Bacaan Lengkap Dzikir dan Doa Setelah Shalat Fardhu

Dzikir dan Doa Setelah Shalat Fardhu – Dalam ajaran al-Qur’an sebagai salah satu metode/cara untuk mencegah atau mengobati berbagai gangguan kejiwaan adalah shalat. Shalat sebagai salah satu bentuk ibadah, banyak sekali membantu dalam mengatasi problem-problem kejiwaan. Dalam shalat manusia akan selalu ingat dan dekat dengan Allah, manusia tidak akan terperosok kedalam kemungkaran. (Lihat buku Dienul Islam, hlm. 180)

Dengan demikian shalat sebagai penawar paling mujarab bagi kesehatan jiwa dan rohani serta fisik manusia. Maka salah satu pendidikan ibadah yang Allah perintahkan adalah shalat. Seperti yang terdapat dalam al-Qur’an surat al-Ankabut ayat 45 Allah SWT. berfirman, artinya: Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. (Q. S. al-Ankabut : 45).

Dalam tafsir al-Maraghi inti dari ayat tersebut adalah kita diperintahkan untuk mengerjakan shalat secara sempurna seraya mengharapkan keridhaan-Nya dan kembali kepada-Nya dengan khusyu’ dan merendahkan diri.

Sebab jika shalat dikerjakan dengan cara demikian, maka shalat akan dapat mencegah dari berbuat kekejian dan kemungkaran karena shalat mengandung beberapa ibadah seperti takbir, tasbih, berdiri dihadapan Allah Azza Wajalla, ruku’ dan sujud dengan segenap kerendahan hati serta pengagungan lantaran di dalam ucapan dan perbuatan shalat terdapat isyarat untuk meninggalkan kekejian dan kemungkaran. (Lihat Tafsir Al-Maragh)

Shalat sebagai ibadah tidaklah semata-mata melaksanakan kewajiban yang diwajibkan oleh Allah kepada manusia saja, tetapi lebih jauh dari itu, shalat merupakan penghubung langsung seorang hamba kepada Tuhannya, dengan menghadapkan hati (jiwa) kepada-Nya.

Hal ini akan mendatangkan keikhlasan dan kekhusyu’an dengan meninggalkan sifat-sifat buruk yang ada dan tumbuh dalam diri manusia, sehingga di peroleh rasa ketenangan dan ketenteraman dalam hati manusia (baca: tuntunan sholat lengkap). Sebagaimana hadits Nabi yang berbunyi: Artinya : Rasulullah bersabda :”Hai Bilal, kami merasakan ketenangan dalam melaksanakan shalat. (HR Ahmad)

Dari hadits di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa shalat merupakan manifestasi keimanan seseorang yang dapat membawa ketenangan jiwa dan ketentraman hati. Berbagai gangguan kejiwaan menurut konsep al-Qur’an adalah disebabkan karena lupa kepada Allah dan terlalu cinta terhadap dunia.

Shalat sebagai sarana dzikrullah/mengingat Allah mengambil peranan yang sangat penting dalam mewujudkan tujuan penciptaan manusia, karena dalam shalat terjadi komunikasi yang harmonis antara seorang hamba dengan Sang Khaliqnya. Karena sholat dapat dijadikan sebagai penghubung antara Sang Pencipta dengan hambanya, tidak sedikit dari kaum muslimin yang mengadukan segala permasalahannya setelah manjalankan ibadah sholat, baik sholat fardhu maupun sholat sunnah.

Pengaduan permasalahan ini tentu diawali dengan zikir (sebagaimana yang akan kami sebutkan di bawah ini, lalu diiringi dengan beraneka macam doa.

Bacaan Lengkap Dzikir Setelah Sholat Fardhu

أَسْتَغْفِرُ اللهَ

“Aku minta ampun kepada Allah,” (dibaca tiga kali).

اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dariMu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”[1]

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas se-gala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Eng-kau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal shalihnya). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.”[2]

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

“Tiada Tuhan (yang berhak disem-bah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tia-da Tuhan (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepadaNya. Bagi-Nya nikmat, anugerah dan pujaan yang baik. Tiada Tuhan (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir sama ben-ci.”[3]

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Dan Allah Maha Besar. (Tiga puluh tiga kali).

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

Tidak ada Tuhan (yang hak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan. BagiNya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”[4]Membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas setiap selesai shalat (far-dhu).[5]

Membaca ayat Kursi setiap selesai shalat (fardhu).[6]

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

“Tiada Tuhan (yang berhak disem-bah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan, bagi-Nya segala puja. Dia-lah yang menghi-dupkan (orang yang sudah mati atau memberi roh janin yang akan dilahirkan) dan yang mematikan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.” Dibaca sepuluh kali setiap sesudah shalat Maghrib dan Subuh.[7]

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah! Sesungguhnya aku mo-hon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diteri-ma.” (Dibaca setelah salam shalat Su-buh).[8]

Contoh Doa Setelah Sholat Fardhu

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلاَمِ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ وَبَارِكْ لَهُمْ فِيْ أَسْمَاعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ مَا أَبْقَيْتَهُمْ وَاجْعَلْهُمْ شَاكِرِيْنَ لِنِعَمِكَ مُثْنِيْنَ بِهَا عَلَيْكَ وَأَتِمَّهَا عَلَيْهِمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, eratkan hati mereka, perbaiki hubungan sesama mereka, menangkan mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka, tunjuki mereka jalan-jalan keselamatan, keluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya iman, berkahilah pendengaran, penglihatan, pasangan, dan keturunan mereka selama Engkau hidupkan mereka, jadikan mereka orang-orang yang mensyukuri semua nikmat-Mu dan memuji-Mu karenanya, dan sempurnakanlah nikmat-nikmat itu untuk mereka, dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang.

اَللَّهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا مُجِيْبَ دَعْوَةِ الْمُضْطَرِّ إِذَا دَعَاكَ نَسْأَلُكَ أَنْ تُعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِميْنَ وَأَنْ تُذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَنْ تُدَمِّرَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَنْ تَجْعَلَ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ

Ya Allah Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan, Yang Maha Mengabulkan doa orang yang berada dalam kesulitan, kami memohon kepadamu agar Engkau memuliakan Islam dan kaum muslimin, menghinakan kemusyrikan dan orang-orang musyrik, menghancurkan musuh-musuh agama, dan menjadikan negeri ini dan negeri-negeri kaum muslimin lainnya aman dan tenteram.

اَللَّهُمَّ دَمِّرِ الْيَهُوْدَ وَالْكَفَرَةَ وَالْمشْرِكِيْنَ وَالشُّيُوْعِيِّيْنَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُبَدِّلُوْنَ دِيْنَكَ وَيُعَادُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ. اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ كَلِمَتَهُمْ وَأَدِرْ عَلَيْهِمْ دَائِرَةَ السَّوْءِ.

Ya Allah, hancurkanlah orang-orang Yahudi, kafir, musyrik, dan atheis yang menghalangi manusia dari jalan-Mu, mengganti agama-Mu, dan memerangi orang-orang yang beriman. Ya Allah, cerai-beraikan kesatuan mereka, porak-porandakan ideologi mereka, dan kepung mereka dengan keburukan.

اَللَّهُمَّ أَنْزِلْ بَأْسَكَ الَّذِيْ لاَ يُرَدُّ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ

Ya Allah, turunkan azab-Mu kepada mereka, azab yang tidak akan ditarik dari orang-orang yang banyak berbuat dosa.

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تُحَرِّرَ الْمَسْجِدَ الأَقْصَى وَأَرْضَ فِلِسْطِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ مِنْ جُنُوْدِ حَمَاس. اَللَّهُمَّ انْصُر إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي أَفْغَانِسْتَان، وَإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي كَشْمِيْرَ، وَإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي الْعِرَاقِ، وَإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي الشِّيْشَانِ، وَإِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَائِرِ بِلاَدِ الإِسْلاَمِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Ya Allah, tolonglah dan menangkanlah saudara-saudara kami kaum muslimin para mujahidin di jalan-Mu di mana pun mereka berada. Tolonglah saudara-saudara kami kaum muslimin para mujahidin Palestina, bebaskan Masjid Aqsha dan tanah Palestina dari perampok Yahudi, tolonglah saudara-saudara kami kaum muslimin para pejuang Hamas. Ya Allah, bantulah pula saudara-saudara kami kaum muslimin para mujahidin di Afghanistan, Kasymir, Irak, Chechnya, dan negeri-negeri kaum muslimin yang lain, wahai Penguasa alam semesta.

اَللَّهُمَّ أَفْرِغْ عَلَيْهِمْ صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ

Ya Allah, berikan kesabaran kepada mereka, teguhkan pendirian mereka, dan tolonglah mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka.

اَللَّهُمَّ اكْتُبِ الشَّهَادَةَ عَلَى مَوْتَاهُمْ وَاكْتُبِ السَّلاَمَةَ عَلَى أَحْيَائِهِمْ

Ya Allah, tetapkan kesyahidan bagi yang gugur di antara mereka, dan berikan keselamatan kepada yang masih hidup.

رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا

Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.

رَبَّنَا لاَتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau lah Maha Pemberi (karunia).

رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

Ya Tuhan kami, berikan rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakan bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قُلُوْبٍ لاَ تَخْشَعُ وَمِنْ نُفُوْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari nafsu yang tidak pernah kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri sendiri, jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan peliharalah kami dari api neraka.

Baca Juga: Tata Cara Sholat Dhuha: Waktu, Jumlah Rakaat & Doa Sholat Dhuha.

 

Catatan Kaki

[1] HR. Muslim 1/414.
[2] HR. Al-Bukhari 1/255 dan Muslim 1/414.

[3] HR. Muslim 1/415.

[4] “Barangsiapa yang membaca kalimat tersebut setiap selesai shalat, akan diampuni kesalahannya, sekalipun seperti busa laut.” HR. Muslim 1/418.

[5] HR. Abu Dawud 2/86, An-Nasai 3/68. Lihat pula Shahih At-Tirmidzi 2/8. Ketiga surat dinamakan al-mu’awidzat, lihat pula Fathul Baari 9/62.

[6] “Barangsiapa membacanya setiap selesai shalat, tidak yang menghalanginya masuk Surga selain mati.” HR. An-Nasai dalam Amalul Yaum wal Lailah No. 100 dan Ibnus Sinni no. 121, dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ 5/329 dan Silsilah Hadits Shahih, 2/697 no. 972.

[7] HR. At-Tirmidzi 5/515, Ahmad 4/227. Untuk takhrij hadits tersebut, lihat di Zaadul Ma’aad 1/300.

[8] HR. Ibnu Majah dan ahli hadits yang lain. Lihat kitab Shahih Ibnu Majah 1/152 dan Majma’uz Zawaaid 10/111.

Penelitian Ilmiah tentang Puasa: Manfaat Puasa di Bidang Medis

0

Penelitian Ilmiah tentang Puasa: Manfaat Puasa di Bidang Medis

يايها الذين أمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa sebagaimana juga telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa [Q.S. Al-Baqarah: 183].

وأن تصوموا خير لكم إن كنتم تعلمون

Dan andai kalian memilih puasa tentulah itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui [Q.S. Al-Baqarah: 184].

Apakah ilmu pengetahuan kontemporer sudah bisa mengungkap rahasia dari firman Allah “jika kalian berpuasa maka itu lebih baik bagi kalian”???

Sesungguhnya ilmu pengetahuan kedokteran kontemporer belum mempu mengungkap hakikat puasa, selain hanya menyatakan bahwa puasa adalah keinginan yang boleh bagi manusia untuk melakukannya atau tidak. Itu saja.

Sesungguhnya puasa, setelah melalui berbagai penelitian ilmiah dan terperinci terhadap organ tubuh manusia dan aktivitas fisiologisnya menemukan bahwa puasa secara jelas adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh tubuh manusia sehingga ia bisa terus melakukan aktivitasnya secara baik.

Puasa benar-benar sangat penting dan dibutuhkan bagi kesehatan manusia sebagaimana manusia membutuhkan makan, bernafas, bergerak, dan tidur. Maka manusia sangat membutuhkan hal-hal ini. Jika manusia tidak bisa tidur, makan selama rentang waktu yang lama maka ia akan sakit. Maka, tubuh manusia pun akan mengalami hal yang jelek jika ia tidak berpuasa.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasaa’i dari shahabat Abu Umamah:

قال أبو أمامة: يا رسول الله، مرني بعمل ينفعني الله به، قال: عليك بالصوم فإنه لا مثل له

“Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepadaku satu amalan yang Allah akan memberikan manfaat-Nya kepadaku dengan sebab amalan itu”. Maka Rasulullah bersabda, “Berpuasalah, sebab tidak ada satu amalan pun yang setara dengan puasa”. [HR. Nasa’i]

Dan sebab pentingnya puasa bagi tubuh adalah karena puasa bisa membantu badan dalam membuang sel-sel yang sudah rusak, sekaligus sel-sel atau hormon atau pun zat-zat yang melebihi jumlah yang dibutuhkan tubuh. Dan puasa, sebagaimana dituntunkan oleh Islam adalah rata-rata 14 jam, kemudian baru makan untuk durasi waktu beberapa jam.

Ini adalah metode yang bagus untuk sistem pembuangan sel-sel atau hotmon yang rusak dan membangun kembali badan dengan sel-sel baru. Dan ini sangat berbeda dengan dengan apa yang difahami kebanyakan orang bahwa puasa menyebabkan orang menjadi lemah dan lesu.

Puasa yang bagus bagi badan itu adalah dengan syarat dilakukan selama satu bulan berturut-turut dalam setahun, dan bisa ditambahkan 3 hari setiap bulan. Hal ini sesuai benar dengan anjuran Rasulullah dalam sebuah haditsnya:

من صام من كل شهر ثلاثة أيام فذلك صيام الدهر

“Siapa yang berpuasa tiga hari setiap bulan, maka itu sama dengan puasa dahr (puasa sepanjang tahun)” [HR. Ibnu Majah & Tirmidzi]

Dan Allah pun membenarkan ucapan Nabi ini dengan firman-Nya:

من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها

Barangsiapa yang beramal dengan satu perbuatan baik, maka Allah memberikan kepadanya 10 kali lipat dari amalan itu.[QS. Al-An’am: 160]

Satu hari dihargai 10 hari oleh Allah, maka 3 hari dihargai 30 hari, dan bila 3 hari setiap bulan maka menjadi 36 hari. Dan ini senilai dengan 360 hari atau satu tahun dalam penghargaan Allah.

Tom Branch, dari Columbia Press mengatakan: Aku menganggap puasa adalah pengalaman ruhani yang sangat luar biasa, lebih besar daripada pengalaman biologis/badan semata. Maka karena keinginan itu, aku mulai berpuasa dengan tujuan membersihkan diriku dari berat badan yang berlebih. Akan tetapi, ternyata aku mendapati bahwa puasa tersebut bermanfaat sekali bagi kejernihan fikiran.

Puasa sangat membantu pandangan mata sehingga pandangan menjadi jelas sekali. Demikian juga sangat membantu dalam menganalisis ide-ide baru atau pun persepsi. Dan aktivitas puasaku belum berlalu beberapa hari, tetapi aku mendapati pengaruh kejiwaan yang demikian besar.

Aku telah berpuasa beberapa kali hinga sekarang. Dan aku biasanya memilih waktu antara 1 sampai 6 hari. Dan pada awalnya tujuanku adalah untuk menghilangkan efek negatif dari makanan yang aku konsumsi, juga untuk membersihkan jiwaku dari hal-hal yang aku alami sepanjang hidupku, khususnya setelah memperhatikan dunia dalam beberapa bulan terakhir, dan aku melihat banyak kedhaliman dan kebrutalan yang manusia hidup di dalamnya. Sungguh aku merasa bertangung jawab terhadap keadaan mereka, maka aku pun berpuasa untuk menghilangkan fikiran-fikiran itu.”

“Saya setiap kali berpuasa perasaan tertarik pada makanan benar-benar hilang, dan aku merasakan badanku sangat rileks dan nyaman. Dan aku merasakan diriku berpaling dari fantasi-fantasi, emosi-emosi negatif seperti dengki, cemburu, suka ngerumpi, juga hilang perasaan takut, perasaan tidak enak, dan bosan.

Semua perasaan-perasaan ini hilang dengan sendirinya ketika aku berpuasa. Dan sungguh aku merasa dengan pengalaman yang begitu mengesankan bersama dengan banyak manusia ketika berpuasa. Dan mungkin semua yang aku katakan ini adalah sebab yang menjadikan muslimin -sebagaimana aku melihat mereka di Turki, Suriah, dan Quds- dengan puasa selama 1 bulan penuh menjadikan jiwa-jiwa mereka begitu mengesankan yang tidak pernah aku temukan di belahan duni manapun”.

Puasa Mencegah Dari Tumor

Puasa juga berfungsi sebagai “dokter bedah” yang menghilangkan sel-sel yang rusak dan lemah di dalam tubuh. Maka, rasa lapar yang dirasakan orang yang sedang berpuasa akan bisa menggerakan organ-organ internal di dalam tubuh untuk menghancurkan atau memakan sel-sel yang rusah atau lemah tadi untuk menutupi rasa laparnya.

Maka hal itu merupakan saat yang bagus bagi badan untuk mengganti sel-selnya dengan sel-sel baru sehingga bisa kembali berfungsi dan beraktivitas. Dengan hal itu juga bisa menghilangkan atau memakan organ-organ yang sakit dan memperbaharuinya. Dan puasa juga berfungsi menjaga badan dari berbagai penambahan zat-zat berbahaya, seperti kelebihan kalsium, kelebihan daging, dan lemak. Juga bisa mencegah terjadinya tumor ketika awal-awal pembentukannya.

Menjaga Kadar Gula Dalam Darah

Puasa saangat bagus dalam menurunkan kadar gula dalam darah hingga mencapai kadar seimbang. Berdasarkan hal ini, maka sesungguhnya puasa memberikan kepada kelenjar pankreas kesempatan yangbaik untuk istirahat. Maka, pankreas pun mengeluarkan insulin yang menetralkan gula menjadi zat tepung dan lemak dikumpulkan di dalam pankreas.

Apabila makanan kelebihan kandungan insulin, maka pankreas akan mengalami tekanan dan melemah. Hal ini hingga akhirnya pankreas tidak bisa menjalankan fungsinya. Maka, kadar darah pun akan merambat naik dan terus meningkat hingga akhirnya muncul penyakit diabets. Dan sudah banyak dilakukan usaha pengobatan terhadap diabets ini di seluruh dunia dengan mengikuti “sistem puasa” selama lebih dari 10 jam dan kurang dari 20 jam. Setiap kelompok mendapatkan pengaruh sesuai dengan keadaannya.

Kemudian, para penderita tersebut mengkonsumsi makanan ringan selama berurutan yang kurang dari 3 minggu. Dan metode semacam ini telah mencapai hasil yang menakjubkan dalam pengobatan diabets dan tanpa menggunakan satu obat-obatan kimiawi pun.

Puasa Adalah Dokter Yang Paling Murah

Sesungguhnya puasa, tanpa berlebih-lebihan, adalah “dokter” yang paling murah secara mutlak. Sebab puasa bisa menurunkan berat badan secara signifikan, dengan catatan ketika berbuka puasa memakan makanan dengan menu seimbang dan tidak mengkonsumsi makanan dan minuman langsung ketika berbuka.

Rasullulah ketika memulai ifthar dari puasa adalah dengan memakan beberapa biji kurma dan bukan yang lain, atau seteguk air putih lalu shalat. Inilah petunjuk.

Dan inisebaik-baik petunjuk bagi orang yang berpuasa dari makanan dan minuman untuk waktu yang lama. Maka, gula ada dalam kurma dan orang akan merasa kenyang ketika memakan kurma, sebab ia sangat mudah dicerna dan dikirim ke dalam darah, dan pada saat yang sama ia memberikan energi atau kekuatan kepada badan.

Adapun jika kita langsung makan daging setelah lapar karena puasa, sayuran, dan roti, maka tubuh memerlukan waktu yang lumayan lama untuk bisa mencerna dan menyerap sari makanannya dan baru kemudian kita merasa kenyang. Dan pada saat seperti ini, maka orang ketika awal-awal berbuka akan tetap merasa lapar.

Akhirnya, orang yang berpuasa itu kurang bisa memperoleh manfaat langsung dari puasanya, yaitu memperoleh kesehatan, afiat, dan vitalitas, bahkan ia akan tetap kebanyakan lemak dan kegemukan. Dan ini tentu bukanlah tujuan Allah mensyariatkan bagi hamba-Nya untuk berpuasa.

Allah berfirman:

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان، فمن شهد منكم الشهر فليصمه، ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام آخر، يريد الله بكم اليسرى ولا يريد بكم العسر

Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan atas petunjuk itu dan pembeda. Maka siapa yang menemui bulan Ramadhan ini maka berpuasalah. Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan maka dia mengganti puasa tersebut pada bulan-bulan lain. Allah menginginkan untuk kalian kemudahan dan tidak menginginkan bagi kalian kesulitan. [.S. Al-Baqarah: 175]

Meminimalisir Penyakit-Penyakit Kulit

Sungguh puasa memberikan manfaat untuk mengobati berbagai penyakit kulit. hal ini disebabkan karena dengan puasa maka kandungan air dalam darah berkurang, maka berkurang juga kandungan air yang ada di kulit. Hal ini pada gilirannya akan berpengaruh pada:

  1. Menambah kekuatan kulit dalam melawan mikroba dan penyakit-penyakit mikroba dalam perut.
  2. Meminimalisir kemungkinan penyakit-penyakit kulit yang menyebar di sekujur badan seperti sakit psoriasis (sakit kulit kronis).
  3. Meminimalisir alergi kulit dan membatasi masalah kulit berlemak.

Ny. Ilham Husain, seorang puteri Mesir menuturkan:

Ketika aku berusia 10 tahun, aku menderita sakit kulit yang kronis. Penyakit ini muncul dengan warna merah, dan aku tidak menemui satu jenis obat pun. Dan setelah dokter-dokter spesialis kulit terkenal di Mesir berkata kepada Ayahku, “Kalian harus membiasakan ini dan kalian hidup dengan penyakit ini. Penyakit iniadalah tamu yang memberatkan lagi memakan waktu lama”.

Dan ketika usiaku mencapai akhir 20 tahun, dan dekat dengan waktu pernikahanku, aku semakin berduka dan mengucilkan diri dari masyarakat, aku benar-benar sumpeg (sempit dada). Dan akhirnya, salah seorang sahabat ayahku yang selalu membiasakan diri melakukan puasa memberi nasihat kepadaku, “Cobalah wahai puteriku, engkau berpuasa sehari kemudian engkau berbuka (makan) sehari, sebab hal itulah yang juga menjadi sebab kesembuhan suamiku dari penyakit yang sampai sekarang tidak diketahui obatnya oleh dokter.

Akan tetapi, lakukanlah bahwa pemberi obat adalah Allah dan sesungguhnya sebab terjadinya obat seluruhnya ada di tangan-Nya. Maka, mohonlah kesembuhan terlebih dahulu kepada-Nya dari penyakit yang engkau derita ini, lalu berpuasalah”.

Maka, aku pun melakukan puasa, dan aku mulai meneliti hal-hal yang mengeluarkan aku dari jahim yang menyelimutiku. Dan aku membiasakan diri ketika berbuka puasa mengkonsumsi berbagai sayuran dan buah-buahan, kemudian setelah 3 jam aku baru makan makanan berat. Dan aku makan (tidak puasa) pada hari ke dua, lalu berpuasa para hari ke tiga, dan demikian seterusnya. Dan mulai terjadi hal yang mengherankan semua orang, yaitu sakit yang aku derita itu mulai sembuh setelah melewati waktu 2 bulan sejak aku berpuasa.

Aku sampai tidak percaya pada diriku, dan aku memulai seperti biasa, dan aku melihat bekas sakitku itu sedikit-demi sedikit mulai hilang dan sampai akhirnya benar-benar sembuh. Akhirnya, aku pun tidak pernah tertimpa penyakit kulit tersebut sampai akhir hayatku.”

Puasa Mencegah “Penyakit Orang Kaya”

Penyakit ini sering juga disebut dengan nama “penyakit nacreous” yaitu yang disebabkan karena kelebihan makanan dan sering makan daging. Dan akhirnya tubuh tidak bisa mengurai berbagai protein yang ada dalam daging.

Dimana darinya akan menyebabkan tumpukan kelebihan urine dalam persendian, khususnya pada persendian jari-jari besar di kaki. Dan ketika persendian terkena penyakit nacreous, maka ia akan membengkak dan memerah dan disertai nyeri yang sangat.

Terkadang kadar garam pada air kencing berlebih dalam darah, kemudian ia mengendap di ginjal dan akhirnya mengkristal di dalam ginjal. Dan mengurangi porsi makan merupakan sebab utama bagi kesembuhan dari penyakit yang sangat berbahaya ini.

Menghindari Pembekuan Jantung dan Otak

Para profesor yang melakukan penelitian medikal ilmiah ini –mayoritasnya adalah non-muslim– menegaskan akan kebenaran puasa, sebab puasa bisa menjadi sebab berkurangnya minyak dalam tubuh dan pada gilirannya akan menyebabkan berkurangnya kolesterol. Taukah anda apa “mal-kolesterol” itu? Mal-Kolesterol adalah zat yang tertimbun pada oleh karena itu tidaklah berlebihan jika kita mau mendengarkan kepada firman Allah Ta`ala yang berbunyi :

وأن تصوموا خير لكم إن كنتم تعلمون

“Dan adaikan kalian mau berpuasa tentu itu lebih bagus bagi kalian jika kalian mengetahui.”

Maka berapa ribu manusia yang diliputi kebiasaan makan dan minum secara terus menerus tanpa ilmu ataupun bukan karena keinginan. Dan andai mereka mengikuti metode Allah dan sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang tidak berlebihan dalam hal makan dan minum, puasa tiga kali tiap bulan, tentu mereka akan mengetahui bahwa berbagai penyakit yang mereka alami akan berakhir serta akan turun berat badan mereka beberapa puluh kilogram.

Mengurangi Sakit Persendian Tulang

Sakit persendian adalah penyakit yang timbul karena berlalunya waktu yang panjang. Dengan hal itu maka organ-oragan tubuh mulai terasa nyeri dan sakit-sakitpun akan menyertai, dan kedua tangan dan kaki akan mengalami nyeri yang banyak.

Penyakit ini terkadang menimpa manusia pada fase-fase akhir usianya, akan tetapi lebih khusus lagi pada usia antara 30 s/d 50 tahun. Dan masalah yang sesungguhnya adalah kedokteran modern belum mampu menemukan obat atas penyakit ini sampai sekarang.

Akan tetapi percobaan ilmiah yang dilakukan di Rusia menegaskan bahwasannya puasa bisa menjadi sebab kesembuhan penyakit ini. Dan puasa bisa mengembalikan atau membersihkan tubuh dari hal-hal yang membahayakan.

Puasa ini dilakukan selama tiga minggu berturut-turut. pada kondisi ini maka mikroba ataupun bakteri penyebab penyakit ini menjadi zat yang dibersihkan pada badan selama puasa. Percobaan ini dilakukan terhadap jumlah penderita penyakit tersebut dan ternyata memperoleh hasil yang menakjubkan.

Berkata Sulaiman Rogerz dari New York berkata, “Aku pernah mengalami penyakit dis-fungsi persendian tulang yang sangat kronis selama tiga tahun yang lalu, padahal penyakit ini tidak terlalu berat waktu itu kecuali aku tidak bisa berjalan jauh, dan tidak mampu duduk lebih dari setengah jam.

Aku sudah mencari obat dari berbagai jenis akan tetapi semuanya gagal kemudian qodarullah aku berkenal dengan seorang kawan namanya Zanji Irfani disebuah jalan yang menuju masjid dan ia mengajak aku masuk Islam, dan kami waktu itu sedang di bulan Ramadhan, dan aku sangat terheran-heran dengan metode puasa itu sendiri, akan tetapi aku terus mengikuti aturan Islam ini karena aku merasa aturan itu lebih menyejukan hati dimana atarun-aturan itu bisa mencegah munculnya zat-zat yang berbahaya dan menyeimbangkan hal-hal yang tidak stabil di dalam tubuh.

Dua hal inilah masalah yang paling susah yang aku alami di New York. Dan sungguh aku mencoba untuk berpuasa sehari sebelum masuk Islam, aku hanya makan sayur-sayuran, buah-buahan dan kurma saja ketika berbuka pusa. Dan aku tidak makan apapun setelah itu kecuali ketika sahur, dan kini aku bisa berjalan panjang dan Alhamdulillah aku bisa berjalan cepat. Dan akhirnyapun hilang semua nyeri yang selama ini aku alami.

Puasa ini merupakan satu-satunya cara yang aku temui yang bisa mengobati penyakitku ini. Maka akupun mengucapkan syukur pada Allah atas limpahan nikmat-Nya padaku untuk masuk Islam setelah aku benar-benar mantap dengan-Nya.

Baca Juga:

Diakhirnya, Sulaiman berkata sesungguhnya puasa memiliki keutamaan besar sekali bagiku, andai engkau melihat bagaimana aku menyambut bulan Ramadhan setiap tahun, tentu engkau akan mengatakan, “Ah, layaknya seperti anak kecil saja tidak seperti orang yang berusia 40 atau 50 tahun”.

Sumber: Alsofwah.or.id

Konsep Kepemimpinan Islam Menurut Imam Mawardi

Konsep Kepemimpinan Islam Imam Mawardi – Nama lengkap ilmuwan Islam ini adalah Abu Hasan Ali bin Habib Al-Mawardi Al-Bashri, yang hidup antara tahun 364 H atau 975 M dan 450 H atau 1059 M.

Beliau adalah seorang pemikir Islam yang terkenal, tokoh terkemuka mazhab Syafi’i, dan pejabat tinggi yang besar pengaruhnya dalam pemerintahan Abbasiyah. Setelah berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain sebagai Hakim, akhirnya beliau kembali dan menetap di Baghdad, dan mendapat kedudukan yang terhormat pada pemerintahan Khalifah Qadir.


Imam Mawardi termasuk penulis yang produktif. Cukup banyak karya tulisnya dalam berbagai cabang ilmu, dari ilmu bahasa sampai sastra, tafsir, dan ketatanegaraan. Salah satu bukunya yang paling terkenal, termasuk indonesia, adalah Adab Al-Duniya Wa Al-Din (Tata Krama Kehidupan Duniawi dan Agamawi). Selain itu ada empat karya tulis dalam bidang politik, dua diantaranya telah dicetak:

Al-Ahkam Al-Sulthaniyah (Peraturan-Peraturan Kerajaan/Pemerintahan). 
Qawanin Al-Wuzarah, Siyasah Al-Malik (Ketentuan-Ketentuan Kewaziran, Politik Raja). 

Dari dua buku itu yang pertamalah yang paling terkenal. Sudah berkali-kali dicetak di Mesir dan telah disalin kedalam banyak bahasa. Buku ini sedemikian lengkap dan dapat dikatakan sebagai “Konstitusi Umum” untuk negara, berisikan pokok-pokok kenegaraan seperti tentang jabatan Khalifah dan syarat-syarat bagi mereka yang dapat diangkat sebagai pemimpin atau kepala negara dan para pembantunya, baik di pemerintah pusat maupun di daerah, dan tentang perangkat-perangkat pemerintah yang lain. 

Konsep Kepemimpinan dalam Islam

Asal Mula Munculnya Negara

Imam Mawardi berpendapat sama dengan Plato, Aristoteles, dan Ibnu Abi Rabi’, bahwa manusia adalah makhluk sosial, tetapi beliau memasukkan unsur agama dalam teorinya, menurut beliau adalah Allah yang menciptakan kita supaya tidak sanggup memenuhi kebutuhan kita sendiri, tanpa bantuan orang lain, agar selalu sadar bahwa Dialah pencipta kita dan pemberi rizki, dan bahwa kita membutuhkan Dia serta memerlukan pertolongan-Nya. Bahkan Imam Mawardi berpendapat, manusia adalah makhluk yang paling memerlukan bantuan pihak lain dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain, oleh karena banyak binatang misalnya yang sanggup hidup sendiri, sedangkan manusia selalu memerlukan manuisa lain, dan ketergantungannya satu sama lain merupakan sesuatu yang tetap dan langgeng.

Kelemahan manusia yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi semua kebutuhannya sendiri, dan terdapatnya keanekaragaman dan perbedaan bakat, pembawaan, kecenderungan alami serta kemampuan, semua itu mendorong manusia untuk bersatu dan saling membantu, dan akhirnya sepakat untuk mendirikan negara. Dengan kata lain sebab lahirnya negara adalah hajat umat manusia untuk mencukupi kebutuhan mereka bersama, dan otak mereka yang mengajari tentang cara bagaimana saling membantu dan tentang bagaimana mengadakan ikatan satu sama lain. Menurut Imam Mawardi ada enam sendi utama dari segi politik negara:

1. Agama yang dihayati. Agama diperlukan sebagai pengendali hawa nafsu dan pengawas melekat atas hati nurani manusia, karenanya merupakan sendi yang terkuat bagi kesejahteraan dan ketenangan negara.

2. Penguasa yang berwibawa. Dengan wibawanya dia dapat mempersatukan aspirasi-aspirasi yang berbeda, dan membina negara untuk mencapai sasaran-sasarannya yang luhur, menjaga agar agama dihayati, melindungi jiwa, kekayaan dan kehormatan warga negara, serta menjamin mata pencaharian mereka. Penguasa itu adalah imam atau Khalifah.

3. Keadilan yang menyeluruh. Dengan menyeluruhnya keadilan akan tercipta keakraban antara sesama warga negara, menimbulkan rasa hormat dan ketaatan kepada pemimpin, menyemarakkan kehidupan rakyat dan membangun minat rakyat untuk berkatya dan berprestasi. Dengan demikian jumlah penduduk akan berkembang, dan kedudukan penguasa tetap kokoh.

4. Keamanan yang merata. Dengan keamanan yang merata, rakyat dapat menikmati ketenangan batin,dan dengan tidak adanya rasa takut akan berkembang Inisiatif dan kegiatan serta daya kreasi rakyat. Meratanya keamanan adalah akibat dari menyeluruhnya keadilan.

5. Kesuburan tanah yang berkesinambungan. Hal ini dapat membuat kebutuhan rakyat akan bahan makanan dan kebutuhan materi yang lain dapat terpenuhi dan dengan demikian dapat dihindarkan perebutan dengan segala akibat buruknya.

Sistem Pemerintahan dalam Islam


Beliau mendasarkan teori politiknya atas kenyataan yang ada dan kemudian secara realistik menawarkan saran-saran perbaikan atau reformasi, misalnya dengan memertahankan status quo. Beliau menekankan bahwa Khalifah harus tetap berbangsa Arab dari Suku Quraisy, bahwa Wazir Tafwidh atau pembantu utama khalifah dalam penyusunan kebijaksanaan harus berbangsa Arab, dan bahwa perlu ditegaskan persyaratan bagi pengisisan jabatan Kepala Negara serta jabatan pembantu-pembantunya yang penting.

Kepemimpinan dalam Islam 


Yang dimaksudkan oleh Imam Mawardi disini adalah Khalifah, Raja, Sultan, atau Kepala Negara. Dengan demikian Imam Mawardi memberikan juga baju agama kepada jabatan Kepala Negara disamping baju Politik. Menurut beliau, Allah mengangkat seorang pemimpin untuk ummatnya sebagai pengganti (Khalifah) Nabi, untuk mengamankan agama, dengan disertai mandat politik. Dengan demikian Seorang imam disamping menjadi pemimpin politik juga berperan sebagai pemimpin Agama.

Kesimpulan 

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Imam Mawardi berpendapat seorang pemimpin tidaklah hanya cerdas dalam mengatur perpolitikan tetapi seorang pemimpin juga harus mampu mengamankan agama dan membimbing ummatnya agar mendapatkan kesejahteraan yang seimbang antara rohani dan kebutuhan yang bersifat materi. Serta suatu pemerintahan, haruslah menciptakan saran-saran agar terciptanya perbaikan dan pembangunan Negara sehingga Negara tersebut dapat menjadi kuat.

80+ Teks Pepatah Arab – Kumpulan Peribahasa Berbahasa Arab

Tongkrongan Islami – Pepatah arab atau biasa disebut dengan mahfudzat umumnya diambil dari kutipan hadis, perkataan sahabat, tabiin bahkan beberapa ulama. Mahfudzat ini digunakan untuk berbagai macam keperluan yang sarat akan makna.

Jika anda pernah mengunjungi pondok pesantren, pepatah arab ini dimasukkan kedalam kurikulum kepesantrenan, sehingga menjadi bagian dari pelajaran yang haru dilewati oleh santri.

Peribahasa berbahasa arab ini memiliki berbagai macam bentuk, yang diperuntukkan untuk keperluan tertentu semisal nasihat dalam menuntut ilmu, nasihat dalam kesabaran, kehidupan, hingga nasihat untuk tidak berputus asa.

Berikut Daftar Kumpulan Peribahasa Berbahasa Arab dan Terjemahannya

مَنْ سَارَ عَلىَ الدَّرْبِ وَصَلَ

Barang siapa berjalan pada jalannya sampailah ia

مَنْ جَدَّ وَجَدَ

Barang siapa bersungguh-sungguh, dapatlah ia

مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ

Barang siapa sabar beruntunglah ia

مَنْ قَلَّ صِدْقُهُ قَلَّ صَدِيْقُهُ

Barang siapa sedikit benarnya/kejujurannya, sedikit pulalah temannya.

جَالِسْ أَهْلَ الصِّدْقِ وَالوَفَاءِ

Pergaulilah orang yang jujur dan menepati janji.

مَوَدَّةُ الصَّدِيْقِ تَظْهَرُ وَقْتَ الضِّيْقِ

Kecintaan/ketulusan teman itu, akan tampak pada waktu kesempitan.

وَمَااللَّذَّةُ إِلاَّ بَعْدَ التَّعَبِ

Tidak kenikmatan kecuali setelah kepayahan.

الصَّبْرُ يُعِيْنُ عَلىَ كُلِّ عَمَلٍ

Kesabaran itu menolong segala pekerjaan.

جَرِّبْ وَلاَحِظْ تَكُنْ عَارِفًا

Cobalah dan perhatikanlah, niscaya kau jadi orang yang tahu.

اُطْلُبِ العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلىَ اللَّحْدِ

Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang kubur.

بَيْضَةُ اليَوْمِ خَيْرٌ مِنْ دَجَاجَةِ الغَدِ

Telur hari ini lebih baik daripada ayam esok hari.

الوَقْتُ أَثْمَنُ مِنَ الذَّهَبِ

Waktu itu lebih mahal daripada emas.

العَقْلُ السَّلِيْمُ فيِ الجِسِْم السَّلِيْمِ

Akal yang sehat itu terletak pada badan yang sehat.

خَيْرُ جَلِيْسٍ فيِ الزَّمَانِ كِتَابٌ

Sebaik-baik teman duduk pada setiap waktu adalah buku.

مَنْ يَزْرَعْ يَحْصُدْ

Barang siapa menanam pasti akan memetik (mengetam).

خَيْرُ الأَصْحَابِ مَنْ يَدُلُّكَ عَلىَ الخَيْرِ

Sebaik-baik teman itu ialah yang menunjukkan kamu kepada kebaikan.

لَوْلاَ العِلْمُ لَكَانَ النَّاسُ كَالبَهَائِمِ

Seandainya tiada berilmu niscaya manusia itu seperti binatang.

العِلْمُ فيِ الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ عَلىَ الحَجَرِ

Ilmu pengetahuan diwaktu kecil itu, bagaikan ukiran di atas batu.

لَنْ تَرْجِعَ الأَياَّمُ الَّتيِ مَضَتْ

Tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu.

تَعَلَّمَنْ صَغِيْرًا وَاعْمَلْ بِهِ كَبِيْرًا

Belajarlah di waktu kecil dan amalkanlah di waktu besar.

العِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَر

Ilmu tiada amalan bagaikan pohon tidak berbuah.

الاتِّحَادُ أَسَاسُ النَّجَاحِ

Bersatu adalah pangkal keberhasilan.

لاَ تَحْتَقِرْ مِسْكِيْنًا وَكُنْ لَهُ مُعِيْناً

Jangan engkau menghina orang miskin bahkan jadilah penolong baginya.

الشَّرَفُ بِالأَدَبِ لاَ بِالنَّسَبِ

Kemuliaan itu dengan adab kesopanan, (budi pekerti) bukan dengan keturunan.

سَلاَمَةُ الإِنْسَانِ فيِ حِفْظِ اللِّسَانِ

Keselamatan manusia itu dalam menjaga lidahnya (perkataannya).

آدَابُ المَرْءِ خَيْرٌ مِنْ ذَهَبِهِ

Adab seseorang itu lebih baik (lebih berharga) daripada emasnya.

سُوْءُ الخُلُقِ يُعْدِي

Kerusakan budi pekerti/akhlaq itu menular.

آفَةُ العِلْمِ النِّسْياَنُ

Bencana ilmu itu adalah lupa.

إِذَا صَدَقَ العَزْمُ وَضَحَ السَّبِيْلُ

Jika benar kemauannya niscaya terbukalah jalannya.

لاَ تَحْتَقِرْ مَنْ دُوْنَكَ فَلِكُلِّ شَيْئٍ مَزِيَّةٌ

Jangan menghina seseorang yang lebih rendah daripada kamu, karena segala sesuatu itu mempunyai kelebihan.

أَصْلِحْ نَفْسَكَ يَصْلُحْ لَكَ النَّاسُ

Perbaikilah dirimu sendiri, niscaya orang-orang lain akan baik padamu.

فَكِّرْ قَبْلَ أَنْ تَعْزِمَ

Berpikirlah dahulu sebelum kamu berkemauan (merencanakan).

مَنْ عَرَفَ بُعْدَ السَّفَرِ اِسْتَعَدَّ

Barang siapa tahu jauhnya perjalanan, bersiap-siaplah ia.

مَنْ حَفَرَ حُفْرَةً وَقَعَ فِيْهَا

Barang siapa menggali lobang, akan terperosoklah ia di dalamnya.

عَدُوٌّ عَاقِلٌ خَيْرٌ مِنْ صَدِيْقٍ جَاهِلٍ

Musuh yang pandai, lebih baik daripada kawan yg jahil.

مَنْ كَثُرَ إِحْسَانُهُ كَثُرَ إِخْوَانُهُ

Barang siapa banyak perbuatan baiknya, banyak pulalah temannya.

اِجْهَدْ وَلاَ تَكْسَلْ وَلاَ تَكُ غَافِلاً فَنَدَامَةُ العُقْبىَ لِمَنْ يَتَكاَسَلُ

Bersungguh-sungguhlah dan jangan bermala-malas dan jangan pula lengah, karena penyesalan itu bagi orang yang bermalas-malas.

لاَ تُؤَخِّرْ عَمَلَكَ إِلىَ الغَدِ مَا تَقْدِرُ أَنْ تَعْمَلَهُ اليَوْمَ

Janganlah mengakhirkan pekerjaanmu hingga esok hari, yang kamu dapat mengejakannya hari ini.

اُتْرُكِ الشَّرَّ يَتْرُكْكَ

Tinggalkanlah kejahatan, niscaya ia (kejahatan itu) akan meninggalkanmu.

خَيْرُ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً وَأَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia itu, adalah yang terlebih baik budi pekertinya dan yang lebih bermanfaat bagi manusia.

فيِ التَّأَنِّي السَّلاَمَةُ وَفيِ العَجَلَةِ النَّدَامَةُ

Di dalam hati-hati itu adanya keselamatan, dan di dalam tergesa-gesa itu adanya penyesalan.

ثَمْرَةُ التَّفْرِيْطِ النَّدَامَةُ وَثَمْرَةُ الحَزْمِ السَّلاَمَةُ

Buah sembrono/lengah itu penyesalan, dan buah cermat itu keselamatan.

الرِّفْقُ بِالضَّعِيْفِ مِنْ خُلُقِ الشَّرِيْفِ

Berlemah lembut kepada orang yang lemah itu, adalah suatu perangai orang yang mulia (terhormat).

فَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا

Pahala/imbalan suatu kejahatan itu adalah kejahatan yang sama dengannya.

تَرْكُ الجَوَابِ عَلىَ الجَاهِلِ جَوَابٌ

Tidak menjawab terhadap orang yang bodoh itu adalah jawabannya.

مَنْ عَذُبَ لِسَانُهُ كَثُرَ إِخْوَانُهُ

Barang siapa manir tutur katanya (perkataannya) banyaklah temannya.

إِذَا تَمَّ العَقْلُ قَلَّ الكَلاَمُ

Apabila akal seseorang telah sempurna maka sedikitlah bicaranya.

مَنْ طَلَبَ أَخًا بِلاَ عَيْبٍ بَقِيَ بَلاَ أَخٍ

Barang siapa mencari teman yang tidak bercela, maka ia akan tetap tidak mempunyai teman.

قُلِ الحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا

Katakanlah yang benar itu, walaupun pahit.

خَيْرُ مَالِكَ مَا نَفَعَكَ

Sebaik-baik hartamu adalah yang bermanfaat bagimu.

خَيْرُ الأُمُوْرِ أَوْسَاطُهَا

Sebaik-baik perkara itu adalah pertengahanya (yang sedang saja).

لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ وَلِكُلِّ مَقَالٍ مَقَامٌ

Tiap-tiap tempat ada kata-katanya yang tepat, dan pada setiap kata ada tempatnya yang tepat.

إِذاَ لمَ ْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

Apabila engkau tidak malu, maka berbuatlah sekehendakmu (apa yang engkau kehendaki).

لَيْسَ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ فَقِيْرًا بَلِ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ بَخِيْلاً

Bukanlah cela itu bagi orang yang miskin, tapi cela itu terletak pada orang yang kikir.

لَيْسَ اليَتِيْمُ الَّذِي قَدْ مَاتَ وَالِدُهُ بَلِ اليَتِيْمُ يَتِيْمُ العِلْمِ وَالأَدَبِ

Bukanlah anak yatim itu yang telah meninggal orang tuanya, tapi (sebenarnya) yatim itu adalah yatim ilmu dan budi pekerti.

لِكُلِّ عَمَلٍ ثَوَابٌ وَلِكُلِّ كَلاَمٍ جَوَابٌ

Setiap pekerjaan itu ada upahnya, dan setiap perkataan itu ada jawabannya.

وَعَامِلِ النَّاسَ بِمَا تُحِبُّ مِنْهُ دَائِماً

Dan pergaulilah manusia itu dengan apa-apa yang engkau sukai daripada mereka semuanya.

هَلَكَ امْرُؤٌ لَمْ يَعْرِفْ قَدْرَهُ

Hancurlah seseorang yang tidak tahu dirinya sendiri.

رَأْسُ الذُّنُوْبِ الكَذِبُ

Pokok dosa itu, adalah kebohongan.

مَنْ ظَلَمَ ظُلِمَ

Barang siapa menganiaya niscaya akan dianiaya.

لَيْسَ الجَمَالُ بِأَثْوَابٍ تُزَيِّنُنُا إِنَّ الجَمَالَ جمَاَلُ العِلْمِ وَالأَدَبِ

Bukanlah kecantikan itu dengan pakaian yang menghias kita, sesungguhnya kecantikan itu ialah kecantikan dengan ilmu dan kesopanan.

لاَ تَكُنْ رَطْباً فَتُعْصَرَ وَلاَ يَابِسًا فَتُكَسَّرَ

Janganlah engkau bersikap lemah, sehingga kamu akan diperas, dan janganlah kamu bersikap keras, sehingga kamu akan dipatahkan.

مَنْ أَعاَنَكَ عَلىَ الشَّرِّ ظَلَمَكَ

Barang siapa menolongmu dalam kejahatan maka ia telah menyiksamu.

أَخِي لَنْ تَنَالَ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ

Saudaraku! Kamu tidak akan mendapatkan ilmu, kecuali dengan enam perkara, akan aku beritahukan perinciannya dengan jelas :
1). Kecerdasan
2). Kethoma’an (terhadap ilmu)
3). Kesungguhan
4). Harta benda (bekal)
5). Mempergauli guru
6). Waktu yang panjang.

العَمَلُ يَجْعَلُ الصَّعْبَ سَهْلاً

Bekerja itu membuat yang sukar menjadi mudah.

مَنْ تَأَنَّى نَالَ مَا تَمَنَّى

Barang siapa berhati-hati niscaya mendapatkan apa-apa yang ia cita-citakan.

اُطْلُبِ العِلْمَ وَلَوْ بِالصَّيْنِ

Carilah/tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina.

النَّظَافَةُ مِنَ الإِيْمَانِ

Kebersihan itu sebagian dari iman.

إِذَا كَبُرَ المَطْلُوْبُ قَلَّ المُسَاعِدُ

Kalau besar permintaannya maka sedikitlah penolongnya.

لاَ خَيْرَ فيِ لَذَّةٍ تَعْقِبُ نَدَماً

Tidak ada baiknya sesuatu keenakan yang diiringi (oleh) penyesalan.

تَنْظِيْمُ العَمَلِ يُوَفِّرُ نِصْفَ الوَقْتِ

Pengaturan pekerjaan itu menabung sebanyak separohnya waktu.

رُبَّ أَخٍ لَمْ تَلِدْهُ وَالِدَةٌ

Berapa banyak saudara yang tidak dilahirkan oleh satu ibu.

دَاوُوْا الغَضَبَ بِالصُّمْتِ

Obatilah kemarahan itu dengan diam.

الكَلاَمُ يَنْفُذُ مَالاَ تَنْفُذُهُ الإِبَرُ

Perkataan itu dapat menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum.

لَيْسَ كُلُّ مَا يَلْمَعُ ذَهَباً

Bukan setiap yang mengkilat itu emas.

سِيْرَةُ المَرْءِ تُنْبِئُ عَنْ سَرِيْرَتِهِ

Gerak-gerik seseorang itu menunjukkan rahasianya.

قِيْمِةُ المَرْءِ بِقَدْرِ مَا يُحْسِنُهُ

Harga seseorang itu sebesar (sama nilainya) kebaikan yang telah diperbuatnya.

صَدِيْقُكَ مَنْ أَبْكَاكَ لاَ مَنْ أَضْحَكَكَ

Temannmu ialah orang yang menangiskanmu (membuatmu menangis) bukan orang yang membuatmu tertawa.

عَثْرَةُ القَدَمِ أَسْلَمُ مِنْ عَثْرَةِ اللِّسَانِ

Tergelincirnya kaki itu lebih selamat daripada tergelincirnya lidah.

خَيْرُ الكَلاَمِ مَا قَلَّ وَدَلَّ

Sebaik-baik perkataan itu ialah yang sedikit dan memberi penjelasannya/jelas.

كُلُّ شَيْئٍ إِذَا كَثُرَ رَخُصَ إِلاَّ الأَدَبَ

Segala sesuatu apabila banyak menjadi murah, kecuali budi pekerti.

أَوَّلُ الغَضَبِ جُنُوْنٌ وَآخِرُهُ نَدَمٌ

Permulaan marah itu adalah kegilaan dan akhirnya adalah penyesalan.

Tata Cara Sholat Jamak dan Qhasar (Taqdim & Takhir Sesuai Sunnah)

Tata Cara Sholat Jamak dan Qhasar – Secara bahasa jama’ diartikan dengan mengumpulkan, sedangkan secara istilah diartikan mengumpulkan dua sholat lima waktu yang dilakukan dalam satu waktu. Semisal menggabungkan dzuhur dan ashar, magrib dan isya berdasarkan ketentuan yang akan kami bahas pada paragraf-paragraf selanjutnya

Shalat jama’ terdiri dari dua macam, yaitu jamak taqdiem dan jamak ta’khir. Jama’ taqdiem adalah menggabungkan shalat antara shalat Dluhur dan Asar yang dilakukan pada waktu Dhuhur dan shalat Maghrib dan Isya’ yang dilakukan pada waktu Maghrib (baca: tuntunan sholat lengkap). Sedangkan jama’ ta’khir adalah menggabungkan shalat antara shalat Zhuhur dan Asar yang dilakukan pada waktu Ashar dan shalat Maghrib dan Isya’ yang dilakukan pada waktu Isya’.

Menurut Jumhur ulama’ selain Hanafiah berpendapat bahwa boleh menjama’ shalat dluhur dengan ’Ashar secara taqdiem pada waktu pertama (dluhur) dan ta’khir pada waktu yang kedua (ashar), shalat Maghrib dengan shalat Isya’ didalam safar yang panjang. Shalat Jum’at sama halnya dengan shalat Dluhur dalam jama’ taqdiem.

Tata Cara Menjamak Sholat Secara Taqdim dan Takhir sesuai Sunnah Nabi Muhammad SAW

Cara Jamak Taqdim

من حديث معاذ رضي الله عنه: أن النبي كان في غزوة تبوك إذا ارتحل بعد المغرب عجل العشاء فصلاها مع المغرب

Artinya; dari hadis muadz ra : Sesungguhnya Nabi saw pada perang Tabuk apabila melakukan perjalanan setelah Maghrib beliau mensegerakan shalat Isya’, lalu beliau melaksanakan shalat Isya’ bersama Maghrib. (HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Daraqutni, Baihaqi, dan Ibnu Hibban dan ia menshahihkannya)

Syarat Jamak Taqdiem

  1. Berniat shalat jama’, artinya berniat jama’ taqdiem pada shalat yang pertama.
  2. Tertib. Dimulai pada shalat yang pertama (Maghrib atau Dluhur) sebagai shahibul wakt
    Dilakukan secara beruntun artinya, tidak dipisah oleh apapun dalam waktu yang lama dan seandainya dipisah oleh waktu yang lama walaupun ada uzur seperti pingsan atau lupa maka jama’nya tetap batal dan wajib mengakhirkan shalat Ashar atau Isya pada waktunya. Tapi apabila pemisahnya tidak terlalu lama, seperti adzan, iqamat atau bersuci, maka tidak mengapa. Sebagaimana terdapat dalam riwayat shahahaini, dari Usamah bahwa Nabi tatkala menjama’ shalat di Namirah beliau menyelingi dua shalat dengan Iqamat.
  3. Waktu shalat Dzuhur atau Magrib masih ada.
  4. Safar masih berlangsung sampai memasuki waktu shalat Ashar atau Isya’.

Cara Jamak Ta’khir

، فقال أنس: كان رسول الله إذا رحل قبل أن تزيغ -تميل ظهرا- الشمس، أخر الظهر إلى وقت العصر، ثم نزل يجمع بينهما، فإن زاغت قبل أن يرتحل صلى الظهر، ثم ركب

Artinya : Anas Berkat: Adalah Rasulullah saw, apabila melakukan perjalan sebelum tergelincir matahari – masuk Dluhur- beliau mengakhirkan shalat Dluhur pada waktu Ashar, kemudian turun dan menjama’ keduanya, dan jika matahari telah doyong sebelum bepergian beliau shalat Dluhur dahulu kemudian berangkat. (Muttfaqun ‘Alaih)

ابن عمر فهو: أنه استُغيث على بعض أهله، فجدَّ به السير، فأخر المغرب حتى غاب الشفق، ثم نزل، فجمع بينهما، ثم أخبرهم أن رسول الله  كان يفعل ذلك إذا جدَّ به السير

Artinya: dari Ibnu Umar, sesungguhnya ia dimintai pertolongan oleh salah seorang dari keluarganya, lalu ia bersungguh melakukan perjalanan, lalu ia mengakhirkan Maghrib sehingga tengelam cahaya kemerah-merahan, kemudia ia melaksanakan dan menjama’ keduanya. Kemudian ia mengkhabarkan kepada orang-orang bahwa Rasulullah melakukan itu apabila mendapati (bersungguh) melakukan perjalanan. (HR. Tirmidzi)

Syarat Jamak Takhir

  1. Niat jama’ ta’khir sebelum memasuki shalat Dhuhur atau Maghrib.
  2. Safar masih berlangsung sampai memasuki waktu shalat Ashar atau Isya’.

Tata Cara Mengqhosor Sholat sesuai Sunnah Nabi SAW

Shalat qashar adalah shalat yang diringkas bilangan rakaatnya pada shalat fardlu yang mestinya empat rakaat dikerjakan dua rakaat saja. Shalat fardlu yang boleh diqashar hanya Dluhur, Ashar, dan ’Isya. Sedangkan Maghrib dan subuh tetap dikerjakan sebagaimana biasanya dan tidak boleh diqashar. Perintah shalat Qashar ini sebagaimana yang tertuang dalam beberapa dalil berikut:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِين

Artinya:”Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS an-Nisaa’ 101).

مِن حديث عائشة: فرضت الصلاة ركعتين ركعتين، فأقرت صلاة السفر، وزيد في صلاة الحضر

Dari ‘Aisyah ra berkata : “Awal diwajibkan shalat adalah dua rakaat, kemudian ditetapkan bagi shalat safar dan disempurnakan ( 4 rakaat) bagi shalat hadhar (tidak safar)”(Muttafaqun ‘alaihi)

Dari ‘Aisyah ra berkata:” Diwajibkan shalat 2 rakaat kemudian Nabi hijrah, maka diwajibkan empat rakaat dan dibiarkan shalat safar seperti semula (2 rakaat)” (HR Bukhari)

Dalam riwayat Imam Ahmad menambahkan : “Kecuali Maghrib, karena Maghrib adalah shalat witir di siang hari dan shalat Subuh agar memanjangkan bacaan di dua rakaat tersebut.

Catatan: Sholat Qhasar hanya dibolehkan bagi yang sedang dalam perjalanan dengan ketentuan khusus. Tidak boleh dilakukan karena sebab lain. Baca selengkapnya penjelasan di bawah ini.

Sebab-Sebab Dibolehkannya Menjamak Sholat Lima Waktu

Orang-orang yang membolehkan jama’ baik secara taqdiem maupun ta’khir sepakat tentang akan adanya jama’ dalam tiga hal yaitu, safar, sakit, hujan, dan semisalnya seperti dingin, berembun, dan berlumpur yang tebal.

1. Sholat dijamak karena Safar

Safar secara bahasa berarti: Melakukan perjalanan, lawan dari iqomah. Orangnya dinamakan musafir lawan dari muqim. Sedangkan secara istilah, safar adalah: Seseorang keluar dari daerahnya dengan maksud ke tempat lain yang ditempuh dalam jarak tertentu.

Jadi seseorang disebut musafir jika memenuhi tiga syarat, yaitu: Niat, keluar dari daerahnya dan memenuhi jarak tertentu. Jika seseorang keluar dari daerahnya tetapi tidak berniat safar maka tidak dianggap musafir.

Begitu juga sebaliknya jika seorang berniat musafir tetapi tidak keluar dari daerahnya maka tidak dianggap musafir. Begitu juga jarak yang ditempuh menentukan apakah seseorang dianggap musafir atau belum, karena kata safar biasanya digunakan untuk perjalanan jauh.

Jama’ antara dua shalat, pada waktu safar dibolehkan. Shalat yang boleh dijama’ adalah shalat Dluhur dengan Ashar, dan shalat Maghrib dengan Isya. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ إِذَا زَاغَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعَصْرِ وَفِي الْمَغْرِبِ مِثْلُ ذَلِكَ إِنْ غَابَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَغِيبَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعِشَاءِ ثُمَّ جَمَعَ بَيْنَهُمَا

Artinya: Dari Muadz bin Jabal:”Bahwa Rasulullah SAW pada saat perang Tabuk, jika matahari telah condong dan belum berangkat maka menjama’ shalat antara Dluhur dan Ashar. Dan jika sudah dalam perjalanan sebelum matahari condong, maka mengakhirkan shalat Dluhur sampai berhenti untuk shalat Ashar. Dan pada waktu shalat Maghrib sama juga, jika matahari telah tenggelam sebelum berangkat maka menjama’ antara Maghrib dan ‘Isya. Tetapi jika sudah berangkat sebelum matahari matahari tenggelam maka mengakhirkan waktu shalat Maghrib sampai berhenti untuk shalat Isya, kemudian menjama’ keduanya” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Seorang musafir mendapatkan rukhsoh dari Allah swt dalam pelaksanaan shalat. Rukhsoh tersebut adalah: Mengqashar shalat yang bilangannya empat rakaat menjadi dua, menjama’ shalat Zluhur dengan Ashar dan Maghrib dengan ‘Isya, shalat di atas kendaraan, tayammum dengan debu/tanah pengganti wudhu dalam kondisi tidak mendapatkan air dll.

Para ahli ilmu bersepakat untuk mengqashar shalat bagi musafir baik perjalanan yang wajib seperti haji, jihad, hijrah, dan umrah atau yang mustahab seperti mengunjungi saudara, menjenguk orang sakit, berkunjung ke salah satu dari dua mesjid; mesjid Madinah dan Aqsha’, mendatangi orang tua atau yang mubah seperti, tamasyah, pertunjukan (show), perdagangan atau yang dimakruhkan

Mengqhasar Sholat bagi Musafir

Apakah seorang musafir diharuskan menqashar secara syar’i atau hanya berupa pilihan antara qashar dan menyempurnakan (itmam), kemudian manakah yang lebih baik antara qashar dan tidak (itmam)

Beragam pendapat para Fuqaha tentang hal ini, diantaranya adalah wajib, sunah, dan rukhsoh yang dipilih seorang musafir:

Hanafiah berpendapat bahwa qashar adalah wajib-azimah. Diwajibkan di setiap shalat yang beraka’at empat untuk mengqashar menjadi dua raka’at, tidak boleh menambahnya dengan sengaja.

وحديث ابن عباس: فرض الله الصلاة على لسان نبيكم في الحضر أربع ركعات، وفي السفر ركعتين، وفي الخوف ركعة

Dari Ibnu ’Abbas ra berkata : “Allah mewajibkan shalat melalui lisan Nabi kalian pada shalat hadhar (tidak safar) empat rakaat, dan di dalam safar dua rakaat (4 rakaat) bagi shalat hadhar (tidak safar)”. (HR Muslim)

Malikiyah berpendapat atas pendapat yang paling masyhur dan paling rajih; bahwa qashar itu sunah muakkad karena perbuatan Nabi, karena Nabi di dalam safar-safarnya selalu tidak menyempurnakan shalat atau mengqashar.

Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa qashar itu rukhsoh atas pilihan, artinya boleh menyempurnakan dan mengqashar, tapi mengqashar lebih baik secara mutlaq menurut Hanabilah dan syafi’iyah atas pendapat yang masyhur lebih baik menyempurnakan apabila terdapat pada dirinya kesusahan (tidak tenang) apabila qasharnya. (Fiqh Islam: 1339-1340)

Hikmah adanya shalat qashar bagi musafir adalah untuk menolak atau menghindari kesulitan yang terkadang dihadapi musafir di perjalanan. Dan sebab disyariatkannya qashar adalah karena dalam perjalanan yang panjang menurut Jumhur selain Hanafiyah.

Berapakah Jarak tempuh untuk pelaksanaan Sholat Qosor Berdasarkan tuntunn Nabi SAW?Seorang musafir dapat mengambil rukhsoh shalat dengan mengqashar dan menjama’ jika telah memenuhi jarak tertentu.

Rukhsoh ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW yang artinya: Dari Yahya bin Yazid al-Hana’i berkata, saya bertanya pada Anas bin Malik tentang jarak shalat Qashar ? “Anas menjawab:” Adalah Rasulullah SAW jika keluar menempuh jarak 3 mil atau 3 farsakh beliau shalat dua rakaat” (HR Muslim)

Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah SAW bersabda:” Wahai penduduk Mekkah janganlah kalian mengqashar shalat kurang dari 4 burd dari Mekah ke Asfaan” (HR at-Tabrani, ad-Daruqutni, hadis mauquf)

“Dari Ibnu Syaibah dari arah yang lain berkata:”Qashar shalat dalam jarak perjalanan sehari semalam”

“Adalah Ibnu Umar ra dan Ibnu Abbas ra mengqashar shalat dan buka puasa pada perjalanan menepun jarak 4 burd yaitu 16 farsakh”.

Ibnu Abbas menjelaskan jarak minimal dibolehkannya qashar shalat yaitu 4 burd atau 16 farsakh. 1 farsakh = 5541 M sehingga 16 Farsakh = 88,656 km. Dan begitulah yang dilaksanakan sahabat seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Sedangkan hadis Ibnu Syaibah menunjukkan bahwa qashar shalat adalah perjalanan sehari semalam. Dan ini adalah perjalanan kaki normal atau perjalanan unta normal. Dan setelah diukur ternyata jaraknya adalah sekitar 4 burd atau 16 farsakh atau 88,656 km. Dan pendapat inilah yang diyakini mayoritas ulama seperti imam Malik, imam asy-Syafi’i dan imam Ahmad serta pengikut ketiga imam tadi.

Kesimpulan: Jarak dibolehkannya seseorang mengqashar dan menjama’ shalat, menurut jumhur ulama; yaitu pada saat seseorang menempuh perjalanan minimal 4 burd atau 16 farsakh atau sekitar 88, 656 km.

Berapa lamakah waktu yang dibolehkan dalam Mengqoshor Sholat?Jika seseorang musafir hendak masuk suatu kota atau daerah dan bertekad tinggal disana maka dia dapat melakukan qashar dan jama’ shalat.

Menurut pendapat imam Malik dan Asy-Syafi’i adalah 4 hari, selain hari masuk kota dan keluar kota. Sehingga jika sudah melewati 4 hari ia harus melakukan shalat yang sempurna. Adapaun musafir yang tidak akan menetap maka ia senantiasa mengqashar shalat selagi masih dalam keadaan safar.

Berkata Ibnul Qoyyim:” Rasulullah SAW tinggal di Tabuk 20 hari mengqashar shalat”. Disebutkan Ibnu Abbas dalam riwayat Bukhari:” Rasulullah SAW melaksanakan shalat di sebagian safarnya 19 hari, shalat dua rakaat. Dan kami jika safar 19 hari, shalat dua rakaat, tetapi jika lebih dari 19 hari, maka kami shalat dengan sempurna”.

2. Sholat Dijamak Karena Sakit

Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Muslim di atas serta yang diriwayatkan Muslim, Nasa’i, Abu Daud, dan Tirmidzi. Dengan teks hadis

عن ابن عباس قال :صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم, الظهر والعصر جميعا بالمدينة فى غير خوف ولا سفر, قال ابو الزبير : فسالت سعيدا لم فعل ذلك؟ فقال سالت ابن عباس كما سالتنى فقل : ارادا ان لايحرج احدا من امتى

Dari Ibnu Abbas ia berkata: “Rasulullah saw pernah shalat di Madinah dengan menjama’kan Dluhur dan ashar tidak dalam keadaan takut dan perjalanan. Abu az-Zubaer salah seorang perawi tersebut berkata : “saya bertanya kepada Said mengapa Rasulullah berbuat demikian maka Said menjawab saya pernah menanyakan pertanyaan seperti itu kepada Ibnu Abbas. Ia menjawab Rasulullah ingin agar tidak memberatkan ummatnya.”

Para ulama berbeda pendapat tentang interpretasi terhadap hadis ini dan dan tentang kebolehan menjamak shalat tanpa uzur imam an-Nawawi menyebutkan beberapa pendapat :

Tirmizdi mengatakan tidak terdapat dalam kitab saya suatu hadis yang disepakati untuk tidak diamalkan yaitu hadis Ibnu Abbas tentang shalat jamak di Madinah tanpa adanya keadaan takut atau hujan. Kemudian an-Nawawi membenarkan pendapat at-Tirmizdi mengenai hadis Ibnu Abbas.

Ada pula yang menafsirkan sebagai jama’ pada pertemuan dua waktu, yaitu beliau mengakhirkan shalat pertama pada penghujung waktunya dan segera memulai shalat kedua pada awal waktunya.

Ada pula yang mentakwil hadis ini dengan sakit. Artinya, jamak boleh dilakukan ketika berada di tempat (tidak musafir) apabila dalam keadaan sakit. an-Nawawi memilih pendapat ini.

Sebagaian ulama membolehkan jama’ tanpa uzur kalau ada keperluan penting sepanjang tidak dibiasakan terus menerus. Pendapat ini dipegang oleh Ibnu Sirin, Asyhab dari mazhab Maliki, al-Qaffal dan as-Syasyi al-Kabiri dari mahzab Syafi’i, dan segolongan ahli hadis dan ini dipilih oleh Ibnu al-Munzir.

Ibnu mundzir mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk mentakwil hadis Ibnu Abbas itu dengan uzur tertentu, karena Ibnu Abbas sendiri menegaskan maksud Rasulullah melakukan yang demikian, yaitu untuk memberikan kelapangan pada umatnya.

Catatan. Bahwa hadis tentang jamak shalat bukan dalam perjalanan itu tidak dilakukan dengan qasar, jadi hanya jama’ saja. (Tanya Jawab Tim Tarjih) Adapun orang sakit, seperti sakit perut atau semisalnya boleh melakukan jama’, tidak denagn qasar (ringkas). Sebagai pilihan boleh melakukan shalat yang pertama (Dhuhur atau Maghrib) diakhir waktu, kemudian kemudian melakukan shalat yang kedua (Ashar atau Isya’) di awal waktu. Untuk menghilangkan kesusahan.

Barang siapa takut akan pingsan, pusing, demam, pada waktu shalat yang kedua (Ashar atau Isya’) maka shalat yang kedua itu dimajukan ke shalat yang pertama (Dhuhur atau Maghrib), jama’ taqdiem.

Sebagai kongklusi dari jama’ bagi orang yang sakit itu sesungguhnya shalat yang dijama’ disebabkan takut akan tidak sadar (hilang akal), atau apabila jama’ itu lebih menolong dan memudahkan dan waktunya pada shalat yang pertama atau secara taqdiem. (Fiqh Islam wa Adillatuhu)

3. Sholat Dijama Karena Hujan atau Dingin, Berembun, berlumpur.

Orang yang menghadapi hal di atas boleh melakun jama’ taqdiem saja tentunya hanya bagi orang yang melakukan shalat Maghrib dan Isya’ secara jama’ah di masjid. Walaupun hujan berhenti setelah adanya rukhsah boleh melanjutkan jama’.

Setelah jama’ telah dilakukan jama’ah pulang ke rumah masing-masing tanpa melakukan shalat nawafil (rawatib) karena pada saat itu dimakruhkan, sehingga tidak ada nawafil setelah jama’ di masjid.

Tidak boleh melakukan jama’ ini bagi orang yang bertetangga dengan mesjid (dekat dengan masjid) jika tidak melakukan shalat jama’ah, walau disebabkan karena sakit atau perempuan perempuan yang tidak takut fitnah apabila keluar untuk jama’ah. Tidak pula bagi orang yang shalat di masjid sendirian kecuali apabila ia seorang imam shalat. (Fiqh Islam wa Adillatuhu)

Melakukan shalat jama’ karena hujan, bukan karena sebab ada hujan turun kita dapat melakukan shalat jama’, tetapi merupakan hukum rukhsoh. Artinya kemurahan bagi orang yang bisa melakukan shalat berjama’ah di masjid. Tidak untuk orang yang shalat di rumah. Dengan dalil:

Hadis Rasulullah dengan riwayat Bukhari: Bahwa Nabi saw menjama’ antara shalat Magrib dengan Isya’ pada suatu malam turun hujan lebat. (HR. Bukhari) (Tanya Jawab Tim Tarjih)

4. Sholat dijamak Karena Ada Hajat

Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Muslim :

جمع رسول الله صلى الله عليه و سلم بين الظهر والعصر والمغرب والعشاء بالمدينة فى غير خوف ولا مطر. رواه مسلم

Komentar Ibnu ‘Abbas ketika ditanya apa yang dimaksud dengan melakukan seperti itu, ia menjawab untuk tidak menyempitkan umatnya. Tentu saja hal itu karena Nabi menghadapi hal yang penting dan tidak menjadi kebiasaan.

Baca Juga:

  1. Panduan Lengkap Tata Cara Sholat Berjamaah Sesuai Sunnah Nabi SAW
  2. Tata Cara Sholat Dhuha: Waktu, Jumlah Rakaat & Doa Sholat Dhuha.

Sholat di jamak karena haja juga diperkuat oleh riwayat riwayat Bukhari dan juga Muslim dari Ibnu ’Abbas:

ان النبى صلى الله عليه و سلم صلى بالمدينة سبعا وثمانيا, الظهر والعصر والمغرب والعشاء

Bahwa Nabi saw shalat di halaman kota Madinah tujuh raka’at. Dzuhur dengan Asar dan Magrib dengan Isya’.(HR. Muslim).

Panduan Lengkap Tata Cara Sholat Berjamaah Sesuai Sunnah Nabi SAW

Tata Cara Sholat Berjamaah – Sholat berjamaah adalah sholat yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang terdiri dari imam dan makmum. Satu orang menjadi imam (pemimpin) dan yang lainnya menjadi makmun. Sehingga dapat dikatakan bila terdapat dua orang yang sedang sholat dan satunya menjadi imam dan lainya menjadi makmum, maka sudah dikategorikan berjamaah.

Tata cara sholat berjamaah umummnya sama dengan sholat fardhu maupun sholat sunnah lainnya yang dikerjakan dengan cara sendiri. Dimulai dengan takbiratul ikhram dan diakhiri dengan salam. Perbedaan di antara sholat sendiri dan berjamaah adalah terkait dengan ketentuan dalam menjadi imam dan makmum, maka tulisan di bawah ini akan bersinggungan langsung dengan permasalahan-permsalahan yang terkait di dalamnya.

Hukum Sholat Berjamaah

Ada pendapat terkait pelaksanaan shoalt berjamaah. Sebagian ulama mengatakan wajib, sebagian yang lainnya mengatakan sunnah. Berikut ulasannya:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Tegakan shalat dan bayarlah zakat dan rukuklah kamu bersama dengan orang-orang yang rukuk”( al-Baqarah :43 )

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ ….الأية

Dan jika kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabat) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu…..” ( An Nissa’ : 102 )

عن ابي هريرة رضي الله عنه انه قال اتى رسول الله صلى الله عليه و سلم رجل اعمى فقال يا رسول الله انه ليس لي قائد يقود ني الى المسجد و سال رسول الله صلى الله عليه و سلم يرخص له فلما ولي دعاه صلى الله عليه و سلم فقال له هل تسمع النداء؟ قال نعم قال فاجب

Dari Abu Hurairah ra berkata: seorang laki-laki buta datang kepada Nabi SAW dan berkata wahai Rasulullah, tidak ada Padaku seorang yang akan menuntunku pergi ke masjid! Dia minta kepada Rasulullah untuk meminta kemurahan (izin) kepada beliau, akan tetapi setelah orang tersebut pergi, tiba-tiba Rasulullah memanggilnya seraya bertanya: Apakah kamu mendengar panggilan adzan? jawabnya, Ya.Lalu Rasulullah bersabda: Penuhilah panggilan itu! (HR. Muslim dan Nasa’i)

Dalil Ulama yang berpendapat sunah

عن ابن عمر رضي الله عنهما ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال الصلاة الجماعة تفضل صلاة الفد بسبع و عسرين درجة

Dari ibnu umar ra bahwasanya Rasulullah bersabda: “shalat jama’ah lebih tinggi dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian” (HR Bukhari )

عن ابي هريرة ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال صلاة رجل في جماعة تزيد على صلاته في بيته و صلاته في سوقه بسبع و عسرين درجة

Dari Abu Haurairah ra bahwasanya Rasulullah bersabda: “Shalat seseorang berjamaah lebih tinggi dua puluh tujuh derajat dibanding dengan shalat sendirian dirumah dan di pasar” ( Muttafaqun alaih )

عن عبدالله بن سرجس قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم اذا صلى احدكم في بيته ثم دخل المسجد والقوم يصلون فليصل معهم تكون له نافلة

Dari Abdullah bin sarjis bahwasanya Rasullah bersabda: “Apabila shalat salah seorang dari kamu dirumah kemudian masuk masjid dan mendapatkan orang banyak sedang mengerjakan shalat maka hendaknya shalat bersama mereka sebagai nafilah” ( HR Thabrani, Hadis ini Hasan menurut As Suyuti )

Bagi yang berpendirian jama’ah bukan wajib hukumnya, mereka berpendapat bahwa hadits yang menyebutkan Rasulullah mengancam orang yang tidak jamaah akan dibakar rumahnya merupakn ancaman bagi orang-orang yang meninggalkan jamaah karena nilai nifaq.

Dari semua dalil–dalil yang menerangkan wajibnya ataupun tidak wajibnya jama’ah diatas, menurut cara jamak dan taufiq dapat diambil pengertian bahwa shalat jamaah adalah fardhu kifayah (kewajiban akan gugur saat ada yang mewakili), hanya saja shalat jamaah tetap anjuran yang perlu mendapat perhatian bagi kita.

Kriteria Imam pada Sholat Jama’ah

عن عقبة بن عمرو رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه و سلم يؤمّ القوم اقرؤهم لكتاب الله فإن كانوا في القرأة سواء فأعلمهم هجرة فإكانوا في الهجرة سواء فاقدمهم سنّا ولا يؤمن الرجل في صلطانه ولا يقعد في بيته على تكرمته إلا بإذنه

Dari Abu masud Uqbah bin Amr berkata bahwa RasulAllah SAW bersabda: “Hendaklah menjadi imam pada suatu kaum orang yang lebih ahli membaca qur’an, jika dalam hal ini mereka bersamaan maka yang lebih mahir dalam hal sunah (Hadis), apabila dalam hal inipun mereka bersamaan juga, maka yang lebih dahulu mengikuti hijrah, kalau tentang hal ini mereka bersamaan juga maka yang lebih dahulu islamnya (atau yang lebih tua umurnya). (H.R. Ahmad dan Muslim).

Bolehkah orang yang Buta atau Hamba Sahaya menjadi imam?

عن أنس أنّ النبي صلى الله عليه و سلم استخلف ابن أمّ مكتوم على المدينة مرّتين يصلى بهم وهو أعمى

Dari Anas bahwa Nabi SAW menguasakan pada Ibnu Umi Maktum atas Madinah dua kali yaitu mengimami penduduk Madinah padahal beliau adalah seorang yang buta. (H.R.Ahmad dan Abu Dawud).

عن إبن عمر لمّا قدم المهاجرون الأولون نزلوا العصبة موضعا بقباء قبل مقدم النبى صلى الله عليه و سلم كان يؤمهم سالم مولى أبي خذيفة وكان أكثرهم قرآنا وكان فيهم عمربن الخطّاب وأبو سلمة ابن عبد الأسد

Dari Ibnu Umar ketika orang-orang muhajirin yang pertama-tama sampai di ‘Usbah yaitu suatu tempat di Quba sebelum kedatangan Nabi SAW yang mengimami mereka adalah Salim hamba sahaya Abu Hudzaifah, karena dialah yang lebih banyak pengertiannya tenteng Al-Qur’an, padahal di tengah-tengah mereka terdapat juga ‘Umar bin Khattabdan Abu Salamah bin Abdul As’ad. (H.R.Bukhari dan Abu Dawud)

Posisi Makmum yang Sendirian.

Makmum yang sendirian hendaklah berdiri di sebelah kanan imam, berdasarkan:

عن جابر بن عبدالله قال قام النبي صلى الله عليه و سلم يصلّى المغرب فجئت فقمت عن يساره فنهانى فجعلنى عن يمينه ثم جاء صاحب لى فصفّفنا خلفه

Dari Jabir bin Abdullah berkata : berdirilah Nabi SAW mengerjakan shalat maghrib, lalu aku datang dan aku berdiri di sebelah kiri Nabi, maka Nabi menahanku kemudian Nabi SAW meletakkanku di sebelah kanannya, kemudian datanglah sahabatku, maka kami membuat shaf di belakang Beliau.(H.R.Abu Dawud)

Sebagian ulama telah menukil adanya kesepakatan bahwa apabila makmum satu orang maka ia berdiri di sebelah kanan imam, hal ini berdasarkan :

عن إبن عبّاس رضي الله عنهما قال بتّ في بيت خالتى ميمونة فصلّى رسول الله صلى الله عليه و سلم العشاء ثم جاء فصلّى أربع ركعات ثم نام فجئت فقمت عن يساره فجعلنى عن يمينه فصلّى خمس ركعات ثم صلّى ركعتين ثم نام حتى سمعت عطيطه او قال خطيطه ثم خرج الى الصلاة

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata : Aku bermalam di rumah bibiku Maimunah lalu Nabi SAW mengerjakan shalat ‘isya, kemudian Nabi mengerjakan shalat empat rakaat setelah itu Nabi tidur, kemudian Nabi mengerjakan shalat lalu aku datang dan berdiri di sebelah samping kirinya, lalu Nabi menempatkanku disamping kanannya. Beliau shalat lima rakaat kemudian dua rakaat. Kemudian Beliau tidur hingga aku mendengar suara dengkurnya.-atau ia berkata: suara nafasnya.- kemudian Nabi keluar untuk menunaikan shalat subuh.(H.R.Bukhari)

Dalam pendapat ini tidak ada yang menyelisihinya kecuali Ibrahim an-Nakhoi dia berkata : Apabila makmum satu orang maka ia berdiri di belakang imam, jika sampai imam rukuk dan belum datang seorangpun maka ia maju dan mengambil posisi di sebelah kanan imam. Pendapat ini di riwayatkan oleh Sa’id bin Mansur. Sebagian ‘ulama mencoba memberi penjelasan tentang pendapat An-nakhoi tersebut, mereka berpedomanan bahwa imam merupakan tempat berkumpulnya jama’ah, berdasarkan hal itu maka makmum harus berada di belakang imam, akan tetapi pendapat tersebut menyalahi nash sehingga di anggap analogi (qias) yang rancu.

Ibnu Hajar Al-atsqolani berkomentar bahwa Ibrahim An-nakhoi mengatakan hal itu di karenakan ia dalam kondisi adanya keyakinan yang kuat akan datangnya makmum yang kedua. Sa’id bin Mansur meriwayatkan dari An-nakhoi bahwa dia berkata terkadang aku berdiri di belakang Al-Aswad seorang diri hingga muadzin datang. (terjemahan Fathul Baari jilid 4).

Perintah untuk Meluruskan Shof dalam Sholat Berjamaah

عن أنس أنّ النبيّ صلى الله عليه و سلم قال سوّوا صفوفكم فإنّ تسوية الصفوف من تمام الصلاة

Dari Anas r.a. bahwa Nabi SAW bersabda : “Ratakanlah shofmu karena meratakan shof itu termasuk dari sebagian kesempurnaan shalat”.(H.R.Bukhaori Muslim).

عن أنس كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يقبل علينا بوجهه قبل أن يكبّر فيقول تراصّوا واعتدلوا

Dari Anas r.a. adalah Nabi SAW menghadapkan mukanya kepada kita sebelum bertakbir seraya bersabda :” rapatkan dan luruskanlah shofmu”.(H.R.Bukhari Muslim)Shof Wanita di Belakang Shof Pria

عن ابن عباس قال صلّيت إلى جنب النبي صلى الله عليه و سلم وعائشة معنا تصلّى خلفنا وأنا إلى جنب النبي صلى الله عليه و سلم أصلى معه

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata : “Aku shalat di samping Nabi SAW sedang ‘Aisyah bersama kami dia shalat di belakang kami dan aku di sisi Nabi SAW.” (H.R.Ahmad dan Nasa’i)

عن أنس قال صلّيت أنا واليتيم خلف النبي صلى الله عليه و سلم وأمّي أم ّسليم خلفنا

Dari Anas r.a. berkata : “Aku shalat bersama-sama anak yatim di belakang Nabi SAW sedang ibuku Ummu Sulaim di belakang kami”.(H.R.Bukhari)

Mengenai posisi jamaah wanita yang berada di samping jamah laki-laki yang banyak kita dapati di masyarakat, untuk sementara ini belum kami dapati dalilnya yang menerangkan tentang hal itu.

Larangan Mendahului Imam

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: أنّ رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إنما جعل الإمام ليؤتمّ به فإذا كبّر فكبّروا ولا تكبّروا حتى يكبّروا وإذا ركع فاركعوا ولا تركعوا حتى يركعوا وإذا سجد فاسجدوا ولا تسجدوا حتى يسجد

Dari Abu Hurairoh r.a. bahwa Rasulullah bersabda : “Sungguh bahwa imam itu di angkat untuk diikuti, oleh karena itu apabila ia bertakbir maka bertakbirlah kamu dan janganlah kamu bertakbir hingga ia bertakbir dan apabila ia telah ruaku’ maka rukuklah kamu dan janganlah kamu rukuk hingga ia rukuk. Dan apabila ia telah bersujud maka bersujudlah kamu dan janganlah kamu bersujud hingga ia sujud”.(H.R. Ahmad dan Abu Dawud).

Memperhatikan bacaan imam &  wajibnya membaca fatihah bagi makmum

عن عبا دة بن صامت رضى الله عنه قال ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لاصلاة لمن يقراء بفا تحة الكتاب

Dari ‘Ubadah bin Shomit bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Tiada sah shalat orang yang tidak membaaca ummul kitab (Al Fatihah)”.(H.R.Bukhari Muslim).

عن عبادة بن صامت قال صلّى رسول الله صلى الله عليه و سلم الصبح فثقلت عليه القراءة فلما انصرف قال اني أراكم تقرؤون وراء إمامكم قال قلنا يا رسول الله اي والله قال لاتفعلوا الا بأمّ القرآن

Dari ‘Ubadah bin Shamit berkata Rasulullah SAW shalat shubuh lalu beliau mendengar orang-orang makmum yang nyaring bacaannya. Setelah selesai shalat beliau menegur : Aku kira kamu sam membaca di belakang imammu?. Kata ‘Ubadah : kita sama menjawab : Ya, wahai Rasulullah, demi Allah benar. Maka beliau bersabda : Janganlah kau mengerjakan yan demikian, kecuali dengan bacaan fatihah.(H.R.Ahmad, Daruqutni, Baihaqi).

Dari anas r.a. ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Apakah engkau membaca dalam shalatmu di belakang imammu, padahal imam itu membaca? Janganlah kamu mengerjakannya, hendaklah seseorang membaca fatihah pada dirinya sendiri. (yaitu dengan suara yang rendah yang di dengar sendiri)”.(H.R.Ibnu Hibban).

Sebagian ulama berpendapat tidak wajib bagi makmum untuk membaca fatihah dalam shalat jahr di belakang imam. Berdasarkan :

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْءَانُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila di bacakan Al-qur’an maka dengarkanlah olehmu dan diamlah kamu agar supaya kamu mendapat rahmat.(Al A’raf : 204)

انما جعل الإمام ليؤتمّ به فإذا كبّر فكبّروا و اذا قرأ فانصتوا

Hanya saja di jadikan imam untuk diikuti apabila ia takbir maka bertakbirlah kamu dan apabila membaca diamlah kamu (memperhatikan) (H.R Ahmad)

كان عبد الله بن عمر اذا سئل هل يقرا احد خلف الإمام؟ يقول اذا صلّى احدكم خلف الإمام فحسبه قراءة الإمام

Adalah Abdullah bin Umar ketika ditanya apakah seseorang (makmum) membaca dibelakang imam? Berkatalah dia: Apabila seseorang shalat dibelakang imam maka bacaan imam sudah mencukupinya. (HR Imam Malik).

Membaca Amien dengan Suara Keras

عن أبي هريرة رضي الله عنه أنّ رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا قال الإمام “غير المغضوب عليهم ولا الضالين” فقولوا آمين. فإنّ الملائكة تقول آمين وإنّ الإمامة يقول آمين. فمن وافق تئمينه تئمين الملائكة غفر له ما تقدّم من ذنبه

Dari Abu Hurairah berkata: bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Apabila imam telah membaca Ghairil maghdlu bi’alaihim waladl dlallin maka bacalah A-mi-, karena sesungguhnya malaikat membaca A-mi-n bersama-sama dengan imam membaca A-mi-n. Barang siapa membaca A-mi-n bersmaan dengan bacaan para malaikat niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalau.(HR Ahmad dan Nasa’I)

عن عطاء أنّ ابن زبير رضي الله عنهما كان يأمّن هو ومن وراءه بالمسجد الحرام إنّ للمسجد للجّة

Dari Atha’ bahwa Ibnu Zubair ra membaca A-mi-n bersama-sama dengan orang yang shalat dibelakangnya (di Masjidil Haram) sehingga masjid itu bergemuruh suaranya. (HR Bukhari)

Imam mengeraskan takbir intiqal dan dibolehkannya mengangkat seorang muballigh (penyambung takbir imam agar sampai kepada makmaum)

عن سعيد الحارث قال :صلّى لنا أبوا سعيد فجهّر بالتكبير حين رفع رئسه من السجود وحين سجد وحين رفع وحين قام من الركعتين زقال هكذا رئيت رسول الله صلى الله عليه و سلم

Dari Said Ibnu Harits berkata: Abu said bershalat menjadi imam kita, maka ia membsca takbir dengggan nyaring tatkala mengangkat kepalanya, bangun dari sujud, ketika akan sujud, ketika bangun dan ketika berdiri dari dua rakaat. Selanjutnya dikatakan Demikian aku melihat Rasullah SAW”.(HR Bukhari dan Ahmad)

عن جابر قال: اشتكى رسول الله صلى الله عليه و سلم فصلّينا وراءه وهو قاعد وأبو بكر يسمع الناس تكبيره

Dari Jabir ra berkata: Rasulullah pada suatu ketika menderita sakit, kemudian kami shalat dibelakangnya, dan beliau shalat dengan duduk, serta AbuBakar memperdengarkan (menyambung) takbir beliau kepada orang banyak”. (HR Ahmad, Muslim, Nassa’I dan Ibnu Majah)

Makmum yang masbuq dan mendapati imam sudah mulai mengerjakan shalat, maka bertakbir dan langsung mengikuti gerakan imam.

عن أبى هريرة قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا جئتم إلى الصلاة ونحن سجود فاسجدواولا تعدوها ومن أدرك الركعة فقد أدرك الصلاة

Dari Abu Hurairah berkata: Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Apabila kamu datang untuk shalat (jamaah) padahal kita sedang sujud, maka sujudlsh dan kamu jangan menghitungnya satu raka’at.Dan barang siapa menjumpai rukuknya imam berarti dia menjumpai shalat (mendapati satu raka’at sempurna)”. (HR Abudawud, Hakim dan Ibnu Khuzaimah)

عن على بن أبى طالب ومعاذ بن جبل قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا أتى أحدكم الصلاة والإمام على حال فاليضع كما يضع الإمام

Dari Ali bin Abi Thalib dan Muad bin Jabal keduanya berkata “apabila salah seoranng diantaramu mendataaangi shalat (jama’ah), pada waktu imam sedang berada dalam suatu keadaan, maka hendaklah ia kerjakan sebagaimana apa yang dikerjakan oleh imam.”(HR Tirmidzy)

Dari keterangan hadis diatas dapat disimpulkan apabila ma’mum yang masbuq hendaklah segera bertakbir dan segera mengikuti gerakan imam baik rukuk, sujud, duduk diantara dua sujud dan duduk takhiat awal ataupun akhir.

Rukuknya Makmum yang Masbuk Bersama Imam dihitung satu Rakaat

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من أدرك ركعة من الصلاة قبل أن يقيم الإمام صلبه فقد أدركها

Bahwa Rasulullah bersabda: Barang siapa yang menjumpai rukuk dari shalat sebelum imam berdiri tegak dari rukuknya maka berarti dia telah mendapati satu rakaat yang sempuna. (HR Daruqutni dan dishohihkan oleh Ibnu Hibban)

عن أبى هريرة أنّ النبى صلى الله عليه و سلم قال من أدرك ركعة من الصلاة مع الإمام فقد أدرك الصلاة

Dari Abu Hurairah berkata bahwasanya Nabi SAW bersabda: Barang siapa mendapati rukuk dari pada shalat berarti dia telah mendapati shalat (satu rakaat sempurna). (HR Bukhari dan Muslim)

Ada juga yang berpendapat rukuknya makmum yang masbuk yang menjumpai rukuk bersama imam tidak dapat dihitung satu rakaat, karena makmum tidak membaca Fatihah ataupun mendengar bacaan Fatihah dari imam, karena pada dasarnya seorang makmum wajib membaca Fatihah pada tiap-tiap satu rakaat yaitu dengan mendengarkan bacaan Fatihah imam. Hal ini berdasarkan:

عن عبا دة بن صامت رضى الله عنه قال ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لاصلاة لمن يقراء بفا تحة الكتاب (متفق عليه

Dari Ubadah Bin Shamit r.a Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Tiadalah shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.”(HR Bukhari dan Muslim).

Permasalahan makmum masbuq menepuk pundak imam yang sering kita dapati dimasyarakat, untuk sementara ini belum kita dapati dalilnya, kami menyimpulkan bahwa hal itu (menepuk pundak) di lakukan hanya untuk memberi tahu kepada imam bahwa ada makmum dibelakangnya, akan tetapi kalau hal ini dilakukan akan mengganggu shalat imam seyogyanya makmum mengucapkan takbiratul ihram dengan keras agar imam tahu bahwa dibelakangnya ada makmum, dan hal ini sebagai pengganti menepuk pundak imam untuk memberi tahu bahwa dibelakangnya terdapat makmaum.

Imam menghadap kearah makmum sesudah selesainya shalat

عن سمورة قال : كان النبي صلى الله عليه و سلم إذا صلّى صلاة أقبل علينا بوجهه

Dari Samurah ra berkata :” adalah Rasulullah SAW apabila telah selesai mengerjakan shalat beliau menghadapkan mukanya kepada kita”. (HR Bukhari)

عن البراء بن عازب قال :كنّا إذا صلّينا خلف رسول الله صلى الله عليه و سلم أحببنا أن نكون عن يمينه فيقبل علينا بوجهه

Dari Bara’ bin Azib berkata: ” apabila kita shalat dibelakang Rasulullah SAW kita senang berada di sebelah kanan beliau, supaya setalah selesai beliau menghadapkan mukanya kepada kita”. (HR Muslim dan Abu Dawud)

Membuat sutrah dan larangan melewati didepan orang shalat

عن ابن عمر أنّ رسول الله صلى الله عليه و سلم كان إذا خرج يوم العيد أمر بالحربة فتوضع بين يديه فيصلّى إليها و الناس وراءه وكان يفعل ذلك فى السفر.ثمّ اتخذها الإمراء

Dari Ibnu Umar ra. Bahwasanya Rasulullah saw apabila keluar pada hari raya beliau meminta lembing, kemudian dipancangkan didepannya dan lalu shalat menghadap kearahnya sedang orang banyak shalat dibelakangnya. Beliau kerjakan yang demikian itu juga pada waktu bepergian. Berdasarkan pekerjaan Nabi tersebut maka kepala negarapun menjalankan yang demikian itu. (HR. Muslim)

عن أبي جهيم قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لو يعلم المارّ بين يدي المصلّى ماذ عليه لكان أن يكف أربعين خيرا له من أن يمرّ بين يديه أربعين يوما أو شهرا أو سنة

Dari Abu Juhaim berkata: bahwa Rasulullah saw bersabda: “andaikata orang yang lewat di depan orang yana shalat itu mengerti besarnya dosa yang dipikulkan kepadanya, niscaya akan lebih baik dia menunggu selama empat puluh dari pada lewat di depan orang yang shalat, yaitu empat puluh hari, empat puluh bulan atau empat puluh tahun”. (HR. Jama’ah)

Bacaan Basmalah Dalam Shalat Jahr

a. Fuqoha Madinah, Bashroh, dan Syam berpendapat bahwa basmalah adalah pembatas dari satu surat ke surat yang lain sehingga mereka berpendapat basmalah bukanlah termasuk dari surat al-fatihah. Oleh karena itu Imam Malik berpendapat tidak membaca basmalah ketika membaca al-fatihah dalam shalat.

b. Ahli qiro’ah kufah dan mekkah begitu pula Imam Syafi’I berpendapat bahwa basmalah adalah termasuk dalam surat al-fatihah, oleh karena itu Imam Syai’I berpendapat basmalah di baca dengan keras di dalam shalat, baik shalat jahr ataupun sirr.
Basmalah Apakah Di baca Jahr atau sirr dalam shalat

Dalam menunaikan shalat telah di tuntunkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya untuk membaca basmalah dalam mengawali surat al-fatihah

Bacaan basmalah ini dapat di baca dengan jahr ataupun sirr di dalam shalat ( karena dalam putusan tarjih tidak disebutkan secara rinci apakah bacaan basmalah dibaca jahr atau sirr dalam shalat ).

Hukum Wanita Berjama’ah di Masjid

Hadis yang menerangkan wanita lebih utama shalat di rumah

عن أم سلمة عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال خير مساجد النساء قعر بيوتهنّ

Dari Ummu Salamah dari Rasulullah saw bersabda :” sebaik-baik tempat sujud wanita adalah di bilik rumahnya” (HR. Ahmad, Thobroni dalam kitab al-kabir)

Didalam sanadnya terdapat Ibnu Lahi’ah, juga Ibnu Khizaimah meriwayatkan dalam kitab shohehnya sdan Al-Hakim dari Duraij Abis Samhi dari Sa’ib budak Ummu Salamah dari Ummu Salamah. Dan Ibnu Khuzaimah berkata aku tidak kenal apakah Sa’ib itu orang yang adil atau tercela, tetapi Al-Hakim berkata sanadnya shoheh.

Sedangkan hadis yang membolehkan wanita jama’ah di masjid.

لاتمنعوا النساء مصلاهنّ مع العلم أن الجماعة أفضل لقوله صلى الله عليه و سلم لاتمنعوا إماء الله مساجد الله

Janganlah kamu melarang wanita-wanita pergi ke musholla setelah diketahui shalat jama’ah itu lebih utama. Karena dasar hadis : Janaganlah kamu melarang hamba-hamba wanita Allah pergi ke masjid-masjid Allah. (HR Bukhari Muslim )

عن ابن عمر قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذّ بسبع وعشرين درجة

Dari Ibnu ‘Umar berkata Rasulullah saw bersabda: “Shalat jama’ah itu lebih uatama dengan shalat sendirian dengan kelipatan 27 derajat” ( HR . Bukhari )

Dengan cara jamak dan taufiq dua hadis yang bertentangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa bagi wanita apabila tidak ada halangan pergi ke masjid atau musholla, sebaiknya jama’ah di masjid atau di musholla bersama dibolehkannya shalat berjama’ah di rumahnya.

Pandangan Para Fuqoha Mengenai Wanita Berjama’ah di Masjid

Abu Hanifah dan sahabatnya berpendapat hukumnya makruh bagi wanita yang masih berusia muda berjama’ah di masjid, karena ditakutkan akan terjadinya fitnah. Sedangakan Abu Hanifah sendiri berpendapat wanita yang sudah tua dibolehkan berjama’ah di masjid akan tetapi dengan wakyu-waktu tertentu, yaitu pada waktu shol;at subuh, maghrib dan ‘isya, selain dari waktu-wakyu tersebut di makruhkan. Karena diwaktu subuh dan ‘isya adalah disaat waktunya orang-orang fasiq tidur, sedangakn waktu maghrib adalah wakltunya orang-orang fasiq makan malam.

Malikiyah (Pengikut Imam Maliki) berpendapat wanita boleh berjama’ah di masjid apabila tidak dikhatuirkan akan terjadinya fitnah, apabila ditakutkan terjadinya fitnah maka wanita dilarang keluar untuk berjama’ah di masjid.

Syafi’iyyah dan Imam Ahamad Bin Hambal berpendapat hukumnya makruh bagi wanita yang masih berusia muda untuk keluar menghadiri shalat jama’ah laki-laki karena akan mendatangankan fitnah dan yang lebih baik adalah ia shalat di rumahnya. Dibolehkan shalat berjama’ah di masjid bagi wanita dengan syarat mendapat izin dari suaminya dan keluarnya tanpa menggunakan wewangian akan tetapi apabila ia shalat di rumahnya lebih baik.

Kesimpulan : bahwa hukumnya makruh bagi wanita berjama’ah di masjid karena ditakutkan akan terjadinya fitnah, dibolehkan berjama’ah di masjid bagi wanita yang sudah tua. (Fiqih Islam wa adillatuhu hal 1172 jilid 2)

Berjabat tangan sesudah shalat jama’ah

Berjabat tangan jika dikaitkan dengan contoh dari Nabi khususnya sesudah selesai shalat jama’ah belum terdapat dalil yang menerangkannya, kecuali hadis yang nenerangkan jabat tangan dalam peristiwa shalat jama’ah yaitu shalat jama’ah yang sudah selesai sama sekali, dan jama’ah mulai bubar meninggalkan masjid yaitu hadis yang diriwatkan oleh imam Bukhari yang menyatakan ketika itu Nabi datang di sebuah wilayah yang baru didatangai oleh Nabi, sehingga masyarakat beramai-ramai ingin lebih dekat mengenal pada Nabi, pada waktu itu Nabi membiarkan tangannya sehingga para jama’ah memengang tangan beliau.

Dari keterngan di atas dapat diambil kesimpulan berjabat tangan sesudah shalat jama’ah tidak ada tuntunanya. Kerena tiadanya hadis yang menerangankan hal itu. Sebenarnya yang diperintahkan oleh Rasulullah susudah shalat adalah berzikir dan berdoa, berjabat tangan dengan sesama jama’ah boleh-boleh saja sekiranya dikerjakan sesudah selesai sama sekali dari pelaksanaan shalat-shalat jama’ah (bubarnya para jama’ah). (Tanya Jawab Agama IV & V)

Zikir Bersama-sama Sesudah Shalat Jama’ah

…..وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

…Dan ingatlah (nama) dengan sebaik-baiknya pada waktu petang dan pagi hari (Ali Imran : 41)

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Dan ingatlah (nama TuhanMu) dalam dirimu dengan merendahkan diri dan meringankan suara tanpa mengeraskan suara di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai (al-A’raf: 205)

sedangkan dalam hadis tidak didapati anjuran untuk berzikir dengan suara keras apalagi dikerjakan di dalam mesjid yang dapat menganggu orang lain yang sedang mengerjakan shalat.

Kesimpulannya berzikir memang ada tuntunanya, akan tetapi zikir bersama-sama dengan suara keras tidak didapati tuntunannya. (Tanya Jawab Agama Jilid I)

Mengusap Muka sesudah Salam

Belum ditemukan dalil yang menerangkan mengusap muka atau dahi sesudah salam dalam shalat, oleh karena itu hal ini tidak perlu kita lakukan, yaitu mengusap muka sesudah salam.

Pengertian Shalat Tathawwu dan Macam-Macamnya

Pengertian Shalat Tathawwu dan Macam-Macamnya – Tathawwu’ diartikan dengan mengerjakan segala ketaatan yang bersifat sunnah. Bisa juga diartikan dengan nafilah “kelebihan yang baik”.  Hikmah menjalankan shalat sunah (tathawwu) ialah untuk menyempurnakan kekurangan kekurangan yang terjadi pada shalat-shalat fardu. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw:

إن أول ما يحاسب اناس به يوم القيامة من أعمالهم الصلاة, يقول ربنا للملائكة و هو أعلم: انظروا فى صلاة عبدي أتمها أم نقصها؟ فإن كانت تامة كتبت له تامة, وإن كان إنتقص منها شيأ قال: انظروا هل لعبدي من تطوع؟ فإن كان له تطوع قال: أتموا لعبدي فريضة من تطوعه, ثم تأخذ الأعمال على ذلك

”Sesungguhnya amal perbuatan manusia yang pertama kali dihisab ialah shalat. Allah berfirman kepada para malaikat, “lihatlah shalat hamba-Ku, apakah sempurna atau kurang?” jika sempurna maka ditulis sempurna untuknya, dan jika ada yang kurang maka Allah berfirman,”lihatlah apakah hamba-Ku mempunyai amalan sunah?” jika hamba tersebut mempunyai shalat sunah, maka Allah berfirman,”sempurnakan shalat wajib hamba-Ku dengan shalat sunahnya,” kemudian seluruh amalm perbuatan diambil seperti itu.”(Diriwayatkan Abu Daud. Hadis ini hasan)

Waktu Shalat Sunnah (Tathawwu’)

Waktu shalat-shalat sunah ialah malam dan siang kecuali 5 waktu. Kelima waktu tersebut dijelaskan dalam sabda Rasulullah SAW: “Kerjakanlah shalat Subuh kemudian berhentilah dari shalat hingga matahari terbit dan naik, karena matahari terbit diantara dua tanduk setan dan ketika itu orang-orang kafir sujud kepada matahari. Setelah itu, kerjakanlah shalat, karena shalat ketika itu disaksikan para malaikat hingga bayangan setinggi tombak, kemudian berhentilah dari shalat karena pada waktu tersbut neraka sedang dinyalakan. Jika bayang-bayang telah terlihat maka shalatlah, karena shalat pada saat tersebut disaksikan para malaikat hingga engkau shalat Ashar, kemudian berhentilah dari shalat hingga matahari terbenam karena matahari terbenam diantara dua tanduk setan, dan ketika itu orang-orang kafir sedang sujud kepadanya”.

Tempat yang dianjurkan dalam mengamalkan Sholat Tathawwu

Disunahkan pelaksanaan shalat–shalat sunah dilaksnaakan di rumah. Hal ini berdasarkan hadist dari Rasulullah saw.:

عن زيد ابن ثابت رض أن النبي صلعم قال: أفضل الصلاة صلاة المرء فى بيته إلا المكتوبة

Dari Zaid bin Tsabit bahwa Nabi saw. bersabda: Shalat seseorang yang paling utama adalah di rumahnya kecuali shalat wajib.

Macam-Macam Shalat Tathawwu yang Disyariatkan

  1. Shalat Sunnah Sesudah Wudlu’
  2. Shalat Diantara Adzan dan Iqamah
  3. Shalat Tahiyatul Masjid
  4. Shalat Sunnah Rawatib
  5. Shalat Lail (Malam)
  6. Shalat Sunnah Safar (Bepergian)
  7. Sholat Sunnah Idain
  8. Shalat Gerhana
  9. Shalat Istisqa’

Macam-Macam Sholat Sunnah yang Tidak Dianjurkan Dikerjakan

  1. Shalat Tasbih
  2. Shalat Hajat
  3. Shalat Ghoflah
  4. Shalat Awwabin
  5. Shalat Taubat
  6. Shalat Kifayah
  7. Shalat Zawal
  8. Shalat Agar Bermimpi Bertemu Dengan Nabi Muhammad SAW.

Tuntunan Sholat Lengkap: Doa & Bacaan Sholat sesuai Sunnah Nabi SAW

Tuntunan Sholat Lengkap –  Di antara ibadah-ibadah yang diwajibkan kepada setiap pemeluk Islam, shalat mempunyai sifat dan kedudukan yang tersendiri. Boleh dikatakan mempunyai keistimewaan.

Shalat dalam Islam itu bukan sekedar upacara yang harus dilakukan paling banyak setengah hari dalam tiap-tiap tujuh hari (seminggu), tapi ia adalah suatu tempat berlindung yang tak mengecewakan  bagi seorang Islam, yaitu suatu keadaan tempat ia lebih banyak dapat mengumpulkan tenaga sesudah bergelut dengan kesibukan dan kegelisahan hidup sehari-hari sehingga ia lebih tabah untuk meneruskan perjuangan hidup selanjutnya ( M.Natsir, Marilah Shalat, Jakarta: Media Dakwah, 1999, hlm. 53-54)

Dalam bahasa Arab, perkataan shalat digunakan untuk beberapa arti. Di antaranya digunakan untuk arti do’a, seperti dalam firman Allah yang terdapat dalam al-Qur’an Surat (9) At-Taubah ayat 103: digunakan untuk arti “rahmat” dan untuk arti” mohon ampunan” seperti dalam firman Allah dalam Al-Qur’an Surat (33) ayat 43 dan 56.

Hal ini sejalan dengan pendapat al- San’any: Artinya: shalat itu menurut pengertian bahasa berarti do’a. Ibadah shalat ini dinamai do’a karena dalam shalat itu mengandung do’a. Lihat Subul as-Salam Sarah Bulugh al- Maram Auladuh, 1379 H/1960 M, hlm. 106.

Menurut Syekh Mahmud Syaltut, dalam sholat telah terhimpun segala bentuk dan cara yang dikenal oleh umat manusia dalam menghadapkan penghormatan dan pengagungan, tetapi mereka itu hanya menggunakan salah satu cara seperti sekedar berdiri dengan penuh hormat atau sekedar tunduk, atau sujud dan sebagainya, dan Allah menghimpun segala yang dikenal itu dalam ibadah shalat untuk menggambarkan puncak pengagungan kepada- Nya. (Lihat Al Islam Aqidah Wa Syari’ah, Mesir: Dar al Qalam, Cet III, 1966) Berikut tuntunan sholat lengkap yang seharusnya kita pahami bersama:

1. Menghadap Qiblat

عن عمران بن حصين رضي الله عنه سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن صلىة الرجل قاعدا قال: إن صلى قائما فهو أفضل ,وإن صلى قاعدا فله نصف أجر القائم ومن صلى نائما فله نصف أجر القاعد

Dari Umar Ibnu Husain r.a beliau bertanya tentang shalatnya seseorang dengan berdiri, beliau bersabda jika ia shalat dengan berdiri maka itu lebih afdhal, jika ia shalat dengan duduk maka pahalanya separuh dari shalat dengan berdiri, dan barang siapa shalat dengan berbaring maka pahalanya separuh dari shalat dengan duduk. (Diriwayatkan oleh imam yang tujuh kecuali Muslim).

فولّوجهك شطر المسجد الحرام

Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. (al-Baqarah: 144)

إذا قمت الى الصلاة فأسبغ الوضوء ثمّ اســتـقـبـل الـقـبــلة فكــبـّّر  رواه مسلم

Apabila engkau hendak melaksanakan shalat maka sempurnakanlah wudhumu kemudian menghadap kiblat dan bertakbir. (HR Muslim)

2. Lafadz Do’a Niat

Ibnu Qoyyim dalam kitab “IGOTSATULLAHFAN” berkata: Niat adalah menyengaja dan berazam atas sesuatu, dan tempatnya di dalam hati jadi tidak berkaitan dengan lisan. Oleh karena itu tidak ada satu lafadz niat pun yang dinukil dari Nabi dan dari sahabat. (Fiqih Sunnah: 81)

Sebagian ulama mazhab Syafi’i mensunahkan melafadzkan niat dengan lisan, mereka itu terbagi menjadi tiga golongan:

a. Menyebutkan niat dengan lidah itu menolong hati, lantaran itu menjadi sunah. Dijawab bahwa alasan itu bukan dari agama dan tidak dibenarkan oleh agama, dengan alasan itu juga berarti telah menambah satu ibadat dalam agama.

b. Menyebutkan niat dengan lidah itu merupakan tuntunan Nabi di dalam ibadah haji, oleh sebab itu dikiaskan perbuatan itu di dalam niat shalat. Tetapi riwayat hadis ini dhaif, dan ada qaidah yang menyatakan “LAA QIYAASA FIL’IBAADAH”

c. Bid’ah hasanah, karena perbuatan itu baik dan tidak ada Nabi berkata: “jangan kamu melafadzkan niat”. Di jawab bahwa tiap-tiap bid’ah dalam hal ibadah itu bid’ah dhalalah, tidak ada yang hasanah. (Soal-Jawab A. Hasan : 91-95) Tentang lafadz “ USHOLLI” yang sering dilafadzkan sebagian orang, kami tidak mendapati dari mana sumbernya.

3. Takbiratul Ihram

Mengangkat kedua tangan sejurus dengan bahu, mensejajarkan ibu jari dengan daun telinga.

عن مالك بن الحويرث أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا كبّر رفع يديه حتى يحاذي بهما أذنيه وإذا ركع رفع يديه حتى يحاذى بهما أذنيه وإذا رفع رأسه من الركوع فقال: سمع الله لمن حمده” فعل مثل ذلك رواه مسلم فى صحيحه

Dari Malik bin Huwairis, bahwa Rasulullah saw apabila bertakbir ia mengangkat kedua tangannya sampai sejajar pada telinganya, begitu juga bila hendak rukuk dan bila mengangkat kepalanya dari rukuk lalu mengucap “Sami’allahu liman hamidah” ia mengerjakan demikian juga. (HR. Muslim dalam kitab Shohihnya).

قال إبن عمر :كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قام للصلاة يرفع يديه حتي يكونا حذو منكبيه ثم يكبّر رواه مسلم

Ibnu Umar berkata : Adalah Nabi saw apabila ia berdiri untuk shalat beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan dua bahunya. (HR Muslim)

Tentang Lafadz Takbiratul Ihram ( الله اكبر)

الحديث ابن ماجه وصححه ابن خزيمة وابن حبان من حديث حميد الساعدي قال : كان رسول الله ص م اذا قام الي الصلاة استقبل القبلة ورفع يديه وقال ( الله اكبر) و لحديث: اذا قمت الي الصلاة…الحديث  متفق عليه

Artinya: Dan hadis dari Ibnu Majah yang disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dari hadis Abi Humaidi Assa’idi bahwa Rasululullah jika shalat ia menghadap ke kiblat dan mengangkat kedua belah tangannya dengan membaca “ ALLAHU AKBAR “ dan menurut hadis: bila lamu menjalankan shalat, takbirlah…seterusnya hadis. (diriwayatkan oleh Bukhari Muslim)

اابو حميد الساعدي يقول: كان رسول الله ص.م اذا قام الي الصلاة استفبل القبلة ورفع يديه وقال الله اكبر رواه ابن ماجه

Artinya: Abu Humaid Assa’idi berkata adalah Rasulullah saw. jika berdiri untuk shalat maka beliau menghadap kiblat dan mengangkat kedua belah tangannya dan bekata “ ALLAHU AKBAR” ( HR. Ibnu Majah )

اقال رسول الله : اذاقال الامام : الله اكبر فقولوا: الله اكبر رواه احمد والبيهقي بسند صحيح

“Bersabda Rasulallah jika seorang imam berkata “ ALLAHU AKBAR” Maka katakanlah “ ALLAHU AKBAR” ( HR. Ahmad dan al-Baihaqi dangan sanad yang shahih).

Menurut imam Abu Hanifah takbiratul ihram sah dengan lafadz apapun yang berkaitan dengan ta’dzim dan tafhim seperti lafadz “Allahul ‘adzim, Allahu ljalil dan kalaupun dia membaca hanya lafadz “ALLAH” dan tidak menambahnya, maka sah shalatnya. Tetapi pendapat ini tidak bisa dipakai, karena tidak ada hadis yang menerangkan tentang hal itu.

Gerakan Takbir yang Belum Jelas Dasarnya

  • Takbir dengan memutar tangan terlabih dahulu sebelum bersedekap
  • Takbir dengan mendorong tangan lurus ke depan dan ditarik kembali kemudian bersedekap

4. Bersedekap

Yaitu meletakkan tangan pada punggung telapak tangan kiri di atas dada.

لحديث وائل قال: صلّيت مع رسول الله صلي الله عليه وسلم ووضع يده اليمني علي يده اليسرى على صدره  رواه إبن خزيمة فى صحيحه

Karena hadis dari Wail ia berkata : Saya shalat bersama Nabi saw, beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas dada. (HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya).

Jumhur selain Malikiyah: meletakkan tangan kanan pada siku kiri.

رواه سهل بن سعد قال: كان الناس يؤمرون أن يضع الرجل يده اليمنى على ذراعه اليسرى في الصلاة رواه البخارى

Diriwayatkan oleh Sahal bin Sa’ad ia berkata: Orang-orang diperintahkan untuk meletakkan tangan kanannya pada siku kirinya dalam shalat. (HR. Bukhari)

Abu Hanifah dan Hanabilah: meletakkan kedua tangan di bawah pusar.

لما روي عن علي أنه قال : من السنة وضع اليمنى علي الشمال تحت السرة  رواه أحمد و أبو داود

Karena hadis yang diriwayatkan oleh Ali ra ia berkata: diantara sunah adalah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di bawah pusar. (HR Ahamad dan Abu Dawud).

5. Lafadz Do’a Iftitah

اللهم باعد بيني وبين خطاياي كماباعدت بين المشرق والمغرب. اللهم نقني من الخطايا كما ينقي الثوب الابيض من الدنس. اللهم اغسل خطاياي باماء والثلج والبرد

وجهت وجهي للذي فطر السموات والارض حنيفا مسلما وماانا من المشركين, ان صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين, لا شريك له و بذلك امرت وانا اول المسلمين (وانا من المسلمين ) اللهم انت الملك لا اله االا انت, انت ربي وانا عبدك ظلمت نفسي واعترفت بذنبي فغفرلي ذنوبي جميعا لا يغفر الذنوب الا انت وهدني لاحسن الخلاق لا يهدي لاحسنها الا انت والصرف عني سيئها لا يصرف عني سيئها الا انت, لبيك وسعديك والخير كله في يديك والشر ليس اليك انابك و اليك, تباركت وتعاليت استغفرك واتوب اليك

Dalam riwayat lain lafadz وانا اول المسلمين diganti dengan وانا من المسلمين

Dalam kitab Mustadrak kepunyaan Hakim, terdapat hadis dari Imran bin Husain menyebutkan do’a iftitah “…وجهت” hanya sampai pada lafadz “وانا من المسلمين “. ( Nailul autor II: 550)

Do’a- do’a yang lain yang diperbolehkan:

وعن عمر: انه كان يقول بعد تكبيرة الاحرام: سبحانك اللهم وبحمدك وتبارك اسمك وتعال جدك ولا اله غيرك  رواه مسلم

Dan dari Umar: sesungguhnya berkatalah dia setelah takbiratul ihram : سبحانك اللهم وبحمدك وتبارك اسمك وتعال جدك ولا اله غيرك (HR. muslim).

Hadis ini riwayatnya terputus, tapi dalam riwayat lain yaitu riwayat dari Daruquthni dinyatakan bersambung dan marfu’ atas Ibnu Umar. Menurut Ibnu Qoyyim hadis dari Ibnu Umar ini marfu’, menurut imam Ahmad menganggap baik dengan do’a ini. Menurut Ibnu Zaujiah tidak mengetahui dan mendengar orang menggunakan do’a iftitah ini.

6. Lafadz do’a Ta’awudz

قال ابن المنذر جاء عن النبي صلعم انه كان يقول قبل القراءة: اعوذ با الله من الشيطان الجيم رواه الدارقطني

Artinya: berkata Ibnul Mundzir datang dari Nabi saw sesungguhnya beliau berkata sebelum membaca fatihah: اعوذ با الله من الشيطان. (HR. Daruquthni).

اذا قرات القران فاستعذ بالله من الشيطان الجيم

Artinya: jika engkau membaca al-Qur’an maka berlindunglah pada Allah dari Syaitan yang terkutuk. (an- Nahl: 98)

Lafadz Ta’awudz yang diperselisihkan

اعن ابي سعيد الخدري عن النبي صلعم انه كان اذا قام الي الصلاة استفتح ثم يقول : اعوذبالله السميع العليم من الشيطان الجيم من همزه ونفخه ونفثه

Artinya: dari Abi Said al-Khudri dari Nabi saw sesungguhnya beliau jika bangun untuk shalat membaca iftitah kemudian ia berkata: اعوذبالله السميع العليم من الشيطان الرجيم من همزه ونفخه ونفثه (HR. at-Tirmidzi)

Menurut Ibnu Khuzamah : shahih. Menurut Ahmad bin Hambal: tidak shahih. Perbedaan pendapat itu bersumber dari Ja’far Ibnu Sulaiman dan Ali Ibnu al-Yaskuri yang kesiqahannya diperdebatkan. Meski demikian Ahmad bin Hambal mengamalkannya.

Dalam Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah tidak ada keterangan apakah ta’awud itu dibaca pada rakaat pertama saja atau pada semua rakaat.

Berdasarkan keumuman surat an-Nahl: 98 membaca surat al- Fatihah pada rakaaat berikutnya juga dimulai dengan ta’awud. Begitulah pemahaman umum ketika muktamar, tetapi tidak di rumuskan secara jelas.

Bacaan ta’awud hanya pada rakaat pertama sesudah membaca do’a iftitah. Berdasarkan pada hadis:

عن ابي هريرة رضي الله عنه قال كان رسول الله صلعم اذا نهض من الركعة الثانية افتتح القراءة با لحمد لله رب العامين ولم يكت  رواه مسلم

Artinya: Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: “Rasalallah saw apabila berdiri untuk rakaat yang kedua ia membaca Alhamdulillahirabbil ‘aalamien, dangan tiada berdiri (sebentar). (HR. Muslim, tersebut dalam Muntaqa).

Ada yang memahami bacaan “alhamdulillihi rabbil’ alamien” itu adalah surat Hamdalah artinya surat Fatihah.

7. Lafadz Do’a Basmalah ( بسم الله الرحمن الرحيم)

ولحديث نعيم للجمر قال صليت وراء بي هريرة رض فقرا بسم الله الرحمن الرحيم ثم قرا بام القران حتي بلغ “ولا الضالين ” فقال امين,وقال الناس امين ويقول كلما سجد الله اكبر واذا قام من الجلوس في الاثنتين قال الله اكبر ويقول اذا سلم : والذى نفسي بيده اني لاشبهكم صلاة برسو ل الله صلحم

Dari hadis Nu’aim al-Jumar berkata aku shalat dibelakang Abu Hurairah ra, lalu ia membaca bismilla-hirrahma-nirrahiimi kemudian membaca ummal qur’an hingga sampai wala-dha-li-n dan berkata a-mi-n, dan orang-orang berkata a-mi-n dan ia berkata setiap sujud ALLAHU AKBAR, dan jika ia berdiri dari duduk dua sujud berkata: ALLAHU AKBAR dan ia berkata jika salam: walladzi-nafsi biyadihi sesungguhnya aku paling serupanya shalat dengan Rasulullah saw. (HR. Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, as-Siraj, Ibnu Hibban dan selain mereka).

8. Bacaan Surat Al-Fatihah

الحمد لله رب العالمين (1) الرحمن الرحيم (2) مالك يوم الدين (3) اياك نعبد واياك نستعين (4) اهدن الصرا ط المستقيم (5) صراط الذين انعمت عليهم غير المغذوب عليهم ولا الضالين (6)

لحديث عبادة بن الصامت رض ان رسول الله صلعم قال : لا صلاة لمن لا يقرا بفاتحة الكتاب متفقعليه

Artinya: “Karena hadis Ubadah bin Shamit ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah. (Muttafaqun Alaih).

ولحديث عبادة قال صلي رسول الله صلعم الصبح فثقلت عليه القراءة فلما انصرف قال اني اراكم تقرؤون وراء امامكم قال قلنا يارسول الله اي ولله قال لاتفعلوا الابام القران  رواه احمد والدارقطني والبيهقي

Artinya: “Karena hadis Ubadah, Rasulullah saw shalat Subuh lalu beratlah bacaan bagi Rasulullah. Maka tatkala selesai shalat, beliau berkata: sesungguhnya aku melihat kalian membaca di belakang imam kalian, Kata Ubadah. Bahwa kita semua menjawab, “Ya Rasulullah, demi Allah benar bagitu!, ”Maka sabda Nabi: Janganlah kamu mengerjakan demikian kecuali bacaan al-Fatihah. (HR. Ahmad, Daruquthni dan Baihaqi).

9. Lafadz Do’a Amin ( امين)

لحديث ابي هريرة رض عن النبي صلعم قال اذاامن الامام فامنوا فاءنه من وافق تامينه تامين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه

Artinya: “ Karena hadis Abu Hurirah ra. Dari Nabi saw. bersabda: Apabila Imam mengucapkan Amin, maka bacalah Amin. Karena sesungguhnya orang yang bersamaan mengucapkan Amin dengan aminnya Malaikat, maka diampuni baginya dosa yang telah terdahulu. (HR. Mutafaqun alaihi)

وعنه ايضا ان رسول الله صلعم قال ذا قال احدكم امين وقالت الملائكة في السماء امين فوافق احداهما الاخرى غفرله ماتقدم من ذنبه متفق عليه

“Darinya juga, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: Apabila salah seorang diantara kalian berkata Amin, dan Malaikat berkata Amin di langit, lalu salah satu diantara keduanya bersamaan membacannya, maka diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaqun Alaih).

Menurut Ibnu Hajar lafadz” امن “ dalam hadis ini mengandung tiga makna:

Secara dhahir berarti ucapan amin, huruf fa’ dalam “ fa amminu” menurut jumhur ulama bukan merupakan fa’ sababiyah melainkan fa’ muqaranah, sehingga aminnya makmum bersamaan dengan imam. Artinya adalah do’a, imam membaca “ waladdhooliin”. Setelah imam membaca doa tersebut, maka makmum segera membaca amin.

Posisi dimana imam sampai pada bacaan tertentu yang perlu diamini. Berdasarkan hadis Bukhari dan Muslim:

عن أبي هريرة أن رسول الله صلعم قال: إذا قام الامام غير المغضوب عليهم ولا الضالين فقولوا أمين فانه من وافق قوله قول الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه.

Artinya: “Dari Abu Hurairah Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: Jika imam membaca “ghoiril maghdubi’ alaihim waladh dhalli-n” maka bacalah “a-mi-n “. Sesungguhnya barang siapa yang bacaanya bersamaan dengan bacaan Malaikat, tentulah diampuni dosanya yang telah lalu..

10. Bacaan Surat setelah al-Fatihah

Bacalah salah satu surat dari al-Qura’an yang kamu hafal dengan tartil dan diperhatikan artinya. di antara surat-surat dalam al-Qur’an adalah; surat al-‘Asri, al-Ma’un, al- Kautsar, al-Nasr dan yang lainnya.

لحديث ابن قتادة ان النبي صلعم كان يقرا في الظهرفي الاوليين بام الكاب وسورتين والركعتين الاخريين بام الكتاب ويسمعنا الاية ويطول في الركعة الاولى مال يطيل فىالركعة الثانية وهكذا فىالعصر وهكذا فى الصبح  متفق عليه

“Karena hadis Ibnu Qatadah bahwa Nabi saw. membaca dalam shalat Dhuhur pada dua rakaat pertama dengan al-Fatihah dan dua surat. Dan pada dua rakaat yang terakhir membaca al-Fatihah dan memperdengarkan pada kami suatu ayat. Dan pada rakaat yang pertama lebih panjang dari pada rakaat yang kedua. Demikian pula dalam shalat Ashar dan shalat Subuh. (Muttafaqun Alaih).

11. Bacaan Takbir Tiap Pergantian Gerakan

Hendaklah membaca takbir ( الله اكبر ) apa bila akan melakukan gerakan satu ke gerakan yang lainnya.

لحديث ابى هريرة رض قال: كان رسول الله صلعم اذا قام الى الصلاة يكبر حين يقوم ثم يكبر حين يركع ثم يقول: (سمع الله لمن حمده) حين يرفع صلبه من الركوع ثم يقول وهو قائم: ربنا ولك الحمد ثم يكبر حين يهوى ساجداً ثم يكبر حين يرفع رأسه ثم يكبر حين يسجد ثم بكبر حين يرفع ثم يفعل ذالك فى الصلاة كلها ويكبر حبن يقوم من الثنتبن بعد الجلوس. منتفق عليه

Artinya: Dari hadis Abu Hurairah ra. Berkata adalah Rasullah saw jika berdiri untuk shalat beliau bertakbir ketika berdiri kemudian bertakbir ketika rukuk kemudian berkata” SAMIA ALLAHULIMAN HAMIDAH” ketika mengangkat punggungnya (bangun) dari rukuk lalu membaca selagi beliau berdiri “ ROBBANA- WALAKAL HAMDU “ lalu takbir tatkala hendak sujud lalu bertakbir tatkala hendak mengangkat kepala (duduk antara dua sujud) lalu bertakbir tatkala hendak berdiri, kemudian melakukan itu dalam semua shalatnya serta bertakbir tatkala berdiri dari rakaat kedua sesudah duduk. (HR. Bukhari Muslim)

12. Bacaan Saat Rukuk

Bertakbir seperti takbiratul ihram seraya melempangkan (meratakan ) punggung dengan leher, dan kedua tangan memegang lutut.

لحديث ابن حميد الساعدى رضى الله عنه قال: أنا كنت أحفظكم لصلاة الرسول صلى الله عليه وسلم رأيته إذا كبّر جعل يديه حذو منكبيه وإذا ركع أمكن يديه من ركبتيه ثم هصر ظهره.  رواه البخارى

Berdasarkan hadis dari Ibn Humaid Assa’idi ra ia berkata: saya lebih cermat dari pada kalian tentang shalat Rasulullah, saya melihatnya apabila ia bertakbir ia mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya dan apabila ia ruku dia meletakkan tangannya pada kedua lututnya kemudian membungkukkan punggungnya. (HR Bukhari).

Saikh Nasiruddin al-Albani: merenggangkan jari-jari saat rukuk

كان يفرّج بين أصابعه

Adalah beliau merenggangkan jari-jarinya.

Do’a dalam Rukuk:

عن عائشة رضي الله عنها قالت كان النبي صلعم يقول فى الركوعه وسجوده سبحانك اللهم ربنا وبحمدك اللهم اغفرلي منتفق عليه

Artinya: dari Aisyah ra menceritakan bahwa Rasulullah saw dalam rukuk dan sujudnya beliau mengucapkan:سبحانك اللهم ربنا وبحمدك اللهم اغفرلي (HR. Bukhari dan Muslim)

لحديث حذيفة قال صليت مع النبي صلعم فكلن يقول فى ركوعه سبحان ربي العظم وفى سجوده سبحان ربي الاعلى الحديث رواه الخمسة وصححه الترمذي

Artinya: Hudzaifah berkata: Aku shalat bersama Nabi saw maka dalam rukuknya beliu membaca سبحان ربي العظم , dan dalam sujudnya beliau membaca سبحان ربي الاعلى ( HR. imam lima dan dishahihkan oleh Tirmidzi)

لحديث عائشة رضي الله عنها ان رسول الله صلعم كان يقول فى ركوعه وسجوده سبوح قدوس رب الملائكة والروح رواه احمد ومسلم وابوداود وغيرهم

Artinya: dari hadis Aisyah ra bahwa Rasulullah membaca dalam rukuk dan sujudnya membaca: سبوح قدوس ربالملائكة والروح (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Dawud dan lainnya).

Do’a yang lain:

عن علي رض ان النبي صلعم كان اذا ركع قال : اللهم لك ركعة وبك امنت ولك اسلمت انت ربي خشع سمعي وبصري ومخي وعظمي وعصبي وما استقلت به قدمي لله رب العالمين (رواه احمد ومسلمن وابو داود وغيرهم )

Artinya: Dari Ali ra sesungguhnya Nabi saw jika rukuk mengucapkan: اللهم لك ركعة وبك امنت ولك اسلمت انت ربي خشع سمعي وبصري ومخي وعظمي وعصبي وما استقلت به قدمي لله رب العالمين. (HR. Ahmad, Muslim, dan Abu Daud dan selain mereka).

Catatan!

Tambahan lafadz “ وبحمده” semua riwayatnya adalah dhoif, tapi imam Syaukani berpendapat semua riwayat- riwayat itu saling menguatkan. (Fiqih Sunnah I: 97 dan Nailul Autor II: 601)

Do’a سبحان ربي العظم dibaca 3x hadisnya adalah mursal. ( Nailul Autor II hadis no. 737)

Sebagian ulama mengatakan: sesempurnanya tasbih dalam rukuk dan sujud adalah 10 tasbih, dengan dalil HR. riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Nasi’i ( Fiqih Sunnah I: 100)

Jumhur ulama mengatakan: tasbih dalam rukuk dan sujud paling sedikitnya 1 kali ( Fiqih Sunnah I: 100)

13. Bacaan Doa I’tidal.

Mengangkat kepala dengan mengangkat kedua tangan seperti dalam takbiratul ihram dengan membaca : sami’Allahu limaan hamida

لحديث أبى هريرة رضى الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قـام إلى الصلاة يكبّر حين يقـوم ثم يكـبّر حين يركع ثم يقـول” سمع الله لمن حمده” حين يرفع صلبه من الركـوع ثم يـقـول وهو قائم ربنا ولك الحمد. متفق عليه

Berdasarkan hadis dari Abu Hurairah ra ia berkata : Adalah Nabi saw apabila ia berdiri untuk shalat dia bertakbir ketika berdiri, lalu bertakbir ketika ruku, kemudian membaca ”samiAllahu liman hamidah” ketika mengangkat punggungnya dari ruku, lalu keitka berdiri beliau membaca ”Rabbana wa lakal hamdu”. (Muttafakun alaihi).

Bacaan do’a I’tidal

  سمع الله لمن حمده ربناو لك الحمد ه
سمع الله لمن حمده ,اللهم ربنا لك الحمد ملء السموات وملء الارض وملء ما شئت من شئ بعد
سمع الله لمن حمده , ربناو لك الحمد حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه

لحديث ابى هريرة رض قال: كان رسول الله صلعم اذا قام الى الصلاة يكبر حين يقوم ثم يكبر حين يركع ثم يقول: (سمع الله لمن حمده) حين يرفع صلبه من الركوع ثم يقول وهو قائم: ربنا ولك الحمد ثم يكبر حين يهوى ساجداً ثم يكبر حين يرفع رأسه ثم يكبر حين يسجد ثم بكبر حين يرفع ثم يفعل ذالك فى الصلاة كلها ويكبر حبن يقوم من الثنتبن بعد الجلوس. منتفق عليه

Artinya: Hadis Abu Hurairah ra berkata: Rasulallah saw jika berdiri untuk shalat, beliau bertakbir ketika berdiri kemudian bertakbir ketika rukuk, kemudian mengucapkan “sami’allahuliman hamidah”, ketika mengangkat punggungnya dari rukuk kemudian ketika ia berdiri mengucapkan: rabbana walakal hamdu, lalu bertakbir ketika hendak sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, lalu bertakbir ketika sujud, lalu bertakbir lagi ketika berdiri, kemudian beliau mengerjakan yang demikian itu pada setiap salatnya. Kemudian bertakbir ketika duduk diantara dua sujud. (HR. Bukhari dan Muslim).

عن ابي اوفي قال كان رسول الله صلعم اذا رفع ظهره من الركوع قال سمع الله لمن حمده ,اللهم ربنا لك الحمد ملء السموات وملء الارض وملء ما شئت من شئ بعد

Artinya : Dari Abi Aufa berkata; Rasulallah saw. apabila mengangkat punggungnya dari rukuk mengucapkan “sami’Allahuliman hamidah, Allahumma Rabbana lakal hamdu mil’a samawati wamil’al ardi wamil’a ma syi’ta min syain ba’du”.

عن رفاعة قال كن نصلى يوما وراء النبي صلعم فلما رفع رسول الله رؤسه من الركعة وقال سمع الله لمن حمده قال رجل وراءه , ربناو لك الحمد حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه فلما انصرف رسول الله صلحم قال من المتكلم انفا ؟ قال الرجل انا يا رسول , فقال رسول الله صلحم لقدرايت بضعة وثلاثين ملكا يبتدونها ايهم يكتبها اولا رواه احمد والبخار ومالك وابو داود

Artinya: Dari Rafa’ah, Ia berkata; pada suatu hari kami shalat dibelakang Nabi saw. maka ketika Rasulallah mangangkat kepalanya dari rukuk, Ia mengucapkan “sami’Allahuliman hamidah”, lalu berkata salah seorang dibelakangnya “robbana walakal hamdu hamdan katsiron toyyiban mubarokan fiih”, lalu ketika Rasulallah selesai shalat, bersabdalah ia: Siapa yang berbicara tadi? Laki-laki itu menjawab; Saya ya Rasulallah, lalu Beliau bersabda: Sungguh Aku telah melihat 30 Malaikat yang berebut untuk menulis pahala mereka”. (HR. Ahmad, Bukhari, Malik dan Abu Daud).

Dalam riwayat lain do’a “ربناو لك الحمد tidak menggunakan و (Nailul Autor II: 740). Menurut imam Nawawi, و ditakdirkan sebagai athaf dari lafadz yang dikira-kirakan اطعناك ,حمداك . menurut imam Daqiqil ‘id ditakdirkan sebagai ” hal “

Ø lafadz “ mil’a” pada riwayat yang lain menggunakan dhammah, atau “ mil’u”. tetapi yang menggunakan “ mil’a” lebih mashur dan lebih banyak terdapat dalam hadis. (lihat catatan kaki fiqih sunnah I hal. 99).

Ø Jumhur ulama (Syafi’i, Malik, atho, Abu Dawud, Abu Hurairah, Muhammaad bin Sirin, Ishak dan Dawud) sepakat mengumpulkan bacaan tasmi; dan tasbih bagi imam, makmum dan shalat sendirian. ( Nalul Autor II: 605)

Ø Mazhab Syafi’iyah dan Hadawiyah mengatakan: bacaan tasmi’ hanya untuk imam dan shalat sendirian, dan makmu hanya nembaca tahmid. Mereka berhujjah dengan hadis:

اذا قام الامام سع الله لمن حمده فقول : ربنا لك الحمد  رواه ابوداود

Tapi dibantah, hadis ini tidak berarti menafikan bacaan makmum سمع الله….. , tapi hanya menunjukkan bahwa bacaan makmum ربنا…. itu datang setelah bacaan imam سمع… . imam Nawawi mengatakan : makna ….فقول : ربنا bersamaan dengan mengetahuinya makmum سمع… karena Nabi membacanya dengan keras. Oleh karena itu diharuskanlah penyebutan lafadz….فقول : ربنا sebab makmumnya tidak mendengar. Dan memang disunahkan pelan. ( Fiqih Sunnah I hal: 98) bantahan inidi perkuat demgan hadis Darul qutni (nailul autor II hal. 606) .

Ø Syafi’iyah dan Gadawiyah juga berdalil dengan hadis dari Abu Dawud, tetapi sanatnya maukuf (terputus)

Bacaan do’a yang lain:

,اللهم لك الحمد ملء السموات وملء الارض وملء ما شئت من شئ بعد, اللهم طهرني بالثج والبرد والماء البارد, اللهم طهرني من الذنوب ونقنّي منها كما ينقى لثوب الابيض من الوسخ

,اللهم ربنا لك الحمد ملء السموات وملء الارض وملء ما شئت من شئ بعد اهل الثناء المجد واحق ماقال العبد وكلنا لك عبد . لا ما نع لما اعطيت ولا معطي لما منعت ولا ينفع ذا الجد ومنك الجد

سمع الله لمن حمده, لربي الحمد لربي الحمد

Dalilnya:

عن عبد اله بن ابي اوفى عن النبي صلعم انه كان يقول,وفى لفظ يدعو اذا رفع راسه من الركوع ,اللهم لك الحمد ملء السموات وملء الارض وملء ما شئت من شئ بعد, اللهم طهرني بالثج والبرد والماء البارد, اللهم طهرني من الذنوب ونقي منها كما ينقى لثوب الابيض من الوسخ  رواه احمد ومسلم وابو داود وابنماجه

Artinya: Dari Abdullah bin Abi Aufa, dari Nabi saw. Sesungguhnya beliau mengucapkan (dalam lafadz lain berdoa), ketika ia mengangkat kepalanya dari rukuk: ”Allahumma lakalhamdu mil-a samawati wamil-al ardi wamil-a ma syi’ta min syain ba’du, Allahuma tohhirni bissalji wal barodi, wal mail baridi, Allahuma tohhirni minadz dzunubi wanaqqini minha kama yunaqqos tsaubu Al abyadu minal washi”. (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah).

عن ابى سعيد الخدري قال كان رسول الله صلعم اذا قال: سمع الله لمن حمده قال ,اللهم ربنا لك الحمد ملء السموات وملء الارض وملء ما شئت من شئ بعد اهل الثناء المجد واحق ماقال العبد وكلنا لك عبد . لا ما نع لما اعطيت ولا معطي لما منعت ولا ينفع ذا الجد ومنك الجد رواه مسم واحمد وبو داود

Artinya; Dari Sa’id al-Khudri, Ia berkata; Adalah Rasulallahu saw. apabila Ia mengucapkan “sami’Allahuliman hamidah” Ia berkata: ”Allahumma rabbana Lakal hamdu mil-as samawati wa mil-al Ardi wamil-a ma syi’ta min syai-in ba’du, wa ahlastsana-I almajid wa ahakkuma qola al abdu wakulluna laka abdun lamani’a lima a’toita walamu’tia lima mana’ta walayanfa’u dzal jaddi wamingkaljaddu”. (HR. Muslim, Ahmad, dan Abu Daud).

وصح عنه صلعم : انه كان يقول بعد سمع الله لمن حمده , لربي الحمد لربي الحمد حتى يكون اعتداله قدر ركوعه.

Artinya: dan shahih juga dari Rasulallah saw. sesungguhnya Beliau setelah mengucapkan; “sami’Allahuliman hamidah”, ia mengucapkan: li“robbil hamdu lirabbil hamdu”, sehingga I’tidalnya itu seukuran rukuknya. (Fiqih Sunnah hal. 99)

14. Bacaan Gerakan Sujud

Bersujud dengan meletakkan kedua lutut dan jari-jari kaki di atas tanah, lalu kedua belah tangan, kemudian dahi dan hidung dengan menghadapkan ujung jari kaki ke arah kiblat serta merenggangkan kedua tangan dari lambung dengan mengangkat siku.

لحديث ابن حميد الساعدى رضى الله عنه قال: كنت أحفظكم لصلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم رأيته ….. وإذا سجد وضع يديه غير مفترش ولا قابضهما واستقبل أطراف أصابع رجليه القبلة  رواه البخارى

Karena hadis dari Ibn Humaid ra ia berkata : saya lebih cermat dari pada kalian tentang shalatnya Nabi saw, saya melihatnya ….dan apabila ia sujud ia meletakkan kedua tangannya dengan tidak meletakkan lengannya pada tanah dan tidak merapatkannya pada lambung, dan ujung jari-jari kakinya dihadapkan ke arah Qiblat. (HR. Bukhari)

لحديث وائل بن حجر قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سجد وضع ركبتيه قبل يديه وإذا نهض رفع يديه قبل ركبتيه  رواه الخمسة إلا أحمد

Berdasarkan hadis dari Wail bin Hajar ia berkata: ”Adalah Nabi saw apabila ia sujud ia meletakkan kedua lututnya sebelum tangannya dan apabila ia bangkit ia mengangkat kedua tangannya sebelum lututnya”. (Diriwayatkan oleh imam yang lima kecuali Muslim)

حديث أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سجد أحدكم فلا يبرك كما يبرك البعير يضع يديه قبل ركبتيه

Abu Hurairah ra berkata : ”Rasulullah saw bersabda, ”Apabila salah seorang diantara kalian sujud maka janganlah ia menderum sebagaimana menderumnya onta yaitu, meletakkan kedua tangannya sebelum kedua tangannya.

عن البراء بن عازب قال:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سجدت فضع كفيك وارفع مرفقيك  رواه مسلم في صحيحه

Dari al-Bar bin Azib ia berkata ”Rasulullah saw bersabda apabila kamu sujud maka letakkanlah kedua telapak tanganmu dan angkatlah kedua sikumu”. (HR Muslim di dalam Shahihnya). HPT hal 90-92

أنّ النبي صلي الله عليه وسلم … فلما سجد وضع وجهه بين كفيه

Sesungguhnya Nabi SAW …. Tatkala ia sujud ia meletakkan wajahnya di antara kedua telapak tangannya.

عن ميمونة رضى الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سجد لو شاءت البهيمة تمر بين يديه مرت   أخرجه مسلم والنسائى وابن ماجه

Dari Maimunah ra ia berkata: Adalah Rasulullah saw apabila sujud, binatang bisa lewat di antara tangan beliau. (HR. Muslim dan an-Nasai dan Ibnu Majah). ( Goyatu al ahkam fi ahadisi al ahkam 2)

Saikh Nasiruddin al-Albani: Mendahulukan kedua tangan ketika rukuk

كان يضع يديه على الأرض قبل ركبتيه  رواه ابن خزيمة والدارقطني والحاكم

Adalah Nabi saw meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya. (HR Ibnu Majah, Daruquthni dan Hakim)

إاذا سجد أحدكم فلا يبرك كما يبرك البعير وليبضع يديه قبل ركبتيه رواه أبودود

Apabila salah seorang diantara kamu sujud maka janganlah ia menderum sebagaimana menderumnya onta hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya. (HR. Abu Daud). ( Sifat Shalat Nabi, Nasiruddin Al-Albani: 171)

Bacaan do’a sujud:

Dalam hal ini do’a ruku dan sujud adalah sama.

سبحانك اللهم ربنا وبحمدك اللهم اغفرلي
سبحان ربي الاعلى
سبوح قدوس ربالملائكة والروح

Bacaan do’a sujud yang lain:

اللهم لك سجدت وبك امنت وك اسلمت. وسجد وجهي للذي خلقه فصوره فاحسن صوره , فشق سمعه وبصره فتبارك الله احسن الخالقين
رب اعط نفسي تقواها وزكيها , انت خير من زكاها انت وليها ومولاها
اللهم اغفرلي ذنبي كله دقه وجله واوله واخره وعلانيته وسره
اللهماغفرلي خطيئتي وجهلي واسرافي فى امري, وماانت ومااخرت وما اسررت وما اعللنت . انت الهي لا اله الا انت

Dalilnya:

عن على رضي الله عنه : ان رسول الله صلعم كان اذا سجد يقول : اللهم لك سجدت وبك امنت وك اسلمت. وسجد وجهي للذي خلقه فصوره فاحسن صوره , فشق سمعه وبصره فتبارك الله احسن الخالقين رواه احمد ومسلم

Artinya: dari Ali ra. Sesungguhnya Rasulallah saw. apabila sujud mengucapkan; ”Allahuma laku sajadtu wabika amantu walaka aslamtu wa sajada wajhia lilladzi kholakohu fa sowwarohu faahsana sowarohu fasyakko sam’ahu wabasorohu fatabarokallohu ahsanal kholikin”. (HR. Ahmad dan Muslim).

عن عائشة : انها فقدت النبي صلعم من مضجعه فلمسته بيدها فوقعت عليه وهو ساجد وهو يقول: رب اعط نفسي تقواها وزكيها , انت خير من زكاها انت وليها ومولاها  رواه احمد

Artinya; Dari Aisyah Sesungguhnya ia kehilangan Nabi saw dari tempat tidurnya lalu ia menyentuh Nabi dengan tanganya, sedangkan beliau sedang sujud, dan sedang membaca; ”Robbi a’ti nafsi taqwaha wazakiyaha anta khoiruman zakaaha anta waliyuha wamaulaha”. (HR. Ahmad).

عن ابي هريرة : ان النبي صلعم كان يقول فى سجوده : اللهم اغفرلي ذنبي كله دقه وجله واوله واخره وعلانيته وسره  رواه سلم ابو داود والحاكم

Artinya: Dari Abi Hurairah: Sesungguhnya Nabi saw. dalam sujudnya mengucapkan: ”Allahumaghfirli dzanbi kullahu dakkohu wajallahu wa awwalahu wa akhirohu wa ‘ala niyatihi wasarrodahu”. (HR. Muslim, Abu Daud dan Hakim).

كان يقول وهو ساجد : اللهماغفرلي خطيئتي وجهلي واسرافي فى امري, وماانت ومااخرت وما اسررت وما اعللنت . انت الهي لا اله الا انت

Artinya: Adalah Nabi saw. mengucapkan di dalam sujudnya “Allahumaghfirli khotiati wajahli waisrofi fi amri wamaanta wama akhrojta wama asrorta wama a’lanta anta ilahi lailaha illa anta”. (fiqih sunnah hal. 101)

15. Duduk diantara Dua Sujud.

Mengangkat kepala dengan bertakbir dan duduk

لحديث أبي حميد الساعدى رضى الله عنه قال: كنت أحفظكم لصلاة رسول الله … فإذا جلس في الركعتين جلس على رجله اليسرى ونصب اليمنى  رواه البخارى فى صحيحه

Karena hadis dari Abu Humaid Assa’idi ra ia berkata: Adalah aku lebih cermat dari kalian tentang shalatnya Rasulullah …. maka apabila ia duduk diantara dua sujud ia duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. (HR Bukhari di dalam shahihnya)

Bacaan lengkap doa diantara dua sujud

عن ابن عبّا س الّنبيّ ص م: كان يقول بين السّجدتين”أللّهم اغفرلىوارحمنىواجبرني واهدني وارزقني”  رواه الترمذى

Ya Allah ampunilah aku, belas kasihanilah aku, cukupilah aku, tunjukilah aku dan berilah rizki kepadaku.

Menurut Malikiyah, duduk tawarruk baik di dalam tasyahud awal maupun tasyahud akhir.

لما روى ابن مسعود أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يجلس في وسط الصلاة وأخرها متوركا

Karena hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud bahwa Nabi saw pada pertengahan dan akhir shalatnya dengan melekatkan pantatnya pada tanah (tawarruk). ( Alfiqhu al islami wa adillatuhu 2 : 53).

Bacaan duduk di antara 2 Sujud lainnya

عن حذيفة النّبي ص م كان يقول بين السّجد تين” ربّ اغفرلى ربّ اغفرلي” (رواه النّسائ وابن ماجه) فى فقه السنة و نيل الاوطار

Wahai Tuhan ampunilah aku, ampunilah aku.

عن ابن عباس رضي الله عنهما ألنّبيّ ص م كان يقول بين السّجدتين”أللهّم اغفرلىوارحمنى وعافني واهدني وارزقني” (رواه ابوداود) نيل الأوطارو فقه السنّه

Ya Allah ampunilah aku, belas kasihanilah aku, jadikanlah aku sehat, berilah aku petunjuk dan berilah aku rizki.

أللّهمّ اغفرلىوارحمنىواجبرني وارفعني واهدني وارزقني” (رواه الحاكم

Ya Allah ampunilah aku, belas kasihanilah aku, cukupilah aku, angkatlah derajatku, berilah aku petunjuk, dan berilah aku rizki.

أللّهمّ اغفرلىوارحمنىوعافني واهدني وارزقني”  رواه ابوداود

Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, jadikanlah aku sehat, berilah aku petunjuk, dan berilah aku rizki.

ربّ اغفرلىوارحمنىواجبرني وارزقني وارفعني” (رواه ابن ماجه

Wahai Tuhan ampunilah aku, belas kasihanilah aku, cukupilah aku, berilah aku rizki, dan angkatlah derajatku. (Tanya Jawab Tim Tarjih 2/56)

16. Bangkit dari Sujud ke Rakaat Selanjutnya.

Mengangkat kepala dengan bertakbir, duduk sebentar, lalu berdiri untuk rakaat yang kedua dengan menekankan tangan pada tanah.

لحديث مالك بن الحويرث رضى الله عنه أنه رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلى فإذا كان في وتر من صلاته لم ينهض حتي يستوى قاعدا ( رواه البخارى فى صحيحه ) وفي لفظ له فإذا رفع رأسه من االسجدة الثانية جلس واعتمد على الأرض ثم قام.

Karena hadis dari Malik bin Huwirits ra bahwa ia melihat Rasulullah saw shalat apabila beliau dalam rakaat ganjil dari shalatnya, beliau belum berdiri, beliau duduk dulu hingga lurus dalam duduknya. (HR. Bukhari dalam shahihnya)

Dalam lafadz lain oleh Bukhari, apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud yang kedua, beliau duduk dan menekan pada tanah, lalu berdiri.

Di dalam riwayat lain: dengan menekan pada paha

فى حديث وائل بن حجر أنه صلى الله عليه وسلم كان إذا نهض رفع يديه قبل ركبتيه ونهض علي ركبتيه واعتمد علي فخذيه .حديثه مرسل كما في نيل الاوطار

Dalam hadis dari Wail bin Hajar bahwa Rasulullah saw apabila ia bangkit ia mengangakat kedua tangannya sebelum kedua lututnya dan bertumpu pada kedua pahanya. ( Goyatu al ahkam fi ahadisi al ahkam 2 : 201)

Bangkit dari duduk tahiyat awal kepada qiyam kembali sambil takbir serta mengangkat dan menghadapkan kedua tapak tangan ke kiblat.

قال ابن عمر: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قام من الركعتين رفع يديه رواه البخارى

Ibnu Umar berkata” Adalah Nabi saw apabila ia bangkit dari rakaat kedua ia mengangkat kedua tangannya. (HR. al-Bukhari)

17. Duduk Tasyahud Awal dan Akhir.

Duduk di atas kaki kiri dan menumpukkan kaki kanan serta meletakkan kedua tangan kanan di atas kedua lutut. Menjulurkan jari jari tangan kiri, serta tangan kanan menggenggam jari-jari kelingking, jari manis dan jari tengah serta mengacungkan jari telunjuk dan menyentuhkan ibu jari pada jari tengah.

لحديث ابن حميد الساعدى رضى الله عنه قال: أنا كنت أحفظكم لصلاة رسول الله صلي الله عليه وسلم رأيته … فإذا جلس في الركعتين جلس علي رجله اليسرى ونصب اليمنى وإذا جلس فى الركعة الأخير قدم رجله اليسرى ونصب رجله الأخرى وقعد على مقعده رواه البخارى

Karena hadis dari Ibn Humaid Assaidi ra berkata: ” saya adalah yang paling cermat diantara kalian tentang shalatnya Nabi saw, saya malihatnya …. maka apabila baliau duduk pada rakaat kedua beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya dan apabila duduk pada rakaat terakhir beliau memajukan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lain dan duduk di atas tempat duduknya”. (HR. Bukhari)

عن ابن عمر رضى الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذاقعد في التشهد وضع يده اليسرى علي ركبته اليسرى ووضع يده اليمنى على ركبته اليمنى عقد ثلاثا وخمسين وأشار بأصابعه السباية

Dari Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah saw apabila duduk pada tasyahud beliau meletakkan tangan kirinya pada lutut kiri dan tangan kanannya pada lutut kanannya dan menggenggam dengan isyarat limah puluh tiga dan mengacungkan jari telunjuknya. (HR. Muslim)

عن الزبير رضى الله عنه كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قعد يدعوا وضع يده اليمنى على فخذه اليمنى ويده اليسرى على فخذه اليسرى وأشار بأصبعه السبابة ووضع إبهامه على أصبعه الوسطى ويلقم كفّه اليسرى ركبته  رواه مسلم

Dari zubair ra, adalah Nabi saw apabila duduk berdoa beliau meletakkan tangan kanannya pada paha kanan dan tangan kirinya pada paha kiri dan mengacungkan jari telunjuknya, meletakkan ibu jarinya pada jari tengah dan tangan kirinya menggenggam lututnya.

Bacaan lengkap Doa Tasyahud

قال عبدالله كنّاإذاصّليناخلف النّبيّ ص م قلنا ” السّلام على جبريل وميكائيل السّلام علا فلان وفلان”فلتفت إلينارسول الله ص م فقال: فإنّ لله هو السّلام فإذاصلّى أحدكم فليقل:”ألتّحيّات لله والصّلوات والطيّبات السّلام عليك أيّها النّبيّ ورحمة الله وبركاته السّلام علينا وعلى عبادالله الصّالحين” فإنّكم إذاقلتموهاأصابت كلّ عبد لله صالح في السّمائ والأرض”أشهدأن لاإله إلاالله وأشهدأنّ محمّداعبده ورسوله رواه البخارى

Segala penghormatan, kebahagiaan dan kebagusan adalah kepunyaan Allah. Semoga keselamatan atas engkau ya Nabi Muhammad, beserta rahmat dan kebahagiaan Allah. Mudah-mudahan keselamatan juga bagi kita sekalian dan hamba-hamba Allah yang baik-baik. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusanNya.

عن كعب بن عجرة عن النّبيّ ص م يقول في الصّلاة “أللّهمّ صلّ على محمّدوعلىآل محمّدكماصلّيت على إبراهيم وآل إبراهيم وبارك على محمّدوآل محمّد كماباركت علىإبراهيم وآل إبراهيم إنّك حميد مجيد روي السافعى

Ya Allah limpahkan kemurahanMu kepada Muhammad dan keluarganya sebagaiman Engkau telah limpahkan kepada Ibrahim dan keluarganya. Berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaiman Enkau. Sesungguhnya Engkau yang Maha Terpuji dan Maha mulia.

Bacaan tasyahud lain:

تشهّدابن مسعود : ألتّحيّات لله والصّلوات والطيّبات السّلام عليك أيّها النّبيّ ورحمة الله وبركاته السّلام علينا وعلى عبادالله الصّالحين أشهدأن لاإله إلاالله واشهدانّ محمّداعبده ورسوله(رواه الجماعة) فى نيل الأوطار

Semua ucapan penghormatan, pengagungan, dan pujian hanyalah milik Allah. Segala pemeliharan dan pertolongan Allah untukmu wahai Nabi, begitu pula rahmat Allah dan segala karunia-Nya. Semoga perlindungan dan pemeliharaan diberikan kapada kami dan semua hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersakasi sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusanNya.

تشهّدابن عبّاس : ألتّحيّات المباركاتةالصّلوات والطّيّبات لله السّلام عليك أيّها النّبيّ ورحمة الله وبركاته السّلام علينا وعلى عبادالله الصّالحين أشهدأن لاإله إلاالله وأشهدأنّ محمّدارسول الله(رواه الجماعة) فى نيل الاوطار

Semua ucapan penghormatan, segala karunia, dan segala ucapan pengagunggan dan pujian hanyalah milik Allah. Semua perlindungan dan pemeliharaan untukmu, wahai Nabi begitu pula rahmat Allah dan segenap karuniaNya. Semua perlindungan dan pemeliharaan semoga diberikan kepada kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersakasi sesungguhnya Muhammad adalah utusanNya.

تشهّدابن عمر: ألتّحيّات لله والصّلوات والطيّبات السّلام عليك أيّها النّبيّ ورحمة الله وبركاته السّلام علينا وعلى عبادالله الصّالحين أشهدأن لاإله إلاالله واحده لاشريك له وأشهدأنّ محمّداعبده ورسوله (رواه ابوداودوالدارقطني)

Semua ucapan penghormatan milik Allah, begitu pula segala karunia, dan ucapan pengagunggan. Semua pertolongan dan pemeliharaan untukmu wahai Nabi, begitu pula karunia Allah begitu pula semua kariniaNya. Segala perlindungan dan pemeliharaan untuk kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi tiada tuhan kecuali Allah Tuhan Yang Tunggal tiada sekutu bagiNya dan aku bersakasi sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusanNya.

تشهّدابوموسى ألأاشعرى : ألتّحيّات الطيّبات الصّلوات لله السّلام عليك أيّها النّبيّ ورحمة الله وبركاته السّلام علينا وعلى عبادالله الصّالحين أشهدأن لاإله إلاالله واحده لاشريك له وأشهدانّ محمّداعبده ورسوله (رواه مسلم وابوعوانة وابوداود وابن ماجه

Semua ucapan penghormatan, segala karunia, segala ucapan pengagunggan dan pujian hanyalah milik Allah. Semua perlindungan dan pemeliharaan untukmu wahai Nabi, begitu pula rahmat dan karunia Allah. Semua perlindungan dan pemeliharaan Allah untuk kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi tiada tuhan kecuali Allah Tuhan Yang Tunggal tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersakasi sesungguhnya Muhammad adalah hambaNya dan utusan-Nya.

تشهّدعمرابن خطاب : ألتّحيّات لله الزّاكيات لله الطيّبات لله السّلام عليك أيّها النّبيّ ورحمة الله وبركاته السّلام علينا وعلى عبادالله الصّالحين أشهدأن لاإله إلاالله وأشهدأنّ محمّداعبده ورسوله (رواه مالك وبيهقي بسند صحيح

Artinya: Semua ucapan penghormatan hanyalah milik Allah. Segala pengkudusan hanyalah milik Allah segala pengagunggan hanyalah milik Allah, segala pemeliharan dan perlindungan adalah untukmu, wahai Nabi, begitupula rahmat dan segala karunia-Nya. Semoga perlindungan dan pemeliharaan diberikan kapada kami dan semua hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah dan aku bersakasi sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusanNya.

تشهّد عائشة : ألتّحيّات الطيّبات الصّلوات الزّاكيات لله السّلام على النّبيّ ورحمة الله وبركاته السّلام علينا وعلى عبادالله الصّالحين أشهدأن لاإله إلاالله وأشهدأنّ محمّداعبده ورسوله(رواه البيهقي

Segala ucapan untuk menyatakan hormat, segala ucapan untuk pengagunggan, dan segala ucapan pujian serta ucapan untuk menyatakan pengkudusan hanya milik Allah. Segala pemeliharan dan pertolongan Allah untukmu wahai Nabi, begitu pula rahmat Allah dan segala jaruniaNya. Semoga perlindungan dan pemeliharaan diberikan kapada kami dan semua hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersakasi sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusanNya. (al-Bani “Sifat Shalat Nabi).

Bacaan Shalawat Nabi SAW

أللّهمّ صلّ على محمّدوعلى آل محمّدكماصلّّيت علىآل إبراهيم إنّك حميدمجيدأللّهمّ بارك على محمّدوعلىآل محمّد كماباركت علىآل إبراهيم إنّك حميد مجيد( روي الجماعة) فىفقه السنّة ونيلالاوطار**

Artinya: Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung. Ya Allah berikanlah karunia kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

أللّهمّ صلّ على محمّدوعلى آل محمّدكماصلّيت علىآل إبراهيم وبارك على محمّدوعلىآل محمّد كماباركت علىآل إبراهيم إنّك حميد مجيد ( روي أحمدومسلم والنّسائ والترمذي وصححه) فى نيل الاوطار**

Artinya: Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada keluarga Ibrahim, berikanlah karunia kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

أللّهمّ صلّ على محمّدوعلى أزواجه وذرّيّته كماصلّيت علىآل إبراهيم وبارك على محمّدوأزواجه وذرّيته كماباركت علىآل إبراهيم إنّك حميد مجيد( متفق عليه) فى نيل الاوطار**

Artinya: Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad istri-istrinya dan anak keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada keluarga Ibrahim dan berikanlah karunia kepada Muhammad para isteri-istrinya dan anak keturunanya, sebagaimana Engkau memberikan karunia kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

أللّهمّ صلّ على محمّدوعلى آل محمّدكماصلّيت علىآل إبراهيم وبارك على محمّدوعلىآل محمّد كماباركت علىآل إبراهيم فى العالمين إنّك حميد مجيد ( روي مالك ومسلم وابوداودوالترمذي والنّسائ واحمد وغيره) **.

Artinya: Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada keluarga Ibrahim, berikanlah karunia kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada keluarga ibrahim diseluruh alam. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

أللّهمّ صلّ على محمّدوعلى أزواجه وذرّيّته كماصلّيت علىإبراهيم وبارك على محمّدوأزواجه وذرّيته كماباركت علىآل إبراهيم إنّك حميد مجيد( حديث حسن رواه ابوحميدالسعد)**

Artinya: Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad istrinya dan anak keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan berikanlah karunia kepada Muhammad para istrinya dan anak keturunanya, sebagaimana Engkau memberikan karunia kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

أللّهمّ صلّ على محمّدوعلى آل محمّدكماصلّيت علىإبراهيم إنّك حميدمجيد وبارك على محمّدوعلىآل محمّد كماباركت علىإبراهيم إنّك حميد مجيد( حديث حسن صحيح رواه الترمذي)

Artinya:  Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung. Berikanlah karunia kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

أللّهمّ صلّ على محمّدوآل محمّدكماصلّيت علىإبراهيم وبارك على محمّدوآل محمّد كماباركت علىآل إبراهيم إنّك حميد مجيد(صحيح رواه ابوداود)**

Artinya:  Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim, dan berikanlah karunia kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada keluarga ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

.أللّهمّ صلّ على محمّدعبدك ورسولك كماصلّيت على إبراهيم وبارك على محمّدوعلى آل محمّدكماباركت علىإبراهيم وآل إبراهيم (رواه البخاري)**

Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad hambaMu dan rasul-Mu sebagaimana engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan berilah karunia kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim.

أللّهمّ صلّ على محمّدوعلى آل محمّدكماصلّيت علىآل إبراهيم و بارك على محمّدوعلىآل محمّد كماباركت علىإبراهيم وعلىآل إبراهيم فىالعالمين إنّك حميد مجيد(صحيح رواه احمد)**

Artinya:  Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada keluarga Ibrahim. Berikanlah karunia kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim diseluruh alam. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

أللّهمّ صلّ على محمّدوآل محمّدكماصلّيت علىإبراهيم وعلىآل إبراهيم إنّك حميدمجيدأللّهمّ بارك على محمّدوعلىآل محمّد كماباركت علىإبراهيم وعلىآل إبراهيم إنّك حميد مجيد( صحيح رواه البخاري)**.

Artinya: Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung. Ya Allah berikanlah karunia kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

أللّهمّ صلّ على محمّدوعلى أهل بيته وعلىإزواجه وذرّيّته كماصلّيت علىآل إبراهيم إنّك حميد مجيدوبارك علىمحمّدوعلىأهل بيته وعلىأزواجه وذرّيّته كماباركت علىآل إبراهيم إنّك حميدمجيد (رواه احمدوالطّاهوي)**.

Artinya:  Ya Allah berilah rahmat kepada Muhammad, keluarganya, istri-istrinya dan keturunannya sebagaimana Engkau telah memberi rahmat kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung. Berikanlah karunia kepada Muhammad, keluarganya, istri-istrinya dan keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepad keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

أللّهمّ صلّ على محمّدوعلى آل محمّدكماصلّيت علىإبراهيم وآل إبراهيم إنّك حميدمجيدوبارك على محمّدوعلىآل محمّد كماباركت علىإبراهيم وآل إبراهيم إنّك حميد مجيد رواه احمدوالنّسائ وابويعلىبسندصحيح

Artinya: Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada keluarga Ibrahim dan keluarga Ibrahim. sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung. Berikanlah karunia kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

أللّهمّ صلّ على محمدالنّبيّ ألأميّ وعلى آل محمّدكماصلّيت على آل إبراهيم وبارك على محمّدالنّبيّ ألأميّ وعلى آل محمّد كماباركت على آل إبراهيم فى العالمين إنّك حميد مجيد رواه مسلم وابوعوانة وابن ابي شيبة وابوداودوالنّسائ وصححه الحاكم

Artinya:  Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad Nabi yang ummi, dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi rahmat kepada keluarga Ibrahim dan berilah karunia kepada Muhammad Nabi yang ummi dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi karunia kepada keluarga Ibrahim di seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

أللّهمّ صلّ على محمّدعبدك ورسولك كماصلّيت على آل إبراهيم وبارك على محمّدعبدك ورسولك وعلىآل محمّد كماباركت علىإبراهيم وعلىآل إبراهيم (رواه البخاري والنّسائ والطاهوي وأحمدواسماعيل القاضي)**

Artinya: Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad hambaMu dan rasul-Mu sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada keluarga Ibrahim dan berilah karunia kepada Muhammad hambaMu dan rasulMu dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan karunia kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim.

أللّهمّ صلّ على محمّدوعلىأزواجه وذرّيّته كماصلّيت على آل إبراهيم وبارك علىمحمّد وعلى أزواجه وذرّيّته كماباركت علىإبراهيم إنّك حميدمجيد (رواه البخاري ومسلم والنّسائ)**

Artinya:  Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad, istri-istrinya dan anak keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada keluarga Ibrahim dan keluarga Ibrahim dan berikanlah karunia kepada Muhammad para istrinya dan anak keturunanya sebagaimana Engkau memberikan karunia kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung.

أللّهمّ صلّ على محمّدوعلى آل محمّدوبارك على محمّدوعلى آل محمّد كماصلّيت وباركت على إبراهيم وآل إبراهيم إنّك حميد مجيد( رواه البخاري والنّسائ والطاهوي وابوقعدابن العربي فىالمعجام)**

Ya Allah berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad dan berikanlah karunia kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat dan karunia kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung. al-Bani “Sifat shalat Nabi”.

Bacaan setelah Tasyahud Awal

عن ابن مسعودقال : أنّ محّمدا ص م قال: إذا قعدتم فى كلّ ركعتينفقولوا: “ألتحيّات لله والصّلوات والطيّبات السّلام عليك أيّها النّبيّ ورحمة الله وبركاته السّلام علينا وعلى عبادالله الصّالحين أشهدأن لاإله إلاالله وأشهدأنّ محمّداعبده ورسوله” ثمّ اليتخيّرأحدكم من الدّعاء أعجبه إليه فليدع به ربّه عزّ وجلّ (رواه احمدوالنّسائ)

Artinya:  Kemudian hendaklah seseorang memilih doa yang disenanginya dan hendaklah ia mengajukan permohonannya kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia.

Bacaan Setelah tasyahud Akhir

إذافرغ أحد من التشهّدأللأخرفليستعذ بالله من ا ربع يقول : أللّهمّ إنّي أعوذبك من عذا بجهنّم ومن عذاب القبرومن فتنة المحياوالممات ومن شرّفتنة المسيح الدجّال ثمّ يدعولنفسه بما بداله (رواه ابوداودواحمد بسند صحيح)

Artinya:  Ya Allah aku berlindung kapada Engkau dari siksa Jahannam dan dari siksa kubur begitu juga dari fitnah hidup dan mati, serta dari fitnah Dajjal (pengembara yang dusta).

Bacaan lainnya yang diperbolehkan:

عن عائشة أنّ النّبيّ ص م كان يدعوفىالصّلاة ” أللّهمّ إنّي أعوذبك من عذاب القبروأعوذبك من فتنة المسيح الدجّال وأعوذبك من فتنة المحياوالممات أللّهمّ إنّي أعوذبك من المغرم والمأثم (رواه الجماعة إلاإبن ماجه

Artinya:  Ya Allah aku berlindung kapada Engkau dari siksa kubur dan aku berlindung dari fitnah Dajjal dan aku berlindung dari fitnah hidup dan mati, ya Allah aku berlindung kepadaMu dari dosa-dosa dan terbelit hutang.

ماتقول فىالصّلاة ؟ أتشهّد ثم” أسأل الله الجنة وأعو به من النّار” أمّا والله ماأحسن دن دنتك ولادن دنه معاذ فقال رسول الله ص م حولها ندن دن (رواه ابوداود وابن ماجه وابن حزيمة بسند صحيح)

Artinya: Aku bertasyahud kemudian aku mohon Syurga kepada Allah dan berlindung dari siksa Neraka.

أللّهمّ إنّي أسألك يا ألله (بالله)ألواحدألأحدأالصّمد ألذى لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد أن تغفرلي ذنوبي إنّك أنت الغفورالرّحيم  رواه ابو داود والنسائ و أحمد وابن حزيمة وصححه الحاكم

Artinya: Ya Allah aku mohon kepadaMu, ya Allah Tuhan Yang Maha Tunggal tempat mahluk bergantung, tidak beranak dan tidak pula diperanakan, tiada sesuatupun yang menyamaiNya, ampunilah segala dosaku, karena Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

أللّهمّ إنّي أسألك بأ ن ّ لك الحمد لاإله إلاأنت واحدك لاشريك لك المنّان يا بد يع السموات والأرض يا ذالجلال والإكرام يا حي يا قيّوم إني أسألك الجنّة وأعوذبك من النّار

Artinya: Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu bahwa segala puji adalah milikMu, tiada tuhan kecuali Engkau, tiada sekutu bagiMu, Maha Pemberi Karunia, wahai pencipta langit dan bumi. Wahai Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Pemurah, wahai Tuhan Yang Maha Hidup, wahai Tuhan Yang Maha Berdiri Sendiri, sesungguhnya aku memohon Syurga kepadaMu dan aku berlindung dari siksa Neraka.

أللّهمّ الغفرلي ما قدمت وما أخرت وما أعلنت وماأسرفت وما أنت أعلم بهمنّي أنت المقدّم وأنت المؤخّّرلاإله إلاّ أنت ( رواه مسلم وابوعوانة

Artinya: Ya Allah ampunilah segala dosaku pada masa lalu dan akan datang, yang aku lakukan denagn sembunyi-sembunyi atau yang aku lakukan dengan terang-terangan dan apa saja perbuatanku yang berlebihan dan dosa-dosa lain yang Engkau lebih tahu daripadaku. Engkaulah yang terdahulu dan yang terkemudian tidak ada Tuhan melainkan Engkau.

أللّهمّ إنّي ظلمت نفسي ظلما كثيرا ولا يغفر الذّنوب إلاّ أ نت فاغفرلي مغفرة من عندك وارحمني إنّك أنت الغفور رحيم (رواه البخاري ومسلم

Artinya: Ya Allah aku telah banyak melakukan kedzaliman kepada diriku sendiri dan tidak ada yang dapat mengampuni semua dosa itu kecuali Engkau. Oleh karena itu berilah aku pengampunan dari sisi-Mu dan kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Pengasih.

Menurut Saikh Nasiruddin al-Albani: Bila shalat yang dilakukan hanya dua rakaat seperti shalat subuh beliau duduk iftirasy (duduk di atas telapak kaki kiri yang dihamparkan dan kaki kanan ditegakkan).

فإذا جلست فى وسط الصلاة فاطمئن وافترش فخذك اليسرى ثم تشهد (رواه أبو داود و البيقى

Apabila engkau duduk pada pertengahan shalat maka tenanglah dan bentangkanlah paha kirimu lalu tasyahudlah. (HR Abu Dawud dan Baihaqi).

Abu Hanifah: duduk tasyahud akhir seperti duduk di antara dua sujud (iftrasy)

بدليل أبى حميد الساعدى فى صفة صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم أن النبي صلي الله عليه وسلم جلس-نعنى للتشهد- فافترش رجله اليسرى وأقبل بصدر اليمنى على قبلته (رواه البخارى

Karena hadis dari Abu Humaid Assa’idi dalam sifat shalat Rasululla saw beliau duduk (tasyahud), lalu membentangkan kaki kirinya dan menghadapkan punggung kaki kanan ke arah kiblat. (HR Bukhari). (Al fiqhu al islami waadillatuhu 2: 853)

Menurut Malikiyah: Duduk tawarruk di tasyahud awal dan akhir.

روى ابن مسعود أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يجلس فى وسط الصلاة وأخرها متوركا

Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud ra bahwa Nabi saw duduk pada pertengahan shalat dan akhirnya dengan meletakkan pantatnya pada tanah. ( Alfiqhu al islami wa adillatuhu:jld 2, hal 853)

Menurut Saikh Nasiruddin al-Albani: Menggerakkan jari telunjuk sambil berdoa.

كان يرفع إصبعته يحركها يدعوها (رواه أحمد و النسائى و أبو داود

Adalah Nabi saw mengangkat jarinya dan menggerakkannya lalu berdoa dengannya.
Baihaqi: memberikan komentar tentang hal ini bahwa kemungkinan yang dimaksud hadis tersebut adalah mengacungkan jari telunjuk bukan menggerak-gerakkan jari telunjuk, agar tidak bertentangan dengan hadis Ibnu-Zubair dari Ahmad, Abi Daud, an-Nasai dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya dengan lafadz

كان يشير بالسبابة ولا يحركها ولا يجاوز بصره إشارته

Adalah Nabi saw memberi isyarat dengan jarinya, tidak menggerakkannya dan matanya tidak melampaui isyarat telunjuknya. (Nailul Author 1:628)

18. Tata Cara Salam

Muhammadiyah: bersalam dengan berpaling kekanan dan kekiri, yang pertama sampai terlihat pipi kanan dan yang kedua terlihat pipi kiri oleh orang yang di belakannya.

لحديث سعد قال: كنت أرى رسول الله صلى الله عليه وسلم يسلّم عن يمينه وعن يساره حتي أرى بياض خده  رواه مسلم فى صحيحه

Karena hadis dari Sa’ad ia berkata: Saya melihat Nabi saw bersalam ke arah kanan dan kirinya sehingga saya melihat pipinya yang putih”. (HR Muslim dalam shahihnya). ( HPT : 99).

Imam Malik: berpendapat salam hanya sekali

عن عائشة رضى الله عنها أن النبى صاي الله عليه وسلم في الصلاة تسليمة واحدة تلقاء وجهه يميل إلى الشق الأيمن شيئا (أخرجه الترمذى

Dari Aisyah ra, bahawa rasulullah saw di dalam shalatnya bersalam hanya sekali yaitu menghadapkan wajahnya condong ke arah kanan. (Goyatu al ahkamfi ahadisi al ahkam 2:220).

Catatan: Tidak disyariatkan membuka tangan kanan ketika salam pertama dan menutup tangan kiri ketika salam kedua dalam tasyahud akhir karena tidak ada hadis yang menjelaskan hal itu.

Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam cara melakukan shalat sebagai yang tersebut di atas sebab tidak adanya hadis yang menjelaskan hal ini (perbedaan wanita dan pria dalam shalat).

Bacaan Salam

لحديث أبي داود بإسنا د صحيح عن وا ئل بن حجر قال: صلّيت مع النّبيّ ص م فكان يسلّم عن يمينه “السّلا م عليكم ورحمة الله وبركا ته ” وعن شماله ” السّلا م عليكم ورحمة الله وبركا ته

Artinya: Berbahagialah kamu sekalian dengan rahmat dan berkah Allah

Bacaan lainnya yang diperbolehkan:

عن ابن مسعود ألنّبيّ ص م كان يسلّم عن يمينه وعن يساره “ألسّلا م عليكم ورحمة ألسّلا م عليكم ورحمة الله وبركا ته حتّى يرى بياض خدّه (رواه الخمسة وصححه الترمذي)

السّلا م عليكم Bersumber pada riwayat Muslim baik ke kiri maupun ke kanan

عن عقلمة ابن وا ئل عن أبه قال : صلّيت مع النّبيّ ص م فكان يسلّم عن يمينه “ألسّلا م عليكم ورحمة الله وبركا ته ” وعن شماله ” ألسّلا م عليكم ورحمة الله (صحيح رواه أبو داود)

Tuntunan Sholat Lengkap terakhir yaitu Dzikir dan Doa Setelah Shalat Lima Waktu

أستغفرالله × 3 أللّهمّ أنت السّلام ومنك السّلام تبا ركت ياذالجلال و اللإ كرام ( رواه مسلم و أحمد و أبو داود والنّسائ وابن حزيمة و ألدارمي وابن ماجه)

Artinya: Aku memohon kepada Allah 3x. Ya Allah Engau pemberi keselamatan, dari-Mu keselamatan, maha suci Engkau, wahai Robb pemilik keagungan dan kemuliaan.

لاإله إلاّ الله وحده لاشريك له له الملك وله الحمد وهو على كلّ شيئ قدير أللّهمّ لا مانع لما ٍٍٍٍأعطيت ولا معطي لما منعت ولاينفع ذاالجدّمنك الجدّ ( رواه البخارى و مسلم و ابوداود و أحمد وابن خزيمة وألدّارمي والنّسائى

Artinya: Tiada Ilah melainkan hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan segala pujian. Dia Maha Kuasa segala sesuatu. Ya Allah tiada yang mencegah pada yang Engkau beri dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya. Hanya dari-Mu kemuliaan dan kemuliaan.

لاإله إلاّ الله وحده لاشريك له له الملك وله الحمد وهو على كلّ شيئ قدير لاحول ولاقوّة إلاّ بالله لاإله إلاّالله ولا نعبد إلاإيّاه له النعمة وله الفضل وله الثّناءالحسن لاإله إلاّالله مخلصين له الدّين ولو كره الكافرون (رواه مسلم واحمد وابوداود والنّسائ وابن حزيمة

Artinya : Tiada Ilah melainkan hanya Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, tiada Ilah melainkan hanya Allah, kami tidak beribadah kecuali kepada-Nya, bagi-Nya nikmat, anugerah, dan pujian yang baik, tiada Ilah melainkan hanya Allah, dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai.

لاإله إلاّ الله وحده لاشريك له له الملك وله الحمد يحيى ويميت وهو على كلّ شيئ قدير×10( رواه احمد وترمذي

Artinya:  Tiada Ilah melainkan Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya pujian dan bagi-Nya segala pujian, Dialah yang menghidupkan dan yang mematikan, Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dibaca 10x setelah selesai shalat Maghrib dan Subuh.

أللّهمّ أعنّي على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك (رواه ابو داود والنّسائ واحمد وحاكم

Artinya:  Ya Allah tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, serta beribadah dengan baik kepada-Mu.

سبحان الله×33الحمدلله×33الله اكبر×33 لاإله إلاّ الله وحده لاشريك له له الملك وله الحمد وهو على كلّ شيئ قدير(رواه مسلم واحمد وابن خزيمة والبيهقي

Artinya: Maha Suci Allah 33x, Segala puji bagi Allah 33x, Allah Maha Besar. Tiada Ilah melainkan hanya Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan, bagiNya segala puji. Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kemudian membaca surat al-Ikhlash, al- Falaq, dan an-Naas.

أللّهمّ إنّي أسأ لك علما نافعا ورقا طيّبا وعملا متقبّلا( رواه النّسائ وابن السّنّى

Arinya: Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima. Yazid bin Abdul Qadir Jawas ‘Kumpulan doa-doa”

Baca Juga: Tata Cara Mandi Wajib Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad SAW

Tata Cara Berwudhu yang Benar Sesuai Tuntunan Nabi SAW

Tata Cara Berwudhu yang Benar – Wudhu merupakan fardhu berdasarkan sabda Nabi saw.: “Allah tidak menerima shalat salah seorang di antara kalian jika ia hadats sampai berwudhu”. Bagi yang wudhu diperbolehkan meminta bantuan orang lain, sebagaimana diriwayatkan, sesungguhnya Al-Mughirah pernah menuangkan air kepada Nabi saw. ketika beliau mengambil wudhu pada suatu malam di tabuk. Dan sesungguhnya Usamah pernah menuangkan air kepada Nabi saw. ketika beliau mengambil wudhu di pagi hari pada waktu haji wada’ sesudah beliau beranjak dari Arafah, (tepatnya) di antara Arafah dan Muzdalifah.

Kemudian diriwayatkan pula dari Hudzaifah bin Abu Hudzifah dari Shafwan bin ‘Assal r.a., ia berkata: “Aku pernah menuangkan air kepada Nabi saw. saat beliau sedang berada di tempat atau saat beliau sedang dalam perjalanan, ketika beliau hendak mengambil wudhu, lalu beliau memulainya dengan niat seraya berkata: Aku niat menghilangkan hadats wudhu”.

  1. Niat lalu Membaca basmalah pada permulaan wudhu

Niat adalah fardhu. Kemudian daripada itu disunnahkan menyebut nama Allah Ta’ala (membaca basmalah) karena wudhu, sebagaimana dikemukan dalah hadits  yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., bahwasanya Nabi saw. bersabda:

“Barang siapa wudhu dan ia menyebut nama Allah Ta’ala, maka hal itu menyebabkan suci bagi seluruh badannya. Oleh karena itu, bila ia lupa menyebutnya pada mula pertama wudhu dan baru ingat saat tengah wudhu, hendaklah ia menyebutnya sehingga wudhu tersebut tidak kosong dari (menyebut) nama Allah ‘Azza wa Jalla”.

  1. Membersihkan kedua telapak tangan sebanyak tiga kali, hendaknya pada cela-cela jari tangan dibersihkan sebersih mungkin.

Sesudah niat dan menyebut nama Allah Ta’ala, mencuci kedua telapak tangan tiga kali. Sebab Utsman dan Ali r.a., keduanya telah menggambarkan wudhu Rasulullah saw.: “Kemudian keduanya mencuci tangan tiga kali”. Selanjutnya yang bersangkutan menggerak-gerakkan cincinnya jika keadaannya sempit agar air benar-benar sampai menembus kulit yang ada di balik cincin.

Membersihkan Kedua Telapak Tangan saat Berwudhu
Photo by Wikihow.com
  1. Berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung dari telapak tangan sebelah kanan serta menyemburkanya kembali, yang masing-masing dilakukan tiga kali.

Sesudah itu dia berkumur tiga kali dan menghirup air (istinsyaq) tiga kali dengan mendahulukan berkumur dari instinsyaq. Hal ini sebagaimana telah diriwayatkan oleh ‘Amr bin ‘Abasah r.a. bahwasanya Nabi saw. bersabda: “Tidak seorang pun di antara kalian yang mendekatkan wudhunya, kemudian berkumur, kemudian beristinsyaq dan (sesudah itu) mengeluarkannya (agar kotoran yang ada dalam hidung terbawa keluar), melainkan mengalirlah dosa-dosa yang ada dalam hidung dan ujungnya bersama air”.

Disunatkan dalam beristinsyaq ini, pertama-tama yang bersangkutan mengambil air dan menghirupnya dengan bagian kanan dan mengeluarkannya dengan bagian kiri, berdasarkan hadits Ali r.a. bahwasanya dia berdoa dengan doa wudhu, lalu berkumur, beristinsyaq, dan mengelurkannya dengan tangan kiri. Kemudian dia berkata: Demikianlah Nabi saw. bersuci (wudhu). Disunatkan melakukan berkumur dan istinsyaq dengan sangat, sebagaiman yang disampaikan oleh nabi saw. kepada Al-Laqith bin Shabrah:

“Sempurnakanlah wudhu, jarangkanlah jari-jemari, dan sangatkanlah dalam beristinsyaq, kecuali engkau sedang berpuasa”.

Berkumur-kumur dan Menghirup Air Ke hidung saat Berwudhu
Photo by Wikihow.com

Bagi yang berwudhu boleh mengambil jarak antara berkumur dengan beristinsyaq dan boleh pula menyambungnya. Alasan bagi yang menyatakan boleh bersambung antara berkumur dengan beristinsyaq, antara lain berdasarkan hadits Ibnu Abbas, bahwasanya dia mengambil air lalu berkumur dengannya dan beristinsyaq.

Hadits lainnya adalah seperti hadits Abdullah bin Zaid: “Atau dia berkumur dan beristinsyaq dari tangan sebelah. Dia melakukan hal itu tiga kali”. Sedang alasan yang menyatakan boleh mengambil jarak antara keduanya, antara lain berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Thalhah bin Mashraf dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah saw., beliau mengambil jarak antara berkumur dengan istinsyaq”.

Begitu juga disunahkan bagi yang berwudhu bersifak (menggosok gigi) dengan ranting kayu arak atau yang lainnya, sebagaimana dikemukakan dalam hadits Abu Hurairah r.a. sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: “Seandainya tidak akan memberatkan atas umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali hendak shalat”. Dalam riwayat lain dikemukakan: “Setiap kali hendak wudhu”.

Jika bersiwak membuat seseorang kesakitan atau tidak sekalipun, baginya tetap disunatkan menggosok gigi dengan jarinya, berdasarkan hadits Aisyah r.a. Dia pernah bertanya: “Ya Rasullallah, bila seseorang tidak bermulut, apakah ia bersiwak? Beliau menjawab: Ya! Lalu aku pun bertanya lagi: Bagaimana ia berbuat? Belaiu pun menjawab: Masukkanlah jarinya ke dalam mulutnya”.

  1. Membasuh muka tiga kali dengan mengusap dua sudut mata, menggosok dan melebihkan dalam membasuh serta menyela-nyelai jenggot.

Kemudian setelah berkumur-kumur itu lalu mencuci muka sebagai fardhu, berdasarkan firman Allah Ta’ala: “…, maka cucilah muka kalian” (QS. 5:6)

Batasan muka adalah: Dari atas sampai bawah, yaitu mulai dari tempat tumbuh rambut kepala sampai dagu dan ujung jenggot. Sedang lebarnya, mulai telinga sebelah kanan sampai telinga sebelah kiri. Pengertian tempat tumbuh rambut kepal, yaitu tempat tumbuh rambut kepala yang berambut normal.

Mencuci Muka Tiga Kali Saat Wudhu
Photo by Wikihow.com

Bila seseorang berjenggot, hendaklah diperhatikan: jika jenggot itu tipis, tidak sampai menutupi kulit, maka yang bersangkutan wajib mencuci kulit dan jenggotnya. Sedangkan jika jenggot itu tebal, sehingga menutupi kulit di baliknya, kepadanya hanya diwajibkan mencuci jenggotnya saja, tidak wajib mencuci kulit yang ada di baliknya. Hal ini sebagaimana dikemukakan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a.: “Sesungguhnya Nabi saw. wudhu, lalu beliau mengambil air hanya dengan kedua telapak tangannya saja dan hanya sekali saja serta mencuci mukanya dengan air tersebut”.

Hanya dengan kedua telapak tangannya dan hanya sekali mengambil saja, sudah barang tentu bagi orang yang berjenggot tebal tidak akan membuat air sampai pada kulit yang ada di balik jenggot. Namun demikian, disunatkan bagi yang berjenggot tebal menyibak-nyibakkannya, yakni menjarangkannya, berdasarkan hadits Utsman r.a.: “Sesungguhnya Nabi menyibak-nyibak jenggotnya”.

  1. Membasuh kedua tangan sampai kedua siku dengan digosok tiga kali sambil menyelai jari-jari tangan dengan melebihkan dalam membasuh keduanya serta memulai dengan tangan sebelah kanan

Setelah membasuh muka, lalu mencuci kedua tangan sampai dengan sikut. Ini adalah merupakan fardhu. Firman Allah Ta’ala: “…dan tangan kalian sampai sikut” (QS. 5 : 6)

Dalam mencuci kedua tangan ini disunatkan memulai dengan bagian kanan kemudian yang kiri, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oelh Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi saw. bersabsa: “Apabila kalian wudhu, maka mulailah dengan bagian kanan kalian.” Namun demikian bila sampai terjadi dengan mendahulukan bagian kiri, hukumnya boleh karena dalam Al-Qur’an, Allah SWT. juga hanya berfirman: (……, dan tangan kalian).

Membasuh Kedua Lengan saat Berwudhu
Photo by Wikihow.com

Dalam mencuci kedua tangan wajib meliputi sikut, bukan hanya sampai pangkal, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya dia wudhu lalu mencuci kedua tangannya sampai kedua sendi (sikut) dan dia pun mencuci kedua kakinya sampai kedua betisnya. Kemudian dia berkata: “Demikianlah aku melihat Rasulullah saw. wudhu”. Begitu juga halnya konsensus para ulama berketetapan, sesungguhnya sikut itu sendiri adalah bagian yang harus dicuci.

  1. Mengusap dengan menjalankan kedua telapak tangan dari ujung muka kepala hingga tengkuk dan dikembalikan lagi pada permulaan kemudian mengusap kedua telinga sebelah luar dengan dua ibu jari dan sebelah dalam dengan kedua telunjuk.

Sesudah membasuh kedua tangan, lalu menyapu kepala. Hukum menyapu kepala ini adalah fardhu, berdasarkan firman Allah SWT: “…dan sapulah kepala kalian” (QS. 5 : 6)

Batasan kepala yaitu seluruh bagian yang ditumbuhi rambut bagi yang berambut normal dan dua bagian yang melingkari ubun-ubun. Keharusan menyapu kepala ini cukup dengan mengusap saja, sekalipun hanya sedikit, karena Allah Ta’ala juga hanya menyuruh mengusap saja yang berarti mengandung makna sedikit dan banyak.

Mengusap Kepala dari Ujung Kepala Ke Belakang Saat Berwudhu
Photo by Wikihow.com

Minimal -dalam menyapu kepala ini–  dengan air yang terbawa oleh telunjuk dan menyapu pada bagian mana saja dari kepala walau hanya sedikit yang diyakini, bahwa bagian kepala telah disapu atau diusap. Akan tetapi sunnatnya adalah seluruh bagian kepala disapu, mulai dengan mengambil air dengan kedua telapak tangan lalu menyapukannya dan menyambungkan ujung kedua jari manis, kemudian meletakkannya pada bagian depan kepala dan meletakkan kedua ibu jari pada bagian pelipis yang selanjutnya ditarik ke bagian belakang kepala dan setelah itu menarik kembali pada bagian depan kepala. kemudian mengusap kedua telinga sebelah luar dengan dua ibu jari dan sebelah dalam dengan kedua telunjuk atau jari lainnya.

Mengusap Kepala di Akhiri dengan Mencuci Telinga
Photo by Wikihow.com

Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Miqdad bin Ma’diyakrib: “Sesungguhnya Nabi saw. menyapu kepala dan bagian luar dalam kedua telinganya serta beliau memasukkan kedua telunjuk ke dalam lubang kedua telinganya”.

  1. Membasuh kedua kaki beserta mata kaki dengan melebihkan dalam membasuh keduanya, memulai dari yang kanan dan menyempurnakan dalam membasuhnya.

Mencuci kedua kaki adalah fardhu, berdasarkan firman Allah SWT.: “…dan (basuhlah) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki” (QS. 5 : 6).

Dalam shahih Bukhari Muslim dinyatakan juga, sesungguhnya Rasulullah saw. pernah melihat sekelompk kaum muslimin berwudhu, sedang tumit mereka tampak tidak tersapu oleh air, maka beliau bersabda:“Celakalah tumit-tumit itu karena jilatan api neraka”.

Membasuh Mata Kaki saat Wudhu
Photo by Wikihow.com

Pernyataan ini merupakan penjelasan, bahwa mencuci seluruh bagian kaki adalah fardhu. Begitu pula dalam hadits yang diriwayatkan dari Umar bin Khaththab r.a. dikisahkan, bahwasanya seseorang berwudhu namun bagian kuku pada kedua kakinya tidak dicuci. Oleh karenanya, maka ia menyampaikan kasus ini kepada Nabi saw., maka bersabdalah Beliau: “Ulangilah wudhu kamu dengan baik”.

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya dikemukakan pula bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Nabi saw lalu bertanya : Ya Rasulullah bagaimana bersuci itu ? Kemudian beliau meminta air selanjutnya beliau mencuci kedua telapak tangannya tiga kali ( dalam hadits ini dituturkan langkah-langkah berikutnya sampai ia berkata ) :  Kemudian beliau mencuci kedua kakinya tiga kali dan setelah itu beliau bersabda:“ Demikianlah cara bewudhu maka barang siapa memberi tambahan dari ini atau menguranginya sungguh ia telah berbuat tidak baik dan berlaku zhalim “

Pada saat mencuci kedua kaki, wajib menyertakan kedua mata kakinya, sebagaimana firman Allah SWT:“Dan (basuhlah) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki” (QS. 5: 6)

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Utsman ketika mensifati wudhu Rasulullah saw. dikemukakan:“Kemudian beliau mencuci kakinya yang kanan sampai kedua mata kakinya, kemudian yang kiri juga”.

Tidak didapatkan riwayat yang menerangkan, bahwa Rasulullah saw. melakukan wudhu dengan menyalahi riwayat yang dikemukakan di atas, atau mengakui, atau menyatakan bahwa menyalahinya diperbolehkan. Sesungguhnya pernyataan dalam firman Allah yang berbunyi ilal ka’baini (yakni, sampai dengan kedua mata kaki) adalah merupakan dalil, bahwa mencuci kedua kaki meliputi mata kakinya adalah fardhu, karena ghayah (tujuan akhir) termasuk ke dalam tempat tujuan akhir itu sendiri. “Sesuatu yang bersifat wajib bila tidak terpenuhi kecuali dengannya, maka hal itu hukumnya wajib”.

Disunnahkan mencuci kaki dengan mendahulukan bagian kanan dari bagian kiri dan menjarangkan jemarinya, seperti dikemukakan dalam sabda Nabi saw. yang disampaikan kepada Al-Laqith bin Shanrah: “Jarangkanlah olehmu jari jemari.”

Kemudian daripada itu, disunnahkan pula pada saat mencuci kedua tangan melampaui kedua sikut pada waktu mencuci kedua kaki melampaui kedua mata kakinya.

Sabda Rasulullah saw.: “Akan datang umatku pada hari kiamat bertanda putih dikening dan kakinya, sebagai tanda bekas wudhu. Maka barang siapa mampu agar tanda itu berkepanjangan padanya, hendaklah melakukannya”.

Dan disunnahkan juga dalam wudhu melakukannya tiga kali-tiga kali, berdasarkan hadits Ali r.a.:“Sesungguhnya Nabi saw. berwudhu tiga kali-tiga kali”.

Bilamana lebih dari tiga kali, hukumnya makruh, sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya:“Sesungguhnya Nabi saw. berwudhu tiga kali-tiga kali. Kemudian beliau bersabda: Demikianlah cara berwudhu. Barang siapa memberi tambahan dari ini atau menguranginya, sungguh ia telah berbuat tidak baik dan berlaku dzalim”.

Namun demikian, diperbolehkan walau hanya satu kali-satu kali atau dua kali-dua kali saja, karena hal itu juga pernah dicontohkan oleh Nabi saw., yakni bahwasanya beliau berwudhu satu kali-satu kali, dua kali-dua kali, dan tiga kali-tiga kali.

Video Langkah demi Langkah dalam Berwudhu


Apakah Harus Tertib dalam Berwudhu?

Hendaknya cara berwudhu di atas dilakukan dengan berurutan (tertib), yakni memulai dengan mencuci muka, kedua tangan, menyabu kepala, kemudian mencuci kedua kaki, dengan alasan: Sesungguhnya Allah SWT. telah menyertakan “menyapu” di antara mencuci, yakni antara kedua tangan dengan kedua kaki, sehingga hukum kasus yang sama terputus dari kasus yang sama pula.

Maksud dari kasus ini tidak lain berimplikasi, bahwa tertib itu hukumnya fardhu. Dan hadits hadits shahih yang diterima dari para sahabat juga, yaitu hadits-hadits yang menerangkan tentang cara berwudhu Nabi saw. seluruhnya menerangkan wudhu beliau dilakukan secara berurutan.

Padahal para sahabat yang meriwayatkan hadits-hadits tentang cara wudhu beliau banyak sekali dan wudhu beliau juga disaksikan oleh mereka dilakukannya di berbagai tempat serta tidak ada yang mengukuhkan tentang cara wudhu beliau dengan cara yang tidak tertib.

Dengan demikian, maka apa yang dilakukan oleh Nabi saw. ketika wudhu adalah merupakan penjelasan cara wudhu seperti yang diperintahkan dan ketika beliau hanya menepati satu cara dalam wudhu ini merupakan petunjuk yang kuat sebagai suatu ketetapan, sehingga jadilah tertib sebagai fardhu.

Apakah Cara Berwudhu di atas Harus Berkesinambungan / Tidak di antarai dengan kegiatan di luar kegiatan Wudhu?

Selanjutnya wajib pula berkesinambungan dalam membersihkan setiap anggota wudhu. Akan tetapi bila hanya terputusnya sebentar tidaklah mengapa. Sedangkan bila terputusnya lama, maka wudhu tersebut tidak sah. Sebab dalam hal ini, yakni berkesinambungan saat berwudhu hukumnya fardhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al-Baihaqi dari Khalid bin Ma’dan dari para sahabat: “SesungguhnyaNabi saw. melihat seorang laki-laki sedang shalat dan dibelakang kakinya tampak kulit mengering sebesar uang logam satu dirham karena tidak kena air. Maka beliau pun menyuruhnya agar mengulangi wudhunya bersama shalat tersebut”.

Diriwayatkan dari Umar ra. -sebagai hadits mauquf yang disandarkan kepadanya-bahwasanya dia berkata: “Sungguh orang yang mengerjakan hal itu, haruslah kamu itu mengulangi kembali wudhu kamu”.

Seandainya berkenambungan bukan fardhu, niscaya kepada yang bersangkutan cukup hanya mengulang mencuci kedua kakinya saja. Dengan demikian, maka perintah mengulang kembali wudhu secara menyeluruh bersama sahalatnya tersebut, ini adalah merupakan dalil bahwa berkesinambungan hukumnya wajib.

Baca Juga: Tata Cara Mandi Wajib Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad SAW

Berdoa Setelah Wudhu

Dan pada akhirnya seusai wudhu disunnahkan berdoa: “Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, Maha Esa Dia, tiada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya”.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Umar ra. Bahwasanya Nabi saw. bersabda: “Barang siapa wudhu, lalu ia wudhu dengan baik kemudian berdoa:

أأََشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

(Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, Maha Esa Dia, tiada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya) sedang ia membacanya  dengan tulus dari lubuk hatinya, maka Allah membukakan baginya kedelapan pintu syurga dan ia diperbolehkan masuk sana dari pintu mana saja yang ia kehendaki”.

Tuntunan Adzan dan Iqomah Berdasarkan Sunnah Nabi SAW

Tuntunan Adzan dan Iqomah – Tiga Madzhab selain madzhab Hanbali sepakat bahwa adzan hukumnya sunah, sementara madzhab Hanbali berpendapat adzan hukumnya fardlu kifayah. (Al-fiqhu alal-madzhabil arba’ah, abdurrahman al-Jaziri, bab Adzan).

Secara umum Adzan berfungsi “Sebagai panggilan untuk shalat.” yang biasa dilakukan dalam pelaksanaan sholat wajib ataupun sholat sunnah seperti sholat gerhana. Namun perlu kta ketahui bahwa redaksi adzan untuk shalat gerhana berbeda dengan adzan untuk shalat fardlu. Di bawah ini adalah beberapa permasalahan adzan yang berkembang di masayakat:

Adzan pada jenazah saat pemakaman.

Sebagian orang ada yang mengamalkan adzan untuk jenazah saat pemakaman dengan berdasar sebuah hadis dari Ibnu Mas’ud:

قال رسول الله صلى الله عليه و آله وسلّم لا يزال الميت يسمع الأذان مالم يطيّن قبره

Rasulullah saw. Bersabda: “Mayit senantiasa mendengar adzan selama kuburnya belum ditutupi tanah”

Hadist ini Maudlu’ (Palsu) karena dalam sanadnya ada Rawi yang bernama al-Hasan yang tidak pernah mendengarnya dari Ibnu Mas’ud, kemudian ada juga Rawi yang bernama Abu Muqatiil, Ibnu Mahdiy mengatakan “Haram meriwayatkan Hadis dari Abu Muqatiil karena dia seorang pemalsu hadis”

Adzan untuk bayi yang baru lahir

Dalil – dalil yang dijadikan argumen mengadzani bayi yang baru lahir adalah:

من ولد له مولود فأذّن في أذنه اليمنى واقام في أذنه اليسرى لم تضرّه أم الصبيان

Hadist ini diriwayatkan oleh Ibnu Sunniy dalam kitab A’malul Yaumi wa Lailah, juga Ibnu Asyakir meriwayatkan dari jalan Abu Ya’la dan Ibnu Musyran. Sementara Syaikh Muhammad Nashirudin Al-baniy mengatakan sanad hadis ini Maudlu’ (Palsu).

قال أبو رافع رضى الله عنه : رايت رسول الله صلى الله عليه و آله وسلم أذّن في أذن الحسن بن عليّ حين ولدته فاطمة رضى الله عنها

Abu Rafi’ berkata “Aku melihat rasulullah saw. Adzan pada telinga Hasan bin Ali ketika ia baru lahir. (HR. Tirmidzy)

Hadist ini Dha’if, dan Syaikh Nashirudin Al-baniy mengatakan sanad hadist ini sangat dha’if. (A. Yazid Qasim koho, Himpunan Hadist Lemah dan palsu, Bina Ilmu, Surabaya 1977.).

Adzan untuk menolak angin/dingin.

ما من مدينة يكثر أذانها الا قلّ بردها

Tidaklah suatu kota yang banyak adzanya melainkan sedikit dinginya

Hadis ini maudhu/ palsu, riawayat senada juga terdapat dalam kitab al-Maqaasidul khasanah diriwayatkan oleh Ad-Dailaamy tetapi sanadnya terputus.

 

Adzan Ketika Hujan.

Disunahkan ketika hujan mengganti lafaz حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ dengan lafaz أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ atau صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ atau صلوا في بيوتكم

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَذَّنَ بِالصَّلَاةِ فِي لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ ثُمَّ قَالَ أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ ذَاتُ بَرْدٍ وَمَطَرٍ يَقُولُ أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ

Diriwayatkan oleh Bukhari, kutubuttis’ah hadist ke 636.

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ يَقُولُ أَنْبَأَنَا رَجُلٌ مِنْ ثَقِيفٍ أَنَّهُ سَمِعَ مُنَادِيَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْنِي فِي لَيْلَةٍ مَطِيرَةٍ فِي السَّفَرِ يَقُولُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ

Diriwayatkan oleh Nasa’i dalam sunanya, Kutubuttis’ah hadis ke 647.

ان ابن عباس قال لمؤذنه في يوم مطير اذا قلت اشهد ان لا اله الا الله و اشهد ان محمدا رسول الله فلا تقل حي على الصلاة قل صلوا في بيوتكم قال فكأن الاس استنكروا ذلك فقال اتعجبون من ذا؟ قد فعل من هو خير مني يعني النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ibnu Abbas mengatakan kepada Mu’adzinya “apabila kamu telah mengucapkan ‘Asyhadu….. maka jangan kamu ucapkan ‘Hayya ‘alashshalah’ tetapi ucapkanlah ‘Shalluu fii buyuutikum’, beliau berkata seolah-olah orang-orang mengingkari hal ini lalu beliau berkata “Herankah kalian dengan hal ini? Sungguh telah melakukan hal ini orang yang lebih baik dariku yaitu Rasulullah saw. (HR. Bukhari Muslim)

Dalam Syarah Muslim Imam Nawawi mengatakan “di dalam hadis Ibnu Abbas hendaklah Mu’adzin mengucapkanya ketika di tengah adzan sedangkan hadis Ibnu Umar menunjukan bahwa beliau mengucapkanya setelah selesai adzan.” Imam syafi’i dalam kitab Al-Umm menyatakan kedua-duanya boleh dan ini diikuti madzhab kami. Maka boleh mengucapkan kalimat itu setelah atau di tengah adzan karena kedua-duanya sah dalam sunah.

Akan tetapi mengucapkanya setelah adzan lebih bagus supaya tidak mengubah alunan adzan yang dikumandangkan” (Fiqh al-Jam’i baina ash-Shalataini fii Hadhar bi udzril mathar, Syaikh masyhur bin Hasan Alu Salman: 267-268).

Adzan Jum’at

Di masa Rasulullah saw., Abu Bakar, dan masa Umar bin al-Khatab adzan jum’at hanya satu kali yaitu setelah imam naik ke mimbar hal ini dijelaskan dalam riwayat berikut:

عن السائب بن يزيد قال كان النداء يوم الجمعة اوّله اذا جلس الإمام على المنبر على عهد رسول الله صلى الله عليه وآله و سلم و أبي بكر و عمر فلمّا كانعثمان وكثر الناس زاد النداء الثالث على الزوراء و لم يكن للنبي صلى الله عليه وآله و سلم مؤذن غير واحد

Dari Saib bin Yazid, ia berkata “Adzan pada hari jum’at pada awalnya apabila Imam telah duduk di atas mimbar. Demikian dilakukan di masa Rasulullah saw., masa Abu bakar, dan di masa Umar. Di masa (khalifah) Ustman dan telah banyak manusia beliau menambah adzan yang ketiga di atas Zaura. Dan Nabi saw. Tidak mempunyai Mu’adzin kecuali satu” Diriwayatkan oleh Bukhari, An Nasai, dan Abu Daud.

Adzan yang ‘ketiga’ maksudnya menambah satu adzan lagi sehingga menjadi tiga adzan yaitu dua adzan dan satu iqamat. (Tanya Jawab 2 Agama Tim PP Muhammadiyah Majelis Tarjih: 85.) dari riwayat tersebut jelas bahwa adzan yang diajarkan oleh Rasulullah untuk shalat jum’at hanya sekali ketika Imam sudah naik ke mimbar sementara adzan dua kali lebih-lebih ditambah dengan bacaan hadis di antara dua adzan tersebut tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw.

Dalam Assunan wa Mubtada’at al Muta’alliqah bi al Adzkar wa as Shalawat yang diterbitkan oleh “Dar al-Fikr” dijelaskan Pembacaan hadis ‘apabila khatib…dst’ sebelum adzan jum’at seperti yang berkembang dewasa ini adalah bid’ah karena yang berhak memberi nasihat hanya khatib saat itu.

Melagukan Adzan.

Melagukan adzan seperti yang terjadi dewasa ini tidak ada ketetapanya dalam syari’at, berikut pandangan para imam madzhab:

Imam Syafi’i : ”Melagukan berarti berpindah dari lagu yang satu ke lagu yang lain, yang sunah adalah melangsungkan adzan dalam satu lagu / irama.”

Imam Hanbali : ”Melagukan atau mengiramakan adzan adalah makruh.”

Imam Hanafi : ”Melagukan itu baik selama tidak merubah huruf atau harokat, tapi kalau sudah membawa perubahan kalimat baik itu huruf maupun bertambahnya harakat maka hukumnya haram dan tidak halal mendengarnya.”

Imam Malik : ”Makruh melagukan adzan, lebih-lebih jika semata-mata mengikuti adat kebiasaan maka hukumnya haram.” (Al-fiqhu alal-madzhabil arba’ah, abdurrahman al-Jaziri, bab Adzan).

Mengeraskan suara dan menutup telinga dengan jari.

اَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِلَالًا أَنْ يَجْعَلَ إِصْبَعَيْهِ فِي أُذُنَيْهِ وَقَالَ إِنَّهُ أَرْفَعُ لِصَوْتِكَ

Bahwasanya Rasulullah saw. Memerintahkan kepada Bilal agar meletakan dua jarinya pada telinganya dan Ia (Rasulullah saw.) bersabda “sesungguhnya yang demikian itu lebih meninggikan suaramu” Riwayat Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah kitab al-Adzan wa as-Sunnatu fiihi hadis ke 702.

Memutar leher ke kanan dan ke kiri.

Dalam syarah Nailul Authar bab ’Muadzin meletakan jari ke dalam telinga dan memutar leher ketika membaca ”Hayya ’alatain” bahwa riwayat tentang memutar leher berbeda-beda ada yang mengatakan Bilal memutar lehernya dan ada yang mengatakan Bilal tidak berputar.

Menurut al-Hafiz Ibnu Hajar yang dimaksud riwayat yang mengatakan berputar adalah memutar leher, sedang riwayat yang mengatakan tidak berputar maksudnya tidak memutar seluruh badan. Selanjutnya Syarih Nailul Authar mengatakan hadis tentang memutar leher hanya diriwayatkan dari dua jalan yaitu Hajaj dan Idris A-Audi dan kedua rawi tersebut lemah/ dha’if.

Wudhu sebelum adzan dan Mu’adzin menghadap kiblat.

Dalam kitab Al-fiqhu alal-madzhabil arba’ah karya Abdurrahman al-Jaziri, bab Adzan di katakan Muadzin hendaknya suci dari hadats besar dan kecil serta menghadap kiblat kecuali jika diperlukan untuk memperdengarkan kepada penduduk yang yang tidak bisa mendengar adzan apabila Muadzin menghadap kiblat. Artinya berwudhu dan menghadap kiblat bukan merupakan keharusan.

Wanita adzan.

Tiga Imam madzhab selain Malikiyah sepakat bahwa Mu’adzin harus laki-laki jadi tidak sah wanita atau banci adzan, sementara Malikiyah berpandangan bahwa untuk menerima berita masuknya waktu shalat harus dari orang Islam yang adil sekalipun itu wanita jadi adzanya seorang wanita tetap sah.

A. Hasan dalam soal jawabnya mengatakan tidak ada larangan wanita manjadi Mu’adzin tetapi perlu diketahui bahwa suara wanita termasuk aurat yang harus dijaga dan tidak boleh diumbar. Kami melihat hadis-hadis tentang adzan semua Mu’adzin itu laki-laki dan perintah adzan itupun Rasulullah saw. tujukan kepada laki-laki jadi menurut syariat tidak ada contohnya wanita menjadi Mu’adzin.

Lain halnya jika dalam keadaan darurat misalnya dalam satu komunitas masyarakat tidak ada satupun laki-laki sehingga kalau wanita tidak adzan maka tidak ada yang adzan sama sekali dan masyarakat tidak tahu kapan masuknya waktu shalat.

Adzan Secara Berjamaah

عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَفَرٍ مِنْ قَوْمِي فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً وَكَانَ رَحِيمًا رَفِيقًا فَلَمَّا رَأَى شَوْقَنَا إِلَى أَهَالِينَا قَالَ ارْجِعُوا فَكُونُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَصَلُّوا فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

Dari Malik bin al-Huwairits sesungguhnya Nabi saw. Bersabda “Apabila waktu shalat telah tiba maka hendaklah salah seorang diantara kamu adzan untuk kalian dan hendaknya yang tertua diantara kamu menjadi imam” di riwayatkan oleh Ahmad, Bukhari dan Muslim hadis ini juga terdapat dalam kitab Nailul authar bab adzan dan Sunan Abu Daud hadis ke 592.

Dari hadis ini jelas bahwa Rasulullah menyuruh satu orang untuk adzan, juda pada hadis yang terdapat point adzan Jum’at (selanjutnya) dikatakan bahwa “….Dan Nabi saw. Tidak mempunyai Mu’adzin kecuali satu” menunjukan bahwa Muadzin cukup dengan satu orang dan memang adzan dengan berjama’ah itu tidak kami temukan riwayat/hadis yang mencontohkanya.

 

Bagaimanakah Tuntunan Iqamat dalam Islam

عَنْ أَنَسٍ قَالَ أُمِرَ بِلَالٌ أَنْ يَشْفَعَ الْأَذَانَ وَأَنْ يُوتِرَ الْإِقَامَةَ إِلَّا الْإِقَامَةَ

Dari Annas ia berkata ”Bilal diperintahkan untuk menggenapkan adzan dan mengganjilkan iqamah kecuali al iqamah (lafaz qad qaamatisshalaah)” diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab shalat Kutubuttis’ah hadis ke 570. juga dalam Shahih Muslim hadis ke 571.

Adapun lafaz iqamah tersebut sebagaimana hadis terdahulu pada point dua (Fungsi adzan) sebagai berikut.

….اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ….

Ada sebuah hadis yang menceritakan tentang menjawab iqomah

…انّ بلالا اخذ في القامة فلمّا ان قال قدقامة الصلاة قال البي صلى الله عليه وآله و سلم اقامها الله و ادمها

Sesungguhnya Bilal pernah iqamah maka ketika dia mengucapkan ‘Qad qaamatisshalaah’ Nabi saw. Mengucapkan ‘QaamahAllahu wa adaamaha’.

Tidak kami temukan hadis yang lain menyatakan masalah ini begitu juga A. Hasan mengatakan dalam tanya jawabnya tidak ada hadis lain melainkan itu saja hanya kalau ada riwayat atau ungkapan lain tentang menjawab iqamah berarti itu suatu yang diada – adakan (bid’ah). Kemudian berdasarkan penelitian ternyata hadis inipun lemah/dhaif karena dalam sanadnya ada seorang yang majhul dan seorang yang lemah, A. Yazid pun memasukkan hadis ini dalam bukunya Himpunan hadis-hadis lemah dan palsu.