Ilmu Asbabun Nuzul: Memahami Sebab-Sebab Turunya Ayat Al-Qur’an

0

Ilmu Asbabun Nuzul: Memahami Sebab-Sebab Turunya Ayat Al-Qur’an

Oleh: Sirajuddin

Al-Quran yang terdiri dari 114 surah dan susunanya ditentukan oleh Allah swt. dengan cara tauqifi, tidak menggunakkan metode sebagaimana metode-metode penyusunan buku-buku ilmiah. Metode ini tidak terdapat dalam al-Quran al-karim yang di dalamnya banyak persoalan yang silih- berganti ditengakkan. Turunya ayat-ayat al-Quran bukan berarti tanpa latar belakang historis meskipun tidak semua ayat, akan tetapi sebagian ayat turun karena latar belakang tertentu[1]. Seperti yang telah kita pahami merupakan suatu keniscayaan sesuatu yang terjadi atau tercipta mesti ada penyebabnya. Itu merupakan sunatullah di alam ini[2] Begitu pula ayat-ayat al-Quran yang Allah turunkan juga ada sebab-sebab turunya, dapat kita banyangkan betapa sulitnya para ulama dalam memahami dan menafsirkan ayat-ayat al-Quran tanpa mengetahui Asbabun Nuzulnya. Asbab al-nuzul merupakan pembantu ilmu tafsir dalam menetapkan ta’wil yang lebih tepat dan tafsir yang lebih benar bagi ayat-ayat al-Quran . Oleh karena itu mempelajari, memahami, dan mengkaji asbabun nuzul menjadi penting. Pendapat ahli tafsir tidaklah dapat menguraikan segala kesimpulan dan tidaklah pula dapat menerangkan muthasyabihat sebagai mana tidak dapat menjelaskan yang mujmal Juga sangatlah relevan apa yang dikatakan oleh al-wahidy yang dikutip al-Shuyutiy.

لا يمكن معرفة تفسير الاية دون الوقوف على قصتها وبيان نزولها

Tidak mungkin menafsirkan ayat (Al-Quran) tanpa mengetahui kisah dan penjelasan sebab turunnya Epistimologi tersebut melatarbelakangi ulama klasik  (terutama mufasir bil ma’tsur ) meletakan ilmu asbabun nuzul sebagai ilmu penting diantara ilmu-ilmu al-Quran. Dalam perkembangan tafsir, perhatian terahadap ilmu asbab al-nuzul mengalami dinamisasi. Meskipun dikalangan umat Islam banyak yang masih mempertahankan epitimologi klasik, tetapi ada yang mencoba merekontruksi bahkan mengkritisi ilmu asbab al-nuzul tersebut terutama dari pemikir kontemporer. Persoalan  akidah kadang bergandengan dengan persoalan hukum dan kritik, sejarah umat-umat yang lalu disatukan dengan nasehat, ultimatum, dorongan atau tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam. Terkadang pula ada suatu persoalan atau hukum yang diterangkan tiba-tiba timbul persoalan lain yang pada pandangan pertama tidak ada hubungnannya antara satu dengan yang lain. Misalnya apa yang terdapat dalam Q.S. al-Baqarah ayat: 216-221,  yang mengatur hukum perang berurutan dengan hukum minuman keras, perjudian, persoalan anak yatim dan perkawinan dengan orang-orang musyrik. Hal demikian itu dimaksudkan agar memberikan  kesan bahwa ajaran-ajaran al-Quran dan hukum-hukum yang tercakup di dalamnya merupakan satu  kesatuan  yang harus ditaati oleh penganutnya secara  keseluruhan tanpa ada pemisahan antara satu dengan yang lainnya.  

Periode Pertama Turunya Al-Qur’an

Diketahui bahwa Muhammad saw, pada awal turunnya wahyu pertama (iqra’), belum dilantik menjadi Rasul. Dengan wahyu pertama itu, beliau baru merupakan seorang nabi yang tidak ditugaskan menyampaikan apa yang sudah diterima. Baru setelah turun wahyu yang kedualah baru beliau ditugaskan menyampaikan wahyu-wahyu yang diterimanya, dengan adanya firman Allah: “ Wahai yang berselimut, bangkit dan berilah peringatan.” (QS Al- Mudatsir : 1-2). Kemudian setelah itu kandungan wahyu ilahi berkisar dalam tiga hal:
  1. Pendidikan bagi rasulullah saw,dalam membentuk kepribadiannya. Perhatikan firmannya: Wahai orang yang berselimut, bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkanlah kotoran(syirik). Janganlah memberikan sesuatu dengan mengharap menerima lebih banyak darinya, dan sabarlah engkau melaksanakan perintah-perintah Tuhanmu” (QS 74: 1-7). Perintah ini disebabkan karena Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu wahyu yang sangat berat (QS 73: 5). Demikian ayat-ayat yang merupakan bimbingan beliau demi suksesnya dakwah.
  2. Pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai sifat dan af’al Allah, karena yang mengetahuinya dengan sebenarnya akan mengetahui pula persoalan-pesoalan tauhid dan tanzih (penyucian) Allah swt.
  3. Keterangan mengenai dasar-dasar Islamiah, serta bantahan-bantahhan secara umum mengenai pandangan hidup masyarakat jahiliyyah ketika itu. Periode ini berlangsung sekitar 4-5 tahun dan telah menimbulkan bermacam-macam reaksi di kalangan masyarakat Arab ketika itu. Reaksi-reaksi tersebut nyata dalam tiga hal pokok:
  • Segolongan kecil dari mereka menerima dengan baik ajaran al-Quran.
  • Sebagian besar dari masyarakat tersebut menolak ajaran al-Quran, karena kebodohan mereka (QS 21 : 24 ), keteguhan mereka mempertahankan adat dan tradisi nenek moyang mereka (QS 43 : 22) atau karena adanya maksud-maksud tertentu dari satu golongan.
  • Dakwah al-Quran mulai melebar melampaui perbatasan Makkah menuju daerah-daerah sekitarnya.

Periode Kedua Turunya Al-Qura’n

Peride kedua dari sejarah turunnya al-Quran berlangsung selama 8-9 tahun, dimana terjadi pertarungan hebat antara gerakan Islam dan Jahiliyah. Gerakan oposisi terhadap Islam menggunakan segala cara dan sistem untuk mengahalangi kemajuan dakwah Islamiah. Dimulai dari fitnah, intimidasi dan penganiayaan, yang mengakibatkan para penganut ajaran al-Quran  pada waktu itu hijrah ke Habsyah dan para akhirnya mereka semua termasuk Rasulullah saw. berhijrah ke Madinah. Pada saat tersebut ayat al-Quran, di satu pihak silih berganti turun menerangkan kewajiban-kewajiban prinspil  penganutnya sesui dengan kondisi dakwah ketika itu, sepeti :  Ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu (agama) dengan hikmah dan tuntunan yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang sebaik-baiknya (QS 16 : 125)

Periode Ketiga Turunnya Al-Qura’an

Selama masa periode ini dakwah al-Quran telah dapat mewujudkan suatu prestasi besar kerena penganut-penganutnya telah dapat hidup bebas melaksanakan ajaran-ajaran agama Yatsrib  (yang kemudian diberi nama dengan  al-madinah al-munawwarah).periode ini berlangsung selama 10 tahun, di mana timbul bermcam-macam peristiwa, problem dan persoalan,seperti: , Prinsip-prinsip apakah yang harus diterapkan dalam masyarakat demi mencapai kebahagiaan, bagaimana menhadapi sikap-sikap orang-orang munafik, sehingga hal ini diterangkan dalam al-Quran sebagai berikut: “tidakkah sepatunya kamu sekalian memerangi golongan yang mengingkari janjinya dan hendak mengusit Rasul, sedangkan merekalah yang memerangi peperangan. Apakah kamu takut kepada mereka?. Sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditakuti jika kamu sekalian benar-benar  orang yang beriman. Perangilah! Allh akan menyiksa mereka dengan perantaraan kamu sekalian serata menghina-rendahkanmereka; dan Allah akan menerangkan kamu semua serta memuaskan hati segolongan orang-orang beriman “.(Q.S. 9: 13-14). Uraian di atas menunjukkan bahwa ayat-ayat al-Quran di sesuaikan dengan keadaan masyarakat saat itu.

Pengertian Asbabun Nuzul

Menurut bahasa (etimologi), asbabun nuzul berarti turunnya ayat-ayat al-Quran[3] dari kata “asbab” jamak dari “sababa” yang artinya sebab-sebab, nuzul yang artinya turun. Yang dimaksud disini adalah ayat al-Quran. Asbab al-nuzul adalah suatu peristiwa atau saja yang menyebabkan turunnya ayat-ayat al-Quran baik secara langsung atau tidak langsung. Menurut istilah atau secara terminologi asbabun nuzul terdapat banyak pengertian, diantaranya : Menurut Az-Zarqani“Asbabun nuzul adalah hal khusus atau sesuatu yang terjadi serta hubungan dengan turunnya ayat al-Quran yang berfungsi sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi”. Menurut Ash-Shabuni, “asbabun nuzul adalah peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan peristiwa dan kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama”. Subhi Shalih

ما نزلت الآية اواآيات بسببه متضمنة له او مجيبة عنه او مبينة لحكمه زمن وقوعه

“Asbabun Nuzul adalah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat Al-Quran yang terkadang menyiratkan suatu peristiwa sebagai respon atasnya atau sebagai penjelas terhadap hukum-hukum ketika peristiwa itu terjadi”.[4] Mana’ al-Qathan

مانزل قرآن بشأنه وقت وقوعه كحادثة او سؤال

“Asbabun nuzul adalah peristiwa yang menyebabkan turunnya Al-Quran berkenaan dengannya waktu peristiwa itu terjadi, baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi”[5]. Nurcholis Madjid Menyatakan bahwa asbab al-nuzul adalah konsep, teori atau berita tentang adanya sebab-sebab turunnya wahyu tertentu dari Al-Quran kepada Nabi saw baik berupa satu ayat, satu rangkaian ayat maupun satu surat [6].

Macam-macam Bentuk Asbabun Nuzul

Dipandang dari segi peristiwa nuzul-nya, ayat Al-Quran ada dua macam:  pertama, ayat yang diturunkan tanpa ada keterkaitannya denagan sebab tertentu, tetapi semata-mata sebagai hidayah bagi manusi. Kedua, ayat Al-Quran yang diturunkan lantaran ada sebab atau kasus tertentu. Para pakar ilmu-ilmu Al-Quran, misalnya Syekh Abdul al-‘Azhim al-Zarqaniy dalam manahil al-Irfannya mendefinisikan Asbab al-Nuzul sebagai berikut: Kasus atau Sesutu yang terjadi yang ada hubungannya dengan turunnya ayat, atau ayat-ayat Al-Quran sebagai penjelasan hukum pada saat terjadinya kasus. Karena pada hakikatnya Rasulullah s.a.w hanyalah sebagai pembawa risalah. Beliau tidak memegang otoritas untuk menetapkan suatu hukum syari’at. Hukum itu sendiri datang dari Allah swt.melalui wahyu yang dibawa oleh malaikat jibril.[7] Menurut Imam al-Ja’bari mengatakan bahwa nuzul al-Quran (turunnya al-Quran) itu terbagi menjadi dua bagian : satu turun sejak awal (tidak ada sebab musababnya), sedangkan bagian yang lainnya itu turun disertai dengan adanya peristiwa atau adanya pertanyaan. Dalam bagian yang kedua inilah terdapat beberapa masalah.[8] Ada pula yang mengatakan bahwa asbabun nuzul itu dibagi dalam dua bentuk, yaitu : Terjadinya suatu peristiwa, lalu turun ayat untuk menjelaskannya. Contohnya, adalah peristiwa yang dilaporkan oleh Ibn Abbas bahwa pada suatu hari Nabi Muhaammad s.a.w. naik ke atas bukit Safa lalu menyeru manusia, “Wahai manusia di pagi ini berkumpullah.” Setelah mereka berkumpul, Nabi s.a.w. berkata, “bagaimana pendapat kalian bila saya beritahukan bahwa ada musuh yang datang dari balik buki itu, kalian percayakah kepada saya ?” Mereka memjawab, Kami tidak pernah mengetahui engkau berdusta. Adanya pertanyaan yang diajukan kepada Nabi s.a.w. lalu turun ayat untuk menjawabnya. Misalnya, pertanyaan seorang perempuan bernama Khaulah binti Sa’labah kepada Nabi s.a.w. bahwa suaminya, Aus bin as-Samit telah men-zihar-nya, yang berarti mereka harus cerai.[9] Jadi dari beberapa paendapat para ulama di atas, jelaslah bahwa turunnya ayat al-Quran dilatarbelakangi oleh beberapa peritiwa atau sebab sehingga turunlah ayat atau wahyu dari Alla s.w.t. untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi oleh nabi Muhammad s.a.w. dalam mwnjalankan risalahnya atau perintah Allah s.w.t.

Manfaat Memahami Ilmu Asbabun Nuzul dalam Proses Penetapan Hukum

Beberapa urgensi abbab al-nuzul dalam memahami al-Quran dan kaitannya dalam menetapkan hukum, dapat dilihat sebagai berikut :
  1. Penegasan bahwa Al-Quran benar-benar dari Allah SWT
  2. Penegasan bahwa Allah benar-benar memberikan perhatian penuh pada rasulullah saw dalam menjalankan misi risalahnya.
  3. Penegasan bahwa Allah selalu bersama para hambanya dengan menghilangkan duka cita mereka
  4. Sarana memahami ayat secara tepat.[10]
  5. Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum
  6. Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam al-Quran
  7. Mengidentifikasikan pelaku yang menyebabkan turunnya ayat al-Quran
  8. Memudahkan untuk menghafal dan memahami ayat serta untuk memantapkan wahyu di hati orang yang mendengarnya.[11]
  9. Mengetahui makna serta rahasia-rahasia yang terkandung dalam al-Quran.[12]
  10. Seorang dapat menentukan apakah ayat mengandung pesan khusus atau umum dan dalam keadaan bagaimana ayat itu mesti diterapkan.
Penerapan asbabun nuzul  dalam penafsiran al-Quran adalah untuk lebih memahami ayat dan menghilangkan keraguan, disamping itu untuk menghindari kesan adanya pembatasan secara mutlak terhadap suatu ayat. Penerapan asbabun nuzul sifatnya sangat kasusistik dan tidak bisa diterapkan untuk semua ayat al-Quran. Penerapan asbab al-nuzul  yang sangat terbatas dikalangan ulama menimbulkan kesan ambigu. Di satu sisi kegunaan asbab al-nuzul diakui oleh mayoritas ulama, namun di sisi lain penerapannya sangat kasusistik. Minimnya peran asbab al-nuzul  dalam penafsiran. al- Qur’an disebabkan asbabun nuzul lebih dipahami dalam konteks mikro, sehingga ruang lingkup pembahasannya Penerapan asbab al-nuzul  dalam penafsiran al-Quran adalah untuk lebih memahami ayat dan menjadi sangat terbatas. Selain itu juga disebabkan oleh kebiasaan ulama berpegang pada kata-kata yang umum dan bukan sebab yang khusus (al-ibrah bi ‘umum al-lafd laa bi khusus as sabab). Memegangi keumuman kata dan mengabaikan kekhususan sebab pada semua teks al-Quran menghasilkan pemikiran yang sulit diterima. Akibat yang serius adalah munculnya penghancuran terhadap hikmah pentasyrián secara bertahap dalam masalah halal-haram, terutama berkaitan makanan dan minuman, selain itu juga mengancam hukum itu sendiri. Kajian asbabun nuzul di samping meneliti fakta sejarah dibalik suatu ayat, juga mengetahui hikmah pentasyrián ayat-ayat hukum. Hikmah pentasyrián tidak akan nampak jika keumuman kata tetap dijadikan pegangan. Ayat-ayat mengenai pelarangan khamr yang diturunkan secara bertahap merupakan ilustrasi betapa pentingnya kekhususan sebab. Ayat-ayat tersebut adalah :
  1. Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah keduanya mengandung dosa besar dan manfaat bagi orang banyak, namun dosanya lebih besar dari pada manfaatnya (QS. al-Baqarah (2): 219).
  2. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendekati shalat sementara kalian dalam keadaan mabuk, hingga kalian mengetahui apa yang kalian katakan (QS. an-Nisa’ (4): 43).
  3. Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berkurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Oleh karena itu jauhilah, semoga beruntung. Setan hanyalah ingin menimbulkan permusuhan dan saling membenci diantara kamu melalui khamr dan judi, dan setan ingin menghalangi kalian dari ingat kepada Allah dan shalat. Oleh karena itu, apakah kalian bersedia menghentikannya? (QS. al-Maidah (5): 90-91).
Ayat pertama tentang khamr (QS. al-Baqarah (2): 219) turun dalam kondisi masyarakat yang begitu keras memegangi manfaat khamr, kemudian ditanamkan pemahaman dalam benak mereka tentang manfaat dan dosanya dengan penegasan bahwa dosanya lebih besar. Ayat kedua (QS. an-Nisa’ (4): 43) mencoba mengurangi intensitas minum khamr dengan larangan meminum khamr sebelum masuk waktu shalat. Kondisi masyarakat saat itu adalah minum khamr hampir sepanjang hari. Pengharaman khamr baru dilakukan dengan turunnya QS. al-Maidah (5): 90-91. Apabila keumuman kata dijadikan pegangan, boleh jadi orang akan mengambil ayat yang pertama atau yang kedua. Akibatnya sangat membahayakan. Dari uraian tersebut juga menunjukan fungsi asbab al-nuzul  sebagai penjelas hikmah pentasyrián hukum.

Faedah Mengetahui Ilmu Asbab Al-Nuzul

Beberapa pakar ‘Ulum Al-Quran,misalnya al-Zarqaniy dan al-Suyuthiy, mensinyalir adanya sementara kalangan yang beranggapan bahwa mengetahui Asbab al-Nuzul tidak ada gunanya. Hal itu dianggapnya tidak lebih daripada sejarah turnnya ayat yang tidak ada kaitannya dengan pemahaman al-Quran. Anggapan semacam ini, oleh kebanyakan ulama termasuk diantaranya Ibnu Taimiyah yang mendalami ilmu-ilmu al-Quran, dinilai sebagai pandangan yang keliru. Karena bayak sekali yang dibantu oleh pemahaman Asbab al-Nuzul itu di di dalam upaya memahami al-Quran.  Faedah-faedah itu diantaranya:
  1. Membantu di dalam memahani, sekaligus mengatasi ketidakpastian di dalam menangkap ayat-ayat Al-Quran.
  2. Mengatasi kerguan terhadap ayat yang diduga mengandung pengertian umum.
  3. Untuk menjernihkan dan meluruskan persoalan di dalam memahami ayat Al-Quran.
Di satu sisi mengetehui sebab memiliki beberapa feadah antara lain :
  1. Mengetahui hikmah di balik pensyariatan hukum.
  2. Menghususkan hukum dengan sababun al-nuzul. Ini berlaku bagi orang yang berpendapat bahwa “Al-‘ibrah bi khususis sabab”.
  3. Sesungguhnya lafadz itu biasa jadi bersifat umum, dan ada dalil yang berfungsi untuk men-takhshis (menghususkannya). Apabila sebab itu diketahui maka takhshis (penghususan) itu hanya terbatas pada sesautu yang digambarkan.
  4. Mendapatkan makna yang dimaksud dan menghilangkan isykal (sesuatu yang sulit).
  5. Menghindarkan kesalahpahaman terhadap adanya pembatasan dalam ayat.
  6. Mengenal nama kepada siapakah ayat itu diturunkan dan menentukan yang mubham atau yang belum jelas pada ayat itu.[13]
Dalam pandangan lain asbab al-nuzul mempunyai arti penting dalam memahami al-Quran. Seseorang tidak akan mencapai pengertian yang baik jika tidak memahami riwayat asbab al-nuzul suatu ayat. Al-Wahidi (w. 468/1075), seorang ulama klasik dalam bidang ini mengemukakan : “Pengetahuan tentang tafsir dan ayat-ayat tidak mungkin, jika tidak dilengkapi dengan pengetahuan tentang pristiwa dan penjelasan yang berkaitan dengan diturunkan suatu ayat.”[14] Al-Wahidi (w. 468/1075) mengatakan ; fungsi mengetahui asbab al-nuzul antara lain sebagai berikut : Mengetahui hikmah dan rahasia diundangkannya suatu hukum dan perhatian syara’ terhadap kepentingan umum, tanpa membedakan etnik, jenis kelamin, dan agama. Megetahui asbab al-nuzul membantu memberikan kejelasan terhadap beberapa ayat. Pengetahuan asbab al-nuzul dapat menghususkan (takhshish) hukum terbatas pada sebab, terutama ulama yang menganut kaidah “sabab khusus” (khusushis al-sabab). Yang paling penting ialah asbabun nuzul dapat membantu memahami apakah suatu atyat ayat berlaku umum atau berlaku khusus, selanjutnya dalam hal apa ayat diturunkan. Maksud yang sesungguhnya suatu ayat dapat dipahami melalui pengenalan asbab al-nuzul.[15]18 Dalam hal ini para ulama ushul berbeda pendapat tentang: “Hal al-‘brah bi ‘umumil lafdzi au bikhushusis sabab” ?. Artinya: apakah yang diambil sebagai pedoman suatu hukum itu berdasarkan ‘umumil lafdzi (lafadznya secara umum), atau kerena sebab tertentu ?. Yang lebih tepat menurut ulama ushul adalah yang pertama. Telah turun beberapa ayat dengan sebab turunnya, tetapi para ulama telah sepakat secara penerapan ayat-ayat itu tidak hanya tebatas pada sebab-sebab turunya saja tetapi juga pada yang lainnya. Misalnya, Imam Zamakhsyari mengatakan tentang surah al-humazah, “boleh saja sebab turunnya surat ini bersifat khusus, tetapi ancaman yang ada pada surat ini bersifat umum, agar setiap orang yang melakukan perbuatan yang buruk seperti itu juga akan mengalami nasib yang sama, dan agar hal tersebut juga berlaku atau berfungsi sebagai sindiran”. Imam Suyuthi berpendapat bahwa di antara dalil yang menunjukan bahwa konteks secara umum itu dijadikan sebagai standar hukum adalah berbdalilnya sahabat Nabi dan selain mereka dalam bebagai peristiwa yang ada dengan konteks umum dari ayat-ayat yang turun bedsarkan sebab-sebab tertentu. Hal itu telah menjadi kebiasaan yang beredar secara umum di antara mereka. Terdapat riwayat dari Ibn Abbas yang menunjuk tentang “I’tibar al-Umum”: sesungguhnys Ibnu abbas mengatakan tentang ayat as-saryqah, bahwa ayat itu turun berkenaan dengan seorang wanita yang mencuri. Ibnu Taimiyah berkata, “berkenaan dengan hal ini banyak kita dapatkan mereka(para ulama (Al-Quran) sebagai berikut: ayat ini turun pada persoalan begini, terutama hal yang disebutkan itu adalah orangnya, seperti perkataan mereka: ‘sesungguhnya ayat zihar itu turun berkenaan dengan istri tsabit bin Qais, dan sesungguhnya firman Allah: ‘wa anihkum bimaa anzalallah…’(Q.s. al-Maidah: 49) turun berkenaan dengan bani Quraidhah dan bani an-Nadhir’, serta hal-hal yang serupa dengan itu dari berbagai riwayat yang disebutkan bahwa itu diturunkan berkenaan dengan suatu kaum dari orang-orang musyrik di Makkah atau kaum Yahudi dan Nasrani atau  pada kaum yang beriman. Telah disebutkan di atas bahwa bentuk dari sababun nuzul itu bersifat qath’iyyatud dukhul fi al-‘am (sesuatu yang harus masuk atau termasuk di dalam konteks umum). Jadi kadang-kadang ayat itu diturunkan berdasarkan sebab-sebab yang khusus sementara ia diletakkan bersamaan dengan ayat-ayat yang umum dalamrangka memerhatikan sususnan Al-Quran dan keindahan untaian kalimat-kalimatnya,sehingga yang khusus itu lebih dekat dari bentuk sebab dalam kaitannya bahwa ia masuk di dalam yang unmum secara pasti. Dengan demikian kita akan lebih teliti dan jauh dari kekeliruan ketika memahami persoalan atau makna yang terkandung di dalam  ayat Al-Quran.     Catatan Kaki [1]Quraisy Shihab, Membumikan al-Quran  Cet; xxxi, Bandung: Mizan, 2007, h.88. [2]Tengku Muhammad hasbi al-shidiqi, Ilmu Al-Quran ; Ilmu-Ilmu Pokok Dalam Penafsiran Al-Quran, Semarang: Pustaka Rizki, 2002, h.13. [3] Rosihan Anwar, Ulum al-Quran, Bandung: Pustaka Setia, 2008, h. 60. [4]Subhi al-shalih, Mabahits fi’ulum al-Quran, Dar al-Qalam li al-Malayyin, Beirut, 1988, h. 132. [5]Mana’ al-Qathan, Mabahits fi Ulumul Qur’an, Mansyurat al-Ahsan al-Hadits, t.tp., 1973, h. 78. [6]Moh. Ahmadehirjin, al-Quran dan Ulumul Qur’an, Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Primayasa, 1998, h. 30. [7]Jalaluddin as-suyuthi,al-itqon fi ‘Ulum al-Quran, Dar al-Fikr, Beirut. [8]Imam Suyuthi, Studi Al-Quran Komprehensif (Al-Itqan fi Ulumil Qur’an), Solo: Indiva Pustaka, 2008, h. 123. [9]Departemen Agama Islam RI, Mukadimah al-Quran dan tafsirnya (Edisi yang disempurnakan),Jakarta: Departemen Agama Islam RI. 2009, h. 229. [10]Muhammad ibn Shaleh al-Utsaimin, Dasar-dasar Penafsiran al-Quran, Semarang: Dina Utama, 1989, h. 14-16. [11]Dr. Rosihon Anwar, op.cit., h. 64-66. [12]Allamah M.H. Thaba’thaba’i, Mengungkap Rahasia Al-Quran, (Bandung: Mizan, 1987), h. 121. [13]Imam Suyuthi, Studi Al-Quran Komprehensif (Al-Itqan fi Ulumil Qur’an). Op.cit, 2008, h. 126. [14]Tim Penulis, Sejarah dan Ulum al-Quran ,Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008, h. 79. [15]Ibid. h. 81.

Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud

0

Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud

Oleh: Wahidatul Bahiro   

Aunul Ma’bud adalah nama kitab karangan Abu al-Tayyib Muhammad Syams al-Haqq bin Amir ‘Ali bin Maqsud ‘Ali al-Siddiqi al-‘Adzim Abadi yang merupakan salah satu syarh  dari  Sunan Abu Daud karya Abu Daud al-Sijistani. Abu al-Tayyib lahir pada akhir bulan Dzulqa’dah 1273 H dan wafat 11 Rajab 1320 H waktu maghrib di Tha’un.[1] Sebagai seorang ulama, beliau pernah pergi ke Dihli untuk berguru pada Syaikh Nadzir Husain al-Dihlawi, kemudian kembali ke negara asal beliau tahun 1302 H. Selang beberapa waktu kemudian Abu Tayyib kembali lagi ke Dihli untuk ke dua kalinya serta menetap di sana selama tiga tahun dan belajar dari Syaikh Nadzir Husain al-Dihlawi  Kutub al-Sittah, Muwatta’, Sunan al-Darimi, Dar al-Qutni, dan Tafsir Jalalain. Setelah merasa cukup dan telah menguasai beberapa Ilmu Kitab, Sunnah, serta Ilmu lain yang berhubungan dengannya, Abu al-Tayyib kembali ke negara beliau (Diyanwan) guna mengamalkan ilmu yang telah beliau kuasai. Selain berguru pada Syaikh Nadzir Husain al-Dihlawi, Abu Tayyib juga pernah berguru pada Syaikh Husain bin Mahsin al-Anshari, Luthfi al-‘Ali al-Bahari, Nur Ahmad al-Diyanwi, Fadhlullah al-Luknawi, Basyiruddin al-Qinwaji, Abdullatif al-Siddiqi, dan masih banyak lagi guru-guru beliau yang lain. Sedang murid beliau sangat banyak dan mayoritas tersebar di Kairo Hindia, adapun murid beliau yang amat tersohor adalah Syaikh Muhammad Abdurrahman al-Mibarkafuri (pengarang Tuhfatul Ahwadzi). Abu al-Tayyib merupakan salah satu dari sekian banyak pembesar ahli hadis di Hindia yang memperjuangkan pergerakan Sunnah dan Salaf, disamping itu beliau juga termasuk salah satu orang terkemuka di Lebanon. Adapun kitab-kitab karangan beliau amatlah banyak yang diantaranya adalah sebagai berikut:
اسم الكتاب رقم اسم الكتاب رقم
تنقيح المسائل (مجموع الفتاوى له). 9 غاية المقصود في حل سنن أبي داود. 1
إعلام أهل العصر بأحكام ركعتي الفجر. 10 عون المعبود على سنن أبي داود. 2
النور اللامع في أخبار الصلاة يوم الجمعة على النبي الشافع. 11 التعليق المغني على سنن الدارقطني في جزءين، طبعه المؤلف على نفقته لأول مرة في الهند. 3
التحقيقات العلى بإثبات فرضية الجمعة في القرى. 12 غنية الألمعي بحث عن عدة مسائل في الحديث. 4
تحفة المتهجدين الأبرار في أخبار صلاة الوتر وقيام رمضان عن النبي المختار. 13 النجم الوهاج في شرح مقدمة صحيح مسلم بن الحجاج. 5
القول المحقق في تحقيق إخصاء البهائم. 14 هدية اللوذعي بنكات الترمذي. 6
التعليق على إسعاف المبطا برجال الموطأ للسيوطي 15  نهاية الرسوخ في معجم الشيوخ.   7
   فضل الباري في شرح ثلاثيات البخاري. 8
 

Latar Belakang Penulisan Kitab

Kitab Sunan Abu Daud karangan Abu Daud al-Sijistani adalah salah satu dari sekian banyak kitab hadis yang mana isinya adalah hadis-hadis yang berkenaan dengan hukum, yang seringkali dipakai Hujjah oleh  kebanyakan ahli Irak, Mesir, dan juga para ahli Ilmu lain dari berbagi negara. Kitab ini pada mulanya dicetak di Hindia dan Mesir, namun demikian dari kedua cetakan ini banyak ditemukan kesalahan, akan tetapi cetakan Mesir masih jauh lebih bagus kualitasnya dibanding cetakan Hindia. Adapun penulisan hadis-hadis dalam Sunan Abu Daud tidak disertai dengan adanya penjelasan atau ungkapan akan maksud yang ingin dicapai oleh masing-masing hadis tersebut, sampai suatu ketika al-Fadhil al-Jalil Abu al-Tayyib Muhammad al-Syahir Syamsuddin al-Haq al-Adzim yang merupakan murid dari Nadzir Husain al-Dihlawi menceritakan bahwa salah seorang dari Ulama hadis Hindia yang bernama Abdul Aziz bin Waliyullah al-Dihlawi mempunyai keinginan untuk mengungkap kesulitan-kesulitan juga maksud yang ingin dituju hadis-hadis tersebut serta membenarkan kesalahan yang banyak ditemukan para ulama, dan keinginan beliau ini benar-benar terwujud dan terbukti dengan ditemukannya salinan kitab Sunan tersebut yang mana dalam menyalinnya beliau mulai dari awal tema sampai akhir tanpa meninggalkan satu tema pun yang menurut kebanyakan orang itu susah difahami maksudnya. Kemudian salinan kitab itu sampai pada Syaikh Nadzir Husain, sampai suatu ketika datang peristiwa ayyam fitnah di Hindia yang menyebabkan salinan kitab Sunan Abu Daud tersebut hilang dan ini mengakibatkan Syaikh Nadzir Husain sedih berlarut-larut sehingga beliau berkata: ”Andaikata ada seseorang yang menemukan kitab itu maka aku akan membelinya dengan harga yang mahal serta memberinya imbalan yang pantas”. Dan ketika Abu Tayyib mendengar berita itu, beliau merasa iba dan timbul dihatinya keinginan untuk mencurahkan segala jiwa dan raga untuk mengabdikan diri guna mencari kitab tersebut ( Salinan Sunan Abu Daud ). Dan akhirnya beliau berhasil menemukan salinan kitab itu yang telah digandakan dan berjumlah sekitar sebelas buku, diantaranya ditemukan di Makkah dan Hindia yang beliau dapat dengan cara membelinya, dan sebagian yang lain beliau temukan dari hasil pinjaman Ahli al-Fadl dan Kamal. Pada mulanya salinan Sunan Abu Daud yang dikenal juga sebagai syarhnya dicetak dalam satu kitab dengan pembahasan yang detail dan terperinci, kitab itu dikenal dengan nama شرح كبير “غاية المقصود شرح أبي داود” . yang kemudian isi kitab tersebut disempurnakan oleh Abu Tayyib, dengan memberikan tambahan penjelasan dan pemaparan yang detail dan terperinci akan beberapa pendapat ulama dalam mensyarahi suatu lafadz hadis dengan menyertakan dalil atau hujjjah masing-masing, selain itu dijelaskan juga mana diantara pendapat itu yang rajih juga penjelasan mengenai sanad hadis tersebut apakah tercacat, terdapat ‘illah atau tidak. Penyempurnaan kitab ini memakan waktu panjang dan sampai sekarang belum terselesaikan juga, dan ketika Abu Tayyib ditanya oleh salah seorang ulama kapan kitab itu selesai disempurnakan? Beliau menjwab “Aku belum tahu kapan kitab ini akan sempurna”. Selain menyempurnakan kitab غاية المقصود Abu At-Tayyib juga berinisiatif membuat ringkasan kitab syarh tersebut dengan hanya memaparkan hadis dan menguraikan penjelasan singkat akan maknanya serta kuaitas hadis tersebut. Namun demikian ada sebagian hadis tertentu yang mana dirasa perlu untuk dijelaskan secara rinci dan perlu untuk mencantumkan pendapat beberapa ulama maka beliau mencantumkannnya. Meskipun Kitab غاية المقصود شرح أبي داود belum benar-benar sempurna, namun sudah sempat dicetak beberapa kali. Namun demikian, kitab induk dari Aunul Ma’bud ini kalah tenar dibandingkan dengan Mukhtasarnya “عون المعبود” yang sudah mendunia ditelinga semua kalangan. Selain ketenaran kitab “عون المعبود” mengalahkan kitab induknya, kitab syarah ini juga mengalahkan kitab-kitab syarah lain Sunan Abu Daud.[2] Salah satu bukti ketenaran kitab “عون المعبود” adalah banyaknya kalangan ulama dan masyarakat pada umumnya yang berlomba-lomba untuk mengkaji dan membahasnya dan tidak jarang kita temukan banyak dari mereka yang mendapatkan honor dari pengkajiannya. Perhatian besar dari ulama’ dan masyarakat inilah yang akhirnya bisa mengobati kesedihan Syaikh Nadzir terdahulu yang disebabkan akan hilangnya kitab salinan kitab Sunan Abu Daud (Syarh Sunan Abu Daud). Terselesaikannya Syarh Kitab Sunan “عون المعبود” ini tidak terlepas juga dari usaha para ulama lain yang siang malam ikut mencurahkan dan menyumbangkan tenaga serta fikiran, adapun diantara ulama-ulama tersebut adalah saudara Abu Tayyib sendiri yang terkecil bernama Muhammad Asyraf al-Ma’ruf Bisyarf al-Haqq al-‘Adzim Abadi, al-Maulawi Abdirrahman al-Mihar, Dzul Qard an-Nafis al-Fathin al-Dzaki al-Maulawi Abu Abdilah Idris, as-Shalih al-Barr al-Hajj Abdil Jabbar, dan ulama-ulama lain dari Ahli Fadhl. Disebabkan karena banyaknya ulama yang ikut serta dalam pensyarahan hadis dalam Sunan Abu Daud pada kitab ‘Aunul Ma’bud, menimbulkan perbedaan pendapat mengenai siapakah sebenarnya pengarang kitab syarah “عون المعبود” tersebut. Satu pendapat mengemukakan bahwa pengarang “عون المعبود” adalah Abu Tayyib, namun di sisi lain ada segolongan yang menyatakan bahwa pengarang “عون المعبود” adalah saudara Abu Tayyib yang terkecil bernama Muhammad Asyraf al-Ma’ruf Bisyarf al-Haqq al-‘Adzim Abadi. Golongan yang menyatakan bahwa Aunul Ma’bud adalah karangan adik Abu Tayyib (Muhammad Asyraf) berhujjah dengan adanya perkataan Abu Tayyib pada adiknya ”Penjelasan hadis pada Kitab Syarahku “Ghayah al-Maqsud” amatlah panjang lebar dan mendetail sehingga aku tidak tahu kapan bisa menyelesaikannya sebab hal itu membutuhkan waktu yang panjang, oleh karenanya aku memerintahkan padamu untuk mengarang kitab ringkasan dari Ghayah al-Maqsud (Aunul Ma’bud),” dengan menjanjikan bahwa pada waktu pengarangan kitab ringkasan tersebut, Abu tayyib berjanji akan membantunya ”. Selain itu pada jilid I dan II Aunul Ma’bud cetakan Hindia di sana tercantum nama Muhammad Asyraf sebagai orang yang telah menyelesaikan 2 Jilid pertama. Namun demikian pendapat ini dibantah oleh golongan yang menyatakan bahwa pengarang Aunul Ma’bud adalah Abu Tayyib dengan hujjah bahwa pada dua Jilid terakhir kitab Aunul Ma’bud (III dan IV) di sana dijelaskan bahwa orang yang berhasil menyelesaikan pengarangan kitab Aunul Ma’bud adalah Abu Tayyib, dengan adanya argumen ini maka argumen yang menyatakan bahwa pengarang Aunul Ma’bud adalah Muhammad Asyraf tidaklah valid. Adapun hujjah lain yang menguatkan bahwa Abu tyyib adalah pengarang yang sebenarnya adalah pernyataan beliau pada akhir jilid empat bahwa penisbatan 2 jilid pertama pada saudaranya adalah dikarenakan diantara sekian banyak orang yang yang tercantum pada lajnah pengarangan kitab, yang paling besar peranannya dibanding anggota yang lain adalah adik beliau yakni Muhammad Asyraf. Namun demikian ada golongan lain yang menyatakan bahwa pengarang Aunul Ma’bud tidak hanya satu orang, melainkan dua orang, yakni:
  1. Syams al-Haqq Abu al-Tayyib ( Nama yang tercantum sebagai pengarang kitab pada sampul Aunul Ma’bud, beliau adalah orang yang memberikan Syarah hadis dan juga hal lain yang berhubungan dengan permasalahan fiqh).
  2. Syaraf al-Haqq ( Orang yang telah memberikan syarah hadis dengan bentuk syarah lughawi pada setiap lafadz dan keterangan-keterangan lain yang berhubungan dengan susunan kaedah nahwiyah)

Sistematika dan Jumlah Hadis dalam Syarah Sunan Abu Daud

Berdasarkan keterangan yang didapat dari Muqaddimah kitab ini, jumlah hadis yang tercantum dalam syarh ini sama halnya dengan jumlah hadis yang ada pada Sunan Abu Daud sekitar 4800 hadis, namun ada juga sebagian yang mengatakan bahwa jumlahnya sekitar 5000 lebih. Akan tetapi berdasarkan keterangan yang ada dalam paparan Muqaddimah jumlah hadis yang mendekati kebenaran adalah sekitar 4800.[3] Kitab ini terdiiri dari emapt jilid besar yang mana tiga jilid pertama telah dicetak sewaktu  Syaikh Nadzir Husain al-Dihlawi masih hidup, sedang satu jilid terakhir (Jilid empat) sempurna dicetak pada tahun berikutnya setelah beliau wafat tepatnya pada bulan Safar 1322 H. Kitab Syarah ini terdiri dari 35 Bab besar yag dimulai dengan Bab طهارة dan diakhiri dengan Bab الأدب.[4]

Metode Pensyarahan Kitab

Adapun Metode yang dipakai oleh al-Fadhil al-Jalil Abu al-Tayyib Muhammad al-Syahir Syamsuddin al-Haq al-Adzim Abadi dalam mensyarahi hadis-hadis dalam kitab Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abu Daud adalah dengan menggunakan metode ijmali, yakni menjelaskan hadis sesuai dengan urutan dalam kitab hadis secara ringkas dengan menggunakan bahasa yang mudah difahami, [5] pensyarahan hadis dengan model ijmali ini tidak memberikan ruang bagi pensyarah untuk lebih banyak mengemukakan pendapat dan ide-ide dari beberapa ulama lain, karena itu penjelasan sangat umum dan sangat ringkas. Namun demikian tidak menutup kemungkinan penjelasan pada hadis tertentu juga diberikan agak luas, tetapi tidak seluas metode tahlili dan Muqarin. [6] Contoh Pensyarahan Hadis: Contoh I :

الصوم “في صوم المحّرم”

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْمَفْرُوضَةِ صَلَاةٌ مِنْ اللَّيْلِ لَمْ يَقُلْ قُتَيْبَةُ شَهْرٌ قَالَ رَمَضَانُ[7]

قَالَ صَاحِبُ عَوْنِ الْمَعْبُودِ :

( عَنْ أَبِي بِشْر )

: بِكَسْرِ الْبَاء هَكَذَا فِي أَكْثَر النُّسَخ وَكَذَا فِي الْأَطْرَاف ، وَفِي بَعْض النُّسَخ أَبُو بَشِير بِزِيَادَةِ الْيَاء وَلَا يَصِحّ

( أَفْضَل الصِّيَام بَعْد شَهْر رَمَضَان شَهْر اللَّه الْمُحَرَّم )

: تَصْرِيح بِأَنَّهُ أَفْضَل الْمَشْهُور لِلصَّوْمِ . وَأَمَّا إِكْثَار النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ صَوْم شَعْبَان دُون الْمُحَرَّم فَجَوَابه مِنْ وَجْهَيْنِ أَحَدهمَا لَعَلَّهُ إِنَّمَا عَلِمَ فَضْله فِي آخِر حَيَاته ، وَالثَّانِي لَعَلَّهُ يَعْرِض فِيهِ أَعْذَار مِنْ سَفَر أَوْ مَرَض أَوْ غَيْرهمَا

( وَإِنَّ أَفْضَل الصَّلَاة بَعْد الْمَفْرُوضَة صَلَاة مِنْ اللَّيْل )

: فِيهِ دَلِيل لِمَا اِتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَيْهِ أَنَّ تَطَوُّع اللَّيْل أَفْضَل مِنْ تَطَوُّع النَّهَار ، وَفِيهِ حُجَّة لِأَبِي إِسْحَاق الْمَرْوَزِيِّ وَمَنْ وَافَقَهُ صَلَاة اللَّيْل أَفْضَل مِنْ السُّنَن الرَّاتِبَة . وَقَالَ أَكْثَر الْعُلَمَاء : الرَّوَاتِب أَفْضَل لِأَنَّهَا تُشْبِه الْفَرَائِض وَالْأَوَّل أَقْوَى وَأَوْفَق وَاللَّهُ أَعْلَم ، ذَكَرَهُ النَّوَوِيّ .

قَالَ الْمُنْذِرِيُّ : وَأَخْرَجَهُ مُسْلِم وَالتِّرْمِذِيّ وَالنَّسَائِيُّ وَابْن مَاجَهْ .

تَعْلِيقُ الْحَافِظِ ابْنِ الْقَيِّمِ :

قَالَ الْحَافِظ شَمْس الدِّين اِبْن الْقَيِّم رَحِمه اللَّه :

وَقَدْ رَوَاهُ شُعْبَة عَنْ أَبِي بِشْر عَنْ حُمَيْد بْن عَبْد الرَّحْمَن عَنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْسَلًا ، فَاخْتَلَفَ فِيهِ شُعْبَة وَأَبُو عَوَانَة ، فَقَالَ أَبُو عَوَانَة ، عَنْ أَبِي بِشْر حُمَيْد بْن عَبْد الرَّحْمَن عَنْ أَبِي هُرَيْرَة . وَقَالَ شُعْبَة : عَنْ أَبِي بِشْر عَنْ حُمَيْد عَنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَرَجَّحَ الدَّارَقُطْنِيُّ إِرْسَالَهُ .

Pengarang Aunul Ma’bud berkata: Diriwayatkan dari Abu Bisyar (Huruf ba’ di sini dikasrah, dan inilah yang banyak dijumpai dalam tulisan ), disebagian tulisan ditemukan juga dengan bacaan Abu Basyir (huruf ba’ difathah dan terdapat tambahan huruf ya’ setelah huruf Syin), namun demikian tulisan seperti ini tidaklah dibenarkan.

( أَفْضَل الصِّيَام بَعْد شَهْر رَمَضَان شَهْر اللَّه الْمُحَرَّم )

“Penegasan bahwa paling utamanya bulan untuk mengerjakan puasa setelah bulan Ramadhan adalah Muharram. Namun demikian Nabi lebih sering berpuasa pada bulan Sya’ban tidak pada bulan Muharram. Adapun jawaban dari apa yang diperbuat Nabi ini ada dua segi, Pertama, keutamaan bulan Muharram pada hadis ini baru diketahui di akhir masa Rasulullah (beberapa waktu sebelum beliau meninggal). Kedua, Sewaktu Nabi akan berpuasa Muharram seringkali beliau mendapati udzhur (baik sebab bepergian, sakit, atau yang lainnya).”

( وَإِنَّ أَفْضَل الصَّلَاة بَعْد الْمَفْرُوضَة صَلَاة مِنْ اللَّيْل )

Hadis ini adalah dalil yang dipakai para ulama atas keyakinan mereka bahwa perkara sunnah yang dilakukan di malam  hari itu lebih utama dibanding yang dilakukan di siang hari. Ini merupakan hujjah yang dipegang Abu Ishaq al-Marwazi dan orang yang sependapat dengannya yang mengatakan bahwa shalat sunnah malam (tahjjud) lebih utama dibandingkan shalat sunnah rawatib. Kebanyakan ulama’ menyatakan bahwa shalat rawatib lebih utama, hal ini dikarenakan shalat rawatib adalah yang shalat yang megiringi shalat fardlu. An-Nawawi berkata: Adapun diantara kedua pendapat tersebut yang kuat dan paling benar hanyalah Allah yang mengetahuinya. Al-Mundziri berkata: hadis ini diriwayatkan juga oleh Muslim, Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibn Majah. Ibn al-Qayyim berkata: Rentetan jalur sanad hadis di atas adalah Syu’bah dari Abi Bisyar dari Humaid bin Abdirrahman dari Nabi SAW, yang mana ini tergolong hadis Mursal. Disamping itu, ditemukan perbedaan pendapat mengenai jalur sanad hadis ini, diantaranya ada yang mengatakan bahwa sanad hadisnya adalah  Abu ‘Iwanah dari Abu Bisyar dari Humaid dari Abu Hurairah, ada juga yang mengatakan kalau sanadnya adalah Syu’bah dari Abu Bisyar dari Humaid dari Nabi SAW, adapun informasi mengenai kemursalan hadis tersebut dikuatkan oleh ad-Dar al-Qutni. Contoh II:

الأطعمة “في أكل لحوم الخيل”

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ خَيْبَرَ عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ وَأَذِنَ لَنَا فِي لُحُومِ الْخَيْلِ[8]

قَالَ صَاحِبُ عَوْنِ الْمَعْبُودِ :

( عَنْ مُحَمَّد بْن عَلِيّ )

: أَيْ اِبْن الْحُسَيْن بْن عَلِيّ وَهُوَ الْبَاقِر أَبُو جَعْفَر

( يَوْم خَيْبَر عَنْ لُحُوم الْحُمُر )

: زَادَ مُسْلِم فِي رِوَايَته الْأَهْلِيَّة

( وَأَذِنَ لَنَا فِي لُحُوم الْخَيْل )

: قَالَ النَّوَوِيّ : اِخْتَلَفَ الْعُلَمَاء فِي إِبَاحَة لُحُوم الْخَيْل ، فَمَذْهَب الشَّافِعِيّ وَالْجُمْهُور مِنْ السَّلَف وَالْخَلَف أَنَّهُ مُبَاح لَا كَرَاهِيَة فِيهِ ، وَبِهِ قَالَ أَحْمَد وَإِسْحَاق وَأَبُو يُوسُف وَمُحَمَّد وَجَمَاهِير الْمُحَدِّثِينَ ، وَكَرِهَهَا طَائِفَة مِنْهُمْ اِبْن عَبَّاس وَالْحَكَم وَمَالِك وَأَبُو حَنِيفَة وَاحْتَجُّوا بِقَوْلِهِ تَعَالَى { وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً } وَلَمْ يَذْكُر الْأَكْل ، وَذَكَرَ الْأَكْل مِنْ الْإِنْعَام فِي الْآيَة الَّتِي قَبْلهَا وَبِحَدِيثِ صَالِح بْن يَحْيَى بْن الْمِقْدَام عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدّه عَنْ خَالِد بْن الْوَلِيد ” أَنَّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ لُحُوم الْخَيْل ” الْحَدِيث .

قُلْت : وَهُوَ الْحَدِيث الْآتِي فِي آخِر الْبَاب ، وَيَأْتِي الْكَلَام عَلَيْهِ . قَالَ : وَاحْتَجَّ الْجُمْهُور بِأَحَادِيث الْإِبَاحَة الَّتِي ذَكَرَهَا مُسْلِم وَغَيْره ، وَهِيَ صَحِيحَة صَرِيحَة ، وَبِأَحَادِيث أُخْرَى صَحِيحَة جَاءَتْ بِالْإِبَاحَةِ ، وَلَمْ يَثْبُت فِي النَّهْي حَدِيث . وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاء مِنْ أَئِمَّة الْحَدِيث عَلَى أَنَّ حَدِيث صَالِح بْن يَحْيَى بْن الْمِقْدَام ضَعِيف ، وَقَالَ بَعْضهمْ هُوَ مَنْسُوخ .

وَأَمَّا الْآيَة فَأَجَابُوا عَنْهَا بِأَنَّ ذِكْر الرُّكُوب وَالزِّينَة لَا يَدُلّ عَلَى أَنَّ مَنْفَعَتهمَا مُخْتَصَّة بِذَلِكَ ، وَإِنَّمَا خُصَّ هَذَانِ بِالذِّكْرِ لِأَنَّهُمَا مُعْظَم الْمَقْصُود مِنْ الْخَيْل ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى { حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ } فَذَكَرَ اللَّحْمَ لِأَنَّهُ أَعْظَمُ الْمَقْصُود وَقَدْ أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى تَحْرِيم شَحْمه وَدَمه وَسَائِر أَجْزَائِهِ ، قَالُوا : وَلِهَذَا سَكَتَ عَنْ ذِكْر حَمْل الْأَثْقَال عَلَى الْخَيْل مَعَ قَوْله تَعَالَى فِي الْإِنْعَام { وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ } وَلَمْ يَلْزَم مِنْ هَذَا تَحْرِيم حَمْل الْأَثْقَال عَلَى الْخَيْل اِنْتَهَى مُخْتَصَرًا . قَالَ الْمُنْذِرِيُّ : وَأَخْرَجَهُ الْبُخَارِيّ وَمُسْلِم وَالنَّسَائِيُّ . وَقَالَ : وَمَا أَعْلَمُ أَحَدًا وَافَقَ حَمَّاد بْن زَيْد عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ .

Pengarang Aunul Ma’bud berkata: Diriwayatkan dari Muhammad bin ‘Ali ( beliau adalah putra al-Husain bin ‘Ali).

( يَوْم خَيْبَر عَنْ لُحُوم الْحُمُر )

Nabi melarang memakan daging himar pada perang Haibar, ini adalah tambahan lafadz dalam riwayat Muslim.

( وَأَذِنَ لَنَا فِي لُحُوم الْخَيْل )

An-Nawawi berkata: ”Ulama berbeda pendapat dalam menyikapi masalah boleh tidaknya memakan daging kuda. Madzhab Syafi’i dan jumhur ulama ( salaf dan khallaf ) mengatakan bahwa memakan daging kuda tidak ada larangan (halal) demikian juga Ahmad, Ishaq, Abu Yusuf, Muhammad, dan segolongan ulama Muhadditsin, sedang Ibnu Abbas, al-Hakim, Malik, dan Abu Hanifah melarangnya dengan berhujjah pada firmn Allah  وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَة, selain itu dterangkan juga pada hadis riwayat Shalih bin Yahya bin al-Miqdam dari bapaknya dari kakeknya dari Khalid bin Walid ” أَنَّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ لُحُوم الْخَيْل ” . Sedang golongan yang menghalalkannya berhujjah pada hadis riwayat Muslim yang berkualitas shahih yang menjelaskan akan kebolehannya, dan pada hadis shahih lainnya yang tidak menetapkan akan keharaman memakannya. Mayoritas ulama hadis sepakat bahwa hadis riwayat Shalih bin Yahya bin Miqdam itu dhaif dan ada juga yang mengatakan Mansukh. Sedang ayat  وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَة tidak menunjukkan bahwa manfa’at dari kuda, bighal, dan himar hanyalah untuk digunakan  sebagai tunggangan dan hiasan, dan kalaupun dalam ayat itu menyebutkan lafadz لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَة itu dikarenakan maksud utama dari ayat itu adalah menjelaskan bahwa kuda biasa digunakan untuk kendaran dan juga perhiasan, hal ini tidak menutup kemungkinan kalau ada manfaat yang bisa didapatkan selain untuk kendaraan dan perhisan. Seperti halnya firman Allah حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ  disini disebutkan lafadz lahm karna maksud utamanya adalah daging, meski begitu jumhur sepakat bahwa lemak, bulu, darah, dan juga anggota yang lain juga haram, begitu juga dengan potongan ayat yang berbunyi وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ ini tidak menetapkan akan keharaman membebankan barang bawaan yang berat pada kuda akan tetapi menjelaskan akan kebiasaan kuda sebagai pengangkut barang bawaan. Al-Mundziri berkata:” Hadis  di atas diriwayatkan juga Bukhari, Muslim, dan Nasa’i. Berdasarkan pemaparan hadis di atas, dapat difahami bahwa dalam mensyarahi suatu hadis Abu at Tayyib menyebutkan:
  1. Rawi Pertama Hadis tersebut (sahabat), serta sedikit penjelasan mengenai rawi tersebut, seperti penisbatan nama rawi .
  2. Dimulai dengan penukilan sebagain lafadz hadis kemudian dilanjutkan dengan penjelasannya.
  3. Penjelasan yang beliau paparkan kadang perlafadz hadis, namun kadang juga serangkaian kalimat.
  4. Kalaupun ada perbedaan pendapat mengenai maksud hadis, beliau mnyebutkannya secara global.
  5. Pada bagian akhir hadis, biasanya disebutkan juga rawi-rawi lain yang juga meriwayatkan hadis tersebut ( Mukharrij ).
  6. Apabila ada tambahan lafadz dalam riwayat lain, beliau juga menyebutkannya.
  7. Kadangkala di akhir penjelasan (setelah menyebutkan Mukharrij lain) ditemukan Ta’liq dari Ibnu al-Qayyim.
  8. Dari hadis-hadis di atas dapat ditangkap bahwa at-Tayyib memberikan penjelasan terhadap suatu hadis melalui pendekatan historis. Namun kadang juga beliau menggunakan pendekatan lain.
  9. Adapun penukilan hadis pada kitab Sunan Abu Daud dan juga Syarhnya bersumber dari hadis-hadis yang disepakati dan diriwayatkan oleh ulama lima yaitu Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah. Dan kalaupun hadis yang dinukil hanya disepakati oleh Bukhari dan Muslim atau salah satu diantara keduanya, atau Pemilik tiga Kitab Sunan atau hanya satu diantar ketiganya, maka itu disebutkan sebagaimana mestinya, dan kalaupun hadis itu hanya diriwayatkan oleh Abu Daud, maka beliau tidak memberi keterangan apapun pada hadis tersebut. Tashih hadis seperti ini dinukil dari al- Mundziri, hal ini dikarenakan al-Mundziri telah membuat ringkasan kitab “Sunan” yang bersumber dari riwayat al-Lu’lui yang merupakan kitab ringkasan yang terbaik.

Perbandingan Antara Kitab ‘Aunul Ma’bud dan Syarh Abu Daud karya al-Aini

Untuk membandingkan dua kitab yang mana keduanya merupakan Syarah dari Sunan Abu Daud,  kita bisa melihatnya memalui corak pensyarahan hadis terhadap satu redaksi hadis yang sama. Berikut ini pemaparan syarah dari ‘Aunul Ma’bud dan Syarh al-Aini: (Redaksi Hadis)

 – 371حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ ابْنِ الْمُسَيِّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَفَلَ مِنْ غَزْوَةِ خَيْبَرَ فَسَارَ لَيْلَةً حَتَّى إِذَا أَدْرَكَنَا الْكَرَى عَرَّسَ وَقَالَ لِبِلَالٍ اكْلَأْ لَنَا اللَّيْلَ قَالَ فَغَلَبَتْ بِلَالًا عَيْنَاهُ وَهُوَ مُسْتَنِدٌ إِلَى رَاحِلَتِهِ فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا بِلَالٌ وَلَا أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِهِ حَتَّى إِذَا ضَرَبَتْهُمْ الشَّمْسُ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلَهُمْ اسْتِيقَاظًا فَفَزِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا بِلَالُ فَقَالَ أَخَذَ بِنَفْسِي الَّذِي أَخَذَ بِنَفْسِكَ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَاقْتَادُوا رَوَاحِلَهُمْ شَيْئًا ثُمَّ تَوَضَّأَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَرَ بِلَالًا فَأَقَامَ لَهُمْ الصَّلَاةَ وَصَلَّى بِهِمْ الصُّبْحَ فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَالَ مَنْ نَسِيَ صَلَاةً فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ أَقِمْ الصَّلَاةَ لِلذِّكْرَى [9]

Syarh Abu Daud karya al-Aini

باب: مَن نامَ عَن صَلاَة أو نَسيَها أي: هذا باب في بيان حكم مَن نام عن صًلاةٍ أوَ نسِيها. وفي بعض النسخ: ” باب ما جاء فيمن نام عن صلاة أو نسيها “

 ص- نا أحمد بن صالح: نا ابن وهب: أخبرني يونس، عن ابن شهاب، عن ابن المسيب، عن أبي هريرة، أن رسولَ الله- عليه السلام- حين قَفَلَ من غزوة خَيبرَ فسارَ ليلةً، حتى إذا أدركَنَا الَكَرَى عَرَس وقال لبلال: ” اكلأ لنا اللَيلَ ” . قال: فغلبت بلالا عينَاه وهو مُستندٌ إلى راحلَته، فلم يستيقظ النبيُّ- عليه السلام- ولا بلالٌ ولا أحدٌ من أصَحابه، حتىَ إَذا ضرَبتهُم الشمسُ فكان رسولُ الله أولَّهُم استيقَاظاً، فَفَزِعَ رسولُ الله فقال: ” يا بلالُ ” قال: اخَذَ بنفسَي الذي أخذَ بنفسكَ بأبي أنتَ وَأمِّي يا رسولَ الله، فاقتَادُوا رَوَاحِلَهم شيئاًَ، ثم تَوضأ لنبيُ- عليه السلام-، وأمرَ بلالاً فأقامَ لهم الصلاة، وصلى لهم الصُّبحَ ، فلما قَضى الصلاة قال: ” من نَسيَ صَلاةً فليُصلِّها إذا ذَكَرَها؛ فإن اللهَ عز وجل قال: (أقم الصَّلاَةَ لِلذَكرَى)

 ش- أحمد بن صالح: المعروف بابن الطبري، وعبد اللّه: ابن وهب، ويونس: ابن يزيد، وابن شهاب: الزهري/، وسعيد: ابن المُسيب. قوله: ” حين قَفل ” أي: حين رجع؛ والقفولُ: الرجوع، ولا يقال  قوله: وهو غير عجل ” جملة وقعت حالا عن الضمير الذي في ” أذّن ” .[10]

ص- نا ابن المثنى: نا محمد بن جعفر: نا شعبة، عن جامع بن شداد قال: سمعت عبد الرحمن بن أبي علقمة قال: سمعت. عبد الله بن مَسعود قال: أقبلنَا معَ رسول اللّهَ- عليه السلام- من  الحديبية، فقال النبيُّ- عليه السلام-: ” مَن يَكلَؤُنَا؟ ” فقال بلالٌ : أنا، فَنَامُوا حتى طلعت الشمسُ، فاستيقَظَ النبيُ- عليه السلام- فقال: ” افعَلُوا كما كُنتم تَفعلونَ ” . قال: ففعَلنَا، قال: ” فكذلكَ فافعَلُوا لِمن نَامَ أو نَسِيَ “

]ش- محمد: ابن المثنى، ومحمد بن جعفر المعروف بغندر،َ وجامع ابن شداد: المحاربي الكوفي، وعبد الرحمن بن أبي علقمة، ويقال: ابن علقمة الثقفي، قيل: له صُحبة، ذعر في الصحابة، وقال أبو حاتم: ليست له صحبة. قوله: ” من الحُدَيبية ” وفي بعض النسخ الصحيحة: ” زمن الحُديبية ” والحُديبيَة: قرية قريبةٌ من مكة؛ سُمّيت ببئر هناك؛ وهي مخففة، وكثير من الحدثين يشدِّدونها. قوله: ” مَن يكلؤنا ” أي: من يَحرسنا، من كلأ يكلأ كِلاءةً؛ وقد مر مرةً. قوله: ” أنا ” أي: أنَا كلؤكم. قوله: ” كما كنتم تفعلون ” من الطهارة والأذان والإقامة والصلاة. قوله: ” فكذلك ” أي: مثل ما فعلتم افعلوا ” لمن نام عن صلاة أو نسيها ” من غيركم؛ بمعنى: مُرُوهُم بذلك أو عَلِّموهُم. وروى البَيهقي بنحوه  .

Sebagaimana syarah di atas, dapat diketahui bahwa dalam mensyarahi suatu hadis al-‘Aini pertama-tama mencantumkan redaksi lengkap hadis dalam Sunan Abu Daud dengan memberikan tanda huruf  ص ” “ (yang menunjukkan bahwa hadis itu adalah hadis riwayat Abu Daud) disertai dengan penyebutan rentetan sanadnya dan memulai syarahnya dengan memberikan tanda ‘ش’ pada awal paragraf, selain itu pada syarahnya beliau biasanya menyebutkan makna perkata atau sinonim kata tersebut dengan memilih kata yang lebih mudah difahami dan  sering digunakan masyatakat pada umumnya. Selain itu beliau juga memberikan keterangan yang berhubungan dengan kaedah nahwiyah (keterangan kaidah mahwiyah inilah yang biasanya lebih beliau tenekankan, ini berangkat dari keahlian beliau yang merupakan ahli bahasa). Dan terkadang juga memaparkan informasi singkat mengenai rawi dalam hadis, disertai dengan petunjuk cara membacanya. Baca halaman selanjutnya:

Materi Khutbah Jum’at Terbaru Bahaya Sakit Rohani dan Obatnya [Edisi 2019]

Naskah Khutbah Jum’at terbaru Bahaya Sakit Rohani dan Obatnya [edisi 2019]

Oleh : KH. Husen Kambayang

Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadhirat Allah SWT. Yang dengan limpahan Rahmat KaruniaNya, kita masih tetap sehat wal ‘afiat, dapat bekerja mencari kebutuhan, berbuat meningkatkan taraf hidup, beramal mencari keredha’an, menuju hari esok yang pasti, terutama hari pertanggung jawaban di hadapan Allah SWT. Shalawat dan Taslim yang penuh berkah semoga dilimpahkan kepada Junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw. Serta para sahabat, keluarga dan ahli warisnya sekalian. Kaum Muslimin Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah! Sakit dan penyakit adalah sesuatu yang tidak pernah disukai orang. Sakit dan penyakit memang menyakiti orang. Itulah sebabnya untuk menghindari sakit, banyak orang yang mau bersakit-sakit dan untuk menghindari derita semua orang mau menderita. Bahkan untuk menghindari sengsara, orang mau hidup sengsara. Allah yang menciptakan manusia memang tidak ingin hambaNya menderita, karena itu Allah menurunkan aturan, agar hamba terhindar dari sakit dan penyakit. Dalam syari’at Islam, baik itu perintah maupun larangan, sasarannya ialah untuk kesehatan. Larangan berzina, minuman keras, perintah shalat dan puasa, bahkan sampai kepada hal-hal yang kecil, seperti larangan bernapas pada minuman, melumat-lumatkan jarii sesudah makan, semuanya ialah untuk kesehatan. Karena orang tidak suka kepada derita, maka berapapun harga kesehatan itu, pasti mereka akan terus berupaya, bahkan orang yang melarat sekalipun akan berusaha sampai kepada batas kemampuannya, agar dia dapat membebaskan diri dari sakit dan penyakit. Namun sangat disayangkan, banyak orang yang tidak perduli dengan penyakit “ruhani”, pada hal penyakit itu lebih berbahaya dari segala penyakit dunia, penyakit yang akan membawa derita panjang diakhirat. Bahkan lebih disayangkan lagi, banyak mereka yang nyata-nyata sakit, masih berlagak sehat. Nyata-nyata pendurhaka, masih berlagak suci. Orang seperti ini akan sulit diperbaiki, sebab dia sendiri menganggap dirinya suci. Memang sulit mengobati orang yang berpura-pura sehat, sebagaimana sulitnya memperbaiki orang yang kotor berlagak suci. Sampai kapanpun orang seperti ini akan sulit mendapatkan kebaikan, sulit mendapat petunjuk Allah, bahkan bisa jadi Allah telah menutup hati, pendengaran dan penglihatannya, seperti Firman Allah dalam AlQur’an Surat Al-Baqarah 6-7

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang kafir itu diperingati atau tidak , bagi mereka sama saja, mereka tidak akan percaya. Allah telah menutup hati, pendengaran dan penglihatan mereka dengan tutupan yang rapat sekali dan bagi mereka adzab yang besar”. [Qs. Al-Baqarah: 6-7] Inilah penyakit ruhani yang di”diagnosa” oleh Allah, penyakit yang kalau tidak segera berobat ancamannya dibakar selama-lamanya. Tapi sayang ancaman Allah ini dianggap sepele  oleh kebanyakan orang, bahkan dianggap cerita lama yang lebih patut disampaikan kepada SD dan SMP. Sungguh suatu gejala penyakit yang semakin parah, gejala iman yang semakin memprihatinkan. Orang tidak takut lagi ancaman Allah, orang bahkan lebih takut menghadapi resiko hidup dari pada mengahadapi resiko dosa dengan ancaman neraka. Orang lebih takut penyakit dunia yang di “diagnosa” oleh dokter dengan ancaman menderita seumur hidup, diamputasi, dan sebagainya. Tapi kalau Allah mengatakan awas barang haram, jangan mencuri, berbohong. Awas ada kekufuran, ada kemunafikan ada kesyirikan dan sebagainya, orang hanya biasa-biasa saja, mereka acu tak acu dengan larangan Allah, pada hal ancamannya dibakar dalam api Jahannam. Berbahaya….! Iman kita sedang mengalami krisis berat, ruhani kita sedang menderita parah. Kita sudah tidak takut lagi dengan ancaman Penguasa alam, kita tidak lagi takut dengan nerakanya Allah SWT. Segeralah mencari obat sebelum penyakit bertambah parah, segera mencari Allah sebelum ajal tiba, segeralah bertaubat sebelum napas ditenggorokan, segeralah shalat sebelum dishalatkan. Cepatlah masuk kerumah Allah untuk di “ofname” agar tidak bertambah parah. Ofname Allah tidak membutuhkan uang sedikitpun. Disana Allah menunggu hamba-hambaNya untuk diobati, dirumahNya atau dimasjid, Allah telah siapkan obat yang paling ampuh untuk mengobati penyakit ruhani.

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه

“Tidaklah berkumpul suatu kaum disalah satu rumah dari rumah-rumah Allah, sedang mereka menela’a, mempelajari dan saling mengajarkan tentang isi dan kandungan Al-Qur’an melainkan bagi mereka diturunkan ketenangan, dicucuri rahmat, dilingkari oleh para Malaikat, dan disebut-sebut oleh Allah dikalangan para Malaikat yang ada disisiNya”. [ HR. Muslim] Inilah majelis yang paling mulia, majelis yang dibangga-banggakan Allah ditengah-tengah Malaikat yang ada disisiNya. Majelis yang dicucuri rahmat Allah, majelis yang memberikan ketenangan batin. Majelis yang dapat menyembuhkan penyakit rohani, penyakit gelisah, takut menghadapi resiko hidup, penyakit ragu-ragu akan kekuasaan Allah dan lain sebagainya. Tapi sayang.., majelis ini telah hampir hilang dipermukaan bumi ini, karena tidak ada lagi peminatnya. Kini telah lebih banyak majelis-majelis yang membicarakan dunia, ekonomi, bisnis dan sebagainya. Majelis maksiat lebih banyak peminatnya, majelis membicarakan politik dan ke’aiban orang. Bahkan yang sangat disayangkan, ada orang yang menganggap bahwa majelis ini hanya akan memperluas pengangguran, mempersempit lapangan kerja, memperluas kemiskinan, menyeret orang kepada kebangkrutan ummat dan sebagainya. Ini bukan hanya pernyataan sesat, melainkan pernyataan yang membingungkan ummat. Pernyataan ini disamping bertentangan dengan Nabi, juga bertentangan dengan kenyataan atau fakta, sebab pada kenyataannya bahwa “setelah ratusan tahun ummat Islam meninggalkan amalan masjid”, maka sejak itulah pengangguran bermunculan satu demi satu. Kehancuran mulai nampak sedikit demi sedikit, dari tahun ketahun semakin bertambah dan akhirnya hari ini puluhan juta ummat Islam kehilangan lapangan kerja, puluhan juta ummat Islam menjadi penganggur, karena mereka menganggap kerja agama adalah kerja pengangguran dan kerja dunia adalah kerja yang benar, maka tunggulah kehancuran dan kebangkrutan ummat yang sebenarnya. Kemakmuran bukan diukur dari banyaknya lapangan kerja, melainkan diukur dari ketha’atan manusia kepada Allah, sekalipun bukan berarti kita harus “rame-rame” meninggalkan kerja. Bekerja adalah bagian dari usaha, tapi itu bukan inti kemakmuran. Itu hanya sebab dan sumber dari segala sebab adalah Allah SWT. Sumber ketenangan yang hakiki adalah dari ketenangan jiwa, dan ketenangan jiwa bersumber dari ketha’atan kepada Allah, sedang ketha’atan berawal dari masjid. Kalau masjid tidak lagi dikunjungi, kalau istana Allah tidak lagi didatangi, jangan mimpi untuk bisa menemukan kemakmuran. Kalau rumah pejabat lebih banyak pengunjung, kalau istana negara lebih banyak yang antri, jangan harap kita akan bisa mendapatkan kemakmuran. Hari ini akibat manusia telah lebih mengandalkan otaknya dari pada imannya, mengandalkan kerja dari tha’atnya, maka mereka bisa saja berhasil besar tapi menimbulkan masalah besar.
Buktinya, dimana-mana pengang-guran, dimana-mana kehancuran, penyelewengan dan sebagainya.
Banyak manusia dizaman kini yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan dengan amal shaleh, banyak orang yang percaya balasan hari akhirat tapi tidak segera berbuat. Allah SWT. Berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

Banyak diantar manusia berkata : “Kami beriman kepada Allah dan hari akhirat, pada hal mereka tidak beriman”. [QS. Al-Baqrah: 8] Pernyataan mereka langsung dibantah oleh Allah, karena mereka tidak dapat membuktikannya dengan amal shaleh dan itu pasti Allah lebih tahu. Maka selanjutnya Allah menyatakan:

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, pada hal mereka tidak menipu, melainkan menipu diri sendiri, tetapi mereka tidak sadar”. [QS. Al-Baqrah: 9] Kata-kata menipu Allah bukan hanya tidak pantas dilakukan, melainkan tidak ada dalam kamus kehidupan, tapi ini pernyataan Allah atas orang-orang yang lidahnya bertolak belakang dengan hatinya. ”Menipu Allah”…. sekali lagi, ini bukan hanya tidak pantas. Pasti dibalik itu ada bahaya besar dan inilah bahayanya yang Allah nyatakan dalam ayat selanjutnya. :

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Didalam hati mereka ada penyakit, maka Allah tambah penyakitnya dan bagi mereka siksa yang pedih akibat kebohongan yang mereka lakukan”. [QS. Al-Baqrah: 10] Penyakit mereka adalah penyakit hati, tidak yakin kepada Allah. Maka Allah tambah penyakitnya, hati mereka terus diliputi ketakutan dan kecemasan sepanjang hidup. Semua penyakit itu sudah pasti berdampak besar bagi kehidupan di masyarakat kita sehingga terjadi gejolak sosial yang semakin memprihatinkan. Kriminalitas semakin meningkat, pertikaian antar sesama dan begitu banyak lagi gejolak sosial lainnya yang semakin tidak terkendali. Ini adalah akibat ”menipu Allah” diatas. Manusia mencoba-coba melakukan hal yang tidak pantas terhadap Penguasa Alam semesta, maka resikonya adalah kehancuran besar-besaran.
Bukankah dizaman ini dihampir semua sektor bohong telah menjadi bumbu percakapan harian?
Bahkan banyak orang yang telah dengan berani membohongi Allah. Mengatakan beriman dimulut, tapi tidak dibuktikan dengan amal shaleh. Kalau sampai Allah sudah berani dibohongi, apalagi manusia. Akibatnya, kehancuran besar-besaran melanda ummat ini. Hampir semua orang tidak lagi dipercaya dan kemelut hidup terus bertambah. Uang banyak, tapi permasalahan pun makin banyak, orang pintar semakin banyak, tapi masalah pun bertambah banyak. Negara hukum tapi pelanggaran hukum semakin meningkat, rumah sakit dan dokter ahli semakin banyak dan pengobatan semakin canggih, tapi orang sakit semakin sulit disembuhkan.? Ini semua musibah besar dan inilah penyakit yang ditambah oleh Allah diatas.?. Kita salah tidak mengaku salah, bahkan menuduh orang lain salah. Kita pengkhianat, tapi berpura-pura sebagai penegak keadilan. Kita berlaku zhalim tapi bergaya sebagai pahlawan. Kita pembohong besar tapi berselimut kejujuran, maka Allah beri kita hukuman berkepanjangan, dan kalau kita tidak mau kembali, pasti akan terhukum selamanya dunia akhirat. Sungguh.., kalau kita tidak segera mengaku salah dihadapan Allah. Kalau kita masih mengatakan yang benar itu salah dan yang salah itu benar. Kalau kita tidak melaksanakan “amar ma’ruf nahi mungkar”, maka pasti kita akan terhukum selamanya. Didunia kita sakit menghadapi berbagai persoalan, diakhirat kita sakit dalam penderitaan yang tiada berkesudahan. Marilah kita segera berobat dengan obat taubat kepada Allah. Mari kita segera masuk “ofname” dengan cara menghidupkan majelis pikir dan dzikir dimasjid, mari kita galakkan majelis ilmu dan belajar, majelis bicara tentang kebesaran Allah. Mari kita terus menyuarakan “amar ma’ruf dan nahi mungkar” agar ummat ini berangsur-angsur dapat kembali tha’at kepada Allah SWT. Mari kita berusaha terus untuk dekat dengan Allah, agar persoalan demi persoalan ummat akan diselesaikan oleh Allah. Mudah-mudahan Allah memberikan kita ampunan dan kekuatan untuk menyelesaikan segala kemelut hidup ini dengan kembali tha’at kepadaNya. Amin Yaa Rabbal ‘alamin. Baca khutbah jum’at edisi 2019 lainnya:
  1. Khutbah Jum’at Singkat tentang Mensyukuri Nikmat Allah SWT
  2. Khutbah Jum’at Singkat Kasih Sayang Allah Tiada Batas
  3. Khutbah Jum’at Terbaru Fenomena Ummat di Akhir Zaman

Materi Khutbah Jum’at Singkat tentang Mensyukuri Nikmat Allah SWT

Khutbah Jumat Singkat tentang Mensyukuri Nikmat Allah

Oleh: KH. Husen Kambayang

Syukur Alhamdulillah, mari kita nyatakan dari lubuk hati kita yang paling dalam, sebagaipertanda bahwa kita sadar akan ni’mat Allah yang tiada batas, rahmat dan pemberianNya yang tiada terhingga. Dia memberikan kita kesehatan dan kekuatan, kekayaan dan sebagainya tanpa memilih yang tha’at maupun durhaka, yang syukur maupun yang kufur. Sungguh…, kita tidak akan dapat menghitung ni’mat Allah satu persatunya, karena di”seanteru” alam ini ada ni’mat Allah. Disetiap butiran pasir dipantai, disetiap daun, pohon dan buah-buahan, disetiap jenis tumbuhan dan binatang, didarat maupun dilaut. Disetiap tetesan air hujan, embun, danau dan air sungai. Disetiap pancaran sinar mentari dan kedipan bintang diangkasa. Disetiap hembusan angin laut dan pegunungan. Disetiap detak jantung pernapasan dan disetiap detik waktu berjalan, disana pasti ada ni’mat karunia Allah yang tiada batas. Sungguh benarlah apa yang dinyatakan Allah SWT. dalam Surat Ibrahim ayat 34:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Jika kamu hendak menghitung nikmat Allah, pasti kamu tidak dapat menghitungnya”. (QS. Ibrahim: 34) Ini pernyataan Allah, agar kita sadar bahwa, sekalipun seluruh hidup ini digunakan untuk bersyukur, pasti ni’mat Allah tidak akan terbayar, karena syukur itu sendiri adalah ni’mat yang tiada terhingga. Kita juga akan sadar bahwa, kalau tidak bersyukur saja sudah dianggap tercela, apalagi kalau menentang Allah. Maka untuk itulah, mari kita perhatikan 4 pertanyaan Allah dari sekian banyak pertanyaan yang menyangkut dengan 4 pemberian dari sekian banyak pemberian Allah SWT. Pertanyaan ini sebenarnya bukan didunia ini, melainkan pertanyaan akhirat. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” [HR at-Tirmidzi (no. 2417), ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam “as-Shahiihah” (no. 946) karena banyak jalurnya yang saling menguatkan.].

Pertama: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ “Tentang umurnya kemana dia habiskan”

Menghabiskan umur sama dengan menghabiskan waktu. Orang materialis mengatakan waktu adalah uang, waktu digunakan untuk mencari uang. Karena itu tidak perlu heran kalau mereka tergila-gila dengan uang. Tidak perduli sakit atau sengsara, siang maupun malam, uang yang selalu menjadi sasaran, bahkan kadang kala sudah diambang maut sekalipun, uang masih dalam pikiran. Islam tidak mengatakan demikian, namun orang Islam kebanyakan telah terjebak kepada uang. Siang malam pikir uang, susah sengsara karena uang, haram halal tidak diperdulikan. Agama tidak melarang orang untuk mencari uang dengan cara yang halal, namun bukan banyaknya yang menjadi tujuan. Buat apa banyak uang pada hal hati tidak pernah tentram. Bagi orang Islam, uang harus dijadikan alat untuk mencapai tujuan utama, yaitu selamat dunia akhirat. Sebab, buat apa berjaya dunia pada hal melarat akhirat. Buat apa berhasil 70 tahun pada hal gagal selamanya.? Kalau untuk dunia 70 tahun orang tidak mau menderita, kalau untuk dunia sementara orang tidak mau sengsara, kalau untuk dunia yang akan fana orang mau “mati-matian, mau habis-habisan, dan mau berjuang sampai tetes darah yang terakhir.
Kenapa untuk hidup abadi sesudah mati orang tidak mau mati-matian?
Karena itu tidak ada jalan yang lebih selamat, kecuali kita harus menyelamatkan diri dari ma’siat. Kita harus manfa’atkan umur ini sebaik-baiknya, sebab umur adalah satu-satunya modal yang tidak pernah dijual belikan. Maka berjaga-jagalah sebelum ajal tiba, siapkan bekal sebelum berangkat. Jangan terlambat, sebab waktu berangkat tidak pernah diberi tahu. Siapkan Taqwa, karena itulah bekal yang paling tepat dalam menempu perjalanan akhirat. Pujangga Islam berkata :

تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي***  إِذَا جَنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ

Berbekallah ketakwaan karena sesungguhnya engkau tidak tahu… Jika malam telah tiba apakah engkau masih bisa hidup hingga pagi hari

وَكَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ *** وَكَمْ مِنْ عَلِيْلٍ عَاشَ حِيْناً مِنَ الدَّهْرِ

Betapa banyak orang yang sehat kemudian meninggal tanpa didahului sakit… Dan betapa banyak orang yang sakit yang masih bisa hidup beberapa lama

فَكَمْ مِنْ فَتًى أَمْسَى وَأَصْبَحَ ضَاحِكًا *** وَقَدْ نُسِجَتْ أَكْفَانُهُ وَهُوَ لاَ يَدْرِِي

Betapa banyak pemuda yang tertawa di pagi dan petang hari … Padahal kafan mereka sedang ditenun dalam keadaan mereka tidak sadar

وَكَمْ مِنْ صِغَارٍ يُرْتَجَى طُوْلُ عُمْرِهِمْ *** وَقَدْ أُدْخِلَتْ أَجْسَامُهُمْ ظُلْمَةَ الْقَبْرِ

Betapa banyak anak-anak yang diharapkan panjang umur… Padahal tubuh mereka telah dimasukkan dalam kegelapan kuburan

وَكَمْ مِنْ عَرُوْسٍ زَيَّنُوْهَا لِزَوْجِهَا *** وَقَدْ قُبِضَتْ أَرْوَاحُهُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ

Betapa banyak mempelai wanita yang dirias untuk dipersembahkan kepada mempelai lelaki… Padahal ruh mereka telah dicabut tatkala di malam lailatul qodar

Orang yang akan mati besok, kain kafannya bukan saja sudah ditenun, melainkan sudah siap ditoko terdekat. Mati adalah hak yang pasti akan menjumpai setiap orang yang bernyawa. Mati adalah pintu yang tidak pernah tertutup untuk semua orang. Mati adalah program Allah bagi setiap insan. Jadwal kematian adalah keputusan Allah yang tidak bisa diganggu gugat.

Kedua:  وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ “Tentang ilmunya, apa yang dia lakukan”

Dengan ilmu orang menjadi pintar, dengan kepandaian, orang menjadi ahli. Dengan keahlian, orang mendapatkan fungsi dan dengan fungsi, orang bisa berbuat banyak dan banyak pula pertanggung jawab-annya. Dengan pertanggung jawaban dunia, orang boleh mencari nama, tapi untuk pertanggung jawaban akhirat, orang harus memperbaiki nama Ahli fiqhi menurunkan hukum, ahli hukum meratakan keadilan, agar tidak terjadi penyelewengan. Semua orang pasti menghendaki keadilan, namun sangat disayangkan masih banyak orang yang menyelewengkan keadilan, sehingga kemakmuran masih berantakan. Kaum Muslimin Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah!

Ketiga: وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ “Tentang harta dari mana didapat dan kemana digunakan”

“Dari dan kemana, itulah pertanyaan untuk harta, dua pertanyaan sekaligus. Ini memberi isyarat bahwa yang satu ini, sangat ketat aturan mainnya. Jika harta didapat dari yang benar dan digunakan kepada yang salah, maka hasilnya sama dengan “salah”. Bila didapat dari yang salah dan digunakan kepada yang benar, hasilnya juga masih tetap “salah”. Apalagi kalau hasilnya dari yang salah dan digunakan kepada yang salah, pasti hasilnya sama dengan “salah berganda”. Memperoleh harta dengan jalan yang salah, pasti akan menimbulkan “serba salah”. Pemiliknya akan tidak pernah merasa aman dalam hidupnya. Apapun alasannya, harta yang tidak benar akan mempengaruhi jiwa seseorang, sebagai bagian dari hukuman atau peringatan Allah. Apalagi kalau harta yang tidak benar digunakan kepada yang salah, pasti akan lebih banyak salahnya. Banyak orang yang memiliki harta, dihantui bermacam-macam ketakutan dan kecemasan, Takut hilang…, takut dirampok, dan yang paling menghantui dirinya adalah kematian. Dia tidak bisa mengidap sedikit penyakit, cepat-cepat dia mencari dokter, berapapun harganya, dia tidak perduli. Dia takut jangan-jangan penyakit inilah yang akan membawa kepada kematiannya. Dia lupa bahwa mati itu, bukan mencari orang yang sakit, melainkan mencari orang yang telah dijadwalkan oleh Allah SWT. Siapapun dia kalau sudah terjadwal mati hari ini, pasti Malikil Maut akan menjemputnya. Dia tidak sadar bahwa harta dan dirinya adalah milik Allah. Kapan Allah mau mengambilnya, tidak ada yang bisa menghalanginya. Terlalu banyak kejadian yang diperagakan Allah dibumi ini. Banyak orang yang sehat, tanpa penyakit ia mati. Banyak harta yang binasa ditelan banjir dan dimakan api, banyak lahan pertanian yang diserang hama dan penyakit, banyak kecelakaan yang merenggut nyawa dan diri, banyak musibah yang menelan korban dan sebagainya. Semua itu adalah cara Allah mengambil kembali harta yang disalah gunakan dan merenggut nyawa yang sudah tidak berguna lagi.

Keempat: وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ “Tentang jasadnya kemana dia gunakan”

Jasad adalah kumpulan anggota badan yang terdiri dari bermacam-macam tugas. Dikordinir oleh otak dan disponsori oleh hati. Otak merencanakan, hati menentukan sikap, anggota melaksanakan tugas. Tangan bergerak sesuai rencana otak, lidah berbelit sesuai keinginan hati. Datang pertanggung jawaban, semua pasti terlibat. Tangan mencuri, badan masuk penjara, lidah menggunjing, jasad dalam neraka dan begitu seterusnya. Karena itu, otak sebagai kordinator, berkewajiban mengawasi anggota, agar sama-sama tidak menderita. Bila perlu setiap saat hati selalu mengadakan kontrol, ditanya apa yang perlu. Sudah berapa hasil tangan selama ini. Berapa keuntungan dunia yang dihitung, berapa amalan akhirat yang dibuat. Berapa kesalahan orang yang dituding. Berapa kesalahan sendiri yang disadari. Berapa kewajiban yang dilalaikan, berapa dosa yang dilakukan. Berapa kali minta ampun kepada Tuhan dan begitu seterusnya. Dihari pemeriksaan itu, kita akan diperiksa satu demi satu. Semua manusia, semua pembesar, semua raja dan semua pemimpin, tidak ada satupun yang luput dari pemeriksaan. Disana semua para jaksa akan dituntut, semua para hakim akan diadili, semua kesalahan akan terbuka, semua pengkhianatan akan dibalas, semua penyelewengan akan dituntut. Semua mereka yang telah menerima sogok, semua mereka yang telah menyelewengkan keadilan, semua mereka yang telah mengetuk palu diatas meja kezhaliman, akan bertekuk lutut ketakutan yang amat dahsyat dihadapan Allah SWT. Kaum Muslimin Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah! Hidup ini hanya sekali dan hidup yang sekali ini menentukan nasib kita yang abadi. Kalau kita masih tidak perduli dengan Allah, kalau kita masih terlena dengan tipuan dunia, kalau kita masih mengikuti hawa nafsu angkara murka, kalau kita tidak fungsikan tahta dan tidak manfa’atkan harta, maka kita juga yang akan menderita. Marilah kita isi hidup ini dengan amal yang akan menyelamatkan kita dunia akhirat. Semoga Allah SWT. memberi kita kekuatan untuk mengamalkan perintah dan menjauhi laranganNya. Amin Yaa Rabbal ‘Alamiin……… Baca naskahi khutbah terbaru lainnya:
  1. Khutbah Jum’at Singkat tentang Shalat Membentuk Kepribadian Muslim
  2. Khutbah Jum’at Singkat: Kehidupan Dunia Hanyalah Permainan dan Sandiwara
  3. Khutbah Jum’at Singkat Kasih Sayang Allah Tiada Batas

Konsep Ma’rifah Imam Al-Ghazali

Konsep Ma’rifah Imam Al-Ghazali

Tongkrongan Islami -Makrifat, menurut al-Gazali berarti ilmu yang tidak menerima keraguan (  العلم الذى لا يقبل الشك) yaitu ”pengetahuan” yang  mantap dan mapan, yang tak tergoyahkan oleh siapapun dan apapun, karena ia adalah pengetahuan yang telah mencapai tingkat haqq al-yaqin. Inilah ilmu yang meyakinkan, yang diungkapkan oleh al-Gazali dengan rumusan sebagai berikut:

ان علم اليقين هو الذى ينكشف فيه المعلوم انكشافا لا يبقى معه ريب ولا يقالانه امكان الغلط والوهم ولا يتسع القلب لتقدير ذلك

“Sesungguhnya ilmu yang meyakinkan itu ialah ilmu di mana yang menjadi obyek pengetahuan itu terbuka dengan jelas sehingga tidak ada sedikit pun keraguan terhadapnya; dan juga tidak mungkin salah satu keliru, serta tidak ada ruang di qalbu untuk itu”. Secara definitif, makrifat menurut al-Gazali ialah:

الإطلاع على أسرار الربوبية والعلم بترتب الأمور الإلهية المحيطة بكل الموجودات

“Terbukanya rahasia-rahasia Ketuhanan dan tersingkapnya hukum-hukum Tuhan yang meliputi segala yang ada”. Dari definisi di atas, dapat dikatakan bahwa obyek makrifat dalam ajaran tasawuf al-Gazali tidak hanya terbatas pada pengenalan tentang Tuhan, tetapi juga mencakup pengenalan tentang segala hukum-hukum-Nya yang terdapat pada semua makhluk. Lebih jauh, dapat pula diartikan bahwa orang yang telah mencapai tingkat makrifat (al-‘arif) mampu mengenal hukum-hukum Allah atau sunnah-Nya yang hanya tampak pada orang-orang tertentu–para ’arifin–. Karena itu, adanya peristiwa-peristiwa “luar biasa”, seperti karamah, kasyf dan lain-lain yang dialami oleh orang-orang sufi, sebenarnya, tidaklah keluar dari sunnah Allah dalam arti yang luas, karena mereka mampu menjangkau sunnah-Nya yang tak dapat dilihat atau dijangkau oleh orang-orang biasa. Karena itu, dapat dikatakan, bahwa obyek makrifat dalam pandangan al-Gazali mencakup pengenalan terhadap hakikat dari segala realitas yang ada. Meskipun demikian, pada kenyataannya, al-Gazali lebih banyak membahas atau mengajarkan tentang cara seseorang memperoleh pengetahuan tentang Tuhan, yang memang tujuan utama dari setiap ajaran sufi. Dengan demikian, al-Gazali mendefinisikan makrifat dengan. (النظر الى وجه الله تعالى) (memandang kepada wajah Allah ta’a)[1]sebagai jalan untuk mengenal Allah. Secara jelas al-Ghazali menguraikan ma’rifat sufi sehingga teori tentang ma’rifat dapat dipandang sebgagai teori lengkap dan komperhensif dibanding dengan teori sufi sebelumnya[2] Perbedaan al-Ghazali dengan para sufi sebelumnya adalah karena dia telah menjadikan tasauf sebagai jalan mengenal Allah bahkan segala sesuatu dalam arti yang hakiki. Sebagaimana para sufi sebelumnya, al-Ghazalipun memandang ma’rifat sebagai tujuan akhir yang harus dicapai manusia, yang sekaligus merupakan kesempurnaan tertinggi yang didalamnya terkandung kebahagiaan yang hakiki. Tetapi apa yang disebut al-Ghazali dalam konsep ma’rifah sedikit berdeda atau merupakan pengembangan dari konsep para sufi sebelumnya. Ia tidak hanya membicarakan pengenalan langsung akan Allah sebagaimana sufi sebelumnya, tetapi termasuk juga semua pengenalan langsung terhadap alam semesta ini. Menurut al-Ghazali sarana ma’rifat seorang sufi adalah qalbu, bukan perasaan dan bukan pula akal budi. Dalam konsep ini, qalbu bukanlah segumpal daging yang terletak pada bagian kiri dada manusia, tetapi ia merupakan semacam “radar” dan sebagai daya rohaniah ketuhanan. Qalbu bagaikan cermin sementara ilmu adalah pantulan gambar relitas yang termuat di dalamnya. Maka jika qalbu yang berfungsi sebagai cermin tidak bening ia tidak akan memantulkan realitas-realitas ilmu jadi qalbu harus senatiasa bening dengan jalan ketaatan kepada Allah dan kemampuan menguasai hawa nafsu.[3] Menurut al-Ghazali, hati (qalb) memang perlu disucikan karena ia media untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.[4] Hati memiliki Dua pintu salah satunya menghadap keluar dan yang lainnya menghadap ke dalam, pintu yang menghadap kedua luar dapat menangkap pengetahuan melalui panca indra. Sementara pintu yang menghadap ke dalam akan menangkap pengetahuan-pengetahuan yang berasal dari alam ghaib, pengetahuan dari alam gaib berupa nur ilahi.[5] Dimana hati bisa seperti cermin apabila berhasil disucikan dari kotoran-kotoran duniawi sehingga mampu menangkap cahaya ilahi atas dasar inilah al-Ghazali mengeluarkan statement

من عرف قلبه فقد عرف نفسه ومن عرف نفسه فقد عرف ربه

Inilah yang disebut al-Ghazali sebagai ma’rifat. Al-Ghazali menganggap ma’rifat adalah tujuan akhir yang harus dicapai manusia sekalipun merupakan kesempurnaan tertinggi yang mengandung kebahagiaan hakiki. Ma’rifat bukan hanya sekedar pengenalan biasa tetapi berupa ilmu yang tidak diragukan kebenarannya atau al-‘ilm al-yaqin, ilmu yang menyakini sehingga dengannya dapat diketahui rahasia Allah dan peraturan-peraturannya tentang segala yang ada.[6] Al-Ghazali berpandangan bahwa kaum sufi dapat menyaksikan hal-hal yang tidak dapat dicapai oleh para ilmuan dan filosot. Para sufi menyaksikan sesuatu melaui nur yang dipancarkan tuhan kepada orang yang dikehendakinya. Nur itu adalah kunci ma’rifat. Ma’rifat yang sebenarnya menurut al-Ghazali, didapatkan melalui nur yang dipancarkan tuhan ke dalam qalb seseorang agar mengenali hakikat Allah dan segala ciptaannya. Qalbu yang bersihlah yang dapat menerima nur dari Allah, syaratnya adalah mensucikan diri dari dosa dan tingkah laku tercelah, qalbu harus total berzikir kepada Allah sehingga seorang menjadi fana’ (sirna) secara total kepada ilahi. Hasil yang didapatkan adalah mukasyafah dan musyahadah. Akhirnya seseorang sampai kepada peringkat yang begitu dekat dengan tuhan.[7] Seterusnya al-Ghazali menjelaskan bahwa orang yang mempunyai ma’rifat  tentang tuhan (arif) tidak akan mengatakan ya Allah ((يا الله atau ya Rabb (يا رب) karena memanggil tuhan dengan kata-kata serupa ini menyatakan, bahwa tuhan ada di belakang tabir. Orang yang duduk berhadapan dengan temannya tidak akan memanggil dengan panggilan tersebut.[8] Proses menuju ma’rifat tidaklah mudah, seorang sufi diharuskan melewati tahapan-tahapan lainnya yang dalam terminology sufisme disebut al-maqamat al-Ghazali dalam hal ini mengemukakan enam makam yang ditempuh seorang sufi sebelum mencapai ma’rifat. Diantaranya: taubat, sabar, kefakiran, zuhud dan tawakkal. Tetapi bagi al-Ghazali, ma’rifat lebih dahulu dalam tertib dari pada mahabbah karena mahabbah timbul dari ma’rifat dan mahabbah bagi al-Ghazali bukan mahabbah sebagaimana dipahami oleh Rabi’ah al-Adawiyah (baca: Konsep Mahabbah Rabi’ah Al-Adawiyah), tetapi mahabbah dalam bentuk cinta seorang kepada yang berbuat baik kepadanya, cinta yang timbul dari kasih dan rahmat tuhan kepada manusia, yang member manusia hidup dan rezeki kesenangan dan lain-lain.

Al-Ghazali Mendamaikan Syariah dan Tasauf

Menurut pemahaman kebanyakan umat Islam, agama Islam mencakup berbagai aspek kehidupan manusia.[9]  Islam merupakan ajaran aqidah dan syari’ah, kalau aqidah mengenai kepercayaan dan keyakinan, sedangkan syari’ah mengenai selainnya dalam artian mencakup ibadah, mu’amalah dan akhlak. Islam diyakini sebagai agama universal, tidak terbatas waktu dan tempat tcrlentu, bahkan Alquran menyalakan lingkup kcbcrlakuan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Adalah untuk seluruh umat manusia di manapun mcrcka bcrada dan bahkan kepada seluruh alam semesta.[10] Dalam aqidah Islam memberikan kategorisasi antara dua bagian yang sempurna yaitu lahir dan batin, yang dimaksud dalam hal ini ialah syari’ah dan haqiqah (tasauf). Yang pertama disebut zahir sedangkan yang kedua disebut batin yaitu bagian dalam diri manusia. Antara syari’ah dan tasauf bagaikan kulit dan isi atau seperti lingkaran dan titik pusatnya. Al-Ghazali sebagai seorang ulama besar sanggup menyusun kompromi antara syari’ah dan tasauf menjadi bangunan baru yang cukup memuaskan kedua belah pihak. baik dari kalangan penganut syari’ah maupun kalangan sufi. Al-Ghazalilah yang membuat tasauf  menjadi halal bagi kaum syariah, sesudah mereka memandangnnya sebagai hal yang menyeleweng dari Islam, sebagaimana yang diajarkan al-Bistami  dan al-Hallaj (ittihad dan hulul). Al-Ghazali mengikat tasauf dengan dalil-dalil nash. Dan dari judul-judul karyanya yang paling monumental ialah Ihya ‘Ulinu al-Dln. Nampak betapa besar jasa al-Ghazali yaitu mampu menyusun bangunan yang dapat menghidupkan kegairahan umat Islam mempelajari ilmu-ilmu agama dan mengamalkan dengan penuh ketekunan. Apa yang dicita-citakan al-Ghazali tercapai, yaitu menghidupkan dan memperdalam kualitas keimanan umat Islam dan memantapkannya, sehingga tcrpancar dalam kegairahan mempelajari ilmu-ilmu agama beserta pengamalannya. Sebaliknya dengan keterikatan yang ketat dalam pengamalan tasaufnya dengan syari’ah dan ayat-ayat Alquran dan hadis, tasauf  mulai mendapat hati dari ulama ahli syari’ah dan diterimanya. Sebagai salah satu cabang ilmu ke-Islaman yahg paling kaya kerohanian dan tuntunan moral. Dengan demikian tasauf bisa berfungsi sebagai obat yang paling mujarab untuk membebaskan umat Islam dari kekakuan dan kekeringan nasionalisme fiqhiyyah dan  pcnyakit spritualismc ilmu kalam. Al-Ghazali secara legas mengatakan bahwa antara syari’ah dan tasauf mempunyai hubungan yang sangat erat. la membantah pendapat sebagian kalangan yang mengatakan adanya pertentangan antara syari’ah dan tasauf. Al-Ghazali mengatakan ” Barang siapa yang berpendapat bahwa antara haqiqah dan syari’ah bertentangan atau yang batin bertolak belakang (bertentangan) dengan yang lahir maka kekufuran lebih dekat daripadanya dari keimanan.[11] Bahkan ketika al-Ghazali menjelaskan tentang jalan untuk menuju kebahagiaan, baik di dunla maupun di akhirat maka satu-satunya jalan ialah ilmu dengan amal (ibadah): Kaum Sufi dan Filosof yang beriman kepada Allah dan hari akhirat secara keseluruhan, walaupun mereka berbeda dalam tatacara pemahaman secara garis besar mereka seluruhnya sepakat bahwa sesungguhnya kebahagiaan adalah dalam ilmu dan ibadah. Sedangkan pemikiran mereka berada dalam perincian ilmu dan amal.[12] Dari serangkaian keterangan-keterangan tersebut di atas jelas kiranya bahwa penyelarasan antara hubungan syari’ah dan tasauf haruslah dipadukan antara keduanya, berjalan beriringan, tidak mengambil (mengamalkan) salah satunya lalu meninggalkan yang lainnya, sama sekali tidak. jalan kebahagiaan adalah perpaduan antara ilmu dan amal, atau antara syari’ah dan tasauf. Dalam konteks ini al-Ghazali secara konkrit telah berhasil merumuskan bangunan ajarannya yaitu konsepsinya yang mengkompromikan dan menjalin secara ketat antara pengamalan sufisme dan syari’ah seperti yang tersusun dalam karya monumentalnya Ihya ‘Ulum al-Din. Dan ini pulalah yang menjadi bagian analisa terakhir dari pembahasan ini dengan memberikan contoh kasus khususnya tentang shalaf, bagaimana gambaran praktis hubungan syari’ah dan tasauf (tatacara amal lahir dan batin shalat). Dalam melakukan ibadah khusunya sholat, di mana seseorang hanya dapat mencapai kesempurnaan dan dapat diterima sholatnya jika memenuhi syaral-syarat tertentu, baik yang dikemukakan oleh ahli syari’ah maupun para sufi. Dalam menegakkan shalat seseorang sebelumnya harus membersihkan diri (thaharah). Menurut ahli fiqh membersihkan diri (thaharah) ialah menyucikan badan atau anggota lubuh dari najis, tempat shalat, sedangkan menurut ahli tasauf, membersihkan diri berarti bersih selain di atas harus bersih pula pakaian yang dipakai dalam arti harus diperoleh dari sumber yang halal. Sebelum berwudhu menurut ahli fiqh seseorang harus membaca bismillah, sedangkan menurut sufi selain melakukan hal-hal di atas seseorang haruslah istighfar dalam rangka pembersihan jiwa. Kompromi yang dicetuskan al-Ghazali mampu memberikan pemahaman kegamaan dalam beribadah kepada Allah, pada satu sisi peribadatan ahli fiqh yang telah cenderung hanya mementingkan segi formalitas belaka telah mendapat reaksi dari kaum yang ingin menghayati agama dengan lebih mendalam dalam beribadah. Beribadah kepada Allah yang formal sudah menurut tatanan syari’ah Islam, tetapi hati sufi tidak hadir lagi dalam beribadah sebagaimana yang diajarkan oleh Islam dengan kekhusyu’an jiwa. Di sisi lain kaum Bathiniyyah (sufi) beribadah dengan diisi perasaan khusyu’. Dan ikhlas adalah menurut tatanan ajaran Islam itu sendiri.   Catatan kaki [1]Term al-ma’rifah dalam dunia tasauf pertama diungkap oleh Ma’ruf al-Kharki (W. 200 H) ketika ia mendefinisikan tasauf dengan bersikap zuhud dan ma’rifah. Namun orang pertama dalam sejarah tasauf yang menganalisis tasauf secara konsepsional ialah Zun al-Nun al-Misri (W. 245 H). Ia mengklasifikasikan ma’rifat pada pada tiga kelas: pertama, ma’rifat tauhid sebagai ma’rifat orang awam; kedua, ma’rifat al-burhan wa istidlal yaitu pengetahuan mengenai tuhan melalui pemikiran dan pembuktian akal; dan ketiga, ma’rifat para wali yaitu pengetahuan dan pengenalan tentang tuhan melalui sifat dan keesaan tuhan. Rivay Siregar, Tasauf, dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme  (Cet. II; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 129 [2]Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid II (Cet. V; Jakarta: UI Press, 1986), h. 83 [3]Abu Hamid Al-Ghazali,, Ihya U’lum al-Din, Jilid III (Beirut Dar al-Kutub al-Islami, t.th), h.17 [4]Ibid, h. 5 [5]Ibid. [6]Ibid  jilid IV, h. 300.  [7]Ahmadi Isa, Tokoh-Tokoh Sufi Tauladan Kehidupan yang Shaleh, (Cet. I; Jakarta: PT Raja Grafindo, 2000), h.196 [8]Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme, op .cit., h. 78 [9] Harun Nasution, menyebutkan bahwa Islam terdiri dari aspek ibadah, aspek sejarah dan kebudayaan, aspek politik, aspek hukum, aspek teologi, aspek fllsafat, aspek mistisme dan aspek pembaharuan, lihat Harun Nasution,  Islam Dttinjau dari Berbagai Aspeknya, (Cet.VI; Rajawali, Jakarta, 19S6). [10] Q.S. A!-Anbiya(2I); 107, QS. Saba (34); 28 [11] Abu Hamid Al-Ghazali,, Ihya U’lum al-Din, Juz I op. cit., h. 100 [12] al-Ghazali, Mizan al-’Amal, (ttp. Maktabah wa Mathba’ah Ali Subhy wa Auladuh, 1328 H/1976 M),  h. 12

Biografi Lengkap Imam Al-Ghazali Beserta Karya-Karyanya

Biografi Lengkap Imam Al-Ghazali Beserta Karya-Karyanya

Tongkrongan Islami – Nama lengkap al-Ghazali[1] adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin ahmad at-Thusi al-Ghazali, digelar Hujjah al-Islam[2]. Ia lahir di Ghazaleh suatu desa dekat Thus[3], bagian dari kota Khurasan, Iran pada tahun 450 H/1056 M.[4] Ayahnya seorang yang fakir dan saleh serta hidup sangat sederhana sebagai pemintal benang,  mempunyai keagamaan yang tinggi dan mengharapkan anaknya menjadi ulama yang selalu memberi nasehat kepada umat. Sebelum ayahnya meninggal, al-Ghazali dan saudaranya dititipkan kepada seorang sufi untuk dipelihara dan  di didik.[5] Karena ayahnya yang tidak berkecukupan dan harta warisan yang ditinggalkan untuk anaknya itu tidak banyak jumlahnya maka sufi tersebut menyekolahkan mereka ke sebuah madrasah yang menyediakan biaya hidup bagi para muridnya guru al-Ghazali yang paling utama di madrasah ini adalah Yusuf al-Nassaj, seorang sufi terkenal.[6] Tentang ibunya, Margareth Smith mencatat bahwa ibunya masih hidup dan berada di Baghdad ketika ia dan saudaranya, Ahmad, sudah terkenal.[7] Pada masa kecilnya, al-Ghazali juga belajar pada Ahmad bin Muhammad ar-Razikani at-Thusi ahli tasauf dan fikih di kota kelahirannya, setelah  mempelajari dasar-dasar fikih ia merantau ke Jurjan sebuah kota di Persia antara kota Tabristan dan Nisabur. Di Jurjan ia memperluas wawasannya tentang fikih dengan berguruh kepada seorang fakih yang bernama Abu al-Qasim Ismail bin Mus’idah al-Ismail (Imam Abu Nasr al-Ismaili). Pada masa mudanya, berangkat lagi ke Nizabur (tahun 473 H)  belajar kepada Imam Abu al-Ma’ali al Juwaini. pusat ilmu pengetahuan penting di dunia Islam, kemudian ia menjadi murid pada Imam al-Haramain al-Juwaini, seorang guru besar di Madrasah al-Nizhamiyah. Ia belajar teologi, hukum Islam, filsafat, logika, sufisme dan ilmu-ilmu alam,[8] Ilmu kalam, ilmu fikih, filsafat, ilmu debat, dan mantik.[9] Al-Ghazali dikenal seorang teolog terkemuka, ahli hukum, pemikir, ahli tasauf dengan julukan sebagai hujjah al-Islam. al-Ghazali juga belajar kepada sejumlah ulama. Setelah Imam al-Haramain meninggal dunia (478 H/1085 M) Ghazali pergi ke majlis Wazir Nidham al-Mulk al-Saljuqi, yakni Wazir dari Sultan Maliksyah di Naisabur. Sang Wazir sangat takjub akan ilmunya, terkhusus ilmu kalam dan filsafat yang ia kuasai. Hingga Sang Wazir meminta Ghazali untuk menjadi guru besar universitas Nidhamiyah yang terletak di kota Baghdad. (484 H/1091 M). Muridnya sangat banyak, diantaranya terdapat sekitar tiga ratus pembesar ulama ikut belajar kepadanya, karena takjub akan ketinggian ilmu Sang Imam. Keharuman namanya mulai semerbak di seantero penjuru lewat karya-karyanya dalam berbagai bidang ilmu,  baik dalam ilmu fiqh, filsafat, teologi dan sebagainya. Dengan demikian, al-Ghazali merupakan sosok intelektual yang menguasai banyak lapangan intelektual, disamping berhasil pula menyelaraskan kehidupan intelektualnya dengan aspirasi penguasa sehingga wajar kalau ia memperoleh popularitas disamping pula kemewahan.[10] Di situ al-Ghazali mendapatkan kemasyhuran, hingga seorang Abdul Ghaffar bin Ismail al-Farisy berpendapat bahwa; saat itu Ghazali patut untuk menyandang gelar sebagai Imam bagi Khurasan dan Irak. Bahkan pada saat-saat inilah al-Ghazali mencapai puncak kariernya. Ketenaran al-Ghazali ternyata tidak mengantarnya kepada ketenangan batin. selama periode Baghdad, ia malah menderita goncangan jiwa akibat sifat keraguan yang menghimpit dirinya. Dalam puncak keraguannya, pertanyaan yang selalu membentur hatinya ialah apakah pengetahuan hakiki diperoleh melalui indera atau akal atau jalan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah memaksanya untuk menyelidiki kebenaran pengetahuan yang telah dicapai manusia pada masanya. Keraguan tersebut dituangkan dalam kitabnya al-Munqis min al Dalal.[11] Al-Ghazali meninjau kembali jalan hidup yang dilaluinya. Menurutnya dia telah tenggelam dalam samudra godaan dan rintangan. Segala pekerjaannya termasuk mengajar yang selama ini dipandangnya mulia, ia tinjau sedalam-dalamnya. Menurutnya, jelas ia sedang berada di jalan yang salah, dia perhatikan berbagai ilmu yang tidak bermanfaat untuk perjalanan keakhirat. Niat dan tujuan dalam mendidik dan mengajar tidak sebenarnya ikhlas karena Allah tetapi dicampuri oleh motivasi ingin kedudukan dan kemasyhuran. Menurutnya, ia sedang berdiri di pinggir jurang yang curam, di atas tebing yang terjal dan hamper jatuh, ia yaris jatuh ke dalam neraka dan akan segerah tercampakkan kedalammya jika tidak mau mengubah sikap.[12] Setelah berfikir cukup lama, akhirnya timbullah keinginan dalam dirinya untuk meniggalkan Baghdad dengan segala kesenagannya. Namun kemudian urung karena masih ragu. Ungkapnya “keinginan di waktu pagi untuk untut menuntut kebahagiaan abadi, menjadi lemah dipetang harinya. Nafsu duniawi menarik hati kearah kedudukan dan kemasyhuran. Namun iman berseru: bersiap-siaplah, umur hampir berakhir, perjalanan masih sangat jauh, ilmu dan amalmu hanya sombong jika tidak sekarang kapan akan bersiap.”[13] Hampir enam bulan ia terombang-ambing antara dunia dan akhirat. Akhirnya ia bertekat untuk meninggalkan Baghdad, harta bendanya habis ia bagi-bagikan kecuali hanya sedikit untuk bekal dijalan dan biaya anak-anaknya yang masih kecil. Dia pergi ke tanah Syam, Damaskus dengan niat ingin berkhalwat, bersunyi diri dalam Mesjid Jami’. Pada akhir tahun 488 H/1095 M al-Ghazali memulai khalwatnya menghindarkan diri dari segala hiruk pikuk manusia, mengasingkan diri di puncak menara mesjid itu. Tidak kurang dua tahun al-Ghazali berkhalwat di situ dan di sinilah beliau mengarang kitab ihya ulum al-Din.[14] Pada akhir tahun 490 H, al-Ghazali menuju palestina, mengunjungi Hebron dan Yerussalem. Ia berdoa dalam mesjid Bait al- Maqdis, memohon kepada Allah supaya diberi petunjuk sebagaimana yang dianugrahkan kepada para nabi. Kemudian ia mengembara di padang sahara dan akhirnya menuju ke Cairo, Mesir yang merupakan pusat kedua bagi kemajuan dan kebesaran Islam setelah kota Baghdad. Dari Baghdad menuju ke Iskandariyah kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke tanah suci Mekkah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji dan bersiarah ke makam Rasulullah saw. Selanjutnya pada tahun 499 H/ 1105 M karena desakan dari penguasan Saljuk, al-Ghazali mengajar kembali pada madrasah Nizhamiyah di Naisabur, tetapi hanya berlangsung selama 2 tahun, kemudian dia kembali ke Thus untuk mendirikan madrasah bagi para fuqaha, dan sebuah zawiyahi atau khanaqah untuk para mutasawwifin. Setelah mengabdikan diri untuk ilmu pengetahuan, menulis dan mengajar, maka pada usia 55 tahun al-Ghazali meninggal dunia dalam usia 54 tahun di kota kelahirannya pada tanggal 14 jumadil akhir 505 H/ 19 Desember 1111 M dalam pangkuan saudaranya Ahmad al-Ghazali.[15] Al-Ghazali meninggalkan banyak karya yang ditulis dalam banyak lapangan ilmu pengetahuan diantaranya:

Karya Imam AL-Ghazali di Bidang Filsafat dan Ilmu Kalam;

  1. Maqashid al-Falasifah
  2. Tahafut al-Falasifah
  3. Al-Iqhtishad fi al-I’tiqad
  4. Al-Munqidz min al-Dhalal
  5. Al-Maqashidul Asna fi Ma’ani asmillah al-husna
  6. Faishalut Tafriqah bainal Islam wa az-Zindiqah
  7. Al-Qishahul mustaqim
  8. Al-Mustadhiri
  9. Hujjatul Haq
  10. Mufsilul Khilaf fi ushuluddin
  11. Al- Muntahal fi ‘Ilmi Jidal
  12. Al-Madhnun bih ‘Ala Ghairi Ahlihi
  13. Mahkum Nadlar
  14. Asrar ‘Ilmiddin
  15. Al-Arba’in fi Ushuluddin
  16. Iljamul Awwan ‘an ‘Ilmil Kalam
  17. Al-Qulul Umail fi ar-Raddi ‘ala man Ghayaral Injil
  18. Mi’yarul ‘Ilmi
  19. Al-Intishar
  20. Itsbatun Nadlar

Karya Imam AL-Ghazali di Bidang Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh meliputi;

  1. Al-Basith
  2. Al-wasith
  3. Wajiz
  4. Khulashatul mukhtashar
  5. Al-mustasyhfa
  6. Syifakhul ’Alil fi Qiyas
  7. Adz-Dzari’ah ila Maqarimi asy-Syari’ah

Karya Imam AL-Ghazali di Bidang Ilmu Akhlak dan Tasawuf meliputi;

  1. Ihya Ulumuddin
  2. Mizanul ‘Amal
  3. Kimiyau as-Sa’adah
  4. Misykatul Anwar
  5. Minhajul ‘Abidin
  6. Ad-Dararul Fakhirah fi Kasfil Ulumil Akhirah
  7. Al-‘Ainis fil Wahdah
  8. Al-Qurban ila al-lahi ‘Azza wa Jalla
  9. Akhlaq al-Abrar wan Najat minal Asrar
  10. Bidayatul Hidayah
  11. Al-Mabadi wal Ghayyah
  12. Talbis al-Iblis
  13. Nasihat al-Mulk
  14. Ar-Risalah al-Ladunniyah
  15. Ar-Risalah al-Qudsiyah
  16. Al-Ma’khadz
  17. Al-Amali

Karya Imam AL-Ghazali di Bidang Ilmu Tafsir, yang meliputi;

  1. Yaqutui Ta’wil fi Tafsiri
  2. Jawahir al-Qur’an
  Catatan Kaki [1] Ada dua macam penulisan nama al-Ghazali: (ditulis dengan “al-Ghazali” ini berasal dari nama desa/kampung kelahirannya yaitu ghazalah karena itu sebutan al-Ghazali (dengan satu “z”). dan (2)  berasal dari pekerjaan sehari-hari yang dihadapinya dan ayahnya menenun dan menjual kain tenunannya yang disebut dengan “Ghazzal” karena itu panggilannya al-Ghazzali (dengan dua “z”). Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Imam al-Ghazali (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), h. 28 [2] Kefasihan al-Ghazali dalam berbicara, pengetahuannya yang dalam tentang seni berdebat dan berargumentasi serta  pengetahuannya yang luas dalam berbagai studi,membuatnya termasyhur sehingga dianggap sebagai  Hujjah al-Islam. Lihat M.M Syarif  Para Filosof Muslim, (Bandung: Mizan 1993), h. 220 [3] Thus adalah salah satu kota di khurasan yang penduduknya sangat heterogen, baik dari segi faham keagamaan maupun dari segi suku bangsa. Lihat, Al-Subki, Thabaqat, al-Syafi’iyat al-Kubra, Juz IV, (Mesir: Musthafa al-Bab al-Halabi, t.th.), h. 102 [4] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam (Cet. III; Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002), h. 77 [5] Tim Ensiklopedi,  Ensiklopedi Islam, Jilid II, (Cet. III; Jakarta: PT. Inter Masa, 1994), h. 25 [6] Alfatih Suryadilaga, Miftahus Sufi, (Cet. I; Jogjakarta: Teras, 2008), h. 181 [7] Margareth  Smith, al-Ghazali  the Mystic.( Londong: Luzac Co, 1944), h. 55 [8]Harun Nasution, Falsafat dan Mistisme dalam Islam (Cet. IX; Jakarta: Bulan Bintang, 1995), h. 41 [9] Perpustakaan RI., Ensiklopedi Hukum Islam (Jakarta: PT.Ichtiar Baru van Hoeve, 2001), h. 405 [10] Ahmad Syarbazi, al-Ghazali  wa at-Tasawwuf  al-Islami, (Kairo: Dar al-hilal, t.th), h. 35 [11] Abu Hamid al-Ghazali, al-Munqis min al Dalal, (Beirut: al-maktabah sya’biyah, t.th), h. 31 [12] Ibid,  h.71 [13] Ibid [14] Asmaran As, Pengantar Studi Tasauf, (Cet. II; Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996), h. 325, Hasyimsyah Nasution, op. cit., h. 79 [15] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (cet, I; Jakarta: Bulan Bintang, 1990), h. 136. dan lihat juga Abdul Razak al-Kailani, Min Mawakil Uzzama’ al-Muslimin (Cet. I; T.pt: Darul al-Nafais, 1994), h. 218-221. dan lihat juga Abdul Muta’al ash-Shaidi, Mujaddiduna fil Islam fi Qarni al-Awwal ila Arba’ al-‘Asyar (Kairo: Multazam an-Nasyar Wattaba’, 1996), h. 138-139

I’jaz Al-Qur’an: Memahami Kemukzjizatan Al-Qur’an dari Berbagai Segi

0

I’jaz Al-Qur’an: Memahami Kemukzjizatan Al-Qur’an dari Berbagai Segi

Oleh: Hasnidar

Tongkrongan Islami – Makhluk lemah yaitu manusia, maka dari itu Allah telah meanugrahkan kepada manusia berbagai keistimewaan dan kelebihan serta memberi kekuatan berfikir cemerlang yang dapat menembus dan menundukkan unsur-unsur kekuatan alam tersebut. Namun watak manusia yang sombong dan angkuh terkadang menolak untuk tunduk kepada manusia lain. Oleh karena itu, Allah memilih rasul-rasulnya untuk menyampaikan ajaran ajaran-Nya. Muhammad saw. Dipilih sebagai rasul terakhir dan semua ajaran yang di terima dituangkan Allah dalam kitab suci al-Qur’an sebagai bukti kebenaran kerasulan Muhammad saw yang disebut dengan mukjizat, terutama bagi mereka yang menentang dakwah-dakwahnya.[1] Walaupun pada masanya bahasa dan sastra telah mengalami kemajuan, para penentang itu tidak berdaya untuk menandingi mukjizat tersebut. Para Nabi yang terdahulu mengembangkan misinya hanya kepada kaumnya yang terbatas dan berkesudahan dengan datangnya kerasulan berikutnya.[2] Oleh karena itu mukjizat yang dimiliki tiap rasul berbeda, tantangan yang diberikan sesuai dengan kemampuan masyarakat yang diakui pada masanya. Pada Nabi Isa menyembuhkan orang buta dan menghidupkan orang mati. Bagi Nabi Musa tangan dan tongkatnya menjadi mukjizatnya, sedangkan Nabi Muhammad. Sendiri diberikan mukjizat berupa al-Qur’an.[3] Al-Qur’an datang keatas dunia, setelah kemampuan umat manusia yang telah berada pada tingkatan kematangan, sehingga mukjizat yang diberikan berbentuk Aqliyah.[4]

Pengertian Mukjizat Al-Qur’an

Kata mukjizat berasal dari bahasa arab (a’jaza) yang berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Pelakunya (yang melemahkan) dinamakan mu’jiz dan bilah kemapuannya melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkam lawan dinamakan mukjizat. Tambahan ta’ marbutha pada akhhir kata, mengandung kata mubalagha (superlatif).[5] Dilihat dari sudut kebahasaan menurut al-azarqani kata mukjizat merupakan salah satu bentuk perubahan dari lafal i’jaz yang bermakna melemahkan. Dan i’jaz al-Qur’an yang bermakna pengokohan al-Qur’an sebagai sesuatu yang mampu melemahkan berbagai tantangan untuk menciptakan karya sejenisnya.[6] Dalam kaitannya dengan fungsi dan kerasulan serta kenabian Muhammadterhadap umatnya, kemukjizatan al-Qur’an tersebut berarti memperlihatkan kebenaran kerasulan dan fungsi kenabiannya serta kitab suci yang dibawanya. Muhammad saw. Melalui al-Qur’an menantang orang-orang Arab membuat hal yang sama, tetapi mereka tidak sanggup melakukannya. Hal tersebut membuktikan kebenaran al-qur’an sekaligus meyakinkan mereka dan pengikut Nabi sendiri terhadap kebenaran yang dibawah olehRasulullah Muhammad saw. Tantangan tersebut menunjukkan pula al-Qur’an sebagai mukjizat, karena mukjizat sendiri adalah sesuatu yang luar biasa disertai tantangan dan selamat dari perlawanan.[7] Berdasarkan pada kisah-kisah yang diangkat al-Qur’an, al-Suyuthi membagi mukjizat para Nabi pada dua kelompok besar, yaitu mukjizat hisiyah (sesuatu yang dapat ditangkap panca indra), dan mukjizat aqliyah (sesuatu yang hanya dapat ditangkap nalar manusia).[8] Mukjizat hisiyah diperkenalkan oleh Nabi yang berhadapan  umat terdahulu, seperti Nabi Musa dan Nabi Isa. Sedangkan mukjizat aqliyah diperkenalkan Nabi Muhammad. Al-Qur’an, karena sifatnya adalah tantangan daya nalar, maka kemukjizatan tidak berakhir dengan wafatnya Nabi Muhammad. Al-Qur’an tetap menantang siapa saja yang ingin mencoba menyainginya, termasuk generassi manusia setelah Rasul, dan bahkan manusia hari ini, hari esok dan seterusnya sampai hari akhir.[9] Kemukjizatan al-Qur’an akan memberikan interpretasi yang berbeda bagi setiap generasi. Ia juga akan memberikan interpretasi pada setiap pemikiran kehendaknya tanpa bertentangan dengan hakekat ilmu pengetahuan, ataupun berlainan dengan berbagai hakikat alam. Ia selalu memberi interpretasi yang baru pada setiap waktu. Hakikat-hakikat alam juga tidak akan menyalahi apa yang disebut didalam al-qur’an sedikitpun. Sebab Allah yang menentukan segala sesuatu di alam ini. Dialah yang menciptakan, Dia pula yang menurunkan firman di dalam al-Qur’an.

Faktor Penting dalam Memahami I’jaz Al-Qur’an

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan guna mempermuda pemahaman akan bukti-bukti kemukjizatan al-Qur’an. Kepribadian Nabi Muhammad saw. Keyakinan terhadap kemukjizatan al-Qur’an dapat diperoleh melalui penelusuran riwayat hidup Nabi Muhammad saw. Menurut Quraish Shihab pembuktian kebenaran seorang Nabi tidak harus melalui mukjizat yang dipaparkan akan tetapijuga dapat dibuktikan dengan mengenal kepribadian, kehidupan keseharian, akhlak, dan budi pekertinya bahkan juga air mukanya.[10] Siapapun yang mempelajari sejarah hidup Nabi Muhammad saw. Dan mengetahui kesederhanaannya, pastilah akan menafikan akan segala macam tuduhan negatif yang ditujukan kepadanya. Keadaan beliau yang ummi tidak pandai menulis membaca,[11] namun mampu menyampaikan aneka informasi sejarah dan hal-hal ilmiah yang tidak diketahui oleh masyarakat ilmiah kecuali berabad-abad sesudahnya. Kondisi Masyarakat Saat Turunnya Al-Qur’an Al-Qur’an yang menamai masyarakat Arab sebagai masyarakat ummiyyin, yang berarti masyarakat Arab hanya mampu menggunakan bahasa ibu, kemampuan mereka baca tulis sangat minim. Kelangkaan alat tulis menulis dan ketidak mampuan menulis mengantarkan mereka untuk mengandalkan hafalan, pada gilirannya tingkat kecerdasan dan ilmiah seseorang diukur dari kemampuan menghafal. Memahami kondisi masyarakat dan perkembangan pengetahuan pada masa turunya al-Qur’an akan menunjang bukti kebenaran al-Qur’an. Disadari betapa kitab suci al-Qur’an memaparkan hakikat-hakikat ilmiahyang tidak dikenal pada masa-masa terakhir ini. Cara Kehadiran Al-Qur’an Terkadang Nabi Muhammad saw. Membutuhkan penjelasan atas sesuatu yang dihadapi tapi penjelasan itu tak kunjung datang. Seperti kegelisahan yang melanda Nabi ketika telah menerima 10 kali wahyu dan terhenti untuk waktu yang sekian lama dinantikannya. Musyirikin mekah mengejek beliau dengan mengatakan bahwa ‘Tuhan telah meninggalkan muhammad saw. Dan membencinya.” Baru kemudian turun surah Adh-Dhuha (1-3):

وَالضُّحَىٰ – وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ – مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap). Tuhanmu tiada meninggalkan kamudan tiada (pula) benci kepadamu.

وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِنْ بَعْدِ نُوحٍ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

  Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha mengetahui dosa hamba-hambanya (Q.S Al-Isra’: 17)

إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan mengerjakan amal- amal saleh; mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar. (Q.S. Hud: 11)

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

Dan bila dikatakan mereka:”Jangan kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab:”Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (Q.S. Al-Baqarah: 11) Demikian itu menunjukkan bahwa wahyu adalah wewenang Allah SWT. Walaupun Nabi menghendaki turunnya wahyu, namun jika Allah belum menghendaki wahyu tidak akan datang. Ini menandakan bahwa wahyu bukan merupakan hasil perenungan atau bisikan jiwanya. Kehadiran wahyu juga tidak jarang datang secara tiba-tiba, bahkan boleh jadi tidak terlintas dalam benak beliau. Ketika ditanya oleh orang Arab Quraisy tentang ruh, menurut Ibn Mas’udra. Sejenak beliau berhenti dan mengangkat kepalanya. Ketika itu aku tersadar beliau sedang menerima wahyu,demikian sampai selesainya lalu beliau membaca” qulirruhu min amri rabby wama utitum minal ilmi illa qalila”.[12] Redaksi spontan tersebut menurut kritikus bahasa yang notabene masih dalam penguasaannya untuk menyusun kata atau kaliamat sendiri. Kesemuanya tetap dipertimbangkan dalam uapaya memahami kemukjizatan al-Qur’an.

Memahami Kemukzjizatan Al-Qur’an dari Berbagai Segi

Al-Qur’an mempunyai daya i’jaz yang luar biasa dari segala segi. Mulai dari sistematika susunannya dalam mushaf, sampai pemilihan dan penempatan suatu kata dalam kaliamat, redaksi makna yang terkandungnya. Semua itu merupakan sesuatu yang luar biasa, di atas kesanggupan dan nalar manusia. Kondisi ini yang membuat para tokoh sastrawan Arab membisu karena tak mampu menantangnya, padahal mereka sudah sampai kepada puncak kesastraan bahasa Arab seperti yang tergambar dalam kisah al-Wali bin Mughirah, Utbah bin abi Rabi’ah dan lain-lain.[13] Kenyataan ini pula yang mendorong para ulama mengungkapkan. Kemukjizatan al-Qur’an dapat dikaji dan diteliti dari berbagai aspek, baik segi ushlub, ilmu pengetahuan, pengaruhnya terhadap peradaban dunia atau segi lainnya yang menunjukkan kehebatannya. Ulama berbeda pendapat mengenai segi kemukjizatan al-Qur’an. Menurut al-Qattan i’jaz al-Qur’an terdapat tiga aspek yaitu kemukjizatan bahasa, ilmiah, dan tasyri (perundang-undangan).[14] Abu Hasan al-Nadawi melihat, kemukjizatan al-Qur’an tidak hanya terletak pada segi kebahasaan saja, tetapi juga pada aspek cakupan-cakupan informasi keagamaan yang menyeluruh, dan mengungkapkan kisah-kisah lama yang tidak hidup dalam cerita-cerita rakyat, dan bahkan tidak semuanya dapat terungkap dalam penelitian sejarah.[15] Sementara itu, Mustafa Mahmud melihat bahwa kemukjizatan terletak pada pengaruh bacaannya dalam lubuk hati para pendengarnya.[16] Al-Qurtubi sendiri mengemukakan sepuluh aspek i’jaz al-Qur’an yaitu:[17]
  1. Aspek bahasanya yang mengguli seluruh cabang bahasa Arab.
  2. Aspek eksistensinya yang tidak tertandingi.
  3. Aspek gaya bahasanya yang menggungguli keindahan basa Arab.
  4. Aspek informasinya yang menembus persoalan-persoalan ghaib.
  5. Aspek hukumnya yang universal dan manusiawi.
  6. Aspek keteraturan dan sejalan dengan sains.
  7. Aspek pengetahuan yang dikandungnya.
  8. Aspek pengaruhnya terhadap kalbu.
  9. Aspek pengaruhnya dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia.
  10. Aspek kebenaran atas janji-janjinya, baik berupa rahmat maupun ancaman
Pandangan ulama yang mempunyai pengamatan dan apresiasi yang berbeda satu sama lain, dapat disimpulkan bahwa kemukjizatan al-Qur’an terletak pada tiga hal, yaitu keindahan dan ketelitian bahasanya sehingga mempengaruhi mereka yang membaca dan yang menyimaknya, berita-berita ghaibnya, dan ilustrasi ajaran-ajarannya yang memberi isyarat keilmuan. Ketiga aspek inilah yang dimiliki al-Qur’an dan dapat melemahkan para penantangnya, yang sekaligus merupakan bukti-bukti kebenaran, serta kebenaran rasul pembawa ajarannya.

Kemukjizatan Al-Qur’an dari Segi Bahasa

Menghayati keindahan, ketelitian serta kecermatan pembahasan al-Qur’an tidak mudah, terutama bangsa kita yang pada umumnya kurang mempunyai apresiasi terhadap sastra Arab.[18] Tetapi kemukjizatan al-Qur’an justru dari segi kebahasaan, selain isi dan ilustrasi-ilustrasinya. Sejarah memperlihatkan bahwa al-Qur’an diturunkan berdasarkan urutan kejadian dan tidak berdasarkan urutan ayat atau surah yang terlihat dalam mushaf baku.[19] Bahkan ayat-ayat al-Qur’an terkadang secara spontanitas menjawab persoalan sulit yang dihadapi oleh Nabi Muhammad saw. Namun demikian para ahli bahasa tetap menilai al-Qur’an memiliki keindahan gaya bahasa yang tidak tertandingi. Menurut para pakar bahasa bahwa seseorang dinilai berbahasa dengan baik apabila pesan yang hendak disampaikan tertampung oleh kata atau kalimat yang ingin dirangkai ﺨﻴﺮﺍﻠﮏﻼﻢ ﻤﺎﻗﻞ ﻭﺪﻞ. Kata yang dipakai tidak asing bagi pendengaran atau pengetahuan lawan bicara, mudah diucapkan serta kalimat yang dipakai tidak bertele-tele.

Keseimbangan Redaksi al-Qur’an

Keseimbangan dalam jumlah pemakaian kata antonim; seperti kata al-ayah (kehidupan) dan al-maut (kematian)masing-masing sebanyak 145 kali. Kata al-harr dan al-bard masing-masing 4 kali. Keseimbangan dalam jumlah pemakaian kata sinonim; kata al-jahr (nyata) dan al-a’laniyah (nyata), masing-masing sebanyak 16 kali. Kata al-ujub (membanggakan diri) dengan kata al-gurur (angkuh) masing-masing 17kali. Kata al-harts (membajak) dan as-Zira’ah (bertani) masing-masing 14 kali. Keseimbangan dalam jumlah bilangan kata yang menunjuka pada akibatnya: al-kafirun (orang-orang kafir) dan an-nar (neraka/pembakaran) masing-masing sebanyak 154 kali. Kata as-Zakah (penyucian) dan al-Barakat (kebajikan yang banyak) masing-masing 32 kali. Kata al-fahisyah (kekejian) dan al-ghadab (murkah) masing-masing 26 kali. Keseimbangan dalam jumlah pemakaian kata dengan penyebabnya; Kata as-salam (kedamaian) dan ath-thayyibat (kebajikan) masing-masing sebanyak 60 kali. Kata al-asra (tawanan) dan al-harb (perang) masing-masing 6 kali. Kata al-mau’izhah (nasihat) dan al-lisan (lidah) masing-masing 25 kali Keseimbangan lainnya yaitu; kata yaum (dalam bentuk tunggal) sebanyak 365 kali. Sesuai jumlah hari dalam setahun. Sedangkan kata ayyam (dalam bentuk jamak), yaumin (dalam bentuk mutsanna) jumlah pemakaian dalam keseluruhan sebanyak 30 kali sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Disisi lain, kata syahr (bulan) hanya terdapat 12 kali, sejumlah bulan dalam setahun.[20]

Kemukjizatan Dari Segi Isyarat Ilmiah

Lahirnya teori baru membuat sebagian orang terjebak di dalam mencari kemungkinan kecocokannya dalam ayat, lalu ditakwilkan sesuai dengan teori ilmiah tersebut. Mereka menginginkan al-Qur’an mengandung segalah teori ilmiah, sehingga mengaitkannya dengan semua ilmu pengetahuan.[21] Mukjizat ilmiah al-Qur’an bukanlah terletak pada pencakupan teori-teori ilmiah yang selalu baru dan berubah, tetapi terletak pada dorongannya untuk berfikir dan menggunakan akal. Semua persoalan atau kaidahilmu pengetahuan yang telah mantap dan meyakinkan itu merupakan manifestasi dari pemikiran valid yang dianjurkan al-Qur’an, tidak ada pertentangan sedikitpun dengannya. Ilmu pengetahuan telah maju dan tidak sedikit masalah yang muncul, namun apa yang telah dianggap  paten dan mantap tidak bertentangan sedikitpun dengan salah satu ayat al-Qur’an.[22]

Kemukjizatan Al-Qur’an segi Pemberitaan

Al-Qur’an telah memberikan informasi tentang kejadian-kejadian masa lalu yang tidak mungkin didapatkan dengan jelas tanpa pemberitaan al-Qur’an. Pemberitaan al-qur’an bertujuan kebenaran dan keagamaan sehingga dapat meneguhkan keimanan terhadapdan kerasulan.[23] Penelitian antropologi misalnya sangat terbantu oleh kisah Nabi Nuh yang menyelamatkan diridari banjir besar.[24] Nabi Nuh memiliki 4 orang anak yaitu sam (melahirkan keturunan bangsa Arab dan persia), Ham (nenek moyang orang Afrika), Yafat (asal bangsa Arya yang kemudian melahirkan bangsa Eropa dan Asia tengah), Kan’an (melahirkan bangsa Pinisia yang dibasmi oleh Israel). Sebab itu Timur Tengah sering disebut bangsa Smit atau Semit, afrika disebut Hamit, sedang eropa membangsakan diri sebagai bangsa Arya. Demikian juga al-Qur’an menyajikan pemberitaan tentang masa depan yang telah terbukti kemudian dalam perjalanan waktu. Seperti firman Allah dalam:

سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ

Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka pasti akan mundur ke belakang. (Q.S. al-Qamar: 45) Umar bin Khattab r.a bertanya-tanya tentang pasukan yang di maksud oleh Allah swt. Akan dikalahkan oleh kaum muslimin, padahal mereka belum memiliki kekuatan karena jumlah mereka masih sangat sedikit di Makkah waktu itu. Ternyata betul terbukti ketika terjadinya peristiwa pathu makkah pada tahun 8 H.[25]

سَنَسِمُهُ عَلَى الْخُرْطُومِ

Kelak  akan kami memberi tanda (luka) Dia dibelalai (nya) (hidungnya). (Q.S. al-Qalam: 16) Al-Walid bin mughirah salah satu musuh Islam yang sangat terkenal dengan keangkuhan dan keberaniannya. Al-Qur’an bahwa dia akan mendapat luka di hidungnya, ternyata pada perang badar dia mengalami luka di hidung dan berbekas sampai akhir hayatnya.[26]

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ (2) سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4) فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya Dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak Dia akan masuk kedalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. (Q.S. Al-Lahab: 1-5) Abu Lahab disebutkan akan mati dalam keadaan kafir. Padahal diantara rekannya seperti khalid bin Walid, Amru bin As, Umar bin Khattab mempunyai pendirian yang sama sebelumnya dengan Abu Lahab, tetapi kemudian memeluk islam. Ternyata Abu Lahab sampai akhir hayatnya tetap dalam kekafirannya. Kalau saja dia menggunakan ayat itu untuk menanamkan keraguan terhadap al-Qur’an dengan menyatakan syahadat, maka al-Qur’an menyatakan pemberitaan bohong, namun itu tidak terjadi. Namun pemberitaan-pemberitaan yang disampaikan al-Qur’an itu menujukkan kemukjizatan al-Qur’an yang berasal dari maha kuasa dan maha mengetahui segalanya. Kesimpulan I’jaz menampakan kebenaran Nabi dalam pengakuannya sebagai Rasul sekaligus menampakkan kelemahan para penantangnya. I’jaz al-Qur’an membuktikan kebenaran al-Qur’an sekaligus menguatkan keyakinan terhadap kerasulan Muhammad saw. Memahami kemukjizatan al-Qur’an dapat ditelusuri dari kepribadian Nabi Muhammad, kondisi saat turunnya al-Qur’an, dan cara kehadiranya al-Qur’an, dan kemukjizatan al-Qur’an diantaranya dari segi bahasa, isyarat ilmiah, dan pemberitaan. Meskipun mukjizat berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Dari segi agama, sama sekali tidak dimaksudkan melemahkan atau membuktikan ketidakmampuan yang ditantang. Mukjizat ditampilkan oleh Allah melalui hamba-hamba pilihan-Nya untuk membuktikan kebenaran ajaran Ilahi yang dibawa oleh masing-masing Nabi. Bagi yang percaya kepada Nabi, maka ia tidak akan lagi membutuhkan mukjizat. Baca Juga:
  1. Keutamaan Surah al-Kafirun yang Sebaiknya Kita Pahami
  2. Metode Tafsir Bil Ma’tsur: Penafsiran Al-Qur’an Menggunakan Ayat Al-Qur’an, Hadis, Perkataan Sahabat & Tabi’in
  3. Bentuk Mutlak dan Muqayyad dalam al-Qur’an dan Hadis
  Catatan Kaki [1] Quraish Shihab dkk. Sejarah dan Ulumul Qur’an (Cet. III; Jakarta: Pustaka Pirdaus, 2001), h. 105. [2] Mohammad Ali Ash shabuniy. At-Tibiyan fi Ulumil al-Qur’an (Beirut; Dar al-Irsyad), h. 102. [3] Said Agil Husin Al-Munawar. Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki (Cet. III; Jakarta: Ciputat Press, 2003), h. 30-31. [4] Manna Khalil AL-Qattan. Mabahis fi Ulumil Qur’an (Cet. III; Riyad: Maktabah AL-Ma’arif, 2000), h. 259. [5] M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Qur’an ditinjau dari Aspek Kebahasaan Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib (Cet. XIV; Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2004), h. 23. [6] Muhammad Abd al-‘Azim al-Azarqani, Manahil al-Irfan fi Ulum Al-Qur’an (Jilid II; Kairo: Isa al-Bab al-Halaby, t. Th), h. 331. [7] M. Quraish Shihab, op. cit., h. 23. [8] Jalaluddin al-Suyuthi, al-Itqan fi’Ulum al-Qur’an (Jilid II; Beirut: Dar al-Fikr, 1979), h. 116. [9] Ibid., h. 117. [10] M. Quraish Shihab, op. cit., h. 64. [11] Allah menjelaskan bahwa  Muhammad saw. tidak pernah membaca dan menulis sebelumnya sehingga menghilangkan kecurigaan mereka yang meragukan bahwa al-Qur’an adalah karangan/buatan Muhammad bukan wahyu., lihat., Q.S. al-Ankabut (48). [12] M. Quraish Shihab, op. cit., h. 82. [13] Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h. 120. [14] Manna Khalil al-Qattan, Mabahis fi Ulumil Qur’an, diterjemahkan Mudzakir AS, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an (Cet. X; Bogor; PT. Pustaka Litera Antar Nusa, 2007), h. 272-289. [15] Abu Hasan al-Nadawi, al-Madkhal ila al-Dirasah al-Qur’aniyyah (Kairo: Dar al-Shalah, 1986), h. 94. [16] Musthafa Mahmud, al-Qur’an (Kairo: Dar al-Ma’arif, t. Th), h. 245. [17] Dikutip Ahmad Van Daffer, Ulum al- Qur’an: An Introduction to the Science of the Quran, diterjemahkan oleh Ahmad Nasir Budiman dengan judul Ilmu al-Qur’an; Pengantar Dasar (Jakarta: Rajawali, 1998), h. 178. [18] M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1992), h. 29. [19] M. Quraish Shihab dkk, op. cit., h. 114. [20] M. Quraish Shihab dkk, op. cit., h. 140-143. [21] M. Husein al-Zahabi, al-Tijahat al-Muharifat Tafsir al-Qur’an al-Karim Dawafiu Wadafuhu, diterjemahkan oleh Machnum husein dengan judul, Penyimpangan dalam Penafsiran al-Qur’an (Cet. IV; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), h. 112. [22] Manna Khalil al-Qattan, op. Cit., h. 278-279. [23] Sayyid Qutb, Seni Penggambaraan dalam Al-Qur’an, diterjemahkan Chadijah Nasution (Yogyakarta: Nur Cahaya, 1981), h. 138-139. [24] M. Quraish Shihab dkk, op. cit., h. 125. [25I] bid., h. 127. [26] Ibid., h. 216.

Hadis Hasan: Pengertian, Klasifikasi & Macamnya, Beserta Contoh Kitabnya…

Hadis Hasan: Pengertian, Klasifikasi & Macamnya, Beserta Kitab-Kitab yang Memuat Hadis Hasan…

Tongkrongan Islami – Petunjuk AL-Qur’an mengisyaratkan kapada kita ,bahwa hadis Nabi adalah sumber ajaran Islam yang kedua setelah Al-Qur’an. Untuk mengetahui ajaran Islam yang benar diperlukan Al-Qur’an hadis Nabi. Setelah  melakukan penelitian terhadap hadis-hadis nabi saw, maka yang harus dikaji secara cermat dan teliti adalah sanad dan matan hadis itu, di antara ulama ada yang mencukupkan penelitian sanad saja tanpa penelitian matan, padahal penelitian terhadap matan tidak kurang penting dengan penelitian terhadap sanad,sebab hadis yang sahih sanad matannya da’if juga tidak dapat dijadikan hujjah, hadis yang berkualitas baik adalah hadis yang sahih sanad dan matannya, sehingga penulis sependapat dengan ulama yang menganggap penting penelitian terhadap sanad dan matan hadis,agar supaya kualitas hadis benar-benar meyakinkan. Karena ada beberapa orang dari golongan tersebut yang Menta’wilkan Al-Qur’an tidak menurut yang seharusnya dan menggunakan nash as-sunnah tidak menurut yang semestinya.Dan ketika sebagian mereka tidak menemukan apa yang mereka cari karena banyaknya pakar yang hafal Al-Qur’an dan Sunnah, maka mereka mencoba beralih kepada pola pemalsuan dan pendustaan atas diri Rasulullah Saw. Sejak saat itulah muncul Hadis-hadis tentang keutamaan Khalifah Rasiydah yang empat dan yang lain dari para pemimpin dan  pemuka aliran.disamping itu muncul Hadis-hadis yang secara tegas menyatakan pengukuhan atas kelompok-kelompok politik dan aliran-aliran keagamaan serta yang lainnya. Hadis palsu yang mula-mula dibuat ialah hadis berkenaan dengan pengutusan pribadi. Sejarah telah membuktikan bahwa ulama-ulama, sesungguhnya dalam meneliti sanad hadis, mereka telah berlaku demikian karena berpendapat bahwa sanad hadis merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari agama dan hadis itu sendiri. Sebelumnya kami telah membahas secara rinci mengenai hadis shahih dan hadis dhaif, kali ini kami akan membahas permasalahan hadis selanjutnya yaitu hadis hasan.

Pengertian Hadits Hasan

Hasan menurut bahasa artinya baik dan bagus. Menurut istilah: Hadis yang sanadnya bersambung dari permulaan sampai akhir, diceritakan kepada orang-orang adil, kurang dhabitnya, serta tidak ada zyudz dan illat, yang berat didalamnya. Adapun kekuatan hukumnya: Hadis hasan sama seperti hadis shahih dalam pemakaiannya sebagai hujjah, walaupun kekuatannya lebih rendah dibawah hadis shahih. Semua ahli fikih, ahli hadis, dan ahli ushul fikih, menggunakan hadis hasan ini sebagai hujja. Contohnya:”Sesungguhnya pintu-pintu surga berada di bawah naungan pedang.

Klasifikasi Hadis Hasan

Sebagaimana hadis shahih, hadis hasan pun terbagi atas hasan litzatih dan hasan li ghairih. Hadis yang memenuhi syarat-syarat hadis hasan disebut hadis hasan li dzatih, syarat untuk hadis hasan adalah sebagaimana syarat hadis shahih, kecuali bahwa para rawinya hanya termasuk kelompok keempat (saduq) atau istialh lain yang setaraf atau sama dengan tingkatan tersebut. Adapun hasan li ghairhi adalah hadis da’if  yang bukan dikarenakan rawinya pelupa, banyak salah dan orang fasik, yang mempunyai mutabi’ dan syahid. Hadis daif yang karena rawinya buruk hafalannya, tidak dikenal identitasnya, menyembunyikan cacat dapat naik derajatnya menjadi hasan li ghairih karena dibantu oleh hadis-hadis lain semisaldan semakna atau karena banyak rawi yang meriwayatkannya.

Kedudukan Hadis Hasan dalam Berhujjah

Kebanyakan ulama ahli hadis dan fuqaha bersepakat untuk menggunakan hadis hasan sebagai hujjah. Disamping itu , ada ulama yang mensyaratkan bahwa hadis hasan dapat di gunakan sebagai hujjah,bilamana memenuhi sifat-sifat yang bisa diterima. Pendapat terakhir ini memerlukan peninjauan yang saksama. Sebab, sifat- sifat yang dapat diterima itu ada yang ,menengah, dan rendah.Hadis yang sifat dapat diterimahnya tinggi dan menengah adalah hadis shahih, sedangkan hadis yang sifat yang diterimahnya rendah adalah hadis hasan. Hadis-hadis yang mempumyai sifat dapat diterimah sebagai hujjah disebut hadis maqbul, dan hadis yang tidak mempunyai sifat-sifat yang dapat diterimah disebut hadis mardud. Yang termasuk hadis maqbul adalah;
  1. Hadis shahih, baik shahih li dzatihi maupun shahih li ghairih.
  2. Hadis hasan , baik hasan li dzatihi maupun hasan li ghairihi.
Yang dimaksud hadis mardud adalah segalah macam hadis daif. Hadis mardud  tidak dapat diterimah sebagai hujjah karena terdapat sifat-sifat tercelah pada rawi-rawinya atau pada sanadnya.

Kitab-kitab yang mengandung hadis hasan

  1. Jami’ At-Tirmidzi, dikenal dengan sunan At-Tirmidzi, merupakan sumber untuk mengetahui hadis hasan.
  2. Sunan Abu Dawud.
  3. Sunan Ad-Daruquthi.
  Sumber Tulisan Syaikh Manna’ Al-Qaththan. Pengantar Studi Ilmu Hadis (Cet. 1V; Jakarta timur: Maktabah Wahbah 2009), h. 121. Ibn Hajar Al-Asqalant. Ilmu Mustalah Hadis Dasar (Cet. 1: Medan: Panjiaswaja Pres), h. 16.

Hadis Shahih: Pengertian, Klasifikasi & Macamnya, Beserta Contohnya

 

Hadis Shahih: Pengertian, Klasifikasi & Macamnya, Beserta Contohnya

Tongkrongan Islami – Kata sahih berasal dari kata  sahhun yasihhun adalah merupakan bentuk izim fa’il yang berarti yang benar, yang tepat. Sedangkan menurut istilah, para ulama hadis memberikan pengertian yang tersandar dan tersepakati secara umum, meskipun masih ada kritikan dalam beberapa sisi, antara lain: Menurut ibn salah dalam Muqadimmaeh menyebutkan: “hadis sahih adalah hadis yang bersambung sanadnya, yang di riwayatkan oleh rawi yang adil dan dhabit dari rawi lain yang (juga) adil dan dabit sampai akhir sanad, dan hadis itu tidak janggal serta tidak mengandung cacat (illat)” Menurut Imam Nawawi dalam Takriib Ar-Raawii Fii Syarh Ta-Qriib-Nawawi menyatakan: Hadis sahih adalah hadis yang bersambung sanadnya muttasil (bersambung) melalui  (periwayatan) orang-orang yang adil lagi dhabit tanpa syadz dan illataa” Menurut taahir Al-Jazaa’ iri ad-Dimansyqii, dalam kitab Taujiih An-Ranadza Ilaa Usuul Al-Atsar, menyatakan: “Hadis sahih adalah hadis yang sanadnya barsambung dari awal sanad sampai akhir sanad, yang di riwayatkan orang adil dan dabit dari perawi semisalnya, tanpa syaz dan illat”

Syarat-syarat Hadis Dikatakan Shahih

Ada beberapa syarat yang mendakan sebuah hadi dikatakan shahih. Menurut muhaditsin, suatu hadis dapat dinilai sahih, apabila memenuhi syarat berikut; a. Rawinya bersifat adil Menurut Ar-Rasi, keadilan adalah tenaga jiwa yang mendorong untuk salalu bertindak takwa, menjauhi dosa-dosa besar, menjauhi kebiasaan melakukan dosa-dosa kecil, dan meninggalkan perbuatan-perbuatan mubah yang menodai muru’ah, seperti makan sambil berdiri di jalanan, buang air (kencing) di tempat yang bukan disediakan untuknya, dan bergurau yangberlebihan. Menurut Syuhudi Ismail, kriteria-kriteria periwayat yang bersifat adil, adalah: Beragama Islam, Berstatus mukalaf (Al-Mukallaf), Melaksanakan ketentuan agama, Memelihara muru’ah. b. Rawinya bersifat dhabit Dhabit adalah bahwa rawi yang bersangkutan dapat menguasai hadisnya dengan baik, baik dengan hapalan yang kuat atau dengan kitabnya, lalu ia mampu mengungkapkannya kembali ketika meriwayatkannya. Kalau seseorang mempunyai ingatan yang kuat, sejak menerima hingga menyampaikan kepada orang lain dan ingatannya itu sanggup dikeluarkan kapan dan dimana saja dikehendaki, orang itu dinamakan dhabtu shadri. Kemudian, kalau apa yang disampaikan itu berdasar pada buku catatannya (teks book) ia disebut dhabtu kitab. Rawi yang adil dan sekaligus dhabith disebut tsiqat. c. Sanadnya bersambung Yang dimaksud dengan ketersambungan sanad adalah bahwa setiap rawi hadis yang bersangkutan benar-benar menerimahnya dari rawi yang berada di atasnya dan begitu selanjutnya sampai kepada pembicara yang pertama. Untuk mengetahui bersambung atau tidaknya suatu sanad, biasanya ulama hadis menempuh tata kerja yang penelitian berikut:
  1. Mencatat semua nama rawi dalam sanad yang diteliti.
  2. Mempelajari sejarah hidup masing-masing rawi.
  3. Meneliti kata-kaa yang menghubungkan antara para rawi dan rawi yang terdekat dengan sanad.
Jadi, suatu sanad hadis dapat dinyatakan bersambung apabila:
  1. Seluruh rawi dalam sanad itu benar-benar thiqat (adil dan dhatbit).
  2. Antara masing-masing rawi den gan rawi terdekat sebelumnya dalam sanad itu benar-benar telah terjadi hubungan periwayatan hadis secara sah menurut ketentuan tahamul wa ada al-hadis.
d. Tidak ber-illat membuat cacat, meskipun tampak bahwa hadis itu tidak menunjukkan  adanya cacat tersebut f. Tidak syadz (janggal) Jadi, hadis sahih adalah hadis yang rawinya adil dan sempurna ke-dhabit-annya, sanad muttashil, dan tidak cacat matannya marfu’, tidak cacat dan tidak janggal.

Klasifikasi dan Macam-Macam hadis shahih

Hadis sahih terbagi menjadi dua, yaitu sahih li dzatih dan sahih li ghairih. Sahih li dzatihi adalah hadis sahih yang memenuhi syarat-syaratnya secara maksimal, seperti yang telah disebukan diatas. Adapun hadis sahih li ghairih adalah hadis sahih yang tidak memenuhi syarat-syarat secara maksimal. Misalnya, rawinya yang adil tidak sempurnake-dhabit-annya (kapasitas intelektualnya rendah). Bila jenis ini dikukuhkan oleh jalur lain semisal, ia menjadi sahih li ghairih. Dengan demikian, sahih li ghairih adalah hadis yang kesahihannya disebabkan oleh faktor lain karena idak memenuhi syarat-syarat secara maksimal. Misalnya, hadis hasan yang diriwayatkan melalui beberapa jalur, bisa naik derajat dari hasan ke derajat sahih.

Martabat & Kedudukan Hadis Shahih

Hadis sahih yang paling tinggi derajatnya adalah hadis yang bersanad ashahul asanid, kemudian berturut-turut sebagai berikut:
  1. Hadis yang disepakati oleh Bukhari Muslim.
  2. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari sendiri.
  3. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sendiri.
  4. Hadis sahih diriwayatkan menurut syarat-syarat bukhari dan muslim, sedangkan kedua imam itu tidak men-takhrij-nya.
  5. Hadis sahih menurut syarat bukhari, sedangkan Imam Bukhari sendiri tidak men-takhrij-
  6. Hadis sahih menurut syarat muslim, sedangkan Imam Muslim sendiri tidak men-takhrij-nya.
  7. Hadis sahih yang idak menurut salah satu syarat dari kedua Imam Bukhari dan M
  8. Ini berarti si pen-Takhrij tidak mengambil hadis dari rawi-rawi atau guru-guru Bukhari dan Muslim, yang telah beliau sepakati bersama atau yang masih diperselisihkan. Akan tetapi, hadis yang di-takhrij-kan tersebut, disahihkan oleh Imam-imam hadis yang ternama. Misalnya hadis-hadis sahih yang terdapat pada Sahih Ibnu Huzaimah, Shahih Ibni Hibban, Dan Shahih Al-Hakim.

Karya-karya yang hanya memuat hadis shahih

Ada banyak kitab hadis yang kita temukan telah diterbitkan namun kitab-kitab tersebut sebagian ada yang mencapurkan hadis sahih, hasan, dan daif. Agar tidak keliru diantara karya-karya yang hanya memuat hadis sahih adalah:
  1. Shahih Bukhari
  2. Shahih Muslim
  3. Mustadrak Al-Hakim
  4. Shahih Ibnu Hibban
  5. Shahih Ibnu Khuzaimah
  Sumber Tulisan Akib Muslim, Ilmu Mustalahul Hadis. Kajian Historis Metodologis (Cet. 1; Yogyakarta: STAIN Kediri Press 2010), h. 130. Agus Salahuddin,  Agus Suyadi. Ulumul Hadis (Cet.1 : Bandung: Pustaka Setia, 2009), h. 142-144.   Syuhudi Ismail.  Kaedah Kesahihan Sanad Hadis.

Hadis Dhaif: Pengertian, Kriteria & Macamnya, Beserta Contohnya…

Hadis Dhaif: Pengertian, Kriteria & Macamnya, Beserta Contohnya…

Tongkrongan Islami – Kata dha’if  menurut bahasa, berarti lemah, sebagai lawan dari qawi (yang kuat)[14]. Sebagai lawan kata dari shahih,kata dha’if juga berarti saqim (yang sakit). Maka sebutan hadis dha’if secara bahasa berarti hadis yang lemah, yang sakit, dan yang tidak kuat. Secara terminologis, para ulama mendefinisikannya dengan redaksi yang beragam,meskipun maksud dan kandungannya sama. Al-Nawawi dan Al-Qasimi mendefinisikan hadis Dha’if dengan:“Hadis yang didalamnya tidak terdapat syarat-syarat hadis shahih dan syarat- syarat hadis hasan. Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib menyatakan bahwa definisi hadis Dha’if adalah: “segala hadis yang di dalamnya tidak terkumpul sifat-sifat maqbul”. Sifat-sifat  maqbul dalam definisi di atas maksudnya adalah sifat-sifat yang terdapat dalam hadis shahih dan hadis hasan, karena keduanya memenuhi sifat- sifat maqbul. Dengan demikian, definisi kedua tersebut sama dengan definisi berikut: “Hadis yang di dalamnya tidak berkumpul sifat-sifat hadis shahih dan hadis hasan “. Menurut Nur Al- Din ‘Itr, definisi yang paling baik tentang hadis dha’if adalah: “Hadis yang hialang salah satu syaratnya dari syarat-syarat hadis maqbul”. Maksudnya, suatu hadis yang tidak memenuhi salah satu syarat(kriteria) hadis shahih atau hasan dinyatakan sebagai hadis dha’if yang berarti hadis itu bertolak untuk di jadikan hujjah.

Kriteria & Macam-Macam Hadis dha’if

Pada definisi diatas terdapat bahwa hadis dha’if tidak tidak memenuhi salah satu dari kriteria hadis shahih atau hadis hasan. Sebagaimana telah di jelaskan di atas, kriteria-kriteria hadis shahih adalah 1. Sanadnya bersambung 2. Periwayat adil 3. Periwayat dhabit 4. Terlepas dari syadz 5. Terhindar dari illat. Adapun kritria-kriteria hadis hasan adalah 1 sanadnya bersambung Terhindar dari illat. Berhubung hadis dha’if tidak memenuhi salah satu dari beberapa kriteria diatas, maka kriteria hadis dhi’if adalah : 1 sanadnya terputus  2. Periwayat tidak adil 3. Periwayat tidak dhabit 4. Mengandung syadz  5. Mengandung illat. Penjelasan tentang kriteria-kriteria ini selanjutnya dapat dilihat pada penjelasan tentang macam-macam  hadis dha’if berikut:[15] Adapun macam-macam hadis dhaif akan kami jelaskan secara rinci di bawah ini, disusun berdasarkan dengan penyebab hadis tersebut dikatakan daif.

Hadis Daif Karena Sanad Terputus

Dalam kaitannya dengan keterputusan  sanad, Ibnu Hajar Al- asqalani membagi hadis dha’if kapada lima macam. Yaitu hadis mu’allaq, hadis mursal, hadis mungqathi’, hadis mu’dhal, dan hadis mudallas. 1) Hadis mu’allaq Hadis mu’allaq adalah hadis yang terputus di awal sanad. Kata mu’allaq se cara bahasa berarti tergantung. Secara terminologis, hadis mu’allaq adalah hadis yang meriwayatkan di awal sanad (periwayatan disandari oleh penghimpun hadis) gugur atau terputus seorang atau lebih secara berurut. Patokan tentang keterputusannya terletak pada awal sanad baik secara periwayat atau lebih. Contoh hadis mu’allaq adalah riwayat Al-Bukhari dengan perbandingan sanad dari Abu Dawud, al- Nasa’i dan Ibn Majah:“Bab tentang orang yang mandi telanjang sendirian ditempat yang sepi dan menutupi lebih baik. Bahz mengatakan dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi Saw.Sabdanya,’Allah lebih berhak untuk disikapi malu dari pada manusia. Pada sanad di atas ada beberapa periwayat yang digugurkan sebelum Al-Bukhari setelah bahz dan untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan membandingkan dengan sanad-sanad pada hadis-hadis berikut:
  • Dalam sunan Abi Dawud
  • Dalam sunan al-nasa’i.
  • Dalam sunan Ibnu Majah.
2) Hadis Munqathi Tentang definisi hadis munqathi’, para ulama berbeda pendapat. Berikut dikemukakan beberapa definisi hadis munqathi itu: Hadis munqathi adalah hadis yang sanadnya terputus di bagian mana saja, baik pada sanad terakhir atau periwayat pertama (sahabat) maupun bukan sahabat (selain periwayat pertama)
  • Hadis munqathi’ adalah hadis yang sanadnya terputus, karena periwayat yang tidak berstatus sebagai sahabat Nabi atau tabi’in menyatakan menerima hadis dari Nabi. Sanad hadis terputus pada peringkat sahabat dan tabi’in.
  • Hadis munqathi’ adalah hadis yang bagian sanadnya sebelum sahabat (periwayat sesudahnya) hilang atau tidak jelas orangnya.
  • Hadis munqathi’ adalah hadis yang dalam sanadnya ada periwayat yang gugur seorang atau dua orang tidak secara berurutan.
  • Hadis munqathi’ adalah hadis yang dalam sanadnya ada seorang priwayat yang terputus atau tidak jelas.
  • Hadis munqathi’ adalah hadis yang saanadnya dibagian sebelum sahabat (periwayat sesudahnya) terputus seorang atau lebih tidak secara berturut dan tidak terjadidi awal sanad.
  • Hadis munqathi’ adalah pernyataan atau perbuatan tabi’in.
Untuk menghidari ketidakjelasan, maka dipilih definisi berikut: Hadis munqathi adalah hadis yang ditengah sanadnya ada periwayat yang gugur seorang atau dua orang tidak secara berurutan. Definisi ini dimaksudkan untuk menghidari bias dengan beberapa kategori hadis Dha’if  lain diatas. Contoh hadis munqathi adalah riwayat Ibn Majah.[16]: “keluar juga membaca shalawat untuk muhammad dan berdoa,’ Ya tuhanku’ Ali ibn Hajar bercerita kepada kami, katanya Ismai Ibn Ibrahim bercerita kepada kami dari layts ‘Abd Allah ibn Al-Hasan dari ibunya fatimah binti Al-Husain dari neneknya fatimah Al-kubrah katanya,’ apabila Rasulullah memasuki masjid, ia membaca shalawat bagi Nabi Muhammad dan berdoa, Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan bukalah pintu rahmatmu.’ Dan jika ia ampunilah dosaku dan bukalah pintu keutamaan-mu. Untuk mengetahui keterputusan sanad (Al-inqitha) pada hadis munqathi’dapat diktahui dengan tiga cara:
  • Dengan jelas, yaitu periwayatan yang meriwayatkan hadis dapat diketahui dengan pasti tidak sezaman dengan guru yang memberikan hadis kepadanya atau ia hidup sezaman dengan gurunya, tetapi tidak mendapat izin (ijzah) untuk meriwayatkan hadisnya. Hal ini dapat dilihat dari tahun lahir dan/atau wafat mereka.
  • Dengan samar-samar, yaitu karena tidak ada tahun lahir dan/ atau wafat periwayat , maka keterputusan hadis munqathi’ hanya diketahui oleh orang ahli saja.
  • Dengan komparasi, yaitu dengan memperbandingkan hadis-hadis dengan hadis lain yang senada sehingga diketahui apakah hadis tertentu munqathi’ atau bukan.
3) Hadis Mu’an’an dan muannan Di samping itu, hadis yang termasuk kategori hadis dha’if  karena sanadnya diduga mengalami keterputusan (Al-inqitha) adalah hadis al-mu’an’an dan almuannam. Kata Al-Muannan berasal dari kata annana yang berarti periwayat berkata : anna (bahwa) anna (bahwa) yang menunjukkan bahwa periwayat meriwayatkan hadis dari periwayat lain dengan menggunakan metode anna. 4) Hadis Mu’dhal Kriteria hadis mu’dhal adalah: a. yang gugur atau terputus lebih dari satu orang ;b. Keterputusan secara berturut-turut; c. Tempat keterputusan di tengah sanad, bukan di awal atau akhir. Jadi, hadis mu’dhal adalah hadis yang gugur dua orang periwayatnya atau lebih secara berturut-turut baik gugurnya itu antara sahabat denngan tabi’in, antara tabi’in dengan tabi’al-tabi’inatau dua orang sesudah mereka. Contoh hadis mu’dhal dapat dilihat dalam kita Al-muwathth’ karya Imam Malik sebagai berikut: “Malik bercerita kepadaku bahwa sebuah berita sampai kepadanya, Abu Hurayah berkata, Rasulullah Saw. Bersabda, Seorang budak berhak mendapatkan makanan dan pakaian seta ia tidak dibebani pekerjaan kecuali ia mampu”. 5) Hadis Mursal Sebagaimana terlihat pada penjelasan sebelumnya, sebuah hadis disebt mursal apabila di riwayatkan oleh tabi’i langsung dari Nabi tanpa menyebut sahabat. Kata mursal secara bahasa berarti lepas atau terceraikan dengan cepat atau tanpa halangan. Contoh hadis mursal shahabi dalam shahih Ibnu Hibban: ”Al-Husayn bin Idris Al-Anshar bercerita pada kami, katanyaAhmad bin Abi Bakr bercerita pada kami dari Malik dari Ibn Syihab Al-Zuhri dari ‘Ubayad Allah bin ‘Abd Allah dari Ibn ‘Abbas bahwa Rasulullah Saw. Keluar ke Mekkah pada tahun pembukaan kota itu bulan Ramadhan, ia berpuasa hingga sampai ke kadid. Kemudian ia berbuka dan umat muslimjuga berbuka 6) Hadis Mawquf dan Hadis Maqthu’ Hadis mawquf adalah hadis yang di sandarkan kepada sahabat Nabi, atau hadis yang diriwayatkan dari para sahabat berupa berkataan , perbuatan, atau persetujuannya. Contoh hadis mawquf adalah perkataan ‘Ali dalam riwayat Al-Bukhari: ’Dan ‘Ali berkata,’Berbicaralah dengan  manusia tentang sesuatu yang mereka ketahui. Apakah kalian ingin agar Allah dan Rasul –Nya didustakan?. Hadis ini diceritakan kepada kami oleh ‘Ubayd Allah bin Musa dari ma’ruf bin Kharbudz dari Abu All-Tufayl dari ‘Ali.

Hadis Dha’if Karena periwayatnya Tidak ‘Adil

1) Hadis mawdhu’. Hadis maudhu’adalah  hadis yang dusta yang dibuat-buat dan dinisbahkan kepada Rasulullah . 2) Hadis Matruk. Hadis Matruk adalah hadis yang diriwayatkan oleh periwayat yang tertuduh sebagai pendusta. Contoh hadis matruk berkualitas dha’if: ”Barang siapa yang mempunyai kegelapan akal dan keyakinan yang menipu, hal itu tidak akan membahayakan dosanya sedikitpun. 3) Hadis Munkar. Hadis munkar berasal dari kata Al-Inkar (mengingkari) lawan dari kata Al-Iqrar (menetapkan). Dikalangan ulama hadis, hadis munkar didefinisikan dengan :1. Hadis yang dalam sanadnya terdapat periwayatan yang mengalami kekeliruan yang parah, banyak mengalami kesalahan, dan pernah berbuat fasik;2. Hadis yang diriwayatka oleh periwayat yang Dha’if yang bertentangan dengan riwayat yang siqaht. Contoh hadis munkar adalah hadis yang diriwayatkan oleh An-nasa’i dan Ibn Majah dan Aisyah secara marfu’: “Muhammad bin umar bin Ali bin Atha’ bin miqdam bercerita kepada kami katanya, Yahya bin Muhammad bin Qays bercerita kepada kami katanya, aku mendengar Hisyam bin Urwah menyebutkan hadis dari ayahnya dari Asyah katanya,Rasulullah Saw. Bersabda,’Makanlah kurma  atau yang masih mudah. Karena jika seseorang memakannya, maka setan akan marah dan berkata,’seseorang telah hidup sampai makan ciptaan yang baru.

Hadis Dha’if karena Periwayatnya Tidak Dhabit

1) Hadis Mudallas Berasal dari kata dallasa yang secara bahasa berarti menipu atau menyembunyikan cacat. Menurut istilah, hadis mudallas adalah hadis yang diriwayatkan dengan cara yang diperkirakan bahwa hadis itu tidak cacat. Periwayat yang menyembunyikan cacat disebut Al-Mudallis, hadis yang disebut Al-Mudallas, dan perbuatan menyembunyikan disebut Al-Tadlis. Contoh hadis mudallas kategori tadlis Al-Isnad riwayat Ibn ‘Umar berikut:”Hannad bin Al-Sara bercerita kepada kami dari ‘Ubbadah dari Ibn Ishaq dari Nafi’ dari Ibn ‘Umar, katanya aku mendengar Rasulullah Saw. Bersabda’ bila salah seorang diantara kalian mengantuk dimasjid, hendaklah ia bergerak di tempat lain. 2)  Hadis  Mudraj Kata mudraj berasal dari kata adraja(menyisipkan) seperti kata;(Aku menyisipkan sesuatu pada sesuatu. Menurut istilah ilmu hadis, mudraj adalah hadis yang bentuk sanadnya diubah kedalam matannya dimasukkan sesuatu kata atau kalimat yang sebetulnya bukan bagian dari hadis tersebut tanpa ada ikatan pemisah. Baca Juga:
  1. Hadis Lemah (Dhaif) Seputar Bulan Muharram
  2. Hadits Lemah & Palsu Seputar Bulan Ramadhan
Disadur dari buku Studi hadis karangan Dr. Idri, Cet. 1; Jakarta: Kencana, 2010, h. 177-202.