Bab IX Hukum dan Permasalah Seputar Sholat Jama'ah

Advertisement

Bab IX Hukum dan Permasalah Seputar Sholat Jama'ah

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Tegakan shalat dan bayarlah zakat dan rukuklah kamu bersama dengan orang-orang yang rukuk”( al-Baqarah :43 )

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ ….الأية

Dan jika kamu berada di tengah-tengah mereka ( sahabat ) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu…..” ( An Nissa’ : 102 )

عن ابي هريرة رضي الله عنه انه قال اتى رسول الله صلى الله عليه و سلم رجل اعمى فقال يا رسول الله انه ليس لي قائد يقود ني الى المسجد و سال رسول الله صلى الله عليه و سلم يرخص له فلما ولي دعاه صلى الله عليه و سلم فقال له هل تسمع النداء؟ قال نعم قال فاجب

Dari Abu Hurairah ra berkata: seorang laki-laki buta datang kepada Nabi SAW dan berkata wahai Rasulullah, tidak ada Padaku seorang yang akan menuntunku pergi ke masjid! Dia minta kepada Rasulullah untuk meminta kemurahan ( izin ) kepada beliau, akan tetapi setelah orang tersebut pergi, tiba-tiba Rasulullah memanggilnya seraya bertanya: Apakah kamu mendengar panggilan adzan ? jawabnya, Ya.Lalu Rasulullah bersabda: Penuhilah panggilan itu! ( HR. Muslim dan Nasa’I )

Dalil Ulama yang berpendapat sunah 

عن ابن عمر رضي الله عنهما ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال الصلاة الجماعة تفضل صلاة الفد بسبع و عسرين درجة 

Dari ibnu umar ra bahwasanya Rasulullah bersabda: "shalat jama’ah lebih tinggi dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian" (HR Bukhari )

عن ابي هريرة ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال صلاة رجل في جماعة تزيد على صلاته في بيته و صلاته في سوقه بسبع و عسرين درجة

Dari Abu Haurairah ra bahwasanya Rasulullah bersabda: "Shalat seseorang berjamaah lebih tinggi dua puluh tujuh derajat dibanding dengan shalat sendirian dirumah dan di pasar" ( Muttafaqun alaih )

عن عبدالله بن سرجس قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم اذا صلى احدكم في بيته ثم دخل المسجد والقوم يصلون فليصل معهم تكون له نافلة 

Dari Abdullah bin sarjis bahwasanya Rasullah bersabda: "Apabila shalat salah seorang dari kamu dirumah kemudian masuk masjid dan mendapatkan orang banyak sedang mengerjakan shalat maka hendaknya shalat bersama mereka sebagai nafilah" ( HR Thabrani, Hadis ini Hasan menurut As Suyuti )

Bagi yang berpendirian jama’ah bukan wajib hukumnya, mereka berpendapat bahwa hadits yang menyebutkan Rasulullah mengancam orang yang tidak jamaah akan dibakar rumahnya merupakn ancaman bagi orang-orang yang meninggalkan jamaah karena nilai nifaq.

Dari semua dalil –dalil yang menerangkan wajibnya ataupun tidak wajibnya jama’ah diatas, menurut cara jamak dan taufiq dapat diambil pengertian bahwa shalat jamaah adalah fardhu kifayah, hanya saja shalat jamaah tetap anjuran yang perlu mendapat perhatian bagi kita.
Permasalah Seputar Sholat Jama'ah
Sholat Jamaah di Mesjid / Trouvetamosquee.fr

Kriteria Imam pada Shalat Jama’ah 

عن عقبة بن عمرو رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه و سلم يؤمّ القوم اقرؤهم لكتاب الله فإن كانوا في القرأة سواء فأعلمهم هجرة فإكانوا في الهجرة سواء فاقدمهم سنّا ولا يؤمن الرجل في صلطانه ولا يقعد في بيته على تكرمته إلا بإذنه

Dari Abu masud Uqbah bin Amr berkata bahwa RasulAllah SAW bersabda: “Hendaklah menjadi imam pada suatu kaum orang yang lebih ahli membaca qur’an, jika dalam hal ini mereka bersamaan maka yang lebih mahir dalam hal sunah (Hadis), apabila dalam hal inipun mereka bersamaan juga, maka yang lebih dahulu mengikuti hijrah, kalau tentang hal ini mereka bersamaan juga maka yang lebih dahulu islamnya (atau yang lebih tua umurnya). (H.R. Ahmad dan Muslim).

Imam yang Buta atau Hamba Sahaya

عن أنس أنّ النبي صلى الله عليه و سلم استخلف ابن أمّ مكتوم على المدينة مرّتين يصلى بهم وهو أعمى

Dari Anas bahwa Nabi SAW menguasakan pada Ibnu Umi Maktum atas Madinah dua kali yaitu mengimami penduduk Madinah padahal beliau adalah seorang yang buta. (H.R.Ahmad dan Abu Dawud).

عن إبن عمر لمّا قدم المهاجرون الأولون نزلوا العصبة موضعا بقباء قبل مقدم النبى صلى الله عليه و سلم كان يؤمهم سالم مولى أبي خذيفة وكان أكثرهم قرآنا وكان فيهم عمربن الخطّاب وأبو سلمة ابن عبد الأسد

Dari Ibnu Umar ketika orang-orang muhajirin yang pertama-tama sampai di ‘Usbah yaitu suatu tempat di Quba sebelum kedatangan Nabi SAW yang mengimami mereka adalah Salim hamba sahaya Abu Hudzaifah, karena dialah yang lebih banyak pengertiannya tenteng Al-Qur’an, padahal di tengah-tengah mereka terdapat juga ‘Umar bin Khattabdan Abu Salamah bin Abdul As’ad. (H.R.Bukhari dan Abu Dawud)

Posisi Makmum yang Sendirian.

Makmum yang sendirian hendaklah berdiri di sebelah kanan imam, berdasarkan: 

عن جابر بن عبدالله قال قام النبي صلى الله عليه و سلم يصلّى المغرب فجئت فقمت عن يساره فنهانى فجعلنى عن يمينه ثم جاء صاحب لى فصفّفنا خلفه 

Dari Jabir bin Abdullah berkata : berdirilah Nabi SAW mengerjakan shalat maghrib, lalu aku datang dan aku berdiri di sebelah kiri Nabi, maka Nabi menahanku kemudian Nabi SAW meletakkanku di sebelah kanannya, kemudian datanglah sahabatku, maka kami membuat shaf di belakang Beliau.(H.R.Abu Dawud)

Sebagian ulama telah menukil adanya kesepakatan bahwa apabila makmum satu orang maka ia berdiri di sebelah kanan imam, hal ini berdasarkan : 

عن إبن عبّاس رضي الله عنهما قال بتّ في بيت خالتى ميمونة فصلّى رسول الله صلى الله عليه و سلم العشاء ثم جاء فصلّى أربع ركعات ثم نام فجئت فقمت عن يساره فجعلنى عن يمينه فصلّى خمس ركعات ثم صلّى ركعتين ثم نام حتى سمعت عطيطه او قال خطيطه ثم خرج الى الصلاة

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata : Aku bermalam di rumah bibiku Maimunah lalu Nabi SAW mengerjakan shalat ‘isya, kemudian Nabi mengerjakan shalat empat rakaat setelah itu Nabi tidur, kemudian Nabi mengerjakan shalat lalu aku datang dan berdiri di sebelah samping kirinya, lalu Nabi menempatkanku disamping kanannya. Beliau shalat lima rakaat kemudian dua rakaat. Kemudian Beliau tidur hingga aku mendengar suara dengkurnya.-atau ia berkata: suara nafasnya.- kemudian Nabi keluar untuk menunaikan shalat subuh.(H.R.Bukhari)

Dalam pendapat ini tidak ada yang menyelisihinya kecuali Ibrahim an-Nakhoi dia berkata : Apabila makmum satu orang maka ia berdiri di belakang imam, jika sampai imam rukuk dan belum datang seorangpun maka ia maju dan mengambil posisi di sebelah kanan imam. Pendapat ini di riwayatkan oleh Sa’id bin Mansur. Sebagian ‘ulama mencoba memberi penjelasan tentang pendapat An-nakhoi tersebut, mereka berpedomanan bahwa imam merupakan tempat berkumpulnya jama’ah, berdasarkan hal itu maka makmum harus berada di belakang imam, akan tetapi pendapat tersebut menyalahi nash sehingga di anggap analogi (qias) yang rancu.

Ibnu Hajar Al-atsqolani berkomentar bahwa Ibrahim An-nakhoi mengatakan hal itu di karenakan ia dalam kondisi adanya keyakinan yang kuat akan datangnya makmum yang kedua. Sa’id bin Mansur meriwayatkan dari An-nakhoi bahwa dia berkata terkadang aku berdiri di belakang Al-Aswad seorang diri hingga muadzin datang. (terjemahan Fathul Baari jilid 4).

Posisi Makmum yang Masbuk

Perintah untuk Meluruskan Shof

عن أنس أنّ النبيّ صلى الله عليه و سلم قال سوّوا صفوفكم فإنّ تسوية الصفوف من تمام الصلاة  

Dari Anas r.a. bahwa Nabi SAW bersabda : "Ratakanlah shofmu karena meratakan shof itu termasuk dari sebagian kesempurnaan shalat”.(H.R.Bukhaori Muslim).

عن أنس كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يقبل علينا بوجهه قبل أن يكبّر فيقول تراصّوا واعتدلوا 

Dari Anas r.a. adalah Nabi SAW menghadapkan mukanya kepada kita sebelum bertakbir seraya bersabda :" rapatkan dan luruskanlah shofmu”.(H.R.Bukhari Muslim)

Shof Wanita di Belakang Shof Pria

عن ابن عباس قال صلّيت إلى جنب النبي صلى الله عليه و سلم وعائشة معنا تصلّى خلفنا وأنا إلى جنب النبي صلى الله عليه و سلم أصلى معه

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata : "Aku shalat di samping Nabi SAW sedang ‘Aisyah bersama kami dia shalat di belakang kami dan aku di sisi Nabi SAW.” (H.R.Ahmad dan Nasa’i)

عن أنس قال صلّيت أنا واليتيم خلف النبي صلى الله عليه و سلم وأمّي أم ّسليم خلفنا 

Dari Anas r.a. berkata : "Aku shalat bersama-sama anak yatim di belakang Nabi SAW sedang ibuku Ummu Sulaim di belakang kami”.(H.R.Bukhari)

Mengenai posisi jamaah wanita yang berada di samping jamah laki-laki yang banyak kita dapati di masyarakat, untuk sementara ini belum kami dapati dalilnya yang menerangkan tentang hal itu.

Larangan Mendahului Imam

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: أنّ رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إنما جعل الإمام ليؤتمّ به فإذا كبّر فكبّروا ولا تكبّروا حتى يكبّروا وإذا ركع فاركعوا ولا تركعوا حتى يركعوا وإذا سجد فاسجدوا ولا تسجدوا حتى يسجد

Dari Abu Hurairoh r.a. bahwa Rasulullah bersabda : "Sungguh bahwa imam itu di angkat untuk diikuti, oleh karena itu apabila ia bertakbir maka bertakbirlah kamu dan janganlah kamu bertakbir hingga ia bertakbir dan apabila ia telah ruaku’ maka rukuklah kamu dan janganlah kamu rukuk hingga ia rukuk. Dan apabila ia telah bersujud maka bersujudlah kamu dan janganlah kamu bersujud hingga ia sujud”.(H.R. Ahmad dan Abu Dawud).

Memperhatikan bacaan imam & 
wajibnya membaca fatihah bagi makmum

عن عبا دة بن صامت رضى الله عنه قال ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لاصلاة لمن يقراء بفا تحة الكتاب

Dari ‘Ubadah bin Shomit bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Tiada sah shalat orang yang tidak membaaca ummul kitab (Al Fatihah)”.(H.R.Bukhari Muslim).

عن عبادة بن صامت قال صلّى رسول الله صلى الله عليه و سلم الصبح فثقلت عليه القراءة فلما انصرف قال اني أراكم تقرؤون وراء إمامكم قال قلنا يا رسول الله اي والله قال لاتفعلوا الا بأمّ القرآن 

Dari ‘Ubadah bin Shamit berkata Rasulullah SAW shalat shubuh lalu beliau mendengar orang-orang makmum yang nyaring bacaannya. Setelah selesai shalat beliau menegur : Aku kira kamu sam membaca di belakang imammu?. Kata ‘Ubadah : kita sama menjawab : Ya, wahai Rasulullah, demi Allah benar. Maka beliau bersabda : Janganlah kau mengerjakan yan demikian, kecuali dengan bacaan fatihah.(H.R.Ahmad, Daruqutni, Baihaqi).

Dari anas r.a. ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : "Apakah engkau membaca dalam shalatmu di belakang imammu, padahal imam itu membaca? Janganlah kamu mengerjakannya, hendaklah seseorang membaca fatihah pada dirinya sendiri. (yaitu dengan suara yang rendah yang di dengar sendiri)”.(H.R.Ibnu Hibban).

Sebagian ulama berpendapat tidak wajib bagi makmum untuk membaca fatihah dalam shalat jahr di belakang imam. Berdasarkan :

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْءَانُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila di bacakan Al-qur’an maka dengarkanlah olehmu dan diamlah kamu agar supaya kamu mendapat rahmat.(Al A’raf : 204)

انما جعل الإمام ليؤتمّ به فإذا كبّر فكبّروا و اذا قرأ فانصتوا

Hanya saja di jadikan imam untuk diikuti apabila ia takbir maka bertakbirlah kamu dan apabila membaca diamlah kamu (memperhatikan) (H.R Ahmad)

كان عبد الله بن عمر اذا سئل هل يقرا احد خلف الإمام؟ يقول اذا صلّى احدكم خلف الإمام فحسبه قراءة الإمام

Adalah Abdullah bin Umar ketika ditanya apakah seseorang (makmum) membaca dibelakang imam? Berkatalah dia: Apabila seseorang shalat dibelakang imam maka bacaan imam sudah mencukupinya. (HR Imam Malik).

Membaca Amien dengan Suara Keras

عن أبي هريرة رضي الله عنه أنّ رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا قال الإمام "غير المغضوب عليهم ولا الضالين" فقولوا آمين. فإنّ الملائكة تقول آمين وإنّ الإمامة يقول آمين. فمن وافق تئمينه تئمين الملائكة غفر له ما تقدّم من ذنبه

Dari Abu Hurairah berkata: bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : "Apabila imam telah membaca Ghairil maghdlu bi’alaihim waladl dlallin maka bacalah A-mi-, karena sesungguhnya malaikat membaca A-mi-n bersama-sama dengan imam membaca A-mi-n. Barang siapa membaca A-mi-n bersmaan dengan bacaan para malaikat niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalau.(HR Ahmad dan Nasa’I)

عن عطاء أنّ ابن زبير رضي الله عنهما كان يأمّن هو ومن وراءه بالمسجد الحرام إنّ للمسجد للجّة

Dari Atha’ bahwa Ibnu Zubair ra membaca A-mi-n bersama-sama dengan orang yang shalat dibelakangnya (di Masjidil Haram) sehingga masjid itu bergemuruh suaranya. (HR Bukhari)

Imam mengeraskan takbir intiqal dan dibolehkannya mengangkat seorang muballigh (penyambung takbir imam agar sampai kepada makmaum)

عن سعيد الحارث قال :صلّى لنا أبوا سعيد فجهّر بالتكبير حين رفع رئسه من السجود وحين سجد وحين رفع وحين قام من الركعتين زقال هكذا رئيت رسول الله صلى الله عليه و سلم

Dari Said Ibnu Harits berkata: Abu said bershalat menjadi imam kita, maka ia membsca takbir dengggan nyaring tatkala mengangkat kepalanya, bangun dari sujud, ketika akan sujud, ketika bangun dan ketika berdiri dari dua rakaat. Selanjutnya dikatakan Demikian aku melihat Rasullah SAW”
.(HR Bukhari dan Ahmad)

عن جابر قال: اشتكى رسول الله صلى الله عليه و سلم فصلّينا وراءه وهو قاعد وأبو بكر يسمع الناس تكبيره

Dari Jabir ra berkata: Rasulullah pada suatu ketika menderita sakit, kemudian kami shalat dibelakangnya, dan beliau shalat dengan duduk, serta AbuBakar memperdengarkan (menyambung) takbir beliau kepada orang banyak”. (HR Ahmad, Muslim, Nassa’I dan Ibnu Majah)

Makmum yang masbuq dan mendapati imam sudah mulai mengerjakan shalat, maka bertakbir dan langsung mengikuti gerakan imam.

عن أبى هريرة قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا جئتم إلى الصلاة ونحن سجود فاسجدواولا تعدوها ومن أدرك الركعة فقد أدرك الصلاة

Dari Abu Hurairah berkata: Bahwa Rasulullah SAW bersabda "Apabila kamu datang untuk shalat (jamaah) padahal kita sedang sujud, maka sujudlsh dan kamu jangan menghitungnya satu raka’at.Dan barang siapa menjumpai rukuknya imam berarti dia menjumpai shalat (mendapati satu raka’at sempurna)”. (HR Abudawud, Hakim dan Ibnu Khuzaimah)

عن على بن أبى طالب ومعاذ بن جبل قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا أتى أحدكم الصلاة والإمام على حال فاليضع كما يضع الإمام

Dari Ali bin Abi Thalib dan Muad bin Jabal keduanya berkata "apabila salah seoranng diantaramu mendataaangi shalat (jama’ah), pada waktu imam sedang berada dalam suatu keadaan, maka hendaklah ia kerjakan sebagaimana apa yang dikerjakan oleh imam.”(HR Tirmidzy)

Dari keterangan hadis diatas dapat disimpulkan apabila ma’mum yang masbuq hendaklah segera bertakbir dan segera mengikuti gerakan imam baik rukuk, sujud, duduk diantara dua sujud dan duduk takhiat awal ataupun akhir.

Rukuknya Makmum yang Masbuk Bersama Imam dihitung satu Rakaat


قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من أدرك ركعة من الصلاة قبل أن يقيم الإمام صلبه فقد أدركها

Bahwa Rasulullah bersabda: Barang siapa yang menjumpai rukuk dari shalat sebelum imam berdiri tegak dari rukuknya maka berarti dia telah mendapati satu rakaat yang sempuna.
(HR Daruqutni dan dishohihkan oleh Ibnu Hibban)

عن أبى هريرة أنّ النبى صلى الله عليه و سلم قال من أدرك ركعة من الصلاة مع الإمام فقد أدرك الصلاة

Dari Abu Hurairah berkata bahwasanya Nabi SAW bersabda: Barang siapa mendapati rukuk dari pada shalat berarti dia telah mendapati shalat (satu rakaat sempurna). (HR Bukhari dan Muslim)

Ada juga yang berpendapat rukuknya makmum yang masbuk yang menjumpai rukuk bersama imam tidak dapat dihitung satu rakaat, karena makmum tidak membaca Fatihah ataupun mendengar bacaan Fatihah dari imam, karena pada dasarnya seorang makmum wajib membaca Fatihah pada tiap-tiap satu rakaat yaitu dengan mendengarkan bacaan Fatihah imam. Hal ini berdasarkan: 

عن عبا دة بن صامت رضى الله عنه قال ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لاصلاة لمن يقراء بفا تحة الكتاب (متفق عليه

Dari Ubadah Bin Shamit r.a Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: "Tiadalah shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah.”(HR Bukhari dan Muslim).

Permasalahan makmum masbuq mnepuk pundak imam yang sering kita dapati dimasyarakat,untuk sementara ini belum kita dapati dalilnya, kami menyimpulkan bahwa hal itu (menepuk pundak) di lakukan hanya untuk memberi tahu kepada imam bahwa ada makmum dibelakangnya, akan tetapi kalau hal ini dilakukan akan mengganggu shalat imam seyogyanya makmum mengucapkan takbiratul ihram dengan keras agar imam tahu bahwa dibelakangnya ada makmum, dan hal ini sebagai pengganti menepuk pundak imam untuk memberi tahu bahwa dibelakangnya terdapat makmaum.

Imam menghadap kearah makmum sesudah selesainya shalat

عن سمورة قال : كان النبي صلى الله عليه و سلم إذا صلّى صلاة أقبل علينا بوجهه 

Dari Samurah ra berkata :" adalah Rasulullah SAW apabila telah selesai mengerjakan shalat beliau menghadapkan mukanya kepada kita”. (HR Bukhari)

عن البراء بن عازب قال :كنّا إذا صلّينا خلف رسول الله صلى الله عليه و سلم أحببنا أن نكون عن يمينه فيقبل علينا بوجهه

Dari Bara’ bin Azib berkata: " apabila kita shalat dibelakang Rasulullah SAW kita senang berada di sebelah kanan beliau, supaya setalah selesai beliau menghadapkan mukanya kepada kita”
. (HR Muslim dan Abu Dawud)

Membuat sutrah dan larangan melewati didepan orang shalat

عن ابن عمر أنّ رسول الله صلى الله عليه و سلم كان إذا خرج يوم العيد أمر بالحربة فتوضع بين يديه فيصلّى إليها و الناس وراءه وكان يفعل ذلك فى السفر.ثمّ اتخذها الإمراء

Dari Ibnu Umar ra. Bahwasanya Rasulullah saw apabila keluar pada hari raya beliau meminta lembing, kemudian dipancangkan didepannya dan lalu shalat menghadap kearahnya sedang orang banyak shalat dibelakangnya. Beliau kerjakan yang demikian itu juga pada waktu bepergian. Berdasarkan pekerjaan Nabi tersebut maka kepala negarapun menjalankan yang demikian itu. (HR. Muslim)

عن أبي جهيم قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لو يعلم المارّ بين يدي المصلّى ماذ عليه لكان أن يكف أربعين خيرا له من أن يمرّ بين يديه أربعين يوما أو شهرا أو سنة 

Dari Abu Juhaim berkata: bahwa Rasulullah saw bersabda: "andaikata orang yang lewat di depan orang yana shalat itu mengerti besarnya dosa yang dipikulkan kepadanya, niscaya akan lebih baik dia menunggu selama empat puluh dari pada lewat di depan orang yang shalat, yaitu empat puluh hari, empat puluh bulan atau empat puluh tahun”. (HR. Jama’ah)

Bacaan Basmalah Dalam Shalat Jahr

a. Fuqoha Madinah, Bashroh, dan Syam berpendapat bahwa basmalah adalah pembatas dari satu surat ke surat yang lain sehingga mereka berpendapat basmalah bukanlah termasuk dari surat al-fatihah. Oleh karena itu Imam Malik berpendapat tidak membaca basmalah ketika membaca al-fatihah dalam shalat.

b. Ahli qiro’ah kufah dan mekkah begitu pula Imam Syafi’I berpendapat bahwa basmalah adalah termasuk dalam surat al-fatihah, oleh karena itu Imam Syai’I berpendapat basmalah di baca dengan keras di dalam shalat, baik shalat jahr ataupun sirr.
Basmalah Apakah Di baca Jahr atau sirr dalam shalat

Dalam menunaikan shalat telah di tuntunkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya untuk membaca basmalah dalam mengawali surat al-fatihah

Bacaan basmalah ini dapat di baca dengan jahr ataupun sirr di dalam shalat ( karena dalam putusan tarjih tidak disebutkan secara rinci apakah bacaan basmalah dibaca jahr atau sirr dalam shalat ).

Hukum Wanita Berjama’ah di Masjid

Hadis yang menerangkan wanita lebih utama shalat di rumah 

عن أم سلمة عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال خير مساجد النساء قعر بيوتهنّ 

Dari Ummu Salamah dari Rasulullah saw bersabda :” sebaik-baik tempat sujud wanita adalah di bilik rumahnya” (HR. Ahmad, Thobroni dalam kitab al-kabir)

Didalam sanadnya terdapat Ibnu Lahi’ah, juga Ibnu Khizaimah meriwayatkan dalam kitab shohehnya sdan Al-Hakim dari Duraij Abis Samhi dari Sa’ib budak Ummu Salamah dari Ummu Salamah. Dan Ibnu Khuzaimah berkata aku tidak kenal apakah Sa’ib itu orang yang adil atau tercela, tetapi Al-Hakim berkata sanadnya shoheh.

Sedangkan hadis yang membolehkan wanita jama’ah di masjid.

لاتمنعوا النساء مصلاهنّ مع العلم أن الجماعة أفضل لقوله صلى الله عليه و سلم لاتمنعوا إماء الله مساجد الله

Janganlah kamu melarang wanita-wanita pergi ke musholla setelah diketahui shalat jama’ah itu lebih utama. Karena dasar hadis : Janaganlah kamu melarang hamba-hamba wanita Allah pergi ke masjid-masjid Allah. (HR Bukhari Muslim ) 

عن ابن عمر قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذّ بسبع وعشرين درجة 

Dari Ibnu ‘Umar berkata Rasulullah saw bersabda: "Shalat jama’ah itu lebih uatama dengan shalat sendirian dengan kelipatan 27 derajat” ( HR . Bukhari )

Dengan cara jamak dan taufiq dua hadis yang bertentangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa bagi wanita apabila tidak ada halangan pergi ke masjid atau musholla, sebaiknya jama’ah di masjid atau di musholla bersama dibolehkannya shalat berjama’ah di rumahnya.

Pandangan Para Fuqoha Mengenai Wanita Berjama’ah di Masjid

Abu Hanifah dan sahabatnya berpendapat hukumnya makruh bagi wanita yang masih berusia muda berjama’ah di masjid, karena ditakutkan akan terjadinya fitnah. Sedangakan Abu Hanifah sendiri berpendapat wanita yang sudah tua dibolehkan berjama’ah di masjid akan tetapi dengan wakyu-waktu tertentu, yaitu pada waktu shol;at subuh, maghrib dan ‘isya, selain dari waktu-wakyu tersebut di makruhkan. Karena diwaktu subuh dan ‘isya adalah disaat waktunya orang-orang fasiq tidur, sedangakn waktu maghrib adalah wakltunya orang-orang fasiq makan malam.

Malikiyah (Pengikut Imam Maliki) berpendapat wanita boleh berjama’ah di masjid apabila tidak dikhatuirkan akan terjadinya fitnah, apabila ditakutkan terjadinya fitnah maka wanita dilarang keluar untuk berjama’ah di masjid.

Syafi’iyyah dan Imam Ahamad Bin Hambal berpendapat hukumnya makruh bagi wanita yang masih berusia muda untuk keluar menghadiri shalat jama’ah laki-laki karena akan mendatangankan fitnah dan yang lebih baik adalah ia shalat di rumahnya. Dibolehkan shalat berjama’ah di masjid bagi wanita dengan syarat mendapat izin dari suaminya dan keluarnya tanpa menggunakan wewangian akan tetapi apabila ia shalat di rumahnya lebih baik.

Kesimpulan : bahwa hukumnya makruh bagi wanita berjama’ah di masjid karena ditakutkan akan terjadinya fitnah, dibolehkan berjama’ah di masjid bagi wanita yang sudah tua. (Fiqih Islam wa adillatuhu hal 1172 jilid 2)

Beberapa Amalan Yang Tidak Di Syariatkan 
Dalam Shalat Jama’ah

Berjabat tangan sesudah shalat jama’ah

Berjabat tangan jika dikaitkan dengan contoh dari Nabi khususnya sesudah selesai shalat jama’ah belum terdapat dalil yang menerangkannya, kecuali hadis yang nenerangkan jabat tangan dalam peristiwa shalat jama’ah yaitu shalat jama’ah yang sudah selesai sama sekali, dan jama’ah mulai bubar meninggalkan masjid yaitu hadis yang diriwatkan oleh imam Bukhari yang menyatakan ketika itu Nabi datang di sebuah wilayah yang baru didatangai oleh Nabi, sehingga masyarakat beramai-ramai ingin lebih dekat mengenal pada Nabi, pada waktu itu Nabi membiarkan tangannya sehingga para jama’ah memengang tangan beliau.

Dari keterngan di atas dapat diambil kesimpulan berjabat tangan sesudah shalat jama’ah tidak ada tuntunanya. Kerena tiadanya hadis yang menerangankan hal itu. Sebenarnya yang diperintahkan oleh Rasulullah susudah shalat adalah berzikir dan berdoa, berjabat tangan dengan sesama jama’am boleh-boleh saja sekiranya dikerjakan sesudah selesai sama sekali dari pelaksanaan shalat-shalat jama’ah (bubarnya para jama’ah). (Tanya Jawab Agama IV & V)

Zikir Bersama-sama Sesudah Shalat Jama’ah
…..وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

...Dan ingatlah (nama) dengan sebaik-baiknya pada waktu petang dan pagi hari (Ali Imran : 41) 

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Dan ingatlah (nama TuhanMu) dalam dirimu dengan merendahkan diri dan meringankan suara tanpa mengeraskan suara di waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai (al-A’raf: 205)

sedangkan dalam hadis tidak didapati anjuran untuk berzikir dengan suara keras apalagi dikerjakan di dalam mesjid yang dapat menganggu orang lain yang sedang mengerjakan shalat.

Kesimpulannya berzikir memang ada tuntunanya, akan tetapi zikir bersama-sama dengan suara keras tidak didapati tuntunannya. (Tanya Jawab Agama Jilid I)

Mengusap Muka sesudah Salam

Belum ditemukan dalil yang menerangkan mengusap muka atau dahi sesudah salam dalam shalat, oleh karena itu hal ini tidak perlu kita lakukan, yaitu mengusap muka sesudah salam.


0 Response to "Bab IX Hukum dan Permasalah Seputar Sholat Jama'ah"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!