Tata Cara Tayammum yang Benar Sesuai Tuntunan Nabi SAW

Tongkronganislami.net – Pada artikel ini, akan kami uraikan Tata Cara Tayammum yang Benar Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad SAW. Pembahasan ini kami awali dengan menyebutkan beberapa dalil diperintahkannya tayammum dalam al-Qur’an dan hadis, lalu pembahasan seputar kondisi seorang muslim diperbolehkan bertayammum, lalu pembahasan langkah demi langkah bertayammum dan terakhir kami tutup dengan tayammum yang di lakukan orang sakit (rumah) dan orang yang sedang di perjalanan (kendaraan) seperti mobil, pesawat, bus, kereta dan lainnya. Pada panduan ini, kami lengkapi dengan dalil pendukung yang menurut kami adalah dalil yang paling sahih. Sehingga pada tiap-tiap langkah yang tertuang pada tulisan ini akan disisipkan dalil tersebut.

Dalil-Dalil Disyari’atkannya Tayamum

..وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا.. الآية

Artinya : … dan jika kalian sakit atau dalam perjalanan atau datang dari tempat buang air atau “menyentuh wanita” lalu kalian tidak mendapati air, maka hendaklah kalian bertayamum dengan menggunakan debu yang baik….(al-Maidah: 6) أن رسول الله – ص – قال : جعلت الأرض كلها لي و لأمتي مسجدا وطهورا فأينم أدركت رجلا من أمتي الصلاة فعنده طهوره – رواه أحمد Artinya: Sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda : Di jadikan bumi ini semuanya adalah untukku dan untuk umatku sebagai masjid dan alat bersuci , maka kapan saja seseorang mendapati waktu shalat maka di sisinya terdapat penyucinya. (H.R. Ahmad)

عن جابر أن رسول الله – ص – قال : أعطيت خمسا لم يعطيهن احد قيلي… وجعلت لي الأرض مسجدا وطهورا . فأينما أد ركت من أمتي أدركته الصلاة فاليصل…رواه البخاري و مسلم

Artinya : Dari Jabir, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda : Aku telah diberi lima hal yang tidak pernah diberikan kepada seorang pun sebelumku, :… dan dijadikanlah bumi sebagai masjid dan alat bersuci, kapan saja seseorang dari umatku mendapati waktu shalat maka hendaklah ia shalat… (H.R. Bukhari Muslim)

Sebab-Sebab Dibolehkannya Bertayamum

Dalam kitab-kitab fiqh telah disebutkan beberapa hal yang menjadi sebab dibolehkannya bertayamum, di antaranya adalah: a. Tidak ada air (surat al-Maidah ayat : 6) b. Sakit (surat al-Maidah ayat : 6) c. Musafir (surat al-Maidah ayat : 6) d. Takut mendapat madharat

لحديث عمرو بن العاص – ر ض – أنه لما بعث في غزوة ات السلاسل قال : احتلمت في ليلة شديدة البرودة , فأشفقت ان اغتسلت ان أهلك, فتيممت ثم فصليت باصحابي صلاة الصبح , فلما قدمنا على رسول الله – ص – ذكروا ذلك له , فقال : يا عمرو صليت بأصحابك و أنت جنب ؟ فقلت : ذكرت قول الله عز وجل : ولا تقتلوا أنسكم ان الله بكم رحيما , فتيممت ثم صليت , فضحك رسول الله – ص – و لم يقل شيئا – رواه أحمد و أبو داود و الحاكم والدارقطني وابن حبان –

Artinya: Berdasar hadis Amr bin al-’Ash r.a. ketika dia diutus dalam peperangan Zatu-salasil, berkata: Aku bermimpi dalam suatu malam yang sangat dingin, lalu aku khawatir jika aku mandi maka akan binasa, lalu aku bertayamum dan shalat Subuh bersama sahabat-sahabatku. Lalu ketika kami sampai kepada Nabi mereka menceritakannya. Lalu beliau bersabda; ya Amr engkau shalat bersama sahabat-sahabatmu sedangkan engkau junub ? aku berkata: Aku membacakan firman Allah: ولا تقتلوا أنسكم ان الله بكم رحيما lalu aku bertayamum kemudian shalat. Maka tertawalah Raslullah saw. Dan tidak mengatakan sesuatupun. Di dalam kitab Fiqhussunah ditambah: e. Air sangat dingin sehingga dikhawatirkan membahayakan f. Keberadaan air dekat, tapi dia takut akan keselamatan jiwanya, atau harta bendanya karena adanya musuh, atau dia tidak bisa mengambil air karena keterbatasan alat. g. Keberadaan air sangat terbatas, padahal dia membutuhkan air minum. Adapun debu yang digunakan untuk bertayamum adalah debu yang baik dan tidak terkena najis (surat al-Maidah ayat: 6). Para ulama’ juga memberi syarat bahwa dibolehkannya bertayamum adalah apa bila telah masuk waktu shalat, berdasar sebuah riwayat :

عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال : قال رسول الله – ص – جعلت لي الأرض مسجدا وطهورا أينما أدركتني الصلاة تمسحت و صليت .رواه البخاري و مسلم

Artinya : dari Amr bin Syuaib dari bapaknya, dari kakeknya, dia berkata : Rasulullah saw. Bersabda : bumi telah dijadikan untukku sebagai masjid dan alat bersuci maka kapan saja aku mendapati shalat aku bertayamum dan shalat. (Bukhari Muslim)

Panduan Tata Cara Tayammum yang Benar Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad SAW

a. Meletakkan kedua tangan di tanah lalu meniupnya, berdasarkan pada hadist:

عن عمّار قال اجنبت فلم أصب الماء فتمعّكت في الصعيد وصلّيت فذكرت ذالك للنبي صلّى الله عليه وآله وسلم فقال انما كان يكفيك هكذا وضرب النبي صلّى الله عليه وآله وسلم بكفّيه الأرض ونفخ فيهما ثم مسح وجهه وكفّيه- متفق عليه –

Artinya : dari Amar beliau berkata : aku telah junub dan tidak mendapati air lalu aku berguling-guling di tanah dan aku shalat. Setelah itu aku ceritakan kepada Nabi saw. Lalu beliau bersabda : sesungguhnya cukup bagimu seperti ini : Nabi saw. Menepukkan kedua tangannya ke tanah dan meniupnya, lalu beliau mengusap wajah dan kedua tangannya. Menurut hadis tersebut, meletakkan tangan ke tanah cukup dilakukan sekali saja juga dikuatkan oleh hadis:

عن عمار بن ياسر أن النبي – ص – قال في التيمم ضربة للوجه واليدين – رواه أحمد و أبو داود – وفي رواية أن النبي – ص – أمره بالتيمم للوجه والكفين – رواه الترمذي و صححه –

Artinya ; dari Amr bin Yasir sesungguhnya Nabi saw. bersabda tentang tayamum yaitu sekali tepuk untuk wajah dan kedua tangan. (H. R. Ahmad dan Abu daud) Dan di dalam riwayat lain : Nabi memerintahkannya bertayamum untuk wajah dan kedua tangannya (HR. Tirmidzi) Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa meletakkan tangan ke tanah dilakukan dua kali. Satu kali di usapkan ke wajah dan satu kali untuk tangan. Dasarnya adalah :

عن ابن عمر قال : قال رسول الله – ص – التيمم ضربتان , ضربة للوجه و ضربة لليدين الي المرفقين – رواه الدارقطني و صحح االأئمة وقفه –

Artinya : dari ibnu umar berkata : Rasulullah saw. bersabda : tayamum itu dua kali tepuk, yaitu satu kali untuk wajah dan satu kali untuk kedua tangan sampai siku ( Daruquthni ) Selain itu juga berdasar perkataan imam Malik ketika ditanya tentang bagaimanakah tayamum ? beliau menjawab menepukkan debu sekali untuk wajah dan sekali untuk ke dua tangan yang diusapkan sampai ke siku. Namun pendapat ini kurang kuat, dan para ulama memauqufkan hadis ini. Hadis ini hanyalah perkataan Ibnu Umar (Subulussalam II: 156). Ibnu Abdil Barr juga mengatakan bahwa kebanyakan atsar yang marfu’ dari Ammar bin Yasir adalah dengan sekali tepuk. Dan semua hadis yang menepuk dua kali adalah Mudhtharib. (Nailul Author I : 290). Begitu pula pendapat Atha’, Makhul, Auza’i, Ahmad bin Hanbal dan Ishaq. Dalam kitab Fathul-Bari juga disebutkan bahwa ini adalah pendapat jumhur ahli hadis. Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa cukuplah menepuk tangan sekali saja. b. Niat ikhlas karena Allah, sebagaimana sabdanya :

انما الأعمال بالنيات و انما لكل امرئ ما نوى …

Sesungguhnya semua perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan tiap orang adalah apa yang ia niatkan… c. Membaca basmalah, Rasulullah bersabda:

عن ابى هريرة روي عن رسول الله صلّى الله عليه وآله وسلم كلّ امر ذى بالٍ لا يُبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم اقطع رواه عبد القدير الرهويه

Artinya: dari Abu Hurairah, beliau meriwayatkan dari Rasulullah saw. “Bahwa setiap perkara yang berguna yang tidak di awali dengan bismilahirrahmanirrahim maka kurang sempurna”. d. Mengusap muka dan telapak tangan, berdasarkan hadis:

عن عمّار قال اجنبت فلم أصب الماء فتمعّكت في الصعيد وصلّيت فذكرت ذالك للنبي صلّى الله عليه وآله وسلم فقال انما كان يكفيك هكذا وضرب النبي صلّى الله عليه وآله وسلم بكفّيه الأرض ونفخ فيهما ثم مسح وجهه وكفّيه – متفق عليه –

Artinya: dari Amar beliau berkata: aku telah junub dan tidak mendapati air lalu aku berguling-guling di tanah dan aku shalat. Setelah itu aku ceritakan kepada Nabi saw. Lalu beliau bersabda: sesungguhnya cukup bagimu seperti ini  Nabi saw. Menepukkan kedua tangannya ke tanah dan meniupnya, lalu beliau mengusap wajah dan kedua tangannya. Di dalam mengusap tangan juga terjadi perbedaan pendapat apakah sampai pergelangan tangan saja ataukah sampai ke siku. Yang mengatakan mengusap tangan sampai ke siku berhujjah dengan hadis:

عن نا فع أن عبدالله بن عمر كان يتيمم الي المرفقين

Artinya: dari Nafi’ sesungguhnya Abdullah bin Umar bertayamum sampai ke siku. Akan tetapi hadis ini seandainya sahih juga mauquf hanya sampai kepada Ibnu Umar. Ada juga riwayat lain bahwa mengusapnya sampai pertengahan tangan, bahkan sampai pada ketiak. Akan tetapi hadis yang menunjukkan sampai ke siku ataupun pertengahan tangan semuanya ada maqal (perbincangan) mengenai keabsahannya. (Subulus Salam I: 154) Berdasar hujah-hujah yang telah ada maka pendapat yang lebih kuat adalah yang mengusap sampai pada pergelangan tangan saja. Ini juga diperkuat dengan pendapat dari Fatawa lajnah daimah lil buhuts al ilmiyah wal ifta yang mengatakan Cukup diusap dari ujung jari sampai persendian pergelangan tangan tidak sampai ke siku (5: 354).

Cara Bertayammum di Rumah (bagi yang sakit, kesusahan air, kedinginan, Bahaya, dll) dan di Kendaraan (bagi yang Musafir)

Pada dasarnya, bertayammum dapat dilakukan dimana saja bila mana kondisi yang kami bebutkan di atas terpenuhi. Sehingga untuk tayammum yang dilakukan di rumah (tembok, lemari, sofa, dll) atau di kendaraan (bus, pesawat, kereta, mobil, dll) tidak memiliki perbedaan berarti. Satu hal yang harus diperhatikan dalam melakukan serangkaian langkah demi langkah bertayammum yaitu kondisi debu (tanah) yang kita gunakan adalah suci. Jadi ketika kita bertayammum di sekitar rumah atau di atas kendaraan, pastikan kita memilih lokasi tanah / debu yang bersih (suci), seperti tembok rumah ataupun jendala/tempat kita duduk di kendaraan. Semoga bermanfat.

Tata Cara Mandi Wajib Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad SAW

Tata Cara Mandi Wajib – Mandi Wajib adalah mandi yang dilakukan untuk menghilangkan hadast besar, yang tidak bisa dihilangkan hanya dengan berwudhu maupun tayammum. Di masyarakat kita, istilah mandi wajib ini lebih dikenal dengan sebutan mandi junub/janabat yang dimaksudkan untuk mensucikan diri setelah melakukan hubungan suami istri. Padahal di dalam tuntunan Islam, ada beberapa kondisi seorang muslim disunnahkan untuk melaksanakan mandi wajib, bahkan di beberapa waktu diwajibkan. Karena hal itu maka postingan ini dilengkapi juga dengan pembahasan seputar penyebab-penyebab seorang muslim dalam mandi wajib yang ada pada bagian akhir tulisan ini. Di bawah ini adalah tata cara mandi wajib sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW:

1. Mencuci kedua tangan dengan meniatkan ikhlas karena Allah.

Hal ini sesuai dengan hadis Nabi berikut ini:

الحديث عائشة أن النبي.ص. كان إذا اغتسل من الجنابة يبدأ فيغسل يديه ثم يفرغ بيمينه علي شماله فيغسل فرجه ثمّ يتوضّأ وضوئه للصلاة ثمّ يأخذ الماء ويدخل اصابعه في اصول الشعر حتي إذا رأي ان قد استبرأ حفن علي رأسه قلاث حشيات ثمّ افاض علي سائر جسده ثمّ غسل رجليه…متّفق عليه

Artinya: Karena hadis Aisyah ra bahwa Nabi saw. itu kalau mandi karena junub, ia mulai membasuh kedua tanganya, kemudian menuangkan dengan kananya pada kirinya, lalu mencuci kemaluanya, lalu berwudhu sebagai wudhunya untuk shalat, kemudian mengambil air dan memasukkan jari-jarinya dipangkal rambutnya, sehingga apabila ia merasa bahwa sudah merata, ia siramkan air untuk kepalanya tiga tuangan, lalu meratakan seluruh badannya, kemudian membasuh kedua kakinya. (HR. Bukhari Muslim ). Dan berdasarkan hadis Nabi:

إنّما الآعمال بالنيات وإنّما لكلّ امرئ ما نوي. . . الحديث

“Sesungguhnya semua pekerjaan itu dengan niat…”

2. Mencuci kemaluan dengan tangan kiri dan menggosokkan tangan pada tanah yang menjadi gantinya.

Hal ini berdasarkan hadis Maimunah dari Bukhari dan Muslim:

ثمّ افرغ علي فرجه وغسله بشماله ثم ضرب الآرض,وفي رواية فمسحها بالتراب

Artinya: ”Kemudian menuangkan air pada kemaluanya dan membasuhnya dengan tangan kirinya, lalu digosokkan tanganya pada tanah”.Dan dalam riwayat lain: “Maka ia mengusap tanganya dengan tanah”.

3. Lalu berwudhu seperti wudhu untuk shalat, kemudian mengambil air dan memasukkan jari-jari pada pokok rambut setelah dilepas ikat rambutnya.

Hal ini seperti terdapat dalam hadis No.1 di atas. Dan berdasar hadis:

وعن عائشة ان اسماء سألت النبي .ص. عن غسل المحيض, فقال: تأخذ إحداكنّ ماءها وسدرتها فتطهّر فتحسن الطّهور ثم تصبّ علي رأسها فتدلكه دلكا شديداحتي تبلغ شؤون رأسها ثمّتصبّ عليها الماء ثم تأخد فرصة ممسّكة فتطهر بها. رواه مسلم

Artinya; Dari Aisyah r.a; “Sesungguhnya Asma’ menanyakan pada Nabi saw. tentang mandinya orang haid, maka Nabi bersabda:”Ambillah seorang dari kamu sekalian akan air dan daun bidara, lalu mandilah dengan baik-baik, curahkan atas kepalanya dan gosok dengan sebaik-baiknya, sehingga sampai kedasar kepalanya, lalu curahkan air lagi dari atasnya, kemudian ambil sepotong kapas (kain yang diberi minyak kasturi), lalu usaplah dengan kain itu”…(HR. Muslim). Dan karena hadis Aisyah ra:

:أنّ النبي ص. قا ل لها وكانت حائضا: أنقضي شعرك واغتسلي  رواه ابو إبن ماجه بإسناد صحيح

Bahwa Nabi saw berkata kepadanya, padahal ia sedang haid: “Lepaskanlah rambutmu dan mandilah“.(HR. Ibnu Majah dengan isnad atau rangkaian yang Shahih).

4. Memulai pada sisi kanan.

Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah;

عن عائشة أنها قالت: كان رسول الله.ص. يحب التيامن في تنعّله وترجّله وطهوره وفي شأنه كلّه متّفق عليه

Dari Aisyah, Ia berkata: bahwa Rasulullah saw. suka mendahulukan kananya dalam memakai sandalnya, bersisirnya, bersucinya dan dan segala halnya. (HR. Bukhari Muslim).

5. Menuangkan air keatas kepala 3x dan meratakan air keseluruh badan

(Lihat hadis riwayat Bukhari dan Muslim pada No.1 di atas: ”Bahwa Nabi menyiramkan air untuk kepalanya tiga tuangan, lalu meratakan seluruh badanya” ). Dan menggosokkan ketika meratakan air, karena arti kata “tathahur” dalam surat al-Maidah: 6, lebih mengesankan arti lebih dari mandi biasa.

6. Mencuci kaki dengan mendahulukan yang kanan dari yang kiri

(Lihat hadis Aisyah No.1 di atas; ”Kemudian beliau membasuh ke dua kakinya”. Dan hadis tentang mendahulukan yang kanan dari yang kiri (Hadis No.4 di atas ). Dan seharusnya tidak berlebihan dalam menggunakan air ketika mandi. Sebagaimana hadis yang diriwayatka oleh Anas: ”Adalah Nabi saw mandi dengan satu sha’ sampai lima mud dan wudhu dengan satu mud. ( HR.Bukhari Muslim ).

Sebab-Sebab orang melakukan Mandi Wajib

1. Apabila berjanabat karena mengeluarkan mani.

Sebagaimana dalam hadis disebutkan:

إ نما الماء من الماء رواه مسلم

Artinya: hayalah air itu berasal dari air (HR. Muslim)

عن علي رضي الله عنه قال كنت رجلا مذاء فسألت النبي ص م فقال في المي وضوء وفي المني الغسل  رواه أحمد والترمي وابن ماجه

Dari Ali ra beliau berkata: aku adalah seorang laki-laki yang mudah mengeluarkan mazi lalu aku bertanya kepada Nabi saw, maka beliau bersabdaa; apabila keluar mazi maka hendaklah berwudhu dan apabila kelaur mani, hendaklah mandi. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

2. Apabila bertemunya dua khitan, meskipun tidak mengeluarkan mani.

Sebagaimana yang terdapat dalam hadis Bukhari Muslim :

اذا جلس بين شعبها الأربع ثمٍ جهدها وجب عليه الغسل اخرجه البخاري والمسلم

Apabila salah seorang duduk diantara anggota-anggota tubuh perempuan yang empat, kemudian ia urus ia maka wajiblah baginya mandi. (HR. Bukhari Muslim) Akan tetapi menurut Imam Daud Adhahiri, orang yang melakukan hubungan suami istri, apabila tidak mengeluarkan mani atau inzal, tidak wajib mandi. Pendapat beliau didasarkan pada hadis Bukhari Muslim :

روي أن زيد ابن الخالد الجهني سأل عثمان بن عفان: ارأيت اذا جامع الرجل امرأته فلم يمني؟قال عثمان يتوضؤ كما يتوضؤ للصلاة ويغسل ذكره. قال عثمان سمعته من رسول الله ص م  رواه البخاري والمسلم

Telah diriwayatkan bahwa Zaid bin Khalid al-Juhni pernah bertanya kepada Usman bin Afan: “bagaiamana pendapat tuan jika seorang laki-laki berhubungan dengan istrinya tetapi tidak mengeluarkan mani?” maka usman menjawab “ia mesti berwudhu, sebagaimana wudhu untuk shalat dan ia harus mencuci kemaluannya. Dan Usman berkata “aku mendengar hal itu dari Rasulullah”. (HR. Bukhari Muslim) Pendapat tentang tidak wajibnya mandi setelah melakukan hubungan apabila tidak sampai inzal juga merupakan pendapat lima sahabat Rasulullah saw. yaitu; Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awam, Thalhah bin Ubaidillah, Ubay bin Ka’ab, serta Ayub. Sebagaimana diriwayatkan oleh Zaid bin Khakid al-Juhni. Akan tetapi hadis ini dilemahkan oleh Imam Ahmad dengan hadis berikut ini;

قال زيد بن خالد الجهني فسألت علي بن ابي طالب, والزبير بن العوام, والطلحح بن عبيدالله, وأبي بن كعب, وأيوب فأمروه بذالك رواه البخاري

Telah berkata Zaid bin Khalid al-Juhni: saya menanyakan yang demikian kepada Ali bin Abi Thalaib, Zubair bin Awwam, Thalha bin Ubaidillah, Ubai bin Ka’ab, dan Ayyub, mereka menyuruh yang demikian. (HR. Bukhari) Dan pendapat ini juga merupakan pendapat Umar bin Abdul Aziz.Sedangkan menurut para ahli fiqih, imam Malik, imam Syafi’i, sebagian jama’ah dari mazhab Dhahiri, berpendapat, bahwa apabila seseorang melakukan hubungan suami istri maka wajib mandi meskipun tidak sampai inzal. Adapun hadis yang mengatakan tidak wajibnya mandi apabila tidak sampai inzal, sudah dimansukh oleh hadis-hadis berikut;

قال ابي بن كعب أن الفتيا التي كانوا يقولون: الماء من الماء رخصة كان رسول الله ص م رخص بها في اول الاسلام ثم أمرنا بالاغسال بعدها رواهأحمد, أبو دوود, وابن ماجه

Ubai bin Ka’ab berkata: sesungguhnya fatwa yang mereka katakan; yaitu wajib Mandi dikarenakan keluar mani adalah kelonggarang yang telah diberikan oleh Rasulullah di awal islam, kemudian sesudah itu Rasulullah menyuruh mandi (meskipun tidak inzal). (HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud)

قال أبوهريرة قال النبي ص م اذا جلس بين شعبها الاربع ثم جهدها فقد وجب الغسل ح ص ر أحمد والبخاري والمسلم

Berkata Abu Hurairah: bersabda Nabi saw: Apabila salah seorang duduk diantara anggota-anggota tubuh perempuan yang empat kemudian ia urus ia maka wajiblah baginya mandi. (HR. Bukhari Muslim) Bahkan menurut Abdul Bar kelima sahabat Rasulullah saw. yang pada mulanya mengatakan tidak mandi apabila tidak inzal dan juga Tabi’in yang berpendapat seperti itu, kemudian berpendapat bahwasanya mandi itu wajib meskipun tidak sampai inzal. Kecuali Daud, yang masih berpendapat seperti pendapat awal. Beliau berdalil dengan hadis

قال أبو سعيد الخدري قال رسول الله ص م الماء من الماء  رواه أحمد

Abu Said al-Khudri ra berkata: Rasulullah saw bersabda sesungguhnya air itu berasal dari air. (HR. Ahmad)

3. Apabila hendak menunaikan shalat Jum’at.

Dalam hal ini ada perbedaan pendapat tentang wajib tidaknya mandi ketika hendak menghadiri shalat Jum’at. Muhammadiyah dalam masalah ini, tidak menerangkan apakah mandi sebelum shalat Jum’at wajib atau tidak. Sebagaimana yang tertulis dalam HPT. Akan tetapi Muhammadiyah hanya berpendapat bahwasanya mandi pada hari Jum’at adalah masyru’ atau disyariatkan. Pendapat ini didasarkan pada hadis

عن ابن عمر رضي الله عنه قال قال رسول الله ص م اذا أراد أحدكم أن يأتي الجمعة فاليغسل رواه مسلم

Dari Ibnu Umar ra berkata : sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: Apabila salah seorang diantara kamu mendatangi shalat Jum’at maka hendaklah ia mandi (HR. Muslim) Diantara ulama’ yang mewajibkan mandi pada hari Jum’at adalah ulama’ Ahlu-Dhahir, imam Malik, Ibnu Huzaimah, Ibnu Hazm dan satu pendapat dari Imam Syafi’i. Mereka beralasan dengan dalil sebagai berikut;

عن أبي سعيد أن النبي ص م قال غسل يوم الجمعة واجب علي كل محتلم والسواك وأن يمس من الطيب ما يقدر عليه متفق عليه

Dari Abi said berkata: sesunggunya Rasulullah saw bersabda: mandi pada hari Jum’at adalah wajib bagi setiap laki-laki yang sudah bermimpi dan bersiwak serta memakai wangian apabila ia mampu. (Muttafaqun alaih)

عن أبي هريرة عن النبي ص م قال حق علي كل مسلم ان يغتسل في كل سبعت أيام يوما يغتسل فيه رأسه وجسده متفق عليه

Dari abu Hurairah ra dariRasulullah saw bersabda: wajib setiap muslim mandi pada satu hari dari hari-hari yang tujuh yang di dalamnya dia membasahi kepala dan badanya. (Muttafaqun alaihi) Berkaitan dengan waktu wajibnya mandi pada hari Jum’at, ada beberapa perbedaan di kalangan para ulama’, yaitu : a. Jumhur ulama’ berpendapat bahwasanya kewajiban mandi tidak harus mendekati waktu shalat jum’at, akan tetapi bisa di awal hari, yang penting sebelum shalat Jum’at. Karena yang diwajibkan dalam hadis adalah hari Jum’at, bukan ketika hendak melakukan shalat Jum’at, dan salah satu illatnya adalah supaya jama’ah lain tidak tertanggu oleh bau badanya, sehingga tidak boleh sesudah shalat Jum’at. b. Imam Malik berpendapat bahwa wajibnya mandi itu ketika hendak melaksanakan shalat Jum’at. karena pada asalnya nama Jum’at adalah nama segiatan berkumpulnya jama’ah untuk melakukan shalat Jum’at, bukan nama untuk sebuah hari. c. Imam Daud berpendapat bahwasanya kewajiban mandi pada hari Jum’at tidak harus mendekati waktu shalat Juma’at, bahkan boleh sebelum terbenamnya matahari pada hari Jum’at, karena hari Jum’at itu berahir ketika matahari terbenam. Sedangkan ulama’ yang berpendapat bahwasanya mandi pada hari Jum’at tidak wajib melainkan disunahkan diantaranya; jumhur ulama dari kalangan salaf dan khalaf dan para fuqaha.menurut Qodhi Iyyad pendapat ini juga merupakan pendapat yang dikenal dari mazhab imam Malik. Diantara yang menjadi dalil dari kelompok ini adalah;

من توضأ فأحسن الوضوءثم أتي الجمعت فاستمع وانصت غفر له ما بين الجمعة الي الجمعة وزيادة ثلاثة أيام  رواه مسلم

Barang siapa yang berwudhu dan membaguskan wudhunya kemudian mendatangi shalat Jum’at kemudian ia diam serta memperhatikan khutbah, maka diampuni dosanya dari Jum’at yang satu ke Jum’at yang lain dan ditambah tiga hari (HR. Muslim)

وعن ابن عمر أن عمربين هو قائم في الخطبة يوم الجمعة اذ دخل رجل من المهاجرين الاولين فناداه عمر أية الساعة هذه؟ فقال اني سغلت فلم أنقلب الي أهلي حتي سمعت التأذين فلم أزد علي أن توضأت, والوضوء أيضا وقد علمت أن الرسول الله ص م كان يامر بالغسل متفق عليه

Dari Ibnu Umar, bahwasanya tatkala Umar sedang berkhutbah tiba-tiba datang seorang laki-laki dari golongan Muhajirin yang perta kemudian Umar menegurnya, “waktu seperti ini baru datang?” kemudia dia menjawab “Sesungguhnya aku sangat sibuk aku belum sempat kembali ke keluargaku dan aku sudah mendengar azan sehingga aku hanya sempat berwudhu, kemudia Umar berkata “engkau berwuhu, padahal engkau tahu bahwasanya Rasulullah menyuruh untuk mandi”. (Muttafaqun alaihi) Dalam hadis ini Umar menegur jama’ah yang datang terlambat dan berwudhu sebelum menunaikan shalat Jum’at, karena yang diperintahkan oleh Rosululloh adalah mandi sebelum menunaikan shalat Jum’at. Seandainya mandi pada hari Jum’at adalah wajib tentu Umar akan menyuruh orang tersebut kembali dan mandi terlebih dahulu, akan tetapi Umar tidak menyuruh demikian. Sedangkan kata waajib yang ada pada hadis Abi Sangid dan kata haqqun pada hadis Abu Hurairah, menurut kelompok ini bukanlah menunjukan kewajiban akan tetapi sunah yang sangat dianjurkan. Sebagaimana kalau seseorang mengatakan ”haqqun ’alaina muwashilatuka” atau ”waajibun ’alaina muwashilatuka” kata ini bukan menunjukan kewajiban melainkan anjuran yang sangat. Dan dalam hadis Abu Hurairah perintah mandi diikuti oleh perintah bersiwak dan memakai minyak wangi, padahal sudah diketahui bahwasanya memakai minyak wangi bukan wajib melainkan sunah.

4. Apabila selesai dari haidh. Sebagaimana dalam surat al-Baqarah

ولاتقربوهن حتي يطهرن

Dan janganlah kamu dekati mereka sehingga mereka suci

ولحديث عائشة ان فاطمة بنت ابي حبيش كانت تستحاض فسالت النبي ص م فقا ل ذالك عرق وليس بالخيضة فاا أقبلت الخيضة فدعي الصلاة فاا برت فاغتسلي فصلي رواه البخاري

Karena hadis Aisyah sesungguhnya Fatimah binti Hubaisy beristihadhah kemudian ia bertanya kepada Nabi, lalu Nabi menjawab: itulah darah penyakit bukan haid. Apabila datang haid tinggalkanlah shalat dan apabila telah berhenti haidnya maka hendaklah ia mandi dan melaksanakan shalat (HR. Bukhari)

5. Masuk Islam.

Dan ini merupakan pendapat imam Malik dan Ahmad. Akan tetapi menurut imam Syafi’i dan Abu Hanifah hukumnya sunah.

6. Memandikan mayit.

عن أبي هريرة عن النبي ص م قال من غسل ميتا فليغتسل ومن حمله فليتوصأ رواه الخمسة

Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw bersabda: barang siapa yang memandikan mayat maka hendaklah ia mandi dan barang siapa yang membawanya maka hendaklah ia berwudhu (HR. khamsah) Akan tetapi hadis ini menurut Abu Dawud sudah dimansukh, dan banyak ulama’ yang mendhaifkan hadis ini. Imam Malik dan Ash-habusyafi’i mengatakan bahwa mandi setelah memandikan jenazah adalah sunah bukan wajib, karena adanya hadis yang mengatakan

ان ميتكم يموت طاهرا فحسبكم أن تغسل أيديكم  أخرجه البيهقي وحسنه ابن حجر

Sesungguhnya mayat kalian adalah suci maka cukuplah bagi kalian mencuci tangan kalian (HR. Baihaqi dan dihasankan oleh Ibnu Hajar)

وحديث: كنا نغغسل الميت فمنا من يغتسل ومنا من لا يغتسل أخرجه الخطيب من حديث عمر

Sesungguhya kami itu memandikan mayat dan diantara kami ada yang mandi dan ada yang tidak mandi (HR. Al-Khatib dari Umar)

Cara Mensucikan Macam-Macam Najis dan Contohnya

Tongkronganislami – Najis secara bahasa adalah segala sesuatu yang dipandang kotor atau menjijikkan secara syar’i Najis adakalanya hakiki / hissiyah (wujudnyanya bisa terindera), seperti kencing. Dan adakalanya hukmiyah (hadast), seperti janabat. Menurut Sayyid Sabiq dalam kitabnya, fiqhus-sunah. Najis secara istilah adalah kotoran yang wajib dibersihkan oleh seorang muslim dan dicuci apa-apa yang terkena oleh najis itu.

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“Dan pakaianmu, bersihkanlah.” (al-Mudatstsir: 4)

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“…Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (al-Baqarah: 222)

Macam-Macam Najis yang Telah disepakati Ulama

Daging babi

Daging babi adalah najis, walaupun disembelih secara syar’i. Karena najis ‘ain (najis secara zat), pengharamannya berdasarkan al-Qur’an. Jadi, daging dan semua bagiannya seperti bulu, kulit dan tulangnya meskipun disamak adalah najis.

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ(145)

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi –karena sesungguhnya semua itu kotor– atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al An’am : 145) Menurut Malikiyah, babi yang masih hidup adalah suci, karena tidak adanya dalil yang jelas yang menyatakan najisnya dalam keadaan hidup.

Darah

Yaitu semua jenis darah, baik itu yang dialirkan seperti dari penyembelihan, maupun bukan seperti darah haidh, kecuali darah manusia karena perang (syahid), darah kucing, ikan dan darah yang mengental dari asalnya, yaitu hati dan limpa atau darah yang tersisa pada urat-urat hewan setelah disembelih yang tidak mengalir.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah. (QS. Al Maidah : 3) Cara membersihkan darah haidh menurut Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, dengan menyiramnya dengan air hingga hilangnya sifat-sifatnya dari rupa, bau dan rasanya, dan tidak mengapa tertinggal bekas salah satu sifat najis tadi.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ خَوْلَةَ بِنْتَ يَسَارٍ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَيْسَ لِي إِلَّا ثَوْبٌ وَاحِدٌ وَأَنَا أَحِيضُ فِيهِ قَالَ فَإِذَا طَهُرْتِ فَاغْسِلِي مَوْضِعَ الدَّمِ ثُمَّ صَلِّي فِيهِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ لَمْ يَخْرُجْ أَثَرُهُ قَالَ يَكْفِيكِ الْمَاءُ وَلَا يَضُرُّكِ أَثَرُهُ

Dari Abu Hurairah bahwasanya Khaulah binti Yasar datang kepada Nabi saw. pada waktu haji atau umrah, lalu ia berkata; “Hai Rasulullah, saya tidak mempunyai pakaian kecuali selembar yang kupakai sedang saya berhaidh”. Jawab Nabi saw.: “jika kamu telah bersih dari haidl, maka cucilah tempat yang kena darah, lalu shalatlah dengan pakaian itu.”Kemudian Khaulah menanya pula, “Hai Rasulullah, bagaimana jika bekas darah tadi tidak hilang?” Jawab Nabi saw.: “Cukup bagimu dengan memakai air, dan tidak mengapa akan bekas darah tadi.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)

عَنْ أَسْمَاءَ قَالَتْ جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِحْدَانَا يُصِيبُ ثَوْبَهَا مِنْ دَمِ الْحَيْضَةِ كَيْفَ تَصْنَعُ بِهِ قَالَ تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ ثُمَّ تَنْضَحُهُ ثُمَّ تُصَلِّي فِيهِ.

Dari Asma berkatalah ia: “Datang kepada Nabi saw. Seorang wanita berkata: Seorang dari pada kami pakaiannya terkena darah haidh, bagaimana harusnya dilakukan? Maka bersabda Nabi saw. Supaya dia menghilangkan dan mencuci pakaian itu dengan air, kemudian disiramnya lalu di pakai shalat.“ (Diriwayatkan oleh imam Enam)

Muntah, kencing dan kotoran manusia

Kencing, kotoran dan muntah hewan yang tidak dimakan dagingnya adalah najis. Tidak ada satu dalil pun yang menajiskan muntah, namun hukumnya najis menurut kesepakatan para ulama, kecuali jika kadarnya sedikit, maka dapat dimaafkan. Menurut Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, cara beristinja, bisa dengan air, dengan tiga batu atau dengan yang lainnya selain tulang dan kotoran.

عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ الْخَلَاءَ فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلَامٌ نَحْوِي إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً فَيَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ. (متفق عليه)

Dari ‘Atha bin Abi Maimunah, bahwa ia mendengar Anas bin malik berkata: “Rasulullah s.a.w. masuk ke jamban, maka aku bersama anak yang sebaya denganku membawa tempat air dan tongkat, lalu beliau beristinja’ dengan air. (Muttafaq ‘Alaih)

عَنْ سَلْمَانَ قَالَ: لَقَدْ نَهَانَا رسول الله أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ. (رواه مسلم)

Dari Salman, berkata: Rasulullah saw. telah melarang kami menghadap kiblat saat buang air besar, kencing, istinja’ dengan tangan kanan, istinja’ dengan kurang dari tiga batu, beristinja’ dengan kotoran atau tulang. (HR. Muslim)

Khamr

Menurut Jumhur khamar mencakup setiap yang cair lagi memabukan. Kebanyakan fuqaha berpendapat bahwa khamar adalah najis. Sebagian ahli hadis berpendapat bahwa barangnya sendiri tidaklah najis, melainkan suci. Hal ini sama kedudukannya dengan candu, uang dari hasil riba, alat-alat berjudi dan sebangsanya, yang semuanya itu bila dilihat dari bendanya adalah suci, sedang yang haram adalah memakan, meminum dan memakannya.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. (al-Maidah: 90) Makna najis dalam ayat tersebut searti dengan najis yang terdapat dalam surat al-Hajj ayat 30 :

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ

“Hendaklah kamu jauhi najis yang bernama berhala”. Di tengah-tengah masyarakat bangsa-bangsa akan ditemukan berbagai macam jenis minuman beralkohol yang memabukkan, seperti wiski, jenever, brandi, tuak, arak, sake, vodka dan sebangsanya. Berbagai jenis minuman serupa ini hukumnya adalah haram, baik dalam jumlah banyak atau pun sedikit, sampai menyebabkan mabuk maupun tidak mengakibatkan mabuk. Apakah Nanah najis?Yaitu darah busuk yang tidak bercampur dengan darah, ataupun yang sejenisnya, yaitu yang bercampur dengan darah.

Wadi dan madzi

Wadi adalah air yang berwarna putih, kental, sedikit berlendir yang keluar mengiringi keluarnya air kencing dikarenakan kelelahan. Sedang madzi adalah air yang berwarna putih juga, bergetah, yang keluar karena kuatnya dorongan syahwat, akan tetapi keluarnya air itu tidak disertai dengan perasaan apa-apa. Kedua cairan tersebut hukumnya najis. Sehingga kalau salah satu dari keduanya menimpa badan hendaklah dicuci dan seandainya mengenai kain, maka cukuplah dipercikkan air ke atasnya. Aisyah ra. mengatakan:

وأما الودي فإنه يكون بعد البول فيغسل ذكره وأنثييه وَيتوضأ ولايغتسل. (رواه ابن المنذر)

Wadi itu keluar setelah kencing selesai. Maka hendaklah mencuci kemaluannya (baik laki-laki ataupun perempuan) dan berwudhu, tidak perlu mandi. (HR. Ibnu Mundzir)

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً وَكُنْتُ أَسْتَحْيِي أَنْ أَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ

Dari Ali, ia berkata: Saya kerap kali mengeluarkan madzi, sedang saya sendiri malu menanyakannya pada Rasulullah SAW, karena putrinya menjadi istriku, maka saya menyuruh Miqdad untuk menanyakannya. Miqdad pun menanyakan kepada beliau. Beliau menjawab “Hendaklah ia basuh kemaluannya dan berwudhulah”. (HR. Bukhari-Muslim) Hadis diatas menunjukan bahwa tidak wajib mandi sebab keluar madzi. Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fathul Bari: Pendapat itu sudah ijma’. Dan hadis itu juga menunjukkan bahwa perintah wudhu’ karena keluar madzi itu seperti perintah wudhu’ karena kencing.

Bangkai hewan selain hewan air yang mengalir darahnya

Semua bangkai secara umum hukumnya najis. Namun dalam hal ini ada beberapa macam bangkai yang dikeluarkan dari hukum najis, antara lain bangkai manusia, belalang dan bangkai ikan. Begitu juga dengan bangkai hewan yang darahnya secara inderawi tampak seolah-olah tidak mengalir, seperti bangkai semut, nyamuk, lebah, lalat atau sebangsanya adalah tidak najis.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah. (QS. Al Maidah : 3)

Daging Hewan yang tidak Dimakan

Daging hewan yang tidak dimakan adalah najis, begitu pula susunya karena berasal dari dagingnya, maka hukumnya adalah sama.

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى خَيْبَرَ ثُمَّ إِنَّ اللَّهَ فَتَحَهَا عَلَيْهِمْ فَلَمَّا أَمْسَى النَّاسُ الْيَوْمَ الَّذِي فُتِحَتْ عَلَيْهِمْ أَوْقَدُوا نِيرَانًا كَثِيرَةً فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا هَذِهِ النِّيرَانُ عَلَى أَيِّ شَيْءٍ تُوقِدُونَ قَالُوا عَلَى لَحْمٍ قَالَ عَلَى أَيِّ لَحْمٍ قَالُوا عَلَى لَحْمِ حُمُرٍ إِنْسِيَّةٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَهْرِيقُوهَا وَاكْسِرُوهَا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْ نُهرِيقُهَا وَنَغْسِلُهَا قَالَ أَوْ ذَاكَ. (رواه البخاري ومسلم وابن ماجه)

Dari Salamah bin Al Akwa’, ia berkata: Kami keluar bersama Nabi saw ke Khaibar, kemudian Allah swt menaklukannya atas mereka, maka ketika waktu sore pada hari setelah ditaklukannya Khaibar, mereka menyalakan api banyak, lalu Rasulullah saw. Bertanya: Apakah api ini, untuk apa kalian menyalakannya? Mereka menjawab: untuk daging! Ia bertanya: daging apa? Mereka menjawab: daging himar piaraan! Maka Rasulullah saw. berkata: tumpahkanlah dan pecahkanlah! Maka seorang laki-laki bertanya: ya Rasulullah, adakah kami menumpahkannya dan mencucinya? Maka sabdanya: ya demikianlah! (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ لَمَّا كَانَ يَوْمُ خَيْبَرَ جَاءَ جَاءٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أُكِلَتْ الْحُمُرُ ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أُفْنِيَتْ الْحُمُرُ فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبَا طَلْحَةَ فَنَادَى إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يَنْهَيَانِكُمْ عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ فَإِنَّهَا رِجْسٌ أَوْ نَجِسٌ. (متفق عليه)

Dari Anas bin Malik, ia berkata, pada hari Khaibar datang seseorang, lalu ia berkata, “wahai Rasulullah, telah dimakan keledai”, kemudian datang yang lain, lalu berkata “wahai Rasulullah, telah dihabiskan (daging) keledai”, lalu Rasulullah saw. memerintahkan Abu Thalhah (untuk memberitahu mereka), kemudian Abu Thalhah menyeru: “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang kalian dari memakan daging keledai piaraan, karena sesungguhnya hewan itu kotor atau najis”. (Muttafaq ‘alaih) Asy Saukani menjadikan kedua hadis tersebut sebagai dasar atas najisnya daging binatang yang tidak boleh dimakan, karena; pertama, adanya perintah memecahkan bejana-bejana, kedua, untuk mencucinya, dan yang ketiga, sabda Nabi saw.: “Sesungguhnya ia adalah kotor dan najis”. Tetapi itu semua adalah penegasan tentang himar-himar piaraan, sedang untuk semua binatang-binatang lain yang tidak boleh dimakan dagingnya adalah diqiaskan dengan itu karena sama-sama tidak boleh dimakan dagingnya, dan tidak wajib (mencuci) tujuh kali. Bagian yang terpisah atau dipotong dari hewan yang masih hidup, seperti tangan dan ekor, kecuali rambut dan yang sejenisnya seperti bulu domba, bulu onta dan bulu burung.

عَنْ أَبِي وَاقِدٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا قُطِعَ مِنْ الْبَهِيمَةِ وَهِيَ حَيَّةٌ فَهِيَ مَيْتَةٌ. (رواه الحاكم وصححه على شرط الشيخين, وأخرجه أبو داود والترمذي وحسنه عن ابى واقد الليثي رضي الله عنه)

Dari Abu Waqid, bahwa Rasulullah telah bersabda : “Sesuatu yang dipotong dari seekor binatang, sedang ia masih hidup maka (potongan hidup) itu adalah bangkai”.

Macam-Macam Najis yang Masih Dipersilisihkan Ulama

Air liur Anjing

Imam Syafi’i dan Ahmad berpendapat anjing adalah najis. Sedangkan menurut Abu Hanifah, anjing bukanlah najis ‘ain, karena bisa dimanfaatkan kesetiaan dan buruannya. Sementara menurut Imam Malik anjing adalah suci, baik itu anjing yang digunakan untuk berburu, mengembala atau bukan. Menurut Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, cara menghilangkan najis dari air liur anjing ini dengan mencucinya tujuh kali, salah satunya dengan debu yang bersih.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ. أخرجه أحمد و مسلم. والترمذي: أُولَاهُنَّ أَوْ أُخْرَاهُنَّ بِالتُّرَابِ

Dari Abu Hurairah: “Sucinya bejana salah seorang dari kamu sekalian, apabila digunakan minum oleh anjing, supaya dicuci tujuh kali, permulaannya dengan debu.” (HR. Muslim dan Ahmad). Dan Tirmidzi meriwayatkannya dengan tambahan: “Permulaannya atau penghabisannya dengan debu.” Menurut Abu Hanifah, mencuci najis itu sama seperti mencuci semua jenis najis, jika ia yakin telah hilang najisnya maka telah cukup meskipun hanya sekali cuci. Sementara menurut Malik, dicucinya najis hanya sebagai ta’abbudiyah, dan itupun hanya khusus pada jilatannya. Pensyarah Nailul Authar berkata, telah terjadi khilaf, apakah dicampurnya dengan tanah itu di dalam tujuh kali atau diluarnya. Menurut dzahirnya hadist Abdullah bin Mughaffal, bahwa debu itu di luar tujuh kali dan itulah yang lebih kuat dalilnya. Ibnu Hajar berkata didalam kitab Fathul Bari: Riwayat yang menggunakan kata uulaahunna (pertama kalinya dicampur dengan tanah) adalah lebih kuat sebab lebih banyak dan lebih mahfudz, dan juga dari segi maknanya. Syafi’i menentukan, bahwa mencuci yang pertama dengan tanah itu lebih utama.

Bangkai hewan air dan hewan yang tidak mengalir darahnya

Para Imam madzhab sepakat bahwa bangkai hewan air dan semisalnya dari hewan laut itu suci.

أحلت لنا ميتتان ودمان: السمك والجراد، والكبد والطحال .(أخرجه أحمد وابن ماجه والدارقطني عن ابن عمر، وفيه ضعف (سبل السلام: 1/25، نيل الأوطار: 8/150)

“Telah dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah, yaitu ikan dan belalang, hati dan limpa”

هو الطهور ماؤه الحل ميتته .( أخرجه أصحاب السنن الأربعة وابن أبي شيبة، واللفظ له، وصححه ابن خزيمة والترمذي عن أبي هريرة (سبل السلام: 1/14))

“Air laut itu suci dan halal bangkainya”
Tetapi Fuqoha berbeda pendapat tentang bangkai hewan yang darahnya tidak mengalir. Menurut Hanafiyah daging dan kulit dari bangkai hewan yang darahnya mengalir itu najis, kecuali setelah disamak. Sedangkan untuk hewan yang darahnya tidak mengalir, jika jatuh di air maka tidak menajiskannya, karena hewan itu sendiri suci, seperti kutu, lalat, kumbang, kalajengking dan semisalnya.

إذا وقع الذباب في شراب أحدكم، فليغمسه، ثم لينزعه فإن في إحدى جناحيه داء وفي الأخرى شفاء. (رواه البخاري عن أبي هريرة)

“Apabila lalat jatuh dalam minuman salah seorang diantara kalian, maka celupkanlah, kemudian hendaklah dibuang, karena salah satu sayapnya ada penyakit dan sayap lainnya adalah penawarnya.” Sedangkan menurut Syafi’iyyah bangkai hewan yang darahnya tidak mengalir itu najis. Sementara menurut Imam Ahmad suci. Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa ulat yang dilahirkan dalam makanan, jika ia mati didalamnya maka tidak menajiskannya dan boleh dimakan bersama makanan itu. Sementara hewan yang hidup di air seperti kodok, jika mati di air yang sedikit, maka menajiskannya menurut Ahmad, Malik dan Syafi’i. Menurut Syafi’iyyah dan Hanabilah bahwa bangkai hewan laut yang hidup di darat, seperti katak, buaya dan ular itu najis.

Bagian-bagian bangkai keras yang tidak berdarah

Menurut Hanafiyah, bagian-bagian bangkai yang keras yang tidak berdarah itu suci, seperti tanduk, tulang, gigi, gading gajah, kuku kuda, kuku sapi, kuku unta, rambut, bulu, karena semuanya itu bukan bangkai, sebab menurut syara’, bangkai hewan itu untuk sebutan hewan yang hilang nyawanya dengan proses yang tidak sesuai syari’at. Sedangkan hal-hal diatas tidak ada kehidupan didalamnya, maka itu tidak bisa disebut bangkai. Menurut Jumhur kecuali Hanafiyah, semua bagian bangkai itu najis, dikecualikan oleh Hanabilah, rambut dan bulunya itu suci. Ia berargumen dengan hadist dha’if:

لا بأس بمسك الميتة إذا دبغ، وصوفها وشعرها إذا غسل )رواه الدارقطني(

“Tidak mengapa (menjadi suci) kulit bangkai jika telah disamak, bulu dan rambutnya tika telah dicuci.” Ringkasnya, Fuqaha selain Syafi’iyyah berpendapat bahwa rambut, bulu dan bulu burung dari hewan yang mati adalah suci.

Kulit bangkai

Menurut Abu Hanifah, kulit bangkai itu semuanya suci dengan disamak, kecuali kulit babi. Pendapat yang masyhur di kalangan Malikiyah dan Hanabilah, bahwa kulit bangkai itu najis, baik sudah disamak atau belum, karena itu bagian dari bangkai.

عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ جُلُودِ السِّبَاعِ

Dari Abil Malih bin Usamah dari ayahnya, bahwa Nabi saw. melarang (memanfa’atkan) kulit-kulit binatang buas. (HR Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i) Sedangkan menurut Syafii semua kulit bangkai itu suci jika sudah di samak, kecuali kulit anjing, babi dan sejenisnya.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ

Dari Abdullah bin ‘Abbas, ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah saw. mengatakan apabila disamak kulit, maka ia telah suci. (HR. Muslim)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ تُصُدِّقَ عَلَى مَوْلَاةٍ لِمَيْمُونَةَ بِشَاةٍ فَمَاتَتْ فَمَرَّ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَلَّا أَخَذْتُمْ إِهَابَهَا فَدَبَغْتُمُوهُ فَانْتَفَعْتُمْ بِهِ فَقَالُوا إِنَّهَا مَيْتَةٌ فَقَالَ إِنَّمَا حَرُمَ أَكْلُهَا. (رواه الجماعة إلا ابن ماجه)

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Maula Maimunah diberi sedekah seekor kambing, lalu kambing itu mati, kemudian lewatlah Rasul saw. Lalu ia bersabda: “Mengapa kamu tidak mengambil kulitnya, kemudian kamu samak, lalu kamu memanfa’atkannya? Mereka menjawab: Sesungguhnya itu bangkai. Ia bersabda: Yang diharamkan itu hanya memakannya. (HR Jama’ah, kecuali Ibnu Majah) Dalil itu menunjukkan meskipun kulit bangkai itu suci dengan disamak, tapi tidak halal dimakan.

Kencing bayi yang belum makan apa-apa kecuali ASI

Syafi’iyyah dan Hanabilah menetapkan bahwa sesuatu yang terkena kencing atau muntah bayi laki-laki yang belum makan selain ASI (sebelum 2 tahun), meskipun itu najis tapi dicukupkan dengan memercikannya. Sementara untuk bayi perempuan perlu dicuci. Sebagaimana hadist Nabi saw.:

إِنَّمَا يُغْسَلُ بَوْلُ الْجَارِيَةِ وَيُنضَح بَوْلِ الْغُلَامِ. (رواه أحمد)

Dicuci kencing bayi perempuan, dan diperciki kencing bayi laki-laki. (HR. Ahmad) Sedangkan Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah hanya menyebutkan cara membersihkan kencing bayi laki-laki, yaitu dengan memercikinya sampai basah, berdasarkan hadist nabi saw.:

عَنْ أُمِّ قَيْسٍ بِنْتِ مِحْصَنٍ أَنَّهَا أَتَتْ بِابْنٍ لَهَا صَغِيرٍ لَمْ يَأْكُلْ الطَّعَامَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَجْلَسَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حِجْرِهِ فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ فَدَعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ.

Dari Ummu Qais binti Muhshan ra. “bahwa ia bersama-sama anaknya laki-laki yang masih kecil dan belum pernah makan makanan, telah datang kepada Rasulullah. Lalu Nabi mendudukkan anak tadi di atas pangkuannya: tiba-tiba anak itu kencing pada pakaian beliau: kemudian beliau meminta air, lalu dipercikkan dan tidak dicucinya.” (HR. jama’ah ahli hadist) Hanafiyah dan Malikiyah menyatakan najisnya kencing dan muntah anak kecil laki-laki atapun perempuan, dan wajib mencucinya berdasarkan keumuman perintah hadist membersihkan dari kencing.

استنزهوا من البول فإن عامة عذاب القبر منه. (الدارقطني)

Bersihkanlah diri kalian dari kencing, karena kebanyakan azab kubur itu (disebabkan) olehnya. (HR. Daruqutni) Malikiyah berpendapat: Dimaafkan pakaian atau badan yang terkena kencing atau kotoran bayi, baik itu ibunya sendiri maupun orang lain jika ia telah berhati-hati untuk menjauhkannya. Tetapi jika kotor disunahkan mencucinya.

Kencing dan kotoran dari hewan yang dimakan dagingnya

Dalam hal ini ada dua pendapat: Pertama,Malikiyah dan Hanabilah berpendapat suci. Malikiyah mengecualikan hewan yang memakan atau meminum barang yang najis, maka kotorannya adalah najis. Demikian juga kencingnya semua hewan, hukumnya mengikuti hukum dagingnya. Maka kencing hewan yang haram dimakan adalah najis, kencing hewan yang halal dimakan adalah suci, dan kencing hewan yang makruh dimakan adalah makruh. Mereka beralasan bahwa Rasulullah membolehkan suku ‘Urainah meminum kencing dan susu unta.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَهْطًا مِنْ عُكْلٍ أوَقَال عُرَيْنَة قدموا فاجتووا الْمَدِينَةَ فَأَمَرَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلقاحٍ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَخْرُجُوا فَيَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا

Dari Anas bin Malik, bahwa satu kaum dari suku Uklin, atau Anas mengatakan suku Urainah, mereka datang ke Madinah lalu sakit, kemudian Nabi saw. memerintahkan mereka membawa unta-unta perahan dan memerintahkan mereka agar keluar (dari Madinah), kemudian minum air kencing dan air susunya. (HR Ahmad, Bukhari dan Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلَمْ تَجِدُوا إِلَّا مَرَابِضَ الْغَنَمِ وَأَعْطَانَ الْإِبِلِ فَصَلُّوا فِي مَرَابِضِ الْغَنَمِ وَلَا تُصَلُّوا فِي أَعْطَانِ الْإِبِلِ. (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. bersabda: Apabila telah datang waktu shalat, lalu kalian belum mendapatkan (tempat shalat) kecuali di tempat ternak kambing dan pemberhentian unta, maka shalatlah di tempat ternak kambing, dan jangan kalian shalat di tempat pemberhentian unta. (HR. Bukhari) Bolehnya shalat di tempat ternak kambing menunjukkan sucinya kotoran dan kencing kambing. Dan dianalogikan hewan lainnya yang halal dimakan.Ibnu Taimiyah mengatakan: “Tidak seorangpun dari para sahabat yang menyatakan kenajisan binatang yang halal dimakan dagingnya.” Pernyataan yang menyatakan kenajisannya merupakan pendapat baru. Sedangkan mencuci kotoran tersebut hanyalah merupakan usaha untuk membersihkannya saja. Kedua, Hanafiyah dan Syafi’iyyah berpendapat najis secara mutlak. Hanya saja Hanafiyah berpendapat bahwa kencing hewan yang halal dimakan adalah najis mukhaffafah (ringan), maka boleh shalat bagi seseorang yang terkena najis itu seperempat pakaian. Sedangkan kotoran kuda dan sapi adalah najis mughaladzah (berat), seperti halnya kotoran hewan yang tidak halal dimakan, karena Rasulullah saw membuang kotoran itu dan mengatakan itu kotor atau najis. Sebagaimana hadist dari Abu Hurairah ra.

أَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْغَائِطَ فَأَمَرَنِي أَنْ آتِيَهُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ فَوَجَدْتُ حَجَرَيْنِ وَالْتَمَسْتُ الثَّالِثَ فَلَمْ أَجِدْهُ فَأَخَذْتُ رَوْثَةً فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَأَخَذَ الْحَجَرَيْنِ وَأَلْقَى الرَّوْثَةَ وَقَالَ هَذَا رِكْسٌ. (رواه البخاري وابن ماجه وابن خزيمة)

Nabi SAW pernah buang air besar, lalu beliau menyuruhku membawakan tiga batu untuk beliau. Akan tetapi, aku hanya mendapat dua batu saja. Selanjutnya aku mencari batu yang ketiga, namun tidak juga mendapatkannya, lalu aku mengambil kotoran dan aku membawanya kepada beliau. Maka beliau hanya mengambil dua batu saja dan membuang dua kotoran tersebut seraya berkata: ini adalah najis.Dalam riwayat yang lain ditambahkan dengan lafadz sebagai berikut: “Sesungguhnya itu adalah najis, karena merupakan kotoran keledai.” Mereka membantah tentang perintah Nabi saw. untuk minum air kencing unta, karena itu sekedar untuk obat, sedangkan berobat dengan barang yang najis itu boleh ketika tidak ada sesuatu yang suci.

Apakah Mani najis?

Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa mani itu najis. Menurut Ahmad, mani manusia suci, dan Syafi’i suci secara mutlak, kecuali mani anjing dan babi.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: سئل النبي صعلم عن الْمَنِيّ يصيب الثوب، فقال: إنما هو بِمَنْزِلَةِ الْمُخَاطِ والبصاق وإنما يكفيك أن تمسحه بخرقة أوبِإِذْخِرَةٍ. (رواه الدارقطني)

Dari Ibnu Abbas, berkata: Nabi saw. ditanya tentang mani yang mengenai pakaian, lalu Ia menjawab: “Mani itu sama kedudukannya seperti ingus, liur, dan dahak. Dan cukup bagimu mengusapnya dengan kain atau dengan rumput idzkir (tumbuhan yang wangi). (HR. Daruqutni) Cara membersihkannya menurut Malik, dengan mencucinya dengan air, baik mani itu kering maupun basah. Sementara menurut Abu Hanifah dicuci jika basah, dan dikerik jika kering. Dan wajib mandi janabah bagi yang mengeluarkan mani (baca: tata cara mandi junub). Hal ini didasarkan penjelasan Siti Aisyah r.a:

كنت أفرك المني من ثوب رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا كان يابسا وأغسله إذا كان رطبا. رواه الدارقطني وأبو عوانة والبزار.

“Kukorek mani itu dari kain Rasulullah saw. bilamana ia telah mengering, dan kucuci kain itu bila masih basah”.

Najiskah Air yang keluar dari luka?

Hanafiyah dan Malikiyah menganggap yang termasuk dari barang-barang najis adalah: Qaih (nanah yang mengental yang keluar dari bisul), Shadid (nanah encer yang bercampur darah), dan air yang keluar dari luka (berwarna putih jernih) seperti air yang keluar karena kulit yang melepuh kena panas, kudis, dan yang semisalnya. tetapi dimaafkan jika sedikit. Syafi’iyyah dan Hanabilah bersepakat bersama para Imam yang lain dalam menghukumi najisnya qaih, dan shadid, tapi Hanabilah menetapkan bahwa dimaafkan jika itu sedikit. Ukuran sedikitnya yang tidak membatalkan wudhu itu adalah yang tidak mengotori diri. Dan dimaafkan nanah dan yang semisalnya melebihi ukuran dimaafkannya darah. Dimaafkan juga jika keluar dari hewan yang suci, dan dari manusia dari selain kemaluan. Jika berasal dari kemaluan, maka dimaafkan. Yang paling shahih dari madzab Syafi’i: Sucinya darah jerawat, darah kutu, kotoran lalat, air yang keluar dari luka, dan darah bekam, baik itu sedikit ataupun banyak. Dan yang paling jelas adalah dimaafkannya darah yang sedikit yang berasal dari orang lain (darah orang yang mengenai dirinya).

Mayat dan sesuatu yang mengalir dari mulut orang yang tidur

Menurut Hanafiah, mayat itu najis, berdasarkan fatwa sebagian sahabat (Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair), seperti semua mayat. Jumhur berpendapat, bahwa ia suci, karena Rasulullah saw. bersabda

إِنَّ الْمُسْلِمَ لَا يَنْجُسُ. البخاري

“Sesungguhnya orang Islam itu tidak najis”. (HR. Bukhari) Adapun air yang mengalir dari mulut orang yang tidur adalah suci, sebagaimana dijelaskan Syafi’iyyah dan Hanabilah. Hanya saja Syafi’iyyah dan Malikiyah berpendapat: jika keluar dari lambung seolah-olah berbau busuk dengan warna kuning seperti lendir yang keluar dari lambung, maka najis. Tetapi jika bukan keluar dari lambung atau ragu apakah keluar dari lambung atau bukan, maka suci. Diceritakan dari Abu Hanifah bahwa sesuatu yang keluar dari lambung adalah suci. Malikiyah menganggap yang termasuk suci adalah: Qalas (muntah), yaitu sesuatu yang dikeluarkan lambung berupa air ketika lambung itu penuh, selagi itu belum menyerupai perubahan salah satu sifat kotoran.

Jalalah (Hewan Liar)

Adalah hewan liar yang makan kotoran, baik kotoran unta, sapi, kambing, ayam, angsa dan lain-lainnya, sehingga hewan tersebut berubah baunya. Semua yang keluar dari hewan tersebut adalah najis, dagingnya tidak boleh dimakan dan air susunya tidak boleh diminum, serta tidak boleh dijadikan tunggangan.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ لَبَنِ الْجَلَّالَةِ. رواه أبوا داود

Dari Ibnu Abbas, bahwasannya Rasulullah saw. melarang (minum) susu hewan jalalah. (HR. Abu Daud)

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى يَوْمَ خَيْبَرَ عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ وَعَنْ الْجَلَّالَةِ وَعَنْ رُكُوبِهَا وَعَنْ أَكْلِ لَحْمِهَا. رواه أحمد و النسائي و أبوا داود

Bahwasannya Rasulullah saw. pada hari Khaibar melarang (makan) daging himar jinak, hewan jalalah, menjadikannya tunggangan, dan memakan dagingnya. (HR. Ahmad, Nasa’i dan Abu Daud) Akan tetapi jika hewan jalalah ini dipelihara serta diberi makan yang suci, sehingga dagingnya menjadi baik dan bau busuknya pun hilang, maka hewan ini menjadi halal untuk dimakan. Sementara sebutan jalalah padanya pun menjadi hilang dengan sendirinya. Air sebagai Alat untuk Menghilangkan najis

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ

“…dan Allah menurunkan kepadamu air dari langit untuk menyucikan kamu dengannya…”. (al-Anfal; 11)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ أَبَا ثَعْلَبَةَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفْتِنَا فِي آنِيَةِ الْمَجُوسِ إِذَا اضْطُرِرْنَا إِلَيْهَا قَالَ إِذَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهَا فَاغْسِلُوهَا بِالْمَاءِ وَاطْبُخُوا فِيهَا

Dari Abdillah bin Umar, bahwa Abi Tsa’labah pernah bertanya: Ya Rasulullah, berilah kami fatwa tentang bejana orang Majusi, kalau kami terpaksa (menggunakannya). Nabi saw. Menjawab: “Apabila kamu terpaksa (menggunakannya), maka cucilah dengan air dan masaklah dengannya.” (HR. Ahmad) Air adalah pokok alat untuk mensucikan, karena telah disifati di dalam Qur’an dan Sunah secara mutlak dengan tanpa dibatasi. Tetapi pendapat yang menentukan hanya air saja sebagai alat untuk mensucikan, sedang yang lain tidak, adalah ditentang dengan hadis tentang “mengusap kasut”, “mengerik mani”, “mengerik mani dan menghilangkannya dengan rumput idzkhir” dan banyak yang lainnya. Membersihkan Tanah Yang terkena Najis Tanah yang terkena najis bisa disucikan dengan menyiramkan air ke atasnya, berdasarkan hadist:

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

Dari abu Hurairah berkata: Berdirilah seorang Baduwi lalu kencing di dalam mesjid, kemudian orang-orang berdiri untuk memukulnya, lalu Rasulullah saw. Bersabda: Biarkanlah dia, dan tuangkanlah setimba air di atasnya, karena sesungguhnya kamu di utus untuk memudahkan dan tidak di utus untuk mempersukar”. (HR Jama’ah kecuali Muslim) Tanah yang terkena najis juga bisa suci dengan keringnya tanah tersebut, hal ini juga bisa dianalogikan untuk yang semisalnya, seperti pohon dan bangunan.

قالت عائشة: زكاة الأرض يـبسها. رواه ابن أبي شيبة

‘Aisyah berkata: “Sucinya tanah adalah (dengan) keringnya” Hal itu berlaku jika najisnya cair, tapi jika tidak cair, maka tidak bisa dihilangkan kecuali dengan membuangnya atau memindahkannya. Membersihkan Alas Kaki Alas kaki dan yang sejenisnya itu sucinya adalah dengan menggosokkannya ke tanah, baik basah atau kering serta melihat zatnya. Tidak ada bedanya antara najis yang bermacam-macam, bahkan semua kotoran yang mengenai alas kaki, sucinya adalah digosok dengan debu.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى قَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَقْلِبْ نَعْلَهُ فَلْيَنْظُرْ فِيهمَا فَإِنْ رَأَى خَبَثًا فَلْيُمِسَّهُ بِالْأَرْضِ ثُمَّ لِيُصَلِّ فِيهِمَا

Dari Abi Sai’d, bahwa Rasul saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu datang ke mesjid, maka baliklah kedua alas kakinya dan lihatlah pada keduanya, kalau ia melihat kotoran, maka gosoklah dengan tanah kemudian sembahyanglah dengan memakai kedua terompah itu.” (HR. Ahmad dan Abu Daud) Dan juga dicukupkan dengan mengusapnya dengan benda keras seperti istinja, bahkan itu lebih utama menurut Sayyid Sabiq, karena menghilangkannya dua kali atau tiga kali seperti halnya istinja. Membersihkan Minyak dan yang sejenisnya Jika najis yang terjatuh ke dalam minyak itu tidak mencemari keseluruhannya, maka cara menghilangkannya ialah dengan membuang najis itu dan minyak yang tercemari disekitarnya.

عَنْ مَيْمُونَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ فَأْرَةٍ سَقَطَتْ فِي سَمْنٍ فَقَالَ أَلْقُوهَا وَمَا حَوْلَهَا فَاطْرَحُوهُ وَكُلُوا سَمْنَكُمْ

Dari Maimunah, bahwasanya Rasulullah saw. ditanya tentang tikus yang jatuh ke dalam minyak, lalu Rasul menjawab: “Buanglah tikus itu dan minyak disekitarnya, dan makanlah minyak kamu”. (HR. Bukhari) Tetapi jika najis itu cair, maka pendapat jumhur adalah minyak itu harus dibuang semuanya (tidak bisa dipakai lagi) karena menjadi tercemar seluruhnya dengan terjatuhnya najis tersebut. Imam Zuhri dan Auza’i berpendapat sesuatu yang cair hukumnya sama seperti air, yaitu tidak najis kecuali air itu berubah dengan sebab kejatuhan najis itu. Tetapi jika tidak berubah, maka tetap suci. Ini juga pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dan Bukhari. Membersihkan najis dari benda-benda yang mengkilap dan sejenisnya Mensucikan cermin, pisau, kuku, tulang, kaca, bejana yang berminyak, dan setiap benda yang mengkilap yang tidak berpori adalah dengan mengusapnya, karena para sahabat pernah shalat sambil membawa pedang mereka yang terkena darah, mereka mengusapnya dan mereka merasa cukup dengan yang demikian itu (usapan itu cukup untuk mensucikannya).

Jawaban Atas Tuduhan Arthur Jeffery Pada Al-Qur’an

Tongkronganislami.net – Arthur Jeffery (m. 1959) adalah seorang orientalis terkemuka dalam studi sejarah al-Qur’an. Ia menghabisi hampir keseluruhan hidupnya untuk mengkaji al-Qur’an. Ia mengedit beberapa karya para ulama kita seperti Kitab al-Masahif, karya al-Sijistani, anak Abu Daud, seorang Muhaddits terkenal dan juga Muqaddimah Kitab al-Mabani dan Muqaddimah ibn Atiyyah. Selain itu, Ia menulis beberapa buku lagi dan tentunya artikel yang berkaitan dengan al-Qur’an. Dalam pandangan Jeffery, al-Qur’an yang ada sekarang ini sebenarnya telah mengalami berbagai tahrif yang dibuat ‘Uthman bin Affan, al-Hajjaj ibn Yusuf al-Thaqafi dan Ibn Mujahid.
Menurut Jeffery, Uthman ra tidak sepatutnya menyeragamkan berbagai mushaf yang sudah beredar di berbagai wilayah kekuasaan Islam. Dalam pandangan Jeffery, tindakan Utham ra. tersebut, didorong oleh motivasi politik. Jadi, jika logika Jeffery diikuti, maka ‘Uthman telah melakukan tahrif pertama al-Qur’an dengan melakukan kanonisasi.Jeffery juga menuduh bahwa al-Hajjaj ibn Yusuf al-Thaqafi (m.95 H) telah membuat al-Qur’an versi baru secara menyeluruh. Jeffery juga menyalahkan Ibn Mujahid yang mengikis perbedaan qiraah dengan memprovokasi khalifah untuk menghukum Ibn Shanabudh di Baghdad (245-328).
Selain itu, dalam pandangan Jeffey, al-Qur’an memuat sejumlah permasalahan yang sangat mendasar. (1) Aksara gundul di dalam Mushaf ‘Uthman yang menjadi penyebab perbedaan varian bacaan. (2) Mushaf-Mushaf yang sejak awal sudah beredar adalah Mushaf-Mushaf tandingan (rival codices).
Berdasarkan Mushaf-Mushaf tersebut, Jeffery berpendapat bahwa al-Fatihah bukanlah bagian dari al-Quran. Al-Fatihah adalah do’a yang diletakkan di depan dan dibaca sebelum membaca al-Qur’an. (3) Jeffery juga menegaskan bahwa ada ayat-ayat yang hilang di dalam al-Qur’an.Berikut ini jawaban kepada tuduhan-tuduhan Jeffery. ‘Uthman ra. melakukan standartisasi teks bukan karena alasan politis, namun untuk menghindari berbagai kesalahan yang akan terjadi pada al-Qur’an. Jadi, tindakan ‘Uthman ra sangat diperlukan karena Ia mempertahankan kebenaran otentisitas al-Qur’an. Oleh sebab itu, para sahabat saat itu menerima dengan senang hati keputusan Uthman untuk melakukan standardisasi.
Menurut Mus’ab bin Sa‘d, tak seorangpun dari Muhajirin, Ansar dan orang-orang yang berilmu mengingkari perbuatan ‘Uthman ra. (Lihat Abu ‘Ubayd al-Qasim Ibn Sallam, Fadha’il al-Qur’an, Editor Wahbi Sulayman Ghawaji, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1991, Cet. Pertama; lihat juga Abu Bakr ‘Abdullah Ibn Abu Daud Sulayman Ibn al-Ash’ath al-Sijistani, Kitab al-Masahif, Editor Muhibbuddin Abd Subhan Wa’id, Beirut: Dar al-Basyair al-Islamiyyah, 2002, Cet. Kedua, Jilid I ).Jeffery dengan mengeksploitasi informasi yang ada di dalam Kitab al-Masahif, menuduh al-Hajjaj telah merubah al-Qur’an. Bagaimanapun, Jeffery tidak mengkaji lebih lanjut mengenai sanad yang ada di dalam karya tersebut.
Padahal kalangan muhaddithun mengklasifikasikan ‘Abbad ibn Suhayb sebagai seorang yang ditinggalkan (ahad min al-matrukin). Ibn Hajar di dalam Lisan al-Mizan memuat berbagai pendapat para muhaddithun mengenai ‘Abbad ibn Suhayb sekaligus contoh-contoh hadits yang diriwayatkannya. Jadi, riwayat ‘Abbad bukan saja lemah, namun lebih tepat dikatakan palsu. Hampir seluruh muhaddithun, baik sebelum atau sesudah ‘Ibn Abi Dawud menolak hadits dari ‘Abbad ibn Suhayb.
Riwayat dari ‘Auf ibn Abi Jamilah juga bermasalah. Sekalipun ia thiqah (terpercaya), namun punya kecenderungan syiah dan anti Umayyah. Al-Hajjaj, sebagai salah seorang tokoh Umayyah, wajar saja menjadi target ‘Auf ibn Abi Jamilah.Argumentasi lain yang perlu juga dikemukakan sebagai berikut. Pertama, al-Hajjaj setia kepada ‘Uthman. Ia tidak akan memaafkan orang yang membunuh ‘Uthman. Ia akan membela Mushaf ‘Uthman dari segala bentuk perobahan.
 
Kedua, pada zaman al-Hajjaj, Masahif ’Uthmani sudah tersebar dimana-mana dan jumlahnya sangat banyak. Al-Hajjaj adalah salah seorang saja dari Gubernur di zaman kekhalifahan Abdul Malik ibn Marwan (684-704 M), yang menguasai daerah yang lebih luas.
Seandainyapun, al-Hajjaj sanggup mengubah berbagai salinan yang ada Kufah, daerah kekuasannya, tetap saja ia tidak akan sanggup mengubah ribuan atau semua salinan yang ada di Mekkah, Medinah, Syam, dan di daerah lain. Ini belum termasuk yang dihapal oleh puluhan ribu kaum Muslimin saat itu. Jelas, al-Hallaj tidak bisa merubah yang sudah dihafal oleh kaum Muslimin itu.
Ketiga, seandainya al-Hajjaj mengubah Mushaf ‘Uthman, maka tentu ummat akan akan bangkit untuk melawan. Keempat, dinasti Abbasiah, yang didirikan di atas reruntuhan dinasti Umayyah, telah banyak merubah kebijakan yang sudah dibuat sebelumnya oleh dinasti Umayyah. Seandainya al-Hajjaj dari Bani Umayyah mengubah al-Qur’an, dinasti Abbasiah akan mengeksploitasi isu tersebut untuk menghantam al-Hajjaj atau Bani Umayyah. Namun, informasi seperti itu sama sekali tidak ada.Tuduhan Jeffery kepada Ibn Mujahid juga tidak tepat karena memang bacaan Ibn Shanabudh adalah janggal (shadh). Ibn Shanabudh menyepelekan ortografi Mushaf ‘Uthmani dan isnad, padahal itu termasuk syarat yang ditetapkan oleh para ulama bahkan sebelum Ibn Mujahid.
Syarat sahnya qira’ah itu adalah sesuai dengan ortografi Mushaf ‘Uthman, mengikut isnad dan sesuai dengan kaidah tata-bahasa Arab. Ini adalah Ijma‘ Ulama. Karena itu, sikap Ibn Mujahid terhadap Ibn Shanabudh didukung oleh para ulama lain. Selain Ibn Shunbudh, pemikiran Ibn Miqsam (m. 362 H) yang tidak menjadikan otentisitas isnad juga ditolak oleh para ulama yang sezaman dengan Ibn Miqsam. Akhirnya, Ibn Miqsam bertobat dan kemudian mengikuti kesepakatan para ulama.Menurut al-Baqillani, perbedaan diantara para Qurra, bukan berarti mereka berijtihad dan bebas memilih sesuka hati cara baca apa saja sesuai dengan keinginan. Pendapat seperti ini sama sekali tidak ada dasarnya.
Cara membaca bisa diterima jika hanya ditransmisikan dengan sanad yang otentik, yang merupakan Ijma‘ Ulama, sebagaimana praktek para salafi. Para Qurra tidak boleh membaca al-Qur’an tanpa memenuhi kesepakatan syarat-syarat riwayah. (Lihat Ahmad ‘Ali al-Imam, Variant Readings of the Quran: A Critical Study of Their Historical and Linguistic Origins, Virginia: The International Institute of Islamic Thought, 1998).Jeffery juga tidak tepat ketika mengatakan bahwa aksara gundul adalah penyebab terjadinya perbedaan qiraah. Padahal perbedaan qira’ah berawal dan berasal dari Rasulullah saw sendiri. Al-Qur’an diwahyukan secara lisan dan ungkapan lisan Rasulullah saw kepada ummat berupa teks sekaligus cara mengucapkan (prononsiasi).
Yang satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan. Para sahabat tidak ada yang menginovasi qira’ah. Qira’ah muncul karena sebagian Sahabat sulit untuk menggunakan dialek Quraisy. Qira’ah adalah sunnah yang harus diikuti (al-qira’ah sunnah muttaba’ah). Sekiranya pendapat Jeffery dan orientalis yang lain benar bahwa tidak adanya titik dan harakah menjadi penyebab utama perbedaan qira’ah, maka Mushaf Uthmani akan memuat mungkin jutaan masalah qira’ah, namun ini tidak terjadi.
Selain itu, argumentasi Jeffery juga salah karena para Qurra’ banyak sekali yang sepakat dengan qira’ah dalam ortografi yang sama. (Lihat Muhammad Mustafa al-Azami, The History of The Qur’anic Text, from Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testaments, Leicester: UK Islamic Academy, 2003).Pendapat Jeffery yang mengatakan bahwa terdapat sejumlah Mushaf-Mushaf yang menandingi Mushaf ‘Uthmani juga tidak tepat. Mushaf-Mushaf tersebut saling berbeda antara satu dengan yang lain. Selain itu juga, terdapat sejumlah permasalahan mendasar di dalam Mushaf-Mushaf tersebut, yang sebenarnya adalah catatan pribadi para sahabat. Jadi, tidak tepat menganggap bahwa catatan tersebut sebagai al-Qur’an.
Mushaf Abdullah ibn Mas’ud, misalnya, tidak mencantumkan surah al-Fatihah, al-Nass dan al-Falaq. Dalam pandangan Jeffery, al-Qur’an sebenarnya tidak memuat al-Fatihah. Pendapat ini jelas keliru. Al-Fatihah adalah surah di dalam al-Qur’an yang paling sering dibaca dan bagian yang integral dari setiap rakaah.
Di dalam sholat yang dapat diidengar, di baca 6 kali dalam satu hari dan 8 kali pada hari Jum’at. Oleh sebab itu, di dalam al-Tafsir al-Kabir, Fakhruddin al-Razi menolak pendapat yang mengatakan bahwa ‘Abdullah ibn Mas‘ud mengingkari al-Fatihah sebagai bagian dari al-Qur’an.Jeffery juga berpendapat bahwa ‘Abdullah ibn Mas‘ud menganggap surah al-Nas dan al-Falaq tidak termasuk di dalam al-Qur’an. Pendapat ini tidak tepat karena yang dari murid-murid Ibn Mas‘ud, selain Zirr, semua meriwayatkan al-Qur’an dari Ibn Mas‘ud secara keseluruhan 114 surat.
Menurut al-Baqillani, Ibn Mas‘ud tidak pernah menyangkal bahwa al-Fatihah dan juga surah al-mu’awwidhatain adalah bagian dari al-Qur’an. Orang lain yang salah dengan mengatasnamakan pendapat ‘Abdullah ibn Mas‘ud.
Selain itu juga, Jeffery sendiri mengakui terdapat perbedaan mengenai isi dari Mushaf ‘Abdullah ibn Mas’ud. Versi yang dikemukakan oleh Ibn Nadim di dalam Fihrist berbeda dengan versi al-Suyuthi di dalam Itqan. Selain itu, Ibn Nadim juga menyebutkan bahwa dia sendiri telah melihat al-Fatihah di dalam Mushaf lama Ibn Mas‘ud.Mengenai al-Nas dan al-Falaq, seandainya kedua surah tersebut tidak termasuk dari al-Qur’an, niscaya akan muncul banyak riwayat di dalam hadith yang membenarkan fakta tersebut. Karena riwayat tersebut tidak ada, maka jelaslah Mushaf Ibn Mas‘ud tidak bisa dijadikan tolak ukur untuk menolak kesahihan Mushaf ‘Uthman. Mengenai Mushaf Ubay ibn Ka‘b, Jeffery mengatakan bahwa Mushaf Ubay memiliki banyak persamaan dengan Mushaf Ibn Mas‘ud dan mengandungi dua ekstra surah: al-Hafd dan al-khala‘. Padahal, Mushaf Ubay ibn Ka‘b juga banyak berbeda dengan Mushaf Ibn Mas‘ud dari segi susunan surah dan ragam bacaan.
Selain itu, terdapat paling tidak dua versi yang berbeda mengenai susunan surah Mushaf Ubay. Bergsträsser sendiri, konconya Jeffery, berpendapat bahwa Mushaf Ubay kurang berpengaruh dibanding dengan Mushaf Ibn Mas‘ud. Selain itu juga, murid-murid Ubay dari generasi sahabat seperti Ibn Abbas, Abu Hurayrah, dan ‘Abdullah ibn al-Sa’ib menerima Mushaf ‘Uthman.Mengenai riwayat yang mengatakan bahwa Mushaf Ubay mengandung dua surah ekstra; al-HafÌ dan al-khala‘, adalah riwayat palsu karena bersumber dari Hammad ibn Salama. Hammad meninggal pada tahun 167 H dan Ubay meninggal pada tahun 30 H. Jadi, paling tidak ada gap, dua sampai tiga generasi antara meninggalnya Ubay dan Hammad. Jadi, tidak mungkin Hammad bisa meriwayatkan langsung dari Ubay. Mengenai Mushaf Ali ibn Abi Talib, Jeffery sendiri menyebutkan adanya perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat bahwa Mushaf ‘Ali disusun menurut kronologi, ada pula yang berpendapat bahwa surah-surah di dalam Mushaf ‘Ali disusun menjadi tujuh kelompok.
Karena informasi mengenai bentuk dan kandungan Mushaf ‘Ali itu tidak jelas, maka sangat tidak tepat untuk menganggap sebagai rival apalagi ingin menyamakan Mushaf ‘Ali dengan Mushaf ‘Uthman.
Kritik Arthur Jeffery Pada Al-Qur'an
Al-Qur’an / Deviantart.net
Selain itu, jika Mushaf ‘Ali dianggap berbeda maka ketika menjadi khalifah keempat, mestinya Ali ra kan merubah Mushaf ‘Uthman karena tidak sesuai dengan al-Qur’an yang sebenarnya. Namun, hal ini sama sekali tidak terjadi.
Begitu juga ketika pengikut Mu‘awiyyah yang dalam keadaan terdesak saat perang Siffin, mereka mengangkat Mushaf ‘Uthman sebagai tanda genjatan senjata. Saat itu, tidak ada seorangpun dari pengikut Ali ra. yang meragui Mushaf yang diangkat Mu‘awiyyah.Bahkan Jeffery sendiripun menyatakan, bahwa Ali juga menyetujui kanonisasi yang dilakukan Uthman. Ali mengatakan ketika ‘Uthman membakar Mushaf-Mushaf: “Seandainya Ia belum melakukannya, maka aku yang membakarnya (law lam yasna‘hu huwa lashana‘tuhu). Jeffery tidak mengerti ketika mengatakan bahwa ayat-ayat di dalam al-Qur’an hilang. Masalah seperti itu sudah dibahas oleh para ulama kita secara mendetil dalam Kitab al-Nasikh wa al-Mansukh. Jadi, dihapusnya ayat-ayat tersebut dari al-Qur’Én adalah kehendak dan ketentuan Allah swt.
Terhapusnya ayat-ayat tersebut bukan karena kesembronoan atau kesilapan yang dilakukan oleh Rasullullah saw atau para sahabat. Jadi, ayat-ayat tersebut memang sudah tidak ada ketika Rasulullah saw masih hidup.Ringkasnya, kaum Muslimin perlu hati-hati supaya tidak terpengaruh dengan pemikiran orientalis. Masalah yang sebenarnya sudah dalam kategori al-thabat, bisa menjadi mutaghayyirat, jika tidak hati-hati dalam membaca karya yang di tulis oleh para orientalis.
Sumber :insistnet.com

Ngaji Keutamaan Surah Al-Fatihah dan Artinya

Tongkrongan islami – Jika kita menanyakan, surat apa yang paling diketahui oleh hampir seluruh muslim di dunia, maka tentu saja jawabannya adalah al-Fatihah. Tidak hanya karena ditempatkan pada urutan pertama dari susunan surat-surat dalam mushaf ustmani, al-fatihah lekat di tengah masyarakat, utamanya untuk muslim Indonesia, karena ia telah mendarah daging dalam tradisi masyarakat pada umumnya. Bagi kalangan madzhab syafi’I, al-fatihah termasuk surat yang sering dibacakan ketika hendak mengirim do’a kepada orang yang telah meninggal. Jika membuka majelis agama, surat al-Fatihah pun selalu dibaca. Tapi tahu kah kita, selain dari hal-hal tersebut kenapa surat al-fatihah bisa sangat lekat dengan masyarakat muslim? Di antaranya adalah, karena surat al-Fatihah memiliki banyak keutamaan. Di bawah ini adalah beberpa hal pokok terkait surah al-fatihah.

Surah Al-Fatihah dan Terjemahannya

  1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (1)
  2. Segala puji (2) bagi Allah, Tuhan semesta alam (3)
  3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,
  4. Yang menguasai (4) hari pembalasan (5)
  5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah (6) dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan (7)
  6. Tunjukilah kami (8) jalan yang lurus,
  7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni‘mat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai (Yahudi) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nasrani). (9)
Surat “Al Faatihah” ini melengkapi unsur-unsur pokok syari’at Islam, kemudian dijelaskan perinciannya oleh ayat-ayat Al Qur’an yang 113 surat berikutnya. Persesuaian surat ini dengan surat “Al Baqarah” dan surat-surat sesudahnya ialah surat Al Faatihah merupakan titik-titik pembahasan yang akan diperinci dalam surat Al Baqarah dan surat-surat yang sesudahnya. Di bahagian akhir surat “Al Faatihah” disebutkan permohonan hamba supaya diberi petunjuk oleh Tuhan ke jalan yang lurus, sedang Surat “Al Baqarah” dimulai dengan penunjukan “Al Kitab” (Al Qur’an) yang sempurna sebagai pedoman menuju jalan yang dimaksudkan itu. (1) Berarti: saya memulai membaca Al Faatihah ini dengan menyebut nama Allah. Tiap-tiap pekerjaan yang baik itu hendaknya dimulai dengan menyebut nama Allah, seperti: makan, minum, menyembelih binatang untuk dimakan dan sebagainya. Allah ialah nama Zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya; yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tetapi makhluk membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu dari nama Allah, yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian, bahwa Allah senantiasa bersifat rahmat yang menyebabkan Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya. (2) Alhamdu (segala puji). Memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakan dengan kemauannya sendiri. Maka memuji Allah berarti: menyanjung-Nya karena perbuatan-Nya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap ni’mat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji kepada Allah ialah karena Allah adalah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji. (3) Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang dita’ati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafazh “rabb” tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan kecuali kalau ada sambungannya, seperti: rabbul-bait (tuan rumah). `Alamin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai-bagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah Pencipta semua alam-alam itu. (4) Maalik (Yang menguasai), dengan memanjangkan “mim” ia berarti: pemilik (yang empunya). Dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan “mim”) berarti raja. (5) Yaumiddin (hari pembalasan): hari yang di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa’ dan sebagainya. (6) Na’budu diambil dari kata ’ibaadat: kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan tentang kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena keyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya. (7) Nasta‘iin (minta pertolongan), diambil dari kata isti‘aanah: mengharap bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup diselesaikan dengan tenaga sendiri. (8) Ihdina (tunjukilah kami), diambil dari kata hidaayat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. Yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufiq. (9) Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

Gambaran Surah al-Fatihah secara Umum

Surat “Al Faatihah” (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat adalah surat yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap di antara surat-surat yang ada dalam Al Qur’an dan termasuk golongan Surat Makkiyyah. Surat ini disebut “Al Faatihah” (Pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka dan dimulainya Al Qur’an. Dinamakan “Ummul Qur’an” (induk Al Qur’an) atau “Ummul Kitaab” (induk Al Kitaab) karena dia merupakan induk bagi semua isi Al Qur’an, serta menjadi inti sari dari kandungan Al Qur’an dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap shalat. Dinamakan pula “As Sab’ul matsaany” (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam shalat. Siapa sangka ternyata surat al-Fatihah yang berarti pembuka bukanlah surat yang pertama kali diturunkan Allah swt kepada Nabi Muhammaad saw. Ya…, surat ini dinamakan al-Fatiha karena ia diletakkan di awal mushaf ustmani. Selain dari al-Fatihah sendiri, surat ini memiliki banyak nama, di antaranya ummul kitab, Sab’ al-Matsani, as-Syifa, ummul Qura’an dan al-Hamdu. Para ulama berbeda pendapat, apakah surat al-fatihah ini bagian dari golongan makkiyah atau kah madaniyyah. Bagi ulama yang berpendapat bahwa ia adalah makkiyah, mereka berdalil  dengan sebuah hadis yang menerangkan bahwa tatkala Rasulullah saw melapor kepada Khadijah tentang apa yang terjadi padanya, Khadijah membawanya kepada Waraqah, ahli kitab yang juga kerabat Khadijah. Nabi saw pun mengatakan padanya “ketika aku menyendiri, tiba-tiba ada suara yang memanggilku dari belakang “wahai Muhammad, wahai Muhammad, karena itu aku berlali. Namun suara itu menahanku dan menyuruhku mendengar apa yang ia katakan. Ia lalu mendatangiku dan mengatakan, ‘wahai Muhammad, katakanlah “bismillahirrohmanirrohim hingg sampai pada wa laa ad-dhallin.” Sedangkan para ulama yang berpendapat bahwa al-Fatihah bagian dari surat madaniyyah, mereka berdalil dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:“ Iblis menangis menjerit tatkala diurunkan surat al-Fatihah, dan diturunkan di Madinah”.Hadis ini jelas menyebutkan bahwa surat al-Fatihah tersebut diturunkan di madinah.

Unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi Al Qur’an

1. Keimanan: Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, di mana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas sesuatu ni’mat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala ni’mat yang terdapat dalam alam ini. Di antara ni’mat itu ialah: ni’mat menciptakan, ni’mat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata “Rabb” dalam kalimat “Rabbul-’aalamiin tidak hanya berarti “Tuhan” dan “Penguasa”, tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala ni’mat yang dilihat oleh seorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhanlah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan penumbuhan oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka di dalam surat Al Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu: Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan). Yang dimaksud dengan “Yang menguasai hari pembalasan” ialah pada hari itu Allahlah Yang berkuasa, segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap ni’mat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. “Ibadat” yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah, selanjutnya lihat catatan ayat 5 surat Al Faatihah. 2. Hukum-hukum: Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud “hidayah” di sini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai keyakinan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran. 3. Kisah-kisah: Kisah para nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Sebahagian besar dari ayat-ayat Al Qur’an memuat kisah-kisah para nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Yang dimaksud dengan orang yang diberi ni’mat dalam ayat ini, ialah para nabi, para shiddieqiin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa (orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang saleh). Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat, ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam. Perincian dari yang telah disebutkan di atas terdapat dalam ayat-ayat Al Qur’an pada surat-surat yang lain.

Keutamaan Surat al-Fatihah

  1. Surat al-Fatihah termasuk surat yang paling agung.
Hal ini berdasarkan riwayat  dari Abi Said bin al-Mu’alla R.A. ia menceritakan: “aku pernah shalat, tiba-tiba Rasulullah memanggilku. Panggilan itu tidak aku jawab. Setelah shalat, lalu aku mendatangi beliau. Melihatku, Rasulullah bertanya “apa yang menghalangimu wahai Sai’d untuk menjawab panggilanku?”, “aku sedang shalat ya Rasulullah”. Mendengar jawaban itu, Rasulullah bersabda “belum sampaikah padamu firman Allah swt: :wahai orang-orang yang beriman hendaklah kalian menjawab panggilan Allah dan Rasul-Nya ketika (keduanya) memanggilmu…? Kemudian Rasulullah saw melanjutkan: “sungguh akan ku beritahukan pada mu se-agung-agungnya surat di dalam al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid. Mengetahui itu, kau lalu memegang tangan Rasulullah ketika beliau hendak keluar dan berkata “wahai Rasulullah sesungguhnya engkau tadi berkata akan memberitahukan kepada ku surat yang paling agung di dalam al-Qur’an. Rasulullah menjawab: iya, dan itu adalah surat al-hamdulillah rabb al-‘Alamin (surat al-Fatihah). Di namakan sab’ul masani dan juga al-Qur’an al-Azhim. Hadis ini menunjukkan keagungan surat al-Fatihah tersebut. Juga penamaan dari surat al-Fatiha dengan sebutan sab’ al-matsani (tujuh yang diulang-ulang). Disebutkan pula bahwa surat al-Fatihah adalah al-Qur’an al-Azhim karena surat al-Fatihah merupakan ringkasan dari segala makna di dalam al-Qur’an dan juga penjelasan tentang Tauhid Allah.
  1. Al-fatihah adalah Surat yang membawa pembacanya berkomunikasi langsung dengan Allah.
Tentu bagi semua muslim, bertemu dengan Allah swt adalah puncak tertinggi kenikmatan yang hendak kita raih di hari kiamat nanti. Namun demikian, dengan membaca surat al-Fatihah, seorang muslim dengan sendirinya telah berdialog langsung bersama Allah swt. Hal itu berdasarkan hadis Qudsi, di mana Allah berfirman. “Aku membagi shalat menjadi dua; bagianku dan bagian hambaku. Ketika hambaku membaca al-hamdu lillah rabb al-‘Alamin (segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam), Aku menjawab: Hamadani ‘Abdi (Hambaku telah memuji Ku) ketika hambaku berkata ar-Rahman ar-Rahim (Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), Aku menjawab (Hambaku menyanjung Aku). Ketika Hambaku berkata maaliki yaum ad-din (Allah, penguasa hari pembalasan), Aku berkata majadani ‘abdy (Hambaku memuliakan dan meninggikan Aku)…, ketika hamba ku berkata ihdina as-shirath al-mustaqim, shirath al-lladzina an-‘amta ‘alaihim ghair al-maghdhub ‘alaihim wa laa ad-dhallin), Aku menjawab fa ha’ulaa’ li ‘Abdi wa li ‘abdi ma sa’ala (dan kesemua itu hak hambaKu, dan Aku berikan apa yang diminta oleh mereka). Hadis ini dengan jelas memberitahukan kita, bagaimana terjadinya percakan secara langsung antara hamba dengan Allah ketika membaca surat al-fatihah.
  1. Sebagai obat dan juga bacaan ruqyah serta untuk memenuhi hajat
Di antara keutamaan surat al-fatihah juga adalah membacanya bisa menjadi obat dan juga sebagai bacaan ruqyah. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudry : “sesungguhnya (al-Fatihah) adalah obat dari seluruh penyakit” dan juga dalam sebuah riwayat dinyatakan “sesungguhnya salah satu bacaan ruqyah dan pengobatan di antaranya  lafal iyyaka nasta’in. dalam sebuah hadis juga dinyatakan bahwa membaca surat al-Fatihah akan membantu seseorang agar dikabulkan permohonannya. Berdasarkan riwayat dari ‘Atha’: “jika kalian mau dipenuhi hajatnya, maka bacalah fatihah al-kitab sampai selesai. Maka jika Allah berkendak, akan dikabulkan permintaan tersebut.”

Tata Cara Pembagian Harta Gono Gini Menurut Islam [Studi Kasus]

Tongkrongan Islami – Sepasang suami isteri hendak bercerai. Harta mereka dalam bentuk rumah dan segala isinya. Harta isteri senilai sekitar 100 juta rupiah dan harta suami sekitar 50 juta rupiah. Pertanyaannya adalah : 1. Apa yang disebut dengan harta gono gini? 2. Bagaimana batasan harta isteri yang sudah terlanjur jadi satu dalam bentuk rumah dengan suami? 3. Bagaimana pembagiannya atau presentase antara keduanya? Mohon penjelasannya? (08164894XXX) Jawab :

Pengertian Gono Gini

Dalam situs Asiamaya gono gini didefinisikan sebagai harta yang berhasil dikumpulkan selama berumah tangga sehingga menjadi hak berdua suami istri. (Inggris : gono-gini is property acquired jointly, especially during marriage, and which is divided equally in event of divorce).[1] Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, gono gini diartikan sebagai harta perolehan bersama selama bersuami isteri.[2] Dalam Kompilasi Hukum Islam yang berlaku dalam lingkungan Pengadilan Agama, harta gono gini disebut dengan istilah “harta kekayaan dalam perkawinan”. Definisinya (dalam pasal 1 ayat f) adalah harta yang diperoleh baik sendiri-sendiri atau bersama suami-isteri selama dalam ikatan perkawinan berlangsung…tanpa mempersoalkan terdaftar atas nama siapa.[3] Jadi harta gono gini adalah istilah untuk harta benda yang diperoleh oleh suami isteri selama perkawinan dan menjadi hak kepemilikan berdua di antara suami isteri. Implikasinya, harta yang sudah dimiliki oleh suami atau isteri sebelum menikah, demikian pula mahar bagi isteri, juga warisan, hadiah, dan hibah milik isteri atau suami, tidak termasuk harta gono gini. Bahkan dalam Islam harta yang diperoleh isteri dari hasil kerjanya sendiri tidak termasuk harta gono gini, karena harta tersebut adalah hak milik isteri. Hal itu berdasarkan firman Allah SWT (artinya): “Bagi para laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan.” (QS An-Nisaa` : 32) Jadi, apabila isteri bekerja dan memperoleh harta, maka isteri punya hak penuh atas hartanya itu. Jika isteri mau menggunakan harta itu untuk keperluan keluarga, maka itu dianggap sebagai sedekah yang punya dua pahala, yakni pahala sedekah dan pahala berbuat baik kepada keluarga. Hal ini pernah dinyatakan Rasulullah kepada isteri Abdullah bin Mas’ud yang menyedekahkan hartanya untuk sang suami karena ia tergolong laki-laki miskin (HR Bukhari-Muslim). Dalam perspektif fiqih Islam, sebagian ulama menganggap harta gono-gini dapat sebagai harta syirkah.[4] Memang benar termasuk syirkah, tetapi menurut pemahaman kami, bukan syirkah akad (syirkah ‘uqud), seperti syirkah abdan, syirkah ‘inan, dan syirkah mudharabah, melainkan syirkah kepemilikan (syirkah milk/syirkah amlak). Adapun definisi syirkah kepemilikan ini adalah kepemilikan bersama atas suatu barang di antara dua orang atau lebih yang terjadi karena adanya salah satu sebab kepemilikan (seperti jual-beli, hibah, wasiat, dan waris), atau karena adanya percampuran harta benda yang sulit untuk dipilah-pilah dan dibedakan.[5] Syirkah kepemilikan ini misalkan ada satu pihak yang menghibahkan suatu harta kepada dua orang, lalu keduanya menerimanya. Maka kepemilikan harta itu dalam fiqih Islam disebut syirkah kepemilikan (syirkah milk/ syirkah amlak).

Batasan Harta Isteri dalam Gono Gini

Berdasarkan penjelasan sebelumnya mengenai definisi harta gono-gini, dapat diketahui bahwa harta yang menjadi hak isteri, adalah harta yang sudah dimiliki oleh isteri sebelum pernikahan. Misalnya, harta pemberian orang tua isteri. Termasuk juga hak milik isteri adalah mahar dari suami, demikian pula warisan, hadiah, dan hibah yang diberikan oleh suatu pihak kepada isteri. Semua itu adalah harta isteri, bukan harta gono gini. Demikian juga harta yang diperoleh isteri dari hasil kerjanya sendiri. Walau pun setelah akad nikah.Kecuali jika isteri menggunakan hartanya itu untuk keperluan keluarga dan dijadikan hak milik bersama (syirkah amlak). Misalnya uang yang semula milik isteri diberikan kepada suami, lalu suami menggabungkan uang isteri tersebut dengan uang suami yang selanjutnya uang gabungan itu dibelikan rumah untuk keperluan keluarga dan dijadikan sebagai hak milik bersama. Dalam hal ini rumah tersebut menjadi harta gono gini.

Pembagian Harta Gono Gini dalam Islam

Jika suami-isteri yang akan bercerai berperkara mengenai harta gono-gini ke Pengadilan Agama, maka ada ketentuan khusus yang diberlakukan. Dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 97 ada ketentuan bahwa janda atau duda cerai hidup masing-masing berhak mendapat seperdua (bagian 50 %) dari harta bersama, sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan.[6] Tetapi jika suami-isteri tersebut tidak berperkara di Pengadilan Agama, yaitu melakukan musyawarah sendiri, maka harta gono-gini sebenarnya dapat dibagi menurut cara lain. Yaitu dibagi atas dasar kesepakatan dan kerelaan dari kedua pihak (suami-istri) yang bercerai. Atau dibagi menurut persentase masing-masing pihak jika diketahui jumlahnya. Jadi, kami berpendapat, bahwa ketentuan pasal 97 dalam Kompilasi Hukum Islam bukanlah ketentuan yang sifatnya wajib secara syar’i. Sebab tidak ada nash dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits yang menerangkan bahwa pembagiannya harus seperti itu, yakni suami dan isteri masing-masing mendapatkan setengah (50 %). Karena itu, kita dapat memahami mengapa di Filipina, dalam peraturan yang diberlakukan pemerintah untuk orang Islam (Code of Moslem Personel Laws of the Philippines), tidak ada aturan mengenai harta bersama dalam perkawinan. Demikian pula, dalam putusan-putusan pengadilan Malaysia, soal harta bersama ini masih menjadi masalah yang belum selesai.[7] Ini menunjukkan bahwa aturan pembagian gono gini yang berlaku di Indonesia (pembagian fifty-fifty) bukanlah ketentuan yang sifatnya wajib menurut syara’. Sebab jika wajib tentunya ketentuannya akan sama antara Indonesia dengan Filipina dan Malaysia. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa ketentuan dalam Kompilasi Hukum Islam tersebut (pembagian fifty-fifty) hukumnya secara syar’i tidak wajib, melainkan mubah (boleh). Lalu ketentuan mubah ini diadopsi dan ditetapkan menjadi sebuah pasal yang bersifat mengikat. Jadi pembagian fifty-fifty itu sebenarnya hanya satu pilihan, dari sekian pilihan yang ada mengenai cara pembagian harta gono-gini. Bukan satu-satunya pilihan yang tidak boleh menempuh cara pembagian lain. Seperti yang telah disampaikan di atas, penyelesaian sengketa harta gono gini dapat dilakukan di luar Pengadilan Agama berdasarkan musyawarah dengan menempuh jalan perdamaian (ash-shuluh). Dalam hal ini dapat diterapkan sabda Rasulullah SAW : “Perdamaian adalah boleh [dilakukan] di antara kaum muslimin, kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (HR. Al-Hakim, Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan At-Tirmidzi).[8] Hadits ini telah membolehkan adanya perdamaian (ash-shuluh), yaitu suatu akad (perjanjian) untuk menyelesaikan persengketaan. Dalam salah satu penerapannya, perdamaian dapat dilaksanakan di antara suami-isteri yang bersengketa.[9] Dengan melakukan perdamaian ini, pembagian harta gono gini dapat dilakukan atas dasar kesepakatan dan kerelaan dari kedua pihak (suami-istri) yang bercerai. Misalnya, suami isteri sepakat membagi harta dengan prosentase suami mendapat sepertiga, sedangkan isteri mendapat dua pertiga. Atau sebaliknya misalkan suami mendapatkan dua pertiga sedang isteri mendapat sepertiga. Atau prosentase lainnya sepanjang telah disepakati dalam perdamaian. Jadi, tidak wajib masing-masing mendapat setengah, tetapi masing-masing mendapatkan bagian sesuai dengan kesepakatan yang terjadi dalam perdamaian. Adapun rumah yang ditanyakan, apakah termasuk gono gini atau bukan? Maka di sini perlu dilihat lebih dulu faktanya. Jika rumah itu telah dijadikan sebagai hak kepemilikan bersama, maka merupakan harta gono gini. Indikasinya juga menunjukkan hal demikian, karena ada andil bersama dari isteri (sekitar 100 juta rupiah) dan dari suami (sekitar 50 juta rupiah). Namun, beda halnya andaikata begini faktanya : misalkan rumah itu diberi isteri dengan uangnya sendiri (suami tidak andil). Lalu suami merenovasi rumah itu dengan uangnya. Maka jika demikian keadaannya, menurut hemat kami, rumah itu bukan harta gono-gini, tapi milik isteri itu sendiri. Selanjutnya isteri dapat memberikan ganti rugi yang besarnya diperkirakan sama dengan nilai uang yang telah dikeluarkan suami ketika merenovasi rumah. Wallahu a’lam. Catatan Kaki [1] Lihat http://www.asiamaya.com/dictionary/gana-gini.htm; diakses 12 Pebruari 2004. [2] JS Badudu dan SM Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia. Cetakan II. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1996, hlm. 421. [3] Abdul Gani Abdullah, Pengantar Kompilasi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia, Jakarta : Gema Insani Press, 1994, hlm.77-78. [4] Ibid.[5] Abdul Aziz Al-Khayyath, Asy-Syarikat fi Asy-Syariah Al-Islamiyah wa Al-Qanun Al-Wadh’i, 1982, hlm. 38. [6] Abdul Gani Abdullah, Pengantar Kompilasi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia, Jakarta : Gema Insani Press, 1994, hlm. 106. 77-78. Perjanjian perkawinan adalah perjanjian yang disepakati suami isteri ketika mengadakan akad nikah yang dipersaksikan oleh petugas dari KUA. [7] Busthanul Arifin, Pelembagaan Hukum Islam di Indonesia : Akar Sejarah, Hambatan, dan Prospeknya, Jakarta : Gema Insani Press, , 1996, hlm. 122. [8] Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, III, hlm. 58-59; Imam Taqiyuddin Abu Bakar Al-Husaini, Kifayatul Akhyar, I, hlm. 271. [9] Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, III, hlm. 58.

Konsep Wali dalam Pernikahan – Pandangan Islam terhadap Perwalian Gadis, Janda dan Anak di Luar Nikah

Pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan sangat suci, ia merupakan dambaan setiap pemuda dan pemudi. Namun di dalam mewujudkan hal tersebut tidaklah mudah dan sembarangan, karena di dalam pernikahan ada rukun-rukun dan syarat-syarat yang harus dipenuhi, apabila kurang salah satu rukun atau syaratnya maka menurut kesepakatan ulama fiqih tidak sah pernikahan tersebut. Di antara rukun-rukun nikah yang harus dipenuhi adalah sebagaimana berikut:
  1. Wali.
  2. Dua orang saksi
  3. Akad.
  4. Mahar.
Adapun salah satu rukunnya adalah adanya wali dari pihak perempuan. Apabila rukun ini tidak terpenuhi bahkan cenderung diabaikan maka sia-sialah pernikahan yang dilaksanakan, sehingga seorang laki-laki belum resmi memiliki seorang wanita yang dinikahinya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah

عن عائشة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل

Dari Aisyah Radhiyallahu anha bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali dan dua orang saksi yang adil.”[1] Sabdanya yang lain,

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ

Dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya maka nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal”[2].

Wali Nikah Menurut Bahasa Dan Istilah

Kata wali dalam kamus besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pengasuh, orang tua atau pembimbing terhadap orang atau barang.[3] Perwalian dari bahasa Arab adalah Walayah atau wilayah yaitu hak yang diberikan oleh syariat yang membuat si wali mengambil dan melakukan sesuatu, kalau perlu secara paksa diluar kerelaan dan persetujuan dari orang yang diperwalikan.[4] Menurut Amin perwalian dalam literatur fiqh Islam disebut dengan Al-walayah atau Al-Wilayah seperti kata ad-dalalah yang juga disebut ad-dilalah. Secara etimologis mengandung beberapa arti yaitu cinta (al-mahabbah) dan pertolongan (an-nashrah) atau bisa juga berarti kekuasaan atau otoritas. Seperti dalam ungkapan al-wali yakni orang yang mempunyai kekuasaan untuk mengurus sesuatu.[5] Perwalian dalam istilah Fiqh disebut wilayah yang berarti penguasaan dan perlindungan. Yang dimaksud perwalian adalah penguasaan penuh yang diberikan oleh agama kepada seseorang untuk menguasai dan melindungi orang atau barang.[6] Dalam Fiqh Sunnah di jelaskan bahwa wali adalah suatu ketentuan hukum yang dapat di paksakan kepada orang lain sesuai dengan bidang hukumnya, wali ada yang khusus dan ada yang umum. Wali khusus adalah yang berkaitan dengan manusia dan harta bendanya.[7] Menurut Syarifuddin yang dimaksud dengan wali dalam perkawinan adalah seseorang yang bertindak atas nama mempelai perempuan dalam suatu akad nikah.[8] Wali yaitu pengasuh pengantin perempuan pada waktu menikah yaitu yang melakukan janji nikah dengan pengantin laki-laki.[9] Perwalian dalam perkawinan adalah suatu kekuasaan atau wewenang Syar’i atas segolongan manusia yang dilimpahkan kepada orang yang sempurna, karena kekurangan tertentu pada orang yang dikuasai itu demi kemaslahatannya sendiri.[10] Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa yang dimaksud wali nikah adalah orang yang mewakili perempuan dalam hal melakukan akad pernikahan, karena ada anggapan bahwa perempuan tersebut tidak mampu melaksanakan akadnya sendiri karena dipandang kurang cakap dalam mengungkapkan keinginannya sehingga dibutuhkan seorang wali untuk melakukan akad nikah dalam pernikahan.

Klasifikasi Wali Dalam Islam

Dalam beberapa refrensi hukum Islam, baik yang berbahasa arab atau berbahasa Indonesia, ulama berbeda-beda dalam menyebutkan macam-macam wali dalam pernikahan, semisal Imam Taqiyuddin Abi Bakrin in Muhammad Al-Husainy Al-Hishny al-Damasyqy as-Syafi’i, menyebutkan empat wali yang dapat menikahkan mempelai perempuan, yaitu wali nasab, wali maula, wali tahkim dan wali hakim. Adapun rinciannya sebagai berikut: Wali nasab Wali nasab adalah wali nikah karena ada hubungan darah nasab dengan wanita yang akan melangsungkan pernikahan.[11] Adapun urutan wali menurut pendapat tokoh akan dijelaskan selanjutnya. Wali Maula Sedangkan yang dimaksud dengan wali Maula adalah pewalian yang digunakan dalam menikahkan budak yang telah dimerdekakan, dengan kata lain wali yang menikahkan budaknya, artinya majikannya sendiri. Laki-laki boleh menikahkan perempuan yang berada dalam perwalian, bilamana perempuan yang berada dalam pewaliannya rela menerimanya. Perempuan yang dimaksudkan disini adalah hamba sahaya yang berada dibawah kekuasaannya. Sedangkan wanita yang wali nasabnya tidak diketahui siapa dan dimana hamba sahaya yang telah dimerdekakan), maka walinya adalah orang yang memerdekakan, selanjutnya adalah famili-famili atau ashabah dari orang yang telah memerdekakannya. Wali tahkim yaitu wali yang diangkat oleh calon mempelai suami dan atau calon istri. Hal itu diperbolehkan, karena akte tersebut dianggap tahkim. Sedang muhakkamnya bertindak sebagaimana layaknya hakim. Seperti yang telah diriwayatkan olehYunus bin Abdil A’la, bahwa Syafi’i pernah berkata “seandainya ada seorang perempuan dalam suatu perkumpulan, ia memasrahkan wali kepada seorang laki-laki, sedang perempuan tersebut tidak mempunyai wali, maka hal tersebut dianggap boleh dilakukan, ada pula yang mengemukakan, bahwa wali nikah dapat diangkat dari orang yang terpandang, disegani, luas ilmu fiqhnya terutama tentang munakahat, berpandangan luas, adil, islam dan laki-laki; demikian pendapat Hanafi, yang dikutip oleh Moh. Idris Ramulyo.[12] Sejalan dengan pendapat-pendapat tersebut di atas, apayang dikemukakan oleh al- Bikri, pengarrang kitab I’anatuh at-Thalibin “seorang perempuan yang tidak ada walinya, baik wali nasab, wali hakim atau Qhadi, maka perempuan tesebut diperbolehkan mengangkat seorang laki-laki untuk menikahkan dirinya dengan laki-laki yang dicintainya dan sekufu. Bahkan, sekalipun ada wali hakim atau Qhadi yang diangkat oleh penguasa, ketika mereka berbelit-belit dan memungut uang untuk menikahkannya.[13] Bahkan ada pendapat yang mengatakan jika tidak ada orang yang siap menjadi muhakkam, sedang dirinya dikhawatirkan akan berbuat zina, maka perempuan tersebut diperbolehkan menikahkan dirinya sendiri.[14] Sebagaimana juga dikemukakan oleh syaikh Muhammad bin Abdurrahman ad- Damasyqi, bahwa perempuan yang ada disuatu tempat yang tidak ada hakim dan wali, maka ada dua macam hukumnya. Pertama, dia boleh menikahkan dirinya. Kedua, perempuan tersebut menyerahkan pernikahan kepada orang lain yang beragama islam. Bahkan, beliau mengutip sebuah pendapat Abu Ishak Asy-Syirazi yang mengemukakan bahwa masalah yang seperti di atas boleh memilih hukum yang telah ditetapkan oleh seorang faqih diantara ahli ijtihad, berdasarkan suatu prinsip bahwa diperbolehkan mentahkim dalam nikah. Adapun cara pengangkatannya (cara melakukan tahkim) adalah calon suami mengucapkan tahkim, kepada calon istri dengan kalimat “saya angkat saudara untuk menikahkan saya dengan si…..(calon istri) dengan mahar putusan bapak/saudara, saya terima dengan senang” setelah itu, calon istri juga mengucapkan hal sama. Kemudian calon hakim menjawab “saya terima tahkim ini”[15] Wali Hakim Adapun yang dimaksud dengan wali hakim adalah penguasa atau orang yang ditunjuk oleh penguasa (pemerintah) untuk menangani hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan, baik dia itu orang yang curang atau yang adil. Ada juga yang berpendapat bahwa dia termasuk penguasa yang adil, bertanggung jawab mengurusi kemaslahatan umat Allah, bukan para sultan atau penguasa yang curang, karena mereka tidak termasuk orang yang berhak mengurusi hal itu.Sekiranya pengantin perempuan itu tidak mempunyai wali maka ia akan dinikahkan secara wali hakim. Rasullah SAW bersabda: “Maka Sultanlah yang menjadi wali bagi siapa yang tidak mempunyai wali”. (Riwayat At-Tirmizi dan Abu Daud). Fungsi Wali dalam Pernikahan.Dari beberapa rukun dalam perkawinan menurut Hukum Islam, wali nikah adalah hal yang sangat penting dan menentukan, bahkan menurut Syafi`i tidak sah nikah tanpa adanya wali bagi pihak perempuan sedangkan untuk pihak laki-laki tidak diperlukan adanya wali nikah. Pendapat lain mengatakan bahwa fungsi wali nikah sebenarnya adalah sebagai wakil dari perempuan, sebenarnya wali tersebut tidak diperlukan apabila yang mengucapkan ikrar ijab adalah laki-laki. Namun dalam praktek selalu pihak perempuan yang mengucapkan ijab (penawaran) sedangkan pengantin laki-laki mengucapkan ikrar qabul (penerimaan), karena pada dasarnya wanita itu pemalu maka pengucapan ijab tersebut diwakilkan pada walinya, jadi wali di sini hanya sekedar sebagai wakil karena yang paling berhak adalah perempuan tersebut.[16] Dari pendapat di atas menjelaskan bahwa fungsi wali adalah sebagai pengganti dari perempuan yang akan melangsungkan akad nikah, akan tetapi yang berlaku pada masyarakat di jazirah Arab pada waktu awal Islam, wali dapat menikahkan anak perempuanya tanpa melalui izin anak perempuan yang akan dinikahkan, ketika Islam datang praktek menikahkan tanpa persetujuan dari anak perempuan kemudian dilarang oleh Nabi Muhammad.

Hikmah Adanya Wali Dalam Pernikahan.

Hikmah disyari`atkanya wali dalam pernikahan disebabkan dalam Islam hubungan anak dengan orang tua harus tetap terjaga jangan sampai terjadi perpecahan sampai anak tersebut memiliki rumah tangga sendiri, penyebab perpecahan tersebut sering terjadi karena calon suami dari anak perempuan tersebut tidak direstui oleh orang tua, oleh sebab itu ketika seorang perempuan mencari calon suami perlu adanya perantara dari wali supaya dikemudian hari tidak terjadi permasalahan dengan walinya. Hikmah wali dalam pernikahan juga disebabkan karena perempuan jarang berteman dengan laki-laki, jadi wajar kalau perempuan tersebut tidak begitu paham tentang tabiat seorang laki-laki maka agar perempuan tersebut tidak tertipu oleh seorang laki-laki dibutuhkanlah seorang wali, karena wali lebih tahu tentang tabiat seorang laki-laki sebab sering bergaul dengan mereka atau karena sesama lelakinya jadi lebih paham mana laki-laki yang baik dan tidak baik.[17] Hikmah yang terkandung dibalik keharusan adanya wali dalam pernikahan sebenarnya lebih ditekankan pada permasalahan kecocokan antara calon suami dengan keluarga perempuan, maksudnya adalah jika hubungan antara calon suami mulai awal tidak disetujui oleh wali maka selanjutnya bagi keluarga anak perempuan dengan keluarga orang tua akan mengalami permasalahan, padahal dalam Islam sangat ditekanan masalah silaturrahmi, permasalahan di atas bisa dicegah manakala dalam proses perkawinan wali ikut di dalamnya, apabila dikemudian hari ada permasalahan, wali juga akan membantu menyelesaikan perkara tersebut, karena sejak awal wali dilibatkan dalam perkawinannya.

Konsep Wali Nikah Perempuan Dalam Perspektif Fiqh

Persyaratan Adanya Wali  

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum wali dalam pernikahan, apakah semua gadis yang akan melangsungkan pernikahan harus ada wali ataukah tidak? Berikut perinciannya :
  1. Jumhur ulama, termasuk di dalamnya Sa’id bin Musayyib, Hasan Al-Bashri, Abdullah bin Abdul Aziz, Ats-Tsauri dan Imam Syafi’i.[18] Mereka semua berpendapat bahwasanya pernikahan tanpa wali tidak sah.
Menurut imam Syafi’i, kehadiran wali menjadi salah satu rukun nikah, yang berarti tanpa kehadiran wali ketika melakukan akad nikah perkawinan tidak sah. Bersamaan dengan ini, Syafi’i juga berpendapat wali dilarang mempersulit perkawinan wanita yang ada di bawah perwaliannya sepanjang wanita mendapat pasangan yang sekufu. Dasar yang digunakan imam Syafi’i adalah Al-Baqarah:232, An-Nisa: 25,34. serta beberapa hadits nabi. Menurut Syafi’i bapak lebih berhak menentukan perkawinan anak gadisnya. Hal ini didasarkan pada mafhum mukhalafah dari hadits yang menyatakan “janda lebih berhak kepada dirinya”. Sehingga menurut Syafi’i izin gadis bukanlah satu keharusan tetapi hanya sekedar pilihan. Adapun perkawinan seorang janda harus ada izin secara tegas dari yang bersangkutan. Hal ini didasarkan pada kasus al-khansa’a.
  1. Imam Maliki mengharuskan izin dari wali atau wakil terpandang dari keluarga atau hakim untuk akad nikah. Akan tetapi tidak dijelaskan secara tegas apakah wali harus hadir dalam akad nikah atau cukup sekedar izinnya. Meskipun demikian imam malik tidak membolehkan wanita menikahkan diri-sendiri, baik gadis maupun janda.
Mengenai persetujuan dari wanita yang akan menikah, imam malik membedakan antara gadis dengan janda. Untuk janda, harus terlebih dahulu ada persetujuan secra tegas sebelum akad nikah. Sedangkan bagi gadis atau janda yang belum dewasa dan belum dicampuri suami, maka jika bapak sebagai wali ia memiliki hak ijbar. Sedangkan wali diluar bapak, ia tidak memilki hak ijbar. Imam Malik berpendapat juga bahwa jika yang akan menikah adalah orang yang biasa-biasa saja, bukan termasuk orang yang mempunyai kedudukan, kerupawanan dan bukan bangsawan tidak apa-apa ia menikah tanpa wali. Akan tetapi ketika ia seorang yang berkedudukan, berwajah rupawan dan banyak harta maka ketika menikah harus memakai wali.
  1. Ibnu Qudamah dari Madzhab Hambali menyatakan, wali harus ada dalam perkawinan (rukun nikah), yakni harus hadir ketika melakukan akad nikah. Menurutnya hadits yang mengharuskan adanya wali bersifat umum yang berarti berlaku untuk semua. Sedangkan hadits yang menyebutkan hanya butuh izin adalah hadits yang bersifat khusus. Sehingga yang umum harus didahulukan dari dalil khusus.
Ibnu Qudamah berpendapat adanya hak ijbar wali untuk menikahkan gadis yang belum dewasa, baik wanita tersebut senang atau tidak, dengan syarat sekufu[19]. Sedangkan menurut Ibnu Qayyim, persetujuan wanita harus ada dalam perkawinan.
  1. Abu Hanifah membolehkan perkawinan tanpa wali (menikahkan diri sendiri), atau meminta orang lain diluar wali nasab untuk menikahkan gadis atau janda. Hanya saja kalau tidak sekufu, wali berhak membatalkannya.
Dasar yang membolehkan perkawinan tanpa wali, menurut abu hanifah diantaranya Al-Baqarah: 230,232,240. serta mengartikan “al-aima” adalah”wanita yang tidak mempunyai suami” baik gadis maupun janda. Ditambah dengan hadits tentang kasus al-khansa’a yang dinikahkan secara paksa oleh bapaknya dan ternyata tidak diakui oleh Nabi. Menurut abu hanifah persetujuan dari para calon adalah satu keharusan dalam perkawinan, baik bagi seorang gadis maupun janda. Perbedaannya, persetujuan gadis cukup dengan diamnya, sementara janda harus dinyatakan dengan tegas. Sedangkan pendapat yang rajih dan benar dari tiga pendapat di atas adalah pendapat pertama yang dibawakan oleh jumhur ulama, yaitu seorang gadis ketika melangsungkan pernikahan harus ada wali bersamanya. Ulama-ulama yang memperbolehkan wali (bapak dan kakek) menikahkan tanpa izin ini menggantungkan bolehnya dengan syarat-syarat sebagai berikut:
  1. Tidak ada permusuhan antara bapak dan anak.
  2. Hendaknya dinikahkan dengan orang yang setara sekufu).
  3. Maharnya tidak kurang dari mahar misil (sebanding) .
  4. Tidak dinihkan dengan orang yang tidak mampu membayar mahar.
  5. Tidak dinikahkan dengan laki-laki yan mengecewakan (membahayakan) si anak kelak dalam pergaulannya dengan laki-laki itu, misalnya orang itu buta atau orang yang sudah sangat tua sehingga tidak ada harapan akan mendapat kebahagiaan dalam pergaulannya.
Tetapi sebagian Ulama berpendapat, bapak tidak boleh menikahkan anak perawannya tanpa izin lebih dahulu dari anaknya itu. Sabda rasulullah SAW: Artinya: Dari Abu Hurairah. Ia berkata:” Rasulullah SAW telah bersabda:” perempuan janda janganlah dinikahkan sebelum diajak bermusyawarah, dan perawan sebelum diminta izinny.” para sahabat lalu bertanya:” bagaimana cara izin perawan itu ya rasulullah?” jawab beliau:” Diamnya tanda izinnya.” (Riwayat Muttfaq ’Alaih) Oleh pihak pertama, hadits ini dan sebagainya diartikan perintah sunat atau larangan makruh, bukan perintah wajib atu larangan haram. Golongan kedua menjawab, bahwa hadits-hadits yang memperbolehkan si bapak menikahkan anaknya tanpa izin terlebih dahulu terjadi sebelum datang perintah yang yang mewajibkan izin. Kejadian mengenai diri Aisyah ( pernikahannya) dengan Rasulullah SAW adalah Khususiyah (tertentu) bagi Rasulullah SAW sendiri, tidak dapat dijadikan dalil untuk umum.[20] Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwasanya wali dalam pernikahan merupakan satu bagian yang tak mungkin untuk dipisahkan. Namun untuk bisa menjadi wali, seseorang harus memenuhi syarat standar minimal yang juga telah disusun oleh para ulama, berdasarkan pada ayat Al-quran dan sunnah nabawiyah. Wali Nikah Untuk Gadis dan Janda Hukum yang telah dijelaskan di atas mengenai kedudukan wali yang sangat urgen dalam pernikahan, apakah hukum tersebut hanya berlaku bagi seorang perempuan yang masih dalam keadaan perawan atau berlaku juga bagi seorang wanita yang berstatus janda ? berikut perinciannya :Para ulama berbeda pendapat mengenai seorang wanita yang berstatus janda, apakah ia juga harus memakai wali dalam pernikahan atau tidak? Berikut perinciannya : 1. Sebagian ulama membolehkan bagi seorang wanita yang bersatatus janda ketika ia melangsungkan pernikahan kembali tanpa harus memakai wali. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan Dawud. Berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأَيِّمُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا وَالْبِكْرُ تُسْتَأْذَنُ فِي نَفْسِهَا وَإِذْنُهَا صُمَاتُهَا

Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janda `itu lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan seorang gadis harus dimintai izinnya dan izinnya adalah diamnya.”[35]

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ لِلْوَلِيِّ مَعَ الثَّيِّبِ أَمْرٌ وَالْيَتِيمَةُ تُسْتَأْمَرُ وَصَمْتُهَا إِقْرَارُهَا

Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang wali tidak memiliki kuasa memaksa terhadap seorang janda, dan seorang wanita yatim dimintai pertimbangannya, dan diamnya adalah persetujuannya.”[36] 2. Jumhur ulama berpendapat bahwa wali nikah itu berlaku untuk wanita yang masih perawan ataupun sudah berstatus janda.[37] Dalil-dalil sandaran mereka adalah sebagai berikut, Firman Allah ta’ala dalam surat al-Baqarah,

فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ

Maka jangan kamu halangi mereka mereka menikah (lagi) dengan calon suaminya, apabila telah terjalin di antara mereka dengan cara yang baik. Sabda Rasulullah

عن عائشة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل

Dari Aisyah Radhiyallahu anha bahwasanya Rasulullah r bersabda, “Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali dan dua orang saksi yang adil.”[38]

لا تزوّ ج المراة ولا تزوجّ نفسها

“Seorang wanita tidak boleh mengawinkan seorang wanita dan tidak pula mengawinkan dirinya.”[39] Lalu bagaimana ketika semua wali yang telah disebutkan di atas tidak ada, maka siapakah yang berhak menjadi wali setelahnya? Tidak menutup kemungkinan hal ini akan terjadi di kalangan masyarakat kita atau bahkan hal ini sudah pernah terjadi namun kita tidak mengetahuinya? Berikut sedikit penjelasannya : Seorang wanita tidak boleh menikah kecuali tanpa wali, apabila ia memaksakan diri untuk menikah tanpa wali padahal ia mempunyai wali maka pernikahannya tidak sah, menurut pendapat yang paling benar. namun jika semua urutan wali yang telah disebutkan di atas tidak ada, maka hak perwalian berpindah kepada hakim atau shultan, meskipun ia masih mempunyai saudara laki-laki seibu. Akan tetapi ia tidak bisa menjadi wali bagi saudara perempuannya yang seibu, hal ini sebagaimana sabda Rasulullah:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ … فَإِنِ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ

Artinya:“Siapa saja wanita yang menikah tanpa izin dari walinya maka pernikahannya batil…, dan jika para wali berselisih untuk menikahkannya maka sulthan adalah wali bagi seorang wanita yang tidak punya wali.”[40] Untuk negeri kita yang dimaksud dengan penguasa dalam hal ini adalah petugas kantor urusan agama (KUA).

Wali Untuk Anak diluar Nikah

Terjadi perselisihan dikalangan para ulama tentang sah tidaknya pernikahan seorang wanita yang sedang hamil dikarenakan zina: Para ulama Maliki, Hambali dan Abu Yusuf dari madzhab Hanafi tidak memperbolehkan pernikahannya itu sebelum dia melahirkan, tidak dengan lelaki ang menzinahinya atau tidak juga dengan lelaki yang lainnya, berdasarkan sabda Rasulullah saw: ”Seorang wanita yang sedang hamil tidak boleh digauli sehingga dia melahirkan..” (HR. Abu Daud) dan sebagaimana riwayat dari Said al Musayyib bahwa seorang laki-laki telah menikahi seorang wanita dan ketika diketahui bahwa wanita itu sedang hamil dan diberitahukanlah hal ini kepada Nabi saw maka beliau saw pun memisahkan mereka berdua.” (HR. Baihaqi). Sedangkan para ulama Syafi’i dan Hanafi membolehkan pernikahannya dikarenakan belum terkukuhkannya nasab, berdasarkan sabda Nabi saw,” Anak itu bagi yang memiliki tempat tidur sedang bagi yang berzina tidak memiliki apa-apa.” (HR. Jama’ah kecuali Abu Daud). Markaz al Fatwa didalam fatwanya—setelah menyebutkan perbedaan ulama diatas—menyebutkan bahwa adapun anak—dari pernikahan itu—maka dinasabkan kepada ibunya dan keluarga ibunya dengan penasaban sar’iy yang benar yang meneguhkan kemahraman yang berlanjut kepada perwalian secara syar’i, ashobah dan warisan dan selainnya dari hukum-hukum seorang anak karena pada hakikatnya ia adalah anak darinya (ibunya yang mengandungnya itu) dan tidaklah ada perselisihan dalam hal ini. Adapun penasaban seorang anak kepada ayahnya yang berzina dan menisbatkannya kepadanya maka dibolehkan oleh Ishaq bin Rohuyah, ‘Urwah, Sulaiman bin Yasar dan Abu Hanifah. Abu Hanifah mengatakan,”Aku tidak melihat suatu permasalahan jika seorang lelaki yang berzina dengan seorang wanita lalu wanita itu hamil kemudian lelaki itu menikahinya dan menutupi aibnya itu dan anak ang terlahir adalah anak darinya (lelaki itu).” Markaz al Fatwa lebih memilih pendapat jumhur ahli ilmu yang menyatakan bahwa apabila seorang lelaki menikah dengan wanita hamil karena perzinahannya maka anak yang terlahir dinasabkan kepada ibu dan keluarga ibunya itu. Adapun suaminya adalah pemelihara bagi anak tersebut. (Markaz al Fatwa no 6045) Adapun pendapat bahwa jika si ayah biologis dan ibunya yang telah terlanjur hamil ini kemudian menikah. Jika setelah menikah, si ibu masih menjalani kehamilan selama 6 bulan atau lebih sampai kelahirannya, maka si anak bisa mengikuti garis keturunan sang ayah dan bisa menjadi wali nikahnya. tapi jika si ibu menjalani kehamilan kurang dari 6 bulan sampai saat kelahirannya, maka sang anak hanya bisa mengikuti garis keturunan sang ibu.. Pernyataan ini bisa ditemukan didalam “al Fatawa al Hindiah” didalam Fiqih Hanafiyah yang menyebutkan : jika seorang lelaki berzina dengan seorang wanita dan wanita itu menjadi hamil kemudian lelaki itu menikahinya dan melahirkan maka jika wanita itu mengandung selama 6 bulan atau lebih maka nasab anak itu terkokohkan dan jika wanita itu mengandung selama kurang dari 6 bulan maka nasab anak itu tidak terkokohkan kecuali hanya sebatas pengakuannya, bahwa anak itu adalah anaknya, selama dia tidak mengatakan,”Sesungguhnya anak itu dari perzinahan.” Adapun jika dia mengatakan,”Sesungguhnya dia adalah dariku dari perzinahan.” Maka nasabnya tidak terkokohkan dan dia tidaklah mewariskan hartanya.”… Pendapat yang paling kuat adalah bahwa anak zina tidaklah terkokohkan nasabnya dari seorang lelaki pezina baik dirinya menikahi wanita yang dizinahinya lalu wanita itu mengandung anak itu kurang dari enam bulan sejak waktu akad nikah atau tidak menikahi wanita itu lalu wanita itu melahirkannya. Akan tetapi jika anak itu dinisbatkan kepadanya dengan pengakuannya dan dia tidak mengatakan bahwa anak itu dari hasil perzinahan maka nasabnya terkokohkan didalam hukum-hukum dunia. Demikian pula jika lelaki itu menikahi wanita yang dizinahinya dan dia mengandung anak dari hasil perzinahannya lalu melahirkan seorang anak dalam masa kurang dari waktu minimal suatu kehamilan sementara orang itu terdiam atau mengakuinya dan tidak mengatakan bahwa anak itu adalah dari hasil perzinahan maka nasabnya terkokohkan didalam hukum-hukum dunia.” (Fatawa al Islam Sual wa Jawab juz I hal 591) Dengan mengambil pendapat jumhur ahli ilmu bahwa seorang anak zina tidaklah dinasabkan kecuali kepada ibunya dan ketika anak zina tersebut kelak ingin menikah maka tidaklah bisa diwalikan oleh ayah yang berzina dengan ibunya akan tetapi perwaliannya dilakukan oleh penguasa atau hakim. Karena hakim adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali, sebagaimana sabda Rasulullah saw: ”Penguasa adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali.” (HR. Ahmad dan Abu Daud) Dan seandainya seorang anak zina dinikahkan oleh ayah yang menzinahi ibunya maka pernikahan yang dilakukannya itu batal sehingga kedua pasangan tersebut haruslah dipisahkan. Adapun cara pemisahan antara keduanya adalah dengan cara si suami menjatuhkan talak (cerai) terhadapnya jika memang dirina rela untuk melakukannya sendiri namun jika dirinya tidak ingin melakukannya sendiri maka pemisahan itu dilakukan oleh hakim. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Qudamah bahwa apabila seorang wanita dinikahkan dengan pernikahan yang rusak (batal) maka tidaklah boleh dirinya denikahkan dengan selain orang yang telah menikahinya sehingga orang yang menikahinya itu menceraikannya atau dipisahkan pernikahannya. Apabila suaminya itu tidak mau menceraikannya maka hakimlah yang harus memisahkan pernikahannya, dan nash ini dari Ahmad. (al Mughni juz IX hal 125) Setelah suaminya menceraikan istrinya atau keduanya dipisahkan oleh hakim lalu si lelaki ingin kembali menikahinya maka hendaklah dengan akad yang baru dengan diwalikan oleh penguasa atau hakim, yang dalam hal ini adalah KUA.

Syarat-syarat Wali dalam Pernikahan

  1. Islam.
Seorang ayah yang bukan beragama Islam tidak menikahkan atau menjadi wali bagi pernikahan anak gadisnya yang muslimah. Begitu juga orang yang tidak percaya kepada adanya Allah (atheis). Ini adalah pendapat jumhur ulama di antaranya Malik, Syafi’I, Abu Ubaid. Dalil haramnya seorang kafir menikahkan anaknya yang muslimah adalah ayat Quran berikut ini:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

“Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perrempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.”[21]   Khusus dalam syarat ke-Islaman, ada pengecualian tersendiri dalam kasus khusus. Yaitu pabila wanita yang dinikahkan itu bukan beragama Islam, melainkan seorang wanita pemeluk agama ahli kitab, maka tidak perlu walinya seorang muslim juga. Titik masalahnya adalah karena seorang muslim atau atau muslimah tidak boleh diwalikan oleh non muslim. Namun bila pengantin wanita belum lagi menjadi muslimah, maka tidak ada masalah dengan agama sang wali, boleh saja walinya itu juga bukan muslim. Jadi keharusan wali beragama Islam lantaran karena dia menjadi wali buat seseorang yang beragama Islam. Di dalam hukum Islam, seorang yang bukan muslim tidak berhak dan juga tidak sah menjadi wali bagi seorang muslim. Namun bila yang diwalikan bukan muslim, maka tidak ada masalah.
  1. Berakal, maka seorang yang kurang waras, idiot atau gila tidak syah bila menjadi wali bagi anak gadisnya. Meskipun gilanya hanya kadang-kadang, terlebih lagi gila yang terus menerus tidak ada perbedaan di antara keduanya menurut pendapat yang paling benar.[22]
  2. Bulugh, maka seorang anak kecil yang belum pernah bermimpi atau belum baligh, tidak syah bila menjadi wali bagi saudara wanitanya atau anggota keluarga lainnya.
  3. Merdeka, maka seorang budak tidak syah bila menikahkan anaknya atau anggota familinya, meskipun ia beragama Islam, berakal, baligh. Ulama berbeda pendapat dalam menetapkan perwalian budak. Sebagian ulama mengatakan bahwa seorang budak tidak mempunyai hak perwalian, baik atas dirinya sendiri atau orang lain.
Sedangkan ulama Hanafiah mengemukakan bahwa seorang wanita boleh dinikahkan oleh seorang budak atas izinnya, dengan alasan bahwa wanita itu dapat menikahkan dirinya sendiri. Meskipun ada sebagian ulama yang membolehkannya, namun menurut pendapat yang paling benar adalah ia tidak boleh menjadi wali.[23]5. Laki-laki, Seorang perempuan tidak berhak menjadi wali nikah. Seorang perempuan tidak boleh menjadi wali dalam pernikahan, berdasarkan hadits Nabi yang berbunyi: Artinya: Janganlah perempuan menikahkan perempuan yang lain dan jangan pula seorang perempuan menikahkan dirinya sendiri[24] Dalam hadits tersebut terkandung dalil bahwa wanita tidak mempunyai kekuasaan untuk menikahkan dirinya dan menikahkan orang lain. Namun menurut Imam Abu Hanifah, ia berpendapat bahwa wanita yang berakal dan baligh boleh mengawinkan dirinya sendiri dan mengawinkan anak perempuannya yang di bawah umur serta mewakili orang lain. Namun demikian, jika dia menyerahkan dirinya kepada laki-laki yang tidak sekufu dengannya, maka para wali berhak menentangnya. Berbeda halnya dengan pendapat Imam Malik yang tidak mengeneralkan semua perempuan, akan tetapi hanya terbatas pada golongan rendah saja (bukan bangsawan) karena menurutnya perempuan bangsawan tidak diperbolehkan.[25]
  1. Adil, Ulama berbeda pendapat tentang kedudukan adil sebagai persyaratan bagi wali antara lain:
1) Bagi ulama mensyaratkan wali harus adil, maka berdasarkan pada Hadits Nabi yang artinya: ”tidak ada pernikahan kecuali dengan wali yang memberikan bimbingan dan dua orang saksi yang adil” pendapat yang pertama ini disepakati oleh beberapa ulama fiqh terkemuka seperti Imam Ahmad, Imam Syafi’i, Imam Malik dan orang-orang yang sependapat dengannya.2) Bagi ulama yang tidak mensyaratkan wali harus adil, mereka berdasarkan pada suatu riwayat Mutsanna bin Jami’, dia menukil bahwa dia pernah bertanya pada Ahmad, jika orang menikah dengan wali yang fasik dan beberapa saksi yang adil, maka Ahmad berpendapat bahwa hal tersebut tidak membatalkan pernikahan, itu pula yang menjadi pendapat Imam Malik dan Abu Hanifah serta salah satu pendapat Syafi’i.[26] Sejalan dengan pendapat kedua di atas, apa yang dikemukakan oleh Imam Al-Baijury, bahwa yang disyaratkan adil adalah kedua saksi, bukan persyaratan bagi wali, karena menurutnya marji’u dhamirnya kembali pada lafad syahidain.[27] Hal ini diperkuat oleh pendapat Sayyid Sabiq yang mengemukakan bahwa bahwa seorang wali tidak disyaratkan adil. oleh karna itu, seorang yang durhaka tetap tidak kehilangan haknya untuk menjadi wali dalam perkawinan kecuali kedurhakaannya melampaui batas-batas kesopanan yang berat.[28] Bahkan dalam KHI diringkas hanya menjadi empat persyaratan bagi wali, sebagaimana tercantum dalam pasal 20 ayat 1 yang berbunyi: “yang betindak sebagai wali nikah ialah seorang laki-laki yang memenuhi syarat hukum islam yakni muslim, Aqil dan baligh”.
  1. Sebagian ulama ada yang mensyaratkan tidak sedang berihram, haji ataupun umrah, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Seorang yang sedang berihram tidak boleh menikahkan, tidak boleh dinikahkan, dan tidak boleh mengkhitbah.”[29]
  1. Sebagian fuqaha juga menambahkan syarat wali yang berikutnya adalah memiliki ‘adalah yaitu dia bukan seorang pendosa, bahkan ia terhindar dari melakukan dosa-dosa besar seperti mencuri, berzina, minum khamr, membunuh, makan harta anak yatim, dan semisalnya. Di samping itu, dia tidak terus-menerus tenggelam dalam dosa-dosa kecil dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sepantasnya.
Pensyaratan ini merupakan salah satu dari dua riwayat dalam mazhab Hanabilah dan merupakan pendapat yang kuat dalam mazhab Syafi’iyyah. Adapun Hanafiyyah memandang seorang yang pendosa (fasik) tidaklah hilang haknya sebagai wali, kecuali bila kefasikannya tersebut sampai pada batasan ia berani terang-terangan berbuat dosa. Demikian pula Malikiyyah berpandangan bahwa seorang yang pendosa (fasik) tidak hilang haknya sebagai wali. Adapun bukan seorang pendosa(tidak fasik) hanyalah syarat penyempurna bagi wali, sehingga bila ada dua wali yang sama derajatnya, yang satu seorang pendosa (fasik) sedangkan yang satu bukan seorang pendosa, seperti seorang wanita yang tidak lagi memiliki ayah dan ia memiliki dua saudara laki-laki, satunya penodsa (fasik) sedangkan yang satunya adil (bukan pendosa), tentunya yang dikedepankan adalah yang memiliki ‘adalah.[30] Inilah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang untuk menjadi wali, seandainya seseorang telah memenuhi syarat-syarat di atas dan ia termasuk dari orang yang berhak menjadi wali, maka ia diperbolehkan untuk menjadi wali bagi seorang gadis yang masih saudaranya yang hendak melangsungkan pernikahan. Perlu diketahui, telah menjadi kesepakatan ulama bahwasanya yang berhak menjadi wali nikah adalah orang-orang yang berstatus asobah. Ini adalah pendapat jumhur ulama di antaranya adalah Tsauri, Laits, Malik dan Syafii, sedangkan perincian yang berhak menjadi wali adalah sebagai berikut. Dalam Kifayatul Akhyar, sebuah kitab fiqih yang lazim digunakan di dalam mazhab Syafi’iyah, disebutkan bahwa urutan wali nikah adalah sebagai berikut:
  1. Ayah kandung.
  2. Ayah dari ayah (Kakek).[31]
  3. Saudara laki-laki seayah dan seibu (saudara kandung)
  4. Saudara laki-laki seayah.
  5. Anak laki-laki dari saudara sekandung yang laki-laki.
  6. Anak laki-laki dari saudara seayah.
  7. Saudara laki-laki ayah (paman).[32]
  8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah (sepupu).[33]
Daftar urutan wali di atas tidak boleh dilangkahi atau diacak-acak. Sehingga jika ayah kandung masih hidup, maka tidak boleh hak kewaliannya itu diambil alih oleh wali pada nomor urut berikutnya. Kecuali bila pihak yang bersangkutan memberi izin kepada urutan yang setelahnya. Penting untuk diketahui bahwa seorang wali berhak mewakilkan hak perwaliannya itu kepada orang lain,[34] meski tidak termasuk dalam daftar para wali. Hal itu biasa sering dilakukan di tengah masyarakat dengan meminta kepada tokoh ulama setempat untuk menjadi wakil dari wali yang syah. Dan untuk itu harus ada akad antara wali dan orang yang mewakilkan. Akan tetapi sebaliknya apabila pihak wanita mewakilkan kepada orang lain tanpa ijin dari wali maka pernikahannya tidak sah. Sebagai contoh, ketika dalam kondisi di mana seorang ayah kandung tidak bisa hadir dalam sebuah akad nikah, maka dia bisa saja mewakilkan hak perwaliannya itu kepada orang lain yang dipercayainya, meski bukan termasuk urutan dalam daftar orang yang berhak menjadi wali. Sehingga bila akad nikah akan dilangsungkan di luar negeri dan semua pihak sudah ada kecuali wali, karena dia tinggal di Indonesia dan kondisinya tidak memungkinkannya untuk ke luar negeri, maka dia boleh mewakilkan hak perwaliannya kepada orang yang sama-sama tinggal di luar negeri itu untuk menikahkan anak gadisnya. Namun hak perwalian itu tidak boleh dirampas atau diambil begitu saja tanpa izin dari wali yang sesungguhnya. Bila hal itu dilakukan, maka pernikahan itu tidak syah dan harus dipisahkan saat itu juga.

Bolehkah Wali dalam keadaan Fasik (Wali Cacat) Menikahkan?

Mengikut pendapat Mazhab Syafi’e dan Hambali, wali fasik tidak boleh atau tidak sah menjadi wali nikah. Ini berdasarkan sebuah hadith dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda:“Tidak sah nikah melainkan wali yang adil dan ada saksi yang adil”. (RiwayatAhmad) Yang dimaksudkan dengan adil ialah seseorang itu berpegang kuat (istiqamah) kepada ajaran Islam, menunaikan kewajiban agama, mencegah dirinya melakukan dosa-dosa besar seperti berzina, minum arak, menderhaka kepada kedua-dua ibu bapak dan sebagainya serta berusaha tidak melakukan dosa-dosa kecil. Wali bersifat adil disyaratkan karena ia dianggap bertanggungjawab dari segi kehendak agama ketika membuat penilaian bakal suami bagi kepentingan dan maslahat perempuan yang hendak berkahwin itu. Manakala wali fasik pula, ia sendiri sudah tidak bertanggungjawab ke atas dirinya apatah lagi hendak bertanggung jawab kepada orang lain. Untuk menentukan seseorang wali itu bersifat adil atau fasik adalah memadai dilihat dari segi zahir atau luaran sahaja ataupun memadai wali itu mastur iaitu kefasikannya tidak diketahui karena untuk menilai kefasikan secara batin adalah susah. Walau bagaimanapun jikalau Sultan atau Raja itu fasik yang menjadi wali bagi perempuan yang tidak mempunyai wali maka kewalian itu tetap sah karena kesahihannya diambilkira dari segi keperluan terhadap wali Raja.Sebenarnya sebagian besar ulama-ulama Mutaakhirin dalam Mazhab Syafi’e seperti Imam Al-Ghazali, pendapat pilihan Imam Nawawi dan sebagainya, telah mengeluarkan fatwa bahwa sah wali fasik menjadi wali, selepas beristighfar. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin telah mengingatkan bahwa seseorang wali harus memerhati dan meneliti kelakuan geraklaku calon suami, jangan sampai mengawini saudara perempuan dengan seorang lelaki yang buruk budi pekertinya atau lemah agamanya ataupun yang tidak sekufu dengan kedudukannya. Sekiranya ia mengawinkan puterinya dengan seorang lelaki yang zalim atau fasik atau yang lemah agamanya atau peminum arak, maka ia telah melanggar perintah agamanya dan ketika itu ia akan terdedah kepada kemurkaan Allah swt, karena ia telah mencuaikan persoalan silaturrahim (perhubungan tali kerabat) dan telah memilih jalan yang salah. Selanjutnya Al-Ghazali menceritakan seorang ayah telah datang meminta nasihat kepada Al-Hasan, Katanya: “Telah banyak orang yang datang meminang puteriku, tetapi aku tidak tahu dengan siapa yang harusku kawinkan dia”. Berkata Al-Hasan: “Kawinkan puterimu itu dengan orang yang banyak taqwanya kepada Allah. Andaikata suaminya mencintainya kelak pasti ia akan dimuliakan. Tetapi jika suaminya membencinya maka tiada dianiayainya”.

Konsep Wali Nikah dalam Perspektif KHI

Wali nikah dalam perkawinan merupakan rukun yang harus dipenuhi bagi calon mempelai wanita yang bertindak untuk menikahkannya
  1. Yang bertindak sebagai wali nikah ialah seorang laki-laki yang memenuhi syarat Hukum Islam yakni muslim dan akil baligh
  2. Wali nikah terdiri dari: a) Wali nasab dan b) Wali hakim
3. Wali nasab terdiri dari empat kelompok dalam urutan kedudukan, kelompok yang satu didahulukan dari kelompok yang lain sesuai erattidaknya susunan kekerabatan dengan calon mempelai wanita, Pertama, kelompok kerabat laki-laki garis lurus keatas yakni ayah, kakek dari pihak ayah, dan seterusnya. Kedua, kelompok kerabat saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki seayah atau keturunan laki-laki mereka. Ketiga, kelompok kerabat paman, yakni saudara laki-laki kandung ayah, saudara seayah, dan keturunan laki-laki mereka. Keempat, kelompok saudara kandung kakek, saudara laki-laki seayah kakek, dan keturunan laki-laki mereka.
  1. Apabila dalam satu kelompok wali nikah terdapat beberapa orang yang sama-sama berhak menjadi wali, maka yang paling berhak menjadi wali ialah yang lebih dekat derajat kekerabatannya dengan calon mempelai wanita.
  2. Apabila dalam suatu kelompok sama derajat kekerabatannya maka yang paling berhak menjadi wali nikah kerabat kandung dari kerabat yang hanya seayah.
  3. Apabila dalam satu kelompok derajat kekerabatannya sama, yakni sama-sama derajat kandung atau sama-sama derajat kerabat seayah, mereka sama-sama berhak menjadi wali nikah, dengan mengutamakan yang lebih tua dan memenuhi syarat-syarat wali.
  4. Apabila wali nikah yang paling berhak urutannya tidak memenuhi syarat sebagai wali atau oleh karena wali nikah itu menderita tunawicara, tunarungu, atau sudah udzur, maka hak menjadi wali bergeser kepada wali nikah yang lain menurut derajat berikutnya.
  5. Wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah apabila wali nasab tidak ada atau tidak mungkin menghadirkannya atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau ghaib atau adlal atau enggan.
  6. Dalam hal wali adlal atau enggan maka wali hakim dapat bertindak sebagai wali nikah setelah ada putusan pengadilan Agama tentang wali tersebut.
Rekomendasi Bacaan: Hukum Nikah Beda Agama dalam Islam Hukum Nikah Mut’ah dalam Islam Catatan Kaki [1] HR. Ibnu Hibban [2] HR. Tirnidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah [3] Porwadarminta, Kamus Besar Bahsa Indonesia ( Jakarta: Balai Pustaka, 1995), 92 [4] Muhammad Bagir al-Habsy, Fiqh Praktis: (Bandung: mizan, 2002), 56. [5] Amin Suma, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam (Jakarta: Raja Grafindo 2004), 134. [6] Kamal Muchtar, Asas-asas Hukum Tentang Perkawinan (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), 89. [7] Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah 7 (Bandung: Al-ma’arif, 1997), 11. [8] Amir Syarifuddin, Garis-garis Besar Fiqih (Jakarta: Kencana, 2003), 90. [9] Abdur Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat (Jakarta: Kencana, 2003), 165. [10] Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Mazhab (Jakarta: lentera, 2001), 345. [11] Slamet Abidin Dan Aminuddin, Fiqh Munakahat, Juz 1( Bandung: Pustaka Setia.1999),89. [12] Moh. Idrris Ramulyo, Tinjauan Beberapa Pasal Undang-Undang No 1 Tahun 1974, Dari Segi Hukum Perkawinan Islam ( JakartaInd-Hillco,1985),177. [13] Sayyid Ai akar Al-Manshur bil Sayyid al-Bikri, I’ anatu Al-Thalibin,juz 39( Surabaya: Al- idayah, Tth), 318-319. [14] Syaikh Muhammad As-sabini al-khathib, Al-aqna’ Juz 1,(Semarang: Toha Putra Tth), 126. [15] Slamet Abidin, Loc. Cit., 93. [16] Mohd. Idris Ramulyo, Op.Cit.,214. [17] Mahmud Yunus Hukum Perkawinan Dalam Islam (Jakarta: Hidakarya Agung, 1989), 24. [18] Ibnu Qudamah Al-Mughni (Kairo, Dar al-Hadits 1425 H/2004 M) juz 9 hal 119. [19] Ibid Ibnu Qudamah Al-Mughni (Kairo, Dar al-Hadits 1425 H/2004 M) juz 9 hal 119. [20] Sulaiman Rasjid, , Op.Cit., 386 [21] QS. At-Taubah : 71[22] Imam Nawawi Al-Majmu’ sarh Al-Muhaddzab (Beirut Dar al-Fikr th. 1425 H/ 2005) juzl 17 hal 318 [23] Ibid 318, Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri Minhajul Muslim (Kairo, Dar as-Salam th. 2001) hal 336.[24] (H.R.Ibnu Majah dan Daruquthni dan para perawinya adalah orang-orang yang terpercaya) [25] Ibid hal 2 [26] Syaikh Hasan Ayyub, Op. Cit.,69 [27] Ibrahim al- Baijury, Al-Baijury, Juz 2 (Semarang: Dina Utama, 1993)101 [28] Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah 7 (Bandung: Al-ma’arif, 1997) [29] (HR. Muslim no. 3432) [30] (Fiqhun Nisa` fil Khithbah waz Zawaj secara ringkas, hal. 68-70) [31] Imam Nawawi Al-Majmu’ Sarh al-Muhaddzab juz 17 hal 312. [32] Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Husaini Al-Hushaini Kifayah al-Akhyar fi Hilli Ghayah al-Ikhtisar (Damaskus, Dar al-Khair th. 1994 M). Maktabah Syamilah. [33] Abdullah bin Qudamah Al-Maqdisi Al-Kafi fi Fiqhi Ibnu Hanbal . Maktabah Syamilah. [34] Al-Majmu’ juz 17 hal 305. [35] HR. Tirmidzi dan beliau mengatakan, “Ini adalah hadits hasan shahih” [36] HR. Abu Dawud hadits. No. 2100. dan Nasa’I. [37] Al-Majmu’ juz 17 hal 307. [38] HR. Ibnu Hibban. [39] HR. Daruqutni.[40] HR Abu Daud no 2083 dan dinilai shahih oleh al Albani. *Tulisan telah diseminarkan pada sidang seminar perkuliahan mata kuliah Fiqih Munakahat di PUTM  

Kehidupan Ibarat Semut, Laba-Laba dan Lebah – Belajarlah!

Tongkronganislami.net – Tiga binatang kecil ini menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur’an. An Naml [semut], Al ‘Ankabuut [laba-laba], dan An Nahl [lebah]. Semut, menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa berhenti. Konon, binatang ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun. Padahal usianya tidak lebih dari setahun. Ketamakannya sedemikian besar sehingga ia berusaha – dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya. Lain lagi uraian Al-Qur’an tentang laba-laba. Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh [Al ‘Ankabuut; 29:41], ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sana akan binasa. Bahkan jantannya disergapnya untuk dihabisi oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Inilah gambaran yang mengerikan dari kehidupan sejenis binatang. Akan halnya lebah, memiliki naluri yang dalam bahasa Al-Qur’an – “atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal” [An Nahl; 16:68]. Sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar efisen dalam penggunaan ruang. Yang dimakannya adalah serbuk sari bunga. Lebah tidak menumpuk makanan. Lebah menghasilkan lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi kita. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali jika diganggu. Bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat. Sikap kita dapat diibaratkan dengan berbagai jenis binatang ini. Ada yang berbudaya ‘semut’. Sering menghimpun dan menumpuk harta, menumpuk ilmu yang tidak dimanfaatkan. Budaya ‘semut’ adalah budaya ‘aji mumpung’. Pemborosan, foya-foya adalah implementasinya. Entah berapa banyak juga tipe ‘laba-laba’ yang ada di sekeliling kita. Yang hanya berpikir: “Siapa yang dapat dijadikan mangsa”. Nabi Shalalahu ‘Alaihi Wasallam mengibaratkan seorang mukmin sebagai ‘lebah’. Sesuatu yang tidak merusak dan tidak menyakitkan : “Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya” Sumber: tulisan Prof. Dr. Quraish Shihab, Lc, MA

Tuntunan Islam Saat Kelahiran Anak Sesuai Sunnah Nabi SAW

2
Tuntunan Islam Saat Kelahiran Anak – Apabila seorang bayi lahir di tengah-tengah keluarga, hendaklah ia disambut dengan penuh suka cita dan rasa syukur kepada Allah swt, sebagai anugerah-Nya yang tak terhingga. Anak merupakan permata dan harta termahal bagi kedua orang tua sekaligus bukti kasih sayang Allah swt kepada mereka. Di sisi lain, anak juga merupakan amanah dan ujian Allah swt kepada kedua orangtuanya. Sehingga kelak di kemudian hari, Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka. Islam sebagai pedoman hidup yang sempurna telah memberikan petunjuk-petunjuk praktis menyangkut seorang anak yang baru dilahirkan ke alam dunia yang fana ini. Petunjuk-petunjuk tersebut dimaksudkan sebagai wujud ungkapan rasa syukur orang tua sekaligus mengandung harapan dan kebaikan bagi anak yang baru dilahirkan.

Menyambut Kelahiran Bayi Perempuan & Laki-laki dengan Amalan yang Disunnahkan

1. Bersihkanlah mulut si bayi, kemudian usapkanlah dengan kurma, madu atau sesamanya pada langit-langit mulutnya dengan disertai do’a agar si bayi mendapat barakah Allah sw. Hal ini didasarkan kepada Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Musa, sebagai berikut:

وُلِدَ لِي غُلَامٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ

“Anakku telah lahir, maka aku bawa kepada Nabi saw. Maka beliau member nama kepadanya dengan nama Ibrahim, lalu diusap langit-langit mulutnya dengan kurma dan dido’akan dengan barakah. (HR. Bukhari dari Abu Musa r.a.) 2. Mohonkanlah perlindungan kepada Allah swt dengan kalimat seperti berikut ini atau sesamanya:

  أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

“Aku berlindung dengan firman-firman Allah yang sempurna dari seluruh syetan, segala macam gangguan dan penggoda yang jahat. Perbuatan di atas di dasarkan kepada Hadits Nabi berikut ini:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُولُ إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

“Adalah Rasulullah saw memohon perlindungan bagi Hasan dan Husen (cucu beliau) dan bersabda: Sesungguhnya Nabi Ibrahim memohonkan perlindungan bagi Isma’il dan Ishaq sebagai berikut: A’udzu bikalimatillahit taam mati… dst. (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas). Sebagian Ulama’ menganjurkan agar anak yang baru lahir dikumandangkan adzan pada telinga kanan dan iqamat pada telinga kirinya. Bacaan adzan ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh beberapa ulama hadits seperti Imam Ahmad, Abu Dawud, dan lain-lain. Tetapi, sebagaimana dikemukakan Imam Suyuthi, hadis ini adalah riwayat yang lemah sehingga tidak dapat dijadikan landasan amal. 3. Hendaklah pada hari kelahirannya atau pada hari yang ketujuh bayi tersebut diberi nama yang bagus yang mengandung perlambang dan harapan yang mulia. Hal ini didasarkan pada tuntunan Nabi sebagai berikut:

إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ

“Kalian akan dipanggil kelak di hari Kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama orang tua kalian” (HR.  Abu Dawud, dan lain-lain.) Juga disebutkan dalam hadits lain, belilau bersabda:

وُلِدَ لِي اللَّيْلَةَ غُلَامٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ

“Semalam telah lahir anakku laki-laki,lalu  aku beri nama dia dengan nama kakekku, Ibrahim. (HR. Muslim dari Anas) Juga disebutkan dalam Hadits lain, beliau bersabda:

الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُسَمَّى وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ

“Setiap anak tergadaikan oleh aqiqahnya yang disembelih sebagai tebusan pada hari ketujuh dan diberi nama sekaligus (hari ketujuh) serta dicukur kepalanya. (HR. Bukhari, Muslim, dan lain-lain). 4. Hendaklah pada hari ketujuh itu pula rambut si anak dicukur. Sunnah ini didasarkan pada petunjuk Rasulullah saw. sebagaimana tercantum dalam hadis di atas. 5. Hendaklah pada hari ketujuh itu pula dilakukan aqiqah, yaitu menyembelih dua ekor kambing bagi bayi laki-laki dan satu ekor kambing bagi bayi perempuan. Sunnah ini didasarkan pada petunjuk Rasulullah saw sebagaimana tercantum dalam hadis di atas dan tedapat pada hadis berikut ini:

عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ

“Aqiqah bagi anak laki-laki dua ekor kambing yang sepadan dan bagi anak perempuan satu ekor. (HR. Ahmad dan Tirmidzi) Sebagian Ulama’ berpendapat bahwa aqiqah dapat dilakukan pada hari ke empat belas atau kedua puluh satu, berdasarkan hadis riwayat Al-Baihaqi. Bahkan dapat pula dilakukan setelah anak dewasa berdasarkan hadis riwayat Baihaqi pula yang menyatakan bahwa Nabi saw pernah menyembelih aqiqah untuk dirinya sendiri. Tetapi, setelah dilakukan penelitian, kedua Hadits tersebut da’if (lemah). Pada hadis yang pertama terdapat seorang perawi bernama Ismail bin Muslim al-Makky sedang pada hadis kedua terdapat perawi bernama Abdullah bin al-Muharrar. Kedua perawi tersebut dilemahkan oleh beberapa ahli hadis. Dengan demikian, pendapat di atas tidak memiliki landasan kuat untuk diikuti. Berkaitan dengan kelahiran anak, selain perkara-perkara di atas, di kalangan masyarakat muslim dikenal bermacam-macam tradisi yang dilakukan secara turun temurun. Sepanjang tradisi-tradisi tersebut tidak bermuatan kepercayaan-kepercayaan tertentu atau bersifat ubudiyah (upacara ritual) ia boleh dilakukan karena termasuk urusan duniawiyah. Namun bila bermuatan kepercayaan dan bersifat ubudiyah ia dapa dikatagorikan sebagai perbuatan syirik dan bid’ah.
Beberapa Tradisi yang dilarang saat Kelahiran Anak Perempuan dan Laki-laki
1. Nylameti (Selamatan) Sedulur Papat Kalimo Pancer. Tradisi ini didasari kepercayaan bahwa setiap bayi memiliki empat saudara yakni: kawah, plasenta, darah yang terpancar ketika melahirkan dan pusat. Keempatnya mempunyai sesuatu daya ghaib sebangsa ruh atau kekuatan ghaib yang menolong atau mencelakakan sang bayi. Karenanya, agar mereka tidak member laknat (malati) keempatnya perlu disediakan sesaji dengan upacara tertentu yang dilakukan secara periodik sejak bayi dilahirkan hingga meninggal dunia. 2. Upacara Sepasaran dan Puput Puser Diadakan setelah bayi berumur 5 hari dengan cara melakukan selamatan nasi tumpeng, janganan, jenang merah putih, jenang baro-baro, dan jajan pasar lengkap. Jika sisa usus bayi yang melekat di pusar telah mengering dan kemudian terlepas, dinamakanlah puput puser (putuslah pusat). Maka diadakanlah upacara yang dinamakan puput puser. Upacara dilakukan dengan berbagai macam ramuan dan bentuk-bentk laku yang tak lepas dari unsure-unsur kepercayaan tertentu. Kadang-kadang dibacakan pula Kitab Berjanzi dan marhabanan 3. Upacara Selapanan Mandap Siti. Dilakukan setelah bayi berusia 35 hari dengan dilakukan upacara selamatan seperti pada waktu selapanan, tetapi ditambah dengan membuat sesaji yang diletakkan di bawah tempat tidur bayi. Upacara ini mengandung takhayul dan kepercayaan-kepercayaan yang tak masuk akal, yang bila tidak dilakukan akan berakibat buruk pada bayi. Demikianlah artikel mengenai Tuntunan Islam Saat Kelahiran Anak serta tradisi yag tidak seharusnya dilakukan. Penyusun: Zaini Munir (dosen PUTM)

Renungan Suami Istri! “Ya Allah, Apa Yang Terbaik Di Sisi-Mu, Itulah Takdirku”

Tongkronganislami.net –  Enam tahun sebelumnya, nyaris tiada kesan indah saat pertama kali kami berjumpa. Bahkan perasaan iri sempat singgah di hati ketika melihat canda tawanya bersama ketiga teman karibnya. Mengapa aku tak bisa seceria mereka,padahal akupun ingin memulai hari-hari pertamaku di bangku SMEA dengan bahagia. Sekolah baru,teman-teman baru,tak sepenuhnya memberiku semangat baru. Yang ada justru perasaan cemburu dengan mereka yang bertemu dan langsung akrab dengan teman-teman baru. Astaghfirulloh! Sebuah kenangan masa sekolah yang konon kata orang sulit untuk dilupakan. Setahun bersama,belum juga memberiku kesan indah padanya. Biasa saja, sama seperti perasaanku terhadap teman sekalas lainnya.Barulah di tahun kedua – ketika kami berpisah kelas – aku merasakan ada sesuatu yang hilang dalam keseharianku.Aku kehilangan cerianya. Aku tersadar bahwa sebenarnya aku bukan membencinya,tapi mencintainya.Subhanallah! Maha Indah Allah dengan segala keindahan-Nya,termasuk percikan cinta yang dianugerahkan kepada hamba-Nya. Seiring bertambahnya usia, sebagai remaja yang mulai menginjak dewasa, perasaan suka itupun semakin mekar berbunga.Meski tanpa kata,tatapan mata kami sering mengirimkan pesan bermakna suka. Sayang, saat itu kami sama-sama tak memiliki keberanian untuk menjalani masa-masa paling indah di sekolah yang biasa disebut pacaran. Tapi belakangan kami sangat mensyukuri ketidakberanian kami berdekatan seperti beberapa pasang teman sekelas kami yang lainnya. Terima kasih ya Allah, kini kami sadar bahwa sesungguhnya Engkau telah menyelamatkan kami dari tipu daya syetan yang mengatasnamakan cinta untuk menutupi nafsu yang sesungguhnya. Setelah dua hati bersatu dalam ikatan pernikahan yang suci, hari-hari indah kami jalani bersama. Jika ada tawa, kita nikmati berdua. Begitupun jika ada tangis, berduapun kami lakukan tanpa diminta. Ketika hati yang telah dilandasi cinta bicara, maka tak perlu lagi bibir ini berkata-kata. Dan kebahagiaan kami semakin lengkap dengan hadirnya seorang bayi mungil nan jelita. Sabila, demikian kami memberinya nama. Subhanallah, Maha Indah Engkau Ya Allah. Kami benar-benar takjub dengan keindahan yang Engkau percikan padanya, anugerah sekaligus amanah bagi kami selaku orang tuanya. Kehadiaran Sabila membuat kehidupan kami terasa ‘sempurna’. Meski menikah di usia muda, kami tak merasa ada yang salah dalam kami berumah tangga. Tak ada rasa penyesalan ketika melihat teman-teman seusia kami asyik dengan dunia mudanya. Kami menikmati masa muda kami dengan cara yang berbeda, dan kami merasa sangat bahagia. Kami bisa mencurahkan cinta dan kasih sayang kapanpun, dimanapun, dalam sebuah kenikmatan ibadah dengan kehalalan yang kami miliki. Tak ada rumah tangga yang bebas dari ujian. Begitupun kami, tak lepas dari ujian dan cobaan. Ujian yang kami hadapi seringkali berkutat di masalah ekonomi. Pernikahan di usia muda – ketika baru tiga tahun kami bekerja, ditambah berhentinya istri setelah setahun kelahiran Sabila – memang banyak mempengaruhi kehidupan ekonomi kami. Tapi, Alhamdulillah Allah memberikan kami keluasan hati dan kesabaran yang lebih dibanding yang lainnya. Gali lobang tutup lobang menjadi jurus andalan ketika kebutuhan rumah tangga tak lagi bisa ditunda.Tapi kami bersyukur,kesulitan ekonomi yang kami hadapi sedikitpun tak menggeser pondasi rumah tangga kami. Saat susah kami bersyukur, saat bahagia kami bersabar. Sejauh ini analisa kami mengatakan bahwa meski dibangun di usia muda, kehidupan rumah tangga kami tidak jauh berbeda dengan rumah tangga yang dibangun oleh mereka yang sudah dewasa. Kami cukup makan, cukup pakaian dan meski menyewa kami bisa berteduh dari panas dan hujan. Juga dalam menjaga keharmonisan rumah tangga, kami menghadapi ujian dengan saling pengertian dan koreksi diri. Kalaupun terkadang muncul perasaan cemburu dan curiga,kami melakukan dan menanggapinya dengan dan karena cinta. Alhamdulillah. Hidup penuh ujian, dan orang yang beruntung adalah orang yang menghadapi setiap ujian dengan sabar dan sadar bahwa ujian datang atas izin dan kehendak Allah. Nasihat bijak ini terus tertanam dalam benak dan keyakinan kami. Ketika ujian-ujian kecil berhasil kami lalui, maka ujian kembali datang dalam bentuk dan takaran yang berbeda. Jika kami telah terbiasa ‘berdamai’ dengan kondisi keuangan, maka ujian datang dalam bentuk gangguan kesehatan. Masih teringat jelas setahun yang lalu,teriakan sang dokter memanggil suster dari dalam kamar prakteknya. Ketidakpercayaan dokter menular kepada kami. Bagaimana mungkin istriku yang selama ini kutahu memiliki tekanan darah rendah, tiba-tiba tekanan darahnya melonjak hingga 200/110. Terlebih saat itu wanita yang pertama kali membuatku jatuh cinta karena senyum dan lesung pipinya ini sama sekali tidak merasakan tanda-tanda atau gejala layaknya orang yang menderita hipertensi. Semua pertanyaan dan kekhawatiran sang dokter dijawab dengan senyum dan gelengan kepala. “Tidak, saya tidak merasakan itu semua Dok!” Subhanallah,Allahu Akbar. Ada sesuatu yang lain dari biasanya, begitu kesimpulan dokter beberapa bulan kemudian. Pemberian obat penurun darah tinggi dalam dosis yang cukup tinggi tidak memberikan hasil yang signifikan. Sang dokter berkali-kali menganjurkan istri untuk tes darah dan mendatangi dokter specialis penyakit dalam guna memastikan apa gangguan kesehatan yang sebenarnya. Tapi istriku adalah istriku, wanita penyabar dan penuh kasih namun sangat takut dengan dunia medis. Dokter atau rumah sakit adalah dua hal yang ( jika bisa ) tak ingin dikenal sepanjang hidupnya. Kalaupun selama itu mau berobat, harus dengan satu syarat yaitu di klinik yang sama, dokter yang sama. Andaikan ada keluhan di hari Sabtu, dia akan bersabar, menahan dan menunggu hari Senin saat sang dokter ‘pribadinya’ praktek di klinik yang ditunjuk perusahaan tempatku menjemput rezeki. Saran sang dokter bukanlah basa-basi, tapi sebuah isyarat bahwa ada sesuatu yang harus segera diketahui sebelum tekanan darah tinggi istriku semakin tak terkendali. Tapi tak hanya dokter, akupun tak mampu membujuknya untuk ‘bersilaturahmi’ dengan dokter specialis penyakit dalam. Dalam sakit, istriku lebih memilih sabar sebagai penolongnya. Dalam hal ini aku tak sepenuhnya menyalahkannya. Aku coba mengikuti keinginannya, memberikan semangat, rasa nyaman dan nyaman bagi mentalnya. Tapi daya tahan tubuh memiliki batas tertentu. Berbulan-bulan mengkonsumi obat penurun tekanan darah tinggi, kenyataannya tekanan darahnya tetap tinggi. Bahkan di satu pagi di akhir Juli, kami dikejutkan dengan pembengkakan di kaki, tangan dan wajahnya. Astaghfirulloh! Kondisi yang tak pernah terlintas dalam benak kami,memaksa istriku pasrah untuk dirawat secara intensif di rumah sakit. Tumbang sudah prinsipnya untuk tidak ‘berkenalan’ dengan rumah sakit. Sebuah fakta mengejutkan harus kami terima, sang dokter mengabarkan bahwa istriku mengalami gangguan gagal ginjal. Apa penyebabnya dan sejak kapan pastinya menjadi tidak begitu penting di telusuri, yang jelas kondisi saat itu sudah cukup parah, antara stadium 4 atau 5, padahal tidak adal lagi stadium 6. Kadar ureum melonjak 288 dan creatininnya 8.77, sementara kadar hb hanya 4 dan tekanan darahnya diatas 170. Semua data yang ada begitu meyakinkan bahwa istriku menderita gangguan gagal ginjal kronik. Seminggu menjalani perawatan medis, akhirnya istri diperbolehkan pulang dengan catatan harus kontrol dan menjalani rawat jalan secara rutin. Tapi seminggu akrab dengan dokter dan segala macam peralatan rumah sakit tidak merubah ketakutannya pada dunia medis. Demi menyelematkan semangatnya, akhirnya kami memilih pengobatan alternative yang tidak bertentangan dengan syari. Bulan Ramadhan meninggalkan kesan dan kenangan mendalam karena kami berada pada situasi dan kondisi yang memberikan sebuah kedekatan antara kami berdua. Bukan hanya fisik, tapi hati kami berdua. Seminggu sekali kami menempuh perjalanan 2 x 18 kilo meter untuk berikhtiar mencari kesembuhan. Berdua berboncengan motor, tak ada lelah, tak ada keluh kesah. Kami menjalani semua ini dengan ikhlas dan penuh pengharapan. Dan pada akhirnya, semua ini menjadi salah satu kenangan terindah kami berdua. Tetap sabar, sadar dan terus berikhitar,sedangkan hasil Allahlah yang menentukan.Do’a terus kami panjatkan, ikhtiar terus kami lakukan, termasuk bersilaturahmi dengan keluarga saat lebaran. Kami berharap,restu orang tua serta doa sanak saudara bisa menjadi obat tersendiri bagi istri. Meski kondisi kesehatan sempat menurun – istri sempat batuk-batuk dan ada darah segar dalam dahaknya – kami tetap melanjutkan niat kami untuk merayakan lebaran bersama keluarga di kampung halaman. Bismillahirrohmanirrohiim, keberkahan silaturahmi akan mendatangkan semangat dan obat bagi kami, insya Allah. Begitu besar harapan kami. Manusia hanya bisa berencana, Allahlah yang menentukan akhirnya. Selama mudik lebaran, kondisi kesehatan istriku semakin menurun, sehingga kami tak bisa memaksimalkan silaturahmi saat Idul Fitri. Beruntung orang tua kami selalu mengadakan open house saat lebaran, jadi meski berdiam diri di rumah kami tetap bisa bersilaturahmi dengan saudara dan tetangga yang datang ke rumah. Berbagai dukungan, doa dan bantuan terus mengalir, memberikan semangat dan kekuatan untuk menang dalam ujian yang sedang kami hadapi. Apa yang terlihat di depan mata, apa yang tergenggam di tangan, sesungguhnya bukan dan belumlah tentu milik kita. Tiga lembar tiket bus untuk balik ke Tangerang, terpaksa kami kembalikan karena sehari sebelum keberangkatan, kondisi kesehatan istriku mengalami penurunan drastis. Kami tak tahu apa istilahnya, tapi kepala dan tangan kirinya selalu bergerak tak terkontrol, layaknya orang kedinginan atau gerakan orang-orang yang sudah lanjut usia. Dokter mengatakan ini disebabkan pasokan darah dan oksigen ke otak kurang. Tak ada pilihan, istri harus kembali menjalani perawatan di rumah sakit Gombong – Kebumen. Ada buliran air mata yang tak sanggup kubendung kala itu, aku tahu persis ketakutan istri dengan rumah sakit. Tapi demi kebaikannya, berbagai rayuan aku keluarkan untuk menjaganya tetap bersemangat. Kejadian akhir bulan Juli di Tangerang kembali terulang di hari ketujuh lebaran. Hasil pemeriksaan darah menunjukan kadar hb hanya 4.4, kadar ureum melonjak sampai 338 dan creatinin naik menjadi 19.8. Sebuah kondisi yang cukup ( sangat ) parah. Kalau dua bulan lalu dokter mengatakan stadium 4 – 5, maka saat itu sudah stadium terminal dan tak ada pilihan medis kecuali harus melakukan HD atau cuci darah. Dan tanpa bertanyapun aku sudah tahu jawabannya. Sebagai ikhtiar, tetap saja aku coba bertanya dan membujuknya, meskipun hasil akhirnya sesuai dengan yang kami duga. Istriku menolak keras HD,apapun alasan dan pendapat medis. Tujuh hari menjalani perawatan medis kedua, dokter dan pihak rumah sakit tidak kuasa menahan keinginan istri untuk pulang. Satu pesan mereka berikan bahwa di manapun dan ke manapun, harus segera dilakukan perawatan lanjutan. Dan tindakan lanjut yang kami pilih adalah kembali menanjutkan pengobatan alternative yang sempat terhenti selama kami mudik. Namun rupanya Allah belum memperkenankan ikhtiar kami, tiga hari di Tangerang atau tepatnya seminggu setelah keluar dari rumah sakit, kondisi kesehatannya kembali memburuk. Selama 18 jam, istriku memuntahkan cairan hitam encer sebanyak 12 kali. Semula kami tidak tahu apa cairan hitam dan encer itu. Kami baru tahu bahwa itu adalah darah yang sudah terkontaminasi racun setelah kami mendatangi rumah sakit yang dulu menangani istri. Kembali, sang dokter menegaskan bahwa tidak ada pilihan medis lainnya kecuali cuci darah. Namun sang dokter tidak bisa menahan ketika kami bersikukuh untuk mencari kesembuhan melalui jalur lain. Hampir tengah malam ketika rombongan kami sampai di rumah kediaman seseorang yang dianugerahi kemampuan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Melalui doa dan obat-obatan herbal,begitu metode pengobatan yang ada di tempat ini. Dan, di tempat alternative kedua yang kami datangi ini, istriku harus menjalani rawat inap selama maksimal dua belas hari. Beruntung saat itu ada ibu dan kakakku yang siap menemani dan menunggu karena aku harus tetap masuk kerja. Alhamdulillah, sehari menjalani perawatan, kondisi kesehatan istri menunjukan hal yang sangat menggembirakan.Tak ada lagi muntah, bahkan batukpun tidak. Di hari kedua, istri sudah bisa menghabiskan satu mangkuk bubur ayam, pergi ke warung atau mandi sendiri. Bahkan ketika kami semua membezuk lima hari kemudian, kami sempat jalan-jalan bersama. Tidak terlalu jauh untuk ukuran kami, tapi sebuah kemajuan yang sangat membanggakan bagi istri.Saat itu kami mengira kemenangan istri menghadapi ujian sudah di depan mata. 101010 atau 10 Oktober 2010, bagi sebagian orang mungkin dianggap istimewa dan saat yang tepat untuk melakukan sesuatu yang berarti dalam hidupnya, tapi awalnya tidak bagi kami. Hari dan tanggal ini semula kuanggap biasa saja, sama dengan hari dan tanggal yang lainnya. Namun rupanya hari dan tanggal ini telah ditentukan oleh Allah SWT sebagai hari terakhir kebersamaanku dengan wanita yang begitu banyak memberiku kebahagiaan, pelajaran dan juga pengalaman. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, ketetapan Allah lah yang berlaku akhirnya. Sepanjang hari Minggu, 10 Oktober 2010 kondisi kesehetan istriku menurun drastis. Keluhan dirasakan olehnya adalah sesak napas, sehingga komunikasi antara kami sedikit sekali. Sepanjang hari ini kami lebih banyak diam, hanya tatapan mata ini tak lepas darinya, tangan ini lebih sering menyentuh tangan dan kakinya yang kembali membengkak, bibir ini lebih sering memberi semangat padanya, dan telinga ini lebih sering mendengar istighfar dan dzikir kami semua. Tak terpikir kala itu untuk membawa istri ke rumah sakit, karena kedatangan kami ke tempat ini adalah menghindari medis. Do’a dan istighfar kami tingkatkan, pak haji yang menangani istripun lebih intensif memantau perkembangan istri. Tanpa kami sangka tanpa kami duga, ketika sholat Ashar kuakhiri dengan salam, hanya tersisa beberapa detik untukku bisa melihat gerakan nafas terakhir istriku. Dalam pelukanku, Sabila dan adik ipar, istriku meninggalkan kami untuk selamanya.
Inalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Segalanya bermula dari Mu ya Allah dan akan kembali kepada Mu.
Semua terjadi begitu cepat dan tiba-tiba. Inilah bukti kekuasaan-Mu ya Allah. Betapapun kami sangat mencintai dan menyayanginya, namun dia bukanlah milik kami,Engkaulah Pemilik Cinta Yang Sejati.Kami ikhlas,kami ridho.Betapapun duka dan kesedihan yang kami rasakan,tak ingin langkah orang yang sangat kami sayangi tertahan tangis dan ratap kami. Tak ada penyesalan yang kami rasakan, tak ada orang yang akan kami salahkan, semua sudah tercatat jelas kapan, dimana dan bagaimana Engkau akan memanggilnya.Kami ikhlas,kami ridho.Ketetapan-Mu lah yang terbaik, terbaik untuk ku dan terbaik untuk istriku. Ya Allah,aku kembalikan istriku kepada Mu dengan penuh keikhlasan.Aku hantar ia ke peristirahan terakhirnya dengan keridhoan.Aku ikhlas engkau mengambilnya disaat kami sedang berjuang sekuat tenaga untuk tetap mempertahankannya di sisi kami. Aku ridho dengan semua yang telah aku lakukan dan perjuangkan untuk istriku. Aku ikhlas dan ridho, bahkan bersyukur telah Engkau berikan kesempatan sebelas tahun bersama, belajar menjalani manis pahitnya hidup, belajar menjadi hamba yang sabar dan tawakkal, belajar memaknai dan menikmati cinta yang suci.Semoga keikhlasanku, keridhoanku serta orang-orang yang menyayangi almarhumah,memudahkan pertemuannya dengan Mu…Aamiin. Siapapun orangnya,pasti sedih dan berduka ditinggal orang yang selama ini begitu dekat secara fisik maupun hati.Begitupun yang aku rasakan.Bila tak ingat bahwa ini adalah takdir Illahi, rasanya semua ini tidak adil.Setelah hampir tiga bulan berjuang bersama, melewati hari-hari penuh ujian bersama,semestinya kesembuhan dan kebahagiaan yang patut kami terima,tapi mengapa malah diambil selamanya. Astaghfirulloh! Kami ikhlas, kami ridho, dan kami tak ingin membuat celah bagi syetan untuk menodai keikhlasan ini. Tak kuasa kami untuk menahan, kecuali melepasnya dengan keikhlasan, mengantarnya dengan keridhoan, dan mendoakannya dengan penuh ketulusan semoga almarhumah kembali dalam keadaan khusnul khotimah. Ya Allah, terimalah almarhumah istri hamba di sisi Mu,terimalah iman dan islamnya,terimalah amal dan ibadahnya,ampunilah salah dan khilafnya,berikan nikmat kubur padanya, berikan syurga untuknya dan izinkan kelak kami berkumpul kembali dalam syurga Mu ya Allah ya robbal ‘alamin. Maha indah Allah dengan segala keindahan-Nya,yang telah menuliskan perjalanan hidup setiap hamba Nya. Kini aku lebih banyak bersyukur, betapa indah skenario hidup yang Engkau persiapkan untukku, begitu indah orang-orang yang Kau pilihkan untukku. Besar harapanku bahwa aku telah memainkan peran yang Engkau berikan dengan maksimal. Kalaupun ada kurang dan kelirunya, semoga terbuka lebar pintu maghfiroh untukku, Aamiin ya Rabbal’alamin Sumber : andikaalbanjariiiyahoocom.blogspot.com