. Kisah Nabi Ya’qub (QS.Al-Baqarah: 132-140);
  19. Kisah Nabi Yusuf (QS.Yusuf: 3-102);
  20. Kisah Nabi Yahya (QS.Al-An’am: 85);
  21. Kisah Nabi Zakaria (QS.Maryam: 2-15);
  22. Kisah Nabi Isa (QS.Al-Maidah: 110-120);
  23. Kisah Nabi Muhammad (QS.At-Takwir: 22-24, Al-Furqan: 4, Abasa: 1-10, At-Taubah: 43 -57 dan lainnya.
Kisah yang berhubungan dengan kejadian pada masa lalu dan  orang-orang yang tidak disebutkan kenabiannya
  1. Kisah tentang Luqman (QS.Luqman: 12-13);
  2. Kisah tantang Dzul Qarnain (QS. Al-Kahfi: 83-98);
  3. Kisah tentang Ashabul Kahfi (QS.Al-Kahfi: 9-26);
  4. Kisah tentang thalut dan jalut (QS.Al-Baqarah: 246-251);
  5. Kisah tentang Yajuj Ma’juj (QS.Al-Anbiya: 95-97);
  6. Kisah tentang bangsa Romawi (QS.Ar-Rum: 2-4).
  7. Kisah-kisah yang terjadi pada masa Rasulullah
  8. Kisah tentang Ababil (QS.Al-Fil: 1-5);
  9. Kisah tentang hijrahnya Nabi SAW (QS.Muhammad: 13);
  10. Kisah tentang perang Badar dan Uhud (QS. Ali Imran);
  11. Kisah tentang perang hunain dan At-Tabuk (QS. Taubah).
Ketika Ahli Kitab masuk Islam, mereka masih membawa pengetahuan keagamaan mereka berupa cerita dan kisah keagamaan. Di saat membaca kisah-kisah dalam Alqur’an, terkadang mereka memaparkan kisah itu seperti yang terdapat dalam kitab-kitab mereka. Oleh karena itu para sahabat cukup berhati-hati terhadap kisah-kisah yang mereka bawakan itu. Berita-berita yang diceritakan Ahli Kitab yang masuk Islam itulah yang dinamakan isra’iliyyat.[19]

Manfaat Mempelajari Kisah-Kisah dalam Alqur’an

Kisah-kisah dalam  Alqur’an secara umum bertujuan kebenaran, seperti ungkapan kisah di atas. Jika di lihat dari keseluruhan  kisah yang ada maka banyak faedah yang terdapat dalam qashash Alqur’an sebagaimana yang diutarakan Ahmad Izzan:[20]
  1. Menetapkan keberadaan wahyu dan kerasulan
  2. Menerangkan bahwa semua agama yang dibawa para nabi berasal dari Allah dan Allah yang Maha Esa merupakan Tuhan bagi semuanya.
  3. Menerangkan bahwa semua agama (samawi) dasarnya hanya satu, itu semua beasal dari Tuhan Yang maha Esa
  4. Menerangkan bahwa cara yang ditempuh oleh para nabi-nabi dalam menjalankan dakwahnya hanya satu jalan dan sambutan mereka terhadap dakwah itu serupa Menerangkan dasar yang sama antara agama nabi Muhammad saw. dan agama yang digagas nabi Ibrahim serta menjelaskan hubungan yang erat  antara semua agama samawi itu.
Sedangkan manfaat qashash yang lain adalah untuk menanamkan fitrah manusia yang cendrung menyenangi kisah atau cerita dan cara untuk mengusir kebosanan sehingga inti dari kisah yang diceritakan tersampaikan.

Rahasia Pengulangan Kisah dalam Al-qur’an

Al-Qur’an banyak mengandung kisah-kisah yang diungkapkan secara berulang kali di beberapa tempat. Sebuah kisah terkadang berulang kali disebutkan dalam Al-Qur’an dan dikemukakan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Demikian pula terkadang dikemukakan secara ringkas dan kadang-kadang secara panjang lebar, dan sebagainya. Menurut Muhammad Sa’id Ramadhan al Bût~î dalam Syihabuddin Qalyubi bahwa pengulangan kisah dalam Alqur’an bukanlah pengulangan yang meliputi seluruh bagian kisah, namun hanya bagian-bagian tertentu saja. Bila di kaji lebih mendalam pengulanga tersebut terjadi dalam tiga macam yaitu pengulangan alur kisah dengan tokoh yang berbeda, pengulangan kisah dengan kronologi yang berbeda, serta pengulangan kisah dengan gaya yang berbeda.[21] Minimal terdapat dua aspek yang terangkum dalam repetisi kisah dalam Alqur’an yaitu aspek gaya dan aspek kejiwaan, dimana pengulangan kisah pengulangan kisah akan berdampak pada seni penggambaran dan seni pemilihan lafal yang berbeda. Lafal yang berbeda akan berdampak pada penghindaran dari kejenuhan dan ini tentu berdampak pula pada kejiwaan seseorang.[22] Namun penulis lebih jauh lagi melihat bahwa pengulangan/repetisi kisah dalam Alqur’an justeru menjadi i’jaz tersendiri bagi Alqur’an karena hingga saat ini tak satupun penulis sastra dunia yang mampu menandingi gaya yang ditampilkan Alqur’an yang sekalipun kerap mengulang kisah namun tetap memberikan nuansa tersendiri bagi pembacanya. Catatan Kaki [1] Keotentikan Alqur’an adalah salah satu yang sangat dibanggakan umat Islam dari dahulu hingga saat ini dan merupakan warisan paling terpenting dan paling berharga. Sekalipun Alqur’an yang dikenal saat ini rasm Utsman bin Affan, akan tetapi, meskipun demikian Alqur’an yang kita kenal saat ini tidak begitu saja muncul sebagai sebuah karya besar yang hampa melainkan lahir dari sebuah proses panjang yang telah dilaluinya. Lihat Said Agil Husain al Munawar, Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, (cet. III; Jakarta: Ciputat Press, 2004), h. 14 [2] Issa J. Boullata, I’jaz al-Qur’an al-Karim Abra at-T~arikh, edisi Indonesia oleh Bachrum B., dkk. Al-Qur’an Yang Menakjubkan, (cet. I. Tangerang: Lentera hati, 2008), h. 5 [3] Lihat Syihabuddin Qalyubi, Stilistika Al-Qur’an, Makna Di Balik KisahIbrahim, (Cet. I; Yogyakarta; LkiS, 2009), h. 2 [4] Ibid., h. 1 [5] Baca John Renard, Seven Doors to Islam. Diterjemahkan oleh M Khoirul Anam, Dimensi-Dinensi Islam, (Cet. I; Jakarta: Inisiasi Press, 2004) h. 96-99 [6] Kode yang penulis maksudkan adalah kode yang bermakna ganda yang merupakan isi dari suatu pesan-wahyu dan dapat ditangkap atau dipahami lewat pemaknaan teks. Hal ini dapat ditemukan dalam puisi sebagaimana pula dapat ditemukan dalam Alqur’an, karena Alqur’an sendiri (meskipun ditolak oleh sebagian pengkaji seperti al Baqillani) merupakan kitab suci yang mengandung nilai sastra dengan stilistika bahasa yang demikian tinggi sehingga membutuhkan keahlian khusus untuk memahami makna-makna yang terkandung dalam teks-teks atau ayat-ayat Alqur’an. Lihat Nasr Hamid Abu Zaid, Mafhum an-Nash Dirasah fi Ulum Al-qur’an, diterjemahkan oleh Team LKiS, Tekstualitas Al-Qur’an Kritik terhadap Ulumul Qur’an, (Cet. IV; edisis revisi, Yogyakarta: LkiS, 2005), h. 30. Bandingkan dengan  Syihabuddin Qalyubi, op.cit., h. 1 [7] Ibid. [8] Ahmad Izzan, Ulumul Quran, Telaah Tekstualitas dan Kontekstualitas Alquran, (cet. III, Bandung: Tafaqur, 2009), H. 212 [9] M. Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-Ilmu Al Qur-an, (Cet. III; Jakarta: Bulan Bintang, 1993) h. 187 [10] Ahmad Izzan, loc.cit. [11] M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Quran: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaan Gaib, (Cet. IV; Bandung: Mizan, 1998), h. 195-196 [12] Syihabuddin Qalyubi, op.cit., h. 9 [13] A. Hanafi dalam Syihabuddin Qalyubi, ibid. [14]http://istanailmu.com/2011/04/12/qashash-kisah-kisah-dalam-alquran/html, download hari rabu, 05/10/2011. [15]Lihat Syihabuddin Qalyubi, op.cit., h. 25-28. Lihat pula Ahmad Izzan, op. Cit., h. 213-218. [16] Untuk kelengkapan surat-surat yang memuat kisah dalam Alqur’an lihat pada lampiran [17] Syihabuddin Qalyubi, ibid. [18] http://istanailmu.com/2011/04/12/qashash-kisah-kisah-dalam-alquran/html [19] Ahmad Izzan, op.cit., h. 232 [20] Ibid., h. 219-220 [21] Ibid., h. 29 [22] Ibid.