Waktu Berbuka bagi yang Puasa di Tempat Durasinya Lama

Waktu Berbuka bagi yang Puasa di Tempat Durasinya Lama

Tongkronganislami.net – Sebagai bulan ibadah dan barakah, kehadiran Ramadhan selalu dinanti oleh semua kaum muslimin di seluruh penjuru dimanapun mereka tinggal. Rasa haus dan lapar karena kondisi cuaca tidak menjadi halangan, sebab di tahun mendatang belum tentu bisa berjumpa kembali dengan Ramadhan.

Jika kita melihat ke berbagai penjuru bumi secara geografis, daerah yang stabil dalam hal waktu adalah Negara yang berada di garis khatulistiwa dan sekitarnya, sebab Negara yang berada pada bentang khatulistiwa memiliki waktu yang tidak berubah sepanjang tahun, baik siang maupun malam.

Hal ini berbeda dengan Negara yang terletak pada lintang tinggi atau bahkan berdekatan dengan kutub. Ketika musim dingin, matahari bahkan tak kunjung terbit untuk beberapa bulan kedepan. Namun ketika tiba musim semi, matahari hanya tenggelam selama beberapa jam. Bahkan di daerah tertentu matahari tidak tenggelam sama sekali.

Keadaan diatas tentu menjadi perhatian kita semua sebagai umat Islam, terlebih jika dikaitkan dengan menjalankan kewajiban puasa. Lalu bagaimana ketentuan puasa bagi umat Muslim yang tinggal di Negara dengan garis lintang tinggi? Berikut paparan singkatnya.

Untuk menjawab permasalahan ini, mari kita perhatikan ayat berikut:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Makan dan minumlah kamu hingga nampak bagi kalian benang putih dari benang hiram, yaitu fajar. Lalu sempurnakanlah puasa hingga malam hari [Q.S. al-Baqarah (2): 187].”

Yang dimaksud dengan fajar dalam ayat ini adalah fajar shadiq, yaitu keluarnya cahaya yang membentang di ufuk; tempat terbitnya matahari (lihat Mu’jam wa Tafsir al-Lughawi li Kalimat al-Qur’an karya Hasan ‘Izz ad-Din bin Husain bin ‘Abd al-Fattah Ahmad al-Jumal, II/78). Dengan demikian, orang yang puasa memiliki waktu untuk makan dan minum hingga fajar shadiq terbit.

Berdasarkan ayat ini, setiap muslim yang sudah dibebani kewajiban (mukallaf), wajib menjalankan puasa Ramadhan mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari meskipun dengan waktu siang atau malam yang sangat panjang.

Para mukallaf wajib menahan diri dari makan, minum, dan semua hal yang dapat membatalkan puasa dari mulai terbit fajar sampai matahari terbenam selama tanda malam dan siang dapat dikenali dalam rentang waktu dua puluh empat (24) jam.

Mereka boleh melakukan aktivitas seperti makan, minum, dan berhubungan suami istri hanya selama waktu malam berlangsung atau sejak waktu berbuka sampai tiba fajar shadiq. Sebab syari’at Islam berlaku umum bagi semua orang dan dalam semua waktu dan keadaan.

Adapun jika mereka merasa berat untuk menunaikan puasa karena lamanya waktu siang atau malam, atau khawatir akan jatuh sakit yang dilihat melalui gejala, keterangan dari dokter yang terpercaya, atau dengan dugaan kuat (ghalabah azh-zhann) bahwa puasa akan membuatnya susah payah dan atau membuat penyakit yang ia derita tidak kunjung sembuh atau lambat sembuhnya, maka ia boleh berbuka kemudian mengqadla di bulan yang memungkinkan untuk puasa. Allah swt berfirman:

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Siapa saja yang menyaksikan datangnya bulan (awal Ramadhan), maka ia berpuasa. Adapun orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan (safar), maka ia (boleh) mengganti puasa di hari yang lain” [Q.S. al-Baqarah (2): 184].

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan pada kemampuannya” [Q.S. al-Baqarah (2): 286].

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dan Allah tidak menjadikan kesusahan atasmu dalam (menjalankan) agama” [Q.S. al-Hajj (22): 78].

Adapun bagi daerah yang tidak dapat dibedakan antara siang dan malam, maka waktu puasa diperkirakan kepada Negara atau wilayah yang dekat dengan mereka, dimana Negara tersebut memiliki keseimbangan waktu, antara siang dan malam memiliki kelapangan, karena Allah swt mewajibkan shalat dan puasa.

Berdasarkan pemaparan singkat ini, puasa tetap diwajibkan bagi umat Islam yang tinggal di daerah dengan lintang tinggi, baik waktu siangnya lama atau waktu malam yang panjang. Hal ini berlaku selama waktu siang dan malam masih dapat dibedakan dengan jelas.

Baca Juga:

  1. Hukum Penggunaan Ventolin bagi Penderita Asma Saat Puasa Ramadhan
  2. Hukum Buka Warung Makan ketika Bulan Puasa Ramadhan

Adapun jika suatu wilayah mengalami siang yang berkepanangan atau malam yang berkelanjutan, maka waktu shalat dan puasa diperkirakan pada daerah yang dekat dengan mereka, dimana pada daerah tersebut waktu siang dan malam dapat dibedakan dengan jelas serta memiliki kelapangan dalam rangka menjalankan shalat dan puasa.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here