Metode Tafsir Bil Ma’tsur: Penafsiran Al-Qur’an Menggunakan Ayat Al-Qur’an, Hadis, Perkataan Sahabat & Tabi’in

0

Belajar Memahami Metode Tafsir Bil Ma’tsur

(Oleh: Muh Ilham)

Tongkrongan Islami – Nabi Muhammad saw bukan hanya bertugas menyampaikan al-Qur’an, melainkan sekaligus menjelaskannya kepada ummatnya. Sebagaimana ditegaskan  oleh Allah Swt di dalam surat al-Nahl ayat 44 ; وأنزلنا إليك الذكرى لتبين للناس ما نزل إليهم… (Dan kami telah menurunkan al-Qur’an kepadamu supaya kamu menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan untuk mereka).

Namun, karena  pewahyuan sudah berakhir dengan berakhirnya masa kenabian Muhammad Saw, sementara disisi lain masalah-masalah yang timbul dalam lingkungan umat Islam senantiasa berkembang seiring dinamika zaman.

Maka untuk mempertemukan al-Qur’an dan perkembangan zaman, muncullah disiplin ilmu yang disebut dengan tafsir. Para ulama lalu melakukan upaya-upaya untuk menjadikan al-Qur’an mampu berbicara pada setiap zaman yang berbeda, melalui aktivitas penjelasan makna-makna al-Qur’an, dan usaha-usaha itu kemudian dikenal secara luas dengan istilah tafsir.

Dalam peta keilmuan Islam, Ilmu tafsir merupakan ilmu yang tergolong belum matang, sehingga selalu terbuka untuk dikembangkan. Setiap periode memiliki perkembangan sampai saat ini. Meskipun sama-sama berusaha mengungkapkan makna al-Qur’an, masing-masing menggunakan cara dan pendekatan yang berbeda. Sehingga tidaklah mengherankan, ketika metode yang digunakan oleh para ulama dalam penafsiran al-Qur’anjuga mengalami perkembangan yang dinamis dari zaman ke zaman.

Metode-metode itu berkembang sejalan dengan perkembangan pemikiran, peradaban manusia dan juga masalah-masalah yang berkembang dalam masyarakat. Di samping itu, perkembangan itu juga terjadi karena kebutuhan manusia akan metode baru.

Melihat sejarah awal perkembangan tafsir, muncullah dua jenis penafsiran al-Qur’an secara estafet, yaitu tafsir bi al-Ma’sur atau disebut juga dengan tafsir bi al-riwayah dan tafsir bi al-ra’yi atau tafsir dengan akal. Untuk meminimalisir perdebatan tentang bentuk kedua jenis tafsir ini, penulis lebih memahami keduanya  tidak sebagai sebagai sebuah metode ataupun corak tafsir melainkan jenis-jenis penafsiran yang muncul dalam sejarah awal usaha pemahaman terhadap al-Qur’an.

Tema sentral dalam tulisan ini adalah tentang tafsir bi al-Ma’sur. Mudah-mudahan tulisan ini dapat memeberikan kita pegetahuan tambahan mengenai tafsir bi al-Ma’sur, oleh karena itu kritik dan masukan sangat penulis harapkan.

Pengertian Tafsir bi al-Ma’sur

Al-Ma’sur  menurut bahasa adalah  isim maf‘ul dari kata أثرت الحديث أثراً من باب نقل نقلته ، , yang bermakna sisa/bekas dari sesuatu, sebagaimana dalam firman Allah Swt dalam surah yasin ayat 12 :  (ونكتب ما قدموا وآثارهم[1]) kata al-Ma’sur  juga berarti al-Manqul [2]. Oleh karena itu maka tafsir bi al-Ma’sur  adalah tafsir yang bersumber dari allah Swt yang terdapat di dalam al-Qur’an, Nabi Muhammad Saw, sahabat dan tabi’in. al-Ma’sur  dalam makna lugah juga dipakai atas perkataan yang diberitakan dari orang lain[3].

Adapun defenisi tafsir bi al-Ma’sur  menurut istilah adalah ibarat menafsirkan suatu ayat dari ayat-ayat al-Qur’an dengan al-Qur’an itu sendiri atau dengan hadis Nabi atau nukilan dari para sahabat dan tabi’in.[4] karena tafsir bi al-Ma’sur  merupakan penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an dan hanya Allah yang mengetahui maksudnya, atau penafsiran al-Qur’an dengan hadis Nabi Saw sebagai penjelasan terhadap Kalam Allah, atau penafsiran al-Qur’an dengan perkataan sahabat, dimana mereka adalah orang-orang yang menyaksikan al-Qur’an ketika diturunkan dengan syarat sanadnya sahih dari rasulullah Saw atau dari sahabat.

Namun terdapat perbedaan dalam pengkategorian pendapat tabi’in sebagai tafsir bi al-Ma’sur, karena adanya indikasi bahwa pendapat tabi’in banyak telah terkooptasi oleh akal[5], berbeda dengan pendapat shahabat yang dimungkinkan untuk mengetahui penafsiran suatu ayat berdasarkan petunjuk Nabi. Selain itu shahabat juga menyertai Nabi pada saat turunnya sebagian ayat sehingga mereka lebih mengetahui asbab al-Nuzul sebuah ayat.

Perkembangan tafsir bi al-Ma’sur

Penafsiran yang berbentuk riwayat atau yang disebut dengan tafsir bi al-Ma’sur  adalah bentuk penafsiran yang paling tua dalam khazanah intelektual Islam. Tafsir ini sampai sekarang masih terpakai dan dapat dijumpai dalam kitab-kitab tafsir seperti Tafsir al-Tabari, Ibnu Kasir, al-Durr al-Mansur fi al-Tafsir bi al-Ma’sur  karya imam al-Suyuti, dan lain-lain.[6]

Nabi Muhammad Saw bukan hanya bertugas menyampaikan al-Qur’an, melainkan sekaligus menjelaskan kepada ummatnya. Menjelaskan makna yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an itulah yang disebut dengan tafsir. Penafsiran pertama dan utama yang menjelaskan makna al-Qur’an itu kepada umat, ialah Allah sendiri.

Kemudian jika masih belum jelas, maka barulah Nabi Muhammad yang menjelaskannya. Dengan demikian tafsir telah dimulai sejak turunnya ayat pertama dari al-Qur’an itu, sehingga dapat dikatakan sama usianya dengan al-Qur’an itu sendiri. Kecuali penafsiran dari Nabi Muhammad saw, ayat-ayat tertentu juga berfungsi menafsirkan ayat-ayat yang lain.

Ada yang langsung ditunjukkan oleh Nabi bahwa ayat tersebut ditafsirkan oleh ayat yang lain, ini termasuk kelompok tafsir bi al-Ma’sur, seperti kata zulm (aniaya) pada ayat:  ( الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ ditafsirkan oleh rasulullah dengan syirk (menyekutukan Allah) yang terdapat dalam ayat 13 surah Luqman :  “لاَ تُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ” dan ada pula yang ditunjukkan oleh ulama berdasarkan ijtihad, ini termasuk kategori tafsir bi al-Ra’yi seperti ayat ke 7 dalam surah al-Fatihah :   ” أنعمت عليهم “ditafsirkan dengan ayat ke 69 dari surah al-Nisa : ” مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء  وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً ”  . Meskipun ini penafsiran ayat dengan ayat, tapi ia tetap masuk kategori tafsir bi al-Ra’yi karena tafsiran tersebut tidak diwarisi dari Nabi atau sahabat beliau, melainkan berasal dari ijtihad ulama tafsir.

Para sahabat menerima dan meriwayatkan tafsir dari Nabi Saw secara Musyafahat (dari mulut kemulut), demikian pula generasi berikutnya  sampai datang masa pembukuan ilmu-ilmu Islam, termasuk tafsir sekitar abad ke-3 H. Cara penafsiran seperti itulah  yang merupakan cikal-bakal apa yang disebut dengan Tafsir bi al-Ma’sur. Dengan demikian, para sahabat umumnya dapat menafsirkan al-Qur’an. Namun yang paling menonjol diantara mereka ada sepuluh orang yaitu ”Khalifah yang empat, Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Ubay bin Ka‘b, Zayd bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, dan ‘Abdullah bin Zubair”.[7]

Para ulama tidak sepakat mengenai batasan tafsir bi al-Ma’sur  seperti Al-Zarqani yang membatasi pada “tafsir yang diberikan oleh ayat al-Qur’an, sunnah Nabi, dan para sahabat”.[8]  Dalam batasan itu jelas terlihat, tafsir yang diberikan oleh tabi’in tidak masuk kelompok  al-Ma’sur . Karena menurutnya , meskipun tabi’in tidak menerima tafsir langsung dari Nabi saw, namun al-Dzahabi memuat tafsir mereka, seperti Tafsir al-Tabari, tidak hanya berisi tafsiran dari Nabi dan sahabat, melainkan juga memuat tafsiran dari tabi’in.[9]

Keenggangan al-Zarqani memasukkan penafsiran tabi’in kedalam al-Ma’sur  dilatarbelakangi oleh kenyataan: banyak diantara tabi’in yang terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran isra’iliyyat[10] yang berasal dari kaum Yahudi dan ahli kitab lainnya, seperti terlihat dalam kisah para Nabi, penciptaan alam, Ashab al-Kahfi, dan sebagainya. Kisah-kisah semacam ini lebih banyak mengandung kebohongan dari pada kebenaran.

Dari sini dapat dipahami bahwa penolakan al-Zarqani untuk memasukkan penafsiran tabi’in kedalam al-Ma’sur  adalah didorong oleh keinginannya untuk menyelamatkan tafsir al-Ma’sur  dari pemikiran-pemikiran isra’iliyyat  yang dapat menyesatkan umat.

Terlepas dari setuju atau tidak setuju terhadap kedua pendapat tersebut, yang menjadi persoalan dalam kajian al-Ma’sur , ialah 1) apakah yang dimaksud dengan al-Ma’sur  tersebut adalah penafsiran yang telah diberikan Nabi dan para sahabat; atau 2) penafsiran al-Qur’an berdasarkan bahan-bahan yang diwarisi dari Nabi berupa al-Qur’an dan sunnah, serta pendapat sahabat yang menurut al-Hakim sama nilainya dengan hadis marfu‘.[11]

Dalam hal yang pertama, al-Ma’sur  menjadi sifat bagi tafsir, dan dalam hal yang kedua ia menjadi sifat dari sumber-sumber yang digunakan di dalam penafsiran. Kedua permasalahan ini mempunyai implikasi yang besar dalam penafsiran. Jika yang pertama diterima, maka tafsir bi al-Ma’sur  ialah sesuatu yang telah baku dan tidak dapat dikembangkan lagi. Dalam hal ini, tugas seorang mufassir hanya meneliti sanadnya, apakah sahih atau tidak? Jika ternyata sahih, maka penafsiran tersebut diterima, sebaliknya apabila tidak sahih, maka penafsiran itu ditolak.

Apabila pengertian yang kedua diterima, maka tafsir bi al-Ma’sur  dapat dikembangkan sesuai dengan tuntunan zaman karena dalam pengertian yang kedua itu masih terbuka bagi mufassir  untuk mengembangkan pemikiran dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an.

Kedua pemahaman diatas tidaklah bertentangan karena yang pertama, merupakan pengertian sempit bagi al-Ma’sur , sementara yang kedua adalah pengertian yang lebih luas. Walaupun pengertian yang kedua memberikan peluang bagi ulama untuk berijtihad dalam penafsiran, namun tidak sampai kepada wilayah tafsir bi al-ra’yi.

Dengan kata lain, tafsir bi al-Ma’sur  tetap menjadikan riwayat sebagai dasar; sedangkan tafsir bi al-ra’yi berangkat dari pemikiran (ijtihad), kemudian dicari argument berupa ayat-ayat al-Qur’an, sunnah Nabi, dan sebagainya untuk mendukung penafsiran tersebut. Dengan demikian tafsir bi al-Ma’sur  lebih banyak memakai riwayat ketimbang tafsir bi al-ra’yi sebagaimana yang banyak dijumpai dalam kitab-kitab tafsir bi al-Ma’sur.

Kegiatan pengumpulan tafsir pada mulanya sejalan dengan pengumpulan hadis[12], sehingga tafsir pada masa itu merupakan bagian integral dari hadis. Itulah sebabnya di dalam kitab hadis seperti Shahih al-Bukhari, terdapat dua bab mengenai tafsir yaitu Kitab Tafsir alQur’an dan Kitab Fada’il al-Qur’an yang menurut al-Fandi meliputi seperdelapan bagian dari isi kitab hadis tersebut.[13]

Namun perlu diingat bahwa penafsiran Nabi itu terdiri atas dua kategori : 1) sudah terinci. Ini biasanya menyangkut masalah ibadah seperti kewajiban shalat, zakat, puasa, haji, dan sebagainya. Semua ini sudah terinci dan tidak dapat dikembangkan lagi.

Artinya apa yang telah digariskan oleh nabi Saw berkenaan dengan masalah-masalah ibadah tidak perlu ditafsirklan lagi, tapi cukup kita laksanakan sesuai dengan ketentuan tersebut dan tak boleh diubah sedikit pun; dan 2) dalam garis besarnya, atau boleh disebut pedoman dasar yang dapat dikembangkan oleh generasi selanjutnya. Ini biasanya berhubungan dengan masalah-masalah muamalat seperti hukum, urusan kenegaraan, kekekluargaan, dan sebagainya.

Dalam lapangan inilah diperlukan ijtihad supaya pedoman-pedoman yang telah digariskan oleh Nabi saw dapat diaktualisasikan dan diterapkan di tengah masyarakat sesuai dengan tuntunan zaman. Dengan demikian, al-Qur’an akan selalu terasa modern serta mampu membimbing umat kejalan yang benar. Disinilah diperlukan tafsir bi al_ra’yi yang berdasarkan al-Qur’an dan Hadis dan bukan hanya berdasarkan hasil pemikiran semata.[14]

Sumber-sumber Tafsir bi al-Ma’sur

Al-Qur’anal-Karim

Penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an merupakan bentuk penafsiran yang paling tinggi, karena tidak ada seorang pun yang mengetahui kandungan makna al-Qur’an tersebut kecuali Allah swt sendiri. Ibnu taymiah mengatakan: “sesungguhnya cara yang terbaik untuk menafsirkan al-Qur’an adalah dengan al-Qur’an itu sendiri, karena apa-apa yang mujmal (universal) pada suatu ayat dirincinkan pada ayat yang lain, dan apa-apa yang belum lengkap pada suatu ayat kemudian di jelaskan pada ayat yang lainnya”. [15]

Contoh-contoh penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an sangat banyak kita temukan, diantaranya:

  1. Firman Allah swt: [16] (مالك يوم الدين) “yang menguasai hari pembalasan” ditafsirkan pada ayat yang lain (وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ. ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ. يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ[17]) Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” 
  1. Firman Allah : ([18]فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ) Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. Lalu kemudian ayat ini ditafsirkan pada ayat yang lainnya : قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ (الْخَاسِرِينَ[19] Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.. 
  1. Kemudian firman Allah swt tentang kelebihan kaum lelaki dari kaum perempuan : (وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ[20] ) , Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan dari pada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. kemudian ayat ini ditafsirkan pada ayat yang lainnya:

( الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا)[21]

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya , maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya . Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dan masih banyak lagi contoh yang lain.

Hadis/Sunnah

Apabila kita tidak menemukan penafsiran suatu ayat di dalam al-Qur’an, maka kita mencari di dalam hadis Nabi saw berdasarkan riwayat yang sahih, karena hadis berfungsi sebagai penjelas dan tafsir terhadap al-Qur’an. Allah berfirman : (وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ[22]) , “. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,”

Di dalam hadis juga di ceritakan ketika Muadz bin Jabal di utus oleh rasulullah Saw ke Yaman, kemudian Nabi bertanya: “Bagaimana kamu jika dihadapkan permasalahan hukum? Ia berkata: “Saya berhukum dengan kitab Allah”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam kitab Allah” ?, ia berkata: “Saya berhukum dengan sunnah Rasulullah Saw”. Nabi berkata: “Jika tidak terdapat dalam sunnah Rasul Saw” ? ia berkata: “Saya akan berijtihad dan tidak berlebih (dalam ijtihad)”. Maka Rasul Saw memukul ke dada Muadz dan berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah sepakat dengan utusannya (Muadz) dengan apa yang diridhai Rasulullah Saw.[23]

Riwayat diatas menunjukkan bahwa hadis merupakan sumber kedua di dalam menafsirkan al-Qur’an, dengan syarat menjauhi hadis-hadis da‘if dan maudu‘. Disamping itu, hadis tidak hanya sebatas penjelas terhadap al-Qur’an, namun juga mengandung hukum tambahan terhadap apa yang terdapat di dalam al-Qur’an.[24] Seperti wanita-wanita yang diharamkan untuk dinikahi di dalam al-Qur’an: (حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاتُكُمْ وَبَنَاتُ الأخِ وَبَنَاتُ الأخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الأخْتَيْنِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا)

Lalu kemudian hadis memberikan hukum tambahan, yaitu haramnya menggabungkan/menikahi wanita dengan tantenya atau bibiknya, dan masih banyak lagi contoh yang lain.

Contoh-contoh penafsiran al-Qur’andengan sunnah ;

  1. أخرج البخاري – بسنده – عن عبد الله بن مسعود قال: لما نزلت ( الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم )[25] ، شق ذلك على أصحاب رسول الله ص .م وقالوا: أيّنا لا يظلم نفسه ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ليس هو كما تظنّون. إنما هو كما قال لقمان لإبنه ( يا بني لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم)[26]

“ Diriwayatkan oleh imam Bukhari dengan sanadnya sendiri, dari Abdullah bin Mas’ud berkata: “ketika turunnya ayat (orang-orang yang beriman lalu mereka tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kezhaliman). Lalu kemudian para sahabat mengadu kepada rasulullah saw, mereka berkata : “yang mana diantara kami yang tidak menzhalimi dirinya?” lalu rasulululah kemudian berkata: “tidaklah seperti yang kalian kira, akan tetapi seperti yang dikatakan Luqman kepada anaknya: ( wahai anakku janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah kedzhaliman yang besar). 

  1. أخرج مسلم – بسنده – عن صحيب أن النبى صلى الله عليه وسلم قال في قوله تعالى : (لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ) ، الحسنى : الجنة، الزيادة : النظر إلى ربهم.[27]

“Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Suhaib bahwasanya Nabi Saw bersabda pada firman Allah Swt:” (Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan tambahannya), al-Husna yaitu : “surga” dan al-Ziyadah yaitu : “ melihat Allah Swt ”.

Perkataan Sahabat

Penafsiran al-Qur’an dengan perkataan sahabat berada pada urutan ketiga setelah penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an dan al-Qur’an dengan sunnah. Hal ini karena sahabat mendengar dan mengetahui tafsir dari Nabi Muhammad Saw, mereka adalah saksi sejarah ketika al-Qur’an di turunkan dan mengetahui sebab turunnya, sehingga ulama tafsir menjadikan penafsiran sahabat setara dengan hukum marfu‘ [28] .

Perlu kita ketahui bahwa pemahaman para sahabat terhadap al-Qur’an tidaklah sama, sebagaimana yang ada pada kebanyakan orang. Mereka memahami al-Qur’an secara mendalam sebagaimana yang banyak kita jumpai pada kitab-kitab tafsir, itu karena mereka adalah golongan arab murni yang mengetahui bahasa arab secara fasih, asbab al-Nuzul,’ ulum al-Qur’an  serta pengetahuan mereka terhadap sunnah.

Akan tetapi ulama berbeda pendapat dalam mengkategorikan penafsiran sahabat sebagai al-Ma’sur  atau bukan?, sebagian mereka ada yang memasukkannya kedalam al-Ma’sur   dan sebagian lainnya tidak memasukkannya. Pendapat yang sahih dalam masalah ini adalah; apa yang dibawa oleh sahabat dan bukan berupa ijtihadnya atau istinbat dan hanya mengambil terhadap apa yang mereka dengar dari rasulullah saw, maka itu dikategorikan sebagai al-Ma’sur .

Oleh karena itu, penafsiran sahabat tidak dikatakan al-Ma’sur  kecuali yang mereka dengar dari rasulullah saw, seperti berita-berita tentang alam ghaib. Dalam hal ini tidak ada ruang untuk berijtihad atau ber istinbat juga tidak memungkinkan bagi mereka untuk menggunkan akal.

Ciri khas tafsir pada masa sahabat:

  1. Tidak menafsirkan al-Qur’an secara keseluruhan, karena apa-apa yang tidak diketahui oleh sahabat langsung ditanyakan kepada rasulullah saw.
  2. Perbedaan dalam penafsiran sangat sedikit.
  3. Cukup mengetahui makna mujmal terhadap suatu ayat.
  4. Terbatas pada penjelasan arti bahasa yang mereka pahami, seperti pada firman Allah swt (غير متجانف لإثم[29]) أي غير متعرض لمعصية  .
  5. Sahabat tidak membukukan tafsir sebagai bentuk ilmu pada saat itu, karena pembukuan ilmu-ilmu dimulai pada abad kedua hijriyah.
  6. Tafsir pada fase ini serupa dengan hadis yang berupa riwayat dari rasulullah saw.

Contoh tafsir al-Qur’an dengan perkataan sahabat:

Diriwayatkan dari Abdullah bin Dinar dari ibnu Umar, bahwasanya seseorang telah datang kepada beliau dan menanyakan tentang ayat (أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا)[30], lalu ibnu Umar berkata:”pergilah kepada ibnu Abbas lalu tanyakan ayat ini, kemudian kembali kesini untuk mengabariku. Lalu dia pergi kepada ibnu Abbas dan menanyakannya. Ibnu Abbas berkata:”bahwa langit itu adalah kesatuan yang mengandung hujan, sedangkan bumi adalah kesatuan yang tidak tumbuh, lalu kemudian keduanya terpisah disebabkan oleh hujan dan tumbuh-tumbuhan. Lalu kemudian orang tersebut kembali kepada Abdullah bin Umar dan memberitahukanya.

Perkataan Tabi’in

Apabila kita tidak menemukan penafsiran di dalam al-Qur’an dan sunnah juga pada perkataan sahabat, maka kita merujuk kepada perkataan tabi’in. Para tabi’in dalam penafsiran mereka berpegang kepada al-Qur’an, sunnah, sahabat dan ijtihad mereka. Hal ini serupa dengan apa yang dikatakan oleh Muhammad Husain al-Zahabiy dalam tafsir wal mufassirun, bahwa para tabi’in di dalam memahami al-Qur’an mereka berpegang terhadap apa yang terdapat dalam al-Qur’an itu sendiri, dan apa yang diriwayatkan sahabat dari rasulullah saw , juga apa yang tabi’in riwayatkan dari penafsiran para sahabat, dan apa yang mereka ambil dari ahli kitab dan ijtihad mereka.

Ahli tafsir pada masa tabi’in dapat kita kategorikan menjadi tiga kelompok, pertama; ahli tafsir yang berada di Mekah seperti para murid ibnu Abbas; Mujahid, Atha bin Abi Rabah, Ikrimah maula Ibn Abbas, Thawus, Ubay al-Sya’tsa dan Said bin Jubair. Kedua; di Madinah, yaitu murid Ubay bin Ka’ab seperti; Zaid bin Aslam, Abu al-Aliyah dan Muhammad bin Ka’ab al-Qarzhi, ketiga; di Iraq, yaitu murid Abdullah bin Mas’ud, seperti; al-Qamah bin Qays, Masruq bin Ajda’, Hasan al-Bashri, Azwad bin Yazid, dan lain sebagainya.

Ciri khas tafsir pada masa tabi’in:

  1. Pada masa ini tafsir sudah dimasuki oleh Israiliyyat, hal ini karena banyaknya golongan ahli kitab yang masuk kedalam Islam.
  2. Pada masa ini tafsir sudah di bukukan, akan tetapi belum disusun kedalam bab-bab dan hadis-hadis di dalamnya juga tidak tersusun.
  3. Munculnya perbedaan mazhab dikalangan tabi’in.
  4. Tafsir pada masa ini lebih banyak berpegang kepada riwayat dibandingkan akal.
  5. Al-Qur’an belum ditafsirkan secara keseluruhan, dan hanya terbatas kepada penjelasan terhadap ayat-ayat secara mujmal atau mengungkap makna bahasanya.

Kelemahan tafsir bi al-Ma’sur

Tidak bisa dipungkiri bahwa tafsir bi al-Ma’sur   memiliki kelemahan-kelemahan yang dapat menghilangkan kualitasnya. Lemahnya riwayat tafsir bi al-Ma’sur  dimulai pada awal masa tabi’in tahun 41 H, yaitu ketika terpecahnya ummat Islam kedalam kelompok syi’ah, khawarij dan jumhur . Demikian juga ketika masa penaklukan Islam.[31]

Dalam hal ini, sebab-sebab kelemahan tafsir bi al-Ma’sur  dapat kita bagi menjadi tiga, yaitu :[32]

  1. Banyaknya pemalsuan di dalam tafsir bi al-Ma’sur

Hal ini disebabkan karena bercampurnya riwayat yang sahih dan da‘if, sehingga bagi orang yang tidak punya kemampuan dalam bidang ini akan sulit membedakannya, bahkan hanya melihatnya dengan satu sudut pandang. Sehinga seseorang dapat menghukumi semua riwayat adalah sahih tanpa mengetahui jika di- dalamnya juga terdapat riwayat yang da‘if.

  1. Masuknya Israiliyat kedalam tafsir bi al-Ma’sur

Israiliyat dimulai pada masa sbahabat. Akan tetapi ini bukan berarti pada waktu itu rasulullah membolehkan untuk mengambil riwayat dari Israiliyat. Sebagaimana sabda beliau : (لا تصدقوا أهل الكتاب ولا تكذبوهم).

Pada masa tabi’in periwayatan terhadap Israiliyat semakin meluas, hal ini karena banyaknya  golongan ahli kitab yang masuk kedalam Islam. Demikian pula didukung oleh kecendrungan Umat Islam untuk mendengarkan kisah-kisah orang yahudi dan Nasrani. Hal ini kemudian berlanjut sampai pada masa pembukuan.

  1. Adanya penghapusan pada sanad

Hal ini terjadi pada masa setelah tabi’in, dimana umat Islam pada saat itu mengabaikan sanad di dalam periwayatan. Pada saat ini juga al-dakhil telah masuk kedalam tafsir.

Kitab-kitab tafsir bi al-Ma’sur:

  1. Jami‘ al-Bayan fi tafsir al-Qur’an (Ibnu Jurair al-Tabari, wafat tahun 310 H.)
  2. Ma‘alim al-Tanzil (Abu Muhammad al-Husain al-Baghwity,wafat tahun 510 H.)
  3. Tafsir al-Qur’an al-Azim (al-Hafiz ibnu Katsir al-Dimasyqi, wafat tahun 774 H.)
  4. Al-Durr al-Mansur (Jalaluddin al-Suyuthi, wafat tahun 911 H.)

Baca Juga:

  1. Metode Tafsir bil Ra’yi, Penafsiran Al-Qur’an Menggunakan Rasio (Akal)
  2. Tafsir Tematik, Metode dan Keistimewaanya
  3. Tafsir Corak Al-Adabi Al-Ijtima’i

 

Catatan Kaki

[1] Departemen agama, Al-Qur’an dan terjemahannya.

[2] Lisan al-‘Arab, jilid 1 hal : 26.

[3]Muhammad Muhammad Muhammad Qasim, Dirasat fi al-Manahij al-Mufassirin ; (Fakultas Ushuluddin Unv. Al-Azhar kairo), hal. 45

[4] Lihat , Ibid., (Muhammad Muhammad Muhammad Qasim), h. 46

[5] Supiana dkk, Ulumul Qur’an dan pengenalan metodologi Tafsir  (Bandung: Pustaka Islamika), hlm. 304.

[6] Nasharuddin Baidan, Wawasan baru Ilmu Tafsir, (Cet.II; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), h. 370.

[7] Subhi al-shalih, Mabahisfi ‘Ulum al-Qur’an, (Cet. IX; Bairut :Dar al-Ilm li al-Malayin, 1997) h. 336

[8] Muhammad Abd ‘Azhim al-Zarqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Mesir, Isa al-Bab al-Halabi, II, t.th.) h. 12.

[9]   Muhammad Husain al-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun, (Cet. I; Kairo; Dar al-Kutub al-Haditsa, 1961) h. 152.

[10] Israiliyyat : ”segala sesuatu yang bersumber dari kebudayaan yahudi atau Nasrani, baik yang termaktub dalam Taurat, Injil dan penafsiran-penafsirannya, maupun pendapat-pendapat orang Yahudi atau Nasrani mengenai ajaran agama mereka.

[11] Marfu‘ : ”adalah hadis yang disandarkan kepada Nabi Saw.

[12] Nashrudiin Baidan, Metode Penafsiran al-Qur’an, (Cet. I ; Yogyakarta : Pustaka pelajar, 2002) h. 44.

[13] Muhammad s|abit al-Fandi, “Tafsir”, (Cet V ; Kairo : Dairat al-Ma’arif al-Islamiyyat), h. 249.

[14] Nashruddin baidan., Op. cit., h. 45.

[15] Ibnu Taymiah,  Muqaddimah fi ushul al-Tafsir, (Cet II ; Kuwait: Dar al-Qur’an al-Karim, 1972)., h. 84.

[16] Q. S, al-fatihah; 4.

[17] Q.S, al-Infithar; 17-19.

[18] Q.S. al-Baqarah: 37.

[19] Q.S. al-A’raf : 37.

[20] Q.S. al-baqarah : 228.

[21] Q.S. al-Nisa : 34.

[22] Q.S. al-Nahl : 44.

[23] Hadits diriwayatkan al-Thabrani (lihat: al-Mu‘jam al-Kabir, Juz 15), hal 96.

[24] Muhammad Muhammad Muhammad Qasim, op.cit., h. 55.

[25] Q.S. al-an’am: 82.

[26] Lihat Sahih al-Bukhari, kitab al-Iman- bab zulm duna zulm: jilid 1. H. 35,. Hadis nomor 32.

[27] Lihat Sahih Muslim, Kitab al-Iman, Bab: isbat al-ru’ya al-Mu’minina fi al-Akhirah Rabbahum Swt, Jilid pertama,. Hadist No. 142-143.

[28] Muhammad Muhammad Muhammad Qasim, op.cit,. h. 75.

[29] Q. S. al-Maidah; 3.

[30] Q. S. al-Anbiya’: 30.

[31] Muhammad Husain al-Zahabiy, ‘Ilmu Tafsir, (Cet; IV: Kairo, Dar al-Ma’arif, 1119 H), h. 43.

[32] Ibid., h. 43.

Sebab-Sebab Diperbolehkannya Shalat Jamak dan Qasar

Sebab-Sebab Diperbolehkannya Shalat Jamak dan Qasar

Tongkrongan Islami – Islam merupakan agama rahmatan lil’alamin, agama yang sangat menjamin kesejahteraan bagi alam semesta pada umumnya dan bagi para pemeluknya pada khususnya. Disamping itu agama Islam juga mempunyai hukum yang fleksibel dan cukup lentur yang ditetapkan sesuai dengan kemampuan pemeluknya, namun bukan berarti hal tersebut boleh menjadikan manusia ( umat Islam ) memandang remeh terhadap hukum yang dibebankan terhadapnya.

Salah satu fleksibilitas hukum Islam yang diberikan kepada pemeluknya adalah berupa “ shalat jama’ “. Apabila para pemeluknya mampu melaksanakan sesuai dengan ketetapan yang berlaku, maka hal tersebutlah idealnya yang harus dikerjakan. Namun sebagai manusia biasa kadang-kadang mempunyai udzur yang memaksa manusia tidak mampu menjalankan kewajiban yang telah dibebankan baginya, sebagaimana mestinya, malah ada jalan keluar.

Demikian juga dalam melaksanakan shalat fardhu alangkah idealnya jika shalat tersebut dikerjakan sesuai dengan aturan waktunya. Tetapi apabila ada halangan yang menyebabkan harus mengerjakan dengan menggunakan keringanan-keringanan yang tidak menjadi kebiasaan, seperti shalat jama’ dan shalat qashar, maka boleh dikerjakan. Adapun sebab-sebab yang memperbolehkan shalat di jama’ adalah :

Shalat Dijamak Karena Bepergian (Musafir)

Bepergian adalah melakukan perjalanan ketempat lain yang hendak dituju karena ada sesuatu kepentingan .

Menjama’ dua shalat ketika bepergian, pada salah satu waktu dari kedua shalat itu, menurut sebagian besar para ahli hukumnya boleh, tanpa ada perbedaan, apakah dilakukannya sewaktu berhenti, ataukah selagi dalam perjalanan.

Sebagaimana dalam hadits: Dari Muadz ,” bahwasannya Nabi saw dalam perang tabuk, apabila beliau berangkat sebelum tergelincir matahari, beliau menta’khirkan shalat Zhuhur hingga beliau kumpulkan dengan shalat Ashar, beliau gabungkaan keduanya ( Zhuhur dan Ashar) waktu Ashar, dan apabila berangkat sesudah tergelincir matahari, beliau kerjakan shalat Zhuhur dan Ashar sekaligus, kemudian beliau berjalan. Dan apabila beliau berangkat sebelum Maghrib, beliau menta’khirkan Maghrib hingga beliau melakukan shalat Maghribbeserta Isya’ dan apabila beliau berangkat sesudah waktu Maghrib beliau segerakan shalat Isya’ dan beliau menggabungkan shalat Isya’ bersama Maghrib.(HR. Abu Daud )

Adapun bepergian yang mendapat kemudahan untuk menjama’ shalat adalah bepergian yang telah memenuhi kriteria shalat qashar, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Al-Muhadzab yang berbunyi: Diperbolehkan menjama’ shalat antara dua shalat yaitu shalat Zhuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya’ dalam satu perjalanan yang bisa untuk mengqashar shalat “.

Kemudian dalam kitab Al-Fiqh Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah disebutkan pula sebagai berikut : Boleh menjama’antara dua shalat, baik itu jama’ taqdim jama’ ta’khir bagi para musafir dengan syarat –syarat tertentu (bepergian ) “. Akan tetapi bagi musafir yang telah ditentukan untuk mengqashar shalat, telah terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama’. Sebab-sebab terjadi perbedaan pendapat tersebut adalah karena perbedaan mereka dalam memahami kata “ safar “.

Jika yang dimaksud qashar yang dikaitkan atau diakibatkan oleh adanya bepergian, maka yang dijadikan ukuran bagi seseorang dalam mengqashar shalat adalah masyaqat (kesusahan ). Sehingga shalat qashar boleh dikerjakan apabila terdapat kesusahan seperti yang dituturkan oleh Ibnu Rusyd sebagai berikut: Demikian itu bahwa logikanya dari pengaruh yang diakibatkan oleh bepergian, disebabkan  merupakan tempat yang adanya kesusahan seperti pengaruh bepergian dalam masalah puasa, jika begitu halnya maka diwajibkan qashar sekiranya ada masyaqat”.

Sedangkan mereka yang memahami kata “ safar “ secara tekstual, maka setiap orang yang menyandang predikat sebagai musafir diperbolehkan mengqashar shalat: setiap orang bepergian boleh melakukan shalat qhasar “.

Disamping hal tersebut diatas, adanya sesuatu perbedaan pula dari para sahabat dalam meriwayatkan hadits yang berkaitan dengan batas mengenai shalat qashar.

Hadits-hadits tersebut diantaranya: Dari Yahya bin Yazid Al-Hanafi telah berkata : saya bertanya kepada Anas bin Malik mengenai mengqashar shalat, kemudian Anas bin Malik berkata : Rasulullah saw ketika berjalan tiga mil atau tiga farsakh, beliau mengerjakan shalat dua rakaat “. (HR. Muslim )

Dari Anas telah berkata : saya pergi bersama Rasulullah saw dari madinah ke mekkah, maka beliau sekali mengqashar shalat hingga pulang dan berdiam diri dalam sepuluh hari ”. (HR. Imam Nasa’i )

Dengan adanya nash-nash yang berbeda tadi, maka lahirlah berbagai pendapat dalam menentukan jarak seseorang boleh mengerjakan shalat qashar. Perbedaan itu adalah :

  1. Menurut Imam Taqiyuddin:Jarak yang ditempuh adalah enam belas farsakh “.
  2. Menurut Sayyid Bakri: Bepergian jauh merupakan salah satu diantara beberapa persyaratan shalat qashar dan jama’ yaitu 48 mil “.
  3. Menurut Abu Hanifah: Bahwa jarak yang paling pendek untuk mengqashar shalat adalah perjalanan tiga hari “.
  4. Menurut Ahlu Zhahir: shalat qashar itu dalam setiap perjalanan baik dekat maupun jauh “.

Dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa seorang musafir boleh melakukan shalat qashar kalau sudah menempuh jarak enam belas farsakh. Dan setiap satu farsakh adalah tiga mil. Jadi enam belas farsakh ada 48 mil. Perjalanan tersebut sama dengan menempuh 80,5 km + 140 m, dengan menempuh perjalanan satu hari satu malam, sedangkan dalam kitab Syarh Al-Umdah ( menempuh perjalanan selama dua hari ).

Sedangkan Abu Hanifah mengatakan perjalanan yang memperbolehkan mengqasar shalat kalau sudah menempuh jarak perjalanan tiga hari. Jadi perjalanan dua hari atau lebih dikatakan perjalanan yang panjang. Kalau perjalanan yang kurang memenuhi dua hari tersebut ( perjalanan pendek ) maka tidak diperbolehkan mengqasar shalat. Hal ini sesuai pendapat kebanyakan fuqaha.

Disamping menentukan jarak tersebut, ada syarat lagi yang harus dipenuhi oleh musafir ketika ingin mengqasar shalat yaitu bepergiannya tidak untuk maksiat. Dan ketika seseorang bepergian untuk maksiat seperti bepergian untuk merampok, membunuh orang Islam, maka tidak boleh melakukan shalat qashar dan tidakmendapat kemurahan apapun dari kemurahan yang didapat oleh orang yang bepergian, karena kemurahan tidak diperbolehkan kalau bersang kutan dengan maksiat. Dan kebolehan kemurahan tersebut didalam bepergian untuk melakukan maksiat adalah menolong kepada  kemaksiatan. Maka dari itu, tidak diperbolehkan melakukan shalat qashar.

Shalat Dijamak Karena Hujan

Seseorang diperbolehkan untuk meleksanakan shalat jama’ apabila dalam keadaan hujan. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari yang berbunyi: Sesugguhnya Nabi saw menjama’ shalat Maghrib dengan shalat Isya’ disuatu malam yang sedang hujan lebat “. (HR. Bukhari)

Dari Abdullah bin Ibnu Abbas berkata : bahwa Rasulullah saw pernah melakukan shalat Zhuhur dan shalat Ashar dengan menjama’nya, begitu pula halnya dengan shalat Maghrib dan shalat Isya’ dalam keadaan tidak takut dan tidak bepergian, Imam Malik berkata : saya berpendapat bahwa saat itu dalam keadaan hujan “. (HR. Malik)

Selanjutnya dalam kitab Al-Umm Imam Al-Syafi’i menyebutkan sebagai berikut: Tidak boleh seseorang untuk menjama’ shalat pada waktu yang pertama kecuali dalam keadaan hujan”.
Dengan demikian apabila seseorang bertujuan menjama’ shalat secara jama’ ta’khir yang disebabkan alasan adanya hujan, kemudian hujan itu berakhir sebelum tiba waktunya shalat yang kedua, berarti sebab rukhsah telah hilang dan sebagai akibatnya ialah telah melakukan shalat diluar waktunya.

Kesimpulan pendapat mazhab-mazhab mengenai soal ini adalah sebagai berikut :

  1. Golongan Syafi’i membolehkan seseorang mukim menjama’ shalat Zhuhur dengan shalat Ashar dan shalat Maghrib dengan shalat Isya’ secara taqdim saja, dengan syarat adanya hujan ketika membaca takbiratul ihram dalam shalat yang pertama sampai selesai, dan hujan masih turun ketika memulai shalat yang kedua.
  2. Menurut Maliki, boleh menjama’ taqdim dalam mesjid antara shalat. Maghrib dan shalat Isya’ disebabkan karena hujan yang telah atau akan turun, juga boleh dikerjakan karena banyak lumpur di tengah jalan dan malam yang gelap, hingga menyukarkan orang buat memakai terompah. Menjama’ shalat Zhuhur dan shalat Ashar karena hujan ini, dimakruhkan.
  3. Golongan hambali berpendapat bahwa boleh menjama’ shalat. Maghrib dengan shalat Isya’ saja, baik secara taqdim atau ta’khir, disebabkan adanya salju, lumpur,dingin yang sangat serta hujan yang membasahkan pakaian. Keringanan ini hanya khusus bagi orang yang bersembahyang jama’ah di mesjid yang datang dari tempat yang jauh, hingga dengan adanya hujan tersebut, ia terhalang dalam perjalanan. Bagi orang yang rumahnya di dekat mesjid atau yang bersembahyang jama’ah di rumah saja, atau ia dapat pergi ke mesjid dengan melindungi tubuh, maka tidak boleh menjama’ shalat.
  4. Golongan Hanafi berpendapat bahwa menjama’ shalat Zhuhur dengan shalat Ashar, shalat Maghrib dengan shalat Isya’ pada waktu hujan tidak diperbolehkan. Sedangkan menjama’ shalat Zhuhur dengan shalat Ashar, baik secara taqdim maupun ta’khir disebabkan karena hujan, juga tidak diperbolehkan.

Shalat dijamak Karena Sakit atau Udzur

Banyak sekali macam penyakit yang diderita oleh seseorang, akan tetapi hanya dari penyakit yang benar-benar sangat mengganggu bagi penderitanya, yang dapat rukhsah untuk menjama’ shalat. Dengan begitu tidak setiap orang yang sedang sakit mendapat rukhsah untuk menjama’ shalat.

Dasar kebolehan untuk melakukan shalat jama’ bagi seseorang yang sedang sakit adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut: Yahya bin Yahya bercerita kepada saya dan berkata : saya menceritakan kepada Malik hadits dari Abu Zubair, dari Said bin Zubair, dari Ibnu Abbas berkata : Rasulullah SAW pernah menggabungkan antara shalat Zhuhur dan shalat Ashar ataupun Maghrib dan Isya’dalam satu waktu dalam keadaan tanpa rasa takut maupun sedang dalam perjalanan “. (HR. Muslim)

Dengan hadits tersebut nyatalah bahwa Nabi SAW mengerjakan shalat jama’ bukan karena sebab ketakutan dan bepergian. Karena bukan sebab-sebab tersebut, maka yang paling mendekati adalah sebab sakit. Karena pada dasarnya menjama’ shalat tidak disertai udzur tidak diperbolehkan, dan udzur yang ada pada hadits tersebut adalah sakit, karena tidak ada udzur lainnya selain udzur sakit tersebut.

Imam Ahmad, Qadhi Husein, Al-Khaththabi dan Al-Mutawalli dari golongan Syafi’i membolehkan menjama’ shalat baik taqdim maupun ta’khir disebabkan sakit, dengan alasan karena kesukaran di waktu itu lebih besar dari kesukaran di waktu hujan. Berkata Al-Nawawi : ” Dari segi alasan, pendapat ini adalah kuat “.

Dalam kitab Al-Mughni disebutkan bahwa sakit yang membolehkan menjama’ shalat ialah seandainya shalat-shalat itu dikerjakan pada waktu masing-masing akan menyebabkan kesulitan dan lemahnya badan.

Ulama Hambali memperluas keringanan ini, hingga menurut mereka boleh pula menjama’ baik taqdim maupun ta’khir karena berbagai macam halangan dan juga sedang dalam ketakutan. Mereka bolehkan orang yang sedang menyusui bila sukar untuknya buat mencuci kain setiap hendak shalat. Juga untuk wanita-wanita yang sedang istihadhah, orang yang ditimpa silsalatul baul ( kencing berkepanjangan ), orang yang tidak dapat bersuci, yang menguatirkan bahaya bagi dirinya pribadi, bagi harta dan kehormatannya., juga bagi orang yang takut mendapatkan rintangan dalam mata pencaharian sekiranya ia meninggalkan jama’.

Demikian pula kalau dibandingkan dengan dibolehkan menjama’ shalat dalam suatu perjalanan, dengan menjama’shalat karena suatu alasan sakit yang keduanya mempunyai ‘illat yang sama yaitu adanya masyakat ( kesukaran ), meskipun tidak merupakan syarat mutlak, akan tetapi keadaan kesukaran yang diakibatkan adanya rasa sakit itu pada umumnya lebih berat apabila disuruh untuk mengerjakan shalat setiap waktu tanpa menjama’nya, sehingga sudah sepatutnya bila diberi kelonggaran untuk mengerjakan shalat jama’. Hal ini sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Ibnu Rusdy dalam kitabnya yang berbunyi: Demikian itu bahwa kesukaran orang yang sakit dalam mengerjakan shalat satu persatu akan lebih berat dari pada orang musafir “.

Shalat Dijamak Karena Nusuk

Setiap umat Islam yang merasa dirinya mampu baik secara fisik maupun non fisik, maka diwajibkan baginya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima yaitu haji. Sedang pengertian haji adalah sengaja mengunjungi baitullah dengan melakukan amalan-amalan seperti wuquf, thawaf, sa’i, dan lain-lain, serta melakukan amalan-amalan ibadah lainnya selama waktu tertentu demi menunaikan perintah Allah SWT.

Para ulama telah sepakat tentang dibolehkan melakukan shalat jama’ antara shalat Zhuhur dengan shalat Ashar sebagai jama’ taqdim di Padang Arafah, dan antara shalat Maghrib dengan shalat Isya’ sebagai jama’ ta’khir di Muzdalifah.

Bahkan dikalangan ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa jama’ merupakan kesunahan, seperti yang tercantum dalam kitab Al-Fiqh Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah yang berbunyi sebagai berikut: Tetapi disunnahkan melakukan shalat jama’ ketika orang yang pergi haji itu berada di Arafah atau Mudzalifah “.

Batas Jam Sholat 5 Waktu dalam Al-Qur’an dan Hadis

Batas Jam Sholat 5 Waktu dalam Al-Qur’an dan Hadis

Tongkrongan Islami – Al-Qur’an tidak menerangkan secara rinci waktu-waktu pelaksanaan shalat lima waktu. Al-Qur’an hanya menyatakan bahwa shalat itu merupakan kewajiban yang telah ditetapkan waktunya bagi orang-orang yang beriman.

Hal ini dinyatakan dalam surat An-Nisa’ayat 103 yang berbunyi:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Q.S. An-Nisa: 103)

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (Q.S. Hud: 114)

Dalil Umum Perintah Sholat 5 Waktu

Mengenai perintah sholat lima waktu ada beberapa ayat al-Qur’an yang menyebutkan kewajibannya. Seperti yang tertera pada ayat-ayat berikut:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S Al-‘Ankabut: 45)

قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا يُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خِلَالٌ

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan. (QS. Ibrahim: 31)

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al Ahzab: 33)

Bahkan mereka yang meninggalkan kewajiban mengerjakan sholat 5 waktu akan diberi kesesatan hingga adzab yang sangat pedih. Seperti yang disebutkan dalam dua ayat berikut.

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (Q.S. Maryam: 59)

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ

Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat. dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya.” (QS. Al Muddatstsir: 42-45)

Selain al-Qur’an, terdapat beberapa hadis yang memerintahkan untuk mengerjakan sholat lima waktu. Seperti hadis-hadis berikut:

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ أَوَّلَ مَا افْتُرِضَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةُ رَكْعَتَانِ رَكْعَتَانِ إِلَّا الْمَغْرِبَ فَإِنَّهَا كَانَتْ ثَلَاثًا ثُمَّ أَتَمَّ اللَّهُ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ وَالْعِشَاءَ الْآخِرَةَ أَرْبَعًا فِي الْحَضَرِ وَأَقَرَّ الصَّلَاةَ عَلَى فَرْضِهَا الْأَوَّلِ فِي السَّفَرِ

Dari Aisyah istri Nabi shollallahu alaihi wasallam beliau berkata: Pertama yang diwajibkan sholat kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam adalah dua rokaat dua rokaat kecuali Maghrib yang 3 rokaat. Kemudian Allah sempurnakan (jumlah rokaat) Dzhuhur, Ashar, dan Isya’ akhir 4 rokaat dalam kondisi hadir (tidak safar) dan ditetapkan sholat sebagaimana kewajibannya yang awal di waktu safar (H.R Ahmad, dinyatakan sanadnya jayyid oleh Syaikh al-Albaniy dalam Silsilah as-Shahihah penjelasan riwayat no 2815)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّلاَةُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

Di antara shalat lima waktu, di antara Jum’at yang satu dan Jum’at berikutnya adalah penghapus dosa di antara semua itu selama tidak dilakukan dosa besar” (HR. Muslim no. 233).

Dari ‘Utsman bin ‘Affan, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

“Tidaklah seorang muslim ketika waktunya shalat wajib, lalu ia membaguskan wudhunya, ia khusyu’ dalam shalatnya, dan menyempurnakan ruku’, melaikankan itu menjadi penghapus dosa-dosa sebelumnya selama tidak dilakukannya dosa besar, dan itu setiap masa semuanya.” (HR. Muslim no. 228).

Dalil Khusus Batas Waktu Sholat Fardhu dalam Hadis Nabi SAW

Meskipun Al-Qur’an tidak memberikan rincian terhadap waktu pelaksanaan sholat 5 waktu, namun di dalam hadis nabi SAW terdapat banyak yang menyebutkannya, dari batas awal hingga batas akhir waktu setiap sholat.

Waktu Shalat shubuh 2 Rakaat

عَنْ قَيْسِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ رَأَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يُصَلِّي بَعْدَ صَلَاةِ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةُ الصُّبْحِ رَكْعَتَانِ فَقَالَ الرَّجُلُ إِنِّي لَمْ أَكُنْ صَلَّيْتُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا فَصَلَّيْتُهُمَا الْآنَ فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Qoys bin Amr –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melihat seorang laki-laki sholat dua rokaat setelah sholat Subuh. Maka Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Sholat Subuh itu dua rokaat. Maka orang itu mengatakan: Sesungguhnya aku belum sholat dua rokaat sebelumnya (sebelum sholat Subuh) maka aku mengerjakannya sekarang. Maka Rasulullah shollallahu alaihi wasallam diam (H.R Abu Dawud, dishahihkan Ibn Hibban dan al-Hakim, disepakati keshahihannya oleh adz-Dzahabiy dan al-Albaniy)

Waktu shalat shubuh mulai terbit fajar yang kedua yaitu fajar shadiq sampai terbit matahari. Dalam waktu shubuh ini juga terbagi menjadi lima waktu seperti waktu Ashar yakni :

a. Waktu Fadhilah yaitu melakukan shalat shubuh pada awal waktunya.

b. Waktu Ikhtiyar yaitu akhir dari waktu shalat shubuh sampai matahari bersinar atau bercahaya.

c. Waktu Jawaz tetapi makhruh yaitu akhir dari waktu shalat shubuh sampai terbitnya matahari.

d. Waktu Jawaz tetapi tidak makhruh yaitu akhir waktu shalat shubuh sampai terbitnya warna merahnya matahari ( sinar merah matahari ).

e. Waktu Haram yaitu mengakhirkan shalat shubuh sampai tetapnya waktu, tetapi waktu tersebut tidak bisa memuat shalat shubuh.

Waktu Shalat Zhuhur 4 Rakaat

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا وَصَلَّى الْعَصْرَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ

Dari Anas radhiyallahu bahwasanya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam sholat Dzhuhur di Madinah 4 rokaat, dan sholat Ashar di Dzulhulaifah 2 rokaat (H.R Muslim)

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ خَمْسًا فَلَمَّا سَلَّمَ قِيلَ لَهُ أَزِيدَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ وَمَا ذَاكَ قَالُوا صَلَّيْتَ خَمْسًا فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ

“Sesungguhnya Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam sholat dzhuhur 5 rokaat, ketika selesai salam ditanyakan kepada beliau: Apakah sholat ditambah? Nabi menyatakan: Ada apa? Para Sahabat berkata: Anda telah sholat 5 rokaat. Maka beliau sujud dua kali sujud (sujud sahwi)” (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).

Awal waktunya adalah setelah tergelincirnya matahari dari pertengahan langit, akhir waktunya apabila bayang-bayang sesuatu benda telah sama dengan panjangnya, selain bayang-bayang ketika matahari menonggak ( tepat diatas ubun-ubun ).

Imam Nawawi berpendapat: dikatakan shalat Zhuhur karena shalat tersebut jelas pada waktu tengah-tengah siang. Ketika matahari berpindah dari arah timur ke arah barat, maka akan datang waktu zawal (tergelincirnya matahari). Dan tergelincirnya matahari tersebut dapat diketahui dengan melihat bayangan kita sewaktu berdiri, atau kayu yang diberdirikan diatas bumi yang rata, maka ketika bayang-bayang tersebut kurang dari bentuk aslinya, maka hal itu matahari belum tergelincir, dan jika bayang-bayang tersebut tidak tambah dan tidak kurang, maka hal itu dinamakan waktu Istiwa’, dan jika bayang-bayang tersebut tambah dari bayangan aslinya, maka hal itu dinamakan tergelincirnya matahari.

Waktu Shalat Ashar 4 Rakaat

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الْعَصْرَ فَسَلَّمَ فِي ثَلَاثِ رَكَعَاتٍ ثُمَّ دَخَلَ مَنْزِلَهُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ الْخِرْبَاقُ وَكَانَ فِي يَدَيْهِ طُولٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَذَكَرَ لَهُ صَنِيعَهُ وَخَرَجَ غَضْبَانَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَى النَّاسِ فَقَالَ أَصَدَقَ هَذَا قَالُوا نَعَمْ فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ

“Sesungguhnya Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam sholat ashr, kemudian beliau salam pada rokaat ke-3 kemudian masuk rumahnya, maka bangkitlah seseorang yang disebut al-Khirbaaq yang memiliki tangan panjang. Maka ia berkata: Wahai Rasulullah…kemudian disebutkan apa yang dilakukan Nabi. Maka beliau kemudian keluar (seperti terlihat marah) menarik selendangnya sampai (di hadapan) manusia. Kemudian beliau bertanya: ‘Apakah lelaki ini benar?’Para Sahabat menjawab: ya. Maka kemudian Nabi sholat satu rokaat, kemudian salam, kemudian sujud 2 kali sujud, kemudian salam” (H.R Muslim dari Imron bin Hushain).

Waktu shalat Ashar mulai dari habis waktu shalat Zhuhur bayang- bayang sesuatu lebih dari panjangnya selain dari bayang-bayang ketika matahari sedang menonggak sampai terbenamnya matahari. Waktu Ashar ini terbagi menjadi lima waktu, diantaranya sebagai berikut:

a. Waktu Fadhilah yaitu melakukan shalat Ashar diawal waktunya.

b. Waktu Ikhtiyar yaitu akhir dari shalat Ashar sampai bayang-bayang tersebut menyerupai dua bayangan dari bayangan aslinya.

c. Waktu Jawaz ( Boleh ) tetapi makhruh yaitu akhir waktu shalat Ashar sampai terbenamnya matahari.

d. Waktu Jawaz ( Boleh ) tetapi tidak makhruh yaitu dari jadinya bayang-bayang tersebut menyerupai  dua bayangan dari bayangan aslinya sampai matahari menjadi kuning.

e. Waktu Haram yaitu mengakhirkan shalat Ashar sampai tetapnya waktu, tetapi waktu itu tidak bisa memuat shalat Ashar.

Waktu Shalat Maghrib 3 Rakaat

لاَ تُوْتِرُوا بِثَلَاثٍ وَلَا تَشَبَّهُوْا بِصَلاَةِ الْمَغْرِبِ أَوْتِرُوْا بِخَمْسٍ أَوْ بِسَبْعٍ

Janganlah witir dengan 3 rokaat dan jangan menyerupai sholat maghrib. Berwitirlah dengan 5 atau 7 rokaat (H.R al-Hakim, dinyatakan shahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim oleh adz-Dzahabiy) dalam riwayat atThohawy pada syarh Ma’aaniy al-atsar dinyatakan dengan lafadz:

لاَ تُوْتِرُوْا بِثَلَاثِ رَكَعَاتٍ تَشَبَّهُوْا بِالْمَغْرِبِ

Janganlah kalian berwitir dengan 3 rokaat yang menyerupai Maghrib (H.R atThohawiy dalam syarh Ma’aaniy al-Atsar no 1609, dinyatakan sanadnya shahih oleh al-Albaniy dalam sholaatut taraawih).

Para Ulama menjelaskan bahwa witir boleh 3 rokaat, sama jumlah rokaatnya dengan Maghrib, tapi jangan sama dalam tata caranya, yaitu ada 2 tahiyyat/tasyahhud. Kalau mau witir 3 rokaat, mestinya satu kali tahiyyat di akhir saja.

Waktu shalat Maghrib dimulai dari terbenamnya matahari sampai terbenamnya syafaq merah. Dinamakan shalat Maghrib karena shalat itu dilakukan pada waktu terbenamnya matahari. Sedangkan  terbenamnya matahari itu diketahui dengan terbenamnya lingkaran matahari secara sempurna. Dan tidak menjadi bahaya ketika masih ada sorot dari matahari setelah terbenam.

Waktu Shalat Isya’ 4 Rakaat

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ شَكَا أَهْلُ الْكُوفَةِ سَعْدًا إِلَى عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَعَزَلَهُ وَاسْتَعْمَلَ عَلَيْهِمْ عَمَّارًا فَشَكَوْا حَتَّى ذَكَرُوا أَنَّهُ لَا يُحْسِنُ يُصَلِّي فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ فَقَالَ يَا أَبَا إِسْحَاقَ إِنَّ هَؤُلَاءِ يَزْعُمُونَ أَنَّكَ لَا تُحْسِنُ تُصَلِّي قَالَ أَبُو إِسْحَاقَ أَمَّا أَنَا وَاللَّهِ فَإِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي بِهِمْ صَلَاةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَخْرِمُ عَنْهَا أُصَلِّي صَلَاةَ الْعِشَاءِ فَأَرْكُدُ فِي الْأُولَيَيْنِ وَأُخِفُّ فِي الْأُخْرَيَيْنِ

Dari Jabir bin Samuroh beliau berkata: Ahlul Kufah mengadukan Sa’ad (bin Abi Waqqosh) radhiyallahu anhu kepada Umar radhiyallahu anhu, maka Umar melepas jabatan itu (sebagai gubernur Kufah) dari Sa’d. Umar menggantikannya dengan Ammar. Penduduk Kufah mengadukan keadaan Sa’ad bahkan menyebutkan bahwa Sa’ad tidak baik dalam sholatnya. Kemudian Umar mengutus orang kepada Sa’ad dan berkata: wahai Abu Ishaq (Sa’ad), sesungguhnya orang-orang ini mengaku bahwa engkau tidak baik dalam sholat. Abu Ishaq (Sa’ad) menyatakan: Saya demi Allah telah melakukan sholat sebagaimana sholat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Saya tidak menguranginya. Saya melakukan sholat Isya dengan memanjangkan bacaan di dua rokaat awal dan meringankan bacaan di dua rokaat akhir… (H.R al-Bukhari)

Waktu shalat Isya’ yaitu mulai dari terbenamnya syafaq merah ( sehabis waktu Maghrib ) sampai sepertiga malam. Hal ini pada waktu ikhtiyar , akhirnya waktu shalat Isya’ sampai sepertiga malam. Dan pada waktu jawaz yaitu akhirnya waktu shalat Isya’ sampai terbit fajar yang kedua yaitu fajar shadiq.

Konsep Mahabbah Al-ilahiyah Rabiah Al-Adawiyah

Konsep Mahabbah Al-ilahiyah Rabiah Al-Adawiyah (Oleh Sitti Asiyah)

Tongkrongan Islami – Disiplin ilmu keislaman tradisional meliputi ilmu kalam, ilmu fiqh, filsafat dan tasawuf. Keempat disiplin ilmu tersebut memliki karakteristik tersendiri yang membedakan dari yang satu dengan yang lainnya. Tasauf membidangi segi-segi penghayatan dan pengamalan yang bersifat lebih pribadi di mana tekanan orientasinya bersifat esoterik, sedangkan filsafat membidangi hal-hal yang bersifat perenungan spekulatif.[1]

Sejarah perkembangan pemikiran Islam sedikit banyaknya juga ditandai dengan adanya polemik di antara disiplin-disiplin ilmu keislaman tersebut. Perkembangan disiplin ilmu tersebut benih-benihnya dimulai sejak zaman Rasulullah saw. dan berlangsung hingga masa-masa selanjutnya.

Pertentangan politik sekitar pengangkatan khalifah dan gaya hidup sebagian khalifah sesudah khulafâ’ al-rasyiduûn menumbuhkan sikap oposisi keagamaan terhadap regim yang berkuasa saat itu.[2] Dalam keadaan seperti itulah muncul segelintir orang-orang muslim Sunni dengan kecenderungannya pada pola hidup ascetic yang selanjutnya merupakan cikal bakal perkembangan tasauf. Dalam perkembangan selanjutnya tasauf tidak lagi berkembang sebagai gerakan oposisi politik, tetapi dinamika perkembangan gagasan kesufian sendiri yang secara sadar berkembang menjadi mysticisme.[3]

Dalam perkembangan tasauf, para sufi menyuguhkan konsep religio- moral yang disebut maqâmât dan juga teori ahwâl yang bersifat psiko-gnostik yang harus dilalui oleh para sufi.[4] Maqâmât ini bertingkat-tingkat dan tidak disepakati kronologi dan sistimatikanya.[5] Salah satu di antara maqâmât itu ialah al-hubb, yang diperkenalkan oleh Rabi’ah al-Adawiyah.

Tulisan ini secara khusus berusaha mengungkap gagasan cinta (Hubb Ilâhi) yang dilontarkan Rabi`ah, sebagai bagian dari displin ilmu keislaman tradisional. kehadirannya memberi warna tersendiri terhadap perkembangan disiplin Ilmu tasawuf.

Riwayat Hidup Rabi’ah al-Adawiyah

Nama lengkapnya Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah, seorang pemuka sufi abad kedua hijriyah. Ia lahir di Basrah tahun 95 H./713-714 M., pendapat lain mengatakan tahun 99 H./717 M.[6] Dia adalah anak keempat, karenanya diberi nama Rabi’ah yang artinya anak keempat, dari suatu keluarga miskin.[7]

Kedua orang tuanya telah meninggal ketika ia masih kecil. Namun hal tersebut tidak membuatnya kehilangan pedoman. Demikian berat cobaan yang dihadapi ia tetap menerimanya dengan sabar dan penuh tawakkal kepada Allah swt.

Pada usia menjelang dewasa, ia pergi dan berpisah dari saudara-saudaranya, namun di tengah perjalanan yang tidak tentu arah, ia ditangkap oleh seorang penjahat lalu menjualnya kepada seseorang dengan harga enam dirham. Sejak saat itu ia menjalani hidupnya sebagai seorang budak.[8] Di siang hari ia harus bekerja berat melayani tuannya dan pada malam hari ia beribadah kepada Allah swt.

Pada suatu malam terjadi suatu peristiwa aneh yang merubah jalan hidupnya; tuannya terjaga dari tidurnya dan melalui jendela melihat Rabi’ah sedang beribadah dan sujud, di atas kepalanya nampak cahaya yang menerangi seluruh rumahnya, dalam ibadahnya Rabi’ah berdoa:

“Ya Allah Engkau tahu bahwa hasrat hatiku adalah untuk dapat memenuhi perintah-Mu. Jika Engkau dapat mengubah nasibku ini, niscaya aku tidak akan beristirahat sekejappun dari mengabdi kepada-Mu”. Melihat kejadian tersebut, sang tuan merasa takut dan tidak dapat memejamkan matanya hingga menjelang fajar. Pada pagi harinya, ia memanggil Rabi’ah dan memerdeka-kannya.[9] Sejak saat itu ia menghirup udara kemerdekaannya sebagai manusia.

Setelah Rabiah bebas, ia memusatkan perhatian pada kegiatan spritual. Di sana ia memiliki suatu majelis yang banyak dikunjungi oleh murid-muridnya yang terdiri dari pada zâhid untuk belajar dan bertukar pikiran.

Pada masanya di kota Bashrah sudah mulai ada halaqah (pengajian), yang dirintis oleh Hasan al-Bashri. Namun tak ditemukan data akurat, Rabi`ah pernah mengikuti halaqah tersebut dan berguru kepada seorang syaikh atau seorang guru. Namun menurut A. J. Arberry, dia murid tokoh zahid, yaitu Abu Sulaiman ad-Darani.[10]

Walaupun demikian Rabi’ah sebenarnya sudah memiliki dasar pengetahuan agama, Sebab sejak kecil Rabi`ah selalu ikut kegiatan ibadah orang tuanya, baik itu ibadah mahdhah atau hanya sekedar membaca al-Qur’an dan berzikir.

Rabi`ah memilih menjalani kehidupannya seorang diri, Rabi`ah tidak pernah kawin, sungguh pun setidaknya ada 2 (dua) orang yang sudah pernah melamarnya untuk berumah tangga.[11]

Dalam hidupnya yang yang diarahkan pada dimensi spritual, Rabia’h al-Adawiyah menjauhi kehidupan duniawi (zuhud, ascetic). Ia hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan kepadanya. Kehidupan Rabia’ah yang ascetic ini bisa dimaklumi, dengan dua pendekatan, pertama, Rabi’ah  menyadari latar belakang hidup keluarganya sebagai orang yang miskin. Secara psikologis pengalaman masa lalunya sebagai orang yang miskin dan bekas budak membawanya untuk tidak perlu hidup bermewah-mewah. kedua, sebagai seorang sufi, hal pertama yang harus ditempuh sebelum bergumul dalam dimensi spritual ialah  kehidupan yang ascetic.

Rabi’ah al-Adawiyah menghabiskan sisa hidupnya di Bashrah hingga wafatnya tahun 185 H./801 M. Rabi’ah al-Adawiyah tidak meninggalkan ajaran tertulis. Langsung dari tangannya sendiri. Ajarannya hanya dapat diketahui melalui para muridnya dan baru dapat dituliskan beberapa tahun setelah kematiannya.

Konsep Cinta Rabi’ah Al-Adawiyah Dengan Sang Ilahi (al-Mahabbah al-Ilahiyah)

Pengertian yang diberikan kepada mahabbah adalah kecenderungan hati untuk mencintai Allah. Ada juga yang mengartikan mahabbah sebagai ketaatan melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-larangan-Nya serta ridha terhadap segala ketentuannya[12]. Harun Nasution menyebut pengertian mahabbah dalam terminologi sufisme sebagai berikut:

  1. Memeluk kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya.
  2. Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi.
  3. Mengosongkan hati dari segala-sesuatu kecuali dari Tuhan.[13]

Jadi dapat dipahami bahwa hubb dalam terminologi mistisisme Islam (tasawuf) adalah kecenderungan hati seseorang (sûfi) untuk hanya cinta kepada Allah, mengosongkan bilik-bilik hatinya dari selain Allah, disertai ketaatan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya

Menurut Imam al-Ghazali, kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya adalah fardhu yang ditetapkan berdasarkan dalil-dalil pasti.[14] Munculnya mahabbah ini diinspirasi oleh petunjuk-petunjuk al-Qur’an, antara lain QS al-Ma’idah: 54 dan QS Ali Imran: 30.

Kecintaan kepada Allah adalah tujuan yang tertinggi dari maqamat yang dilalui oleh para sufi.[15] Al-Kalabazi membagi mahabbah ini kepada dua macam, yaitu cinta yang hanya dalam pengakuan saja, dan cinta yang dihayati dan diresapi dalam hati keluar dari lubuk hati. Cinta yang pertama ada pada setiap manusia, sedang cinta yang kedua ditujukan hanya kepada Allah.[16]  Cinta yang seperti inilah yang dianut dan diamalkan oleh kaum sufi.

Menurut Margaret Smith, Rabi`ah dinilai orang pertama yang menyatakan doktrin cinta tanpa pamrih kepada Allah. Di dalam sejarah perkembangan tasawuf, hal ini merupakan konsepsi baru di kalangan para sufi kala itu. Untuk mengetahui lebih jauh tentang konsepsi al-mahabbah atau al-hubb menurut Rabi`ah, akan ditelusuri pernyataannya tentang cinta[17].

Pada suatu waktu Rabi`ah ditanya pendapatnya tentang batasan konsepsi cinta. Rabi`ah menjawab: Cinta berbicara dengan kerinduan dan perasaan. Mereka yang merasakan cinta saja yang dapat mengenal apa itu cinta. Cinta tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Tak mungkin orang dapat menjelaskan sesuatu yang belum dikenalnya. Atau mengenali sesuatu yang belum pernah digaulinya. Cinta tak mungkin dikenal lewat hawa nafsu terlebih bila tuntutan cinta itu dikesampingkan. Cinta bisa membuat orang jadi bingung, akan menutup untuk menyatakan sesuatu. Cinta mampu menguasai hati.[18]

Pada kesempatan yang lain, ada juga orang yang menanyakan cinta kepada Rabi`ah. Rabi`ah juga menjawab, bahwa: Cinta muncul dari keazalian (azl) dan menuju keabadian (abad) serta tidak terlingkupi oleh salah satu dari delapan belas ribu alam yang mampu meminum hatta seteguk serbatnya.[19]

Dalam dialog lain, ada 2 (dua) batasan cinta yang sering dinyatakan Rabi`ah. Pernyataan pertama, sebagai ekspresi cinta hamba kepada Allah, maka cinta itu harus menutup selain Sang Kekasih atau Yang Dicinta. Dengan kata lain, maka pertama, dia harus memalingkan punggungnya dari dunia dan segala daya tariknya.

Lanjutnya kedua, dia harus memisahkan dirinya sesama makhluk ciptaan Allah, supaya dia tak bisa menarik dari Sang Pencipta. Tambahnya ketiga, dia harus bangkit dari semua keinginan nafsu duniawi dan tidak memberikan peluang adanya kesenangan dan kesengsaraan. Karena kesenangan dan kesengasaraan dikhawa-tirkan mengganggu perenungan pada Yang Maha Suci. Terlihat sekali, Tuhan dipandang oleh Rabi`ah dengan penuh kecemburuan sebagai titik konsentrasinya, sebab hanya Dia sendirilah yang wajib dicintai hamba-Nya.[20]

Pernyataan kedua, kadar cinta kepada Allah itu harus tidak ada pamrih apapun. Artinya, seseorang tidak dibenarkan mengharapkan balasan dari Allah, baik ganjaran (pahala) maupun pembebasan hukuman, paling tidak pengurangan. Sebab yang dicari seorang hamba itu melaksanakan keinginan Allah dan menyempurnakannya.

Karenanya, kecintaan seseorang itu bisa saja diubah agar lebih tinggi tingkatannya, hingga Allah benar-benar dicintai. Lewat kadar kecintaan inilah, menurut Rabi`ah dalam penafsiran Margaret Smith, Allah akan menyatakan diri-Nya sendiri dalam keindahan yang sempurna. Dan melalui jalan cinta inilah, jiwa yang mencintai akhirnya mampu menyatu dengan Yang Dicintai dan di dalam kehendak-Nya itulah akan ditemui kedamaian.[21]

Pada hari yang lain, Rabi`ah menyatakan 2 (dua) macam pembagian cinta, sebagai puncak tasawufnya dan dinilai telah mencapai tingkatan tertinggi dalam tahap cinta. Pembagian cinta tersebut, tertuang dalam lirik syairnya:

أحبك حبين حبّ الهوي    #      وحبًّا لأنك أهل لذاكا

فأما الذي هو حبّ الهوي  #       فشغلي بذكرك عمّن سواك

وأمّا الذي انت اهلٌ له     #      فكشفك لي الحجب حتّي أراكا

فلا الحمد في ذاأوذاك لي #      ولكن لك الحمد في ذا وذاكا.

“Aku mencintai-Mu dengan dua cinta Cinta yang timbul dari kerinduan hatiku dan cinta dari anugrah-Mu. Adapun cinta dari kerinduanku Menenggelamkan hati berzikir pada-Mu daripada selain Kamu. Adapun cinta yang dari anugrah-Mu Adalah anugrah-Mu membukakan tabir sehingga aku melihat wajah-Mu Tidak ada puji untuk ini dan untuk itu bagiku Akan tetapi dari-Mu segala puji baik untuk ini dan untuk itu”.[22]

Pembagian cinta ini dinilai sebagai pelengkap keteladanan awal suatu peralihan. Sejak saat itu, lambat laun mempengaruhi karakteristik sufisme, yakni pengalihan sufisme dari pola hidup protes terhadap dominasi duniawi (kemewahan hidup ekonomi dan konflik politik), kepada suatu teori kemaujudan dan tatanan teosofi. Karena tasawuf itu pada dasarnya ekstrim rohaniyah, maka dalam pembagian cinta, Rabi`ah-lah orang yang merintis untuk membelokkan ajaran Islam ke arah mistik yang ekstrim rohaniyah.

Dialah pelopor yang memperkenalkan cita ajaran mistik dalam Islam. Dimaksud, terbukanya tabir penyekat alam ghaib, sehingga sang sufi akan bisa menyaksikan dan mengalami serta berhubungan langsung dengan dunia ghaib dan zat Allah. Kembali ke banyaknya pernyataan cinta Rabi`ah. Muncul pertanyaan, apakah muncul begitu saja, tanpa suatu proses? Dalam penelusuran Muhammad Atiyah Khamis, Rabi`ah telah memperluas beberapa makna ataupun lingkup cinta Ilahi.

Dulu Rabi`ah mencintai Allah sebagaimana lazimnya kebanyakan umat Islam, yaitu didorong karena mengharapkan surga Allah dan sebaliknya takut akan neraka-Nya. Ini ternyata jelas melalui pertanyaan doa Rabi`ah kepada Allah, yaitu … “O, Tuhan, apakah Engkau akan membakar hamba-Mu di dalam neraka, yang hatinya terpaut pada-Mu, dan lidahnya selalu menyebut-Mu, dan hamba yang senantiasa takwa pada-Mu.[23]

Sesudah Rabi`ah menyadari bahwa landasan cinta seperti itu dianggap cinta yang masih sempit, Rabi`ah meningkatkan motivasi dirinya sehingga dia sampai luluh dalam cinta Ilahi.

Artinya, dia mencintai Allah karena memang Allah patut untuk dicintai, bukan karena ketakutan terhadap neraka ataupun disebabkan mengharapkan surga-Nya. Ini terlihat, saat Rabi`ah sakit jama`ah menjenguk dan menanyakan keadaannya, dia menjawab, aku tak tahu penyebab penyakitku ini.

Demi Allah, diperlihatkan padaku surga, lalu aku tertarik untuk memilikinya. Mungkin Tuhan cemburu akan sikapku ini, lalu Dia mencelaku. Dia menghendaki agar aku kembali kepada-Nya dan menyadari kesalahanku. Jadi dia tidak ingin menjadi pekerja wanita yang tidak baik. Terus ada peningkatan lagi. Dia justru minta dibakar api neraka, jika menyembah Allah karena takut neraka dan sekaligus mengharamkan surga, kalau dia mengharapkan surga.

Atas dasar cinta dalam penyembahan Allah, dia berkata, limpahkanlah ganjaran yang lebih baik. Dia minta diberi kesempatan melihat wajah Allah Yang Maha Agung dan Maha Mulia, hingga merasa bahagia berada dekat dengan Allah pada hari kebangkitan. Lantas perasaan bahagia itu diakhiri dengan bagiku (Rabi`ah) cukuplah keridlaan-Mu saja.

إلهى لو كنت أعبدك خوفا من نارك فأحرقني بنار جهنموإذا كنت أعبدك طمعا في جنتك فأحرمنيها وإما كنت أعبدك من أجل محبتك فلآ تحرمني من مشاهدة وجهك

Wahai, Tuhan! Apabika aku beribadah kepada-Mu hanya karena takut kepada neraka-Mu maka bakarlah aku di neraka-Mu. Dan apabila aku beribadah kepada-Mu hanya menginginkan surga-Mu maka keluarkanlah aku dari surga-Mu. Tetapi, jika aku beribadah kepada-Mu hanya untuk-Mu semata, berikanlah kepadaku keindahan-Mu yang abadi .

Begitu tingginya kadar kecintaan Rabi`ah kepada Allah hingga pada gilirannya, dia menilai tidur itu tidak saja sebagai bagian dari rangkaian mata rantai ibadahnya, akan tetapi juga sekaligus sebagai musuhnya yang telah menyebabkan berkurangnya ibadah. Perhatikan petikan berikut ini:Wahai Tuhanku, semua manusia telah tidur nyenyak. Raja-raja telah mengunci pintu istana masing-masing. Suami istri telah berbaring di atas sofanya. Namun, Rabi`ah yang banyak dosa ini masih bersimpuh di hadapan-Mu. Kebesaran dan Kemuliaan-Mu-lah yang membuat aku terus berjaga malam begini.[25]

Begitu terpusatnya cinta Rabi`ah kepada Allah, pada gilirannya cinta bagi Rabi`ah hanya tertuju kepada-Nya. Cinta bagi Rabi`ah itu tenggelam dalam renungan mengenai Allah dan berpaling daripada segala makhluk, hingga tidak ada lagi dalam jiwanya perasaan marah atau benci terhadap musuh. Dalam pendalaman studi Margaret Smith, melalui telaah Tadzkirah al-Awliya’-nya Fariduddin al-Aththar, yaitu “Keberadaanku telah tiada dan jati diriku pun telah lenyap. Aku telah menjadi satu dengan-Nya”[26]

Dalam cinta sempurna seperti itu, ahli sufi tak ada lagi dan hilang diri. Aku menyatu dengan-Nya dan sekaligus milik-Nya., harapanku adalah penyatuan dengan-Nya, sebab itulah tujuan dari keinginanku.[27]

 

Catatan Kaki

[1] Nucholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemoderenan, (Cet. III; Jakarta: Paramadina, 1995), h. 201, 218.

[2] Oposisi keagamaan ini antara lain dipicu oleh adanya ketidakpuasan terhadap praktek pemerintahan Bani Umaiyah yang cenderung diktator, sikap memprioritaskan orang-orang Syiria pada lembaga pemerintahan, dan kehidupan kaum Umawi yang dinilai kurang religius. Lihat: Ibid. h. 256.

[3] Ibid., h. 254-257. Tasauf biasanya dipergunakan untuk menyebut mistik Islam. Penulis Barat biasanya menyebut mysticisme Islam dengan istilah sufisme. Lihat: Harun Nasution, Falsafat dan Mysticisme dalam Islam, (Cet. VIII; Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 56.  Mysticism berasal dari kata mistik yang akar katanya berasal dari bahasa Yunani, Myein = menutup mata, yang selanjutnya diartikan secara luas yaitu kesadaran terhadap kenyataan Tunggal.

[4] Dalam klasifikasi konsep maqâmât ini, menurut Amin Abdullah, tampak adanya pengaruh cara berfikir filsafat di dalam mengklasifikasi dan mensistimatisasi ajaran al-Qur’ân yang berkaitan dengan dimensi bathiniyah. Lihat: M. Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas, (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), h. 152-153.

[5]  Harun Nasution, op. cit., h. 62-63.

[6] Margareth Smith, “Rabi’ah The Mystic and Her fellow Saints in Islam” diterjemahkan oleh Jamilah Baraja dengan judul: Rabi’ah: Pergulatan Spritual Perempuan, (Cet. I; Surabaya: Risalah Gusti, 1997), h. 7

[7] Karena kemiskinannya al-Attar, seorang penyair dari Parsi, mengemukakan bahwa pada malam ketika ia dilahirkan di rumahnya tidak ada makanan, tidak ada minyak untuk penerangan bahkan secarik kain untuk membungkusnyapun tidak ada. Oleh karena itu Ibu Rabi’ah mengatakan kepada suaminya agar ke rumah tetangganya untuk meminjam lampu buat penerangan dan kain, akan tetapi suaminya pulang dengan tangan hampa karena tetangga yang didatangi tidak berkenan untuk membuka pintunya. Lihat: Wahid Bakhsh Rabbani, Islamic Sufism, (5th Edition. 1st Publisher; Kuala Lumpur: A. S. Noordeen, 1995), h. 322.

[8] Harun Nasution, et. al., Ensiklopedi Islam di Indonesia, (Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI, 1992/1993), h. 973.

[9] Abdul Mun`im Qandil, “Rabi’ah al-Adawiyah ‘Adarau al-Basrah al-Batul” terj. Mohd. Royhan Hasbullah dan Mohd. Sofyan Amrullah, Figur Wanita Sufi: Perjalanan Hidup Rabi’ah Al-Adawiyah dan Cintanya kepada Allah, cet. III, (Surabaya: Pustaka Progressif, 2000) h. 3-4

[10] A. J. Arberry, Sufism terj. Bambang Herawan, Pasang-Surut Aliran Tasawuf, (Bandung: Mizan, Sya`ban 1405/Mei 1985), h.51

[11] Abdul Mun`im Qandil, op. cit., h. 63

[12] Abu Bakr Muhammad al-Kalabazi, Al-Ma’rûf Li Mazhab Ahl al-Tasawwuf, di-tahqîq dan di-ta’lîq oleh Mahmud Amin al-Nawâwî, (Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyah, 1993), h. 131

[13] Harun Nasution, Falsafat …, op. cit., h. 70.

[14] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (selanjutnya disebut al-Gazali), Ihyâ Ulûm al-Dîn, juz IV, (Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyah, 1992), h. 311.

[15] Ibid.

[16] Abu Bakr Muhammad al-Kalabazi, loc. cit.

[17] Margaret Smith, op. cit., h. 107

[18] Abdul Mun`im Qandil, op. cit., h.188

[19] Margaret Smith, op. cit., h.113

[20] Ibid., h.122

[21] Ibid., h. 123

[22] Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1996), h.30

[23] Muhammad Atiyah Khamis, Rabi’ah al-Adawiyah, (Jakarta;Pustaka Firdaus,2000) h.59

[24] Qamar Kailani, Fii at-Tashawwuf al-Islaam, (t.t.: Dar al-Ma`aarif, 1976) h. 89

[25] Abdul Mun`im Qandil, op. cit., h.195

[26] Margaret Smith, op. cit., h.124

[27] Ibid.,

Integrasi Ilmu, Islam dan Sains

Integrasi Ilmu, Islam dan Sains (Oleh: Hasruddin Dute)

Tongkrongan Islami – Landasan ilmu ada tiga yaitu secara ontologis ilmu dibangun berdasarkan konstruksi ilmu pengetahuan keyakinan filosofis tentang (hakikat ) realitas. Secara epistemologis ilmu dibangun atas dasar metodologi yang diturunkan dari hakikat realitas yang diyakini kebenarannya, sedangkan secara aksiologis ilmu dikembangkan untuk memenuhi tujuan etis sesuai dengan hakikat kebenarannya yang diyakininya.[1]

Berbicara tentang kehidupan kehidupan masa lalu dan masa sekarang tidak lepas dari perkembangan ilmu pengetahuan yang selalu di kaji untuk kemaslahatan manusia itu sendiri baik di dunia ini maupun nanti setelah kembali kepada sang Pencipta. Tentunya setelah melewati rintangan dan cobaan serta pengembaraan mencari jati diri sehingga mendapat keinginannya yang mendasar.

Peranan manusia sangat penting dalam membentuk peradabannya, para ahli sejarah memberikan tolak ukur perkembangan ummat manusia dari segi berkembangan peradaban yang dimilikinya, pada abad mutakhir, hal yang paling membuktikan berkembangnya peradaban manusia dapat dinilai dari laju perkembangan SAINS, peranan sains inilah yang berperan penting dalam membentuk peradabangan perkembangan ummat manusia. Oleh karena para filosof membagi dua masa initi dalam meniai perkembangan manusia, yaitu, masa ke-emasan(kemajuan sains dan agama) dan masa kemunduran.

Seiring lajunya waktu, sains terus berkembang dan berperan penting bagi manusia sebagai alat yang di pergunakan manusia dalam mengarungi kehidupan mereka. Dalam artian, sains adalah alat yang menumbuh kembangkan kehidupan manusia.

Peranan agama tak kalah pentingnya dengan peranan sains, jika sains berperan dalam bentuk jasmani, maka agama berperan dalam membentuk rohaniah manusia, sebab kehidupan manusia dengan agama, tidak bisa terlepas pula dalam pembentukan peradaban yang baik, bagi ummat manusia, sejarah telah membuktikan hal itu, laju perkembangan peradaban manusia tidak terlepas dari peranan agama, bukti akan hal ini adanya peradaban mesir kuno, yunani kuno, dan sebagainya, membuktikan bahwa peranan agama berperan penting dalam pembentukan perkembangan kehidupan manusia.[2]

Namun yang menjadi polemik adalah apakah sains mampu menjawab seluruh tantangan kehidupan manusia tanpa peranan agama? ataukah sebaliknya?

Pengertian ilmu, Islam & Sains

Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.[3] Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.[4]

Ilmu bukan sekedar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.

Contoh: Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (materiil saja) atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika membatasi lingkup pandangannya ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang kongkrit. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jauhnya matahari dari bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi sesuai untuk menjadi perawat.

Islam (Arab: al-islām, الإسلام): “berserah diri kepada Tuhan”) adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat milyar orang pengikut di seluruh dunia,[5] menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen.

Islam memiliki arti “penyerahan”, atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh). Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti “seorang yang tunduk kepada Tuhan, atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan.

Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.[6]

Sains (Ilmu Pengetahuan) dalam bahasa inggris dan prancis di sebut “Science”, sedangkan dalam bahasa jerman disebut “Wissenschaft”, dan dalam bahasa belanda di sebut “Wetenschap”.[7] Science berasal dari kata “scio”, “Scire” (bahasa latin) yang berarti tahu, begitupun ilmu berasal dari kata ‘alima” (bahasa arab) yang juga berarti tahu.

Jadi baik ilmu atau Science secara etimologis berarti pengetahuan. Namun secara terminologis, ilmu dan science itu semacam pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri, tanda-tanda dan syarat-syarat yang khas.[8] Adapun menurut pandangan para ilmuan terkemuka tentang pengertian sains ini, dapat kami paparkan sebagai berikut :

Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag: “Science is empirical, rational, general, general ang cumulative; and it is  all four of onece”[9] (Ilmu ialah yang empiris, yang rasional, yang umum dan bertimbun bersusun; dan keempat-empatnya serentak)

Karl Pearson (1857-1936), pengarang karya terkenal Grammar of Science: “Science is the complete and consistent description of the fact of experience in the simplest possible terms”[10] (Ilmu pengetahuan ialah lukisan atauketerangan yang lengkap dan konsistententang fakta pengalaman dengan istilah yang sesederhana/ sesedikit mungkin)

Dr. A. Baiquni (guru besar pada Universitas Gajah Mada): “Science merupakan generasi consensus dari masyarakat yang terdiri dari para scientist”[11]

Dari penjelasan diatas kita dapat merumuskan bahwa ilmu pengetahuan (science) adalah semacam pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda dan syarat tertentu, yaitu: sistematik, rasional, empiris, umum dan kumulatif (bersusun timbun). jadi ilmu pengetahuan itu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsistent mengenai hal-hal yang di studinya dalam ruang dan waktus sejauh jangkauan pemikiran dan penginderaan manusia.

Atau bisa pula dikatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah usaha pemahaman manusia yang di susun dalam satu sistema mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal ihwal yang di selidiki (alam, manusia dan agama) sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran yang dibantu oleh penginderaan manusia, yang kebenarannya di uji secara empiris, riset dan eksperimental.

Bagaimana Integrasi Ilmu, Islam dan Sains.

Awal munculnya ide tentang integrasi keilmuan dilatarbelakangi oleh adanya dualisme atau dikhotomi keilmuan antara ilmu-ilmu umum di satu sisi dengan ilmu ilmu agama di sisi lain. Dikhotomi ilmu yang salah satunya terlihat dalam dikhotomi institusi pendidikan antara pendidikan umum dan pendidikan agama telah berlangsung semenjak bangsa ini mengenal sistem pendidikan modern[12].

Dikhotomi keilmuan Islam tersebut berimplikasi luas terhadap aspek-aspek kependidikan di lingkungan umat Islam, baik yang menyangkut cara pandang umat terhadap ilmu dan pendidikan, kelembagaan pendidikan, kurikulum pendidikan, maupun psikologi umat pada umumnya.

Berkenaan dengan cara pandang umat Islam terhadap ilmu dan pendidikan, dikalangan masyarakat Islam berkembang suatu kepercayaan bahwa hanya ilmu-ilmu agama Islam-lah yang pantas dan layak dikaji atau dipelajari oleh umat Islam, terutama anak-anak dan generasi mudanya. Sementara ilmu-ilmu sekuler dipandang sebagai sesuatu yang bukan bagian dari ilmu-ilmu yang layak dan patut dipelajari.

Cara pandang dengan menggunakan perspektif oposisi biner terhadap ilmu secara ontologis ini, kemudian berimplikasi juga terhadap cara pandang sebagian umat Islam terhadap pendidikan. Sebagian umat Islam hanya memandang lembaga-lembaga pendidikan yang berlabel Islam yang akan mampu mengantarkan anak-anak dan generasi mudanya mencapai cita menjadi Muslim yang sejati demi mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Sementara itu, lembaga-lembaga pendidikan “umum” dipandang sebagai lembaga pendidikan sekuler yang tidak kondusif mengantarkan anak-anak dan generasi muda Islam menjadi Muslim sejati yang diidolakan orang tua. Kontras dengan cara pandang di atas adalah pandangan yang juga dimiliki oleh sebagian umat Islam.

Mereka lebih cenderung memilih lembaga-lembaga pendidikan umum dengan pertimbangan jaminan mutu serta jaminan pekerjaan yang bakal dipoeroleh setelah lulus. Bagi mereka ini, lembaga pendidikan yang berlabel Islam cenderung dipandang sebagai tradisional, ketinggalan zaman, dan oleh karena itu mutu dan kesempatan kerja setelah lulus tidak terjamin.

Realitas cara pandang umat Islam terhadap ilmu dan pendidikan itu, kemudian berimplikasi kepada respon para pengambil kebijakan pendidikan (baca: Pemerintah) yang menetapkan adanya dua versi lembaga pendidikan, yakni pendidikan umum dan pendidikan agama, yang dalam implementasinya seringkali menimbulkan perlakukan diskriminatif.

Bukti dari perlakuan diskriminatif pemerintah terhadap lembaga-lembaga pendidikan umum di satu sisi dengan pendidikan keagamaan di sisi lain, adalah pada kebijakan dua kementrian/departeman, di mana Departemen Pendidikan Nasional mengurusi lembaga-lembaga pendidikan umum dengan berbagai fasilitas dan dana yang relatif “melimpah”, sementara Departemen Agama mengelola lembaga-lembaga pendidikan keagamaan dengan fasilitas dan pendanaan yang “amat terbatas”.[13]

Keterbatasan dana, fasilitas, sarana dan prasarana yang dimiliki oleh kebanyakan lembaga pendidikan di bawah Departemen Agama tersebut tentu berpengaruh terhadap kinerja dan kualitas pendidikan di banyak Madrasah dan lembaga pendidikan sejenisnya. Akibatnya, pengelolaan Madrasah tidak dapat optimal dan seringkali menyebabkan mutu lulusan Madrasah kurang mampu bersaing dengan lembaga-lembaga setingkat yang berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional.

Dampak lain yang tidak kalah seriusnya dari dikhotomi keilmuan antara ilmu-ilmu agama Islam di satu sisi dengan ilmu-ilmu di sisi lain adalah terhadap kerangka filsafat keilmuan Islam. Kendati dikhotomi keilmuan Islam telah terjadi semenjak beberapa abad yang lampau[14], namun dampaknya terhadap kerangka filsafat keilmuan Islam dirasakan semakin serius pada masa-masa kemudian.

Salah satu kerangka keilmuan Islam yang kurang “lazim” bila dibandingkan dengan kerangka filsafat keilmuan “sekuler” adalah kurang dikenalnya konsep paradigma, normal science, anomali, dan revolusi sains1, yang selama ini “mengatur” perkmebangan dan pertumbuhan sains modern. Kerangka keilmuan Islam justru dihinggapi romantisime yang menjadikan masa lalu justru sebagai kerangka utama—kalau bukan satu- satunya, pola berpikir umat Islam.

Romantisisme dalam arti yang sederhana memang diperlukan, terutama untuk menghindari terjadinya proses pencabutan pemikiran kontemporer dengan sejarah keilmuan masa lampau. Tetapi apabila romantisisme mendominasi kerangka berpikir keilmuan umat Islam, maka dinamika dan revolusi keilmuan Islam tidak akan pernah terwujud. Implikasi lain dari dikhotomi keilmuan terhadap kerangka filsafat keilmuan Islam adalah berkembangnya pemikiran yang mempertentangkan secara diametral antara rasio dan wahyu serta antara ayat-ayat qauliyah dengan ayat-ayat kauniyah.

Di kalangan umat Islam berkembang pemikiran bahwa wahyu adalah sumber utama ilmu sembari mendiskriminasikan fungsi dan peran rasio sebagai sumber ilmu. Di kalangan umat Islam juga berkembang suatu kesadaran untuk menjadikan ayat-ayat qauliyah sebagai objek kajian pokok, tetapi mengabaikan ayat-ayat kauniyah yang justru menyimpan begitu banyak misteri dan mengandung khazanah keilmuan yang kaya.[15]

Menyadari bahwa dampak dualisme atau dikhotomi keilmuan Islam telah begitu besar, para pemikir Muslim mulai menggagas konsep integrasi keilmuan Islam, yang mencoba membangun suatu keterpaduan kerangka keilmuan Islam, dan berusaha menghilangkan dikhotomi ilmu-ilmu agama di satu pihak dengan ilmu-ilmu umum di pihak lain.

Lalu, apa yang menjadi karakteristik dasar sains Islam (Islamic sciences) atau ilmu-ilmu ke-Islam-an, yang membedakannya dengan sains yang berkembang pada masyarakat modern? Terhadap pertanyaan ini, Nasim Butt, yang mengutip pandangan Ziauddin Sardar memberikan karakteristik-karekteristik dan ukuran-ukuran sains Islam yang berbeda dengan sains Barat, sebagai berikut:

Ukuran Sains Barat:

  1. Percaya pada rasionalitas.
  2. Sains untuk sains.
  3. Satu-satunya metode, cara untuk mengetahui realitas.
  4. Netralitas emosional sebagai pr-asyarat kunci menggapai rasionalitas.
  5. Tidak memihak, seorang ilmuwan harus peduli hanya pada produk pengetahuan baru dan akibat-akibat penggunaannya.
  6. Tidak adanya bias, validitas pernyataan-pernyataan sains hanya tergantung pada bukti penerapannya, dan bukan pada ilmuwan yang menjalankannya.
  7. Penggantungan pendabat, pernyataan-pernyataan sains hanya dibuat atas dasar bukti yang meyakinkan.
  8. Reduksionisme, cara yang dominan untuk mencapai kemajuan sains
  9. Fragmentasi, sains adalah sebuah aktivitas yang terlalu rumit, karenanya harus dibagi ke dalam disiplin-disiplin dan subdisiplin-subdisiplin.
  10. Universalisme, meskipun sains itu universal, namun buahnya hanya bagi mereka yang mampu membelinya, dengan demikian bersifat memihak.
  11. Individualisme, yang meyakini bahwa ilmuwan harus menjaga jarak dengan permasalahan sosial, politik, dan ideologis.
  12. Netralitas, sains adalah netral, apakah ia baik ataukah buruk.
  13. Loyalitas kelampok, hasil pengetahuan baru melalui penelitian merupakan aktivitas terpenting dan perlu dijunjung tinggi.
  14. Kebebasan ahsolut, setiap pengekangan atau penguasaan penelitian sains harus dilawan.[16]
  15. Tujuan membenarkan sarana, karena penelitian ilmiah adalah mulia dan penting bagi kesejahteraan umat manusia, setiap sarana, termasuk pemanfaatan hewan hidup, kehidupan manusia, dan janin, dibenarkan demi penelitian sains.

Ukuran Sains Islam:

  1. Percaya Pada wahyu.
  2. Sains adalah sarana untuk mencapai ridla Allah: ia merupakan bentuk ibadah yang memiliki fungsi spiritual dan sosial.
  3. Banyak metode berlandaskan akal dan wahyu, objektif dan subjektif, semuanya sama-sama valid.
  4. Komitmen emosional sangat penting untuk mengangkat usaha-usaha sains spiritual maupun sosial.
  5. Pemihakan pada kebenaran, yakni, apabila sains merupakan salah satu bentuk ibadah, maka seorang ilmuwan harus peduli pada akibat-akibat penemuannya sebagaimana juga terhadap hasil-hasilnya; ibadah adalah satu tindakan moral dan konsekuensinya harus baik secara moral; mencegah ilmuwan agar jangan menjadi agen tak bermoral.
  6. Adanya subjektivitas, arah sains dibentuk oleh kriteria subjektif validitas sebuah pernyataan sains bergantung baik pada bukti-bukti pelaksanaannya maupun pada tujuan dan pandangan orang yang menjalankannya; pengakuan pilihan-pilihan subjektif pada penekanan dan arah sains mengharuskan ilmuwan menghargai batas-batasnya.
  7. Menguji pendapat, pernyataan-pernyataan sains selalu dibuat atas dasar bukti yang tidak meyakinkan; menjadi seorang ilmuwan adalah menjadi seorang pakar, juga pengambil keputusan moral, atas dasar bukti yang tidak meyakinkan sehingga ketika bukti yang meyakinkan dikumpulkan barangkali terlambat untuk rnengantisipasi akibat-akibat destruktif dari aktivitas seseorang.
  8. Sintesa, cara yang dominan meningkatkan kemajuan sains; termasuk sintesis sains dan nilainilai.
  9. Holistik, sains adalah sebuah aktivitas yang terlalu rumit yang dibagi ke dalarn lapisan yang lebih kecil; la adalah pemahaman interdisipliner dan holistik.
  10. Universalisme, buah sains adalah bagi seluruh umat manusia dan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan tidak bisa ditukar atau dijual; sesuatu yang tidak bermoral.
  11. Orientasi masyarakat, penggalian sains adalah kewajiban masyarakat (fard kifayah), baik ilmuwan maupun masyarakat memiliki hak dan kewajiban yang meyakini adanya interdependensi antara keduanya.
  12. Orientasi nilai, sains, seperti halnya semua aktivitas manusia adalah sarat nilai; ia bisa baik atau buruk, halal atau haram; sains yang menjadi benih perang adalah jahat.
  13. Loyalitas pada Tuhan dan makhluk-Nya, hasil pengetahuan baru merupakan cara memahami ayat-ayat Tuhan dan harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas ciptaanNya: manusia, hutan dan lingkungan. Tuhanlah yang menyediakan legitimasi bagi usaha ini dan, karenanya, harus didukung sebagai tindakan umum dan bukanlah usaha golongan tertentu.
  14. Manajemen sains merupakan sumber yang tak terhingga nilainya, tidak boleh dibuangbuang dan digunakan untuk kejahatan; ia harus dikelola dan direncanakan dengan baik dan harus dipaksa oleh nilai etika dan moral.
  15. Tujuan tidak membenarkan sarana, tidak ada perbedaan antara tujuan dan sarana sains. Keduanya semestinya diperbolehkan (halal), yakni, dalam batas-batas etika dan moralitas.

Hakikat Integrasi Keilmuan & KeIslaman

Menyusun dan merumuskan konsep integrasi keilmuan tentulah tidak mudah. Apalagi berbagai upaya yang selama ini dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi Islam,  terutama di Indonesia, dengan cara memasukkan beberapa program studi ke-Islam-an diklaim sebagai bagian dari proses integrasi keilmuan.

Dalam praktek kependidikan di beberapa negara, termasuk di Indonesia, integrasi keilmuan juga memiliki corak dan jenis yang beragam. Lagi pula merumuskan integrasi keilmuan secara konsepsional dan filosofis, perlu melakukan kajian filsafat dan sejarah perkembangan ilmu, khususnya di kalangan pemikir dan tradisi keilmuan Islam.

Untuk memberikan pemahaman yang memadai tentang konsep integrasi keilmuan, yang pertama-tama perlu dilakukan adalah memahami konteks munculnya ide integrasi keilmuan tersebut. Bahwa selama ini di kalangan umat Islam terjadi suatu pandangan dan sikap yang membedakan antara ilmu-ilmu ke-Islam-an di satu sisi, dengan ilmu-ilmu umum di sisi lain.

Ada perlakukan diskriminatif terhadap dua jenis ilmu tersebut. Umat Islam seolah terbelah antara mereka yang berpandangan positif terhadap ilmu-ilmu ke-Islam-an sambil memandang negatif yang lainnya, dan mereka yang berpandangan positif terhadap disiplin ilmu-ilmu umum sembari memandang negatif terhadap ilmu-ilmu ke-Islam-an. Kenyataan itu telah melahirkan pandangan dan perlakuan yang berbeda terhadap ilmuwan.

Dari konteks yang melatari munculnya ide integrasi keilmuan tersebut, maka integrasi keilmuan pertama-tama dapat dipahami sebagai upaya membangun suatu pandangan dan sikap yang positif terhadap kedua jenis ilmu yang sekarang berkembang di dunia Islam.

Ami Ali memberikan pengertian integrasi keilmuan: Integration of sciences means the recognition that all true knowledge is from Allah and all sciences should be treated with equal respect whether it is scientific or revealed. Kata kunci konsepsi integrasi keilmuan berangkat dari premis bahwa semua pengetahuan yang benar berasal dari Allah (all true knowledge is from Allah). Dalam pengertian yang lain, M. Amir Ali juga menggunakan istilah all correct theories are from Allah and false theories are from men themselves or inspired by Satan. Dengan pengertian yang hampir sama Usman Hassan menggunakan istilah “knowledge is the light that comes from Allah “.[17]

Beberapa ayat Alquran yang digunakan oleh para pemikir Muslim untuk mendukung konsep integrasi keilmuan ini (all true knowledge is from Allah) di antaranya adalah Q.S. al-Alaq/96: 5. yaitu: Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Dalam memahami ayat tersebut di atas, M. Amir Ali mengatakan: This short verse conveys the message that all true knowledge was revealed (taught) to humankind by Allah. It is, therefore, reasonable to conclude that whatever was revealed by Allah to humankind is just as sacred as Qur’an and Sunnah. Especially when we find that Allah Himself commands mankind to reflect about His creation.[18]

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan Mudah-mudahan kamu bersyukur. 13. dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.

Konsep integrasi keilmuan juga berangkat dari doktrin keesaan Allah (tauhîd), sebagaimana dikemukakan oleh Seyyed Hossein Nasr, the arts and sciences in Islam are based on the idea of unity, whichh is the heart of the Muslim revelation.[19] Doktrin keesaan Tuhan, atau iman dalam pandangan Isma’il Razi al Faruqi, bukanlah  sematamata suatu kategori etika. Ia adalah suatu kategori kognitif yang berhubungan dengan pengetahuan, dengan kebenaran proposisi-proposisinya.[20] Dan karena sifat dari kandungan proposisinya sama dengan sifat dari prinsip pertama logika dan pengetahuan, metafisika, etika, dan estetika, maka dengan sendirinya dalam diri subjek ia bertindak sebagai cahaya yang menyinari segala sesuatu.

Bagi al-Faruqi, mengakui Ketuhanan Tuhan dan keesaan berati mengakui kebenaran dan kesatupaduan.3 Pandangan al-Faruqi ini memperkuat asumsi bahwa sumber kebenaran yang satu berarti tidak mungkin terjadi adanya dua atau lebih sumber kebanaran. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa integrasi keilmuan memiliki kesesuaian dengan prinsip al tawhîd. Mengatakan bahwa kebenaran itu satu, karenanya tidak hanya sama dengan menegaskan bahwa Tuhan itu satu, melainkan juga sama dengan menegaskan bahwa tidak ada Tuhan lain kecuali Tuhan, yang merupakan gabungan dari penafian dan penegasan yang dinyatakan oleh syahadah.

Tawhîd sebagai prinsip metodologis, menurut al Faruqi, memuat tiga prinsip utama, yaitu: Pertama, penolakan terhadap segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan realitas (rejection of all that does not correspond with reality); kedua, penolakan kontradiksi-kontradiksi hakiki (deniel of ultimate contradictions); dan ketiga, keterbukaan bagi bukti yang baru dan/atau yang bertentangan (opennes to new and/or contrary evidence).

Model-model Integrasi Keilmuan.

Merumuskan model-model integrasi keilmuan secara konsepsional memang tidak mudah. Hal ini terjadi karena berbagai ide dan gagasan integrasi keilmuan muncul secara sporadis baik konteks tempatnya, waktunya, maupun argumen yang melatarbelakanginya. faktor yang terkait dengan gagasan ini juga tidak tunggal.

Ada beberapa faktor yang terkait dengannya, yakni (1) sejarah tentang hubungan sains dengan agama; (2) kuatnya tekanan dari kelompok ilmuwan yang menolak doktrin “bebas nilai”-nya sains; (3) krisis yang diakibatkan oleh sains dan teknologi; dan (4) ketertinggalan umat Islam dalam bidang ilmu dan teknoilogi.

Model Akademi Sains Islam Malaysia (ASASI)

Model yang dikembangkan oleh Akademi Sains Islam Malaysia (ASASI) muncul pertama kali pada Mei 1977 dan merupakan satu usaha yang penting dalam kegiatan integrasi keilmuan Islam di Malaysia karena untuk pertamanya, para ilmuwan Muslim di Malaysia bergabung untuk, antara lain, menghidupkan tradisi keilmuan yang berdasarkan pada ajaran Kitab suci al-Qur’an.

Tradisi keilmuan yang dikembangkan melalui model ASAI ini pandangan bahwa ilmu tidak terpisah dari prinsip-prinsip Islam. Model ASASI ingin mendukung dan mendorong pelibatan  nilainilai dan ajaran Islam dalam kegiatan penelitian ilmiah; menggalakkan kajian keilmuan di kalangan masyarakat; dan menjadikan Alquran sebagai sumber inspirasi dan petunjuk serta rujukan dalam kegiatan-kegiatan keilmuan.

ASASI mendukung cita-cita untuk mengembalikan bahasa Arab, selaku bahasa Alquran, kepada kedudukannya yang hak dan asli sebagai bahasa ilmu bagi seluruh Dunia Islam, dan berusaha menyatukan ilmuwan-ilmuwan Muslim ke arah memajukan masyarakat Islam dalam bidang sains dan teknologi.2 Pendekatan ASASI berangkat dari menguraikan epistemologi Islam dengan menggunakan pemikiran keilmuan para ulama klasik semacam al-Ghazali yang pada umumnya menggunakan pendekatan fiqh di satu sisi dan pendekatan para filosof seperti al-Farabi di sisi lain.

Model integrasi keilmuan ASASI berangkat pada pandangan klasik bahwa ilmu diklasifikasikan ke dalam empat kategori, yaitu ilmu fard ‘ain yang wajib bagi setiap manusia Islam, ilmu fard kifayah yang wajib oleh masyarakat Islam yang perlu dikuasai oleh beberapa orang individu, ilmu mubah yang melebihi keperluan, dan ilmu sia-sia yang haram. Model ASASI menggagas kesatuan dan integrasi keilmuan sebagai satu ciri sains Islam yang berdasarkan Keesaan Allah.

ASASI mengembangkan model keilmuan Islam yang memiliki karakteristik menyeluruh, integral, kesatuan, keharmonisan dan keseimbangan. ASASI berpendapat bahwa ilmu tidak hanya diperoleh melalui indra persepsi (data empirik) dan induksi, dan deduksi, akan tetapi juga melalui intuisi, heuristik, mimpi dan ilham dari Allah.

Model Struktur Pengetahuan Islam

Model Struktur Pengetahuan Islam (SPI) banyak dibahas dalam berbagai tulisan Osman Bakar, Professor of Philosophy of Science pada University of Malaya. Dalam mengembangkan model ini, Osman Bakar berangkat dari kenyataan bahwa ilmu secara sistematik telah diorganisasikan dalam berbagai disiplin akademik.

Bagi Osman Bakar, membangun SPI sebagai bagian dari upaya mengembangkan hubungan yang komprehensif antara ilmu dan agama, hanya mungkin dilakukan jika umat Islam mengakui kenyataan bahwa pengetahuan (knowledge) secara sistematik telah diorganisasikan dan dibagi ke dalam sejumlah disiplin akademik.

Osman Bakar mengembangkan empat komponen yang ia sebut sebagai struktur pengetahuan teoretis (the theoretical structure of science). Keempat struktur pengetahuan itu adalah: (1) komponen pertama berkenaan dengan apa yang disebut dengan subjek dan objek matter ilmu yang membangun tubuh pengetahuan dalam bentuk konsep (concepts), fakta (facts, data), teori (theories), dan hukum atau kaidah ilmu (laws), serta hubungan logis yang ada padanya; (2) komponen kedua terdiri dari premis-premis dan asumsi-asumsi dasar yang menjadi dasar epistemologi keilmuan; (3) komponen ketiga berkenaan dengan metode-metode pengembangan ilmu; dan (4) komponen terakhir berkenaan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh ilmu.[21]

Menurutnya untuk membangun kerangka pengetahuan ke-Islam-an, keempat struktur pengetahuan itu, perlu diformulasikan dengan menghubungkannya dengan tradisi keilmuan Islam (Islamic sciences) seperti teologi (theology), metafisika (metaphysics), kosmologi (cosmology), dan psikologi (psychology).

Model Integrasi Keilmuan Berbasis Filsafat Klasik.

Model Integrasi Keilmuan Berbasis Filsafat Klasik berusaha menggali warisan filsafat Islam klasik. Salah seorang sarjana yang berpengaruh dalam gagasan model ini adalah Seyyed Hossein Nasr. Menurut Seyyed Hossein Nasr pemikir Muslim klasik berusaha memasukkan Tawhîd ke dalam skema teori mereka.5 Prinsip Tawhîd, yaitu Kesatuan Tuhan dijadikan sebagai prinsip kesatuan alam tabi’i (thabî’ah)1. Para pendukung model ini juga yakin bahwa alam tabi’i hanyalah merupakan tanda atau ayat bagi adanya wujud dan kebenaran yang mutlak. Hanya Allah-lah Kebenaran sebenarbenarnya, dan alam tabi’i ini hanyalah merupakan wilayah kebenaran terbawah. Bagi Seyyed Hossein Nasr, ilmuwan Islam moden hendaklah mengimbangi dua pandangan tanzîh dan tasybîh untuk mencapai tujuan integrasi keilmuan ke-Islaman.

Baca:

  1. Isra` Mi`raj Menurut Tinjauan Sains dan Teknologi
  2. Sejarah Perkembangan Islam di Spanyol

 

Catatan Kaki

[1] Sarjuni, Rekonstruksi Ilmu Pengetahuan Kontemporer, Dikutip dari Internet dalam bentuk power point.

[2]Murtadha. Muthahhari, Perspektif Al-Qur’an Tentang Manusia dan Agama, Terj. Anggota IKAPI, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 1992) h.71-76.

[3]Van Peursen, Filsafat Sebagai Seni Untuk Bertanya. Dikutip dari buku B. Arief Sidharta. Apakah Filsafat dan Filsafat Ilmu Itu? (Bandung: Pustaka Sutra, 2008). Hal 7-11.

[4]Ibid.

[5]Islam Basics: About Islam and American Muslim, Council on American-Islamic Relations (CAIR), Copyright © 2007.

[6]L. Gardet; J. Jomier “Islam”. Encyclopaedia of Islam Online. Diakses pada 2011-1-31.

[7]Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, Cet.VII, (Surabaya: PT Bina Ilmu,1987), h.47.

[8]Ibid.

[9]Ralp Ross and Ernest Van Den Haag, The fabric of society, (New York: 1957), h.195.

[10]George Thomas White Patrick, Introduction to Philosophy, (London: 1958), h.20.

[11]Djuma’in Basalim, Orientalis Terhadap Sciene, (Harian Abadi, 17 maret 1969, 20 Maret 1969.

[12]Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Pustaka Muhammadiyah, 1960), hal. 237.

[13]Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2004, Belanja Pemerintah Pusat untuk Departemen Pendidikan Nasional RI sebesar Rp. 21.585,1 milyar, sedangkan Departemen Agama RI hanya sebesar Rp. 6.690,5 milyar; berbanding 76,3% : 23,7%. Untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2005, Belanja Pemerintah Pusat untuk Departemen Pendidikan Nasional RI sebesar Rp. 26.991,8 milyar, sedangkan Departemen Agama RI hanya sebesar Rp. 7.017,0 milyar; berbanding 79,4% : 20,6%. Dan untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2006,  Belanja Pemerintah Pusat untuk Departemen Pendidikan Nasional RI sebesar Rp. 36.755,9 milyar, sedangkan Departemen Agama RI hanya sebesar Rp. 9.720,9 milyar; berbanding 79,1% : 21,9%. Lihat, Departemen Keuangan Republik Indonesia, Data Pokok APBN Tahun Anggaran 2006, Depkeu RI, Jakarta, 2006, hal. 8. Bila besaran anggaran dan prosentase tersebut dihubungkan dengan cakupan kerja kedua departemen tersebut, maka cakupan kerja Departemen Agama jauh lebih luas, dan tidak hanya mencakup bidang pendidikan, melainkan juga bidang-bidang agama yang lebih luas.

[14]Imam Al-Ghazali, misalnya membagi ilmu menjadi dua, yaitu: Pertama, ilmu pengetahuan yang berhubungan fardhu ‘ain. Menurut Imam Al-Ghazali: “Ilmu tentang cara awal perbuatan yang wajib. Jika orang yang telah mengetahui ilmu yang wajib dan waktu yang wajibnya, maka sesungguhnya ia telah mengetahui ilmu fardhu ‘ain. Yang dimaksud: “Al-Amal” di sini meliputi tiga amal perbuatan yaitu: I’tiqad, Al-Fi’li dan Al-Tark. Jadi ilmu pengetahuan baik yang berupa i’tiqad, Al-Fi’li maupun Al-Tark yang diwajibkan menurut syari’at bagi setiap individu muslim dan sesuai pula waktu diwajibkannya.Yang termasuk ilmu yang di hukum fardhu ‘ain dalam mencarinya itu ialah segala macam ilmu pengetahuan yang dengannya dapat digunakan untuk bertauhid (pengabdian, peribadatan) kepada Allah secara benar, untuk mengetahui eksistensi Allah, status-Nya, serta sifat-sifat-Nya, juga ilmu pengetahuan yang dengannya bagaimana mengetahui cara beribadah sebenar-benarnya lagi pula apa-apa yang diharapkan bermuamalah (bermasyarakat) lagi pula apa-apa yang dihalalkan.

Kedua, ilmu pengetahuan fardhu kifâyah. Adapun ilmu pengetahuan yang termasuk fardhu kifayah ialah setiap ilmu pengetahuan manakala suatu masyarakat tidak ada orang lain yang mengembangkan ilmu-ilmu itu, sehingga menimbulkan kesulitan-kesulitan dan kekacauan-kekacauan dalam kehidupan Al-Ghazali menyebutkan: “….bidang-bidang ilmu pengetahuan yang termasuk fardhu kifayah ialah, ilmu kedokteran, berhitung, pertanian, pertenunan, perindustrian, keterampilan menjahit, politik dsb. Imam Al-Ghazali, Ihya’u Ulum al-Dien, (Dar al-Fikr, Beirut-Libnan) t.t., hal. 19.

[15]Mahdi Ghulsyani, Filsafat Sains menurut Al-Qur’an, Mizan, Bandung, Cetakan Kedua-1989, hal. 78-82.

[16]Nasim Butt, op-cit, 73-74

[17]Usman Hassan, The Concept of Ilm and Knowledge in Islam, The Association of Muslim Scientists and Engineers, 2003, hal. 3.

[18]M. Amir Ali, op-cit, hal. 2.

[19]Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam, New American Library, New York, 1970, hal. 21-22.

[20]Isma’il Razi al-Faruqi, Al-Tauhid: Its Implications for Thought and Life, The International Institute of Islamic Thought, Virginia-USA, 1992, hal. 42.

[21]Osman Bakar, Reformulating a Comprehensive Relationship Between Religion and Science: An Islamic Perspective, Islam & Science: Journal of Islamic Perspective on Science, Volume 1, Juni 2003,Number 1, hal. 33-34.

Materi Khutbah Jum’at Terbaru Shalat Membentuk Kepribadian Muslim [Edisi 2019]

Materi Khutbah Jum’at Terbaru Shalat Membentuk Kepribadian Muslim Oleh: KH. Husen Kambayang

Maha Besar Allah dan Maha Agung, Maha ahli dan Berkuasa.  Dialah yang mengatur peredaran matahari, bumi, bulan dan bintang dalam peredaran yang tetap dan tepat.  Dialah yang memutar bumi sehingga terjadi siang dan malam. Dialah yang Maha Bijaksana dari segala yang bijak, Dialah yang menentukan aturan agar kehidupan dunia teratur.  Dia pulalah yang memerintahkan shalat, agar manusia hanya mengabdi kepadaNya dan tidak mengabdi kepada yang lainnya.

Dengan shalat manusia akan terus mengejar redha Allah, dengan shalat manusia akan terus membesarkan Allah. Dengan shalat manusia tidak akan tertipu dengan kehidupan yang fana. Dengan shalat, manusia akan terus merasa hina.

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang Dirahmati oleh Allah SWT!

Kini banyak manusia yang telah terbawa kepada kebanggaan ilmu pengetahuan, telah hanyut kepada kesombongan kedudukan dan kekuasaan, sehingga mereka tidak lagi perduli dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang terjadi dialam ini.

Mereka tidak menyadari bahwa bumi yang mereka pijak ini, dikendalikan oleh Penguasa alam  semesta. Dalam Surat Al-Furqaan 47 Allah Berfirman :

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا

“Dialah yang menjadikan untukmu malam sebagai pakaian, dan tidur untuk istrahat, dan Dia jadikan siang untuk berusaha”.

Siapakah yang mengantarkan siang, kalau bukan Allah..? Siapakah yang mengatur jarak antar planet, kalau bukan Allah…?

Adakah manusia yang ahli mengatur peredaran. Adakah manusia yang mampu menghentingkan gunung meletus, mencegah hujan turun, dan menghentikan badai.? Adakah orang yang mampu menangguhkan ajal walaupun sesaat..?

Berjuta pertanyaan, yang tidak bisa dijawab oleh manusia dan pasti kembalinya hanya kepada Allah SWT. Semua ini adalah isyarat bahwa manusia tidak patut berbangga dengan kehebatannya.

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang Dirahmati oleh Allah SWT!

Untuk  mengikis segala sifat yang tercela pada manusia, terutama sifat sombong dan bangga diri, maka Allah memberi kita tugas rutin shalat lima waktu, yang berarti paling sedikit “85” kali kita mengucapkan “Takbir” sehari semalam.

“Allah Maha Besar” itulah kata Agung berulang-ulang, kita ucapkan dari hari kehari, bulan ketahun, tentunya makin lama makin terkesan kedalam jiwa bahwa, Yang Agung, Yang Mulia, Yang Besar KekuasaanNya hanyalah Allah semata.

Adapun kekuasaan yang lain, kehebatan dan kekayaan, hanyalah pinjaman sementara dari Allah SWT. Dan karena itu manusia tidak boleh merasa hebat sendiri.

Ucapan “Takbiir” ini dilengkapi dengan ucapan “Tasbiih” dikala ruku’ dan sujud sebanyak “135 kali”  sehari semalam.

“Maha Besar Allah” dilengkapi dengan “Maha Suci”,  “Maha Agung” dan “Maha Tinggi”, adalah kalimat yang berulang dan terus berulang selama hayat dikandung badan, member isyarat kepada kita bahwa manusia benar-benar tidak memiliki kemuliaan, tidak memiliki kebesaran dan kehebatan.

Manusia tidak memiliki apa-apa, tidak berdaya kecuali dikehendaki oleh Allah SWT. Kalau kalimat-kalimat yang Agung itu terus kita ulang-ulangi, sekaligus kita hayati ma’na yang terkandung didalamnya, sudah barang tentu akan membekas kedalam jiwa dan berpengaruh bagi upaya mengikis sifat-sifat tercela didalam diri, terutama sifat sombong dan bangga atas keberhasilan yang dicapai.

Kini jelaslah bagi kita bahwa kewajiban shalat, sangat erat kaitannya dalam membentuk kepribadian Muslim, sekaligus dapat meningkatkan keyakinan seorang hamba.  Orang yang melaksanakan shalat, harus yakin benar akan Kekuasaan Allah, harus dia sadari bahwa alam dan seluruh isinya dikendalikan Allah.

Harus dia akui bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali jika dikehendaki oleh Allah. Kalau ada keraguan, kalau ada yang mengganggu keyakinan, harus diluruskan kembali. Karena itu kita “Wajib” membaca Surat Alfatihah paling sedikit 17 kali sehari samalam.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah yang memelihara alam semesta”, berulang-ulang kita baca.

Tujuannya agar kita bertambah yakin bahwa yang memelihara, yang memberi ni’mat, yang memberi rezeki, memberi kekuatan, kesehatan dan yang memberi segalanya ialah Allah SWT.

Kalau dalam setahun kita terus melaksanakan shalat yang paling sedikit 17 kali sehari semalam itu, berarti dalam setahun kita meluruskan keyakinan sebanyak “6205 kali”.

Tiada yang memelihara, tiada yang memberi, tiada yang menjaga, kecuali hanya Allah semata, sebanyak yang disebutkan itu,  sudah barang tentu akan membekas kedalam jiwa. Inilah tujuan “Fatehah” yang wajib dibaca, wajib meluruskan keyakinan.

Bukan hanya asal baca, asal mengucapkan dan tidak memberi pengaruh dan perobahan sikap. Kita juga dianjurkan untuk meluruskan diri dalam segala hal.  Kita harus meminta nasehat dari orang-orang yang berilmu, kita harus minta petunjuk Allah.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”, harus juga diulang-ulangi, paling sedikit 17 kali sehari semalam.

Ma’nanya, manusia tidak boleh merasa diri sempurna, lebih baik dari yang lain, lebih terhormat, lebih pandai dan sebagainya. Sungguh, perintah melaksanakan shalat itu, adalah perintah yang agung dari Yang Maha Agung, perintah yang mendidik manusia dari bermacam-macam masalah.

Perintah yang membimbing manusia kesatu arah menuju kepada kehidupan yang lebih utama, ya’ni kehidupan sesudah mati, kehidupan yang tidak seorangpun yang tidak menjumpainya.  Juga perintah yang memberi efek sampingan yang tidak sedikit bagi pembinaan moral manusia.

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang Dirahmati oleh Allah SWT!

Dilain sisi kita juga dianjurkan untuk membiasakan anak melaksanakan shalat dari sejak umur tujuh tahun. Sudah barang tentu  perintah ini bertujuan untuk mendidik agar anak menjadi orang yang berguna bagi  agama dan orang tua, yang dikenal dengan sebutan anak shaleh.

Tidak ada orang yang tidak ingin anaknya menjadi anak yang shaleh. Namun, menghendaki anak yang baik, tidaklah semuda membalik telapak tangan. Harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, harus dididik dari sejak lahir,  harus diajarkan dasar-dasar agama, harus tau membaca al-qur’an agar bisa melaksanakan ibadah, juga agar bisa mendoakan orang tuanya.

Bagaimana mungkin anak bisa berdoa tanpa mengetahui al- qur’an, bagaimana pula anak bisa shalat tanpa diajarkan aturan sembahyang dan begitu seterusnya. Karena itu, orang tua yang ingin dido’akan oleh anaknya, dia harus melaksanakan metode yang diajarkan ahlinya, yaitu junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw.

مُرُوا أَوْلادكُمْ بِالصَّلاةِ وهُمْ أَبْنَاءُ سبع سِنِينَ ، واضْرِبُوهمْ علَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ ، وفرَّقُوا بيْنَهُمْ في المضَاجعِ

“Perintalah anak-anakmu melaksanakan sembah yang dikala umur tujuh tahun dan pukullah ia saat sepuluh tahun, bila melalaikan shalat”. (HR. Abu Dawud)

Bahkan dalam al-Qur’an kita diperintahkan untuk bersabar dalam menasehati anak untuk menjalankan sholat setiap saat. Allah Ta’ala berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya” (QS: Thaha: 132)

Inilah umur yang paling tepat dalam memulai tugas penting, memulai menguasai jiwa anak, memulai membiasakan shalat. Dalam sehari semalam kita dianjurkan, paling sedikit lima kali mengadakan kontrol.

Mari kita perhatikan beberapa hal yang bertalian dengan perintah shalat ini bagi anak. Sebelum memulai tugas penting ini, tentu kita akan mendahuluinya dengan pertanyaan :

“Sudahkah kau shalat Nak..?”

Inilah pertanyaan awal, yang dapat kita katakan sebagai pertanyaan yang amat penting bagi pembentukan moral anak. Bagi anak yang masih berusia tujuh tahun, tentu akan memberi jawaban yang pas.

Artinya jika dia belum shalat, pasti akan menjawab belum, karena dia masih polos, masih takut berbohong pada orang tuanya.  Kecuali jika ayah ibunya telah “keracunan” bohong dalam rumah tangganya. Mungkin anaknya yang masih ingusan itupun sudah ketularan penyakit bohong.

Pertanyaan ini akan terus berulang “5” kali sehari semalam, atau “150” kali dalam sebulan dan “1825” kali dalam setahun. Yang berarti tiga tahun sesuai yang dianjurkan Nabi itu, akan menimbulkan pertanyaan sebanyak “5475” kali, dan jawaban sebanyak itu pula.

Dari pertanyaan orang tua dan jawaban yang benar dari anak, akan menghasilkan “kejujuran”. Selama tiga tahun berturut-turut, orang tua terus menanamkan kejujuran lewat pertanyaan tentang shalat, sudah pasti akan menghasilkan anak yang terbiasa jujur.

Sehari semalam 5 kali jujur, sebulan sama dengan 150 kali jujur, setahun sama dengan 1825 kali jujur dan tiga tahun sama dengan 5475 kali jujur bukanlah sesuatu yang kecil.

Sudah barang tentu akan membekas kedalam jiwa anak dan akan tertanam kejujuran dari sejak kanak-kanan, sikap yang menjadi pondasi dasar bagi setiap Muslim.

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang Dirahmati oleh Allah SWT!

Sesudah pertanyaan diatas, maka kalimat berikut yang akan muncul tidak lain adalah kalimat perintah.

“Ayo laksanakan shalat Nak…!

Bagi orang tua yang sungguh-sungguh hendak mendidik anaknya, sudah barang tentu akan berusaha agar perintah ini segera dilaksanakan oleh anaknya.

Kalau perintah ini sudah diusahakan untuk dilaksanakan, pasti akan menghasilkan “Ketha’atan”. Suatu sikap yang amat penting dibina dari sejak kecil, sikap yang akan menentukan nilai seorang Muslim.

Perintah ini berulang terus menerus secara rutin. Sehari semalam lima kali perintah, sebulan sama dengan “150” kali perintah dan tiga tahun sama dengan “5475” kali perintah, yang berarti sebanyak itu pula “ketha’atan” yang kita bina dari sejak kecil.

“Kalimat tanya” dan “kalimat perintah” yang mengandung pendidikan, bahwa anak harus menjawab dengan jujur, dan anak juga harus mematuhi orang tua, adalah dua hal yang amat penting bagi pembentukan kepribadian Muslim.

Kejujuran dan ketha’atan yang menjadi pondasi dasar bagi sumber daya manusia.

Kalau seorang Muslim tidak lagi jujur, kalau seorang Mu’min tidak lagi tha’at, maka keislaman dan keimanan mereka masih perlu dipertanyakan, sebab Islam sama dengan selamat dari sifat tercela dan Mu’min sama dengan tha’at kepada aturan.

Anjuran ini juga mempunyai efek samping yang amat besar nilainya. Setiap hari orang tua selalu mengadakan komunikasi yang pada dasarnya menanyakan tentang shalat, namun dibalik dari itu ada perintah dan pengawasan tersirat.

Hargailah waktu “nak, jangan sembarang keluar rumah tanpa arah, dan sebagainya. Lima kali sehari semalam kita mengadakan komunikasi dengan anak, menanyakan shalat dan yang bertalian dengan larangan shalat itu sendiri, tentu akan memberi hasil yang tidak siasia.

Lima kali sehari semalam, selama tiga tahun bertanya, jumlahnya sama dengan “5475” waktu shalat adalah jumlah yang tidak sedikit. Lima kali sehari semalam, juga kita mengadakan komunikasi dengan Allah, meminta segala yang perlu, meluruskan segala yang bengkok, mengharap segala kebutuhan, sudah barang tentu akan membentuk kepribadian Muslim yang hakiki.

Pribadi yang tangguh dalam menghadapi tugas, pribadi yang tegar dalam menghadapi tantangan, pribadi yang ulet dalam menghadapi rintangan, pribadi yang segar dalam menghadapi kesulitan hidup, pribadi yang penuh harap hanya kepada Allah SWT.

Oleh sebab itu, mari kita berusaha selama hayat masih dikandung badan, untuk tidak mengabaikan shalat, sekaligus berusaha dengan sepenuh hati untuk membina anak dan keluarga dalam menunaikan shalat lima waktu. Semoga perjuangan dan usaha kita akan mendapat redha dan pertolongan Allah SWT, serta balasan pahala yang berlipat ganda.  Amin Yaa Rabbal ‘Alamin……!

Baca Khutbah Terbaru Lainnya:

  1. Khutbah Jumat Kehidupan Dunia Hanyalah Permainan dan Sandiwara
  2. Khutbah Jumat Umur Dunia Semakin Dekat

Materi Khutbah Jum’at Singkat Kehidupan Dunia Hanyalah Permainan dan Sandiwara

Materi Khutbah Jum’at Singkat Kehidupan Dunia Hanyalah Permainan dan Sandiwara (KH. Husen Kambayang)

Marilah kita panjatkan puji syukur kehadhirat Allah SWT. Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Tuhan yang telah memberikan kita bermacam-macam ni’mat, tanpa memilih yang tha’at atau durhaka, yang syukur maupun yang kufur.

Semuanya diberi kekuatan, kesehatan dan berbagai ni’mat lainnya, sehingga dapat bekerja, berbuat dan berusaha mencari kebutuhan dan keperluan hidup. Shalawat dan Taslim kita persembahkan kepada Junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw. serta para sahabat, keluarga dan ahli warisnya sekalian.

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT

Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, seirama dengan perputaran bumi yang tidak pernah berhenti sedetikpun. Setiap pagi matahari terbit disebelah Timur tidak pernah terlambat, seirama dengan umur manusia yang terus bertambah. Mereka yang datang dan pergi silih berganti, seirama dengan pergantian siang dan malam yang tidak pernah berhenti.

Pertukaran hari dan minggu, bahkkan bulan dan tahun, hampir tidak lagi terasa, karena kesibukan manusia yang semakin padat, sehingga banyak orang yang tidak lagi menyadari bahwa umurnya semakin bertambah dan semakin tua, sangat mendesak untuk segera mempersiapkan bekal yang akan dibawa pulang dalam menempu perjalanan panjang diakhirat.

“Umur” adalah pemberian yang banyak dilalaikan orang. “Umur” adalah salah satu modal yang tak ternilai harganya, bahkan tidak dapat dibeli dengan kekayaan berapapun. “Umur” adalah kumpulan denyutan jantung yang dimulai dari detik kemenit, jam kehari, minggu kebulan dan akhirnya tahun.

Jantung bekerja tidak pernah mengenal  lelah. Diwaktu sehat maupun sakit, dia tidak pernah istrahat. Bahkan disaat jantung itu dalam keadaan “koma” sekalipun, dia masih tetap bekerja dengan setia. Kalau dia sudah tidak mampu bekerja, kalau dia sudah berhenti, kalau dia sudah tidak lagi berfungsi, itulah kematian setiap diri.

Disaat itu orang baru sadar, bahwa sesungguhnya umur ini teramat berharga dalam upaya memperbaiki iman dan amal shaleh. Disaat itu barulah orang menyesal, kenapa selama ini umurnya tidak dia manfa’atkan untuk kebaikan.?

Kebanyakan orang nanti umur hampir berakhir,  disaat itu baru mereka ingin menebus kesalahan, ingin berbuat baik sebanyak-banyaknya, ingin meminta ampun dari segala dosa dan meminta ma’af dari berbagai kesalahan.

Disaat masih hidup, dia tidak perduli dengan dosa. Disaat masih bernapas  dia gengsi meminta ma’af. Disaat masih sehat dia tidak mau berbuat. Nanti setelah datang saatnya ruh akan berpisah dengan jasad, baru dia ingin bertobat.

Menyesali perbuatannya selama ini. Mengapa kesempatan hidup ini dia sia-siakan. Kenapa dia hanya menghabiskan umurnya kepada kepentingan dunia semata. Banyak orang nanti setelah hidupnya hampir berakhir, baru mereka sadar, bahwa tujuan hidup ini tidak lain hanyalah tempat singgah sementara untuk menyempurnakan iman dan amal

shaleh, sebagai bekal yang akan dibawa pulang menghadap Allah SWT. Penyesalan demi penyesalan datang silih berganti. Semuanya telah berlalu, segalanya telah berakhir. Umur tidak bisa lagi ditebus dengan seluruh harta benda yang ada didunia ini. Dengarkanlah penyesalan orang mati yang diabadikan Allah dalam Al-Qur’an  S. Al-Munafiquun 10.

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Wahai Tuhanku, andaikata Kau tangguhkan ajalku walaupun sesaat, pasti aku akan bersedekah dan akan berusaha menjadi orang-orang shaleh”. (QS. Al-Munafiquun: 10)

Sayang penyesalan ini datang terlambat, penyesalan ini nanti sesudah mati, sesudah jasad tidak lagi berfungsi.

Alangkah menyesalnya hidup 70 tahun yang sudah diperjuangkan dengan tetesan darah dan keringat, berakhir begitu cepat.

Alangkah menyesalnya semua harta yang diperjuangkan dengan darah dan air mata, tidak satupun yang bisa dibawa mati.

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT

Apakah arti hidup ini sesungguhnya, sehingga banyak orang yang tergila-gila mengejarnya.? Bahkan banyak mereka yang lupa daratan.? Sesungguhnya hidup ini pada dasarnya hanyalah perputaran kegiatan yang hampir tidak berbeda.

Hidup adalah pergantian aktifitas yang rutin dilaksanakan. Hidup juga bisa disebut dengan kumpulan kegiatan dari bermain, bekerja, berdiri, duduk, berjalan, istrahat dan sebagainya. Hidup juga sama dengan kegiatan berdagang, bertani, berusaha mencari kebutuhan.

Hidup sama dengan kumpulan dari kegiatan makan minum, pergi pulang, susah senang, senyum dan tangis silih berganti. Hidup, bahkan lebih tepat kalau disebut dengan “masa menunggu pergantian siang dan malam sampai datangnya ajal”.

Hari berganti minggu, bulan berganti tahun, kegiatan manusia hanya dari “itu” ke “itu” juga. Bangun pagi minum teh, menuju pekerjaan pulang makan, istrahat sebentar tidak lama kemudian matahari terbenam.

Berputar beberapa kali diwaktu malam, dari meja makan, kemeja hiburan, dari bersenda gurau sampai kepermainan, tiba-tiba mengantuk kemudian tidur, maka tamatlah riwayat hidup sehari semalam dalam kesia-siaan.

Besok pagi bangun seperti kemarin dan kegiatanpun hampir sama dengan kemarin. Itulah hidup yang membuat orang lupa daratan, membuat orang saling menipu, saling menjatuhkan dan saling menghancurkan. Urusan dunia, makan minum, rumah tangga, perhiasan dan sebagainya, membuat orang saling bermusuhan dan bahkan saling membunuh.

Banyak orang yang jadi biadab, banyak orang yang jadi brutal, hanya untuk mencari semua itu. Entah ni’mat yang bagaimana lagi yang dikejar manusia. Entah kesenangan model apa lagi yang dikejar orang, sehingga mereka tergila-gila, menjadi orang gila dunia.

Mereka lupa bahwa mengejar kesenangan dunia yang akan binasa itu, sama dengan orang gila terselubung.

إِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۚ

“Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sandiwara”. 9QS. Muhammad: 36)

Allah menyebutkan hidup ini sama dengan permainan, karena dari hari kehari, kesibukan manusia hanyalah berputar-putar dari satu kegiatan kepada kegiatan lainnya yang hampir tidak berbeda. Allah menyebutkan juga hidup ini sama dengan sandiwara, karena semua yang dicari manusia hanya untuk sementara.

Orang kaya dalam hidup ini sama dengan orang kaya dalam sandiwara. Selesai sandiwara, maka berakhirlah cerita, yang kaya kembali biasa, yang budakpun demikian. Selesai hidup tamatlah semua riwayat.

Yang kaya raya, yang memiliki jabatan, yang berpangkat tinggi, yang dipertuan agung, yang dikawal dengan segala kebesaran, semuanya kembali keasal menjadi bangkai, kemudian membusuk dan akhirnya menyatu dengan tanah.

Semua kekayaan, pangkat dan jabatan serta semua yang diusahakan dengan tetesan darah dan pengorbanan, berpindah pada orang lain. Jabatan dicabut, pangkat dicopot, semuanya kembali keasal.

Kalau kita tidak menghitung umur, kalau kita tidak menghitung perbuatan, kalau kita tidak menghitung kesalahan, kalau kita tidak menghitung diri sendiri dalam segala bentuk kesalahan, maka kita juga yang akan menyesal dihari pembalasan.

“Hitunglah dirimu sebelum diperhitungkan dihari pembalasan”. Wahai orang yang tidak ingin menyesal dalam penyesalan panjang diakhirat…! Wahai orang yang umurnya telah mencapai setengah abad..! Berapa tahun lagi umur yang akan kau gunakan untuk mengejar dunia..?

Berapa lama lagi kau ingin meni’mati kesenangan dunia..? Berapa tenagamu yang telah terkuras habis untuk duniamu..? Berapa amal yang sudah kau siapkan untuk kepentinganmu yang abadi diakhirat..?

Alangkah ruginya hidup ini, kalau kita datang hanya untuk mengurus makan minum, mengganti pakaian dan perhiasan, membanting tulang hanya untuk sesuatu yang akan binasa. Alangkah menyesalnya nanti, kalau sesudah mati kita tidak membawa apa-apa.

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT

Kalau kita tidak segera memeriksa diri. Kalau kita tidak segera mengakui kesalahan sendiri. Kalau kita tidak mau korban dijalan Allah, pasti kita akan menyesal diakhirat nanti, dalam penyesalan yang tidak pernah berakhir. Penyesalan disatu persidangan yang Maha Adil dan dalam satu pemeriksaan yang amat teliti.

Itulah hari Mahsyar yang amat dahsyat, hari perhitungan yang pasti, hari duka cita dan penyesalan, hari bangkitnya semua manusia. hari itu semua orang akan menghadap Allah satu demi satu. Akan ditanya semua amalan secara terperinci, kalimat demi kalimat. Akan diteliti setiap sen dari harta dan setiap detik dari umur.

يَوْمَ نَحْشُرُ الْمُتَّقِينَ إِلَى الرَّحْمَٰنِ وَفْدًا

“Hari dimana orang-orang yang bertaqwa akan dihantar menghadap Allah dengan kenderaan, dan orang-orang yang durhaka, akan digiring ke Neraka Jahannam berbondongbondong”. (QS. Maryam: 85)

Hari itu sangat menakutkan dan memilukan. Tidak ada orang yang bisa menolong, tidak ada orang yang bisa membantu, masing-masing orang berjuang sendiri-sendiri. Anak mencari jalan seorang diri, ibu menahan pedih tiada henti, ayah menderita sakit tiada berhenti. Semua orang dalam kebingungan tiada henti.

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ

“Hari dimana seseorang lari dari saudaranya, lari dari ibu dan ayahnya, lari dari istri dan anaknya”. (QS. Abasa: 34-36)

Hari itu semua orang meraung-raung kesakitan. Semua orang berseru meminta belas kasihan. Semua orang berteriak mencari perlindungan.

Semua orang merngharapkan kasing sayang. Yang sakit tidak ada yang perduli. Yang haus tidak ada yang memberi. Yang lapar menahan pedih sendiri. Yang menderita tiada yang belas kasih. Yang merana tiada yang perduli. Semua orang bergelimang dalam ketakutan dan kesengsaraan yang amat mengerikan.

Mari kita persiapkan diri ini menghadapi hari yang pasti itu, kita segera bertaubat, kita segera beramal, kita segera kembali kepada Allah SWT. Mudah-mudahan Allah SWT. memberikan kita kekuatan dalam mempersiapkan diri ini menuju hari pembalasan. Amin Yaa Rabbal ‘Alamiin……….!

Baca Khutbah Lainnya:

  1. Materi Khutbah Jumat Singkat Kasih Sayang Allah Tiada Batas
  2. Materi Khutbah Jumat Singkat Umur Dunia Semakin Dekat

Materi Khutbah Jumat Singkat Umur Dunia Semakin Dekat [Edisi Terbaru 2019]

Materi Khutbah Jumat Singkat Terbaru 2019 [Umur Dunia Semakin Dekat] Oleh : KH. Husen Kambayang

Segala puji hanya milik Allah semata yang memelihara alam semesta, Dia yang menghidupkan, Dia yang mematikan, Dia yang Mengawasi, Merawat, Menjaga alam semesta. Dia pulalah yang menghancurkannya sehancur-hancurnya, agar manusia tidak tertipu dengan kemilau dunia yang akan segera di kiamatkan oleh Allah SWT.

Salawat dan Taslim semoga dilimpahkan kepada Junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw. serta para Sahabat dan ahli warisnya sekalian.

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang Dimuliakan Oleh Allah SWT!

Para Ulama mengatakan tanda-tanda kiamat itu sejak Nabi masih hidup sudah disebutsebut semakin dekat, dan hari ini semakin jelas bahwa tanda akan berakhirnya kehidupan ini semakin nampak.

Dalam sebuah kitab yang disampaikan oleh Syaikh Amin Muhammad Jamaluddin dalam kitabnya “Umur ummat Islam, Imam Mahdi dan Dajjal” yang disahkan oleh Departemen Pengkajian Islam Al – Azhar Kairo pada tanggal 20 Oktober 1996 M, menulis tentang fenomena akhir zaman.

Kitab ini pasti menggetarkan hati setiap orang yang beriman bahwa langit tidak lama lagi akan runtuh, bumi akan dihancurkan, laut akan meluap, gunung akan diluluhlantahkan, bintang-bintang akan berjatuhan, kiamat akan segera datang.

Pada halaman 43 dalam bab Perhitungan Umur Umat tertulis sebagai berikut : Al Hafizh Ibn Hajar dalam kitabnya “Fathul Baari” telah menerangkan kepada kita tentang hadits-hadits umur setiap ummat manusia. Dimana hadits-hadits tersebut menunjukkan, bahwa masa ummat ini atau ummat Islam adalah lebih dari seribu tahun. Karena hadits tersebut menerangkan, bahwa masa umat Yahudi adalah sama dengan masa umat Nasrani ditambah dengan masa umat Islam. Sedangkan para sejarawan bersepakat, bahwa masa kaum Yahudi sampai diutusnya Nabi Muhammad saw adalah lebih dari 2000 tahun. Adapun masa umat Nasrani adalah 600 tahun.

Kemudian Al Hafizh Ibn Hajar juga berkata : “Hadits tersebut juga mengisyaratkan tentang pendeknya masa yang tertinggal dari umur dunia Dari keterangan yang lebih terperinci dari perkataan Ibnu Hajar, disini pengarang kitab tersebut menerangkan, bahwa penjelasan beliau tersebut menunjukkan atas dua perkara, yaitu :

  1. Masa umat Yahudi adalah umur umat Nasrani digabungkan dengan umur umat Islam, atau umur umat Yahudi sama dengan umur umat Islam ditambahkan dengan umur umat Nasrani.
  2. Sesungguhnya umur umat Nasrani adalah selama 600 tahun. Hal ini diterangkan oleh sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kita shahihnya dari Salman Al Farisi ra. : “Masa antara Isa dan Muhammad saw. adalah selama 600 tahun”.[1]

Selanjutnya beliau mengatakan : Dengan demikian kita dapat mengatakan, bahwa umur umat Islam sama dengan umur umat Yahudi dikurangi dengan umur umat Nasrani. Dengan mengetahui, bahwa umur umat Yahudi dan umur umat Nasrani adalah lebih dari 2000 tahun, sedangkan umur umat Nasrani adalah 600 tahun, maka umur umat Islam sama dengan 2000 dikurangi 600, yakni 1400 tahun lebih. Dan para ahli sejarah menerangkan bahwa kelebihan dimaksud adalah ditambah 100 tahun.

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang Dimuliakan Oleh Allah SWT!

Kalau kita hitung secara rinci seperti rumus yang dikemukakan diatas, maka 2000 tahun dikurangi 600 tahun di tambah 100 tahun sama dengan 1500 tahun. Hari ini kita sudah berada pada tahun 143.. H. Maka yang kita tunggu hanya sisa 1500 dikurangi tahun Hijriah yang sedang berjalan dikurangi lagi 13 tahun Priode Makkah, maka sisanya tinggal 5.. tahun. Apakah betul hanya tinggal 5.. tahun pas, atau ditambah sedikit.., hanya Allah yang Maha Tahu.

Kemana lagi kalian akan pergi, wahai manusia yang tertipu dan menipu diri.? Kemana lagi kamu akan pergi mengejar duniamu.? Siapa lagi yang kalian tunggu untuk menjelaskan kiamat.?

Apa-apa yang disebutkan oleh Nabi sebagian besar telah terjadi. Yang kita nantikan bukan kesempatan menjadi kaya, melainkan kesempatan menjadi payah, karena kejadian besar yang akan datang tinggal menunggu waktu, yakni huru hara akhir zaman, Imam Mahdi, turunnya Nabi Isya as. Dan beberapa kejadian besar lainnya.

Dari siapa lagi berita kiamat itu akan kalian percaya. Allah dan RasulNya telah memberitakannya. Firman Allah dalam Surat Muhammad ayat 18 :

فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً ۖ فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا ۚ فَأَنَّىٰ لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ

“Maka adakah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tandatandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang .? (Muhammad 18).

Bukankah kiamat itulah yang lebih mengerikan dari pada “badai tsunami Aceh”. Kalau kita tidak segera bertobat, kalau kita tidak segera mengatasi kemungkaran dan pertikaian, kalau kita tidak kembali mengamalkan agama dengan benar. Kalau para pemimpin masih terus memperebutkan jabatan, kalau ummat tidak segera memakmurkan masjid, kalau da’wah disepelehkan. Maka kita semua yang akan tergilas oleh kesalahan kita sendiri.

Bukankah kebanyakan orang selalu menunda-nunda amal. Sebentar lagi.., besok saja.., tahun depan saja..,nantilah…., nanti sudah kawin.., nanti sudah tua dan sebagainya. Gampang nanti bertaubat…, nanti saja dulu.., Allah kan Maha Pengampun dan sebagainya.

Inilah kata-kata yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang lengah, mereka meremehkan segalanya, pada hal makin hari umur dunia makin dekat kepada kehancurannya. Sebenarnya sejak Al-Qur’an diturunkan tanda kiamat sudah ada seperti yang disebutkan dalam ayat diatas. Kini sudah hampir 1500 tahun kita menunggu. Apa lagi yang kalian tunggu wahai orang yang menunda-nunda amal.?

Mari semua, kita segera menyongsong kiamat, menyongsong kubur, mahsyar dan semua balasan akhirat dengan amal. Tidak perlu takut dengan badai tsunami kalau ada iman dan amal shaleh. Mari kita segera bersiap-siap menyongsong kematian yang akan datang menyergap setiap saat, setiap waktu, setiap jam kita mendengar orang yang mati dengan berbagai sebab.

Jangan lagi menghayal., jangan lagi menunda-nunda taubat, jangan lagi bertengkar, jangan lagi membunuh ummat, jangan lagi memperebutkan dunia yang akan binasa. Badai tsunami dahsyat, kiamat lebih dahsyat, sakaratil-maut paling dahsyat, hari mahsyar amat dahsyat dan siksa Neraka maha dahsyat.

Jangan meremehkan dosa, jangan meremehkan peringatan Allah dan RasulNya. Sungguh balasan akhirat itu “akbar”. Lebih besar, lebih dahsyat dari semua bencana dunia. Mari segera bertaubat, mari segera minta ampun kepada Allah. Sungguh Allah sedang menunggu orang yang berdosa untuk segera meminta ampun, Bahkan Allah sendri memanggil orang yang bersalah untuk segera diampuni.

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Segeralah berlombah mengejar keampunan Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Ali Imran 133)

“Segeralah” adalah panggilan Allah, seakan-akan Allah berkata : Hei hambaku kemarilah segera mengejar keampunaKu. Ini artinya Allah memanggil orang yang berdosa untuk segera diampuni. Kalau ada orang yang tidak datang alias tidak segera minta ampun ini namanya keterlaluan.

Sudah nyata-nyata salah dan dipanggil untuk diampuni, tapi tidak juga mau menghadap. Sungguh keterlaluan…, sungguh sangat disayangkan orang seperti ini, sudah dipanggil untuk diberi maaf, tapi tidak juga mau minta maaf, adalah kesalahan yang tidak patut dibijaksanai. Jangan salahkan Allah kalau orang seperti ini dicampakkan kedalam Jahannam. Jangan salahkan Allah kalau mati tertimpa bangunan akibat bencana. Maka segeralah wahai orang yang ingin selamat..! Allah sangat Pemaaf.., Allah Maha Pengampun.

Allah bahkan memanggil orang yang berdosa. Sebenarnya orang yang berdosa itu tak usah dipanggil lagi, dia sudah harus tau diri, dia yang mesti datang mengibah-ibah, menangis dan merintih dihadapan Allah. Tapi karena Kemurahan dan Kasih Sayang Allah, jualah sehingga dia malah dipanggil.

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang Dimuliakan Oleh Allah SWT!

Panggilan Allah diatas sangat mendesak, semestinya setiap orang harus berlari cepat. “Ayo segera.., cari keampunan Tuhanmu..!”

Kenapa Alah menyuruh kita cepat-cepat.? Karena memang Allah Maha Tahu, bahkan Maha Menentukan bahwa banyak diantara kita yang mungkin umur hanya sampai malam ini, yang berarti besok sudah harus berada dalam penantian kubur, bukan ditempat peristrahatan terakhir seperti kata kebanyakan orang, melainkan dalam pergulatan siksa bersama Mungkar dan Nakir, bersama kala jengking dan ular berbisa, yang bisanya menurut salah satu riwayat menyebutkan bahwa andaikata setetes bisa tumpah dibumi ini, niscaya tidak akan ada rumput yang tumbuh.

Disana baru kita menyesal dan meratap, alangkah menyesalnya panggilan Allah untuk segera bertaubat kita tidak hiraukan. Alangkah ruginya hidup ini, kita tidak manfaatkan waktu untuk sesuatu yang teramat penting menuju Allah, sesuatu yang tak ternilai harganya yaitu iman dan amal shaleh yang diawali dengan memohon ampunan Allah.

Oleh sebab itu, marilah segera mendatangi Allah dengan memohon ampunanNya. Segera dan segeralah sebelum binasa dalam kebinasaan abadi. Mudah-mudahan kita semua selamat dari huru hara akhir zaman dan selanjutnya selamat dari sioksa kubur dan api Jahannam. Amin Yaa Rabbal ‘Alamiin……..!

[1] Shahihul Bukhari, kitab Manaqib Al Anshar.

Baca Khutbah Jumat lainnya:

  1. Materi Khutbah Jumat Singkat Kasih Sayang Allah Tiada Batas
  2. Materi Khutbah Jumat Terbaru Fenomena Ummat di Akhir Zaman

Materi Khutbah Jum’at Singkat Kasih Sayang Allah Tiada Batas [Terbaru 2019]

Materi Khutbah Jumat Singkat Terbaru 2019 [Kasih Sayang Allah Tiada Batas] Oleh: KH. Husen Kambayang

Allah SWT. Maha berkuasa dari segala penguasa, Allah Yang menciptakan tujuh lapis langit dan bumi, Allah SWT. yang mengatur dan memelihara alam semesta, Allah SWT. Yang mengawasi segala gerakan alam.

Allah yang menggerakkan segala planet sehingga terjadi peredaran. Allah yang menggerakkan tanaman sehingga tumbuh berkembang dan menghasilkan berbagai jenis buahbuahan yang dibutuhkan manusia.

Allah yang menggerakkan berjuta serangga untuk pembuahan segala jenis tumbuhan. Allah yang mematangkan semua buah-buahan dengan berbagai aneka rasa yang lezat cita rasanya. Allah yang menggerakkan binatang darat dan laut, sehingga terjadi perkembang biakan.

Ni’mat Allah ada dalam peredaran matahari. Ni’mat Allah ada dalam pancaran sinar rembulan. Ni’mat Allah ada dalam aliran air terjun dipegunungan. Ni’mat Allah ada dalam hembusan angin yang membawa kesejukan.

Ni’mat Allah ada dalam tetesan air hujan yang tak terhitung jumlahnya. Ni’mat Allah ada dalam peredaran darah manusia. Ni’mat Allah ada dalam denyut nadi setiap pernapasan. Ni’mat Allah ada dalam segala gerakan dialam semesta ini.

Tidak satupun gerakan yang tidak dikendalikan oleh KeMaha Kuasaan Allah SWT. dari sejak jatuhnya sehelai daun kecil, gerakan semua bakteri sampai kepada gerakan matahari, bumi, bulan dan bintang.

Kasih sayang Allah ada pada setiap belaian kasih ibu. Kasih Sayang Allah ada pada setiap tangisan bayi ditengah malam sunyi. Kasih Sayang Allah ada pada setiap denyutan jantung. Kasih Sayang Allah ada pada setiap induk binatang yang menyusui.

Bahkan Kasih Sayang Allah tersembunyi dibalik derita ibu yang melahirkan. Kasih Sayang Allah tersembunyi dibalik kesengsaraan orang yang beriman. Kasih Sayang Allah tersembunyi dibalik kelaparan orang-orang yang tha’at.

Kasih Sayang Allah tersembunyi dibalik kesulitan orang-orang yang sabar. Kasih Sayang Allah tersembunyi dibalik orang yang bersusah-susah dijalan Allah. Kasih Sayang Allah tersembunyi dibalik kemiskinan orang-orang yang yakin kepada Allah SWT. Kasih Sayang Allah tersembunyi dibalik sakit dan penyakit.

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT

Allah SWT. menciptakan alam ini lengkap dengan segala yang dibutuhkan manusia. Menciptakan langit, matahari, bumi, bulan dan bintang.

Allah SWT. menciptakan bumi dengan segala kelengkapannya. Disana ada daratan untuk lahan pertanian dan perkebunan, disana ada gunung dengan hasil hutannya, disana ada lautan dengan beraneka ikannya, hewan laut, karang dan perhiasannya.

Allah yang menciptakan ikan, berarti Allah juga yang memelihara dan menjaganya. Allah SWT. menciptakan tanaman, berarti Allah yang memberi akar, daun, ranting, cabang, bunga dan buah. Allah yang memeliharanya dengan hujan, menyinarinya dengan sinar matahari, sehingga disamping tanaman menjadi subur, juga dengan sinar matahari itu menghasilkan oksigen yang sangat dibutuhkan makhluk, terutama manusia.

Dengarkanlah Firman Allah dalam Surat Yaasiin :

سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ – 36:36

“Maha Suci Allah yang menciptakan segalanya berpasangan. baik dari tumbuhan yang keluar dari bumi, maupun dari diri mereka sendiri dan dari apa yang mereka tidak ketahui”. (QS. Yasin: 36)

Maha Suci Allah yang menciptakan tumbuh-tumbuhan berpasangan, sehingga masih banyak hasil bumi yang bermanfa’at. Ada bunga jantan dan ada bunga betina. Maha suci Allah yang menciptakan bahwa tanaman itu tidak semuanya dikawinkan oleh tangan manusia.

Maha Suci Allah yang menciptakan bahwa hanya beberapa jenis tanaman saja yang mesti dikawinkan oleh manusia, seperti vanili, salak dan sebagainya. Maha Suci Allah yang mengawinkan kelapa, padi, jagung dan beribu jenis tanaman lainnya dengan perkawinan yang bervariasi.

Sungguh.., kalau semua jenis tanaman itu harus dikawinkan oleh manusia, berapa banyak tenaga kerja yang diperlukan dan anggaran yang harus dikeluarkan. Berapa banyak tenaga kerja yang dibutuhkan untuk mengawinkan seribu hektar sawah dan sejuta pohon kelapa.?

Sungguh.., kalau tidak karena Rahmat Allah, pasti para petani tidak pernah beruntung mengolah tanah, karena anggaran pemeliharaan lebih besar dari pada penghasilan. Mengapa banyak manusia yang tidak pernah mensyukuri ni’mat Allah..? Kenapa banyak petani yang tidak kenal terima kasih kepada Allah SWT.? Mengapa banyak manusia yang semakin durhaka bila mendapatkan hasil panen..?

Allah menciptakan bumi ini lengkap dengan segala fasilitasnya yang diperuntukkan bagi manusia, agar manusia sadar bahwa rezekinya telah dihamburkan Allah dipersada bumi ini.

Manusia hanya tinggal mengambilnya, kapan dan dimana saja dia ingini. Allah yang memelihara alam semesta, yang berarti Allah tidak mungkin mengabaikan hamba-hambaNya.

Binatang yang hina saja tidak pernah diabaikan Allah apalagi manusia. Orang yang ”durhakapun” tidak pernah diterlantarkan Allah, apalagi orang yang beriman. Kenapa orang yang beriman harus takut menghadapi hari esok..?

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT

Salah satu kebutuhan yang tidak pernah berhenti sedetikpun adalah ”oksigen”, dzaat yang sangat fital. Tanpa oksigen manusia tidak bisa bernapas alias tidak bisa hidup. Betapa Maha Kasihnya Allah terhadap hamba-hambaNya, Dia berikan oksigen itu tanpa melihat orang tha’at atau durhaka, tanpa hitung-hitung, bagi yang mulai mengurangi amal maka oksigen pun mulai dikurangi, yang durhaka tidak diberikan bagian dan yang kafir tidak mendapatkan jata.

Tidak…! Allah tidak lakukan seperti itu, semua hamba mendapatkan bagian yang sama. Yang tha’at maupun yang durhaka sama-sama mendapatkan oksigen, bahkan yang menentang Allah sekalipun, sampai binatang pun tidak ketinggalan.

Beruntung Allah tidak siapkan oksigen itu hanya bagi yang rajin ke masjid, kalau tidak semua orang akan datang ke masjid tapi bukan untuk shalat melainkan hanya untuk mengambil jata oksigen, orang kafirpun pasti akan berebutan masuk masjid.

Para ahli kesehatan mengatakan bahwa kebutuhan oksigen manusia dewasa perhari adalah 438 kaki kubik, sementara harga oksigen perkaki kubik sama dengan 1 juta rupiah. Itu berarti anggaran oksigen perorang perhari sama dengan 438 juta. Maka anggaran perbulannya sama dengan 13.140.000.000. (tiga belas milyar seratus empat puluh juta) rupiah.

Adakah orang yang mampu membayarnya setiap hari atau setiap bulan.?Adakah Pengusaha, atau Pejabat, ayau orang kaya yang mampu melunasi kebutuhan oksigen yang pertahunnya sama dengan Rp. 157,680,000,000. (seratus lima puluh tujuh milyar, enam ratus delapan puluh juta) rupiah.

Bagaimana kalau kita hitung lagi dengan perawatan jantung oleh Allah, yang dapat memompa darah kesekujur tubuh dengan panjang pembuluh darah sejauh 720 ribu kilometer.?

Adakah mesin sanyo Jepang yang dapat memompa air sejauh seribu kilometer, apalagi sejauh pembuluh darah manusia..? “Subhaanallaah”…!

Bagaimana kalau kita hitung lagi dengan fungsi kerja semua komponen tubuh.? Ginjal yang dapat mencuci 1500 liter darah perhari.? Paru-paru, hati, usus besar kecil, dan lain sebagainya.?

Bagaimana kalau kita hitung dengan kebutuhan yang Allah sediakan dibumi ini.?

Sungguh.., tidak akan ada orang kaya didunia ini, semua hasil kekayaannya, semua jeri payahnya, semua tunjangan jabatannya, semua hasil kerjanya, hanya untuk membayar ni’mat Allah yang tidak terhitung itu. Kenapa dan mengapa hanya untuk mengucapkan Alhamdulillah, masih saja ada orang yang tidak perduli.?

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

“Jika kamu hendak menghitung ni’mat Allah, pasti kamu tidak dapat menghitungnya,….”. (QS. An Nahal: 18)

Kalau menghitungnya saja tidak bisa, kapan kita bisa membayarnya. Sungguh.., walaupun seluruh hidup ini kita gunakan bersyukur, walaupun semua waktu kita gunakan untuk sujud, pasti ni’mat Allah tidak akan terbayar.

Maka tidak ada alasan bagi kita untuk mengabaikan perintah Allah, tidak ada kesempatan bagi kita untuk kufur akan ni’mat Allah. Terlalu banyak hutang kita kepada Allah, terlalu besar Kasih Sayang Allah kepada kita. Terlalu Besar Pema’afNya Allah kepada kita. Semestinya lidah kita tidak pernah diam bersyukur, karena banyaknya ni’mat yang kita terima. Semestinya hati kita tidak pernah kosong mengingat Allah karena terlalu Besar Kasih Sayang Allah kepada kita.

Mari kita buka mata hati kita, melihat Kemurahan Allah, merasakan Rahmat Allah, mari kita sadari kesalahan kita selama ini, sembari terus memuji dan membesarkan Allah SWT. Melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT.

Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan lahir batin dalam mengamalkan agama dengan sempurna. Amin Yaa Rabbal ’Alamiin…………………..!

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

Baca Juga Khutbah Jumat Lainnya:

  1. Materi Khutbah Jumat Terbaru Fenomena Ummat di Akhir Zaman 2019
  2. Khutbah Jumat Terbaru 3 Perumpamaan Sifat Manusia dalam Al-Qur’an
  3. Download 65+ Contoh Khutbah Jumat Singkat Terbaru 2019

Materi Khutbah Jumat Terbaru Fenomena Ummat di Akhir Zaman [Edisi 2019]

Materi Khutbah Jumat Terbaru 2019 [Fenomena Ummat di Akhir Zaman] Oleh: KH. Husen Kambayang

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ  اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Marilah kita terus meningkatkan iman taqwa kita kepada Allah SWT. dengan selalu melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya, sekaligus kita syukuri ni’mat pemberianNya yang tiada terbatas dengan selalu mengucapkan “Alhamdulillah”.

Shalawt dan Taslim Kita persembahkan kepada Junjungan kita Nabi Muhammad saw. Serta para sahabat keluarga dan ahli warisnya sekalian

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT

Kurang lebih lima belas abad yang silam, ketika dunia tengah tenggelam dalam kegelapan jahiliyah, ketika manusia terlena dengan dosa dan kemungkaran, secerca pengetahuan dan petunjuk kebenaran muncul dari cakrawala perbukitan “Bakkah”. Cahayanya menyebar ke Timur, Barat, Utara dan Selatan, sehingga mencapai keseluruh dunia. Hanya dalam waktu singkat, yakni selama 23 tahun, jalan yang ditunjukkan oleh cahaya tersebut telah dilalui oleh ummat manusia sehingga mereka mencapai kemuliaan sedemikian tingginya, suatu kemuliaan yang belum pernah dicapai sebelumnya. Cahaya tersebut menerangi ummat Islam dan menyadarkan mereka akan pentingnya mengikuti petunjuk kebenaran yang pada akhirnya akan membawa mereka kepada keselamatan. Dengan mengikuti petunjuk kebenaran dari cahaya tersebut, ummat Islam memperoleh keberhasilan demi keberhasilan dan mencapai puncak kemuliaan dalam sejarah. Selama beberapa abad lamanya ummat Islam memimpin dunia dengan penuh keagungan dan kekuatan, sehingga tidak ada kekuatan dimasa itu yang berani menantangnya. Ummat Islam adalah “superpawwer” dikala itu.

Sayang seribu sayang, kenyataan ini hanya tinggal cerita yang tidak bermakna. Kejayaan Islam dimasa lalu, hanya tinggal kenangan, tinggal dalam buku sejarah yang memenuhi perpustakaan Islam, hanya tinggal bacaan bagi pelajar dan mahasiswa, hanya dijadikan pengantar untuk naik tingkat atau lulus ujian.

Ummat Islam kini telah terpuruk ketingkat yang paling parah, lebih buruk dari masa jahiliyah. Betapa tidak, kalau dimasa jahiliyah orang-orang kafir menginjak-injak kebenaran, kini ummat Islam sendiri yang telah menghina kebenaran. Kini ummat Islam semakin memilukan.

Islam bukan saja dihancurkan oleh kaum kuffar, tetapi juga sedang dihancurkan oleh ummat Islam itu sendiri. Dimana-mana hal-hal yang keji, kefasikan dan kejahatan telah meningkat dengan cepat, tidak ada lagi yang tersembunyi dihadapan kita. Sikap acuh tak acuh terhadap agama, menghina dan meremehkan, sudah menjadi kebiasaan umum pada zaman ini.

Sungguh…, zaman semakin menunjukkan tanda-tanda yang memprihatinkan. Ummat manusia sudah berada dipuncak kerusakan moral yang semakin parah. Ummat Islam yang Fenomena ummat di akhir zaman semestinya memberi contoh kepada umat yang lain, justru telah melakukan pelanggaran melampaui ambang batas.

Tanda-tanda akhir zaman semakin nampak, kriminal semakin meluas, penyalah gunaan narkoba semakin mewabah, konflik antar etnis semakin melebar, pembunuhan semakin sadis, zina semakin terang-terangan, sementara upaya penaggulangannya hampir tidak lagi manjur. Ibarat pengobatan, pasien bukan saja bertambah parah melainkan para “dokterpun telah tertular berbagai penyakit. Ancaman langit yang datang silih berganti hampir tidak lagi dihiraukan. Dimana-mana orang terus tidak perduli. Kriminal, konflik, perpecahan, demontrasi, zina, narkoba, banjir, tanah longsor, gempa bumi, badai tsunami, angin putting beliung, semuanya adalah ancaman.

Kini siaga satu langit sedang mengintip setiap kelengahan, tujuh puluh dua kejadian diakhir zaman yang disebut oleh para Ulama, sebagian besar sudah terjadi. Itu berarti kita tinggal menunggu malapetaka lebih besar yang akan datang menerjang semua orang.

Kalau para Pemimpin tidak segera menyatukan langkah antisipasi, terutama Pejabat dan Ulama tidak lagi mau bekerja sama mengatasi semua ini, maka ummat ini akan semakin jauh dan akan ramailah bumi ini dengan pelanggaran hukum, kekerasan dan sebagainya.

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT

Sebenarnya Para Ulama mengatakan bahwa bencana itu hanya tinggal menunggu waktu, apabila manusia makin tidak perduli, maka akan datang bencana yang sangat mengerikan, bencana yang tidak seorangpun mengetahuinya. Allah SWT. telah menyatakan hal itu dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 16:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

 “Dan jika Kami hendak menghancurkan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orangorang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mena’ati Allah) tetapi mereka melakukan kefasikan di dalamnya, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya ketentuan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”.

Kata “Kami hendak menghancurkan suatu negeri” adalah isyarat bahwa Allah yang menghancurkan karena kedurhakaan mereka, karena makshiat yang melampaui batas.

Di dalam Surat Al-Isra ayat 58 Allah Berfirman :

وَإِنْ مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا ۚ كَانَ ذَٰلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا

 “Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya) melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat, atau Kami adzab (penduduknya) dengan adzab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis dalam kitab (Lauhil mahfuzh)”. Al-Israa 58.

Inilah peringatan keras dari Allah kepada semua orang, kata “Kami hancurkan” dalam ayat diatas, bisa jadi lebih dahsyat dari Badai Tsunami Aceh. Bahkan disini ada dua ancaman besar: “Kami hancurkan atau Kami akan kirimkan adzab yang dahsyat. Kedua-duanya adalah ancaman untuk semua Negara, apalagi Indonesia yang telah lebih dahulu menerima Badai Tsunami Aceh.

Ingat…! Sebelum kiamat ada bencana besar, ada negeri yang akan dihancurkan, ada negeri yang akan ditenggelamkan. Awas peringatan keras dari langit..! Dan ancaman itu bisa jadi seperti kebinasaan ummat-umat terdahulu.

Kita semua tidak tahu, apakah sebelum kiamat yang disebutkan dalam ayat diatas, sebelum kiamat 100 tahun, atau 50 tahun atau 10 tahun. Wallahu A’lam hanya Allah yang Maha Tahu.

Namun bagi orang-orang yang beriman tentu tidak menunggu setelah terjadi baru percaya, setelah hancur baru menyesal, melainkan harus segera mempersiapkan diri mengatasi kemungkaran dengan menggiatkan dakwah dan do’a.

Para Ulama beri tahu bahwa kedurhakaan ummat hari ini adalah kumpulan dari kedurhakaan ummat-ummat terdahulu. Ini berarti ummat dizaman ini terancam kumpulan musibah yang menimpa kaum-kaum terdahulu.

Kita semua terancam dibenamkan kebumi, terancam dihempas badai, terancam dikirim batu kerikil dari langit, terancam tenggelam dan sebagainya, seperti yang dinyatakan Allah SWT dalam FirmanNya Surat Al-Ankabuut 40:

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan hujan batu kerikil, dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan kedalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”.

Kita garis bawahi “Kami siksa disebabkan dosanya” bukan gejolak alam, bukan hutan gundul, bukan gesekan lempengan bumi seperti yang dikatakan kebanyakan orang, tapi karena dosa, karena kemungkaran, karena kriminal, karena khamar, karena judi, karena shalat telah diabaikan, karena wanita bebas berkeliaran dengan pakaian setengah telanjang dan sebagainya.

Jadi solusinya hentikan kemungkaran, hentikan khamar, hentikan judi, hentikan zina, hentikan wanita setengah telanjang, hentikan hujat menghujat, hentikan demonstrasi, hentikan tuduh menuduh dan sebagainya.

Semua ancaman diatas telah disebut sejak 1400 tahun silam oleh Allah SWT. sama-sama adalah ancaman besar yang sudah dipersiapkan Allah untuk menerjang semua orang yang tidak perduli dengan keterpurukan moral yang melanda ummat dizaman ini.

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT

Ummat sedang sakit parah…, namun karena sakit itu tersembunyi dibagian dalam alias sakit ruhani, maka kebanyakan orang merasa tidak sedang sakit. Mereka merasa tidak melakukan dosa. Banyak orang yang lebih mengetahui dosa orang lain karena setiap hari disiarkan, setiap hari dibicarakan di publikasikan.

Berbahaya..! Ummat sedang digiring melakukan ghibah masal, ummat sedang beramairamai menonton perbuatan dosa, ummat sedang melakukan dosa besar, sehingga makin hari ummat semakin tidak menyadari kesalahannya. Masjid-masjid yang menjadi indikasi keta’atan ummat, semakin sepi pengunjung, sebaliknya tempat-tempat maksiat semakin banyak peminat.

Mari segera kita kembali kepada Allah dengan mengamalkan agama, mari segera kita da’wahkan pentingnya iman dan amal shaleh, mari kita ajak semua orang untuk memakmurkan masjid, mari kita saling mendoakan antara satu dengan lainnya, mari kita bersatu menumpas kebatilan yang semakin merajalela agar kita tidak dihukum dunia akhirat.

Semoga Allah memberi kita kekuatan lahir batin untuk mengamalkan ajaran agama dengan sempurna. Amin Yaa Rabbal ‘Alamiin……………….!

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

Baca Juga Khutbah Jumat Lainnya:

  1. Khutbah Jumat tentang Iman Akhlaq Amal dan Ibadah
  2. Khutbah Jumat Terbaru 3 Perumpamaan Sifat Manusia dalam Al-Qur’an
  3. Download 65+ Contoh Khutbah Jumat Singkat Terbaru 2019